Pertanyaan:
Bismillah…afwan ust ana tu sudah usia siap menikah tapi ana sama ortu d larang…padahal tujuan ana krn Allah kmdian ingin mnghindari fitnah…bgaimana cara ana ngmong baik2 k ortu berdasarkan Al Qur an dan hadits? jazakumullahu khoiron… (Ika Nur Malaya)

Dijawab oleh Ustadz Abu Usamah Yahya Al-Lijazy:

Bismillah, larangan orang tua bagi anaknya untuk menikah adalah suatu hal yang kerap terjadi di tengah masyarakat kita. Namun menyikapi tentang hal itu kita tidak harus terburu-buru berburuk sangka terhadap orang tua, melainkan harus mencari tahu terlebih dahulu sebab larangan tersebut. Khususnya seperti pertanyaan diatas, dimana didalamnya tidak dijelaskan alasan orang tua melarang beliau untuk menikah.
Sebatas yang kita ketahui, melarangnya orang tua bagi putrinya untuk menikah itu ada beberapa keadaan :

Pertama : Orang tua melarang putrinya menikah dengan laki-laki yang memang secara syar’i tidak boleh menjadi suami putrinya. Seperti laki-laki tersebut masih mahramnya, non muslim, atau dia muslim tapi tidak pernah mengerjakan kewajiban-kewajiban dalam islam sama sekali. Jika memang demikian maka larangan itu benar bahkan wajib.

Kedua : Orang tua melarang putrinya menikah dengan laki-laki yang tidak sesuai untuk kebaikan agama putrinya. Misalkan dia itu seorang peminum khamer, penipu, pencuri, penjudi dan semisalnya dari perbuatan-perbuatan fasiq. Yang seperti itu orang tua boleh melarangnya bahkan dianjurkan demi terjaganya agama putrinya, tentunya seiring dengan itu ada arahan untuk mencari laki-laki yang shalih dan bertaqwa.

Ketiga : Orang tua melarang putrinya menikah karena mereka rasa putrinya belum cukup umur, masih kuliah, dan sebagainya. Jika demikian kita hendaknya berbicara dengan orang tua dengan cara yang paling baik dan menjelaskan bahwa menikah adalah fitrah manusia dan termasuk bagian dari kebutuhan hidup manusia yang pokok setelah menginjak usia baligh dan memiliki keinginan terhadap lawan jenis. Sebagaimana hal ini juga dirasakan oleh para orang tua tatkala mereka masih muda. Dimana dan kapan saja yang diingat selalu lawan jenisnya.
Lalu, bagaimana perasaan kita sebagai orang tua yang apabila pada masa muda kita ingin menikah, namun dihalang-halangi oleh orang tua? Tentu kita akan merasa menderita, yang bisa jadi dampaknya kan berpengaruh terhadap aktivitas ibadah kita, selain adanya kekhawatiran terjatuh kedalam fitnah syahwat. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“ Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S An Nuur : 32 )

Apalagi putra-putri kita sudah menyatakan siap untuk menikah, hendaklah segera dinikahkan. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para pemuda untuk menikah jika sudah mampu. Seperti dalam sabdanya :
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“ Wahai para pemuda, apabila kalian telah mampu menikah maka menikahlah. Dan barangsiapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu benteng baginya” (H.R Muslim 4/128/3464)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :
إذا جاءكم من تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فأنكحوه إلا تفعلوا تكن فِتْنَةٌ فى الأرض وَفَسَادٌ عَرِيضٌ
“Jika datang kepadamu seorang yang kamu senangi agama dan akhlaknya maka nikahkanlah (putrimu) dengannya. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan dipermukaan bumi ini.” (HR Tirmidzi: 1005, dan dihasankan oleh al-Albani dalam Mukhtashor Irwaul Gholil 1/370)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah tatkala ditanya : ” Bagaimana hukum orang tua yang menghalangi putrinya yang sudah kuat (keinginannya) untuk menikah tetapi mereka masih menyuruh putrinya melanjutkan kuliah?”
Maka beliau menjawab: ” Tidak diragukan lagi bahwa orang tuamu yang melarangmu (menikah padahal kamu) sudah siap menikah hukumnya adalah haram. Sebab, menikah itu lebih utama dari pada menuntut ilmu, dan juga karena menikah itu tidak menghalangi untuk menuntut ilmu, bahkan bisa ditempuh keduanya. Jika kondisimu demikian wahai Ukhti! Engkau bisa mengadu ke pengadilan agama dan menyampaikan perkara tersebut, lalu tunggulah keputusannya.” (Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin 2/754)

Keempat : Orang tua melarang putrinya menikah dengan laki-laki karena pertimbangan duniawi semata, misalkan laki-laki tersebut kurang kaya, tidak punya kedudukan, kurang tampan, kurang mapan, tidak punya pekerjaan tetap dan sebagainya. Jika keadaannya demikian maka ada beberapa hal yang perlu kita jelaskan terlebih dahulu.
Pertama yang perlu kita fahami terlebih dahulu adalah bahwa seorang wanita itu memiliki hak untuk memilih calon suaminya, tanpa intervensi siapapun, baik orang tuanya bahkan negara sekalipun. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
لَا تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ وَلَا الثَّيِّبُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ إِذْنُهَا قَالَ إِذَا سَكَتَتْ
“Gadis tidak boleh dinikahkan hingga dimintai izin, dan janda tidak boleh dinikahkan hingga dimintai persetujuannya.” Ada yang bertanya; ‘ya Rasulullah, bagaimana tanda izinnya? ‘ Nabi menjawab: “ tandanya diam.” (H.R. Bukhari 6/2555/6567)

Dalam riwayat Aisyah radhiallahu ‘anha berkata :
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْجَارِيَةِ يُنْكِحُهَا أَهْلُهَا أَتُسْتَأْمَرُ أَمْ لَا فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ تُسْتَأْمَرُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ لَهُ فَإِنَّهَا تَسْتَحْيِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَلِكَ إِذْنُهَا إِذَا هِيَ سَكَتَتْ
“Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai seorang gadis yang dinikahkan oleh keluarganya, apakah harus meminta izin darinya atau tidak?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Ya, dia dimintai izin.” ‘Aisyah berkata; Lalu saya berkata kepada beliau; “Sesungguhnya dia malu (mengemukakannya).” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika dia diam, maka itulah izinnya.” (H.R. Muslim 4/140/3540)

Dua hadits diatas menerangkan bahwa seorang wanita itu, baik yang masih gadis maupun yang janda tetap memiliki peranan penuh dalam menentukan calon suaminya, bagi gadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dia dinikahkan sebelum dimintai izinnya, dalam kondisi janda Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam juga melarang dia dinikahkan sebelum diajak musyawarah untuk dimintai pertimbangan. Semua perlakuan ini menunjukkan bahwa wanita dalam kondisi apapun tidak boleh dipaksa menikah dengan seseorang yang tidak dia inginkan. Maknanya, hak penuh memilih ada pada tangannya, bukan ditangan walinya atau orang lain.

Bahkan suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah merekomendasikan kepada seorang wanita untuk menikahi seorang lelaki yang sangat mencintainya. Sayangnya wanita tersebut tidak mencintai lelaki itu sehingga dia menolaknya. Dalam keadaan tersebut Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam tidak memaksa wanita itu untuk menikahi lelaki itu meski sang lelaki sangat mencintainya. Seperti yang terdapat dalam shahih Bukhari dalam riwayat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menceritakan :
أَنَّ زَوْجَ بَرِيرَةَ كَانَ عَبْدًا يُقَالُ لَهُ مُغِيثٌ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ يَطُوفُ خَلْفَهَا يَبْكِي وَدُمُوعُهُ تَسِيلُ عَلَى لِحْيَتِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعبَّاسٍ يَا عَبَّاسُ أَلَا تَعْجَبُ مِنْ حُبِّ مُغِيثٍ بَرِيرَةَ وَمِنْ بُغْضِ بَرِيرَةَ مُغِيثًا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ رَاجَعْتِهِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَأْمُرُنِي قَالَ إِنَّمَا أَنَا أَشْفَعُ قَالَتْ لَا حَاجَةَ لِي فِيهِ
Dari Ibnu Abbas bahwasanya suami Barirah adalah seorang budak. Namanya Mughits. Sepertinya aku melihat ia selalu mengikuti di belakang Barirah seraya menangis hingga air matanya membasahi jenggot. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abbas, tidakkah kamu ta’ajub akan kecintaan Mughits terhadap Barirah dan kebencian Barirah terhadap Mughits?” Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “ andai saja kamu mau meruju’nya kembali (menikah dengannya).” Barirah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Anda menyuruhku?” beliau menjawab, “Aku hanya menyarankan.” Akhirnya Barirah pun berkata, “Sesungguhnya aku tak butuh sedikit pun padanya.” (H.R. Bukhari 5/2023/4979)

Mughits sangat mencintai Barirah. Besarnya cinta ini sampai membuat Mughits mengikuti kemanapun Barirah pergi dengan derai air mata yang membasahi janggutnya. Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam iba dengan penderitaan Mughits, lalu merekomendasikan Barirah agar berkenan menikah dengan Mughits. Ternyata Barirah menolaknya dan Nabipun tidak memaksa. Tidak adanya paksaan dari Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam kepada Barirah kepada Mughits padahal Mughits sangat mencintai Barirah, menunjukkan bahwa memilih suami adalah hak penuh wanita hingga Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam sendiripun tidak berani intervensi yang bersifat memaksa/menekan.

Bahkan seandainya sang putri dalam hal ini tidak mentaati orang tuanya, atau kalau boleh dikatakan membangkang terhadap perintah orang tuanya maka in syaa Allah tidak termasuk kedurhakaan kepada orang tuanya. Seperti dalam riwayat berikut ini :
عَنْ خَنْسَاءَ بِنْتِ خِذَامٍ الْأَنْصَارِيَّةِ أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهِيَ ثَيِّبٌ فَكَرِهَتْ ذَلِكَ فَأَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ نِكَاحَهَا
“Dari Khansa’ binti Khidzam Al Anshariyah; bahwa ayahnya mengawinkannya -ketika itu ia janda-dengan laki-laki yang tidak disukainya, kemudian dia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau membatalkan pernikahannya. “ (H.R. Bukhari 6/2547/6546)
Dalam riwayat lain disebutkan :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ ابْنَةَ خِذَامٍ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَتْ أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهِيَ كَارِهَةٌ فَخَيَّرَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dari Ibnu Abbas; bahwasannya anak perempuan Khidzam menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan bahwa ayahnya telah menikahkan dirinya, padahal ia tidak menyukainya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberinya hak untuk memilih. (H.R. Ahmad 1/273/2469)

Seandainya pembangkangan Khansa’ binti Khidzam kepada ayahnya dalam hal pilihan suami termasuk kedurhakaan, niscaya Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam akan memerintahkan Khansa’ taat atas keputusan ayahnya dalam hal pilihan suami. Dan ternyata Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam justru memberikan pilihan kepada Khansa’ untuk membatalkan pernikahan atau melanjutkannya, maka hal ini menunjukkan bahwa memilih suami adalah hak besar wanita yang bahkan menjadi Takhsish atas keumuman perintah taat kepada Ayah/wali atau perintah berbakti kepada orang tua.

Dengan demikian menghalang-halangi wanita untuk menikah dengan lelaki yang telah menjadi pilihannya, tentunya yang sesuai dengan kriteria syari’i adalah kezaliman yang diharamkan oleh Islam dan disebut dalam pembahasan fiqh dengan istilah ‘Adhl. Adhl hukumnya haram. Allah berfirman ketika mengharamkan ‘Adhl :
فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ
“ Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka menikah lagi dengan calon suaminya apabila telah ada saling ridha di antara mereka dengan cara yang ma’ruf (Al-Baqoroh; 232)

Ayat ini turun berkaitan ‘Adhl yang dilakukan seorang shahabat bernama Ma’qil bin Yasar yang tidak mau menikahkan saudarinya ketika dilamar seorang lelaki. At-Tirmidzi meriwatkan kisahnya;
عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّهُ زَوَّجَ أُخْتَهُ رَجُلاً مِنَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَكَانَتْ عِنْدَهُ مَا كَانَتْ ثُمَّ طَلَّقَهَا تَطْلِيقَةً لَمْ يُرَاجِعْهَا حَتَّى انْقَضَتِ الْعِدَّةُ فَهَوِيَهَا وَهَوِيَتْهُ ثُمَّ خَطَبَهَا مَعَ الْخُطَّابِ فَقَالَ لَهُ يَا لُكَعُ أَكْرَمْتُكَ بِهَا وَزَوَّجْتُكَهَا فَطَلَّقْتَهَا وَاللَّهِ لاَ تَرْجِعُ إِلَيْكَ أَبَدًا آخِرُ مَا عَلَيْكَ قَالَ فَعَلِمَ اللَّهُ حَاجَتَهُ إِلَيْهَا وَحَاجَتَهَا إِلَى بَعْلِهَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ) إِلَى قَوْلِهِ (وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ) فَلَمَّا سَمِعَهَا مَعْقِلٌ قَالَ سَمْعًا لِرَبِّى وَطَاعَةً ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ أُزَوِّجُكَ وَأُكْرِمُكَ.
Dari Ma’qil bin Yasar bahwa pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia menikahkan saudarinya dengan seorang lelaki dari kaum muslimin, lalu saudarinya tinggal bersama suaminya beberapa waktu, setelah itu dia menceraikannya begitu saja, ketika masa Iddahnya usai, ternyata suaminya cinta kembali kepada waanita itu begitu sebaliknya, wanita itu juga mencintainya, kemudian dia meminangnya kembali bersama orang-orang yang meminang, maka Ma’qil berkata kepadanya; hai dungu, aku telah memuliakanmu dengannya dan aku telah menikahkannya denganmu, lalu kamu menceraikannya, demi Allah dia tidak akan kembali lagi kepadamu untuk selamanya, inilah akhir kesempatanmu.” Perawi berkata; “Kemudian Allah mengetahui kebutuhan suami kepada istrinya dan kebutuhan isteri kepada suaminya hingga Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan ayat: “Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya.” QS Al-Baqarah: 231 sampai ayat “Sedang kamu tidak Mengetahui.” Ketika Ma’qil mendengar ayat ini, dia berkata; “Aku mendengar dan patuh kepada Rabbku, lalu dia memanggilnya (mantan suami saudarinya yang ditolaknya tadi) dan berkata; “Aku nikahkan kamu dan aku muliakan kamu.” (H.R At-Tirmidzi 5/216/2981)

Jadi segala bentuk menghalang-halangi pernikahan wanita dengan calon suami pernikahannya secara zalim termasuk ‘Adhl yang hukumnya haram. Adapun jika alasannya Syar’i seperti yang disebutkan diatas dan alasan-alasan lainnya seperti wanita masih di masa iddah, wanitanya seorang pezina yang belum bertaubat dan sebagainya maka menghalangi demikian tidak teramsuk ‘Adhl yang dilarang. Allahua’lam
Atas dasar ini, memilih calon suami adalah hak penuh wanita dan tidak boleh dihalang-halangi menikah dengan lelaki pilihannya. Dan saudari Penanya hendaknya memeriksa kembali kasusnya, apakah halangan dari keluarga bisa dikatakan Syar’i ataukah termasuk ‘Adhl. Jika halangannya Syar’i, maka hendaknya dia mentaati orang tuanya selama dalam hal yang ma’ruf, karena itu juga demi kebaikan anda sendiri di dunia dan akhirat.
Namun jika sudah terkategori Adhl maka silahkan melanjutkan dengan sikap yang bijak, dengan diusahakan tanpa menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Dikarenakan wali yang melakukan ‘Adhl telah gugur hak perwaliannya dan berpindah pada wali yang terdekat. Jadi misalkan jika ayah gugur perwaliannya, maka hak perwalian untuk menikahkan pindah ke kakek (ayah-nya ayah), buyut (ayahnya ayah ayah), saudara, paman, dst sesuai aturan urutan wali dalam fikih Islam. Wallahua’lam bish shawab wa lahul musta’aan.

262 Comments

    • Novi says:

      Assalamualaikum Wr. Wb

      Selamat pagi pak, saya ingin bertanya.
      Saya (22) dan pasangan saya (26) memiliki niat untuk melanjutkan hubungan pendekatan (pacaran) ini ke jenjang pelaminan. Kami menjalani hubungan pendekatan ini selama 4 tahun.
      orang tua saya memang menyetujui hubungan kami, tetapi orang tua saya masih menahan saya untuk menikah dikarenakan adik saya ingin masuk ke perguruan tinggi.
      Saya tidak berani melawan omongan orang tua saya, tetapi saya tidak ingin berlama2 menjalani hubungan pacaran ini. Apakah bapak memiliki saran, bagaimana bicara yang tidak menyakiti hati mereka?

      • Al Lijazy says:

        bismillah,wa’alaikum salaam warahmatullah, sebaiknya anda beranikan diri untuk ngomong ke ortu tentang rencana anda, kalau nikah itu karena niat ibadah kenapa harus takut untuk minta restu..? kalau pacaran saja yang merupakan dosa besar dan perbuatan syaithon anda berani untuk bilang ke ortu kenapa untuk ibadah anda tidak berani?. saran kami segerakan hentikan pacaran sampai semuanya halal bagi anda dan bertaubatlah pada Allah Ta’ala dari dosa-dosa anda selama pacaran lalu segera minta restu ortu untuk menikah, jika nanti ada kendala in syaa Allah kita cari sama-sama solusinya. masalah adik anda mau kuliah kami rasa tidak ada hubungannya dengan rencana anda menikah, toh anda menikah juga dengan biaya sendiri dan hidup berumahtangga juga biaya sendiri, jadi kami rasa bukan suatu kendala berarti bagi anda, silahkan minta restu dan utarakan niat ibadah anda pada ortu dengan cara yang paling baik dan bertawakkallah serta istikhoroh kepada Allah Ta’ala tentang rencana dan pilihan anda. Allahua’lam semoga dimudahkan

    • faiza says:

      Assalamualaikum.. saya mau tanya ust. Saya sudah berusia 21 tahun. pasangan lelaki saya berusia 27 thn. Saya telah menjalin hubungan selama 5 thn. tapi ortu saya tidak merestui hubungan kami di karenakan lelaki tersebut mempunyai pekerjaan yg sama dg ayah saya pdhal lelaki tsb sangat taat beribadah dan tidak prnh brkata kasar kpd siapapun yg tlh mnyakitinya .Dan ortu saya ingin saya menikah dg lelaki yg memiliki jabatan dan titel yg lebih dari saya. ortu saya menginginkan saya berpisah dri psangan saya tapi selama saya belum berpisah ortu saya selalu memarahi saya krna saya masih memilih psngan yg tlh saya pilih sndri tdi. sampai sampai jika saya menikah dg nya saya akan di usir dari rumah. saya bingung apa yg hrus saya lakukan. Kami saling mencintai sama lain tapi cinta kami tidak di restui.

      • Al Lijazy says:

        Bismillah, wa’alaikumus Salaam warahmatullah
        Kami rasa anda hanya butuh pendekatan saja dengan orang tua, butuh pembicaraan dari hati- ke hati tentang pilihan anda tersebut, siapkan kata-kata terbaik terutama tentang kelebihan calon anda tersebut di hadapan ortu anda. Namun sebelum itu kami sarankan anda istikhoroh dahulu, minta pilihkan jodoh terbaik buat anda pada Allah Ta’ala, . dan Pastikan sebelum istikharah pilihan anda sudah sesuai dengan kriteria syari’ah dan bersabarlah setelah berdo’a sambil menunggu jawaban dari Allah Ta’ala, jangan menunggu jawaban Allah Ta’ala sambil bermaksiat kepadaNya misalkan dengan tetap berpacaran dengannya, stop pacaran sampai dia sudah menjadi halal bagi anda. Setelah Allah Ta’ala nantinya memutuskan sesuatu kepada anda dengan kemantaban hati baru silahkan anda yakinkan orang tua anda bahwa calon anda adalah pilihan Allah untuk anda.
        Namun Kalau dengan bicara sendiri dengan baik-baik belum berhasil,mungkin sebaiknya anda adakan musyawarah keluarga besar, bila perlu anda cari pihak ketiga yang berilmu syar’i dan bijak yang bisa membantu menjembatani antara anda dan ortu anda dan jika memungkinkan hadirkan juga calon anda dalam musyawarah tersebut untuk menyampaikan tentang siapa jati dirinya dan mengutarakan niat baiknya. Intinya secara syar’i anda tetap memiliki hak untuk punya keinginan menikah demi mashlahat pada diri anda dan juga berhak untuk memilih calon pasangan hidup anda, namun tidak ada salahnya tetap memperhatikan mudharat dan mashlahat terhadap keluarga besar anda, maka itu semoga dengan adanya musyawarah keluarga akan ada jalan keluar yang terbaik nantinya in syaa Allah. Allahua’lam.

  • agusnita yetni says:

    pak umur saya 24 thun. saat ini saya msih dlm msa kuliah di semester akhir. saat ini saya memiliki seseorang yg sudah ingin melamar saya. kami saling mencintai. saya telah mengenalkan pada ibu saya tapi baru sekali dan itu pun sbgai tmn. saya ingin memberitahukan kepada orangtua saya kalau saya ingin segera menikah namun saya takut mengatakannya. krna ayah saya pernah mengatakan klo saya boleh menikah 2 atau 3 thun lgi dgn calon menantu yg diinginkan ayah saya adalah seorang PNS, sdangkan org yg saya cintai hanyalah anak buah di sebuah toko. namun gajinya cukup jika kami hidup berdua. yg ingin saya tanyakan bagaimana cara memberitahu orangtua saya tentang keinginan saya yg ingin sgra menikah dan bagaimana caranya agar orangtua saya merestui saya dgn calon yg saya pilih. saya ingin menikah cepat krna saya tidak mau terjerumus kedalam dosa2..

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, untuk pertanyaan anda jawabannya in syaa Allah sudah ada pada jawaban kami diatas (artikel : sudah siap menikah tapi dilarang ortu). Silahkan di baca dan dihayati khususnya pada poin ketiga dan keempat sampai selesai. semoga Allah Ta’ala memudahkannya. Allahua’lam

      • citra says:

        Bagaimana jika masalahnya, apabila orangtua melarang putrinya untuk menikah, karena lelakinya itu seorang duda?
        Memang benar, dan wajar jika org tu berpikir panjang untuk melepas anak gadisnya kepada seorang duda, karena ditakutkan nantinya kegagalan akan terjadi lagi.

        Tapi apa salahnya, org tua mencari tau terlebih dahulu, alasan lelaki tersebut bisa gagal berumahtangga karna hal apa.

        • Al Lijazy says:

          Bismillah,Saran kami,coba berusaha bicarakan dengan baik dan tenang dengan orang tua, agar beliau mau mempelajari dahulu duda tersebut. Baik dari sifat,adab dan selainnya yang diperlukan lebih-lebih tentang agamanya. Sebab kondisi duda itu tidak melazimkan orang itu tidak baik, bisa jadi dia menduda dengan sebab ditinggal mati istrinya, atau dia ceraikan istrinya karena sebab-sebab istrinya berbuat sesuatu yang di murkai Allah Ta’ala. Artinya bagusnya dipelajari dahulu baru boleh mengambil sikap,mungkin barangkali duda tersebut ternyata calon suami yang ideal dalam timbangan syar’i malah bagus sebab duda biasanya karakternya sudah dewasa dan bisa mendidik dan ngayomi.
          Demikian juga anda juga harus bersabar, jangan keburru-buru berburuk angka dengan orang tua, sebab pada dasarnya orang tua ingin kebaikan pada kita. Berbicaralah dengan lemah lembut dengan mereka sambil diberi masukan-masukan yang ilmiyah, mudah-mudahan mereka mau mengerti dan mempertimbangkan. Semoga urusannya dimudahkan.

          • Ani says:

            Assalamualaikum ustazd..
            Nama saya ani umur 20 dan masih kuliah, sya mempunyai pasangan umurnya 27 dan sudah mantap ingin menikah. Org tua dari pacar saya sudah sangat setuju kalau saya dan dia segera menikah ustazd tapi saya belum berani untuk memberitahu keluarga saya karna ayah saya yg begitu keras dan emosian, apalagi saya putri satu-satunya saya juga takut tidak diberi izin dan juga karna dari segi umur yg masih muda dan masih dijenjang perkuliahan. Kemarin abg saya juga memberitahu ortu bahwasanya dia ingin menikah tapi di tolak mentah2 oleh ibu saya karna alasan masih terlalu muda, dari situlah saya juga beranggapan bahwa saya juga tidak akan diberikan izin ustadz. Sementara saya sangat mencintai pacar saya dan tidak ingin brpisah dengannya, karna faktor umur nya yg memang sudah siap untuk menikah dan paksaan ortunya ingin cepat2 punya cucu apalagi dia anak pertama dikeluarganya ustadz. Apa yg harus saya lakukan untuk meyakinkan ortu saya ustadz ? Ortu saya memang tau kami pacaran dan senang juga kepada pacar saya tapi mereka tidak tau kalau pacar saya dan keluarganya ada maksud ingin kami menikah. Dan kalau memang tidak ada izin dari ortu saya, mungkin dia akan mencari pendamping yg lain ustadz karna faktor umur dan ortunya ingin dia cepat2 menikah. Tolong beri saya pencerahan ustadz karna saya tidak ingin kehilangan dia dan sangat begitu mencintainya, apakah saya harus rela kehilangan dia dan keluarganya yg begitu baik kepada saya atau saya memberitahu kepada ortu ? Atas sarannya terlebih dahulu saya ucapkan terimakasih ustazd, assalamualaikum wr.wb

          • Al Lijazy says:

            Bismillah,wa’alaikum Salaam warahmatullah, yang perlu anda ketahui sebelumnya adalah bahwa pacaran itu diharamkan agama, pacaran merupakan salah satu perangkap dari perangkap-perangkap syaithon dan washilah (jalan) menuju perzinahan yang akan membinasakan pelakunya di dunia dan akhirat. Maka itu nasehat kami, segera akhiri hubungan haram ini dan menikahlah dengan segera.
            Masalah perasaan anda yang takut tidak diberi izin,itu hanya sekedar perasaan, belum terjadi. Saran kami segeralah meminta izin ortu anda dan ceritakan segala kebaikan yang anda banggakan dari calon anda, dan jangan lupa istikhoroh terlebih dahulu. Setelah ada kemantaban hati baru bicarakan dan minta izin kepada ortu anda. Artinya anda mengajukan calon suami kepada ortu dari hasil istikhoroh anda kepada Allah Ta’ala. Masalah hasilnya kita lihat nanti aja, kalau memang ada jalan buntu, in syaa Allah kita akan bantu cari solusi in syaa Allah. Allahua’lam semoga dimudahkan.

  • Sa'ad says:

    asalamualaikum saya umur 27 dan pasangan saya 22
    jika orang tua dan keluarga calon saya melarang untuk menikah padahal saya sudah meminta ijin seraca baik” jaraknya 8bln sblm pernikahan yg saya dan calon saya tentukan. awalnya ibu kandungnya mengizinkan trus jarak beberapa hari tidak mengijinkan karena ayah tirinya tidak setuju. orang tua calon saya berpendapat jangan dulu nikah ditahun ini karena alasan biar kerja dulu bales jasa orang tuanya dan keluarganya, harus ada persiapanlah buat pesta pernikahanlah, dan saya udah berikan solusinya dan pengertian dr alasan” tersebut tentunya dengan ajaran islam.
    saya di suruh nunggu 1-2tahun. tp saya piribadi dan pasangan itu inginnya tahun ini karena untuk menghindari hal” yang buruk antara saya dan calon saya karena kami jarak jauh.
    sampai- calon saya nagis didepan Ibunya untung mengizinkan tp tetep gk bisa

    solusinya gmn ya pak?

    • ian says:

      assalamualaikum. ustadz umur ana 19 thn dan sudah ada keinginan untuk menikah ana sudah dapat target yg ana inginkan karena ibadahnya luar biasa. tapi yg ana takut orang tuanya tidak setuju bgmna mnanggapi hal itu ustadz? mohon di jelaskan

      • Al Lijazy says:

        Bismillah,wa’alaikum Salaam warahmatullah,kami sarankan untuk anda agar anda mempersiapkan apa yang harus anda siapkan untuk menikah, misalkan harta,mental dan lain-lain terutama ilmu agama terkhusus tentang pernikahan.setelah anda sudah mendapatkan calon maka segerakan anda istikhoroh kepada Allah Ta’ala untuk meminta petunjuk tentang baik tidaknya calon anda nantinya bagi dunia dan akhirat anda.setelah dirasa mantab segerakan maju meminang calon anda ke orang tuanya, nggak perlu takut maupun minder akan di tolak nantinya, asal anda sudah memenuhi syarat menikah dan syarat calon suami yang baik, in syaa Allah mereka akan mempertimbangkan atau bahkan langsung menerima anda tanpa syarat.
        lain halnya jika anda sudah melakukan prosedur yang benar tapi tetap ditolak, maka kita liat dulu apa alasan penolakannya, baru setelah itu in syaa Allah kita cari jalan pemecahannya bersama-sama. Allahua’lam baarokallahu fiikum

  • kiki says:

    Assalamualaikum wr wb.
    bapak saya kiki dari semarang,saya ingin bertnya
    Saat ini umur saya 21thn n status saya sudah janda beranak satu.yang ingin saya tanyakan adalah saya saat ini sudah mempunyai pacar insya allah saya taun 2016 akn melangsungkan pernikahan tetapi orang tua saya tidak setuju,bahkan saya mau dijodohkan dengan ank buah orang tua saya tetapi saya tidak mau (orang tersebut pemabuk,suka main cewek)saat ini saya menolak menikah dengan orang tersebut dan saya ingin menikah dengan pacar saya.apakah saya berdosa pak ustad kl saya tidak mau menikah dengan orang tersebut dan apa saya jg dosa dengan pacar saya pak ustad.

  • ryna says:

    Assalamualaikum.
    saya umur 20 tahun. Saya bingung karna pasangan saya ingin melamar saya setelah lebaran. Tapi saya bingung bagaimana harus bicara sama orangtua saya. Karna saya pernah bicara2 tentang menikah dengan mamah saya tapi bapa saya langsung bilang “heh sekolah dulu.” Saya bingung harus bicara bagaimana :'(

  • Hery says:

    Saya sudah siap dan ingin menikah tapi saya takut mengatakan kepada orang tua…saya ingin melamarnya dbulan ramadhan ini n setelah lebaran saya ingin segera melangsungkan pernikahan….bgaimana carax bebicara kepada kdua org tua saya…mohon sarannya

  • akhwat says:

    Assalamu’alaikim.. ustz mungkin pertanyaan saya sudah terjawab diatas tp masih ada yg mengganjal di hati saya, saya ingin menikah dr sejak usia 23 skrg usia saya 25, sy sudah menjalin hubungan dr sejak kuliah dg seseorang pria sederhana yg faham dg agama, dan mampu membimbing saya tp dia blm memiliki penghasilan/pekerjaan yg tetap, saya kesulitan untuk meminta izin menikah kpd orangtua saya, karena mereka sempat tidak menyetujuinya dg alasan dia tdk sepadan dg saya dr segi materi, padahal niat saya adalah ingin ibadah dan saya mencari suami yg mampu membimbing sy,, ustz apa yg harus saya lakukan..? Apa perlu org ketiga untuk menjadi media saya dan org tua? Saya jg mau bilang ingin menikah takut ustz..

    • Al Lijazy says:

      Wa’alaaikum salam warahmatullah, saran kami buat ukhti, sebaiknya kalau keinginan menikah itu sudah sangat kuat bahkan sudah membawa dampak kepada perbutan dosa,maka hendaknya segera dbicarakan dengan Baik dengan Orang tua. Perlu ukhti ketahui bahwa nikah itu ibadah bukan perbuatan nista, yang harusnya secara logika ortuu harusnya bangga jika putra-putrinya ingin melakukan ibadah. Masalah kriteria yang mereka persyaratkan, harusnya sesuai dengan kriteria yang syari’at tetapkan, tidak boleh membuat kriteria dan syarat sendiri yang tidak di tetapkan syari’at. kalau ukhti belum mampu menjelaskan kepada ortu tentang hal ini, kami rasa mungkin perlu juga dicarikan pihak ketiga agar menjadi penengah, namun diupayakan penengahnya tersebut orang yang berilmu syar’I dan termasuk orang yang di segani ortu. Misalkan seorang ustadz atau kerabat ysng diutamakan paham tentang ilmu syar’I erutama tentang seluk beluk fiqh pernikahan. syari’at.Satu lagi nasehat kami buat ukhti hendaknya ukhti bersabar mnghadapi masalah yang ukhti hadapi. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri dari melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala dan tetap untuk menjaga kea’atan kepadaNya,yakni dengan menghentikan hubungan dengan laki-laki yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan Allahua’lam semoga urusan ukhti dimudahkan Allah Ta’ala
      Mungkin ukhti perlu membaca artikel kami yg sudah pernah di muat di web ini sebagai bahan muyawarah dengan orang tuanya, linknya dibwah ini
      http://salaf.or.id/tanya-jawab/siap-menikah-tapi-belum-diperbolehkan-ortu.html

  • Sri ayu hidayati says:

    Assalamu’alaikum. Nama saya ayu pak, saya mohon bantuannya pak utk masalah yang sedang saya hadapi soal restu orangtua. Saya dan calon ingin segera menikah paling lama tahun dpn. Tetapi ortu saya melarang karena masalah ortu kami masing2. Ortu saya menilai ortu calon saya sgt buruk perilakunya. Ortu calon saya pernah melakukan kesalahn besar yaitu ibunya merusak rumah tangga orng. Jadi hal it membuat ortu saya tidak setuju. Kalau dgn calon saya alhmdulillah saya yakin pak. Krn dlm salat saya selalu mnt petunjuk allah. Apa yang hrs saya lakukn pak ? Agar ortu saya merestuin. Apa dalil pernikahn yg bisa meyakinkn ortu saya ttng pilihan saya. Mohon di jwab y pak. Trima kasih

    • Al Lijazy says:

      Wa’alaikum salam warahmtullaah,hendaknya ukhti bersabar mnghadapi masalah yang ukhti hadapi. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri dari melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala dan tetap untuk menjaga kea’atan kepadaNya,yakni dengan menghentikan hubungan dengan laki-laki yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan syari’at. Masalah hambatan restu dari wali merupakan satu perkara yang memang harus dibicarakan dengan serius dengan mengedepankan nasehat yg bijak dari al Quran dan as Sunnah. Dan sebenarnya Tidak sepatutnya bagi wali untuk menjadi penghalang dari pernikahan jika memang sudah sesuai syarat dan ketentuan syar’i. dan menjadikan sesuatu menjadi penghalang yang secara syar’I hal itu bukan menjadi penghalang. yakinkan kepada orang tua bahwa ukhti sudah benar-benar sudah meminta petunjuk Allah Ta’ala dengan istikharah tentang calon tersebut, dan benar-benar bisa meyaakinkan bahkan berani menjamin bahw aib dari ortu calon in yaa Allah tidak akan berpengaruh sama sekali terhadap prilaku sang calon
      Mungkin ukhti perlu membaca artikel kami yg sudah pernah di muat di web ini sebagai bahan muyawarah dengan orang tuanya, linknya dibwah ini
      http://salaf.or.id/tanya-jawab/siap-menikah-tapi-belum-diperbolehkan-ortu.html

  • icha says:

    assalamualaikum, nama saya icha, saya memiliki seorang kaka perempuan berusia 19 tahun yang memiliki pacar umur 20 tahun. kaka saya bercerita bahwa suatu hari dia sempat khilaf dan berbuat zina, dia dan pacarnya sepakat untuk berhenti, sama2 bertaubat lalu menikah, keluarga laki2 itu pun sudah sangat ingin menikahkan mereka, mereka berdua pun punya niat kuat untuk menikah agar tidak terulang kekhilafan yg pernah terjadi, namun kedua orang tua saya melarang dengan alasan masih muda dan belum berpenghasilan, sedang orang tua ikhwan tersebut sudah menawarkan diri untuk saling membantu diawal2 pernikahan mereka. namun tetap orang tua saya berpikir lebih baik berpacaran hingga umur yang cukup (25 keatas) saya sangat bingung apa yang saya harus lakukan krn setiap hari kaka saya selalu cerita dan merengek minta restu orang tua

    • Al Lijazy says:

      wa’alaikum salaam warahmatullahi wabarokaatuhu
      dari pertnyaan saudari icha diatas pertama kami sesalkan dari apa yang telah kakak saudari lakukan dari perzinahan yang sangat di murkai Allah Ta’ala. Tapi qoddarullah itu sudah terjadi dan harus diterima kenyataan tersebut, namun untuk kedepannya kami nasehatkan bahwa,Ketahuilah bahwa Zina termasuk salah satu dosa besar dalam islam. Karena itu, dosa zina mendapatkan hukuman khusus di dunia Yaitu harus diCambuk 100 kali bagi pezina yang belum menikah (ghairu Muhshon), dan di rajam(di lempari batu sampai mati) bagi pezina Muhshon (yang sudah menikah).
      Dan selain itu, setiap orang yang melakukan perbuatan dosa, dia diwajibkan untuk bertaubat. Dan cara yang diajarkan oleh islam untuk menghapus dosa besar adalah dengan bertaubat. Allah Ta’ala berfirman,
      إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا
      “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS. An-Nisa: 31).
      Ayat ini menjelaskan, syarat dihapuskannya kesalahan adalah bertaubat, dengan meninggalkan dosa yang dilakukan.
      Taubat secara bahasa artinya kembali. Orang yang bertaubat, berarti dia kembali dari kemaksiatan, menuju aturan Allah Ta’ala, diiringi memohon ampun kepada-Nya.
      Dan ”Dalam kitab al-Iman disebutkan bahwa taubat memiliki 3 rukun: al-Iqla’ (meninggalkan dosa tersebut), an-Nadm (menyesali) perbuatan maksiat tersebut, dan al-Azm (bertekad) untuk tidak mengulangi dosa yang dia taubati selamanya. (Syarh Shahih Muslim, 17/59)
      Jika saudari anda sudah melakukan taubat dengan terpenui syarat-syarat tersebut maka in syaa Allah Allah ta’ala akan berkenan Mengampuninya.
      Jadi tidak seperti anggapan sebagian orang bahwa kalau berzina dengan menikah akan menghapus dosa zina tersebut. Ini adalah pemahaman yang salah, yang benar dosa zina akan diampuni dengan cara taubat nasuha dengan terpenuhi syarat-syaratnya dan menikah hanya sekedar menutupi aib mereka saja di dunia bukan untuk menghapus dosa zina yang telah mereka lakukan.
      Yang kedua yang kami sesalkan adalah sikap orang tua anda yang rela membiarkan anaknya berpacaran dulu sebelum menikah. Ini adalah pemikiran yang janggaldan aneh, sebab dengan merestui anaknya berpacaran tentunya akan membuka pintu lebar-lebar untuk berzina lagi. Hendaknya orang tuanya tahu bahwa menghalangi putra-putrinya menikah hanya karena alasan yang tidak sesuai syari’at,itu adalah perbuatan dosa, yaitumenghalang-halangi wanita untuk menikah dengan lelaki yang telah menjadi pilihannya, tentunya yang sesuai dengan kriteria syari’i adalah kezaliman yang diharamkan oleh Islam dan disebut dalam pembahasan fiqh dengan istilah ‘Adhl. ‘Adhl hukumnya haram. Allah berfirman ketika mengharamkan ‘Adhl :
      فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ
      “ Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka menikah lagi dengan calon suaminya apabila telah ada saling ridha di antara mereka dengan cara yang ma’ruf (Al-Baqoroh; 232)
      Dan nasehat kami untuk masalah saudari anda ,hendaknya saudari anda bersabar dalam mnghadapi masalah yang dia hadapi. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri untuk tidak melakukan maksiat lagi kepada Allah Ta’ala dan tetap untuk menjaga kea’atan kepadaNya,yakni dengan menghentikan hubungan dengan laki-laki yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan syari’at. Masalah hambatan restu dari wali merupakan satu perkara yang memang harus dibicarakan dengan serius dengan mengedepankan nasehat yg bijak dari al Quran dan as Sunnah.yang sebenarnya Tidak sepatutnya bagi wali untuk menjadi penghalang dari pernikahan jika memang sudah sesuai syarat dan ketentuan syar’i. dan menjadikan sesuatu menjadi penghalang yang secara syar’i hal itu bukan menjadi penghalang. yakinkan kepada orang tua bahwa saudari anda benar-benar sudah meminta petunjuk Allah Ta’ala dengan istikharah tentang calon tersebut. Teruslah berupayaberbicara dengan baik-baik dengan ortu anda bahkan jika perlu kami rasa mungkin perlu juga dicarikan pihak ketiga agar menjadi penengah, namun diupayakan penengahnya tersebut orang yang berilmu syar’i dan termasuk orang yang di segani ortu. Misalkan seorang ustadz atau kerabat ysng diutamakan paham tentang ilmu syar’i erutama tentang seluk beluk fiqh pernikahan. syari’at. Semoga dimudahkan urusannya. aamiin

  • wulan says:

    assalamualaikum .
    saya brumur 19 th dan pasangan saya berumur 22 . kami sudah 2th pacaran dan kami siap menikah tapi orang tua saya menghalangi dengan alasan saya terlalu . .padahal niat saya menikah bukan karna kesenangan semata . .melainkan . . saya ingin menghindari dosa dan ingin menghalalkan hubungan kami . . lalu saya harus bagaimana ? apakah di pihak wanita boleh menikah tanpa restu ??

    • Al Lijazy says:

      waa’alaikum salam warahmatullahi wabarokaatuh
      Tentang masalah yang saudari hadapi hendaknya saudari bersabar mnghadapi masalah yang saudari hadapi. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri dari melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala dan tetap untuk menjaga kea’atan kepadaNya, yakni dengan menghentikan hubungan dengan laki-laki yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan syari’at. Masalah hambatan restu dari wali merupakan satu perkara yang memang harus dibicarakan dengan serius dengan mengedepankan nasehat yg bijak dari al Quran dan as Sunnah. Dan sebenarnya Tidak sepatutnya bagi wali untuk menjadi penghalang dari pernikahan jika memang sudah sesuai syarat dan ketentuan syar’i. dan tidak patut bagi mereka untuk menjadikan sesuatu menjadi penghalang yang secara syar’i hal itu bukan menjadi penghalang. yakinkan kepada orang tuanya bahwa calonnya dan saudari sendiri sudah benar-benar sudah meminta petunjuk Allah Ta’ala dengan istikharah tentang pernikahan tersebut, ,jika saudari belum mampu untuk menjelaskan kepada mereka, kami rasa mungkin perlu juga dicarikan pihak ketiga agar menjadi penengah, namun diupayakan penengahnya tersebut orang yang berilmu syar’i dan termasuk orang yang di segani ortunya. Misalkan seorang ustadz atau kerabat ysng diutamakan paham tentang ilmu syar’I erutama tentang fiqh pernikahan yang sesuai syari’at.
      Masalah ortu tidak merestui, selama beliau masih mau menjadi wali nikah hal itu tidak masalah in syaa Allah, artinya secara syar’i pernikahan tersebut sah, tapi mungkin kedepannya akan terjadi hubungan yang kurang harmonis, dan itu perlu juga untuk di pertimbangkan.
      Lain halnya tidak merestui dan tidak mau menjadi wali anda dalam pernikahan. MakaYang seperti ini Anda tidak mungkin bisa menikah tanpa wali. Sebab syarat sahnya pernikahan itu harus ada wali bagi wanita.
      Dari Aisyah berkata: Rasulullah bersabda: “Seorang wanita yang menikah tanpa izin walinya maka pernikahannya adalah batiil, batil, batil. Dan apabila mereka bersengketa maka pemerintah adalah wali bagi wanita yang tidak memiliki wali”. (SHAHIH. Diriwayatkan Abu Dawud 2083, Tirmidzi 1102, Ibnu Majah 1879, ad-Darimi 2/137, Ahmad 6/47, 165, Syafi’I 1543, Ibnu Abi Syaibah 4/128, Abdur Razzaq 10472, ath-Thayyalisi 1463, ath-Thahawi 2/4, Ibnu Hibban 1248, ad-Daraquthni 381)

      Dan Orang yang paling berhak menjadi wali Anda adalah ayah Anda, kakek Anda dari garis keturunan ayah, paman Anda dari garis keturunan ayah, atau saudara lelaki Anda. Jika mereka semua tidak ada maka hak perwalian berpindah ke wali hakim.
      Mka itu saran kami , sebaiknya, Anda tidak berusaha sendiri. Anda bisa meminta bantuan pihak keuarga lain, seperti: bibi, paman, atau kakek-nenek atu bahkan ustadz anda bila perlu. Minta bantuan dan perhatian mereka agar membantu Anda dalam menyampaikan alasan kepada orang tua Anda.

  • rani says:

    Assalamualaikum.
    Pak, mohon maaf sekali saya mau bertanya walaupun sudah dijelaskan diatas.
    Saya sudah berpacaran hampir 4 tahun dengan pacar saya. Sekarang umur saya 21 tahun. Pacar saya 26 tahun. Memang dari awal kami menjalani hubungan, kami sudah berkomitmen untuk menikah. Namun, saya memilik 3 orang kaka perempuan, kaka pertama saya belum menikah dan sudah dilangkahi 2x oleh kedua kakak saya yang lainnya.
    Saya memang tidak pernah bilang ingin menikah dengan kedua orang tua saya, namun orang tua saya sangat setuju pada pacar saya ini. Namun ibu saya maunya saya s1 dulu (karna saya baru lulus d3) dan menunggu kaka saya yang pertama menikah.
    Saya sudah benar2 siap untuk menikah lahir dan batin, dan pasangan saya sudah bekerja dan selama ini kebutuhan sehari2 saya sudah dipenuhi oleh pacar saya ini. Dan hubungan saya dengan pacar saya aktivutasnya sudah terlampau jauh, sudah melakukan banyak dosa. Saya benar2malu atas pebuatan saya dan ingin mengakhiri ini dengan menikah. Namun saya tidak berani bilang ke orang tua saya karena mereka mengganggap saya masih kecil dan lain sebagainya. Bagaimana saya harus menghadapi ini? Saya benar2 ingin segera menikah Pak. Namun orang tua dan kakak2 saya terkadang tidak mementingkan syariat2 islam hanya mementingkan materi.
    Mohon solusinya pak. Terima kasih.
    Wassalamualaikum

    • Al Lijazy says:

      Wa’alaaikum salam warahmatullah, saran kami buat ukhti, sebaiknya kalau keinginan menikah itu sudah sangat kuat bahkan sudah membawa dampak kepada perbutan dosa,maka hendaknya segera dbicarakan dengan Baik dengan Orang tua. Perlu ukhti ketahui bahwa nikah itu ibadah bukan perbuatan nista, yang harusnya secara logika otru harusnya bangga jika putra-putrinya ingin melakukan ibadah. Jadi tidak perlu ragu apalagi takut untuk mengutaarakan keinginan beribadah kepada siaapapun, Masalah kriteria yang mereka persyaratkan harusnya sesuai dengan kriteria yang syari’at tetapkan, tidak boleh membuat kriteria dan syarat sendiri yang tidak di tetapkan syari’at. kalau ukhti belum mampu menjelaskan kepada ortu tentang hal ini, kami rasa mungkin perlu juga dicarikan pihak ketiga agar menjadi penengah, namun diupayakan penengahnya tersebut orang yang berilmu syar’i dan termasuk orang yang di segani ortu. Misalkan seorang ustadz atau kerabat yang diutamakan paham tentang ilmu syar’I erutama tentang fiqh pernikahan. syari’at.Satu lagi nasehat kami buat ukhti hendaknya ukhti bersabar mnghadapi masalah yang ukhti hadapi. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri dari melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala dan tetap untuk menjaga kea’atan kepadaNya,yakni dengan menghentikan hubungan dengan laki-laki yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan. Allahua’lam semoga urusan ukhti dimudahkan Allah Ta’ala
      Mungkin ukhti perlu membaca artikel kami yg sudah pernah di muat di web ini sebagai bahan muyawarah dengan orang tuanya, linknya dibwah ini
      http://salaf.or.id/tanya-jawab/siap-menikah-tapi-belum-diperbolehkan-ortu.html

      • rani says:

        Assalamualaikum Pak ustadz, saya mau bertanya lagi. Saya sudah mantap untuk bilang ijin menikah, apapun resikonya, semoga dimudahkan oleh Allah, Insya Allah diterima oleh orang tua dan keluarga saya. Amin. Sebaiknya yang bilang ke orang tua saya untuk menikah, lebih baik saya yg beri tahu atau pasangan ya pak? Terima kasih ya pak

        • Al Lijazy says:

          Bismillah, wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakaatuhu
          Lazimnya yang bilang ke calom mertuakan calon suami, yaitu ketika proses mengkhitbah (melamar) atau waktu nadzor dan ta’aruf. Tapi kalau misalkan anda sendiri yang mencoba bilang ke ortu anda sebagai muqaddimah ( pendahuluan) sebelum clon anda yang maju mungkin itu baik juga, dengan harapan nantinya akan jadi bahan pertimbangan ortu anda terlebih dahulu sebelum ketemu langsung dengan calon anda. Allahua’lam

  • Desi susanti says:

    Assalamu’alaikum Ustadz. Ana seorang wanita berusia 22 tahun dan beranjak 23 tahun. ana memiliki pasangan berusia 27 tahun. Kami adalah pasangan yang siap menikah.Tapi keinginan kami tertunda karena terganjal restu dari pihak si Ikhwan. Keluarga si Ikhwan ingin memilih pasangan yang Baik BiBit Bebet dan Bobotnya. Yang setara kastanya, yang sepadan pendidikannya dan yang pasti banyak hartanya. Sedangkan ana adalah calon sarjana yang berasal dari keluarga sederhana. Insya Allah masalah pendidikan kami akan setara. Tapi bagaimana dengan masalah kasta? Tentu kami berbeda. Hal ini yang kami hadapi dalam masalah pernikahan. Orang tua ikhwan tersebut melarang kami untuk menikah. Tujuan kami menikah hanya ingin mencari ridho Allah karena kami takut terjadinya fitnah diantara kami. Mohon bimbingannya ustadz.

    • Al Lijazy says:

      Wa’alaikum salam warahmtullaah,hendaknya ukhti bersabar mnghadapi masalah yang ukhti hadapi. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri dari melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala dan tetap untuk menjaga kea’atan kepadaNya,yakni dengan menghentikan hubungan dengan laki-laki yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan syari’at. Masalah hambatan restu dari wali merupakan satu perkara yang memang harus dibicarakan dengan serius dengan mengedepankan nasehat yg bijak dari al Quran dan as Sunnah. Dan sebenarnya Tidak sepatutnya bagi wali untuk menjadi penghalang dari pernikahan jika memang sudah sesuai syarat dan ketentuan syar’i. dan menjadikan sesuatu menjadi penghalang yang secara syar’i hal itu bukan menjadi penghalang. yakinkan kepada orang tuanya bahwa calonnya dan ukhti sendiri sudah benar-benar sudah meminta petunjuk Allah Ta’ala dengan istikharah tentang pernikahan tersebut, kalau ,jika ukhti belum mampu untuk menjelaskan kepada mereka, kami rasa mungkin perlu juga dicarikan pihak ketiga agar menjadi penengah, namun diupayakan penengahnya tersebut orang yang berilmu syar’i dan termasuk orang yang di segani ortunya. Misalkan seorang ustadz atau kerabat ysng diutamakan paham tentang ilmu syar’I erutama tentang fiqh pernikahan sesuaisyari’at.
      Mungkin ukhti perlu membaca artikel kami yg sudah pernah di muat di web ini sebagai bahan muyawarah dengan orang tuanya, linknya dibwah ini
      http://salaf.or.id/tanya-jawab/siap-menikah-tapi-belum-diperbolehkan-ortu.html

  • dian says:

    Maaf saya mau nanya.saya punya teman laki laki kami sudah menjalani hubungan 7 bulan.pacar saya sudah sering bicara kepada saya untuk segera menikah. Tapi saya takut berbicara kepada orang tua saya. Karena memang diantara kami berdua belum ada yang berpenghasilan tetap. Dan orang tua saya yang tidak senang dengan kelakuan pacar saya yang kurang baik.. tolong gimana solusinya. Saya dan pacar saya ingin segera menikah dan menjauh dari fitnah. Menjalankan syariat islam dan ibadah.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,Perlu anda ketahui bahwa diantara syarat menikah adalah mampu member nafkah lahir maupun batin. Jadi nasehat kami yang pertama untuk calon anda agar mempersiapkan kedua nafkah tersebut dan berusaha meuyakinkan calon mertuanya bahwa dia nantinya in syaa Allah sudah benar-benar mampu untuk menafkahi istrinya baik lahir maupun batin. Namun yang anda katakan ada kelakuan dari calon anda yang” kurang baik” itu perlu kita pastikan dulu kurang baik dalam hal apa dulu. Kalau memang kurang baiknya tersebut memang kurang baik secara syariat maka dalam hal ini orang tua anda benar. Tapi kalau kurang baiknya hanya sebatas adat istiadat semata, maka hal ini perlu di perinci dan di musyawarahkan dengan keluarga atau bila perlu datangkan pihak ketiga yang anda pandang adil dan bijak demi menjembatani antara keinginan anda dan keinginan ortu anda. In syaa Allah dengan bermusyawarah nanti akan nada jalan keluar nantinya.
      Kemudian nasehat kami kedua yitu hendaknya anda bersabar mnghadapi masalah yang anda hadapi. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri dari melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala dan tetap untuk menjaga kea’atan kepadaNya,yakni dengan menghentikan hubungan dengan laki-laki yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan syari’at.Allahua’lam, Kami hanya bisa mendoakan Semoga urusan anda dimudahkan nantinya..aamiin

  • fajar says:

    Assalamualaikum ustadz,ada beberapa yg ingin saya tanyakan terkait wali dalam pernikahan:
    1. Pertama kakak perempuan saya janda memiliki 2 anak laki” berusia 20 dan 18 tahun, sedangkan saya satu”nya anak laki” dari almarhum ayah saya (ayah saya anak tunggal). Jika kakak perempuan saya menikah siapakah yang berhak menjadi wali nikah,saya ataukah anak” kakak saya ?
    2. Bagaimanakah pandangan islam mengenai nikah sirri ?
    3. Saat ini kakak saya terburu” ingin segera menikah secara sirri dengan laki” yg sedang dalam proses cerai,saya khawatir dgn pernikahan ini,mengingat kondisi calon laki” yg pernah menikah 3 kali,pertama dgn wanita yg skrng dlm proses cerai (hingga saat ini proses belum selesai),kedua pernah menikah dgn wanita kristen secara gereja (KTP nya islam) lalu ditinggalkan, ketiga pernah nikah sirri dgn seorang wanita lalu ditinggalkan juga. Ketika si laki” datang meminta, saya tidak bersedia memberikan ijin nikah sirri (knapa harus sirri),saya katakan selesaikan dulu proses ceraimu dan saya akan bicarakan masalah ini dgn kluarga besar. Jika hak wali itu jatuh kepada saya dan saya tdk memeberikan ijin,apakah alasan yg saya sampaikan diatas adalah alasan syar’i, mohon solusinya ustadz,jazakhalohu ustadz

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salam warahmatullahi wabarokaatuhu
      Tanggapan kami tentang pertanyaan anda diatas
      Pertama : dengan keadaan sperti yang anda ceritakan dalam madzhab Syafi’iyyah yang berhak menjadi wali kakak perempuan anda adalah saudara laki-lakinya yaitu dalam hal ini adalah anda sendiri.
      Dalam kitab Kifayatul Akhyar, sebuah kitab fiqih yang lazim digunakan di dalam mazhab Syafi’i, disebutkan urutan wali nikah adalah sebagai berikut:
      1. Ayah kandung
      2. Kakek, atau ayah dari ayah
      3. Saudara kandung
      4. Saudara se-ayah saja
      5. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah dan se-ibu
      6. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah saja
      7. Saudara laki-laki ayah dst
      Kedua : tentang nikah sirri maksudnya sirri yang bagaimana? Sebab yang kami pahami dari istilah sirri di masyarakat kita ada dua presepsi.
      Presepsipertama, nikah sirri itu adalah Nikah tanpa wali yang sah dari pihak wanita.
      Presepsi Kedua,nikah sirri itu adalah Nikah di bawah tangan, artinya tanpa adanya pencatatan dari lembaga resmi negara (KUA).
      Jika Nikah siri dengan presepsi yang pertama, statusnya tidak sah, sebagaimana yang ditegaskan mayoritas ulama. Karena di antara syarat sah nikah adalah adanya wali dari pihak wanita. Di antara dalil yang menegaskan haramnya nikah tanpa wali adalah:
      Pertama, hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ
      “Tidak ada nikah (batal), kecuali dengan wali.” (HR. Abu Daud, tirmidzi, Ibnu Majah, Ad-Darimi, Ibn Abi Syaibah, thabrani, dsb.)

      Kedua, hadis dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ مَوَالِيهَا، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ
      “Wanita manapun yang menikah tanpa izin wali, maka nikahnya batal.” (HR. Ahmad, Abu daud, dan baihaqi)
      Dan masih banyak riwayat lainnya yang semakna dengan hadits di atas, sampai Al-Hafidz Ibn Hajar menyebutkan sekitar 30 sahabat yang meriwayatkan hadis semacam ini. (At-Talkhis Al-Habir, 3:156).
      Namun Selanjutnya, jika yang dimaksud nikah siri adalah nikah di bawah tangan, dalam arti tidak dilaporkan dan dicatat di lembaga resmi yang mengatur pernikahan, yaitu KUA maka status hukumnya sah, selama memenuhi syarat dan rukun nikah. Sehingga nikah siri dengan pemahaman ini tetap mempersyaratkan adanya wali yang sah, saksi, ijab-qabul akad nikah, dan seterusnya.
      Hanya saja, pernikahan semacam ini tidak kami anjurkan, karena beberapa alasan berdasarkan kenyataan yang ada:
      Pertama, pemerintah telah menetapkan aturan agar semua bentuk pernikahan dicatat oleh lembaga resmi, KUA. Sementara kita sebagai kaum muslimin, diperintahkan oleh Allah untuk menaati pemerintah selama aturan itu tidak bertentangan dengan syariat. Allah berfirman,
      يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
      “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul, dan pemimpin kalian.” (QS. An-Nisa: 59). Sementara kita semua paham, pencatatan nikah sama sekali tidak bertentangan dengan aturan Islam atau hukum Allah.

      Kedua, pencatatan surat nikah di pemerintah akan memberi jaminan perlindungan kepada pihak wanita yang terkadang dibutuhkan.
      Dalam aturan nikah, wewenang cerai ada pada pihak suami. Sementara pihak istri hanya bisa melakukan gugat cerai ke suami atau ke pengadilan. Yang menjadi masalah, terkadang adabeberapa suami yang menzhalimi istrinya berlebihan, namun dia sama sekali tidak mau menceraikan istrinya. Dia hanya ingin menyiksa istrinya. Sementara sang istri tidak mungkin mengajukan gugat cerai ke pengadilan agama, karena secara administrasi tidak memenuhi persyaratan( belum tercatat pernikahan yang sah di pemerintahan).
      akhirnya, jadilah sang istri terkatung-katung, menunggu belas kasihan dari suami yang tidak bertanggung jawab tersebut. Allahua’lam

      Ketiga: tentang laki-laki yang datang melamar kakak anda, kalau memang anda memandang dia termasuk laki-laki yang tidak sesuai kriteria syar’i, mislkan termasuk laki-laki yang sering mengabaikan kewajibannya sebagai suami terhadap istrinya terdahulu, atau dia termasuk laki-laki yang mendzahirkan kefasiqannya atau terang-terangan dalam berbuat maksiat, bid’ah msupun kesyirikan maka sebaiknya anda memberitahu atau memberi masukan terlebih dahulu kepada kakak anda tentangnya dengan cara yang baik dan dengan jujur. Bagaimanapun seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya. Namun kita sebagai wali juga berhak untuk menjaga tentang mashlahat atau mudharat yang dikhawatirkan akan menimpa siapapun yang dibawah perwalian kita, tentunya dengan nasehat yang baik dan musyawarah dengan hati yanglapang.

  • Siti Masruroh says:

    Assalamu’alaykum,
    Saya seorang janda, dan bekerja sebagai PNS. Saya memahami jika seorang wanita ketika dia sudah menikah, maka dirinya adalah milik suaminya dan itulah yang telah saya lakukan sebelumnya hingga saya melupakan untuk menafkahi/berbakti kepada orang tua. Seluruh lahir dan batin ini fokus kepada rumah tangga. Saat itu mantan suami belum memiliki penghasilan tetap, maka saya harus menafkahi keluarga kecil saya. Saat ini, saya sedang berta’aruf dengan seorang ikhwan dan insyaallah akan menikah dalam waktu dekat. Pada awalnya, saya tdk khawatir apapun ttg hal ini. Dikarenakan fitnah yg sangat besar yg dialami oleh seorang janda, maka saya harus segera menikah. Akan tetapi beberapa hari ini sya ragu dan takut untuk menikah, saya khawatir tdk bisa lagi menafkahi ibu saya dan membantu adik yg sedang studi karena harus fokus pada keluarga. Saya takut akan melalaikan org tua seperti kejadian yang telah lalu. Mohon solusinya Ustadz.. Berhubung waktu taaruf yang kian mendesak. Jazakallahu khoir.

    • Al Lijazy says:

      Wa’alaikumus Salaam warahmatullahi wabarakaatuh
      Bismillah, assholatu wassalaamu ‘ala Rasulillah wa ‘alaa alihi wa ashhabihi waman tabi’ahu ilaa yaumid diin. Amma ba’du,
      Berbakti, taat dan berbuat kebajikan kepada orang tua merupakan kewajiban seorang anak. Bukan hanya karena orang tua merupakan sebab anak terlahir ke dunia atau sekedar ingin membalas budi baiknya. Akan tetapi hanya karena Allah mewajibkan taat dan berbuat baik kepada keduanya. Seperti dalam firmanNya:
      وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
      “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain-Nya dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (Al-Isra’ : 23)
      Namun sekarang status anda sudah berubah, yaitu sudah menjadi istri orang (atau nantinya in syaa Allah),jadi kewajiban ta’at anda jadi berubah haluan sepenuhnya buat suami anda nantinya. Masalah nafkah ortu dan keluarga anda sebenarnya kewajiban ayah anda, bagi anda hanyalah min baabil ihsan (kebaikan ) aja, bukan satu hal yang wajib bagi anda.meskipun anda bisa meghasilkan uang sendiri bukan berarti anda bisa leluasa sepenuhnya membelanjakannya.. ada suami di samping anda yang juga berhak untuk dimintai izin dalam penggunaan harta anda sendiri.seperti dalam sabda Nabi :
      ليس لامرأة أن تنتهك من مالها شيئا إلا بأذن زوجها
      “Tidak boleh bagi seorang perempuan yang bersuami untuk membelanjakan harta pribadinya (tanpa seizin suaminya)” (H.R. Abu Daud, Nasa’i Ibnu Majah).
      Meskipun sebagian Ulama’ bahkan bisa dikatakan jumhur Ulama’ masalah ijin suami ini tidak di wajibkan karena ada dalil lainnya, namun menurut Imam Nawawi, bagaimana pun keadaannya seorang istri harus meminta izin kepada suaminya. Baik izin yang berbentuk sharih (jelas) maupun izin yang dipahami dari kebiasaan, seperti memberi uang atau sepotong roti kepada peminta-minta dari kebiasaan yang biasa berlangsung . Pengeluaran harta untuk sedekah ini pun sebatas kadar yang ringan, yang menurut kebiasaan suami ridha hartanya diberikan dalam jumlah demikian. Namun bila jumlahnya sampai melebihi kebiasaan, maka tidak dibolehkan.
      Akan tetapi, menurut Nawawi lagi, jika diragukan keridhaannya, maka tidak boleh seorang istri menggunakan hartanya (untuk di infakkan kepada yang membutuhkan) kecuali mendapat izin dengan cara yang sharih (jelas).
      Menurut hemat kami niat anda untuk menikah sebaiknya dilanjutkan aja setelah istikharah minta petunjuk Allah tentunya, mempertimbangkan fitnah yang akan menimpa anda baik fitnah syahwat ataupun yang lainnya yang di khawatirkan akan memudharatkan anda nantinya. Masalah ingin berbuat baik kepada ortu dan keluarga juga sebisa mungkin juga tetap dilanjutkan. Tinggal di musyawarahkan dengan baik bersama suaminya dengan mempertimbangkan maslahat dan mudharatnya jika hal itu di lakukan sambil memohon kemudahan kepada Allah,saya in syaa allah nanti akan dimudahkan. Sebab pada prinsipnya berbuat shodaqoh itu tidak akan membuat kita miskin. Yakinkan aja nanti suaminya dengan kita bershodaqoh in syaa Allah Allah akan mengganti dengan berlipat ganda. Solusi lain usahakan memilih suami, selain yang bertaqwa tentunya, juga yang punya semangat bekerja untuk cari nafkah, jangan mau pada suami yang malas-malasan dalam cari nafkah dan hanya bergantung pada penghasilan anda saja, karena suami yang seperti itu selain jelas tidak baik untuk dijadikan imam keluarga,juga dia sudah keluar dari kodratnya yang wajib menafkahi, bukan dinafkahi.ysng demikian itu agar nantinya niat baik anda dalam bershodaqoh akan lebih mudah terlaksana in syaa Allah. Allahua’lam bish shawab, Kami ikut mendoakan semoga semuanya dimudahkan. Baarokallahu fiikum

  • Tri says:

    Assallamuailakum,

    Saya seorang wanita berumur 30, dan saat ini sudah 7 bulan taaruf dengan seorang duda berumur 38. Sudah 3 bulan belakangan ini saya berusaha ingin mengenalkan dia secara baik-baik kepada orang tua. Namun sayangnya ditentang keras oleh Ayah karena orang yang saya sukai seorang duda, tidak tampan, dan orang yang biasa saja dari segi penghasilan menurut orang tua saya.
    Saya sudah berusaha menjelaskan alasan-alasan itu tidak syar’i, saya juga sudah sempat diusir dari rumah, kalau memang tetap ingin menikah dengannya. Namun seminggu kemudian diminta kembali kerumah, saya kembali kerumah, mungkin orang tua sudah melunak, tapi tidak demikian, saya diminta lagi untuk putus hubungan dengannya. Orang tua saya menganggap saya anak yang durhaka, menzolimi orang tua, bahkan Ayah seperti menyumpahi kehidupan saya kelak akan sengsara bila tetap memilih dia. Dari sini saya berpikir Ayah sudah bulat tidak akan mau menikahkan. Adik laki-laki juga sependapat dengan Ayah saya. Ibu saya yang sebelumnya menengahi juga lama kelamaan tidak kuat dengan tekanan dari Ayah dan akhirnya ikut membenci calon saya tersebut. Saya masih mempunyai seorang Paman, namun saya sudah lama sekali tidak berhubungan dengannya, karena Ayah saya memutuskan tali silahturahmi dengannya puluhan tahun. Apalah jadinya bila saya meminta perwalian dari Paman, saya khawatir menimbulkan kemurkaan orang tua yang lebih besar, terutama Ayah. Sebaiknya apa yang harus saya lakukan, mohon bantuannya Ustad.

    • Al Lijazy says:

      bismillah,assolaatuwassalaamu ‘ala rasulillah wa man waalah
      setelah membaca kasus yang anda ceritakan kami rasa anda harus mempertimbangkan lagi untuk meneruskan pernikahan dengan duda tersebut, sebab sepertinya kedua orang tua anda sudah tidak ridho dengan pernikahan tersebut. Meskipun kondisi demikian anda masih bisa meminta perwalian dari wali yang lain tapi kami masih khawatir keadaan keluarga anda makin memburuk nantinya.bagaimanapun ortu anda pastinya menginginkan suami yang terbaik buat anda, yakin aja in syaa allah.ridho orang tua terutama ibu akan memberikan kemudahan dan kebahagiaan tersendiri bagi kita dan keluarga. Kalaupun anda tetap memaksakan memilih duda tersebut, kalau bisa seimbang dengan manfaat yang didapat dari duda tersebut yang tidak bisa dinilai dengan dunia, misalkan keshalihan dan ketaqwaannya yang tidak diragukan, bermanhaj ahlu sunnah serta Nampak keta’atan yang tinggi dalam ibadah atau dia berilmu syari’ yang mumpuni untuk kita jadikan imam keluarga. Kalau duda tersebut tidak ada yang bisa diandalkan dalam masalah agama dan akhiratnya, kami sarankan anda bersabar dan terus minta petunjuk Allah dengan menunggu pinangan laki-laki lain yang ortu ridhai. Kami ikut mendoakan dari sini semoga nanti anda mendapat jodoh yang shalih dan mendapat ridho ortu anda. Allahua’lam

  • mutiarareva says:

    Assalamualaikum Wr.Wb
    saya mau bertanya saya sudah berumur 25 tpi ke dua kaka laki2 saya belum menikah tpi saya sudah mantep ingin menikah semata2 untuk mengabdi kepada allah agar tdk menimbulkan dosa
    apakah boleh saya melangkahi kedua kaka tersebut
    dan kaka pertama ia sebagai wali saya kelak saya menikah karena ayah saya sudah meninggal
    apakah dosa jika saya melangkahi kaka yg sebagai wali ku

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, kalau memang sudah siap menikah dan sudah terpenuhi syarat-syaratnya maka segerakan saja menikahnya. Sebab perintah Rasulullah adalah menyegerakan nikah bagi yang sudah mampu seperti dalam sabda beliau
      يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ منكم الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
      “Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang sudah mampu menanggung nafkah, hendaknya dia menikah. Karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sementara siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa. Karena itu bisa menjadi tameng syahwat baginya.” (HR. Bukhari 5065 dan Muslim 1400).
      Tentang adat-istiadat yang melarang melangkahi saudara tua, menjaga perasaan saudara tua, menghindari mitos tidak baik perempuan dilangkah, menjaga pandangan orang terhadap kakak perempuannya yang dilangkah, dst.. maka semuanya bukanlah alasan-alasan syar’i yang bisa membuat pernikahan ditunda. Ketentuan-ketentuan tersebut bukanlah hukum islam dan seorang muslim hanya wajib terikat dengan hukum Allah saja, tidak ada yang lain. Allah berfirman;
      وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
      Dan hendaklah kkalian memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Al-Maidah; 49)
      Jadi melangkahi kakak anda meskipun dia sebagai wali anda in syaa Allah tidak masalah, lanjutkan aja in Syaa Allah semoga barokah. Allahua’lam

  • Dian says:

    Assalamualaikum ust….
    Seorang sahabat akhwat sy berusia 32th yg hingga saat ini belum menikah karena belum mendapat restu dr orgtuanya. Ia pernah melakukan kesalahn besar yaitu menjalin hub yg sdh sangat jauh dgn seorang laki-laki yg sdh berumah tangga beranak 3.karena 1 dan lain hal akhirnya laki2 itu bercerai, namun ia masih bertanggungjawab penuh atas anak2nya. Aib mereka akhirnya diketahui oleh orangtua si akhwat. Sejak kejadian itu mereka menyesal atas smua kesalahan, dan ingin memperbaiki hidup dengan menikah. Namun keluarga si akhwat menentang keras, dengan alasan cara mereka mengawali hub yg tidak baik,selain itu segi ekonomi dan orgtua akhwat khawatir jika suatu hari nanti ia ditinggal oleh laki-laki ini. Mereka mencoba memperbaiki diri, mereka mencoba bicara baik2 ke keluarga si akhwat, namun respon keluarga negatif. Bahkan keluarga akhwat memberi pilihan utk memilih keluarga atau laki2 itu. Jika tetap memilih laki-laki itu, mereka akan tetap dinikahkan, namun setelah itu dibuang dr kluarga. Dari segi agama sebenarnya laki2 ini cukup baik, namun karena kekhilafannya ini sehingga keimanannya jd tercoreng, namun mereka bertekad utk memperbaiki smua kesalahan yg mereka lakukan, salah satunya dgn menikah. Seberapapun buruknya sikap keluarga si akhwat terhadap laki2 ini, dy tdk pernah marah, krn dy tau diri akan kesalahannya dn berharap bisa dimaafkan. Hingga sekarang mereka masih khawatir untuk bicara lagi ke keluarga akhwat ttg niat mereka untuk menikah. Laki2 ini sudah mengenalkan si khwat ke orangtuanya, dan mereka menyetujui karena dimata mereka si akhwat memang lbh baik dr segi sikap dan hal lainnya ketimbang mantan istrinya. Justru orangtua laki2 menyarankan utk segera menikah agar tidak terjadi fitnah. Namun orgtua laki2 inibtidak mengetahui aib mereka dan penolakan dari kluarga akhwat karena domisili mereka jauh diluar kota. Mohon saran pak ust, apa yg sebaiknya mereka lakukan? Apakah keputusan mereka untuk menikah adalah jalan terbaik?karena si laki2 tidak mau gagal lagi dalam berumahtangga, ia percaya bhw sahabat sy ini adalah perempuan yg tepat untuk dijadikan teman hidup, dan mereka bertekad untuk membangun rumah tangga dijalan Allah, dan tidak mau mengulang kesalahan.
    Sebelum dan sesudahnya sy ucapkan terima kasih. Wassalam.

    • Al Lijazy says:

      Wa’alaikum Salam warahmatullahi wabarokaatuh.
      Yang anda ceritakan ini tentang si akhwat sudah pernah menjalin hubungan yang sangan jauh dengan laki-laki yang telah beristri ini kalau yang di maksud adalah sudah pernah berzina, maka yang harus dilakukan pertama-tama bagi keduanya adalah bertaubat kepada Allah Ta’ala dengan taubat Nasuha
      Yang mana Rukun Utama Taubat Ada 3:
      Imam An-Nawawi mengatakan,
      وقد سبق في كتاب الإيمان أن لها ثلاثة أركان: الإقلاع، والندم على فعل تلك المعصية، والعزم على أن لا يعود اليها أبدا
      ”Dalam kitab al-Iman disebutkan bahwa taubat memiliki 3 rukun: al-Iqla’ (meninggalkan dosa tersebut), an-Nadm (menyesali) perbuatan maksiat tersebut, dan al-Azm (bertekad) untuk tidak mengulangi dosa yang dia taubati selamanya. (Syarh Shahih Muslim, 17/59)
      Lantas permasalahannya Apakah dengan menikah, dosa zina otomatis hilang?
      Dosa zina sebagaimana dosa besar lainnya, hanya bisa hilang denganTAUBAT NASUHA. Dan syarat taubat adalah tiga seperti yang disebutkan di atas.
      Karena itu, semata-mata menikah, belum menghapus dosa zina yang pernah dilakukan. Karena menikah, bukan syarat taubat itu sendiri. Kecuali jika pernikahan ini dilangsungkan atas dasar:
      1. Menyesali dosa zina yang telah dilakukan
      2. Agar tidak mengulang kembali dosa zina tersebut.
      Jika menikah atas motivasi ini, insyaaAllah mudah-mudahan status pernikahannya termasuk bagian dari taubat untuk perbuatan zina itu.
      Untuk itu, sebagian ulama menyarankan agar orang yang melakukan zina, untuk segera menikah, dalam rangka menutupi aib keduanya. Karena jika mereka berpisah, akan sangat merugikan pihak wanita, karena tidak ada lelaki yang bangga memiliki istri yang pernah dinodai orang lain secara tidak halal. Selain itu jika mereka tidak jadi menikah kami khawatir kejadian itu terulang lagi sebagai bentuk kerinduan diatas kekecewaannya terhadap apa yang terjadi dari masalah yang mereka hadapi yang biasanya akan lebih parah dari sebelumnya. Na’udzubillahi min dzaalik
      Masalah hambatan restu dari wali merupakan satu perkara yang memang harus dibicarakan dengan serius dengan mengedepankan nasehat yg bijak dari al Quran dan as Sunnah.
      Dan hendaknya dari pihak ortu tidak menjadikn syarat-syarat dan kriteria diluar dari apa yang telah di tentukan syari’at,
      kami rasa mungkin perlu juga dicarikan pihak ketiga agar menjadi penengah, namun diupayakan penengahnya tersebut orang yang berilmu syar’I dan termasuk orang yang di segani ortu. Misalkan seorang ustadz atau kerabat yang diutamakan paham tentang ilmu syar’I erutama tentang seluk beluk fiqh pernikahan sesuai syari’at.

  • yanto says:

    assalamu’alaikum ustad

    bagaimana hukumnya dalam islam, jika orang tua perempuan tidak setuju dengan lelaki pilihan anaknya karena ada perbedaan pemahaman dalam agama?
    si lelaki diharuskan mengikuti golongan keluarga si perempuan dahulu sebelum menikah
    karena adanya peraturan dilarang menikah di luar golongannya

    padahal mereka sama sama islam dan saling mencintai

    terima kasih

    • Al Lijazy says:

      bismillah,sepertinya pertanyaan anda butuh lebih terperinci, maksudnya yang dimaksud golongan itu golongan apa?, sebab dengan kami mengetahui golongan yang dimaksud in syaa Allah akan mempengaruhi nasehat yang akan kami sampaikan nantinya. sebab barangkali yang dimaksud golongan itu termasuk golongan yang baik,maka kami juga akan ikut mendukung nantinya,sebaliknya barangkali yang dimaksud golongan tersebut termasuk golongan yang menyimpang maka kami akan menasehatinya untuk tidak di teruskan. Begitu maksud kami semoga bisa di maklumi.baarokallahu fiik

      • yanto says:

        assalamu’alaikum ustad,
        Maaf saya tidak bisa memberitahu golongan yang dimaksud, karena ini adalah privasi mereka
        saya akan memberitahu ciri”nya saja :
        1. mereka mempunyai imam
        2. mereka berbaiat kepada imamnya
        3. menikah di luar jamaahnya tidak diperbolehkan walaupun sesama islam
        4. menikah 2 kali, pertama menikah harus di depan imamnya agar sah, kedua menikah di KUA hanya sebagai formalitas saja agar masyarakat tahu kalau mereka menikah

        bagaimana menurut ustad?

        terima kasih

        • Al Lijazy says:

          bismillah, wa’alaikum Salam warahmatullahi wabarokaatuh,
          sepintas tentang ciri-ciri golongan yang sperti anda ceritakan mirip kelompok LDII, jika memang iya maka saran kami untuk tidak meneruskan pernikahannya kecuali dia mau bertaubat dan keluar dari kelompoknya serta berusaha beragama sesuai dengan tuntunan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. sebab dari apa yang kami pelajari tentang kelompok LDII ini ada beberapa aqidah /keyakinan yang kami khawatirkan bisa mengeluarkan pelakunya dari islam. kami sarankan untuk bersabar saja dengan tetap mencari penggantinya jika dia tidak mau bertaubat. in syaa Allah masih banyak yang lain yang lebih baik kalo kita mau ikhtiyar dan sabar dalam mencari. semoga anda dimudahkan in syaa Allah. allahua’lam

  • Dhila says:

    Assalamualaikum…
    Saya punya seorang teman yang usianya 19 thun teman sya ini wanita,dy sudah siap untuk mnikah tapi ortunya blm mengizinkan karna alasan bahwa dy adalah anak yang besar krna tmn saya ini msih kuliah ortu nya menyuruh dy untuk tetap kuliah,pertanyaan saya apa hukumnya jika ortu melarang dy untuk mnikah karna alasan seperti itu ?,
    Padahal teman saya sudah siap menikah dan juga karna tkut mlkukan perbuatan yg tdk d sukai oleh allah, karna tmn saya sudah menjalin hubungan slama 2 thn,terima kasih
    Wasalam..

    • Al Lijazy says:

      W’alaikum salaam warahmatullah, Wa’alaikum salam warahmtullaah,hendaknya teman anda bersabar mnghadapi masalah yang dia hadapi. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri dari melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala dan tetap untuk menjaga keta’atan kepadaNya,yakni dengan menghentikan hubungan dengan laki-laki yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan syari’at. Masalah hambatan restu dari wali merupakan satu perkara yang memang harus dibicarakan dengan serius dengan mengedepankan nasehat yg bijak dari al Quran dan as Sunnah.
      Dan hendaknya ortu tidak menjadikn syarat-syarat dan kriteria diluar ketentuan syar’i,Menurut kami berdasarkan apa yang telah ukhti ceritakan, sebenarnya masalah kuliah belum selesai bukan termasuk halangan yang syar’i untuk menikah.artinya jika memang kedua calonnya sudah memenuhi syarat-syarat untuk menikah sesuai syari’at, apalagi jika tidak disegerakan menikah khawatir akan terjadi perbuatan dosa, maka keduanya sudah wajib dinikahkan.
      kami rasa mungkin perlu juga dicarikan pihak ketiga agar menjadi penengah, namun diupayakan penengahnya tersebut orang yang berilmu syar’I dan termasuk orang yang di segani ortu. Misalkan seorang ustadz atau kerabat yang diutamakan paham tentang ilmu syar’I erutama tentang seluk beluk fiqh pernikahan sesuai syari’at. Kami hanya bisa bantu do’a Semoga dimudahkan urusannya.

  • dian says:

    Assalamualaikum ustad, saya punya sepupu dia telah berbuat zina dgn seorang laki laki dan kini anaknya sudah berusia 3tahun. Dari awal kehamilan sampai kini anaknya besar orgtuanya tidak mau menikahkan nya dengan laki laki itu karna alasan harta , padahal laki laki tsb mau bertanggung jawab.akhirnya si anak tadi dirawat oleh orgtua sepupu saya ini dengan alasan anak angkat dan spupu saya ini tidak boleh mengakui anak tsb sebagai ananknya melainkan sebagai adik. Karna orgtuanya malu.namun sepupu saya kerap kali mendapat pukulan hinaan bahkan ancaman dr orgtuanya ketika ia memberontak. Saya sangat kasihan dgn sepupu saya ustad.ia terlihat tertekan dan wajahnya sering terluka. Orgtuanya ingin ia menikah dgn laki laki lain dan menutupi aibnya dan anaknya. Sementara sepupu saya ingin menikah dgn laki laki yg dulu pnah berzina dgnnya dan merawat si anak tadi bersama sama dan bertaubat . laki laki ini dahulu memang org yg tak baik ustad namun semenjak ia punya anak ia sudah bertaubat dan mulai sholat.tapi karna orgtua nya yg keras sepupu saya takut melawan orgtuanya karna takut durhaka. Orgtua sepupu saya ini org yg lalai dari agama ustad mereka tidak pernah sholat dan tak pernah mendidik ajaran agama pada anaknya .pernah suatu hari sepupu sayabercerita bahwa ia tidak akan dikuliahkan jika ia masih menggunakan jilbab.kebetulan sepupu saya ini sedang kuliah ustd. Yg mau saya tanyakan apakah salah jika ia melawan orgtuanya dlm keadaan seperti ini ustad ? Bagaimana caranya agar orgtuanya mau menerima keadaan sepupu saya ini dgn tdk lagi memukulinya dan menikahkannya? Apakah karma itu ada ustad sebab dulu orgtuanya mengalami hal yg sama seperti anaknya.apakah sepupu saya lebih baik menuruti orgtuanya untuk tidak menikah dgn laki laki itu walaupun si laki laki ini sudah bertaubat ?mohon bantuan nya ustadMudah mudahan dia ngerti keadaanmu skrg

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, melihat kasus yang anda ceritakan dengan sikap keras orang tuanya, mungkin sepupu anda hendaknya memilih bersabar dengan berbicara baik-baik dengan orang tuanya dan mencoba berusaha memahami dan mengikuti keinginan orang tuanya selama hal itu tidak bertentangan dengan syari’at, bertentangan dengan syari’at misalkan jika harus melepas hijab, ini tetap tidak boleh di turuti karena perintah Allah untuk berhijab mutlak harus di dahulukan atas kehendak siapapun.Masalah jodoh dari orang tua kita tunggu aja seperti apa, kalau memang baik dan sesuai syar’I in syaa Allah tidak ada salahnya menurutinya demi kemashlahatan sepupu anda kedepannya, sebab bagaimanapun ridho orang tua akan memberikan dampak ketenangan dan kebahagiaan bagi kita, sebaliknya tidak ridhonya orang tua biasanya akan berdampak ketidak tenangan dan kesulitan bagi kita, satu lagi yang perlu kita fahami bahwa orang tua pasti menginginkan jodoh terbaik buat anaknya, jadi bersabar aja dan ditunggu jodohnya, tentunya sambil berdo’a dan bertaubat kepada Allah Ta’ala dengan taubat nasuha atas perbuatannya yang terdahulu. Kami hanya membantu do’a semoga segalanya dimudahkan dan ada jalan keluar terbaik serta penuh barokah in syaa Allah.
      Tentang karma itu tidak ada dalam islam, yang ada adalah “al jazaa’ min jinsil ‘amal” yaitu,” balasan akan didapatkan sesuai dengan perbuatannya.”dan semua itu tentunya tergantung dengan kehendak Allah Ta’ala. Allahua’lam

  • Sangaji says:

    Asalamualaikum. Saya lelaki berumur 22 tahun. Gini pak ustadz, saya memiliki pacar yg seumuran dengan saya. Singkat cerita dia sudah ingin di nikahi. Awalnya saya sudah siap lahir batin bahkan sangat yakin mampu menafkahi istri saya nantinya. Tapi saat saya berbicara dengan orang tua saya, mereka berpendapat bahwa saya belum siap lahir batin. Menurut mereka saya masih blm mampu menafkahi calon istri saya. Menurut mereka pekerjaan saya blm bisa ditetapkan sebagai pekerjaan tetap. Ditambah dengan adat dari suku saya, yang harus mewajibkan uang tebusan ke orangtua wanita. Uang tersebut di luar mahar. Dari situ, akhirnya keraguan saya muncul, saya jadi takut. Saya takut tdk mampu menafkahi istri saya. Tapi disisi lain saya sudah sangat ingin menikah, saya juga sangat takut dengan zina. Saya takut tdk dapat menahannya, tapi disisi lain saya takut tdk bisa menafkahi istri saya. Ini hukumnya bagaimana pak ustad? Bagaimana saya menyikapinya?

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullahi wabarokaatuh
      Jika sudah terpenuhi syarat-syarat menikah hendaknya anda segera menikah, apalagi sudah ada penghasilan tetap ditambah keinginan kuat untuk menikah maka sebaiknya jangan ditunda-tunda lagi. Jangan kawatir untuk nantinya tidak mampu menafkahi. Janji Allah Ta’aala akan mencukupinya seperti dalam firmanNya :
      Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

      وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ

      “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya…” [An-Nuur/24: 32].
      Dan Rasulullah bersabda:

      ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُمْ: اَلْمُكَـاتَبُ الَّذِي يُرِيْدُ اْلأَدَاءَ، وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيْدُ الْعَفَافَ، وَالْمُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

      “Ada tiga golongan yang pasti akan ditolong oleh Allah; seorang budak yang ingin menebus dirinya dengan mencicil kepada tuannya, orang yang menikah karena ingin memelihara kesucian, dan pejuang di jalan Allah.”[ HR. At-Tirmidzi (no. 1352) kitab an-Nikaah, Ibnu Majah (no. 1512) dan di-hasankan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Misykaah (no. 3089), Shahiih an-Nasa-i (no. 3017), dan Shahiihul Jaami’ (no. 3050).]

      Masalah uang tebusan yang terlalu berat buat anda mungkin masih bisa dibicarakan secara kekeluargaan dengan minta keringanan,baik nilainya ataupun teknis penyerahannya atau bahkan jika mungkin minta dihapuskan dengan tanpa adanya uang tebusan, mengingat uang tebusan diluar mahar tidak pernah dikenal di zaman Nabi kita.dan tentunya perbuatan yang sangat memberatkan bagi yang ingin menikah.

      Tapi jika anda benar-benar berat untuk menikah maka kami anjurkan untuk banyak berpuasa demi menjaga syahwat agar tetap terkendali. Seperti beliau bersabda:

      يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَـرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَـرْجِ. وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

      “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; sebab puasa dapat menekan syahwatnya.”[ HR. Al-Bukhari (no. 5066) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 1402) kitab an-Nikaah, dan at-Tirmidzi (no. 1087) kitab an-Nikaah.]

      Sebagai tambahan nasehat tentang kondisi anda saat ini hendaknya anda bersabar mnghadapi masalah yang dia hadapi. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri dari melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala dan tetap untuk menjaga keta’atan kepadaNya,yakni dengan menghentikan hubungan dengan wanita yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan syari’at. Baarokallahu fiikum. Allahua’lam

  • Khadijh says:

    assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakaatuh. ustadz saya khadijh saya 19 tahun. saya adalah seorang mahasiswa baru, tetapi saya sudah menemukan seseorang yang hendak meminang saya. beliau sedang berusaha untuk mengumpulkan rezeki untuk mahar. padahal saya tidak minta mahar yang banyak cukup semampunya beliau saja.dan Alhamdulillah beliau adalah seorang hafizallah. pertanyaannya jika saya meminta mahar yang berupa hafalan beliau 30 juz apa hukumnya?dan bagaimana tata cara melaksanakannya? dan bagaimana cara meyakinkan orangtua agar diizinkan? terima kasih wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakaatuh

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullahi wabarokaatuh
      Tentang pertanyaan anda mengenai mahar, Yang perlu dipahami sebelumnya yaitu, mahar adalah hak istri. Allah mewajibkan bagi pria yang ingin menikah untuk memenuhi mahar nikah. Allah Ta’ala berfirman,
      وَآَتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً
      “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” (QS. An Nisa’: 4).
      Kemudian anjuran syari’at untuk memudahkan mahar, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

      إِنَّ مِنْ يَمْنِ الْمَرْأَةِ تَيْسِيْرُ صَدَاقُهَا وَتَيْسِيْرُ رَحِمُهَا.

      “Di antara kebaikan wanita ialah memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya.”[ HR. Ahmad (no. 23957), al-Hakim (II/181), ia menshahihkannya dan menilainya sesuai dengan kriteria al-Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak mengeluar-kannya serta disetujui oleh adz-Dzahabi, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ (II/251)]
      Dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

      إِنَّ أَعْظَمَ النَّكَـاحِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُ مُؤْنَةً.

      “Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.”[ HR. Ahmad (no. 24595).]
      Tentang permintaan anda terhadap calon suaminya mahar hafalan beliau 30 juz,kalau yang dimaksud adalah membacakan semua 30 juz kami rasa itu agak sedikit memberatkan. Selain beliau harus muroja’ah dulu dengan baik juga saat menunaikannya baik ketika akad atau setelahnya akan memakan waktu yang sangat lama, sebab beliau harus menyetorkan hafalannya 30 juz didepan wali yang menikahkan. Tentunya baik mempelainya dan hadirin disitu harus menunggu beliau hingga selesai membaca 30 juz dengan sempurna. Dan itu bisa mnghabiskan waktu seharian.
      Mungkin sebaiknya seperti saran para ulama’ yang kami dapatkan keterangannya mintalah mahar salah satu surat atau beberapa ayat yang beliau hafal, karena hal itu in syaa Allah akan memudahkan bagi mempelai dan selainnya.

      Dalil tentang bolehnya mahar dengan hafalan al Qur’an adalah Hadis dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang wanita yang menawarkan untuk dinikahi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun beliau tidak tertarik dengannya. Hingga ada salah seorang lelaki yang hadir dalam majelis tersebut meminta agar beliau menikahkannya dengan wanita tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,
      هَلْ عِنْدَكَ مِنْ شَيْءٍ؟ قَالَ: لاَ وَاللهِ، يَا رَسُوْلَ اللهِ. فَقالَ: اذْهَبْ إِلَى أَهْلِكَ، فَانْظُرْ هَلْ تَجِدُ شَيْئًا. فَذَهَبَ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ: لاَ وَاللهِ، مَا وَجَدْتُ شَيْئًا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ : انْظُرْ وَلَوْ خَاتَماً مِنْ حَدِيْدٍ. فَذَهَبَ ثُمَّ رَجَعَ، فَقَالَ: لاَ وَاللهِ، يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَلاَ خَاتَماً مِنْ حَدِيْدٍ، وَلَكِنْ هَذَا إِزَارِي فَلَهَا نِصْفُهُ. فَقاَلَ رَسُوْلُ اللهِ : مَا تَصْنَعُ بِإِزَارِكَ، إِنْ لَبِسْتَهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهَا مِنْهُ شَيْءٌ، وَإِنْ لَبِسَتْهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْكَ مِنْهُ شَيْءٌ. فَجَلَسَ الرَّجُلُ حَتَّى إِذَا طَالَ مَجْلِسَهُ قَامَ، فَرَآهُ رَسُوْلُ للهِ مُوَالِيًا فَأَمَرَ بِهِ فَدُعِيَ، فَلَمَّا جَاءَ قَالَ: مَاذَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ؟ قال: مَعِيْ سُوْرَةُ كَذَا وَسُوْرَة كَذَا –عَدَّدَهَا- فَقاَلَ: تَقْرَؤُهُنَّ عَنْ ظَهْرِ قَلْبِكَ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: اذْهَبْ، فَقَدْ مَلَّكْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ
      “Apakah engkau punya sesuatu untuk dijadikan mahar?”
      “Tidak demi Allah, wahai Rasulullah,” jawabnya.
      “Pergilah ke keluargamu, lihatlah mungkin engkau mendapatkan sesuatu,” pinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
      Laki-laki itu pun pergi, tak berapa lama ia kembali, “Demi Allah, saya tidak mendapatkan sesuatu pun,” ujarnya.
      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Carilah walaupun hanya berupa cincin besi.”
      Laki-laki itu pergi lagi kemudian tak berapa lama ia kembali, “Demi Allah, wahai Rasulullah! Saya tidak mendapatkan walaupun cincin dari besi, tapi ini sarung saya, setengahnya untuk wanita ini.”
      “Apa yang dapat kau perbuat dengan izarmu? Jika engkau memakainya berarti wanita ini tidak mendapat sarung itu. Dan jika dia memakainya berarti kamu tidak memakai sarung itu.”
      Laki-laki itu pun duduk hingga tatkala telah lama duduknya, ia bangkit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya berbalik pergi, maka beliau memerintahkan seseorang untuk memanggil laki-laki tersebut.
      Ketika ia telah ada di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bertanya, “Apa yang kau hafal dari Al-Qur`an?”
      “Saya hafal surah ini dan surah itu,” jawabnya.
      “Benar-benar engkau menghafalnya di dalam hatimu?” tegas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
      “Iya,” jawabnya.
      “Bila demikian, baiklah, sungguh aku telah menikahkan engkau dengan wanita ini dengan mahar berupa surah-surah Al-Qur`an yang engkau hafal,” kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 5087 dan Muslim no. 1425)

      Para Ulama’ juga menjelaskan bahwa Lebih baik mahar dengan hafalan Al Qur’an bukan sekedar dibacakan atau disetorkan. Namun bagusnya adalah diajarkan. Sebagaimana Imam Nawawi menyimpulkan hadits Sahl bin Sa’ad diatas dengan menyatakan bahwa mahar itu baiknya berupa pengajaran Al Qur’an. Beliau berkata,
      وَفِي هَذَا الْحَدِيث دَلِيل لِجَوَازِ كَوْن الصَّدَاق تَعْلِيم الْقُرْآن
      “Di dalam hadits terdapat dalil akan bolehnya mahar berupa pengajaran Al Qur’an.” (Syarh Shahih Muslim, 9: 192)
      Sedangkan Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia lebih cendurung memahami hadits Sahl bin Sa’ad untuk mahar berupa pengajaran Al Qur’an dibolehkan jika tidak didapati mahar berupa harta. Pengajaran Al Qur’an itu termasuk jasa yang diberikan sebagai mahar. Dalam Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia disebutkan,
      يَصِحُّ أَنْ يَجْعَلَ تَعْلِيْمَ المرْأَةِ شَيْئًا مِنَ القُرَآنِ مَهْرًا لَهَا عِنْدَ العَقْدِ عَلَيْهَا إِذَا لَمْ يَجِدْ مَالاً
      “Boleh menjadikan pengajaran Al Qur’an pada wanita sebagai mahar ketika akad saat tidak mendapatkan harta sebagai mahar.” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah no. 6029, 19: 35).
      Jadi kesimpulan kami,Yang lebih baik, mahar berupa pengajaran Al Qur’an pada istri atau pengajaran hafalan Al Qur’an padanya, bukan sekedar menyetorkan hafalan. Namun itu dilakukan ketika jelas tidak punya harta sebagai mahar. Wallahu a’lam.

  • dian says:

    Assalamualaikum ustad , saya mau bertanya lagi jika sepupu saya mengikuti perintah orgtuanya untuk menikah dgn laki laki lain. Lalu bagaimana dengan anak kandungnya ustad ?apakah ia harus tetap berpura pura mengaggap anaknya senagai adik ?bagaimana pertanggung jawaban terhadap si anak nanti di akhirat ustad ?

    • Al Lijazy says:

      bismillah, tolong sampaikan salam saya ke orang tuanya bahwa anak itu adalah amanah dan titipan dari Allah Ta’ala yang harus kita jaga, kita didik sebaik mungkin. dan kepura-puraan dengan menganggap adik tersebut tetap tidak dapat merubah status ibunya yang wajib untuk bertanggung jawab terhadapnya dan tetap akan dimintai pertanggung jawaban kelak di akhirat,dan juga tidak dapat merubah status birrul walidain anak itu terhadap ibu kandungnya.tolong sampaikan ke orang tuanya sebaiknya hentikan saja sandiwara ini. berlapang dadalah dalam menerima kenyataan dan taqdir Allah,dan tetap menerima segala resiko dengan sabar dan qona’ah, semoga dengannya Allah akan mengampuni kita dan menjadikan jalan terbaik bagi semuanya. baarokallahu fiikum

  • Putri says:

    Assalamualaikum,
    Pa ustadz, orang tua saya ingin saya menikah dengan PNS tetapi saya sudah punya pilihan sendiri hanya saja orang tua saya tidak suka karena kurang tampan, tidak ada masa depan hanya karena bekerja d toko tetapi saat saya akan wisuda saya di biayai oleh lelaki pilihan saya, kami sudah berjalan 4 tahun tetapi selama dia ke rumah tidak pernah d sambut baik oleh orang tua saya terutama ibu saya, terakhir saat calon saya ke rumah akan bersalaman dengan ibu saya tangan nya di hempas pa ustadz, sampai-sampai calon saya menjadi terdiam,dan mamah saya menarik saya kedalam kamar hingga saya jatuh dan menampar saya,mereka melarang saya bertemu dengan calon saya, lantas bagaimana pa ustadz atas sikap orang tua saya itu? Apakah saya harus menikah dengan wali hakim atau bagaimana? Karena orang tua saya hanya melihat calon saya dari tampilan, bukan dari kebaikannya,orang tua saya takut kalau saya menikah dengan dia saya kekurangan uang,bahkan orang tua saya pernah bilang kalau kamu menikah dengan dia saya harus melunasi semua hutang orang tua saya, bagaimana pa ustadz

    • Al Lijazy says:

      maaf, dari pertanyaan anda, kami belum bisa mwemahami bagaimana keadaan calon anda tersebut dari sisi agama dan ibadahnya. maksud kami apa dia sudah layak anda perjuangkan yang resikonya akan terjadi kerenggangan hubungan anda dengan ortu anda, namun jika calon anda seorang laki-laki yang biasa-biasa aja, artinya tidak ada yang bisa dibanggakan dari ilmu agama dan ibadahnya maka kami sarankan anda ikuti aja saran orang tua anda, mungkin kedepannya akan lebih baik in syaa Allah seiring dengan ridho ortu ANDA. Allahua’lam

  • Putri says:

    Kalau dari agamanya ibadahnya rajin pa ustadz, sering mengingatkan saya jg utk selalu mengingat alloh, menghormati orang tua, dia selalu memberikan dampak positif pa ustadz

    • Al Lijazy says:

      kami sarankan anda untuk sholat istikhoroh saja, mohon petunjuk dan kemudahan kepada Allah, pasti nanti Allah akan kasih jawaban bagi anda dan akan menentukan dengan sendirinya anda akan melangkah kemana. semoga anda dimudahkan in Syaa Allah.

  • dian says:

    Terimakasih ustad , atas sarannya dan nasihatnya

  • S.Amalia.l says:

    Assalamu’alaikum wr.wb ustadz..
    saya berusia 20 thn,dan calon saya berusia 24 thn..
    Saya bekerja di sebuah RS n saya hanya lulusan SMK,dan calon saya bekerja di sbuah Pabrik Teknik Mesin n sdg mnjalankam tugas akhir(skripsi)n In Shaa ALLAH akan wisuda Agustus 2016 nanty..

    Ortu sudah saling ketemu,tp bkn tuk melamar,hny tuk brsilaturohmi…
    Disini bpk saya meminta kepada saya tuk tdk menikah dulu,sblum aku kulyah,.n calonKu di suruh nunggu slama 4 thn…
    Disini jujur saja,aku n calonKu agak keberatan,soalnya penantian slma 4 thn itu sangatlah lama,n kami pengen sekali menikah,.kami sudah membicarakan berdua,bahwa kami siap dg sgla resiko,toh,ALLAH menjamin kehidupan bagi hambaNYA yg taat,,sumpah aku ingin menikah bukan krn mnuruti nafsu belaka,krn bagiKu ini adl.solusi utama tuk aku bisa lbih taat kepada ALLAH n dg mudah mncari Pahala… daripada kami spt ini,mnjalin hub.sdgkn kami takut dosa.. tp jika aku bralasan spt ini ke ortu di takutkan klo aku so’2an,hny mnuruti ambisi..
    Tp itu lagi alasannya,aku disuruh kulyah dulu,jujur aku pun males… tp ndak tau bagaimana mengutarakannya ke ortu…kami masih belum cukup tekad tuk melontarkannya 🙁

    Kami hny bisa saling menguatkan,mmbrikan support,hny bisa PASRAH..semua terserah ALLAH..

    Mohon pencerahannya ustadz 🙂

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,W’alaikum salaam warahmatullah, Wa’alaikum salam warahmatullaahi wabarokaatuh,nasehat kami,hendaknya anda bersabar mnghadapi masalah yang anda hadapi. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri dari melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala dan tetap untuk menjaga keta’atan kepadaNya,yakni diantaranya dengan menghentikan dahulu hubungan dengan laki-laki yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan syari’at. Masalah hambatan restu dari wali merupakan satu perkara yang memang harus dibicarakan dengan serius dengan mengedepankan nasehat yg bijak dari al Quran dan as Sunnah.
      Kalau anda sudah berusaha menjelaskan kepada ortu anda tentang keinginan dan tujuan anda menikah dan belum juga mendapatkan restu mungkin kami rasa mungkin perlu juga dicarikan pihak ketiga agar menjadi penengah, namun diupayakan penengahnya tersebut orang yang berilmu syar’I dan termasuk orang yang di segani ortu. Misalkan seorang ustadz atau kerabat yang diutamakan paham tentang ilmu syar’I erutama tentang seluk beluk fiqh pernikahan sesuai syari’at.
      Jangan lupa juga anda sertai berdo’a memohon kepada Allah Ta’ala untuk kemudahan urusan anda. Hanya Allah Ta’ala yang bisa memudahkan segala urusan. Jadi terus berdo’a dan ikhtiyar, semoga nanti ada jalan terbaik buat anda in syaa Allah.

  • yass says:

    Assalamu’alaikum wr.Wb….Ustadz……saya berusia 25 th,dan calon saya 27 th.Saya dan dy sudah berni at menikah untuk menyempurnakan sunnah.kluarga pria juga sudah pernah datang untuk melamar.Tapi bapak saya melarang dengan alasan kasian kakak pertama saya pria belum menikah tapi sudah dilangkah menikah dua kali oleh kakak2 wanita saya.saya disuruh menunggu sampai kakak saya menikah.sudah hampir 2 th saya sabar menunggu,tapi kakak saya belum juga menemukan jodohnya.mohon pencerahannya pak ustadz saya dan calon suami harus bagaimana.Terima kasih,Jazzakumullah katshiron.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullahi wabarokaatuh,kalau memang sudah siap menikah dan sudah terpenuhi syarat-syaratnya maka segerakan saja pernikahannya. Sebab perintah Rasulullah adalah menyegerakan nikah bagi yang sudah mampu seperti dalam sabda beliau
      يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ منكم الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
      “Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang sudah mampu menanggung nafkah, hendaknya dia menikah. Karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sementara siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa. Karena itu bisa menjadi tameng syahwat baginya.” (HR. Bukhari 5065 dan Muslim 1400).
      Tentang adat-istiadat yang melarang melangkahi saudara tua, menjaga perasaan saudara tua, menghindari mitos tidak baik perempuan dilangkah, menjaga pandangan orang terhadap kakak perempuan atau laki-lakinya yang dilangkah, dst.. maka semuanya bukanlah alasan-alasan syar’i yang bisa membuat pernikahan ditunda. Ketentuan-ketentuan tersebut bukanlah hukum islam dan seorang muslim hanya wajib terikat dengan hukum Allah saja, tidak ada yang lain. Allah berfirman;
      وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
      Dan hendaklah kkalian memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Al-Maidah; 49)
      Masalah hambatan restu dari wali merupakan satu perkara yang memang harus dibicarakan dengan serius dengan mengedepankan nasehat yg bijak dari al Quran dan as Sunnah.
      Kalau anda sudah berusaha menjelaskan kepada ortu anda tentang keinginan dan tujuan anda menikah dan belum juga mendapatkan restu mungkin kami rasa mungkin perlu juga dicarikan pihak ketiga agar menjadi penengah, namun diupayakan penengahnya tersebut orang yang berilmu syar’I dan termasuk orang yang di segani ortu. Misalkan seorang ustadz atau kerabat yang diutamakan paham tentang ilmu syar’I erutama tentang seluk beluk fiqh pernikahan sesuai syari’at.
      Jangan lupa juga anda sertai berdo’a memohon kepada Allah Ta’ala untuk kemudahan urusan anda. Hanya Allah Ta’ala yang bisa memudahkan segala urusan. Jadi terus berdo’a dan ikhtiyar, semoga nanti ada jalan terbaik buat anda in syaa Allah.

  • Yuli says:

    Assalamualaikum ustadz.
    Saya berumur 24thn non muslim keturunan chinese,calon berumur 29 thn suku jawa muslim. Sy dan calon telah berniat menikah, sebelumnya sy akan mengikuti agama calon suami(tanpa paksaan tentunya). Calon suami dan keluarganya sangat taat agama. Mereka sdh pernah melamar tp di tolak oleh org tua sy krn alasan suku dan agama, dan 6 bln setelahnya hingga saat ini belum jg direstui org tua sy dan keluarga besar sy. Apa kami bisa menikah hanya dgn restu org tua pihak laki-laki yg muslim sj? Namun siapa wali nikah sy yg nantinya sy sdh islam namun org tua sy non muslim? Trimakasih

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, sebelumnya kami bersyukur kepada Allah Ta’ala atas niat anda yang ingin memeluk islam dengan ikhlas tanpa paksaan siapapun.semoga Allah akan memberikan istiqomah nantinya kepada anda dan memberkahi kehidupan anda nantinya dalam islam. Tentang rencana menikah anda dengan seorang muslim jika nantinya tidak ada mudharat yang berarti buat anda sebaiknya rencana itu tetap diusahakan terlaksana. Dan masalah wali anda Maka seorang non muslim ahli kitab (yahudi atau nasrani) sebenarnya boleh menjadi wali nikah, asalkan anak gadisnya yang akan dinikahkan itu beragama yahudi atau nasrani.
      Namun bila anak gadis itu sudah masuk Islam, maka ayahnya yang masih non muslim tidak boleh menjadi wali nikahnya. Solusinya Harus dicarikan wali yang lain dari keluarganya terlebih dahulu, yang tentunya masih ada rentetan hubungan perwalian. Daftar mereka yang bisa menjadi wali secara berurutan menurut penjelasanSyeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah adalah:
      1. Bapak dan silsilah keluarga diatasnya, mencakup ayah, kakek dari bapak dan seterusnya ke atas.
      2. Anak dan seterusnya ke bawah.
      3. Saudara laki-laki.
      4. Paman dari pihak bapak.
      5. Wala’ (orang yang membebaskan dirinya dari perbudakan atau mantan tuan).
      Bila dari daftar orang-orang di atas tidak terdapat juga yang beragama Islam, maka yang berhak menjadi wali anda adalah pemerintah yang sah(dalam hal ini bisa KUA yang menjadi wali anda). Allahua’lam. semoga Allah Ta’ala memudahkan urusan anda nantinya.

  • fysl says:

    Assalamu’alaikum ustad.
    Umur saya 25 tahun dan calon istri saya umur 20 tahun. Kami sudah berpacarn 3tahun. tpi seminggu yg lalu ada yg ingin datang kerumahnya ingin meminang nya. Org tua calon istri sya, mnyuruh memikirkan nya dgn matang2. Krena sya hnya seorang pengusaha kecil yg tdk pnya penghasilan tetap. Sdang kan yg ingin meminang nya, adalah seorang pegawai. Alsan org tua nya, krena clon istri saya mengidap penyakit asma. Obatnya mahal dan hrus berobat rutin. Org tua nya tidak ingin anknya susah krena pnyakit itu. Klo dgn pegawai itu, berobat bisa di biayai kantor. Tapi calon istri sya tdk suka dan tdk mau dgn dia.
    Bgaimana itu menurut ustad?

    • Al Lijazy says:

      bismillah,sebaiknya calon anda istikhoroh dengan sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala, kami yakin jika dia sungguh-sungguh meminta pilihan suami terbaik baginya, in syaa Allah nanti akan di dekatkan kepada jodohnya yang sebenarnya. Allahua’lam

  • j.suleman says:

    assalaamu’alaykum ustad.
    usia saya saat ini 36 tahun dan calon istri berusia 20 tahun kami menjalani pendekatan sudah berjalan 4 bulan dan sama sama berkomitmen untuk melangsungkan pernikahan setelah idul fitri tahun ini ,dan sekitar 3 mingguan yang lalu saya menghadap ke orang tuanya untuk meminta izin dan restu ,tetapi saat itu bapak nya belum memberikan jawaban ,hingga semalam calon saya mengkhabarkan jika bapak nya tidak setuju dengan niat kami yang ingin melangsungkan pernikahan dengan alasan usia kami yang berselisih jauh,sedangkan calon saya tidak mempermasalahkan usia diantara kami ,bagaimana yang harus kami lakukan ustad,sebab calon saya juga sangat berharap kami bisa menikah !!!!!!!disisi lain dia takut durhaka jika tidak mengikuti perintah orang tuanya. jazakallahu khaer wabarakallahu fiik wa ‘awwadhaka khaeran

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      sebenarnya keterpautan umur calon sepasang suami istri itu bukanlah satu hal yang bisa dijadikan sebab yang dapat menghalangi pernikahan. Sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri menikah dengan Aisyah Radhiallahu ‘anha dengan terpaut usia yang sangat jauh,untuk itu, Jika agamanya sudah baik, serta mampu secara lahir dan batin in syaa Allah sudah cukup sebagai alasan untuk segera dinikahkan.
      Namun jika kenyataannya pihak ortu tidak merestuinya jangan putus asa dulu, kalau memang niat anda menikah karena Allah Ta’ala dan untuk beribadah, Kami sarankan anda sebaiknya meminta bantuan pihak ketiga agar menjadi penengah, namun diupayakan penengahnya tersebut orang yang berilmu syar’i dan termasuk orang yang di segani ortunya. Misalkan seorang ustadz atau kerabat yang diutamakan paham tentang ilmu syar’i terutama tentang fiqh pernikahan yang sesuai syari’at. Dan tambah baik jika calon istri anda juga ikut berusaha meyakinkan ortunya bahwa anda adalah calon suami yang terbaik buat dia,tentunya setelah meminta petunjuk atau istikhoroh kepada Allah Ta’ala.Semoga dengan cara ini ortunya akan luluh hatinya dan menerima anda. Dan sebagai tambahan nasehat buat anda Tentang masalah yang anda hadapi hendaknya anda bersabar mnghadapi masalah yang anda hadapi. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri untuk tidak melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala dan tetap untuk menjaga kea’atan kepadaNya, yakni dengan menghentikan hubungan dengan wanita yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan syari’at. Allahua’lam bish shawab Wa fiikal barokah in syaa Allah.

  • no name says:

    Assalamualaikum
    saya mau bertanya ust
    saya sudah siap menikah dan calon saya sudah menargetkan untuk menikah tahun depan, kami memutuskan untuk menikah cepat karena ingin menghindari fitnah dan dosa, tapi orgtua saya melarang saya untuk menikah muda dgn alasan “apakah tidak ingin membahagiakan orgtua dulu?”
    Apa yg harus saya lakukan ust?
    mohon sarannya
    terima kasih

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Jika keadaannya seperti itu, mungkin baiknya anda tetap berusaha lagi untuk meyakinkan ortu anda bahwa anda saat ini sudah benar-benar siap menikah lahir maupun batin, tentunya setelah meminta petunjuk Allah Ta’ala dengan istikhoroh. Masalah membahagiakan kedua orang tua memang hal yang sudah sepatutnya dilakukan seorang anak terhadap orang tuanya,namun kebahagiaan apa yang mereka inginkan ini harus di rinci. Jika kebahagiaan yang mereka inginkan menuntut kita untuk berbuat maksiat kepada Allah Ta’ala maka kita tidak bisa memenuhinya, sebab tidak ada keta’atan kepada makhluq siapapun untuk bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Perintah Allah Ta’ala harus di dahulukan dari segala-galanya. Misalkan kebahagiaan mereka dengan melarang pernikahan anaknya, padahal secara syar’i anaknya sudah mampu menikah dan jika tidak menikah terjatuh kedalam perbuatan dosa, maka menikah hukumnya wajib baginya dan dalam hal ini orang tuanya harus mengalah.
      Namun jika kenyataannya pihak ortu tetap tidak merestuinya jangan putus asa dulu, kalau memang niat anda menikah karena Allah Ta’ala dan untuk beribadah, Kami sarankan anda sebaiknya meminta bantuan pihak ketiga agar menjadi penengah, namun diupayakan penengahnya tersebut orang yang berilmu syar’i dan termasuk orang yang di segani ortunya. Misalkan seorang ustadz atau kerabat yang diutamakan paham tentang ilmu syar’i terutama tentang fiqh pernikahan yang sesuai syari’at..Semoga dengan cara ini ortu anda akan luluh hatinya dan merestui anda menikah. Dan sebagai tambahan nasehat buat anda Tentang masalah yang anda hadapi hendaknya anda bersabar mnghadapi masalah yang anda hadapi. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri untuk tidak melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala dan tetap untuk menjaga kea’atan kepadaNya, yakni dengan menghentikan hubungan dengan pasangan yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan syari’at. Allahua’lam bish shawab Wa fiikal barokah in syaa Allah.

  • Farhah says:

    Assalamu’alaikum ..
    Sya Farhah, umur sya 22th dan pacar sya 25th.
    Sya mau bertnya pak ustad.
    Bagaimana jika orgtua yg hanya memikirkan ego nya sendiri untuk menikahkan anaknya dengan lelaki yg harus unggul materi, pekerjaan, dan latar belakang kluarganya??
    Karena mreka ingin sya menikah dgn lelaki yg HARUS dengan lulusan kuliah, dan harus lengkap orgtuanya. Sedangkan pacar saya dia cuma lulusan SMA dan skrg kerja di salah satu pabrik dijakarta, dan kebetulan orgtuanya sudah meninggal.
    Sampai saat ini orgtua sya tidak menyetujui hubungan kami, dan pd akhirnya sya berbohong kpada mreka jika mereka brtnya :”masih sm dia?” Sya menjawab :”ngga” .. karena rasa takut sya sm mreka. Tetapi sya sngat mencintai pacar saya, dan kami juga sudah berniat untuk menikah tahun depan dengan kerjasama kami. Karena menurut kami materi bisa dicari berdua jika kami sudah hidup berasama nnti. Tetapi orgtua sya terlalu terobsesi sm kekayaan lelaki untuk msa depan sya. Apa salah pak ustad jika sya menikah dengan lelaki yg tidak kuliah dan orgtuanya sudah meninggal?? Dan apa hukumnya jika sya bersihkeras ingin mempertahankan pacar sya hingga pernikahan nnti tiba??
    Terimakasih .
    Wassalam …

    • Al Lijazy says:

      Bismillah. Wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Sebaiknya anda jangan terburu-buru berburuk sangka dahulu terhadap orang tua anda, bagaimanapun mereka adalah orang tua kita yang telah merawat kita hingga kita seperti ini dengan penuh dengan kesabaran dan kasih sayang yang tidak akan pernah anda dapat dari selainnya. Bagaimanapun keadaannya, tidak ada orang tua yang ingin menyengsarakan anaknya, kami rasa semua yang diharapkan orang tua itu demi kebahagiaan sang anak. Namun terkadang caranya ada yang melanggar syari’at karena belum sampainya ilmu padanya, dan ini yang harus kita musyawarahkan. Bicaralah dengan baik dan lembut kepada mereka dengan mengedepankan nasehat dari al Qur’an dan AsSunnah. jangan berbohong, selain berdosa juga nantinya kalau mereka tahu keadaan sebenarnya justru akan semakin menambah kekecewaan bagi mereka.Yakinkan mereka bahwa pilihan anda adalah pilihan terbaik buat anda baik dari sisi dunia dan akhiratnya, tentunya setelah anda istikhoroh meminta petunjuk Allah Ta’ala. Bila perlu carilah pihak ketiga dari kerabat maupun orang yang disegani ortu anda untuk menjadi penengah dan mencarikan solusi terbaik diantara kalian. Dan diutamakan pihak ketiga yang memahami ilmu syar’I agar penyelesaiannya bisa berdasar syari’at. Dan sebagai tambahan nasehat buat anda Tentang masalah yang anda hadapi hendaknya anda bersabar mnghadapi masalah yang anda hadapi. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri untuk tidak melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala dan tetap untuk menjaga kea’atan kepadaNya, yakni dengan menghentikan hubungan dengan pasangan yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan syari’at. Allahua’lam bish shawab .

    • Al Lijazy says:

      Bismillah. Wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Sebaiknya anda jangan terburu-buru berburuk sangka dahulu terhadap orang tua anda, bagaimanapun mereka adalah orang tua kita yang telah merawat kita hingga kita seperti ini dengan penuh dengan kesabaran dan kasih sayang yang tidak akan pernah anda dapat dari selainnya. Bagaimanapun keadaannya, tidak ada orang tua yang ingin menyengsarakan anaknya, kami rasa semua yang diharapkan orang tua itu demi kebahagiaan sang anak. Namun terkadang caranya ada yang melanggar syari’at karena belum sampainya ilmu padanya, dan ini yang harus kita musyawarahkan. Bicaralah dengan baik dan lembut kepada mereka dengan mengedepankan nasehat dari al Qur’an dan AsSunnah.jangan berbohong, selain berdosa juga nantinya kalau mereka tahu keadaan sebenarnya justru akan semakin menambah kekecewaan bagi mereka. Yakinkan mereka bahwa pilihan anda adalah pilihan terbaik buat anda baik dari sisi dunia dan akhiratnya, tentunya setelah anda istikhoroh meminta petunjuk Allah Ta’ala. Bila perlu carilah pihak ketiga dari kerabat maupun orang yang disegani ortu anda untuk menjadi penengah dan mencarikan solusi terbaik diantara kalian. Dan diutamakan pihak ketiga yang memahami ilmu syar’I agar penyelesaiannya bisa berdasar syari’at.
      . Dan sebagai tambahan nasehat buat anda Tentang masalah yang anda hadapi hendaknya anda bersabar mnghadapi masalah yang anda hadapi. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri untuk tidak melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala dan tetap untuk menjaga kea’atan kepadaNya, yakni dengan menghentikan hubungan dengan pasangan yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan syari’at. Allahua’lam bish shawab Wa fiikal barokah in syaa Allah. Allahua’lam

  • romdan says:

    assalamualaikum..
    apa kabar ust lama gk ketemu..
    saya mau konsultasi sama ust tolong jawab pertanyaan saya dengan syariat islam yg benar..
    1. apakah hukumx s’org ibu melarang anak laki2 yg sudah mapan untuk menikah karna alasan mau menikahkn anaknya dengan pilihanx yang sudah diwasiatkn / dengan alasan menunggu saudara2nya yg lebih tua..
    2. apakah boleh seorang anak laki2 tersebut menikah tanpa restu org tuanya??
    mohon penjelasan ust..terimakasih

    • Al Lijazy says:

      bismillah, wa’alaikum salaam warahmatullah, khoiran walhamdulillah
      tanggapan kami atas pertanyaan anda
      pertama: , tolong sampaikan salam dan nasehat kami untuk ibunda anda kalau memang salah satu putra beliau sudah siap menikah dan sudah terpenuhi syarat-syaratnya maka tolong disegerakan saja pernikahannya. Sebab perintah Rasulullah adalah menyegerakan nikah bagi yang sudah mampu seperti dalam sabda beliau
      يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ منكم الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
      “Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang sudah mampu menanggung nafkah, hendaknya dia menikah. Karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sementara siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa. Karena itu bisa menjadi tameng syahwat baginya.” (HR. Bukhari 5065 dan Muslim 1400).
      Jangan sampai beliau menjadi salah satu dari mereka yang termasuk menghalang-halangi hamba Allah untuk menikah dengan calonyang telah menjadi pilihannya sesuai dengan kriteria syar’i. karena itu adalah satu bentuk kezaliman yang diharamkan oleh Islam dan disebut dalam pembahasan fiqh dengan istilah ‘Adhl. Adhl hukumnya haram. Allah berfirman ketika mengharamkan ‘Adhl :
      فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ
      “ Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka menikah lagi dengan calon suaminya apabila telah ada saling ridha di antara mereka dengan cara yang ma’ruf (Al-Baqoroh; 232)
      Tentang adat-istiadat yang melarang melangkahi saudara tua, menjaga perasaan saudara tua, menghindari mitos tidak baik dilangkahi dan melangkahi, menjaga pandangan orang terhadap kakak perempuannya yang dilangkahi, dst.. maka semuanya bukanlah alasan-alasan syar’i yang bisa membuat pernikahan ditunda. Ketentuan-ketentuan tersebut bukanlah hukum islam dan seorang muslim hanya wajib terikat dengan hukum Allah saja, tidak ada yang lain. Allah berfirman;
      وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
      Dan hendaklah kalian memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Al-Maidah; 49)
      Kedua: tentang seorang laki-laki menikah tanpa restu orang tua.
      , seorang laki-laki yang sudah dewasa dan mandiri, ketika menikah dengan seorang wanita pilihan hatinya, dia sama sekali tidak membutuhkan restu dari siapapun.

      Bahkan secara hukum fiqih, pengantin laki-laki juga tidak butuh orang tua untuk duduk sebagai wali dalam akad nikah. Ijab kabul yang dilakukannya cukup dilakukan oleh dirinya sendiri. Karena dalam Nash, wali itu hanya diwajibkan buat perempuan saja.

      dengan demikian,Hal itu berbeda dengan seorang perempuan, dimana dalam urusan ijab kabul dalam akad nikah, justru dia tidak berwenang untuk menjalankannya sendiri. Seorang wanita justru tidak boleh melakukan akad nikah dan ijab kabul sendiri. Karena pada dasarnya Allah Ta’ala memang tidak berikan wewenang itu kepadanya.

      Yang Allah Ta’ala berikan wewenang untuk melakuan ijab kabul atas diri seorang wanita adalah ayah kandungnya yang sah. Dalam hal ini posisi ayah kandung menjadi wali atas anak gadisnya itu. Dan ayah kandung itulah yang nanti melakukan akad ijab dan kabul.

      Jadi sesungguhnya kalau kita cermati, ijab kabul dalam syariat Islam hanya terjadi antara seorang laki-laki dan seorang laki-laki, bukan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan.

      Jadi seandainya Anda ‘nekat’ menikah tanpa restu siapa pun, asalkan semua rukun nikah terpenuhi, maka akad nikah itu secara hukum sudah sah. Dan telah dihalalkan anda dan istri anda menjadi pasangan suami istri dengan segala macam aktifitasnya.
      Namun sekedar nasehat,jika anda melakukannya ada dugaan kuat akan terjadi mudhorot bagi kehidupan anda nantinya,maka saran kami anda harus berusaha lagi untuk melunakkan hati orang tua anda, karena bagaimanapun ridho dari orang tua, akan menambah kebahagiaan anda sekeluarga nantinya. Bila perlu carilah pihak ketiga dari kerabat maupun orang yang disegani ortu anda untuk menjadi penengah dan mencarikan solusi terbaik diantara kalian. Dan diutamakan pihak ketiga yang memahami ilmu syar’i agar penyelesaiannya bisa berdasar syari’at. Allahua’lam bish shawab, semoga Allah Ta’ala memudahkannya.

  • Risha Hardiani says:

    Assalamu’alaikum ustad..
    Usia saya menuju 26tahun, dan pacar saya 25 tahun. alhamdulillah saya mempunyai usaha berjualan, pacar saya sudah bekerja dan mempunyai penghasilan tetap.. Kami sudah berniat ingin menikah tahun ini, keluarga dari pihak pacar saya pun sudah memberi restu, dan menyerahkan semuanya kepada kami berdua.
    Hanya masalahnya ustad, saya belum selesai kuliah. Dan org tua saya bersikeras menginginkan saya menyelesaikan kuliah dulu. Katanya dengan alasan kalau saya menikah sebelum selesai kuliah, itu hal yg mustahil bakalan beres. Bahkan mereka sampai ultimatum, saya ga boleh nikah kalau kuliah ga selesai. Sedangkan sampai detik ini, yang ada di hati dan pikiran saya, hanya menikah. Mengerjakan skripsi pun saya ga bisa konsentrasi. Saya sudah dimarahi berkali2 oleh orgtua saya, sempat diusir dr rumah, dikucilkan oleh mereka dan keluarga besar hanya karna org tua saya malu katanya punya anak belum sarjana. Itu aib buat mereka katanya..
    Pak ustadz, saya harus gmn? Bahkan pacar say di beri peringatan oleh orgtua saya, ga boleh melamar sebelum saya lulus. Sedangkan saya dan pacar saya sudah bertekad bulat ingin menikah karna ibadah, menyempurnakan ibadah kami.. saya harus bgmn pak ustad agar org tua saya mengerti, dan apa boleh saya jelaskan Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin 2/754 ke org tua saya ? Mohon pencerahan nya pak Ustadz, saya benar2 buntu, saya hanya bisa berdoa, ikhtiar dan bisa menangis setiap hari…. terimakasih sebelumnya

    • Al Lijazy says:

      Wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Menurut kami, anda harus mencari waktu dan sikon yang tepat untuk berbicara dan menyentuh hati ortu anda. Tidak ada salahnya anda sampaikan fatwa syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, sebab bagaimanapun nasehat para Ulama’ harus kita sampaikan, sebab kedudukan fatwa ulama’ adalah setelah AlQur’an dan Hadits. Dan jika dalam fatwa tersebut anda dianjurkan melapor ke mahkamah, mungkin sebagai langkah awal anda sepertinya anda tunjuk pihak ketiga dari kerabat dulu atau siapapun yang disegani ortu anda untuk membantu menjembatani anda dan keluarga dan mencari solusi syar’I. baru ketika semua jalan sudah buntu silahkan anda mengikuti fatwa untuk melapor ke pemerintah yang berhak untuk menangani masalah ini.
      . Dan sebagai tambahan nasehat buat anda Tentang masalah yang anda hadapi hendaknya anda bersabar mnghadapi masalah yang anda hadapi. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri untuk tidak melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala dan tetap untuk menjaga kea’atan kepadaNya, yakni dengan menghentikan hubungan dengan pasangan yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan syari’at. Demikian agar Allah Ta’ala akan berkenan memudahkan jalan bagi anda. Allahua’lam bish shawab semoga segera mendapat jalan keluar yang terbaik in syaa Allah.

  • Nur says:

    Assalamualaikum ustad.. saya mau bertanya.. jika wali tidak mau menikahkan karena alasan beda harokah keluarga sy NU Calon sya Muh.. apakah termasuk wali adhl? Mhon penjelasanny ustad

    • Al Lijazy says:

      wa’alaikum Salaaam warahmatullah, jika alasan tidak merestuinya karena calonnya adanya penyimpangan agama yang jelas, dan berdasarkan timbangan Al Qur’an dan Sunnah maka in syaa Allah tidak termasuk ‘adhl, sebab wali melarangnya demi kemashlahatan agama mereka yang dibawah perwaliannya. jadi tolong dimusyawarahkan kembali dan ditanyakan alasan-alasan syar’inya kenapa tidak berkenan menjadi wali nikah. Allahua’lam, semoga cepat mendapatkan jalan keluar terbaik in syaa Allah.

      • Nur says:

        beliau takut jika sy mengikuti ajaran2 Muhamadiyah,, sedangkan calon suami sy tersebut tidak fanatik hanya membenarkan satu harakah,, calon suami sy berpendapat bahwa kita sesama muslim dan sama-sama berpedoman kepada Al Quran dan sunnah.. dia juga bukan pemabuk, pezina,dan lain sebagainya yg insyaallah tidak termasuk perbuatan fasiq, sedangkan kami sudah sangat ingin menikah, dan takut berbuat dosa.. bagaimana ustad tentang pendapat bahwa hak wanita memilih calon suaminya tanpa intervensi dari siapapun.. apakah itu juga berlaku untuk sya?

        • Al Lijazy says:

          Bismillah, Iya,setiap wanita juga berhak memilih calon pasangan hidupnya,. Dan apabila dia dijodohkan dengan lelaki yang tidak dia cintai, maka dia berhak menolak pinangan lelaki tersebut. Diriwayatkan dari Khansaa’ al-Anshariyyah (ia berkata):

          ”Sesungguhnya bapaknya telah menikahkannya (dengan seorang lelaki) dan (ketika itu) dia sebagai seorang janda, maka dia tidak menyukainya. Lalu dia mendatangi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam (mengadukan halnya), maka beliau shallallahu ’alaihi wa sallam kemudian membatalkan pernikahannya.” (Hadits riwayat Bukhari no: 5138, 6945 dan 6969, Abu Dawud no: 2101, an-Nasa-i no: 3268, dan Ibnu Majah no: 1873, dengan sanad shahih)

          Dalam riwayat dari jalan yang lain, yaitu dari jalan Ibnu ‘Abbas (ia berkata): Bahwasanya seorang gadis pernah datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia menceritakan (halnya) kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

          “Sesungguhnya bapaknya telah menikahkannya (dengan seorang lelaki) sedangkan dia tidak menyukainya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kepadanya hak untuk memilih (apakah dia akan melanjutkan pernikahannya atau membatalkannya).” (Hadits riwayat Abu Dawud no: 2096 dan Ibnu Majah no: 1875, dengan sanad shahih)

          Dari dua hadits diatas maka jelas bahwa seorang wanita boleh memilih pasangan hidupnya. Dan jika dia tidak menyukai lelaki yang dipasangkan atau dijodohkan dengannya maka dia boleh menolak pinangan lelaki tersebut. Namun, jika dia sudah dinikahkan dengan lelaki tersebut maka dia bisa mengadukan halnya itu kepada Qadhi atau Hakim atau pihak KUA. Seperti yang terjadi pada Khansaa’ al-Anshariyyah, dimana dia dinikahkan dengan seorang lelaki yang tidak dicintainya. Padahal dia telah menyukai dan mencintai Abu Lubabah. Maka setelah Rasulullah shallallahu ’alahi wa sallam membatalkan pernikahannya, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kepada orang tua Khansaa’ agar menikahkan puterinya dengan Abu Lubabah.

          Lalu bagaimana seorang wanita bisa mengutarakan pendapatnya tersebut?
          Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: Bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

          ”Seorang wanita janda tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai pertimbangan dan seorang gadis perawan tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai persetujuan.” Para sahabat bertanya: ”Ya Rasulullah, bagaimana tanda setujunya?” Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab: ”persetujuannya adalah Bila ia diam.” (Hadits riwayat Muslim no: 2543)

          Diriwayatkan pula dari jalan ’Aisyah binti Abu bakar radhiyallahu ‘anhum:

          ”Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tentang seorang gadis perawan yang dinikahkan oleh keluarganya, apakah ia harus dimintai persetujuan ataukah tidak?” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab: ”Ya, harus dimintai persetujuan!” Aku katakan kepada beliau, perempuan itu merasa malu. Rasulullah shallallhu ’alaihi wa sallam bersabda: ”Itulah tanda setujunya bila ia diam.” (Hadits riwayat Muslim no: 2544)

          Dari dua hadits diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang wanita harus dimintai pendapat dan persetujuan terlebih dahulu ketika akan menikah, baik dia seorang janda atau seorang gadis. Orang tua atau wali tidak boleh memaksakan kehendak pada puteri-puterinya untuk menikah dengan lelaki yang tidak mereka cintai. Karena hati tidak dapat dipaksa, meskipun badan dapat dipaksa dan terpaksa untuk mengikutinya.

          Dengan demikian, jelaslah bahwa wanita pun memiliki hak yang sama dalam memilih calon pasangan hidupnya. anda dapat memilih seorang lelaki yang rupawan, kaya, dan berasal dari keturunan yang baik, namun lebih baiknya pilihlah seorang lelaki yang baik agama dan akhlaqnya. Karena seorang lelaki yang baik agamanya akan senantiasa memuliakan kedudukan wanita dan senantiasa berbuat ma’ruf padanya.
          Dan nasehat kami untuk wali anda bahwa sabda Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam:
          إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ
          “Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al-Imam Al-Albani Rahimahullah dalam Al-Irwa’ no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022)
          Allahua’lam bish shawab, semoga segera mendapat solusi yang terbaik in syaa Allah.

  • ayu says:

    Assalamualaikum ustadz saya ayu , saya pgen menikah d usia saya skg 20 dan calon saya pun 20 tapo ami berdua msh sama kuliah, dan tidak d perbolehkn menikah ,saya ingin di hindari daei fitnah tolong solusi nya ustadz terima kasih

    • Al Lijazy says:

      bismillah, wa’alaikum salaam warahmatullah, menikah itu butuh persiapan baik ilmu, mental dan juga harta. kalau keadaan kalian sekarang yang masih sama-sama kuliah, kami pikir wajar ortu kalian tidak merestuinya, karena secara dzahir kalian memang belum siap. maka itu saran kami untuk calon suami selesaikan dulu sekolahnya dan lekas cari kerja, kalau sudah punya penghasilan tetap silahkan lanjutkan rencana kalian untuk menikah, in syaa Allah ortu kalian juga akan merestui. untuk saat ini fokuskan dulu ibadah, sekolah dan cari maisyah, stop dulu pacarannya sampai semuanya jadi halal. karena kalau maksiyat terus-terusan akan memperlambat proses menuju kebaikan.Allahua’lam

  • septania says:

    assallammualaikum wr wb ,pak saya mw tny,dosa tdk kalo nikah tanpa restu ayah tiri ,saya sedih pah saya bingung kenapa ayah tiri saya tdk setuju dgn pasangan saya,padahal laki laki itu niat baik hadir dgn sopan,ramah terhadap ayah saya,tp dgn alasannya ayah saya bilang blom boleh dulu smpe hutang saya lunas ,sedangkan pasangan saya ingin menikahin saya dan ingin serius,saya bingung pak ustad dgn sikap ayah tiri saya,dia jg ga mau ksh alasan knp tdk setuju dgnn pasangann saya,sampe yg ke 2 kalinya pasangan saya kembali bicara dgn ayah saya tp dy ttp kasar kata katanya dan tega.itu cerita inti dri saya pak ustad,sedangkan saya jg tdk tahu dimana kehadiran ayah kandung saya ,ayah kandung saya meninggalkan saya dan ibu saya hingga aku lahir.mohon jawaban nya pak ustad terima kasih

    • Al Lijazy says:

      bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullahi wabarokaatuhu,
      yang perlu anda pahami terlebih dahulu dari kasus anda yaitu, bahwa ayah tiri itu tidak bisa menjadi wali nikah anda. Jadi sebenarnya tidak ada pengaruhnya dia tidak setuju ataupun tidak.
      Ayah tiri bukan kerabat. Dia suami ibu, namun tidak memiliki hubungan nasab ataupun kekerabatan dengan anak tirinya. Hanya saja, ayah tiri bisa menjadi mahram bagi anak tirinya, jika sudah terjadi hubungan badan dengan ibunya.
      Allah Ta’ala berfirman,
      وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ
      “(Diantara wanita yang haram dinikahi adalah) Anak-anak (perempuan) isterimu yang dalam asuhanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya.” (QS. An-Nisa’: 23)
      Ayat ini menunjukkan bahwa ayah tiri adalah orang lain (bukan mahram), andaikan dia tidak menikah dengan ibu dari anak tirinya.
      Berdasarkan keterangan di atas, ayah tiri tidak memiliki hak perwalian. Dia tidak bisa menjadi wali nikah anak tirinya. Memaksakan diri untuk menikahkan anak tiri, bisa menyebabkan pernikahan tidak sah, karena dia tidak berhak menjadi wali.

      Namun jika rencana pernikahan anda nantinya akan terganggu dengan sebab tidak setujunya ayah tiri anda, maka segera adakan musyawarah kekeluargaan. Bila perlu anda datangkan pihak ketiga dari kerabat atau orang lain yang anda pandang bisa bersikap adil bijaksana serta berilmu agama, tanyakan dulu apa alsan tidak setujunya baru kemudian dicari pemecahannya yang terbaik. Semoga nantinya ada jalan keluar yang terbaik bagi semuanya.Allahua’lam

  • Fitri says:

    Bismillah ustadz
    untuk saat ini saya bingung ketika orang tua saya mempertanyakan hubungan saya dengan dia, usia saya sekarang baru 19 tahun saya masih kuliah dan usia pacar saya sudah 26 seorang guru. niat saya ingin menikah masih lama namun melihat keadaan pasangan saya yang sudah cukup umur dan kalau terlalu lama akan menjadi dosa besar bagi saya dengan pasangan saya. ustadz kedua orang tua saya sebenarnya belum menyetujui hubungan saya dengan pasangan sya. ustadz saya merasa bingung apalagi pihak keluarga laki2 ada niat ingin mengkhitbah saya nanti. tanpa adanya ridho dari orang tua.rasa nya saya belum bisa. dan pihak laki2 belum tau bajwa kedua orang tua saya belum setuju. bagaimana ustadz cara menghadapi prsoalan seperti ini

    • Al Lijazy says:

      bismillah, maaf sebelumnya, dari pertanyaan anda kami belum menangkap alasan tidak setujunya ortu anda terhadap rencana menikah anda, jadi kami masih sulit untuk membantu mencarikan solusi. Allahua’lam baarokallahu fiikum

  • No name says:

    Assalamualaikum ustadz,
    Saya punya 2 pertanyaan,
    1. Saya berumur 25 tahun dari Makassar dan sdh bekerja, tradisi d sulsel jika ingin menikah maka pihak laki2(saya) haruslah mmberikan uang kepada keluarga perempuan (bukan mahar) yang nilainya cukup banyak bagi saya, dlm kasus saya mereka meminta uang minimal 30jt dan menyarankan sampai 50jt dan itu butuh waktu yg cukup lama bagi saya untuk mendapatkan sebanyak itu. Apa yang kira2 bisa saya lakukan dlm kondisi ini ustadz?

    2. Saya sdh mulai menabung untuk persiapan menikah saya ustadz, tapi ortu saya masih belum membolehkan saya untuk menikah dengan alasan ingin agar gaji dan tabungan saya dipakai untuk membantu usaha beliau dulu (ortu saya pedagang) dan menurut beliau keadaan usahanya sekarang sedang merugi dan butuh tambahan modal. Dan ini semakin mempersulit saya dlm mengumpulkan uang hingga puluhan jt yang dikehendaki keluarga perempuan. Bagaimana saya menyikapi hal ini ustadz?

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,kami sarankan anda meminta bantuan pihak ketiga dari kerabat anda maupun orang lain yang cukup berilmu agama,adil dan bijak untuk melakukan negoisasi dengan pihak calon istri meminta keringanan bahkan jika bisa dihapuskan sama sekali. Sebab biaya tersebut tidak pernah di syari’atkan dalam islam, bahkan mungkin hal tersebut bisa termasuk dalam perbuatan kedzaliman dan mempersulit proses ibadah yaitu menikah. Untuk biaya, islam hanya mensyari’atkan mahar itu saja, itupun disunnahkan memperingan mahar. Semoga dengan adanya negoisasi nantinya mereka mau menghapus biaya tersebut sehingga anda masih bisa membantu ortu anda sebagai wujud berbuat baik terhadap orang tua. Allahua’lam semoga di mudahkan urusannya.

  • deviani says:

    assalamualaikum ustadz, saya devi. saya sudah berpacaran setahun dengan pacar saya dan sudah perkenalkan dengan ortu dr pacar saya. dan keluarga dia sangat senang dg saya dan ingin melamar saya. namun, pada pihak orrtu saya kurang setuju karena pacar saya yg tidak punya penghasilan tetap dikarenakan membantu usaha punya bapaknya, ditambah lagi dr keluarga yg biasa saja. namun, jika boleh dibanggakan adalah pacar saya dr keluarga yg baik2 termasuk mengerti agama. itu yg membuat saya memilih pacar saya sebagai calon suami saya. tp ortu saya tidak merrestui hubungan kami, padahal saya sudah meyakinkan ortu saya bahwa rezeki Allah yg mengatur kita tidak usah takut akan hal itu. namun ortu saya tidak mau mengerti bahkan menyruh saya untuk meninggalkan pacar saya dan mencari lelaki yg mapan dan keluarga terpandang. apa yg harus saya lakukan ustad? salahkah jika saya tetap memilihi pacar saya itu dan mempertahankan dia? hati saya yakin dengan dia ustad insya allah dia pilihan yg tepat, apakah saya termasuk durhaka jika saya tetap membantah ibu saya ustad? mohon balasannya.

    • Al Lijazy says:

      Wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Kami anjurkan anda untuk shalat istikharah meminta petunjuk Allah Ta’ala dan memohon kemudahan dariNya, hanya Allah Ta’ala saja yang bisa membukakan hati manusia yang masih tertutup. Pastikan sebelum istikharah pilihan anda adalah laki-laki yang shalih dan sesuai dengan kriteria syari’ah dan bersabarlah setelah berdo’a sambil menunggu jawaban dari Allah Ta’ala, jangan menunggu jawaban Allah Ta’ala sambil bermaksiat kepadanya misalkan dengan tetap berpacaran dengannya, stop pacaran sampai dia sudah menjadi halal bagi anda. Setelah Allah Ta’ala nantinya memutuskan sesuatu kepada anda dengan kemantaban hati baru silahkan anda yakinkan orang tuan anda bahwa calon anda adalah pilihan Allah untuk anda. Tentang rizki yakinkan sudah ada yang ngatur jadi tidak perlu khawatir, Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan hambaNya yang bertaqwa in syaa Allah.Dan yakinkan kepada mereka bahwa anda akan menjamin bahwa anda nantinya tidak akan menyesal, mengeluh dan mengadu kepada orang tua anda tentang rumah tangga anda. Jika anda ingin bersikeras mempertahankan calon anda, kami anjurkan anda bermusyawarah kekeluargaan, bila perlu anda cari pihak ketiga yang bisa membantu menjembatani antara anda dan oertu anda. Intinya secara syar’i anda tetap memiliki hak untuk memilih calon pasangan hidup anda, namun tidak ada salahnya tetap memperhatikan mudharat dan mashlahat dengan keluarga besar anda, maka itu semoga dengan adanya musyawarah keluarga akan ada jalan keluar yang terbaik nantinya. Semoga dimudahkan.Allahua’lam

  • suricah says:

    Assalualaikum. Ustad saya mau cerita. Saya bertemu dengan dia, pria yg ingin menikahi saya secepatnya, maksimal 2 tahun lagi, sekitar 1 tahun yg lalu. Dari awal juga saya tau bahwa pria tersebut ingin segera menikah karena ga mau lama lama pacaran. Tapi keluarga saya tidak mengizinkan karena beberapa hal.
    1. Saya yg sekarang bekerja, diharuskan melanjutkan kuliah dulu hingga S1.
    2. Adik adik saya masih pada kecil sehingga orang tua saya khawatir tidak ada yg membiayai mereka jika saya menikah. Padahal saya juga akan tetap membiayai mereka
    3. Orang tua saya masih pengen acara pernikahan sangat di luar budget pria itu
    Jujur saja ustad, bersama pria itu saya menjadi lebih dekat dengan Allah. Dia selalu mengajarkan saya untuk berharap hanya pada Allah. Dia juga membimbing saya menjadi lebih baik lagi. Saya bahagia bersama dia ustad. Dia bukan sekedar pacar tapi dia teman hidup
    Ketika saya mengeluh dengan hidup atau pekerjaan saya dia tidak pernah memanjakan saya dengan kata kata manis lainnya. Dia memberi saran yg membuat saya menjadi lebih kuat. Dia juga ga pernah obral janji. Dia tak pernah menjanjikan saya ini itu. Saya lelah ustad menghadi masalah pribadi dan keluarga saya sendiri. Saya gampanh stres, tujuan hidup jg ga jelas. Tp semenjak bertemu dia, saya jd punya arah. Saya ingin menikah dan yakin dengan dia
    Bagaimana agar orang tua saya yakin bahwa saya bisa melakukan semuanya secara bersamaan ustad?

    • Al Lijazy says:

      Wa’alaikum Salaam warahmatullah,
      Sebenarnya kuliah itu bukan satu hal yang bisa dijadikan alasan untuk ditundanya pernikahan. Jika keduanya sudah siap dan telah memenuhi syarat untuk menikah baik lahir maupun batin maka segeralah menikah, sebab dengan menikah nantinya in syaa Allah akan terbuka banyak pintu kebaikan, untuk membiayai adik anda, sebenarnya itu bukan tanggung jawab anda, tapi itu kewajiban penuh orang tuanya,kalaupun anda membantu biaya itu sekedar amalan sunnah dan perbuatan baik anda terhadap keluarga. Tapi mungkin untuk menenangkan hati orang tua, anda janjikan aja kepada mereka bahwa in syaa Allah nantinya anda tetap akan ikut membantu biaya adik anda tersebut.
      Untuk selanjutnya Kami anjurkan anda untuk shalat istikharah meminta petunjuk Allah Ta’ala dan memohon kemudahan dariNya, hanya Allah Ta’ala saja yang bisa membukakan hati manusia yang masih tertutup. Pastikan sebelum istikharah pilihan anda adalah laki-laki yang shalih dan sesuai dengan kriteria syari’ah dan bersabarlah setelah berdo’a sambil menunggu jawaban dari Allah Ta’ala, jangan menunggu jawaban Allah Ta’ala sambil bermaksiat kepadanya misalkan dengan tetap berpacaran dengannya, stop pacaran sampai dia sudah menjadi halal bagi anda. Setelah Allah Ta’ala memutuskan sesuatu kepada anda dengan kemantaban hati baru silahkan anda yakinkan orang tuan anda bahwa calon anda adalah pilihan Allah untuk anda. Tentang rizki yakinkan sudah ada yang ngatur jadi tidak perlu khawatir, Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan hambaNya yang bertaqwa in syaa Allah.Dan yakinkan kepada mereka bahwa anda akan menjamin bahwa anda nantinya tidak akan menyesal, mengeluh dan mengadu kepada orang tua anda tentang rumah tangga anda. Allahua’lam, semoga dimudahkan

  • suricah says:

    Satu lagi ustad. Calon saya ini dari keluarga yg biasa saja. Lulusan SMA, jabatan juga biasa aja, pegawai swasta di perusahaan indonesia. Orang tua saya khawatir kalo saya menikah dengan dia dengan kondisi dia ga kuliah, saya masih kuliah, saya akan kekurangan. Jd orang tua saya ingin saya kuliah dia juga kuliah lalu kami baru menikah, itu artinya 4 tahun lagi. Sedangkan kami sudah sama sama siap menikah ustad. Saya siap diajak susah dari awal menjalaninya bersama. Saya bahagia. Saya senang berada diantar keluarga dia. Tapi orang tua saya ga bisa melihat saya yg bahagia dengan jalan saya sendiri. Mereka masih keukeuh sama pemikiran mereka…ustad…saya bingung gimana meyakinkan orang tua saya

    • Al Lijazy says:

      Kami anjurkan anda untuk shalat istikharah meminta petunjuk Allah Ta’ala dan memohon kemudahan dariNya, hanya Allah Ta’ala saja yang bisa membukakan hati manusia yang masih tertutup. Pastikan sebelum istikharah pilihan anda adalah laki-laki yang shalih dan sesuai dengan kriteria syari’ah dan bersabarlah setelah berdo’a sambil menunggu jawaban dari Allah Ta’ala, jangan menunggu jawaban Allah Ta’ala sambil bermaksiat kepadanya misalkan dengan tetap berpacaran dengannya, stop pacaran sampai dia sudah menjadi halal bagi anda. Setelah Allah Ta’ala memutuskan sesuatu kepada anda dengan kemantaban hati baru silahkan anda yakinkan orang tuan anda bahwa calon anda adalah pilihan Allah untuk anda. Tentang rizki yakinkan sudah ada yang ngatur jadi tidak perlu khawatir, Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan hambaNya yang bertaqwa in syaa Allah.Dan yakinkan kepada mereka bahwa anda akan menjamin bahwa anda nantinya tidak akan menyesal, mengeluh dan mengadu kepada orang tua anda tentang rumah tangga anda. Allahua’lam

  • siti says:

    Assalamu’alaikum… Ustadz saya mau bertanya.. Saya kenal dengan seorang lelaki ketika saya bekerja disebuah perusahaan.. Dan laki2 ini sangat baik dan membantu pekerjaan saya.. Ternyata dia memang suka dengan saya.. Alhamdulillah laki2 ini solat dan ngajinya bagus, punya akhlak yang baik, bahkan di rumahnya dia sering mengisi pengajian juga… Kami pun menjalin hubungan dan si laki2 ini ternyata punya niatan baik dengan ingin menikahi saya karena kami tidak ingin ada fitnah antara kami… Tapi kondisi si laki2 ini sudah punya istri…
    Sempat di saya bicara dengan kedua orang tua saya dan mereka tidak menerima keinginan kami untuk menikah… Karena alasannya laki2 ini sudah beristri… Bahkan ironisnya keluarga saya sampai memfitnah dan menjelekan keluarga laki2 itu.. Saya sedih dan kecewa atas kejadian itu.. Orang tua saya terlalu takut yang tidak jelas..Padahal istrinya sudah ikhlas dan saya pun ikhlas.. Dan saya memilih dia memang saya benar2 suka karena kepribadian dia…
    Saya sempat baca bukankah hak penuh memilih calon suami itu wanita bukan orang tua dan harus suka sama suka…
    Tolong jawabannya ustadz saya harus gimana dan harus seperti apa agar orang tua mengerti…

    • Al Lijazy says:

      Wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Meyakinkan orang tua agar putrinya boleh dijadikan istri kedua (poligami) bukan sesuatu yang mudah, butuh kesabaran dalam menjelaskan kepada mereka tentang hukum poligami dalam islam dan hak-hak serta kewajiban yang harus ada pada keluarga yang berpoligami, ini butuh fiqih yang cukup untuk bisa menjelaskan kepada orang tua terutama untuk pelaku poligami harus bener-bener tahu hukum seputar poligami dalam islam, agar nantinya tidak ada penyimpangan syari’at didalamnya baik dari penelantaran hak maupun bentuk kedzaliman.
      Sepertinya anda butuh orang ketiga untuk membantu menjelaskan kepada orang tua anda. Memang secara hukum islam anda berhak menentukan calon pilihan anda, tapi anda juga tidak bisa menikah jika tanpa wali. Nah..disini keridhaan wali yang harus di upayakan ada. Sebab bagaimanapun mashlahat dan mudharat juga harus menjadi bahan pertimbangan demi kelangsungan dan kebahagiaan keluarga anda nantinya.segerakan musyawarah dengan menghadirkan pihak ketiga baik dari kerabat anda maupun yang lain yang anda pandang adil dan bijak serta tentunya mengerti hukum islam seputar pernikahan terutama fiqih poligami. Semoga segera mendapat jalan keluar yang terbaik. Allahua’lam

  • siti says:

    Iya saya butuh orang yang menjelaskannya kepada orang tua saya.. Karena sifat orang tua saya dan saudara2 alm ayah saya termasuj keras.. Menghadapai segala sesuatu itu selalu dengan emosi.. Saya sendiri suka bingung menghadapinya takut kebawa emosi…
    Terimakasih ustadz atas sarannya…

  • evha says:

    Assalamualaikum,ustadz sya mw bertanya
    Apa hukumnya jika menikah terus maharnya berupa emas imitasi(palsu),apakah pernikahan tersebut sah??
    Terima kasih

    • Al Lijazy says:

      bismillah,wa’alaikum \salam warahmatullah, kalau hal tersebut sama-sama tahu dari kedua mempelai dan sama-sama ridha brarti tidak ada masalah. tapi jika hal itu penipuan dari pemberi mahar. Allahua’lam,in syaa Allah kita yang akan kita cari dahulu penjelasan dari para Ulama’. Allahua’lam

  • mira says:

    Assalamualaikum ustad .. saya ingin bertanya .. saya sudah siap ingin menikah tetapi perasaan itu masih saya sembunyikan karena orang tua saya lebih senang dengan laki laki yg dulunya tetangga saya .. akan tetapi saat ini saya binggung ustad karena ada di antara pilihan dan di antara pilihan itu mereka laki laki ya yang bisa di bilang faham agama .. tapi saya masih berusaha terfokus bekerja untuk membiayai adik saya sekolah dan orang tua saya kira kira gimana ya ustad

    • Al Lijazy says:

      bismillah,wa’alaikumSalaam warahmatullah,jika dengan tidak menikah anda terjerumus dalam perbuatan dosa dan anda secara hukum dikatakan mampu menikah maka segerakan menikah, sebab dengan menikah akan mendapatkan ketenangan jiwa dan bisa lebih menundukkan pandangan serta mendapatkan kesempurnaan separuh agamanya. mengenai membiayai adik dan orang tua anda itu adalah kewajiban ayah anda, bantuan anda itu sifatnya perbuatan baik anda saja bukan kewajiban. tetapi menikah dalam keadaan seorang itu mampu dan jika tidak menikah dia terjatuh kedalam perbuatan dosa maka menikah hukumnya wajib baginya. maka saran kami segera istikhoroh kepada Allah Ta’ala untuk memohon petunjukNya. Allahua’lam

  • Beni Erka Wijaya says:

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokaatuh ustadz, saya ingin bertanya, bagaimana hukumnya lelaki yang sudah siap menikah, akhwatnya pun sudah bersedia menerimanya dan orangtua dari akhwat tersebut sudah menyetujuinya, tetapi orangtua saya tidak memperbolehkannya karena saya dianggap masih kecil belum dewasa, padahal saya usaha sudah ada, bisnis sudah berjalan ,di umur saya yang sekarang ini 21 tahun terkadang syahwat saya sudah menggebu gebu,dan untuk menghindari fitnah, kadang pernah agak terfikirkan untuk berbuat yang kurang lazim, maka dari itu saya ingin menikah, apakah jika saya menikahi akwat tersebut tetapi saya tidak izin dari orangtua saya ayah ibu, apakah saya berdosa ustadz ?.syukron

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullahi wabarakaatuh, Akhi fillah,Seseorang yang sudah mampu dan telah memenuhi syarat untuk menikah dan jika tidak menikah di khawatirkan akan terjatuh kedalam perbuatan dosa maka hukumnya wajib baginya untuk menikah. Tentang pihak laki-laki tidak di syaratkan harus ada wali maupun persetujuan siapapun, tapi sebagai nasehat saja,jika anda memberitahu dan minta ijin orang tua tentunya nantinya akan baik dan melegakan buat keluarga kecil anda nantinya. Dan tentunya anda nantinya tidak ingin ada ganjalan dalam kehidupan anda kan? maka segerakan musyawarahkan dengan keluarga besar anda tenta ng rencana pernikahan anda, dan utarakan alasan dengan jujur kepada mereka bahwa anda ingin beribadah dan menjaga kehormatan diri, in syaa Allah mereka akan bisa mengerti. Semoga dimudahkan, baarokallahu fiikum

  • Wita R says:

    tetapi setelah menikah,sy sndiri akan brusaha untuk mewujudkan keinginan orgtuanya walaupun tdk dianggap sama sekali,karna niat calon suami saya insya Allah stlh menikah akan mengikuti saran orgtuanya,pak ustadz mohon bantuan pencerahannya..sebetulnya sy sudah menanyakan hal ini kebbrp org,hanya sj sy msh takut,saya takut dosa karena calon suami saya memilih menikah,dan tidak mengikuti kemauan orgtuanya,karena orgtuanya ingin dia pangkatnya sampai tinggi ,sdngkn calin suami saya ingin sukses berjuang bersama-sama dgn sy stlh menikah,dia lelah dgn tekanan orgtuanya sejak dl,krn cln suami sy tidak ingin sy menunggu lama,dn ingin menyegerakan menikahi sy,ttpi tidak akan melupakan kewajiban kpd kedua orangtuanya stlh menikah,hny sj saja orgtuanya tdk prnh mau dengar lagi apa yg kmi bicarakan,hatinya terlalu keras pak ustadz,sy sudah pasrah dn ikhlas,ttp sy tidak putus asa krn calon suami saya trs berusaha..bantu balasannya pak..

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullahi wabarakaatuh, wahai ukhti fillah,Seseorang yang sudah mampu dan telah memenuhi syarat untuk menikah dan jika tidak menikah di khawatirkan akan terjatuh kedalam perbuatan dosa maka hukumnya wajib baginya untuk menikah. Tentang pihak laki-laki tidak di syaratkan harus ada wali maupun persetujuan siapapun,dia bisa menikah dengan sendiri tanpa siapapun dan sah.hukum islam yang berlaku memang demikian adanya. tapi sebagai nasehat saja,jika calon suami anda mendapatkan ridha orang tua in syaa Allah nantinya akan sempurna dan melegakan buat keluarga kecil anda nantinya. Dan tentunya anda nantinya tidak ingin ada ganjalan dalam kehidupan anda kan? maka segera musyawarahkan dengan keluarga besar anda tentang rencana pernikahan anda, dan utarakan alasan dengan jujur kepada mereka bahwa anda ingin beribadah dan menjaga kehormatan diri, in syaa Allah mereka akan bisa mengerti.bila perlu datangkan pihak ketiga dari kerabat maupun orang lain yang anda anggap bijak dan mengerti hukum islam terutama tentang pernikahan islami. dan satu lagi jangan lupa berdoa kepada Allah agar Allah Ta’ala membukakan hati orang tuanya, jujur sungguh-sungguh dan ikhlaslah dalam berdo’a, sebab hanya Allah lah yang bisa membuka hati dan pikiran seseorang.Semoga dimudahkan, baarokallahu fiikum

  • lola yusra says:

    Assalamualaikum… saya berumur 25th, saya sudah ingin menikah dgn laki2 pilihan saya. Namun org tua saya tidak mengizinkan dgn alasan tdk punya pekerjaan tetap, tdk mmpunyai gelar seperti saya,dia tidak baik buat saya. Adapun alasan lain org tua saya melarang karna sikap saya tidak mencerminkan klo saya sudah siap menikah. Yang tau siap atau belum kan saya. Apakah saya durhaka jika saya membantah?

    • Al Lijazy says:

      bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah,sebaiknya sementara anda patuhi aja nasehat orang tua sambil menunggu calon anda punya pekerjaan tetap, agar bisa menenangkan orang tua dan anda sendiri tentunya. tapi seharusnya yang bener kita tidak perlu khawatir tentang rizki nantinya . sebab Allah Ta’ala pasti akan mencukupinya, apalagi kita menikah juga karena ibadah. namun yang seperti ini terkadang jarang bisa dimengerti oleh orang-orang awam.maka itu smntara patuhi saja nasehat orang tua anda sambil anda sesekali memberi pencerahan tentang rizki yang sudah terjamin bagi setiap hamba sebelum dia terlahir di dunia ini.sambil anda sendiri juga mempersiapkan apa yang perlu anda siapkan menjadi seorang istri yang shalihah dan ibu rumah tangga yang baik. semoga nanti lamabat laun ortu anda akan meridhainya.

  • Sofy says:

    Assalamualaikum pak uztad…
    Saya sofy dan saya berumur 24thn.kekasih saya sudah berumur 27 thn.saya dan kekasih saya sudah ingin sekali menikah.alhamdulillah dari keluarga besar kekasih saya sudah memberi restu untuk hubungan yg lebih serius lagi.kekasih saya mengerti agama ustad ,dy juga memiliki pekerjaan yang tetap,karakter dia yang baik yang membuat saya mempertimbangkan dia pak ustad, akan tetapi keluarga saya tidak merestui hubungan kami hanya karena ketidaksukaan dan kebencian orang tua saya terhadap suku kekasih saya.dan saat ini dia dan keluarga besarnya tidak mengetahui kalau orang tua saya tidak menyetujui hubungan kami,dan saat saya juga dijodoh sama lelaki lain yg belum pernah saya temui ustad,yg belom saya kenali karakternya.
    Sebenarnya sebelum saya bertemu dengan kekasih saya,saya tidak ingin menikah pak ustad,saya ingin single selamanya. saya seperti trauma dengan rumah tangga orang tua saya sendri, saya berfikiran seperti itu karena tingkah laku orang tua saya yg tidak bisa dcontoh oleh anak-anaknya.saya merasa buat apa menikah kalo ujung”nya cuma bikin sakit hati pak ustad.
    Mohon pencerahannya pak uztad…
    Apa yang harus saya lakukan pak uztad??
    Apa saya durhaka jika saya tetap bertahan dengan kekasih saya??
    Atau saya terima dengan perjodohan orang tua saya yang jelas membuat saya tidak ingin merasakan pernikahan??

    • Al Lijazy says:

      Wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Kami anjurkan anda untuk shalat istikharah meminta petunjuk Allah Ta’ala dan memohon kemudahan dariNya, hanya Allah Ta’ala saja yang bisa membukakan hati manusia yang masih tertutup. Pastikan sebelum istikharah pilihan anda adalah laki-laki yang shalih dan sesuai dengan kriteria syari’ah dan bersabarlah setelah berdo’a sambil menunggu jawaban dari Allah Ta’ala, jangan menunggu jawaban Allah Ta’ala sambil bermaksiat kepadanya misalkan dengan tetap berpacaran dengannya, stop pacaran sampai dia sudah menjadi halal bagi anda. Setelah Allah Ta’ala nantinya memutuskan sesuatu kepada anda dengan kemantaban hati baru silahkan anda yakinkan orang tua anda bahwa calon anda adalah pilihan Allah untuk anda. Tentang anda yang dijodohkan,mungkin tidak ada salahnya jika ditunggu dulu seperti apa calonnya tersebut, barangkali dia adalah lelaki yang juga shalih dan sudah mapan dan lebih baik dari calon anda saat ini baik dari sisi agama dan dunianya .jadi anda bisa pindah ke lain hati.tentunya dengan bermusyawarah dahulu dengan calon anda sekarang serta keluarganya demi menyenangkan hati orang tua anda,dan tentunya juga setelah istikhoroh kepada ALLah Ta’ala.
      Namun Jika anda ingin bersikeras mempertahankan calon anda, kami anjurkan anda bermusyawarah kekeluargaan, bila perlu anda cari pihak ketiga yang bisa membantu menjembatani antara anda dan oertu anda. Intinya secara syar’i anda tetap memiliki hak untuk memilih calon pasangan hidup anda, namun tidak ada salahnya tetap memperhatikan mudharat dan mashlahat dengan keluarga besar anda, maka itu semoga dengan adanya musyawarah keluarga akan ada jalan keluar yang terbaik nantinya. Semoga dimudahkan.Allahua’lam

  • handjaya mico says:

    assallammuallaikum,
    saya ingin menikahi wanita yg saya cintai,tapi saya takut bilang dengan orang tua saya,karna orang tua saya merasa umur saya belum cukup,bagai mana cara bicara dengan orang tua saya agar mereka bisa yakin kalo saya sudah siap menikah ,mohon saranya

    • Al Lijazy says:

      wa’alaikum Salaam warahmatullah, kalau mnurut kami cukup anda tunjukkan di depan orang tua anda tentang kesiapan menikah secara dzahir, yaitu diantaranya kesiapan harta,misalkan sudah punya pekerjaan tetap dan sudah cukup untuk biaya menikah sendiri dan berumah tangga, selain itu juga harus anda tunjukkan sikap kedewasaan baik dalam bersikap maupun dalam berfikir. in syaa Allah nantu orang tua anda juga akan bisa berpikir sama dengan anda bahwa anda sudah siap menikah.tapi kalau selama ini anda masih menunjukkan sikap kekanak-kanakan,seperti masih ketergantungan kuat dengan orang tua, belum bisa mandiri,kputusan masih sering diarahkan orang tua(manja),kami rasa pantas orang tua anda masih menilai anda belum siap menikah. allahua’lam

  • Steffany lin says:

    AssAlamu allaikum wr.wb
    Sy gadis berumur 31th.dan ingin d lamar seorang pemuda yg msh satu desa sama saya.tapi niatan itu d tolak sama org tua saya lantaran ibuku terlalu mempercayai soal kejawen.
    Saya punya kakak lk2 tp meninggal wkt kluar d lahirkan jadi menurut org tuaku saya anak no 1 hidup.sedang lelaki yg hendak melamar saya anak terakhir tp ibunya udah meninggal.
    Org tuaku menolak dia krn kepercayaan saya anak pertama hidup dan ortu blm prnh punya hajatan nikahan/sunatan.jd saya d larang menikah dg lk2 yg org tuanya ganjil(tdk py ibu)
    Kt org tua saya menurut kejawen bl d lakukan slh satu kluarga bakal dpt kemalangan berturut2, apakah memang demikian mohon sarannya
    Sblmny saya ucapkan mksh

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salam warahmatullah
      Wahai saudariku,kalau memang sudah siap menikah dan sudah terpenuhi syarat-syaratnya, apalagi sudah ada calon yang baik dan sesuai dengan kriteria syar’i,maka segerakan saja menikahnya. Sebab perintah Rasulullah adalah menyegerakan nikah bagi yang sudah mampu seperti dalam sabda beliau
      يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ منكم الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
      “Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang sudah mampu menanggung nafkah, hendaknya dia menikah. Karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sementara siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa. Karena itu bisa menjadi tameng syahwat baginya.” (HR. Bukhari 5065 dan Muslim 1400).
      Tentang ramalan-ramalan tersebut jangan dipercaya sama sekali, hanya Allah Ta’ala yang menentukan taqdirnya, bukan makhluq ataupun perbuatan makhluq,barang siapa yang mempercayai ramalan makhluq tentang perkara yang ghaib (masa depan) maka dia telah terjatuh kedalam perbuatan kesyirikan yang dikhawatirkan akan membatalkan islamnya. Maka berdo’alah kepada Allah dengan istikhoroh mohon petunjuk tentang calon dan rencana pernikahan.kalau sudah ada kemantapan hati setelah istikhoroh maka segerakan menikah, jangan pedulikan ramalan-ramalan makhluq yang tidak ada dasarnya sama sekali tersebut . Lanjutkan dengan Bismillah dan tawakkal sepenuhnya kepada Allah Ta’ala,in syaa Allah nanti akan dimudahkan. Allahua’lam baarokallahu fiik

  • Lia says:

    Assalamualaikum ustd, saya mau bertanya bagaimana hukumnya ketika seorang laki laki mempunyai hubungan dengan seorang gadis yang mempunyai sebuah kekurangan fisik dan laki laki itu ingin meminangnya akan tetapi ibu dari laki laki itu tidak merestui hubungan mereka. Apakah boleh melanjutkan suatu hubungan yg lebih serius tanpa restu ibu laki laki tersebut sedangkan ayah laki laki tersebut mengikuti apa yg menjadi pilihan anak laki lakinya .. mohon dijawab ustd.. terima kasih

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,wa’alaikum Salaam warahmatullah, jika sudah sama-sama ridho silahkan dilanjutkan. sebab laki-laki tidak butuh wali dan ridho siapapun untuk menikah, berbeda dengan wanita yang tetap membutuhkan wali bagaimanapun keadaannya. namun jika anda tetap memberi pengertian kepada ibu anda agar beliau ridho tentunya hal itu akan menjadi pelengkap kebahagiaan anda nantinya.kalau anda tidak mampu meyakinkan beliau sebaiknya anda mencari pihak ketiga dari kerabat anda atau siapapun yang berilmu agama untuk membantu anda meyakinkan ibu anda bahwa dia adalah calon wanita pilihan yang terbaik bagi anda, tentunya hal itu dilakukan setelah anda beristikhoroh meminta petunjuk kepada Allah Ta’ala tentang calon anda. Allahua’lam Baarokallahu fiik

  • Mukti says:

    Maaf sebelumnya sanya ingin meminta saran dari admin,
    Saya laki2 berumur 27 tahun dan saya memiliki seorang kekasih yang sgt siap untk saya nikahi. Permasalahannya adalah saat saya meminta ijin kpd org tua perempuan beliau mengatakan apabila dlam jangka waktu bebrpa bulan ini tdk mnikahinya sebaiknya tidak usah. Dan saya pun dngan mantap menceritakan kpd org tua saya sendiri ((ibu) karna memang ayah saya sudah meninggal)kalau saya ingin menikah secepatnya. Org tua saya tidak stuju dngan pikiran saya menikah secpatnya apalgi dngan meminjm sjmlah uang utk menikah, hingga saya memaksa ibu saya utk menikah. Ibu saya hanya menangis dan diam hingga skarang. Apakah saya termasuk durhaka?saya bingung, saya hanya ingin menikah
    Saya minta masukannya harus bagaimana,

    • Al Lijazy says:

      bismillah, jika anda sudah mempunyai bekal yang cukup buat menikah baik dari harta maupun ilmu dan sudah terpenuhi syarat-syarat menikah, serta jika dengan tidak menikah anda terjerumus dalam perbuatan dosa, maka anda wajib untuk menikah. sebenarnya laki-laki jika sudah memenuhi syarat seperti diatas dia bisa menikah sendiri tanpa wali dan tanpa persetujuan siapapun dari pihaknya, namun dengan melihat kondisi keluarga anda yang demikian, maka demi kebaikan keluarga anda terutama ibu anda yang seperti itu, kami sarankan anda melakukan musyawarah keluarga dan mencari solusi masalah anda,dan anda tunjuk pihak ketiga yang bisa menengahi permasalahan anda dan bisa memberikan pencerahan kepada ibu anda. Allahua’lam,semoga bisa segera dapat jalan keluar. baarokallahu fiikum

  • raudatul says:

    Assalamualikum ustd,
    Sy gadis umur 22 thn,& kekasih sy umurnya 26 thn,,
    Sy dan kekasih sy sudah ingin skali menikah tapi org tua kekasih sy menunda nunda dengan alasan uangnya belum cukup untuk melamar saya,tapi kami tidak mau menundanya lagi kami takut terjerumus dalam hal-hal yang tidak kami inginkan.
    Kami sangat bingung.
    Mohon pencerahanya ustad,,

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah, kalau memang belum punya harta, sebaiknya ditunda dulu hingga punya harta yang cukup. sebab memiliki harta untuk keperluan menikah juga termasuk salah satu syarat untuk menikah, tidak harus banyak, tapi sekedar cukup untuk keperluan menikah sudah cukup baginya. dan kalian berdua harus sabar menunggu hingga Allah Ta’ala memberikan kemampuan kepada kalian, STOP dulu pacaran hingga semua dihalalkan Syari’at. jangan berlama-lama dalam berma’shiyat (pacaran), bersungguh-sungguhlah mengumpulkan harta untuk bekal menikah, setelah dirasa cukup maka segerakan menikah. Allahua’lam semoga dimudahkan

  • Suci says:

    Assalamualaikum, saya suci usia 21th, dan pacar sayah usia 22th, hubungan kami memang baru berjalan 1bulan tapi kami ingin segera menikah untuk menhindari fitnah dan zinah, saya masi kuliah semester akhir, dan “pacar” saya sudah bekerja sudah mempunyai penghasilan meskipun belum kerja tetap, dan Insya Allah “pacar” saya sudah mempunyai biaya untuk menikahi saya, saya percaya dengan artikel di atas sayapun sudah memahami dari jauh jauh hari sebelum saya bertemu dengan pacar saya. Pihak laki laki sudah menyetujui untuk menyegerakan pernikahan, namun dari orang tua saya menolak untuk menyegerakan pernikahan karna alasan saya masi kuliah dan semester akhir, dan trauma dengan apa yang sudah terjadi pada ibu saya terdahulu yang tinggal 1langkah lagi menuju wisuda tapi malah menikah dan akhirnya tidak diteruskan, yang saya lebih bingung lagi ibu saya mengatakan bahwa ini adalah cobaan saat akan lulus kuliah, saya ingin sekali menjelaskan seperti apa yang ada pada artikel ini, tpi saya takut ibu dan ayah saya tersinggung dan merasa di gurui oleh anaknya sendiri, Insya Allah jika tidak ada halangab saya lulus bulan agustus, sedangkan niat kami ingin sekali menikah sebelum ramadhan ini, pacar saya bilang siap untuk menunggu tapi saya takut akan dosa jika menunda terlalu lama, bagaimana jika kita bertunangan lebih dahulu sambil menunggu saya lulus, sambil mempertemukan 2 keluarga atay apa yang seharusnya saya lalukan? Terimakasih sebeleumnya atas jawabanya Wassalamu’alaikum

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,wa’alaikum salaam warahmatullah, saran kami anda tunggu aja sampai waktu yang memungkinkan kalian untuk menikah, kalau cuma sampai agustus, itu waktu yang tidak lama. sabar dan tahan dulu tidak usah ketemu, atau putus sementara hingga waktu pernikahan tiba, agar tidak terjerumus kedalam perbuatan yang tidak diinginkan. masalah tunangan itu juga tidak ada syari’atnya dalam islam, artinya meskipun kalian sudah resmi bertunangan kalian tetap masih diharamkan untuk bersentuhan satu sama lain. hanya akad nikah yang sah yang menghalalkan kalian untuk saling bertemu dan bersentuhan. jadi nasehat kami agar anda bersabar hingga waktunya tiba, agar semua pihak sama-sama lega dan jalan kalian tidak ada hambatan lagi. Allahua’lam, semoga dimudahkan

  • Assalamualaikum ustad, saya rifki usia saya 22 tahun dan pasangan saya berusia 21 tahun. Ketika Hubungan saya baru berjalan 2 bulan Niat saya dan pasangan baik ingin bertunangan karna kami ingin menjalin hubungan yg serius dan bukan main2 lagi layaknya abg dan dri pihak pasangan pun keluarganya sudah memberi restu bila saya ingin mengikat/bertunangan dengan anaknya malah saya dsuruh oleh keluarganya agar lebih cepat menikah saja, namun dri pihak keluarga saya karna saya anak yatim ketika meminta restu kepada kakak serta ibu saya, kakak serta ibu saya tidak menyetujui saya ketika saya ingin bertunangan dengan alasan kalau saya bertunangan nantinya malah cepat nikah karna usia saya masih muda. Hingga akhirnya saya menjalin hubungan lebih lama lagi hingga akhirnya hubungan saya saat ini sudah berjalan 1 tahun dan karna saya anak yatim saya cuman tinggal ber2 dengan ibu saya karna ke 2 kakak saya sudah berkeluarga dan tinggal diluar kota. Jujur saya tidak tega meninggalkan ibu saya ketika saya pergi kerja karna ibu saya yg sudah termakan usia terkadang suka sakit dan berjalan pun cukup sulit jika sakit kakinya kambuh. Maka niat saya disitu pun lebih matang lagi ingin segera menikah saja dengan alasan ingin menjalankan ibadah agama yang lebih baik serta bila saya sudah punya istri ada yg menjaga ibu saya dirumah ketika saya pergi kerja. Nah bagaimana saya meminta ijin kepada kakak serta ibu saya bila saya lebih matang ingin menikah saja ? namun saya takut bila mereka tetap tidak memberi ijin dan saya tidak mau jadi anak durhaka kalau saya tidak menuruti mereka. Terima kasih ustad
    Wassalamuallaikum

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,wa’alaikum Salaam warahmatullah, jika anda yakin dengan pasti dengan menikah akan memberikan manfaat bagi anda dan ibu anda seperti yang anda inginkan dan dilain sisi anda sudah memenuhi syarat untuk menikah yang salah satunya dengan adanya kesiapan harta, mental dan terutama ilmu agama terkhusus seputar pernikahan, maka jika anda segerakan menikahinya in syaa allah gak masalah atau bahkan malah baik bagi anda dan keluarga anda . sebab laki-laki tidak butuh wali dan ridho siapapun untuk menikah, berbeda dengan wanita yang tetap membutuhkan wali bagaimanapun keadaannya. namun jika anda tetap memberi pengertian kepada ibu dan kakak anda agar beliau-beliau ridho tentunya hal itu akan menjadi pelengkap kebahagiaan anda nantinya.kalau anda tidak mampu meyakinkan beliau sebaiknya anda mencari pihak ketiga dari kerabat anda atau siapapun yang berilmu agama untuk membantu anda meyakinkan ibu dan kakak anda bahwa dia adalah calon wanita pilihan yang terbaik bagi anda dan dengan menikahinya in syaa Allah akan ada manfaat yang besar bagi semuanya, tentunya hal itu dilakukan setelah anda beristikhoroh meminta petunjuk kepada Allah Ta’ala tentang calon anda. Allahua’lam Baarokallahu fiik

  • lovi says:

    Asalamualaikum ustad, saya berumur 20 thun jalan 21 masih tinggal dgn ortu dan saya masih kuliah, calon saya umur 21 jalan 22, saya sudah membaca artikel ustad yang diatas, saya bingung hrus ngmong gmna sama ortu sya bhwa sya ingin menikah, ortu sya blum stuju krna umur saya yang masih muda, saya masih kuliah dan calon saya belum pmya krjaan tetap tpi calon saya siap menafkahi saya, tahun kmren calon saya mmbwa ibunya untuk melamar saya ke ibu saya tapi ibu saya meminta wktu 3 thun utk meyakinkan ayah saya supaya setuju, sdgnkan calon saya tdk mw menunggu wktu yg lama,calon saya slalu menekan saya untuk brbicara membujuk ortu saya agar di setujuin, tpi saya tkut utk ngbrol soal nikah, saya slalu dibentak setiap saya ingin brbicara soal nikah, ayah saya sllu marah, prtnyaannya bnyak bnget mw makan apa stlh nikah mw dkasih apa dsbnya , saya harus gmna utk memulai brbicara soal nikah, gmna trik jitu agar ortu saya setuju dan mmbuka hati agar setujuin saya menikah tlong bntuan ustad makasih

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah, kalau memang belum punya harta, sebaiknya ditunda dulu hingga punya harta yang cukup. sebab memiliki harta untuk keperluan menikah juga termasuk salah satu syarat untuk menikah, tidak harus banyak, tapi sekedar cukup untuk keperluan menikah sudah cukup baginya. dan kalian berdua harus sabar menunggu hingga Allah Ta’ala memberikan kemampuan kepada kalian, STOP dulu pacaran hingga semua dihalalkan Syari’at. jangan berlama-lama dalam berma’shiyat (pacaran),dan nasehat kami buat calon anda agar bersungguh-sungguhlah mengumpulkan harta untuk bekal menikah,misalkan diupayakan memiliki penghasilan tetap dahulu,bukannya kita tidak percaya pada janji Allah Ta’ala yang pasti akan mencukupi kita nantinya,tapi semata-mata agar jalan anda nantinya akan berjalan lancar dan semuanya jadi ridho,hendaknya semenjak sekarang calon anda mempersiapkan dulu bekal-bekal pernikahan, baik harta,fisik, mental dan terutama ilmu agama seputar pernikahan. setelah dirasa cukup dan siap ,kami yakin akan lebih PD untuk mengutarakan rencana anda pada orang tua dan jika sudah dapat restu maka segerakan menikah. Allahua’lam semoga dimudahkan

  • irumifaviana says:

    Bismillah, saya mau bertanya ust, saya berumur 20 tahun dan sekarang masih kuliah, namun saya sudah ada keinginan menikah.. saya tertarik dengan seorang ikhwan imam masjid dekat rumah saya. Jujur hal yang membuat saya tertarik karena dia seorang hafizh dan bacaan alqurannya bagus, saya juga suka menghafal alquran walaupun belum semuanya seperti dia, saya merasa sepaham dengannya.. saya ingin menikah dengan dia ust, namun setelah saya bicarakan dengan ortu saya mereka tidak menyetujui ikhwan tsb, alasan ortu saya adl krn ikhwan tsb tidak bagus akhlaknya lalu dia juga tidak punya penghasilan tetap, selain itu ketika saya bilang sm ikhwan itu ortu saya tdk stuju dia hanya bilang sabar dan lihat saja nanti. Ortu saya mengetahui yang dikatakan ikhwan tsb dan akhirnya ayah saya marah besar dan menganggap ikhwan ini sudah berani2 membantahnya sampai2 saya tidak diizinkan ke masjid tempat ikhwan tsb biasa mnjd imam solat. Saya bingung ust, padahal kenyataannya ikhwan tsb mnurut saya baik, saya suka dengan prilakunya yang kalau ngomong itu sesuai dalil dan kedekatannya dgn alquran, hanya saja dia suka bercanda yang kbanyakan org menganggap candaan itu serius. Lalu juga kekhawatiran orgtua saya krn dia orang bangka belitung sdgkan saya oranh padang. Mama saya takut saya dibawa ke bangka dan tidak kembali lagi ke padang. Mohon pencerahannya ust…
    Syukron katsiron…….

    • Al Lijazy says:

      bismillah, kalau alasan ortu anda tidak setuju dengan alasan seperti ysng anda ceritakan, yakni dia tidak baik akhlaqnya serta belum memiliki penghasilan tetap, kami rasa itu alasan yang wajar bagi seorang wali terhadap putrinya. dan tidak bisa disalahkan, sebab syari’at juga menganjurkan memilih jodoh yang baik akhlaq dan agamanya, serta sudah memiliki kemampuan finansial untuk menikah. maka dari itu kami sarankan anda untuk bersabar menunggu jodohnya dengan tidak gegabah dalam memilih. mohonlah kepada Allah Ta’ala dengan istikhoroh krpadaNya dengan tetap mempertahankan dan meningkatkan keta’atan kepadaNya, in syaa Allah nanti pasti Allah Ta’ala memilihkan jodoh yang terbaik buat anda. Allahua’lam baarokallahu fiik

  • wati says:

    assalamualaikum ustad, saya memiliki masalah yang sangat rumit sekali.
    umur kami terpaut jauh yaitu 8 tahun, skrang saya berumur 22 tahun dan dia 30 tahun, insyaAllah dia laki-laki soleh, berpendidikan agama, mengerti agama, 8 tahun pula saya mengenalnya walaupun hanya sekedar lewat hp atau fb,kadang bermain ke rumah minimal 2 kali satu tahun. dan sudah 8 tahun dia menunggu saya dari smp sampai sekarang saya masih kuliah semester 6. dia sudah sangat serius untuk menikah dengan saya dan saya pun setuju untk menikah dengannya. awalnya orang tua saya mengajukan suatu pertanyaan kepada dia “apakah kamu sanggup menunggu anak saya sampai lulus kuliah?” dia menjawab “Ya”.
    suatu ketika dia mengatakan ingin segera menikah dengan alasan umur dia sepatutnya sudah menikah, dan syahwatnya sudah tidak bisa ditahan. yang dia takutkan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan (berzina).
    suatu ketika dia datang kerumah untuk membicarakan hal serius tentang pernikahan, dan ingin menikahi saya pada tahun ini, orang tua saya merestui hubungan kami tetapi tidak mengijinkan untuk tahun ini, orang tua beralasan katanya kalo nikah berarti saya tidak menyayangi mereka yang sudah membesarkan dan menyekolahkan saya sampai sekarang banting tulang mencari nafkah untuk sekolah saya, dan dia tidak mau dipandang rendah oleh orang lain tentang dia menikahkan saya yang masih kuliah.
    disisi lain saya tidak mau menjadi anak yang durhaka kepada orang tua, dan disisi lain saya sangat menyayangi dia dan saya meyakini kalo dia akan menjadi suami yang baik bagi saya yang mengerti agama yang akan membimbing saya kepada jalan yang baik.
    saya sudah berusa berbicara kepada orang tua saya tentang rencana kami untuk menikah, tetapi orang tua tetap dengan prinsipnya tidak akan menikahkan anaknya sebelum lulus kuliah, sedangkan dia ingin cepat segera menikah, jika orang tua saya tidak mengijinkan pada tahun ini, berarti orang tua saya tidak menyetujui hubungan kami. dan dia akan berhenti melanjutkan hubungan kami, dan akan minta dijodohkan pada ustadnya. sampai saat ini dia masih memeprtahankan hubungan kami untuk mengetahui kejelasannya dari orang tua saya, dan dia masih sangat menginginkan untuk menikah dengan saya, dan alasan lain dia ingin cepat menikah karena keadaan orang tua nya yang sudah berumur sangat uzur.

    pertanyaan saya, apa yang harus saya lakukan pada posisi saya saat ini?

    terimakasih, wassalamualaikum

    • Al Lijazy says:

      Wa’alaikum Salaam warahmatullah,
      Sebenarnya kuliah itu bukan satu hal yang bisa dijadikan alasan untuk ditundanya pernikahan. Jika keduanya sudah siap dan telah memenuhi syarat untuk menikah baik lahir maupun batin maka segeralah menikah, sebab dengan menikah nantinya in syaa Allah akan terbuka banyak pintu kebaikan,namun menimbang kendala yang anda ceritakan,yakni ortu anda tidak merestui hingga anda lulus kuliah,maka saran kami anda tunggu aja sampai waktu yang memungkinkan kalian untuk menikah, kalau cuma sampai lulus kuliah, itu waktu yang tidak lama. sabar dan tahan dulu tidak usah ketemu, atau putus sementara hingga waktu pernikahan tiba, agar tidak terjerumus kedalam perbuatan yang tidak diinginkan. Jadi, anda harus bersabar hingga waktunya tiba, agar semua pihak sama-sama lega dan jalan kalian tidak ada hambatan lagi.,jika ada ancaman dari calon anda jika tidak direstui dia akan memutuskan hubungan dengan anda, saran kami biarkan aja, itu tandanya calon anda tidak benar-benar mencintai anda, buktinya tidak mau sabar menunggu anda lulus demi kemashlahatan banyak pihak terutama kalian sendiri nantinya. sabar saja, in syaa Allah pasti nanti Allah Ta’ala akan ganti yang lebih baik buat anda.
      Namun Jika anda ingin bersikeras ingin mempertahankan calon anda tersebut, kami sarankan adakan musyawarah keluarga besar, bila perlu anda cari pihak ketiga yang bisa membantu menjembatani antara anda dan ortu anda. Intinya secara syar’i anda tetap memiliki hak untuk punya keinginan menikah demi mashlahat pada diri anda dan juga berhak untuk memilih calon pasangan hidup anda, namun tidak ada salahnya tetap memperhatikan mudharat dan mashlahat dengan keluarga besar anda, maka itu semoga dengan adanya musyawarah keluarga akan ada jalan keluar yang terbaik nantinya in syaa Allah.
      Untuk Selanjutnya Kami anjurkan anda untuk shalat istikharah meminta petunjuk Allah Ta’ala dan memohon kemudahan dariNya, hanya Allah Ta’ala saja yang bisa membukakan hati manusia yang masih tertutup. Pastikan sebelum istikharah pilihan anda adalah laki-laki yang shalih dan sesuai dengan kriteria syari’ah dan bersabarlah setelah berdo’a sambil menunggu jawaban dari Allah Ta’ala, jangan menunggu jawaban Allah Ta’ala sambil bermaksiat kepadanya misalkan dengan tetap berpacaran dengannya, stop pacaran sampai dia sudah menjadi halal bagi anda. Setelah Allah Ta’ala nantinya memutuskan sesuatu kepada anda dengan kemantaban hati baru silahkan anda yakinkan orang tuan anda bahwa calon anda adalah pilihan Allah untuk anda. Dan andapun sudah siap untuk menikah. Allahua’lam, semoga dimudahkan

      • wati says:

        kami pernah musyawarah, tapi tanpa ada pihak ketiga. orang tua saya tetap harga mati harus lulus. dan yang kedua kalinya saya mencoba untuk menjelaskan dengan cara mengirim surat dengan menjelaskan tentang anjuran menikah menurut agama, orang tua saya tetap harga mati harus lulus. dan mereka bilang menikahkan saya tidak mau sembarangan dalam artian biasa saja(intinya gengsi kalo biasa saja). saya sudah berikan penjelasan tentang hal ini masalah gengsi, tetap saja tidak ada perubahan. hati mereka tetap keras. dikeluarga saya tidak ada yg mendukung untuk menikah, tidak ada yang membantu berbicara termasuk kakak saya. sekiranya orang ketiga yg seperti apa yg bisa dimintai bantuan, dan bagaimana caranya.?
        calon saya sedang konsultasi pada murrobi nya, gimana baiknya.
        tetapi yg saya tangkap pembicaraan calon saya dan orang tua saya. mereka itu saling menyalahkan. calon saya menjelakan secara syariat agama, dan orang tua saya secara status sosial. orang tua saya mengerti hal anjuran menikah dalam syariat, tetapi mereka tetap memikirkan realita sosialnya.
        saya bingung disisi lain itu orang tua saya, tapi mereka juga salah mementingkan sosial, sudah saya ingatkan tetapi tetap saja.
        pihak ketiga yang seperti gimna?

  • Siti says:

    Assalamualaikum ustadz.. Saya memiliki masalah yang tidak tau bagaimana solusinya.. Saya dan pasangan saya sudah berniat menikah dari tahun kemarin.. Pertama2 saya mengutarakan niat saya menikah setelah kuliah kepada orang tua saya.. Dan orang tua saya menyetujuinya.. Setelah saya lulus, pasangan saya datang kerumah untuk meminta ijin menikahi saya.. Dan di ijinkan menikah.. Tetapi menunggu keputusan kakak saya, mau dilangkahi atau tidak.. Kalau ternyata kakak saya masih lama, saya diperbolehkan menikah dahulu.. Kemudian orang tua bertanya pada kakak, dan kakak tidak mau di dahului apapun alasannya.. Dia akan menikah akhir tahun ini.. Dan saya bserta pasangan sudah menyiapkan akan menikah setelah lebaran.. Apa yang saya harus lakukan ustadz? Saya takut menambah dosa.. Tp dari pihak kluarga disuruh menunggu tahun depan.. Pdahal saya sudah menunggu lebih dari 1 tahun untuk menikah.. Dan posisi pasangan saya sedang bkerja di luar pulau.. Dia sudah memohon untuk menikahi saya, tp ditolak dengan alasan kakak tsb.. Saya bingung ustadz, menikah segera tidak bisa karna tidak direstui, tetapi kalau mengundur lagi kami tidak bisa, kami takut dosa.. Apa yg harus saya lakukan ustadz? Bicara dari hatibke hati sudah saya lakukan ke kakak saya, tp malah saya dicaci maki, di do’ain hidupnya gak tentram kalo mendahului.. Bicara hati ke hati dengan orang tua.. Saya pun disalah2 kan karena tidak bisa sabar..

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah, tolong sampaikan pesan kami pada keluarga anda bahwa kalau memang sudah siap menikah dan sudah terpenuhi syarat-syaratnya maka segerakan saja menikahnya. Sebab perintah Rasulullah adalah menyegerakan nikah bagi yang sudah mampu seperti dalam sabda beliau
      يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ منكم الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
      “Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang sudah mampu menanggung nafkah, hendaknya dia menikah. Karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sementara siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa. Karena itu bisa menjadi tameng syahwat baginya.” (HR. Bukhari 5065 dan Muslim 1400).
      Tentang adat-istiadat yang melarang melangkahi saudara tua, menjaga perasaan saudara tua, menghindari mitos tidak baik perempuan dilangkah, menjaga pandangan orang terhadap kakak perempuannya yang dilangkah, dst.. maka semuanya bukanlah alasan-alasan syar’i yang bisa membuat pernikahan ditunda. Ketentuan-ketentuan tersebut bukanlah hukum islam dan seorang muslim hanya wajib terikat dengan hukum Allah saja, tidak ada yang lain. Allah berfirman;
      وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
      Dan hendaklah kkalian memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Al-Maidah; 49)

      Namun jika upaya nasehat ini belum membuahkan hasil coba langkah kedua yaitu adakan musyawarah keluarga besar, bila perlu anda cari pihak ketiga dari kerabat maupun yang lain yang faham agama yang bisa membantu menjembatani antara anda dan keluarga anda, semoga dengan adanya musyawarah keluarga akan ada jalan keluar yang terbaik nantinya in syaa Allah.
      Kalau langkah kedua belum ada titik terang dan mereka masih bersikukuh dengan sikapnya, maka jalan terakhir adalah bersabar demi mashlahat anda dan keluarga serta menghindari mudhorot yang akan terjadi nantinya jika anda terus maju. Anjurkan calon anda untuk bersabar hingga sampai waktunya, jika dia berat mengendalikan syahwat, maka anjurkan untuk sering berpuasa, in syaa Allah dengan berpuasa akan meredam syahwat. Selain itu hindari washilah-washilah yang bisa memunculkan syahwat dari gambar-gambar , film-film dan selainnya.diantara washilah yang bisa membangkitkan syahwat adalah pacaran dan seringnya bertemu dan berkomunikasi. Maka itu hentikan pacaran sampai tiba waktu pernikahan tiba.
      Untuk Selanjutnya Kami anjurkan anda untuk shalat istikharah meminta petunjuk Allah Ta’ala dan memohon kemudahan dariNya, hanya Allah Ta’ala saja yang bisa membukakan hati manusia yang masih tertutup. Pastikan sebelum istikharah pilihan anda adalah laki-laki yang shalih dan sesuai dengan kriteria syari’ah dan bersabarlah setelah berdo’a sambil menunggu jawaban dari Allah Ta’ala, jangan menunggu jawaban Allah Ta’ala sambil bermaksiat kepadanya misalkan dengan tetap berpacaran dengannya, STOP pacaran sampai dia sudah menjadi halal bagi anda. Setelah Allah Ta’ala nantinya memutuskan sesuatu kepada anda dengan kemantapan hati baru silahkan anda yakinkan orang tuan anda bahwa calon anda adalah pilihan Allah untuk anda. Dan andapun sudah siap untuk menikah. Allahua’lam, semoga dimudahkan

  • Maulana says:

    Assalamualaikum ustadz.. Saya mau tanya, ada hal yang sangat mengganggu saya.
    Saya punya seorang ibu yg suka marah dan menyumpahi anaknya. Suatu kali saya disumpahi akan jadi bujang tua dan tak kan pernah bisa menikah, ternyata laknatnya itu.benar2 terjadi ustadz, diusia saya yang menginjak 31 tahun jodoh tak kunjung datang,padahal usaha dan ikhtiar sudah saya lakukan…
    Yg ingin saya tanyakan, bgaimna cara saya agar sumpah ibu saya itu bisa dicabut. Terus terang saya sebagai anak tersiksa sekali dengan sumpahan itu.. Mohon pencerahannya ustadz.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum salam warahmatullah..

      tolong sampaikan ke ibu anda bahwa Islam melarang orang tua melaknat anak-anak mereka, bukan hanya itu, kitapun dilarang menyumpahi diri kita sendiri ketika kita marah karena sesungguhnya kita tidak mengetahui kapan saatnya perkataan ataupun do’a (baik maupun buruk) yang kita ucapkan akan di kabulkan.

      Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu anhu, dia menceritakan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam telah bersabda:

      ”Janganlah kalian menyumpahi diri kalian, dan jangan pula menyumpahi anak-anak kalian dan harta kalian, kalian tidak mengetahui saat permintaan (do’a) dikabulkan,sehingga Allah akan mengabulkan sumpah itu” (HR.Muslim)

      Hadits diatas menjelaskan bahwa ada waktu-waktu baik yang didalamnya akan dikabulkan doa, karena itu hadits ini melarang kita untuk menyumpahi diri, putera-puteri kita, dan harta kekayaan kita, supaya sumpah itu tidak bertepatan dengan waktu pengabulan do’a sehingga selamat dari bahaya.
      Meskipun beliau beralasan bahwa sebenarnya beliau tidak bermaksud demikian. Padahal sebagaimana kita ketahui alasan tersebut tidak dapat diterima karena larangannya telah jelas dan tegas.
      Sebagai pelajaran saja bagi kita bahwa ada beberapa kisah kejadian nyata yang kita pernah mendengarnya bahwa di suatu daerah terdapat berita tentang kematian seorang anak karena tersambar petir, dan sebab kematian seorang anak tersebut ternyata adalah akibat dari sumpah ibunya sendiri yang pada waktu ketika ia marah ia menyumpahi anaknya agar tersambar petir. wal iyyadzu billah…akhirnya sumpahnya tersebut dikabulkan Allah dan menyesallah sang ibu dengan penyesalan yang teramat mendalam. Nasi sudah menjadi bubur…..

      Di lain tempat juga dikabarkan ada Seorang anak laki-laki berusia kira-kira 7 tahun ditemukan tewas tenggelam di sungai. Peristiwa kejadiannya pun demikian anak tersebut terkena sumpah ibunya.

      Ibunya yang marah mendoakan kematian bagi anaknya tersebut. Dalam hujan gerimis anak itupun keluar bermain dengan kawan-kawannya ketika dia berjalan ditepian sungai malang kakinya tergelincir tenggelamlah ia kedalamnya. Kawan-kawannya tak kuasa menolongnya mereka berusaha mencari pertolongan orang dewasa, akhirnya sang anakpun terangkat ke tepi akan tetapi dia telah meninggal karena terlalu banyak menelan air sungai dan meraunglah sang ibu…..dengan ucapan bahwa dia tidak bersungguh-sungguh menyumpahi anaknya….semua orang yang hadir hanya lah terhenyak… ya … kiranya sumpah dan laknat telah menjadi budaya bagi kaum kaum ibu. Sehingga sangatlah disesalkan anak-anak mereka menjadi korban. Semoga kisah-kisah tadi akan menjadi bahan renungan bagi ibu anda.
      Tentang kejadian yang menimpa anda, kami tidak tahu apakah itu bentuk terkabulnya laknat ibu anda atau bukan hanya Allah Ta’ala yang tahu, saran kami sebaiknya anda segera datang ke ibu anda,minta maaf dan minta ridhonya kembali,minta beliau untuk mencabut sumpahnya serta mohonlah do’a kebaikan dari beliau, serta bertaubat pada Allah Ta’ala.
      Ingatlah bahwa ridho Allah Ta’ala bersama ridho beliau, seperti dalam hadits,
      وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا-, عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ ) أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ
      “Dari Abdullah Ibnu Amar al-‘Ash Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Keridloan Allah tergantung kepada keridloan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim.”
      Saran kami buat anda,Berbuat baiklah secara maksimal kepada kedua orang tua anda meskipun mereka memiliki kebiasaan yang tidak baik,sambil kita iringi dengan nasehat dengan penuh kasih sayang terhadap mereka, serta hendaknya selalu mencari keridhoanya dengan memberikan penghargaan dan penghormatan dalam batas – batas yang halal dan tidak dalam menentang syari’at, sebab pengorbanan kita ini sebagai anak belumlah seberapa kalau dibandingkan dengan pengorbannan orang tua orang tua kepada kita dalam memberikan asuhan dan kasih sayang dan pendidikan hingga kita bisa seperti ini. Allahua’lam baarokallahu fiikum

  • Ria says:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh pak Ustadz..
    Sy ria, berusia 27th. Calon sy berusia 34 th. Kami adalah pemuda pemudi yang sebelumnya berada dalam pergaulan anak muda yang dekat dengan musik, club malam dan jauh dari agama. bahkan saya dulunya mengikuti agama non islam dari ayah saya sebelum akhirnya sy menjadi mualaf th 2013 atas kemauan sendiri.
    Alhamdulillah Allah memberi kami hidayah dan qadarullah setelah berkenalan, kami baru tau bahwa kami belajar di majelis yang sama setiap rabu malam di al-azhar. Dari sana kami belajar ilmu agama berdasarkan al-Qur’an dan sunnah. Berlandaskan kesamaan dari segi agama itu, kami memutuskan untuk berta’aruf.
    Saya pribadi menyukai dia karena sesuai dengan kriteria saya yg ingin bersuamikan seorang yang hatinya condong pada Allah dan berbakti pada ibunya. Ia juga sosok yang dengan caranya yg tegas, selalu berupaya meluruskan akidah saya, bergantung pada Allah, yakin pada Allah, selalu mengingatkan untuk sami’na wa atho’na pada aturan Allah dan Rasulullah SAW. Sy merasa dialah sosok yang dapat sy andalkan untuk memimpin sy terutama dalam hal keimanan, walaupun dia masih terkadang emosian/sensitif/tidak sabaran (mungkin itu kekurangan atau sesuatu yg perlu diperbaikinya).
    Akhirnya kami berproses menuju pernikahan dgn cara syar’i sejak Februari 2016.
    Kami mengawali dgn bertukar CV, berkomunikasi awal dengan bantuan sahabat sy yg sudah menikah, lalu ia nadzhor kerumah saya bertemu dgn Ibu saya. Saat itu respons ibu saya baik, sehingga kami yakin dan berencana maju ke proses khitbah.
    Calon saya dan saya ingin menyegerakan nikah untuk menghindari fitnah. Untuk itu, ia meminta ijin utk berkomunikasi langsung dengan ibu saya utk apapun proses selanjutnya menuju nikah. Sy setuju dan itulah yg selanjutnya ia lakukan.
    Namun qadarullah, akhir-akhir ini sikap ibu saya berubah. Dari yang tadinya positif, menjadi cenderung negatif. Dari hasil mengamati ibu dan mendengar cerita dari guru ngaji sy yang dicurhati ibu, perubahan sikap ibu saya kemungkinan besar terjadi karena:
    1. Calon saya terkesan memburu-buru. Ibu saya kurang suka saat ia menelepon di saat yang tidak tepat yaitu saat ibu sy lagi sibuk. Juga kurang suka dengan nada bicara/jawaban calon saya di telepon. Pernah suatu saat,kt guru ngaji, ibu saya ditelepon calon saya, lalu ibu saya agak lupa dengannya dan waktu itu ibu saya lagi bersiap kondangan.. qadarullah, calon sy merespons lupanya ibu saya itu dengan jawaban/mungkin nada bicara yang mengenai perasaan ibu saya sehingga kesan yang muncul jadi kurang simpatik.
    2. Waktu calon sy bersilaturahim kerumah sy dengan tujuan nadzhor, calon sy mengakui bahwa ia lose control dalam menghadapi ibu saya yang masih kurang paham dalam ilmu syar’i. Waktu itu ibu saya jadi merasa didakwahi oleh calon sya dan mereka sempat ber argue dalam hal tradisi2 sosial yang masih dikedepankan ibu sy sementara calon sy berupaya memberitahukan aturan islam yang benar dan murni. Di situ, ibu sy merasa calon sy terlalu fanatik dan mungkin disanalah awal mula ibu mulai mengkaitkan hijrahnya saya yaitu karena dicuci otak oleh calon sy. Begini pak Ustadz, sy qadarullah dan alhamdulillah memutuskan utk keluar dari bank konvensional. Alasan sy adalah meninggalkan keraguan di hati yg mulai muncul setelah sy mendapat ilmu ttg haramnya riba. Sy juga capek kerja plg malam terus dan ingin jika menikah dpt menjalani peran yg baik sbg istri/ibu. Sejak itu sy ragu bahwa sy benar/tidak bekerja di bidang riba. Saat sy bertemu dgn calon sy, qadarullah ia sangat mendukung waktu sy mengutarakan keinginan utk keluar dari bank. Dan qadarullah hal itu jugalah yg sebenarnya ingin ia tanyakan sbg syarat pranikah, bahwa apakah sy mau keluar dari bank. Krn ia tidak ingin memasukkan unsur2 haram dalam keluarga kami nantinya. Disana sy memperoleh dukungan yang menguatkan bahwa sy sedang melakukan sesuatu yg Allah ridho dan tidak perlu ada kekhawatiran mengenai rezeki.
    Akhirnya saya berhenti bekerja di bank dan kini sedang merintis usaha kuliner. Namun ibu saya memang seorang yg khawatiran. Ditambah kondisi keluarga yang kakak2 sy 3 laki2 agama non muslim, jarang sekali memberikan nafkah utk ibu saya. Ayah saya sudah meninggal. Selama ini ibu sy bergantung nafkah pada saya.
    Melihat sy sudah ga kerja di bank, ibu sy sempat drop dan berpikir sy ga ada masa depannya. Sy lalu dianggap memberatkan pikirannya. Dalam kekecewaan saya mendengar itu, sy mencoba menjelaskan spy ibu sy bersabar. Sy minta tolong spy ibu sy percaya pada Allah dan ibu doakan sy yg sedang merintis. Tercampur2nya kekhawatiran ibu saya itu, membuat calon saya turut disalah-salahkan oleh ibu saya.
    Saya tidak paham apa yang dibicarakan/dikomunikasikan calon sy dengan ibu saya krn waktu mereka ngobrol sy sedang kerja di kantor.
    3. Mengenai pekerjaan calon sy, ibu tampak kurang sreg. Sy memang sungkan bertanya pada calon sy mengenai pekerjaan dia dan apa aktivitasnya sehari2 dalam hal mencari nafkah. Yg saya tau, dia bekerja apa saja membantu usaha teman2nya, ada saja rejeki dari Allah, dia lebih suka belajar agama, dia keluar dan menolak beberapa tawaran pkerjaan yang masih ada kaitannya dengan riba atau sesuatu yg Allah haramkan (restoran yang masih menjual khamr, menggunakan saus yang berbahan sake), dan dia sempat mengutarakan keinginan utk membuka kedai usaha kuliner namun memang ia bilang ia butuh partner jika ingin berikhtiar dlm bidang bisnis. Dan ia berharap dapat membuka kedainya nanti bersama saya. Dari apa yang ia utarakan itu, sy menilai ia butuh dukungan saya. Dan alhamdulillah sy dapat menerima, sy senang2 saja krn saya memang suka bidang usaha/bisnis dan senang jika bisa share ilmu/skill bisnis saya kepadanya.
    Akan tetapi, sy kurang paham mengapa ibu saya kurang sreg dlm hal pekerjaan ini.. apakah karena calon sy kurang dapat meyakinkan ibu bahwa ia mempunyai penghasilan utk menafkahi saya walaupun ia seorang freelancer dan tidak mempunyai pekerjaan tetap.
    Dalam hati, sy berharap calon sy dapat bersikap lebih optimis, positive thinking dan lebih percaya diri utk mengutarakan ikhtiar2 apa saja yang akan dia lakukan utk menafkahi saya. Maksud saya, spy hati ibu sy menjadi tenang saja dulu. Ibu saya pada dasarnya hanya butuh ditenangkan, ia juga ingin lawan bicaranya berbicara dengan tenang, sopan, dan sabar.
    Pak ustadz, bagaimana caranya sy dapat mengutarakan ini pada calon sy. Saya khawatir ia tersinggung dan kecewa lagi. Krn sy pun memahami, kondisi ibu sy dan keluarga sy bukan termasuk mudah untuk ia hadapi selama ini, krn mindset kluarga sy yg masih sangat minim dalam ilmu agama, terutama yg syar’i. sehingga utk masuk dalam pembicaraan pernikahan yang syar’i dan sederhana perlu ia dahului panjang lebar dengan penjelasan bahwa islam tidak memberatkan pernikahan dengan urusan tradisi/sosial/ada istiadat/mengharuskan adanya pesta. Di satu sisi, hal itu tidak begitu saja mudah diterima oleh ibu sy yang belum belajar ilmu syar’i.
    Pak Ustadz, sy juga mau tanya, apakah dari penjabaran sy di atas, calon sy termasuk seorang yang baik dari segi agama dan ahklak? Krn sy jadi sempat berpikir apakah sikap negatif ibu sya merupakan alarm bahwa agama/akhklaknya calon sy belum baik..
    Kalau dari penjelasan sy di atas, apa yang sebaiknya harus diperbaiki oleh calon sy?
    Apakah alasan ibu saya sehingga menjadi negatif itu merupakan alasan yang syar’i?
    Terakhir, setelah berdoa dan meminta pertolongan Allah, ikhtiar apa yang seharusnya kami lakukan ya Pak? apakah calon sy perlu terlebih dahulu datang ke guru ngaji yg selama ini disegani ibu saya utk meminta bantuan berbicara pada ibu saya?
    Mohon maaf pak ustadz, penjelasannya panjang. Terima kasih atas bantuan pak Ustadz, jazakallah khayr, barakallahufiik..

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,wa’alaikum Salaam warahmatullahi wabarokaatuhu,pertama sebelumnya kami bersyukurkepada Allah Ta’ala atas hijrah kalian menuju jalan Allah Ta’ala, semoga kalian bisa istiqomah dalam menjaga dan selalu meningkatkan ketaqwaan dengan sebab hidayah yang agung ini.
      Dari curhat anda point yang kami tangkap
      Pertama: bahwa ibu anda tidak suka dengan sikap calon anda yang seperti anda ceritakan
      Kedua : Ibu anda belum yakin tentang apakah calon anda akan mampu mencukupi dan membahagiakan anda dari sisi dunia
      Ketiga : keraguan anda tentang baik tidaknya calon anda dengan sebab isyarat dari ibu anda
      Komentar kami untuk yang pertama, yang menjadi penilaian kami adalah dari sisi dzhirnya dahulu yaitu seperti yang kami tangkap dari keterangan anda bahwa alhamdulillah dia sudah bermanhaj ahlu sunnah dan menjalankan agama ini diatas bimbingan al qur’an dan sunnah, itu sudah menjadi point utama dalam mencari calon suami,yang nantinya dia mampu untuk menjadi imam anda dan keluarga, sebab pada kenyataannnya, sedikit sekali manusia yang mendapatkan hidayah bisa menjalankan islam ini atas dasar al quran dan sunnah secara murni dan tunduk sepenuhnya, maka dari itu calon anda tersebut merupakan satu bagian yang sedikit orang yang telah mendapatkan hidayah besar dari Allah Ta’ala, maka dengan sebab satu ini saja sudah cukup menjadi alasan untuk pantas di pertahankan bahkan diperjuangkan.
      Mengenai kejadian yang anda ceritakan tentang kecewanya ibu anda terhadapnya,kami rasa ini masalah tabi’at yang in syaa Allah bisa dirubah, apalagi secara prinsip pokok calon anda sudah berpegang teguh dengan al qur’an dan sunnah akan lebih mudah untuk merubah tabiat menuju yang lebih baik, saran kami coba anda ceritakan lagi kejadian ini kepada calon anda, agar dia mengerti pont-point yang harus dia perbaiki, setelah itu hendaknya calon anda segera berbicara dengan ibu anda dengan sebelumnya mengutarakan permintaan maaf atas sikapnya yang mungkin membuat ibu anda tersinggung atau tidak suka, jelaskan bahwa semua itu tidak ada maksud apa-apa kecuali hanya kebaikan. Dan dia siap mengikuti alur pikiran ibu anda selama tidak bertentangan dengan syari’at, jika nanti dijumpai pemikiran-pemikiran ibu anda yang bertentangan dengan syari’at maka tolong jangan langsung di tentang, apalagi dengan sikap yang keras dan menggurui, sampaikan nasehat sesuai dosisnya dan dengan cara yang bijak agar agama ini tidak terkesan ekstrim, menakutkan dan selalu menyalahkan, apalagi berbicara dengan beliau selaku orang awam dan sudah tua, disinilah butuhnya kecakapan seorang da’I dalam menyampaikan agama, mungkin calon anda perlu diskusi dan nasehat khusus dari ustadnya tentang bagaimana kiat-kiat dalam berdakwah, yang intinya adalah butuh kesabaran.
      Setelah itu untuk point kedua, sampaikan ke calon anda untuk lebih fokus mencari nafkah dan bekal duniawi untuk menikah, bagaimanapun harta juga menjadi syarat untuk menikah, mulailah merintis maisyah jika mampu meskipun hasilnya belum menentu, dan tetap sabar diatasnya,yang jelas judulnya kita dimata Allah Ta’ala dan manusia sedang melakukan ikhtiyar untuk menjadi yang lebih baik, masalah hasil tentunya kita pasrah dan tawakkal kepadaNya. Dari sini kita harapkan ibu anda sudah mulai luluh hatinya melihat kesungguhan calon anda.
      Untuk yang ketiga, tentang keraguan anda terhadap baik atau tidaknya calon anda dengan sebab isyarat dari ibu anda, komentar kami, kami hanya mampu menilai seseorang hanya dari dzahirnya, selama dzahirnya dia orang yang bertaqwa, berarti kita anggap baik, untuk urusan bathinnya kita serahkan pada Allah Ta’ala, namun untuk keraguan anda apakan dia sebenarnya calon suami yang baik atau tidak, maka disinilah anda butuh sekali untuk istikhoroh pada Allah Ta’ala, lakukan sholat dua roka’at dan mohonlah dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar Allah memilihkan jodoh yang terbaik buat anda dan keluarga besar anda. Dan sebut nama calon anda dalam do’a istikhoroh anda kepada Allah Ta’ala danminta pilihkan yan g terbaik dariNya untuk laki-laki ini , mintalah ketetapan hati dan langkah kepadaNya dan setelah itu serahkan semua urusannya kepadaNya. Allahua’lam semoga dimudahkan.

  • Siti alimah says:

    Asslmmualaikm,saya perempuan berusia 19 thn,saya mempunyai pasangan berumur 37 tahun,dia sdh mempunyai keluarga,namun ia punya niatan beristri dua san yang ingin di jadikan istri keduanya adalah saya,dia sudh meminta ijin pada istri pertamanya dan istri pertamanya mengijinkannya,namun orang tua saya melarang saya menikah dengan laki2 itu dengan alasan laki2 itu sudah berkeluarga,namun hati saya ingin memilih dia sebagai suami saya,dia sudh menjelaskan kepda ortu saya bahwa istri pertamanya pun mengijinkan,namun ortu saya tidak mengerti akan niat baik laki2 itu ortu saya tetap melarang,dan bersumpah tidak akan merestui saya,lantas saya harus bagai mana?
    Menuruti orang tua atau menuruti kehendak saya,saya sangat ingin menikah dengan laki2 itu,

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,Wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Meyakinkan orang tua agar putrinya boleh dijadikan istri kedua (poligami) bukan sesuatu yang mudah, butuh kesabaran dalam menjelaskan kepada mereka tentang hukum poligami dalam islam dan hak-hak serta kewajiban yang harus ada pada keluarga yang berpoligami, ini butuh fiqih yang cukup untuk bisa menjelaskan kepada orang tua, terutama untuk pelaku poligami itu sendiri harus bener-bener tahu hukum seputar poligami dalam islam, agar nantinya tidak ada penyimpangan syari’at didalamnya baik dari penelantaran hak maupun bentuk kedzaliman.
      Sepertinya anda butuh orang ketiga untuk membantu menjelaskan kepada orang tua anda. Memang secara hukum islam anda berhak menentukan calon pilihan anda, tapi anda juga tidak bisa menikah jika tanpa wali. Nah..disini keridhaan wali yang harus di upayakan ada. Sebab bagaimanapun mashlahat dan mudharat juga harus menjadi bahan pertimbangan demi kelangsungan dan kebahagiaan keluarga anda nantinya.segerakan musyawarah dengan menghadirkan pihak ketiga baik dari kerabat anda maupun yang lain yang anda pandang adil dan bijak serta tentunya mengerti hukum islam seputar pernikahan terutama fiqih poligami. Semoga segera mendapat jalan keluar yang terbaik.
      selainn nnda perlu istikhoroh kepada Allah Ta’ala tentang pilihan anda ini,jangan lupa berdoa kepada Allah agar Allah Ta’ala membukakan hati orang tuanya, jujur sungguh-sungguh dan ikhlaslah dalam berdo’a, sebab hanya Allah lah yang bisa membuka hati dan pikiran seseorang.Semoga dimudahkan, baarokallahu fiikum

  • Retno says:

    Assalamualaikum.Saya minta saran kepada Pak Ustadz ya.. Saya terlahir sebagai anak tunggal yg masih memiliki orang tua yg lengkap. Saya berasal dari Surabaya orang Jawa didalam keluarga saya memiliki kepercayaan bahwa anak tunggal dilarang menikah dengan seorang pria yg sudah tidak memiliki orang tua karena alasan nanti juga akhirkan akan korban salah satunya (klo bukan saya,pasangan atau kedua orang tua yg akan meninggal dunia)dan saya juga harus memilih calon dari arah utara. sedangkan saat ini saya sudah merasa cocok dengan seorang pria sholeh,pekerja keras walaupun belum mapan dan baik. Dengan alasan itu kedua orang tua saya melarang saya untuk menikah dengan pria itu bahkan menyuruh saya untuk menjauhinya. dan saat ini pria tersebut tetap sabar dalam menghadapi kondisi ini dan bekerja keras untuk mengumpulkan modal agar bisa mewujudkan niat kami untuk bisa segera menikah ditahun ini.

    Mohon saran dari Pak Ustadz apa yg harus saya lakukan sedangkan didalam keluarga saya tekanan yg saya terima terlalu besar? Apakah jika saya nekat menikah dengan pria pilihan hati saya maka saya bisa dikatakan saya anak yg duharka (tidak berbakti) kepada kedua orang tua saya?

    Terima kasih sebelumnya atas waktu dan kesempatan yg telah diberikan.
    Wassalamualaikum

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah,saran kami kalau memang sudah siap menikah dan sudah terpenuhi syarat-syaratnya maka segerakan saja menikahnya. Sebab perintah Rasulullah adalah menyegerakan nikah bagi yang sudah mampu seperti dalam sabda beliau
      يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ منكم الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
      “Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang sudah mampu menanggung nafkah, hendaknya dia menikah. Karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sementara siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa. Karena itu bisa menjadi tameng syahwat baginya.” (HR. Bukhari 5065 dan Muslim 1400).
      Tentang adat-istiadat atau kepercayaan yang anda ceritakan itu hanyalah mitos yang tidak boleh di percaya sama sekali. Semua akan terjadi hanya dengan kehendak Allah Ta’ala semata, jadi tawakkal saja pada Allah Ta’ala in syaa Allah tidak akan terjadi apa-apa. Dan mitos-mitos seperti itu bukanlah alasan-alasan syar’i yang bisa membuat pernikahan ditunda. Ketentuan-ketentuan tersebut bukanlah hukum islam dan seorang muslim hanya wajib terikat dengan hukum Allah saja, tidak ada yang lain. Allah berfirman;
      وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
      Dan hendaklah kkalian memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Al-Maidah; 49)
      tentang masalah yang anda hadapi saat ini Saran kami jangan keburu nekat kawin dulu, Meskipun anda secara syar’I juga berhak menentukan calon suami,namun agama juga tidak menyarankan anak perempuan untuk melawan orangtuanya dalam hal ini, karena ridho orangtua juga anda perlukan untuk keberkahan dan kebahagiaan pernikahan anda. Oleh karena itu memang dibutuhkan banyak kesabaran anda untuk meluluhkan hati orangtua agar menerima pilihan anda. misalnya langkah pertama dengan mengajak orangtua anda berbicara dari hati kehati, kemukakan alasan terbaik dan dengan cara yang terbaik anda memilih dia jadi suami anda. Dan jika belum berhasil langkah kedua Anda mungkin perlu seorang mediator dari pihak ketiga baik dari kerabat maupun orang lain yang pendapatnya dapat didengarkan orangtua dan adakan musyawarah keluarga besar.
      disini perlu anda ketahui bahwa Untuk menikah secara syah, tentu harus memenuhi rukun nikah yang salah satunya adanya wali dari ayah kandung atau wakil dari pihak ayah dan seterusnya. Meskipun tidak mengantongi restu ortu, anda teranggap sah menikah dengan calon suami anda selama rukun nikah terpenuhi. maka dari itu ada baiknya jika anda bersabar hingga orangtua yakin bahwa pilihan anda adalah pria terbaik bagi anda, sehingga mereka berkenan menjadi wali anda dalam pernikahan.
      Saya yakin bagaimanapun orangtua hanya menginginkan anaknya bahagia, karenanya tunjukkan bahwa pilihan anda adalah orang yang tepat dan satu-satunya yang bisa membahagiakan anda dunia dan akhirat. Di samping itu memohonlah pada Allah agar Allah Ta’ala membukakan hati kedua orangtua agar mau menerima segala kekurangan calon suami anda. Semoga dengan menempuh langkah diatas tidak perlu waktu terlalu lama bagi anda untuk mendapatkan restu orangtua anda. Allahualam bishawab

  • Mha02 says:

    Asslamuakaikum uztad.. Sya mahasiswa ,umur saya 20 tahun.. Ada seorang pria Allhadulillah pkerjaan nya sangat baik,dan taat kepda Allah SWT itu yang membuat sya yakin pada nya.. Rencana nya dia ingin datang melamar sehabis lebaran uztad dan saya sudah yakin untk menikah karena lebih indah jika hbungan yg kt jlani segera di halakan dan menghindari dari perbuatan” dosa.. Tapi orang tua belum mengizinkan karena saya masih kuliah,apalgi bapak saya sangat keras orangnya uztad,bgitupun keluara jg menginginkan agar saya slesaikan kuliah terlebih dahulu, katanya semua akan menikah ,tpi knp sdh ada yg akan datang baik” untuk melamar akan di tolak karena maunya kuliah dulu.. Saya bingung uztad cara memberi tahu orang tua,takut mlah mengecewakan dan membuat mreka sedih,dan di sisi lain hati sya sdh ykin kpda pria ini.. Sya harus bagimna uztad ?

    • Al Lijazy says:

      Wa’alaikum Salaam warahmatullah,
      Sebenarnya kuliah itu bukan satu hal yang bisa dijadikan alasan untuk ditundanya pernikahan. Jika keduanya sudah siap dan telah memenuhi syarat untuk menikah baik lahir maupun batin maka segeralah menikah, sebab dengan menikah nantinya in syaa Allah akan terbuka banyak pintu kebaikan,namun menimbang kendala yang anda ceritakan,yakni ortu anda tidak merestui hingga anda lulus kuliah,maka saran kami mungkin sebaiknya anda tunggu aja sampai waktu yang memungkinkan kalian untuk menikah, kalau cuma sampai lulus kuliah, itu waktu yang tidak lama. sabar dan tahan dulu tidak usah ketemu untuk sementara hingga waktunya tiba, sepwerti ini agar tidak terjerumus kedalam perbuatan yang tidak diinginkan. Jadi, anda harus bersabar hingga waktunya tiba, agar semua pihak sama-sama lega dan jalan kalian tidak ada hambatan lagi.
      Namun Jika anda ingin bersikeras ingin membiarkan calon anda tersebut maju melamar, kami sarankan adakan musyawarah keluarga besar, bila perlu anda cari pihak ketiga yang bisa membantu menjembatani antara anda dan ortu anda. Intinya secara syar’i anda tetap memiliki hak untuk punya keinginan menikah demi mashlahat pada diri anda dan juga berhak untuk memilih calon pasangan hidup anda, namun tidak ada salahnya tetap memperhatikan mudharat dan mashlahat dengan keluarga besar anda, maka itu semoga dengan adanya musyawarah keluarga akan ada jalan keluar yang terbaik nantinya in syaa Allah.
      Untuk Selanjutnya Kami anjurkan anda untuk shalat istikharah meminta petunjuk Allah Ta’ala dan memohon kemudahan dariNya, hanya Allah Ta’ala saja yang bisa membukakan hati manusia yang masih tertutup. Pastikan sebelum istikharah pilihan anda adalah laki-laki yang shalih dan sesuai dengan kriteria syari’ah dan bersabarlah setelah berdo’a sambil menunggu jawaban dari Allah Ta’ala, jangan menunggu jawaban Allah Ta’ala sambil bermaksiat kepadanya misalkan dengan tetap berpacaran dengannya, stop pacaran sampai dia sudah menjadi halal bagi anda. Setelah Allah Ta’ala nantinya memutuskan sesuatu kepada anda dengan kemantaban hati baru silahkan anda yakinkan orang tuan anda bahwa calon anda adalah pilihan Allah untuk anda. Dan andapun sudah siap untuk menikah. Allahua’lam, semoga dimudahkan

  • ayu says:

    assalamualaikum ..
    nama saya ayu umur 26 thn saya ingin bertanya .. saya memiliki cowok yang berumur 29 thn dia berasal dari keluarga kaya dan saya orang miskin orang tua nya melarang menikah karna status sosial dan malu punya menantu orang miskin gmna itu??

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah, kami nasehatkan anda untuk bersabar. berdo’alah kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar diberikan jodoh yang terbaik bagi anda dan juga jangan lupa sholat istikhoroh kepada Allah Ta’ala tentang calon anda tersebut, apakah dia memang pilihan Allah untuk anda. jika memang dia jodoh anda terbaik maka in syaa Allah nantinya proses akan lancar-lancar saja, tapi sebaliknya jika terlalu banyak hambatan yang berat dan akhirnya gagal, maka dia memang bukan jodoh terbaik bagi anda. sabar saja in syaa Allah nanti akan ada jalan keluar. Allahua’lam

  • aisyah says:

    Assalamualaikum pak ustad, saya wanita berumur 24 tahun, saya sudah menikah dengan duda berumur 50 tahun, kami masih ada hub bersaudara .waktu dia meminang saya orang tua saya tidak setuju. Orang tua saya menyumpah2i saya hidup susah jika ttp memaksa dan d coret dari keluarga,orng tua saya mnjodohkan saya dgn laki2 seusia saya yg kaya, mapan, tapi setau saya jauh dari agama,jadi saya memutuskan pergi dari rumah dan menikah dgn duda trsbut,alasan sya mnikah saya takut brzinah pk ustad smntara kami sma2 sudah ingin mnikah, sya mmilihnya krna dia insyaallah bagus agamanya dan bukan hanya bisa mengaji, tapi juga mengkaji dan menerapkan .kami memakai wali hakim .alhamdulillah khidupan kami baik2 sja, dan saya mrasa semakin dekat dgn ALLAH. Orng tua masih ttp benci kpada kmi dan mnyumpahi anak saya pak ustad, saya boleh pulang kalau sendiri dan d suruh berpisah.dan anak saya d titip ke panti asuhan.orng tua saya trmasuk orng trpandang,mngerti agama, ttp skrng suka pergi ke dukun untuk memisahkan kami.yg ingin saya tanyakan. Apa yg harus saya lakukan,dan apakah saya termasuk anak durhaka pak ustad?

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah,
      Yang kami soroti tentang cerita anda tersebut adalah status pernikahan anda, yaitu anda menikah dengan perantara wali hakim sedangkan wali nasab anda masih ada meskipun mereka tidak merestui, ini masalah pertama.
      Pembahasan untuk masalah yang pertama yang perlu anda ketahui adalah,
      Pertama, wali nikah merupakan rukun dalam akad nikah
      Keberadaan wali merupakan rukun dalam akad pernikahan. Karena itu, tidak sah menikah tanpa wali. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan kesimpulan, ini, diantaranya,
      Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
      لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ
      “Tidak sah nikah kecuali dengan adanya wali.” (HR. Abu Daud 1785, Turmudzi 1101, dan Ibnu Majah 1870).
      Dari Aisyah radhiallahu anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
      أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ
      “Wanita manapun yang menikah tanpa seizin walinya maka nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal. (HR. Ahmad 24205, Abu Daud 2083, Turmudzi 1021, dan yang lainnya).
      Kedua, tidak semua orang bisa seenaknya menjadi wali nikah.
      Allah menghargai hubungan kekeluargaan manusia. Karena itu, kelurga lebih berhak untuk mengatur dari pada orang lain yang bukan kerabat. Allah berfirman,
      وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
      Orang-orang yang mempunyai hubungan Kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Anfal: 75)
      Bagian dari hak ’mengatur’ itu adalah hak perwalian. Karena itu, kerabat lebih berhak menjadi wali dibandingkan yang bukan kerabat. Lebih dari itu, kerabat yang berhak menjadi wali juga ada urutannya. Sehingga orang yang lebih dekat dengan wanita, dia lebih berhak untuk menjadi wali bagi si wanita itu.
      Urutan kerabat ayah yang berhak menjadi wali nikah, dijelaskan Al-Buhuti berikut,
      ويقدم أبو المرأة الحرة في إنكاحها لأنه أكمل نظرا وأشد شفقة ثم وصيه فيه أي في النكاح لقيامه مقامه ثم جدها لأب وإن علا الأقرب فالأقرب لأن له إيلادا وتعصيبا فأشبه الأب ثم ابنها ثم بنوه وإن نزلوا الأقرب فالأقرب
      Lebih didahulukan ayah si wanita (pengantin putri) untuk menikahkannya. Karena ayah adalah orang yang paling paham dan paling menyayangi putrinya. Setelah itu, penerima wasiat dari ayahnya (mewakili ayahnya), karena posisinya sebagaimana ayahnya. Setelah itu, kakek dari ayah ke atas, dengan mendahulukan yang paling dekat, karena wanita ini masih keturunannya, dalam posisi ini (kakek) disamakan dengan ayahnya. Setelah kakek adalah anak si wanita (jika janda), kemudian cucunya, dan seterusnya ke bawah, dengan mendahulukan yang paling dekat. (Ar-Raudhul Murbi’, hal. 1/100)
      Dan tidak boleh kerabat yang lebih jauh menjadi wali nikah sementara masih ada kerabat yang lebih dekat. Karena semacam ini sama halnya dengan merampas hak perwalian, sehingga nikahnya tidak sah.
      Al-Buhuti mengatakan,
      وإن زوج الأبعد أو زوج أجنبي ولو حاكما من غير عذر للأقرب لم يصح النكاح لعدم الولاية من العاقد عليها مع وجود مستحقها
      Jika wali yang lebih jauh menikahkannya, atau orang lain menjadi walinya, meskipun dia hakim (pejabat KUA), sementara tidak ada izin dari wali yang lebih dekat maka nikahnya tidak sah, karena (dianggap) tidak adanya perwalian ketika proses akad, sementara orang yang lebih berhak (untuk jadi wali) masih ada.” (Ar-Raudhul Murbi’, 1/10)
      Ketiga, kapan wali hakim berperan?
      Wali hakim berperan ketika calon wanita sudah tida memiliki wali lagi dari nasab atau kerabat,
      Dalam hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      فَإِنْ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ
      Jika terjadi sengketa antara mereka, maka penguasa menjadi wali untuk orang yang tidak memiliki wali. (HR. Ahmad 24205, Abu Daud 2083, Turmudzi 1021, dan yang lainnya).
      Jadi kesimpulannya berdasarkan cerita anda status pernikahan anda dengan perantara wali hakim dengsn keadaan wali nasab masih ada,maka saya mengkhawatirkan bahwa pernikahan tersebut tidak sah. Allahua’lam
      Kalo anda beralasan bahwa wali anda tidak setuju atau tidak mau menjadi wali maka harus dirinci dahulu alasannya kenapa mereka tidak mau jadi wali.
      Jika wali menolak menikahkan anak gadisnya berdasarkan alasan syar’i, wali wajib ditaati dan kewaliannya tidak berpindah kepada pihak lain (wali hakim).
      Namun adakalanya wali menolak menikahkan dengan alasan yang tidak syar’i, yaitu alasan yang tidak dibenarkan hukum syara’. Misalnya calon suaminya bukan dari bangsa yang sama, bukan dari suku yang sama, orang miskin, bukan sarjana, dan sebagainya. Ini adalah alasan-alasan yang tidak ada dasarnya dalam pandangan syariah, maka tidak dianggap alasan syar’i. Jika wali tidak mau menikahkan anak gadisnya dengan alasan yang tidak syar’i seperti ini, maka wali tersebut disebut wali ‘adhal, yaitu wali yang tidak mau menikahkan perempuan yang diwalinya jika ia telah menuntut nikah. Perbuatan ini adalah haram dan pelakunya (wali) adalah orang fasik. berdasarkan firman Allah swt :
      فَلاَ تَعْضُلُوهُنَّ أَن يَنكِحْنَ
      Artinya : “Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka menikah.” (QS. Al Baqarah : 232)
      Jika wali tidak mau menikahkan dalam kondisi seperti ini, maka hak kewaliannya bisa berpindah kepada wali kerabat yang lain dibawahnya hingga seterusnya hingga ke wali hakim kalo memang tidak ada lagi dari kerabat .Hal ini berdasarkan hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      فَإِنْ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ
      Jika terjadi sengketa antara mereka, maka penguasa menjadi wali untuk orang yang tidak memiliki wali. (HR. Ahmad 24205, Abu Daud 2083, Turmudzi 1021, dan yang lainnya).
      Masalah kedua yang kami sorot adalah sumpah(do’a kejelekan) orang tua anda.
      Ini masalah yang kami pandang serius, apalagi jika yang nyumpain adalah ibu anda. Kalo memang benar ibu anda yang nyumpain tolong sampaikan ke ibu anda bahwa Islam melarang orang tua melaknat anak-anak mereka, bukan hanya itu, kitapun dilarang menyumpahi diri kita sendiri ketika kita marah karena sesungguhnya kita tidak mengetahui kapan saatnya perkataan ataupun do’a (baik maupun buruk) yang kita ucapkan akan di kabulkan.

      Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu anhu, dia menceritakan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam telah bersabda:

      ”Janganlah kalian menyumpahi diri kalian, dan jangan pula menyumpahi anak-anak kalian dan harta kalian, kalian tidak mengetahui saat permintaan (do’a) dikabulkan,sehingga Allah akan mengabulkan sumpah itu” (HR.Muslim)

      Hadits diatas menjelaskan bahwa ada waktu-waktu baik yang didalamnya akan dikabulkan doa, karena itu hadits ini melarang kita untuk menyumpahi diri, putera-puteri kita, dan harta kekayaan kita, supaya sumpah itu tidak bertepatan dengan waktu pengabulan do’a sehingga selamat dari bahaya.
      Meskipun beliau beralasan bahwa sebenarnya beliau tidak bermaksud demikian. Padahal sebagaimana kita ketahui alasan tersebut tidak dapat diterima karena larangannya telah jelas dan tegas.
      Dan banyak kenyataannya sumpah ibu terhadap anaknya bener-bener terkabulkan. Maka dari itu mungkin sekarang anda belum merasakan sumpah orang tua anda, namun bisa saja denga n kehendak Allah suatu saat itu benar-benar terjadi pada anda. Untuk itu sebaiknya anda segera datang ke ibu anda,minta maaf dan minta ridhonya kembali,minta beliau untuk mencabut sumpahnya serta mohonlah do’a kebaikan dari beliau, serta bertaubat pada Allah Ta’ala dari sikap durhaka pada orang tua.
      Ingatlah bahwa ridho Allah Ta’ala bersama ridho beliau, seperti dalam hadits,
      وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا-, عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ ) أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ
      “Dari Abdullah Ibnu Amar al-‘Ash Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Keridloan Allah tergantung kepada keridloan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim.”
      Saran kami buat anda,Berbuat baiklah secara maksimal kepada kedua orang tua anda meskipun mereka memiliki kebiasaan yang tidak baik,sambil kita iringi dengan nasehat dengan penuh kasih sayang terhadap mereka, serta hendaknya selalu mencari keridhoanya dengan memberikan penghargaan dan penghormatan dalam batas – batas yang halal dan tidak dalam menentang syari’at, sebab pengorbanan kita ini sebagai anak belumlah seberapa kalau dibandingkan dengan pengorbannan orang tua orang tua kepada kita dalam memberikan asuhan dan kasih sayang dan pendidikan hingga kita bisa seperti ini. Allahua’lam baarokallahu fiikum

  • Maulana says:

    Assalamualaikum ustadz, mengenai perkara yang beberapa minggu lalu saya tanyakan, ustadz pun memberi saya saran untuk bersabar dan berbuat baik semaksimal mungkin kepada ibu saya.
    Dan Alhamdulillah hati saya tergerak untuk berubah dan melakukan saran ustadz diatas.
    Hal itu saya mulai dengan meminta maaf kepada ibu saya atas kesalahan saya baik sadar maupun tidak.
    Namun, hati saya teriris ketika saya menyodorkan tangan saya dengan niat meminta maaf, ibu saya yang tercinta tsb malah menepis tangan saya dan mengatakan takkan pernah memaafkan saya.
    Wallahi ustadz hati saya teriris dan menangis dengan kenyataan tsb.
    Untuk itu saya meminta pencerahan lagi ustadz, apa yang harus saya lakukan kedepannya? Karena yg paling saya takuti saat ini adalah laknat Allah atas saya. saya takut Allah tdk ridho kepada saya.
    Mohon pencerahannya ustadz, sukron.

    • Al Lijazy says:

      bismillah,wa’alaikum Salaam warahmatullah, berdasarkan cerita anda tersebut hanya dua hal yang bisa kami sarankan. pertama anda bersabar dan tetap berusaha meminta ridho orang tua anda bagaimanapun caranya agar hati beliau bisa luluh, in syaa Allah kalo kita tetap bersabar dan berusaha tanpa putus asa dengan di iringi perbuatan yang baik kepada keduanya lama-lama beliau akan luluh juga.dan bilang ke beliau, bahwa Allah Ta’ala saja maha pengampun dan maha pema’af pada hamba-hambaNya yang bersalah, masa Ibu tidak mau mema’afkan anaknya sendiri.
      yang kedua hendaknya anda selalu berdo’a pada Allah Ta’ala, khususnya malam hari sehabis sholat malam pada sepertiga malam terakhir, Agar Allah bmembuka hati orang tua anda dan mema’afkan anda.sebab hanya Allah Ta’ala yang bisa membuka hati hamba yang masih tertutup. pasrah dan tawakkal kepadaNya.jika kita sudah berusaha semaksimal mungkin dengan perbuatan dan do’a in syaa Allah Allah Ta’ala maha tahu tentang isi hati seorang hamba dan tidak akan membebani hamba denga sesuatu yang hamba tersebut tidak kuasa melakukannya. Allahua’lam, semoga segera mendapat kemudahanNya.

  • Iman says:

    Assalamualikum.. Ustadz .. Saya sudah berniat ingin menikah dgn wanita pilihan saya.. Status saya masih kuliah.. Namun orang tua tidak menyetujuinya.. Karena perkara biaya pernikahan itu sendiri.. Mohon penjelasannya ustadz apa yg harus ana lakukan..?

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah, kalau memang masih kuliah dan belum punya harta, sebaiknya anda bersabar dan ditunda dulu hingga punya harta yang cukup. sebab memiliki harta untuk keperluan menikah juga termasuk salah satu syarat untuk menikah, tidak harus banyak, tapi sekedar cukup untuk keperluan menikah sudah cukup baginya. dan kalian berdua harus sabar menunggu hingga Allah Ta’ala memberikan kemampuan kepada kalian, STOP dulu pacaran hingga semua dihalalkan Syari’at. jangan berlama-lama dalam berma’shiyat (pacaran),dan nasehat kami buat anda agar bersungguh-sungguhlah mengumpulkan harta untuk bekal menikah,misalkan diupayakan memiliki penghasilan tetap dahulu,bukannya kita tidak percaya pada janji Allah Ta’ala yang pasti akan mencukupi kita nantinya,tapi semata-mata agar jalan anda nantinya akan berjalan lancar dan semuanya jadi ridho terhadap rencana anda menikah,hendaknya semenjak sekarang anda mempersiapkan dulu bekal-bekal pernikahan, baik harta,fisik, mental dan terutama ilmu agama seputar pernikahan. setelah dirasa cukup dan siap ,kami yakin anda akan lebih PD untuk mengutarakan rencana anda pada orang tua dan jika sudah dapat restu maka segerakan menikah. Allahua’lam semoga dimudahkan

  • vey says:

    assalammualaikum ustad, saya ukhti 20 thn.. sudah berniat ingin menikah dan sudah mempunyai calon yang inshaallah tahun depan akan datang untuk melamar.. namun, saya takut untuk membicarakn nya dgn ayah saya.. karena takut di tolak dengan alasan harus kuliah terlebih dahulu.. bagaimana solusi nya ustad?
    terima kasih
    wassalam

    • Al Lijazy says:

      bismillah, wa;alaikum Salaam warahmatullah, kami sarankan anda untuk mencoba membicarakan dahulu dengan ayah anda, mungkin barangkali malah beliau ijinkan anda menikah. kalau ternyata tidak baru nanti kita bahas lagi alasan apa yang membuat beliau tidak merestui dan in syaa Allah kami akan bantu mencari solusi. Allahua’lam

  • Maulika ani says:

    Assalamualaikum ustd.. Saya ani 23 thun.. Sy punya pacar yg usianya 25 thun.. Hubungan kami sudah 3 tahun.
    Keluarga saya sudah setahun yang lalu menanyakan keseriusan hubungan kami,dan menyegerakan kami untuk menikah. Namun kendalanya di keluarga pacar saya yang belum juga datang untuk melamar sy. Padahal pacar sy sudah serius dan ingin menikah. Hambatan awalnya krn pacar saya sangat susah untuk mngatakannya ke kluarga, blm ada mental yg lebih.. Tapi skrg alhmdlillah pacar sy sudah mmbrtahukan bhw dia ingin menikahi sy. Namun karna keluarga nya yang cuek, ada kesibukan masing2 dan ayah nya pun seperti menunda2 tanpa mngeluarkan sepatah kata pun. Hanya diam saja.
    Sy bingung.. Pacar sy juga bingung kami sama2 susah . Kluarga saya menunggu si cowo, sdgkn pacar sy nunggu orgtuanya. Kakak si cowo sudah mengajak ayahnya untuk melamar sy namun ayahnya hanya diam.
    Sy yatim piatu ustd, kerja di bank, dulu waktu baru2 jdian, ayahnya kurang stuju dgn sy dgn alasan siapa orgtua sy?Apa org yg jahat? Ada pngalaman yg buruk? (Bukan sisi materi)
    Kalo bisa jangan sama org bank. (Mungkin di bank genit2 dll)
    Apa salah sy y ustd..
    Ya alhmdlillah skrg ayahnya sudah menerima krn pacar sy jg mnjelaskan bhw sy bukan demikian.
    tapi skrg knp ya ayah nya diam 1000 bahasa
    Padahal kami mendengar dari pihak luar ayah sudah mengiyakan hubungan kami, dan akan mnyegerakannya.. (Bnyk yg brtanya tentang hub kmi)
    Namun nyatanya skrg kami smaa2 mnunggu ustd..
    Sedihnya krn sy tdk punya orgtua jdi tdk ada org yg menggerakkan atau jdi media sprt yg ustd katakan .
    Kami ingin menikah ustd, kmi tdk ingin pacaran namun km tdk sggup untuk puasa, maka dri itu kmi ingin mnikah sgera
    Mnikah krn Ingin mmbgun rmh tgga, pnya anak, sling mlengkapi terlebih saya sendirian krn tdk pny orgtua
    Mohon pencerahannya ustd. Sy sgt buntu.. Trmksh sblmnya wassalam..

    • Al Lijazy says:

      bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah, yang kami tangkap dari cerita anda, permasalahan yang menghambat adalah dari pihak calon anda, yakni ayahnya yang belum merespon dengan baik. dugaan kami mungkin ayahnya belum melihat kesiapan menikah dari calon anda, atau mungkin ayahnya melihat calon anda kurang bersungguh-sungguh mau menikah, maka dari itu langkah pertama sampaikan ke calon anda untuk menampakkan secara dzahir tentang kesiapannya untuk menikah, baik kesiapan materi, mental terutama ilmu agama tentang pernikahan.setelah itu coba ajak bicara lagi orang tuanya dengan serius dan bersikap sebagai laki-laki dewasa yang sudah matang. jika langkah tersebut belum membuahkan hasil hendaknya calon anda mencari pihak ketiga dari kerabat maupun lainnya yang bisa menyampaikan hajatnya kepada orang tuanya dengan diadakan musyawarah keluarga misalnya, agar masalah ini dianggap masalah serius. Allahua’lam, semoga dimudahkan

  • Indah ayu says:

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu
    Saya ini seorang gadis berusia 22 tahun, saya mempunyai pasangan yang berusia 28 tahun.
    Orangtua saya sudah mengiyakan lamaran pihak cowo tanpa adanya persetujuan saya.
    Sebelumnya saya sudah menyatakan ketidakinginan saya.
    Tapi ortua saya tetap menyetujui bahkan sampai sudah mnetapkan tanggal pernikahannya.
    Mendengar hal itu saya menjadi histeris bahkan teriak karena tidak terima dengan keputusan ini, saya sudah menyatakan ketidakinginanku tapi mereka tetap berkata kamu harus mau karena sudah di tetapkan tanggalnya, saya semakin histeris saya teriak bahkan memakai bapak saya sampe menunjuk2nya, saya tidak sadar melakukan hal itu.
    Pilihan yang mereka kasi kepada saya kalo saya menolak pernikahan ini saya sudah tidak dianggap anak lagi bahkan saya sudah di laknat sama bapak saya tidak selamat dunia akhirat, tapi saya tetap bersikeras untuk tidak menerima, saya tidak pernah ingin durhaka tapi tidak ada pilihan yang mereka kasi
    Saya sudah minta maaf kepada bapakku tapi tetap tidak,kalo saya tetap menolak mereka akan pergi meninggalkan kampung halaman dan tidak mengaggap saya anaknya.
    Di keluarga bapak saya tentang terhadap perjodohan tapi saya tidak di perlakukan seperti itu.
    Di keluarga pihak bpak tidak yang mendukung saya bahkan saya sudah di katakan anak durhaka.
    Saya menolak pernikahan ini tidak ada sangkut pautnya sama pasangan saya cuma saya tetap tidak bisa.
    Saya pusing harus bagaimana di satu sisi saya tidak ingin durhaka saya memang salah membentak memakai bapak saya tapi saya sangat mnyesal melakukannya saya sudah berulang kali minta maaf kepada telpon dan sms.
    Di lain sisi saya juga tidak bisa menikah dengan orang yang saya tidak sukai.
    Berdosakah saya? Apakah saya sudah tidak bisa di maafkan? Apakah kehidupan saya tidak bisa baik lagi karena lakntnya bapak saya dunia akhirat?
    Saya minta solusinya

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,wa’alaikum Salaam warahmatullahi wabarokaatuh
      Yang perlu anda ketahui dari kasus anda yaitu Penolakan jodoh anak dari orang tuanya in syaa Allah Tidak termasuk durhaka. Karena menikah dan menentukan calon suami itu murni hak anak. Orang tua tidak boleh memaksa anaknya untuk menikah dengan seseorang yang tidak disukai anaknya. Dalilnya:
      عن أبي سعيد الخدري أن رجلا أتى بابنة له إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال إن ابنتي قد أبت أن تتزوج قال فقال لها أطيعي أباك قال فقالت لا حتى تخبرني ما حق الزوج على زوجته فرددت عليه مقالتها قال فقال حق الزوج على زوجته أن لو كان به قرحة فلحستها او ابتدر منخراه صديدا أو دما ثم لحسته ما أدت حقه قال فقالت والذي بعثك بالحق لا اتزوج ابدا قال فقال لا تنكحوهن إلا بإذنهن
      Dari Abu Said al-Khudri, bahwa ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa putrinya. Orang ini mengatakan, “Putriku ini tidak mau menikah.” Nabi memberi nasihat kepada wanita itu, “Taati bapakmu.” Wanita itu mengatakan, “Aku tidak mau, sampai Anda menyampaikan kepadaku, apa kewajiban istri kepada suaminya.” (merasa tidak segera mendapat jawaban, wanita ini pun mengulang-ulangi ucapannya). Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      “Kewajiban istri kepada suaminya, andaikan di tubuh suaminya ada luka, kemudian istrinya menjilatinya atau pada tubuh suaminya mengeluarkan nanah atau darah, kemudian istrinya menjilatinya, dia belum dianggap sempurna menunaikan haknya.”
      Spontan wanita itu mengatakan: “Demi Allah, Dzat yang mengutus Anda dengan benar, saya tidak akan nikah selamanya.”
      Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada ayahnya, “Jangan nikahkan putrimu kecuali dengan idzinnya (kerelaannya).” (HR. Ibn Abi Syaibah no.17122)
      Bahkan jika orang tua memaksa dan anak tidak ridha kemudian terjadi pernikahan, maka status kelangsungan pernikahan dikembalikan kepada anaknya. Jika si anak bersedia, pernikahan bisa dilanjutkan, dan jika tidak maka keduanya harus dipisahkan. Di antara dalilnya adalah
      عن ابن عباس رضي الله عنهما ” أن جارية بكراً أتت رسول الله صلى الله عليه وسلم فذكرت أن أباها زوجها وهي كارهة , فخيرها رسول الله صلى الله عليه وسلم “
      Dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau menceritakan, “Ada seorang gadis yang mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melaporkan bahwa ayahnya menikahkannya sementara dia tidak suka. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan hak pilih kepada wanita tersebut (untuk melanjutkan pernikahan atau pisah).” (HR. Ahmad 1:273, Abu Daud no.2096, dan Ibn Majah no.1875)
      Untuk masalah anda kami sarankan coba anda sesegera mungkin mencari pihak ketiga yang bisa membela anda, baik dari kerabat ataupun yang lain dari orang yang disegani keluarga. Setelah itu adakan musyawarah keluarga dengan melibatkan pihak ketiga tersebut, biarkan pihak ketiga itu yang memperjuangkan hak anda dan menjembatani antara anda dan orang tua anda.
      AdapunTentang doa kejelekan ayah anda terhadap anda, kami rasa tidak ada satupun dari kita yang tau bahwa do’a tersebut akan dikabulkan atau tidak, yang pasti ada saat-saat tertentu sebuah do’a akan dikabulkan seperti dalam riwayat
      Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu anhu, dia menceritakan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam telah bersabda:

      ”Janganlah kalian menyumpahi diri kalian, dan jangan pula menyumpahi anak-anak kalian dan harta kalian, kalian tidak mengetahui saat permintaan (do’a) dikabulkan,sehingga Allah akan mengabulkan sumpah itu” (HR.Muslim)

      Maka itu saran kami sebaiknya anda segera datang keorang tua anda,segera minta maaf dan minta ridhonya kembali(jangan via telp atau sms, itu tidak menunjukkan kesungguhan),minta beliau untuk mencabut sumpahnya serta mohonlah do’a kebaikan dari beliau, serta bertaubat pada Allah Ta’ala.
      Ingatlah bahwa ridho Allah Ta’ala bersama ridho beliau, seperti dalam hadits,
      وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا-, عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ ) أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ
      “Dari Abdullah Ibnu Amar al-‘Ash Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Keridloan Allah tergantung kepada keridloan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim.”
      Allahua’lam, semoga dimudahkan urusannya.

  • airin says:

    assalamualaikum ustad, saya mau tanya apa hukumnya jika ada orang tua yg melarang anaknya yg mau menikah dengan alasan khawatir akan masa depan anaknya, karna calon nya adalah seorang duda beranak satu, padahal anaknya sudah siap untuk menikah dengan calonnya. terimakasih

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah, Duda jika memang dia sesuai kriteria syar’i serta telah memenuhi syaratnya untuk menikah maka in syaa Allah tidak ada alasan yang bisa dibenarkan untuk menolaknya atau menghalanginya jika hendak menikahi siapapun yang menjadi perwaliannya.
      Jangan sampai beliau menjadi salah satu dari mereka yang termasuk menghalang-halangi hamba Allah untuk menikah dengan calon yang telah menjadi pilihannya sesuai dengan kriteria syar’i. karena itu adalah satu bentuk kezaliman yang diharamkan oleh Islam dan disebut dalam pembahasan fiqh dengan istilah ‘Adhl. Adhl hukumnya haram. Allah berfirman ketika mengharamkan ‘Adhl :
      فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ
      “ Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka menikah lagi dengan calon suaminya apabila telah ada saling ridha di antara mereka dengan cara yang ma’ruf (Al-Baqoroh; 232)
      tentang kekawatiran orang tua bagaimana masa depan anaknya kelak, ini bukan wilayah kita, kita hanya bisa berusaha sebaik mungkin dan tidak menyalahi aturan syari’at, hasilnya kita serahkan pada Allah Ta’ala. in syaa Allah allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan hambaNya yang bertaqwa kepadaNya. Allahua’lam

  • munazirah says:

    Assalamu’alaikum ustad… ana mahasiswi semester akhir usia 22th. ana berkeinginan mlaksanakan salah satu sunnah RASULULLAH Yaitu menikah.. ana sudah ta’arufan slma 2 bulan dengan seorang ikhwan di kmpus.. msih mahasiswa juga… kluarga dr ikhwan sdh sangat ingin kerumah tpi aby ku blm meng iyakan. pernah ana taxkan via tlpon tp beliau seperti ragu dikarenakan abyq blm tau latar belakng keluarganya.. dan khwtir calonku msih blm dewasa… mohon bimbinganx ustad. bagaimana ana menyampaikan ke aby ana klau niat kami ini karena ibadah …
    jazakumullahu khair….

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Kalau hanya bilang ke ortu anda bahwa anda ingin menikah, kami rasa anda lebih tahu teknisnya, tinggal bilang aja ada ikhwah yang mau serius sama anda dan ingin menikahi anda, tinggal di ceritakan aja kondisi ikhwannya gimana, Cuma masalahnya yang kami lihat adalah calon anda tersebut masih kuliah, kami rasa mungkin hampir kebanyakan orang tua jika putrinya mau dilamar oleh seseorang yang masih kuliah tentunya ada keraguan itu hal yang wajar, sebab namanya aja masih kuliah, yang tentunya masih di bayai ortunya, bagaimana dia akan memberi nafkah istrinya kalau sekarang aja dirinya sendiri masih butuh nafkah dari ortunya.
      Laki-laki yang mau menikah berbeda dengan wanita. Wanita jika mau menikah hanya berpikir bagaimana mendapatkan pria yang yang baik agamanya dan berpenampilan yang menarik. Tapi untuk laki-laki lebih tidak cukup demikian. Dia harus bertanggung jawab menafkahi diri, istri, dan anak. Jika dia belum punya mata pencarian atau belum bekerja, maka bagaimana dia bisa menunaikan kewajiban sebagai kepala keluarga??
      Hidup berkeluarga bukan hanya menafkahi istri satu atau dua hari saja. Namun sebuah perjalanan yang panjang, selain itu juga suami harus bertanggung jawab atas kesehatan keluarga,tempat tinggal yang layak dan kebutuhan lainnya yang masih banyak sekali., maka jika hal demikian masih dipaksakan menikah dikhawatirkan nantinya rumah tangga akan terganggu. Yang Ini sering dialami oleh pasutri bahkan terkadang hal itu akan menjadi buah bibir, baik dari mertua maupun tetangga. Karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
      وَ لْيَسْتَعْفِفِ الَّذينَ لا يَجِدُونَ نِكاحاً حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ
      “Dan orang-orang yang tidak mampu menikah, hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sampai Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya…”(Q.S. an nur 33)
      Untuk itu nasehat kami hendaknya calon anda tersebut dinasehati untuk fokus menyelesaikan kuliah dulu,setelah itu fokus mencari maisyah/ pekerjaan dalam rangka menyiapkan bekal-bekal pernikahan. Sebab bekal-bekal pernikahan itu bukan hanya ilmu syar’i,tapi harta juga iya. Paling tidak ada kesiapan untuk biaya menikah dari biaya mahar hingga biaya walimah.untuk sementara belum mampu menikah saat ini maka kami nasehatkan anda berdua untuk bersabar dan banyak puasa. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri untuk tidak melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala dan tetap menjaga kea’atan kepadaNya, yakni dengan menghentikan hubungan yang tidak halal dengan pasangan yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan syari’at. Demikian agar Allah Ta’ala akan berkenan memudahkan jalan bagi anda. Allahua’lam bish shawab semoga segera mendapat jalan keluar yang terbaik in syaa Allah.

  • Ummu says:

    Asslamu’alaikum ustad…
    Saya wanita yg sudah berumur 28 tahun sudah memiliki keinginan utk menikah…kami berpacaran sudah 2 tahun…diawal hubungan kami, kami sudah berencana utk menikah, tapi sebelum saya diperkenalkan kepada orang tuanya, ibu saya meninggal dunia. Proses k pernikahan pun kami tunda, tapi orang tua pacar saya menjodohkan dia dengan anak teman beliau. Dalam proses perjodohan tersebut hubungan kami masih tetap berjalan sampai perjodohan itu gagal karena perempuan tersebut mengetahui sebagian dari masa lalu pacar saya dan saya pun sebelumnya sudah mengetahuinya. Ustad…sekarang ayah saya pun telah meninggal dunia dan saya adalah anak tertua dari 5 orang bersaudara, 2 diantaranya masih SMP dan TK…beberapa waktu lalu dia kembali mengutarakan keinginannya untuk menikahi saya, tapi orang tuanya masih belum mengizinkan, dari alasan tersebut terbersit alasan yg karena kondisi saya sendiri yg tidak lagi memiliki orang tua dan perbedaan lingkungan diantara kami…ustad apakah alasan orang tuanya menghalangi pernikahan kami itu alasan yg memenuhi syari’at ? Sekarang kami sudah memutuskan untuk tidak pacaran lagi. Dan apa yg harus kami lakukan selanjutnya ustad ? Terimakasih sebelumnya ustad

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum salaam warahmatullah
      Sebenarnya alasan penolakan calon mertua anda tersebut bukan alasan yang syar’i ,namun hanya sekedar hawa nafsu saja in syaa Allah. Namun kami sarankan anda bersabar saja. Pasti dibalik itu ada hikmah yang akan membuat anda bahagia nantinya, yakin saja pada Allah. Anda memilih langkah putus dengan pacar itu sudah langkah yang tepat. Sebab hubungan pernikahan yang suci kalau didahului dengan hubungan ma’siyat ( pacaran) biasanya akan ada kendala kedepannnya dengan sebab kurangnya barokah pernikahan tersebut.
      Anda sekarang fokus ibadah aja dulu sambil terus memohon pada Allah Ta’ala agar didekatkan jodohnya sesuai dengan pilihan Allah, Anda pasrah dan tawakkal saja kepadaNya.kalau ingin suami yang shalih konsekwensinya anda harus menjadi shalihah dahulu, jauhi langkah-langkah syaithan dijalur-jalur kema’siyatan, nanti akan anda lihat hasil yang baik yang membuat anda bahagia in syaa Allah. Allahua’lam

  • koko prasetyo says:

    Assalam mualaikum ustadz.
    Saya mau bertanya, Jadi begini masalah yang saya hadapi ustadz
    Saya dan pacar saya sudah berpacaran selama 8 tahun ustadz dan keluarga kami sudah bertemu dan sudah saling menyetujui hubungan kami ustadz.
    Akan tetapi hubungan saya belum bisa dilanjutkan ke jenjang pernikahan karena terhalang oleh hukum adat orang Jawa yaitu letak rumah saya dan pacar saya itu secara perhitungan arah (Ngalor- Ngulon) tidak baik ustadz, apabila dilanggar (kami menikah) katanya nanti orang tua akan meninggal atau susah mencari rejeki ustadz.
    Hubungan ini kami jalani dengan baik ustadz dan kami saling mengunjungi, saya sering kerumah pacar saya begitu pula sebaliknya.
    Intinya begini ustadz kami sudah siap menikah, karena pacar saya dan saya sudah berusia 24 tahun, yang saya fikir sudah fitrahnya kami untuk menikah untuk mencegah hal- hal yang tidak di inginkan(Zina/ Maksiat), hanya saja syarat yang diberikan untuk Pindah Rumah itu yang belum bisa kami atau keluarga saya lakukan ustadz karena Ayah pacar saya meminta orang tua saya Pindah rumah agar bisa menikahi anaknya, sementara itu ketika saya berbicara dengan beliau (ayah pacar saya), beliau selalu bilang jika hari ini saya pindah rumah maka saya akan dinikahkan hari itu juga ustadz.
    Keluarga kami sudah bertemu dan Inshaallah orang tua kami menyanggupi untuk pindah rumah ustadz, hanya saja jangka waktunya 2 tahun.
    Jujur saja ustadz selama 2 tahun itu saya tidak mampu menahan fitrah saya sebagai laki-laki dewasa ustadz, semakin lama hubungan kami mendekati dosa zinah dan maksiat ustadz, saya banyak baca dan banyak belajar tentang hukum wali adhal ustadz.
    Apakah tidak apa- apa jika kami menikah dulu secara siri sementara menunggu waktu 2 tahun itu ustadz, dan kami menikah secara diam- diam tanpa sepengetahuan keluarga dan orang tua kami.
    Bagaimana hukum pernikahan kami dan Apakah kami berdosa ustadz, karena setahu saya hukum menggunakan wali secara fiqih harus menggunakan keluarga terdekat, sementara tidak mungkin saya melakukan itu ustadz karena kami ingin menikah tanpa sepengetahuan keluarga dan orang tua kami.
    Baik orang tua saya dan pacar saya percaya hukum adat jawa (ngalor ngulon itu ustadz.)

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah,
      Yang kami soroti tentang cerita anda tersebut adalah rencana nikah siri anda dengan tanpa sepengetahuan orang tua, yaitu tentunya disini anda menikah dengan perantara wali hakim sedangkan wali nasab anda masih ada meskipun mereka tidak merestui, ini masalah pertama.
      Pembahasan untuk masalah yang pertama yang perlu anda ketahui adalah,
      Pertama, wali nikah merupakan rukun dalam akad nikah
      Keberadaan wali merupakan rukun dalam akad pernikahan. Karena itu, tidak sah menikah tanpa wali. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan kesimpulan, ini, diantaranya,
      Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
      لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ
      “Tidak sah nikah kecuali dengan adanya wali.” (HR. Abu Daud 1785, Turmudzi 1101, dan Ibnu Majah 1870).
      Dari Aisyah radhiallahu anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
      أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ
      “Wanita manapun yang menikah tanpa seizin walinya maka nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal. (HR. Ahmad 24205, Abu Daud 2083, Turmudzi 1021, dan yang lainnya).
      Kedua, tidak semua orang bisa seenaknya menjadi wali nikah.
      Allah menghargai hubungan kekeluargaan manusia. Karena itu, kelurga lebih berhak untuk mengatur dari pada orang lain yang bukan kerabat. Allah berfirman,
      وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
      Orang-orang yang mempunyai hubungan Kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Anfal: 75)
      Bagian dari hak ’mengatur’ itu adalah hak perwalian. Karena itu, kerabat lebih berhak menjadi wali dibandingkan yang bukan kerabat. Lebih dari itu, kerabat yang berhak menjadi wali juga ada urutannya. Sehingga orang yang lebih dekat dengan wanita, dia lebih berhak untuk menjadi wali bagi si wanita itu.
      Urutan kerabat ayah yang berhak menjadi wali nikah, dijelaskan Al-Buhuti berikut,
      ويقدم أبو المرأة الحرة في إنكاحها لأنه أكمل نظرا وأشد شفقة ثم وصيه فيه أي في النكاح لقيامه مقامه ثم جدها لأب وإن علا الأقرب فالأقرب لأن له إيلادا وتعصيبا فأشبه الأب ثم ابنها ثم بنوه وإن نزلوا الأقرب فالأقرب
      Lebih didahulukan ayah si wanita (pengantin putri) untuk menikahkannya. Karena ayah adalah orang yang paling paham dan paling menyayangi putrinya. Setelah itu, penerima wasiat dari ayahnya (mewakili ayahnya), karena posisinya sebagaimana ayahnya. Setelah itu, kakek dari ayah ke atas, dengan mendahulukan yang paling dekat, karena wanita ini masih keturunannya, dalam posisi ini (kakek) disamakan dengan ayahnya. Setelah kakek adalah anak si wanita (jika janda), kemudian cucunya, dan seterusnya ke bawah, dengan mendahulukan yang paling dekat. (Ar-Raudhul Murbi’, hal. 1/100)
      Dan tidak boleh kerabat yang lebih jauh menjadi wali nikah sementara masih ada kerabat yang lebih dekat. Karena semacam ini sama halnya dengan merampas hak perwalian, sehingga nikahnya tidak sah.
      Al-Buhuti mengatakan,
      وإن زوج الأبعد أو زوج أجنبي ولو حاكما من غير عذر للأقرب لم يصح النكاح لعدم الولاية من العاقد عليها مع وجود مستحقها
      Jika wali yang lebih jauh menikahkannya, atau orang lain menjadi walinya, meskipun dia hakim (pejabat KUA), sementara tidak ada izin dari wali yang lebih dekat maka nikahnya tidak sah, karena (dianggap) tidak adanya perwalian ketika proses akad, sementara orang yang lebih berhak (untuk jadi wali) masih ada.” (Ar-Raudhul Murbi’, 1/10)
      Ketiga, kapan wali hakim berperan?
      Wali hakim berperan ketika calon wanita sudah tida memiliki wali lagi dari nasab atau kerabat,
      Dalam hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      فَإِنْ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ
      Jika terjadi sengketa antara mereka, maka penguasa menjadi wali untuk orang yang tidak memiliki wali. (HR. Ahmad 24205, Abu Daud 2083, Turmudzi 1021, dan yang lainnya).
      Jadi kesimpulannya berdasarkan cerita anda jika anda nekat melanjutkan rencana anda maka status pernikahan anda dengan perantara wali hakim dengan keadaan wali nasab masih ada,maka saya mengkhawatirkan bahwa pernikahan tersebut tidak sah. Jadi percuma saja anda menikah toh jatuhnya zina juga.
      Kalo anda beralasan bahwa wali anda tidak setuju atau tidak mau menjadi wali maka harus dirinci dahulu alasannya kenapa mereka tidak mau jadi wali.
      Jika wali menolak menikahkan anak gadisnya berdasarkan alasan syar’i, wali wajib ditaati dan kewaliannya tidak berpindah kepada pihak lain (wali hakim).
      Namun adakalanya wali menolak menikahkan dengan alasan yang tidak syar’i, yaitu alasan yang tidak dibenarkan hukum syara’.misalkan seperti kasus anda disini, wali menolak menikahkan hanya karena alsan adat yang tidak dibenarkan syari’at, bahkan mengarah ke kesyirikan. Jika wali tidak mau menikahkan anak gadisnya dengan alasan yang tidak syar’i seperti ini, maka wali tersebut disebut wali ‘adhal, yaitu wali yang tidak mau menikahkan perempuan yang diwalinya jika ia telah menuntut nikah. Perbuatan ini adalah haram dan pelakunya (wali) adalah orang fasik. berdasarkan firman Allah swt :
      فَلاَ تَعْضُلُوهُنَّ أَن يَنكِحْنَ
      Artinya : “Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka menikah.” (QS. Al Baqarah : 232)
      Jika wali tidak mau menikahkan dalam kondisi seperti ini, maka hak kewaliannya bisa berpindah kepada wali kerabat yang lain dahulu dibawahnya, hingga seterusnya .kalo memang tidak ada lagi dari kerabat ,maka silahkan anda menggunakan wali hakim jika nantinya tidak ada mudharat bagi kehidupan rumah tangga anda dengan keputusan tersebut.Hal ini berdasarkan hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      فَإِنْ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ
      Jika terjadi sengketa antara mereka, maka penguasa menjadi wali untuk orang yang tidak memiliki wali. (HR. Ahmad 24205, Abu Daud 2083, Turmudzi 1021, dan yang lainnya).
      Namun mungkin sebelum melangkah dengan keputusan anda tersebut, kami anjurkan anda bermusyawarah kekeluargaan, bila perlu anda cari pihak ketiga yang bisa membantu menjembatani antara anda dan oertu anda. Intinya secara syar’I anda tetap memiliki hak untuk memilih calon pasangan hidup anda, namun tidak ada salahnya tetap memperhatikan mudharat dan mashlahat dengan keluarga besar anda, maka dari itu, semoga dengan adanya m usyawarah keluarga akan ada jalan tengah yang baik nantinya.
      Untuk selanjutnya Kami anjurkan anda untuk shalat istikharah meminta petunjuk Allah Ta’ala dan memohon kemudahan dariNya, hanya Allah Ta’ala saja yang bisa membukakan hati manusia yang masih tertutup. Pastikan sebelum istikharah pilihan anda adalah calon yang sudah sesuai dengan kriteria syari’ah dan bersabarlah setelah berdo’a sambil menunggu jawaban dari Allah Ta’ala, jangan menunggu jawaban Allah Ta’ala sambil bermaksiat kepadanya misalkan dengan tetap berpacaran dengannya, stop pacaran sampai dia sudah menjadi halal bagi anda. Setelah Allah Ta’ala memutuskan sesuatu kepada anda dengan kemantaban hati baru silahkan anda yakinkan orang tua anda bahwa calon anda adalah pilihan Allah Ta’ala untuk anda. Allahua’lam semoga dimudahkan

  • Chairani says:

    Assalamualaikum Ustadz,
    Saya 27 tahun sudah mapan dan ingin menikah dengan calon saya kami sudah 3 th saling mengenal, dia pun sudah mapan dan siap menikah, keluarganya sudah setuju, namun niat kami terganjal restu ibu saya yang tidak setuju, dengan alasan suku dan hal-hal lain yg tidak sesuai syar’i, beliau lebih bersuuzdon kepada calon saya dan tidak mau menerima masukan dari siapapun, ayah saya lebih memberi keleluasaan saya dalam memilih namun beliau tidak mau berselisih dengan ibu sehingga menjadi tidak tegas dan akhirnya diam saja. Saya sudah pernah dijodohkan kemudian saya istikharah dan kemudian saya dijauhkan oleh Allah dgn perjodohan tersebut, namun sampai sekarang hati saya masih ingin sekali menikah dengan calon saya tersebut, karena niat saya hanya ingin menyempurnakan agama dan menjauhkan perbuatan zina, saya harus bagaimana ya ustadz? sekarang yg sy bisa lakukan hanya berdoa agar hati ibu luluh, dan dimudahkan jalannya, menunda pernikahan semata2 untuk tidak menyakiti hati ibu, namun dalam hati saya teriris sekali bila ingat saya ingin sekali menikah..apa sesulit ini untuk bisa menikah ustadz? apakah saya bisa menikah tanpa restu ibu? bagaimana hukumnya bila hanya ayah saya saja yg ridho dan apakah ada amalan untuk bs meluluhkan hati ibu saya? terimakasih

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah,kasus yang seperti anda alami ini yang kami ketahui banyak dari saudari muslimah anda juga mengalaminya. Terhalangnya sebuah pernikahan hanya karena perkara sepele,bahkan perkara-perkara yang tidak dikenal dalam syari’at kita. Sebagai tambahan ilmu disini perlu anda fahami
      bahwa wali nikah yang tidak setuju atau tidak mau menjadi wali maka harus dirinci dahulu alasannya kenapa mereka tidak mau jadi wali.
      Jika wali menolak menikahkan anak gadisnya berdasarkan alasan syar’i, wali wajib ditaati dan kewaliannya tidak berpindah kepada pihak lain (wali hakim).
      Namun adakalanya wali menolak menikahkan dengan alasan yang tidak syar’i, yaitu alasan yang tidak dibenarkan hukum syara’.misalkan seperti kasus anda disini, wali menolak menikahkan hanya karena alasan beda suku ataupun adat yang tidak dibenarkan syari’at. Jika wali tidak mau menikahkan anak gadisnya dengan alasan yang tidak syar’i seperti ini, maka wali tersebut disebut wali ‘adhal, yaitu wali yang tidak mau menikahkan perempuan yang diwalinya jika ia telah menuntut nikah. Perbuatan ini adalah haram dan pelakunya (wali) adalah orang fasik. berdasarkan firman Allah swt :
      فَلاَ تَعْضُلُوهُنَّ أَن يَنكِحْنَ
      Artinya : “Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka menikah.” (QS. Al Baqarah : 232)
      Jika wali tidak mau menikahkan dalam kondisi seperti ini, maka hak kewaliannya bisa berpindah kepada wali kerabat yang lain dahulu dibawahnya, hingga seterusnya .kalo memang tidak ada lagi dari kerabat ,maka silahkan anda menggunakan wali hakim jika nantinya anda yakin tidak ada mudharat bagi kehidupan rumah tangga anda dengan keputusan tersebut.Hal ini berdasarkan hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      فَإِنْ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ
      Jika terjadi sengketa antara mereka, maka penguasa menjadi wali untuk orang yang tidak memiliki wali. (HR. Ahmad 24205, Abu Daud 2083, Turmudzi 1021, dan yang lainnya).
      Namun Saran kami buat anda jangan keburu nekat nikah dulu, Meskipun anda secara syar’i berhak menentukan calon suami, namun agama juga tidak menyarankan anak perempuan untuk melawan kedua orangtuanya dalam hal ini, karena ridho kedua orangtua juga anda perlukan untuk keberkahan dan kesempurnaan kebahagiaan pernikahan anda nantinya. Oleh karena itu memang dibutuhkan banyak kesabaran anda untuk meluluhkan hati orangtua agar menerima pilihan anda. misalnya langkah pertama dengan mengajak orangtua (khususnya ibu) anda berbicara dari hati kehati dengan mengatasnamakan perasaan sesama wanita, kemukakan alasan terbaik anda memilih dia jadi suami anda. Dan jika belum berhasil, coba langkah kedua, yaitu carilah seorang mediator (baik dari pihak kerabat maupun yang lain) yang pendapatnya dapat didengarkan orangtua dan selanjutnya adakan musyawarah keluarga besar.semoga dari situ ada hasil yang baik.

      perlu juga anda ketahui bahwa Untuk menikah secara syah, tentu harus memenuhi rukun nikah yang salah satunya adanya wali dari ayah kandung atau wakil dari pihak ayah dan seterusnya. Meskipun tidak mengantongi restu ibu, anda teranggap sah menikah dengan calon suami anda selama rukun nikah terpenuhi. Meski demikian ada baiknya jika anda bersabar hingga kedua orangtua yakin bahwa pilihan anda adalah pria terbaik bagi anda.
      Saya yakin bagaimanapun orangtua hanya menginginkan anaknya bahagia, karenanya tunjukkan bahwa pilihan anda adalah orang yang tepat dan satu-satunya yang bisa membahagiakan anda dunia dan akhirat. Di samping itu teruskan doa anda,memohonlah pada Allah agar Dia membukakan hati kedua orangtua agar mau menerima segala kekurangan calon suami anda. Semoga dengan menempuh langkah diatas tidak perlu waktu terlalu lama bagi anda untuk mendapatkan restu kedua orang tua anda.
      Jika anda bertanya tentang amaliyah apa yang bisa meluluhkan hati ibu anda,tentunya jawabannya yang pertama suda anda lakukan,yakni berdo’a untuknya, sebab hanya Allah Ta’ala yang bisa membolak balik hati hambaNya.
      Yang kedua,Berbuat baiklah secara maksimal kepada kedua ibu anda meskipun beliau memiliki kebiasaan yang tidak baik,sambil kita iringi dengan nasehat dengan penuh kasih sayang terhadap beliau, serta hendaknya selalu mencari keridhoanya dengan memberikan penghargaan dan memulyakan beliau dalam batas – batas yang halal dan tidak dalam menentang syari’at, sebab pengorbanan kita ini sebagai anak belumlah seberapa kalau dibandingkan dengan pengorbannan orang tua orang tua kepada kita dalam memberikan asuhan dan kasih sayang dan pendidikan hingga kita bisa seperti ini. Allahua’lam,semoga dimudahkan. baarokallahu fiikum

  • Hamba Allah says:

    Asslamu’alaikum ustadz. Saya anak yatim dan anak bungsu. Di rumah hanya saya yang menemani ibu saya karena kk n suaminya kurang ‘cocok’ dengan ibu sy. Semenjak ditinggal Ayah, ibu saya g mau ditinggal sy jauh2, alhamdulillah ibu masih sehat hanya mungkin ingin ditemani. Untuk jodoh, ibu sy ingin sy dapat yg 1 kota atau harus tinggal di kota sy klau sudah menikah. Untuk pergaulan sy sudah jarang sekali berteman dgn laki2. Menurut ustadz alasan ibu sya syar’i tidak? Berhubung sy mencari jodoh semakin terbatas lingkupnya. Jazakallah khairon

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,wa’alaikum Salaam warahmatullah, sebenarnya alasan ibu anda tidak tergolong alasan syar’i in syaa Allah, tapi demi kebaikan semua pihak coba anda berusaha menyesuaikan dulu dengan keinginan ibu anda dan mencari washilah untuk mencarikan calon yang dekat-dekat saja sambil berdo’a pada Allah Ta’ala minta dimudahkan mendapatkannya, agar ibu anda tenang dan bahagia, sebab kebahagiaan ibu akan membuahkan ridho yang akan membahagiakan anda nantinya in syaa Allah. Namun jika nantinya Allah Ta’ala taqdirkan bagi anda jodoh yang jauh tempat tinggalnya, in syaa Allah hal ini bukan perkara yang sulit in syaa Allah,ini bisa di musyawarahkan dengan ibu anda. Sebab yang kami tahu kasus seperti ini bukan hanya menimpa anda, tapi banyak yang kami dapatkan juga menimpa saudara muslim kita yang lain, dan hasilnya ternyata bisa dicari jalan tengahnya dengan musyawarah in syaa Allah.dan semuanya bisa sama-sama ridho. Kami nasehatkan nantinya anda juga mencoba menempuh cara ini, semoga dimudahkan urusannya.Allahua’lam

  • piter says:

    assalamualaikum ustadz, saya ingin menanyakan tentang persoalan dimana orang tua (ibu) mengatakan tidak memberi restu kepada putrinya untuk menikahi pilihan putrinya, dengan alasan pilihan putrinya sudah tidak berAkhlak.. dikarenakan pilihan putrinya tsb pernah berkata2 kotor (mengatakan ibu perempuan tersebut, kaya karena menjual kehormatan anak2nya)… padahal putrinya pun mendengar ucapan pilihannya tersebut, dan dia tetap bersikeras ingin menikah dengan pilihannya tsb…
    karena orang tuanya (ibu) tidak merestui, putrinya yang biasanya sopan dengan ibunya sekarang sudah berani membentak2 orang tuanya, pergi tanpa pamit (pulang sudah larut malam)

    1. apa hukumnya jika wali nikah (saudara laki2) perempuan tsb tetap menikahkan dengan laki2 yang berkata kotor tsb?? (padahal walinya tsb mengetahui hal tersebut)
    2. apa hukum pernikahannya (batal/syah)
    3. apa hukumnya jika merka masih berhubungan

    mohon jawabannya ust..

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,wa’alaikum Salaam warahmatullah,
      Memang sebaiknya wali nikah memperhatikan calon dari siapa yang menjadi perwaliannya, apakah sudah sesuai dengan kriteria syar’i atau belum, ini diantaranya demi kemashlahatan dunia dan akhirat dari mereka yang menjadi perwaliannya.maka dari itu termasuk kriteria inti dari calon suami adalah Agamanya baik,khususnya bermanhaj ahlu Sunnah
      Untuk kriteria ini sudah menjadi harga mati tidak bisa ditawar-tawar lagi. Agama dan sekaligus akhlak yang baik. Karena Allah turunkan agama ini sebagai panduan utama untuk bimbingan manusia. Dan dia nanti akan benar dalam mengajarkannya jika disertai dengan dengan ilmu, manhaj dan akhlaknya yang baik,. Untuk itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan para wali, agar segera menerima pelamar putrinya, yang baik agama dan akhlaknya.
      Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan,
      إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ، إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ، وَفَسَادٌ عَرِيضٌ
      Apabila ada orang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, yang meminang putri kalian, nikahkan dia. Jika tidak, akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar. (HR. Tirmidzi 1084, Ibn Majah 1967, dan yang lainnya. Hadis ini dinilai hasan oleh al-Albani).
      Namun jika seperti kasus anda jika walinya mendapatkan calon dari perwaliannya justru bertentangan dengan kriteria syar’i maka sebaiknya kalau tidak bisa dinasehati dan dirubah,maka dicarikan gantinya yang lebih baik.namun jika pertanyaan anda apakah tetap sah pernikahanya jika dia tetap menjadi walinya,jawabannya jika wali tersebut sudah benar kedudukannya secara syari’at dan pernikahannya sudah terpenuhi syarat dan rukunnya, maka pernikahan tersebut tetap sah,meskipun mencarikan calon yang lain yang sesuai kriteria syari’at tetap lebih baik. Sebab rumah tangga sulit akan mencapai rumah tangga yang sa-ma-war jika suaminya berakhlaq buruk.
      Untuk selanjutnya Kami anjurkan putrinya untuk shalat istikharah meminta petunjuk Allah Ta’ala dan memohon kemudahan dariNya, hanya Allah Ta’ala saja yang bisa membukakan hati manusia yang masih tertutup. Pastikan sebelum istikharah pilihan anda adalah calon yang sudah sesuai dengan kriteria syari’ah dan bersabarlah setelah berdo’a sambil menunggu jawaban dari Allah Ta’ala, jangan menunggu jawaban Allah Ta’ala sambil bermaksiat kepadanya misalkan dengan tetap berhubungan(berpacaran) dengannya, stop pacaran sampai dia sudah menjadi halal bagi anda. Sebab hubungan pernikahan yang suci kalau didahului dengan hubungan ma’siyat ( pacaran) biasanya yang sudah-sudah terjadi pada kenyataannya akan ada kendala kedepannnya dengan sebab kurangnya barokah dari pernikahan tersebut. Setelah Allah Ta’ala memutuskan sesuatu kepada anda dengan kemantaban hati baru silahkan anda yakinkan orang tuan anda bahwa calon anda adalah pilihan Allah untuk anda. Allahua’lam semoga dimudahkan

  • Ripsu says:

    Assalamualaikum ustadz, saya berumur 22 tahun dan pasangan saya berumur 28 tahun. Saya mengenal pasangan saya sudah lama hampir 6 tahun, saya dan pasangan juga sudah siap untuk menikah. Pasangan saya sudah bekerja. Dan kendala saya adalah orang tua. Orang tua saya ingin saya menikah 2tahun lagi dikarenakan saya baru lulus kuliah dan harus mencari kerja dulu. Orang tua bilang saya masih terlalu muda menikah di usia 22 thn, padahal saya sudah siap untuk menikah. Dan saya sempat bicara sama orang tua saya untuk mencari pekerjaan setelah menikah saja tapi orang tua saya tidak setuju dikarenakan sudah menikah itu kebutuhannya berbeda. Padahal pasangan saya mengijinkan saya jika nanti kita menikah saya boleh bekerja. Bagaimana yaa pa ustadz solusinya agar saya bisa menikah secepatnya tanpa harus menunggu 2 tahun lagi ?

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Sebenarnya tidak restunya orang tua anda itu tidak berdasar alasan syar’i, apalagi dalam syari’at sendiri menganjurkan wanita itu harusnya di rumah dan yang terbebani mencari dafkah itu suaminya. jika nafkah dari suaminya sudah mencukupi imaka istri tidak perlu mencari nafkah, apalagi sampai keluar rumah dan sampai ikhtilath diluar rumah, bersabarlah dan qona’ah dari yang ada.
      Namun Saran kami sebaiknya anda jangan keburu nekat menikah dulu, Meskipun anda secara syar’I juga berhak menentukan calon suami,namun agama juga tidak menyarankan anak perempuan untuk melawan orangtuanya dalam hal ini, karena ridho orangtua juga anda perlukan untuk keberkahan pernikahan anda. Oleh karena itu memang dibutuhkan banyak kesabaran anda untuk meluluhkan hati orangtua agar menerima pilihan anda. misalnya langkah pertama dengan mengajak orangtua anda berbicara dari hati kehati, kemukakan alasan terbaik anda memilih dia jadi suami anda serta tentang kesiapan anda menikah dengan siap menanggung segala resiko nantinya. Dan jika belum berhasil langkah kedua Anda mungkin perlu seorang mediator yang pendapatnya dapat didengarkan orangtua dan adakan musyawarah keluarga besar.
      perlu anda ketahui bahwa Untuk menikah secara syah, tentu harus memenuhi rukun nikah yang salah satunya adanya wali dari ayah kandung atau wakil dari pihak ayah dan seterusnya. Meskipun tidak mengantongi restu ortu, anda teranggap sah menikah dengan calon suami anda selama rukun nikah terpenuhi. Meski demikian ada baiknya jika anda bersabar hingga orangtua yakin bahwa pilihan anda adalah pria terbaik bagi anda.
      Saya yakin bagaimanapun orangtua hanya menginginkan anaknya bahagia, karenanya tunjukkan bahwa pilihan anda adalah orang yang tepat dan satu-satunya yang bisa membahagiakan anda dunia dan akhirat. Di samping itu memohonlah pada Allah agar Dia membukakan hati kedua orangtua agar mau menerima segala kekurangan calon suami anda. Semoga dengan menempuh langkah diatas tidak perlu waktu terlalu lama bagi anda untuk mendapatkan restu orangtua anda. Allahualam bishawab

  • Ariska says:

    Assalamualaikum ustadz…
    Saya mau menyakan ttg hal ini …
    Orang tua saya ingin sekali saya segera menikah dengan teman dekat saya untuk menghindari fitnah dan menghindari kejadian yg tak diinginkan .. begitu juga teman dekat saya juga ingin menikahi saya.. namun permasalahannya terletak pada orang tua teman dekat saya ustadz.. orang tuanya melarang anaknya menikah karena disuruh menunggu kakaknya (perempuan) menikah terlebih dahulu baru teman dekat saya boleh menikah.. karena keluarganya masih percaya dengan adat jawa bahwasannya seorang adik laki laki tidak boleh menikah melangkahi kakak perempuannya. Sedangkan kakaknya sendiri belum punya calon maupun teman dekat laki laki sampai saat ini..
    Bagaimana cara menghadapi dan membuka fikiran orang tua dan keluarga teman dekat saya agar supaya bisa kasih restu dan mengizinkan kami menikah tanpa harus menunggu kakaknya terlebih dahulu. Terimakasih.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Bismillah, bicaralah dengan baik-baik dan lemah lembut kepada orang tua, nasehatkan kepada beliau bahwa kalau memang putra-putrinya sudah siap menikah dan sudah terpenuhi syarat-syaratnya maka segerakan saja menikahkannya. Sebab perintah Rasulullah adalah menyegerakan nikah bagi yang sudah mampu seperti dalam sabda beliau
      يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ منكم الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
      “Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang sudah mampu menanggung nafkah, hendaknya dia menikah. Karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sementara siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa. Karena itu bisa menjadi tameng syahwat baginya.” (HR. Bukhari 5065 dan Muslim 1400).
      Tentang adat-istiadat yang melarang melangkahi saudara tua, menjaga perasaan saudara tua, menghindari mitos tidak baik perempuan dilangkah, menjaga pandangan orang terhadap kakak perempuannya yang dilangkah, dst.. maka semuanya bukanlah alasan-alasan syar’i yang bisa membuat pernikahan ditunda. Ketentuan-ketentuan tersebut bukanlah hukum islam dan seorang muslim hanya wajib terikat dengan hukum Allah saja, tidak ada yang lain. Allah berfirman;
      وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
      Dan hendaklah kkalian memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Al-Maidah; 49)
      Jika sudah mampu menikah dan dengan menunda menikah akan terjadi perbuatan dosa maka hukumnya wajib menikah. Dan menghalanginya dengan alasan yang tidak dibenarkan syari’at termasuk dosa besar.
      Allah Ta’ala berfirman,
      وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالمَعْرُوفِ ذَلِكَ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكُمْ أَزْكَى لَكُمْ وَأَطْهَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
      “ Apabila kamu mentalak (mencerai) isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka menikah lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan diantara mereka dengan cara yang ma’ruf. Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang yang beriman diantara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al Baqarah : 232)
      Ayat ini menjelaskan kepada kita semua, tentang tidak bolehnya seorang wali menghalang – halangi untuk menikahkan orang yang berada dibawah kewaliannya, jika mereka telah saling ridho tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat islam. Dari mulai alasan calon suaminya belum mapan, atau alasan agar putrinya menyelesaikan studinya dulu atau meniti karirnya dulu, atau karena alasan adat dan uang atau karena alasan mahar dan selainnya
      Berkata Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di Rahimahullah : “ Pembicaraan ayat ini kepada para waIi dari perempuan yang dicerai dengan perceraian yang bukan perceraian yang ketiga apabila telah habis masa iddah. Dan mantan suaminya menginginkan untuk menikahinya kembali dan perempuannya ridho dengan hal itu. Maka tidak boleh walinya melarang untuk menikahkannya karena marah atas laki-laki tersebut, atau tidak suka dengan perbuatannya karena perceraian yang pertama” (Taisirul Karimir Rahman, pada ayat ini)

      Berkata Ibnu Katsier Rahimahullah: ( ذَلِكَ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ : Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang yang beriman diantara kamu kepada Allah dan hari kemudian ) Maksudnya inilah yang Kami (Allah) larang, yaitu tindakan para wali yang menghalangi pernikahan wanita dengan calon suaminya, jika masing-masing dari keduanya sudah saling meridhai dengan cara yang ma’ruf, hendaknya ditaati, diperhatikan dan diikuti” (Tafsir Ibnu Katsier pada ayat ini)
      Dan sampaikan juga nasehat kepada orang tua agar merenungkan bahwasannya bagaimana perasaan kita sebagai orang tua yang apabila pada masa muda kita ingin menikah, namun dihalang-halangi oleh orang tua? Tentu kita akan merasa menderita, yang bisa jadi dampaknya kan berpengaruh terhadap aktivitas ibadah kita, selain adanya kekhawatiran terjatuh kedalam fitnah syahwat. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
      وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
      “ Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S An Nuur : 32 )
      Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah tatkala ditanya : ” Bagaimana hukum orang tua yang menghalangi putrinya yang sudah kuat (keinginannya) untuk menikah tetapi mereka masih menyuruh putrinya melanjutkan kuliah?”
      Maka beliau menjawab: ” Tidak diragukan lagi bahwa orang tuamu yang melarangmu (menikah padahal kamu) sudah siap menikah hukumnya adalah haram. Sebab, menikah itu lebih utama dari pada menuntut ilmu, dan juga karena menikah itu tidak menghalangi untuk menuntut ilmu, bahkan bisa ditempuh keduanya. Jika kondisimu demikian wahai Ukhti! Engkau bisa mengadu ke pengadilan agama dan menyampaikan perkara tersebut, lalu tunggulah keputusannya.” (Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin 2/754).
      Kalau dengan alasan kuliah saja beliau berfatwa demikian apalagi hanya karena adat atau mitos,tentunya akan lebih kuat lagi hukumnya in syaa Allah. Allahua’lam, semoga dimudahkan

  • meiza says:

    aslmlkm, ust.. saya berumur 20th, dan sy masih kuliah tingkat 3, pasangan sy ingin meminang sy, tetapi stlah sy meminta izin org tua, org tua sy tdk memberi izin dikarenakan sy msih kuliah, org tua sy tkut bhwa jika sy menikah smbl kuliah akan mengganggu shingga sy ptus kuliah, org tua sy ingin sy menikah stelah bergelar,
    nah.. setlah sy membc semua yang tlah dipaparkan ust. , org tua melarang putrinya yg sudh siap menikah dgn alasan tidak syar’i, hukum nya adalah haram, dan hukum perwaliannya tlah gugur. mhon ust bs memperjelas tentang bgian trsebut.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Iya in syaa Allah demikian, perinciannya sebagai berikut,
      Jika wali menolak menikahkan anak gadisnya berdasarkan alasan syar’i, wali wajib ditaati dan kewaliannya tidak berpindah kepada pihak lain (wali hakim).
      Namun adakalanya wali menolak menikahkan dengan alasan yang tidak syar’i (dan ini sudah terjadi, bukan berdasar kekhawatiran semata), yaitu alasan yang tidak dibenarkan hukum syara’. misalkan wali menolak menikahkan hanya karena alasan adat yang tidak dibenarkan syari’at,masih kuliah atau bahkan mengarah kepada kesyirikan. Jika wali tidak mau menikahkan anak gadisnya dengan alasan yang tidak syar’i seperti ini, maka wali tersebut disebut wali ‘adhal, yaitu wali yang tidak mau menikahkan perempuan yang diwalinya jika ia telah menuntut nikah. Perbuatan ini adalah haram dan pelakunya (wali) adalah orang fasik. berdasarkan firman Allah swt :
      فَلاَ تَعْضُلُوهُنَّ أَن يَنكِحْنَ
      Artinya : “Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka menikah.” (QS. Al Baqarah : 232)
      Jika wali tidak mau menikahkan dalam kondisi seperti ini, maka hak kewaliannya bisa berpindah kepada wali kerabat yang lain dahulu dibawahnya secara berurutan sesuai dengan kedekatannya, hingga seterusnya . karena kerabat lebih berhak menjadi wali dibandingkan yang bukan kerabat. Lebih dari itu, kerabat yang berhak menjadi wali juga ada urutannya. Sehingga orang yang lebih dekat dengan wanita, dia lebih berhak untuk menjadi wali bagi si wanita itu.
      Urutan kerabat ayah yang berhak menjadi wali nikah, dijelaskan Imam Al-Buhuti berikut,
      ويقدم أبو المرأة الحرة في إنكاحها لأنه أكمل نظرا وأشد شفقة ثم وصيه فيه أي في النكاح لقيامه مقامه ثم جدها لأب وإن علا الأقرب فالأقرب لأن له إيلادا وتعصيبا فأشبه الأب ثم ابنها ثم بنوه وإن نزلوا الأقرب فالأقرب
      Lebih didahulukan ayah si wanita (pengantin putri) untuk menikahkannya. Karena ayah adalah orang yang paling paham dan paling menyayangi putrinya. Setelah itu, penerima wasiat dari ayahnya (mewakili ayahnya), karena posisinya sebagaimana ayahnya. Setelah itu, kakek dari ayah ke atas, dengan mendahulukan yang paling dekat, karena wanita ini masih keturunannya, dalam posisi ini (kakek) disamakan dengan ayahnya. Setelah kakek adalah anak si wanita (jika janda), kemudian cucunya, dan seterusnya ke bawah, dengan mendahulukan yang paling dekat. (Ar-Raudhul Murbi’, hal. 1/100)
      Dan tidak boleh kerabat yang lebih jauh menjadi wali nikah sementara masih ada kerabat yang lebih dekat. Karena semacam ini sama halnya dengan merampas hak perwalian, sehingga nikahnya tidak sah.
      kalo memang tidak ada lagi dari kerabat ,maka silahkan anda menggunakan wali hakim jika nantinya anda yakin tidak ada mudharat bagi kehidupan rumah tangga anda dengan keputusan tersebut.Hal ini berdasarkan hadits dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      فَإِنْ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ
      Jika terjadi sengketa antara mereka, maka penguasa menjadi wali untuk orang yang tidak memiliki wali. (HR. Ahmad 24205, Abu Daud 2083, Turmudzi 1021, dan yang lainnya).
      Namun mungkin sebelum melangkah dengan keputusan anda tersebut, kami anjurkan anda bermusyawarah kekeluargaan, bila perlu anda cari pihak ketiga yang bisa membantu menjembatani antara anda dan ortu anda(khususnya ayah anda). semoga dengan adanya musyawarah keluarga akan ada jalan tengah yang baik nantinya in syaa Allah.
      Untuk selanjutnya Kami anjurkan anda untuk shalat istikharah meminta petunjuk Allah Ta’ala dan memohon kemudahan dariNya, hanya Allah Ta’ala saja yang bisa membukakan hati manusia yang masih tertutup. Allahua’lam semoga dimudahkan

      • meiza says:

        ust. awalnya kami memang sudah jauh2 hari berencana untuk menikah, tetpi kendalanya slalu pada org tua sy. dari mulai tidak memberikan restu, kemudian kami bersbar.. dan akhirnya memberi restu tetapi tdk memberi izin,
        apakah Allah memberikan tanda bahwa dia jodoh, ataukah memberi tanda bahwa Allah meridhoi kami??
        mohon dijelaskan ust.

        • Al Lijazy says:

          bismillah, saran kami anda sebaiknya sholat istikhoroh minta petunjuk Allah ta’ala dengan sungguh-sungguh. nanti jika ada kemantaban hati setelah istikhoroh dan kelancaran urusan biasanya itu tanda bahwa dia jodoh anda in syaa Allah. Allahua’lam

  • Dewi Regia says:

    Saya seorang akhwat berusia 22 tahun dan berencana menikah akhir tahun ini dengan seorang ikhwan yang saya kenal di tempat kerja saya. Saya adlh karyawan tetap sementara dia kontrak dan sudah habis kontrak lalu dia bekerja di PT lain.
    Saya bekerja untuk membantu keuangan orangtua.
    Keluarga saya adalah orang awam dan bapak saya tidak menyukai laki laki berjenggot maupun bercelana cingkrang.
    Kakak bapak dan sepupu juga menasihati saya agar menunda menikah sampai usia 25 thn untuk bantu orangtua dulu.
    Apakah saya harus tetap melanjutkan keinginan saya untuk menikah?

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, ,saran kami kalau memang sudah siap menikah dan sudah terpenuhi syarat-syaratnya maka segerakan saja menikahnya. Sebab perintah Rasulullah adalah menyegerakan nikah bagi yang sudah mampu seperti dalam sabda beliau
      يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ منكم الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
      “Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang sudah mampu menanggung nafkah, hendaknya dia menikah. Karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sementara siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa. Karena itu bisa menjadi tameng syahwat baginya.” (HR. Bukhari 5065 dan Muslim 1400).
      Apalagi melihat keadaan anda yang menunda menikah hanya karena alasan membantu ekonomi Orang tua yang itu sebenarnya menjadi kewajiban ayah anda, dan bukan kewajiban anda. Anda membantu nafkah orang tua hanya sebatas perbuatan baik dan berbakti dari seorang anak terhadap orang tuanya, dan bukan berarti anda dibolehkan meninggalkan kewajiban menikah jika memang sudah mampu dan terpenuhi syarat-syaratnya.
      Saran kami dalam menghadapi masalah ini sebaiknya anda jangan melakukan tindak gegabah dulu Meskipun anda secara syar’i juga berhak menentukan calon suami,namun agama juga tidak menyarankan anak perempuan untuk melawan orangtuanya, , karena ridho orangtua juga anda perlukan untuk keberkahan pernikahan anda. Oleh karena itu memang dibutuhkan banyak kesabaran anda untuk meluluhkan hati orangtua agar menerima pilihan anda. misalnya langkah pertama dengan mengajak orangtua anda berbicara dari hati kehati, kemukakan alasan terbaik anda memilih dia jadi suami. Jelaskan ke ayah anda bahwa cingkrang dan jenggot itu adalah perintah Allah Ta’ala dan RasulNya, jika demikian berarti dia adalah laki-laki yang shalih dan ta’at kepada Rabbnya, sehingga dia pantas untuk menjadi imam keluarga anda.
      Namun jika belum berhasil langkah kedua Anda mungkin perlu seorang mediator yang pendapatnya dapat didengarkan orangtua dan adakan musyawarah keluarga besar.
      perlu anda ketahui bahwa Untuk menikah secara syah, tentu harus memenuhi rukun nikah yang salah satunya adanya wali dari ayah kandung atau wakil dari pihak ayah dan seterusnya. Meskipun tidak mengantongi restu ortu, anda teranggap sah menikah dengan calon suami anda selama rukun nikah terpenuhi. Meski demikian ada baiknya jika anda bersabar hingga orangtua yakin bahwa pilihan anda adalah pria terbaik bagi anda.
      Saya yakin bagaimanapun orangtua hanya menginginkan anaknya bahagia, karenanya tunjukkan bahwa pilihan anda adalah orang yang tepat dan satu-satunya yang bisa membahagiakan anda dunia dan akhirat. Di samping itu memohonlah pada Allah agar Allah Ta’ala membukakan hati kedua orangtua agar mau menerima segala yang ada pada calon suami anda. Semoga dengan menempuh langkah diatas tidak perlu waktu terlalu lama bagi anda untuk mendapatkan restu orangtua anda. Allahualam bishawab

  • adi says:

    assalamualaikum.. sya blm nikah..pengen banget mau nikah,,tpi saya merasa ilmu agama saya belum cukup baik,,kadang solat juga sering lalai,tinggal..solat sunnat malam juga sangat jarang sekali.bagai mana solusinya pak.? apakah bisa saya menikahi wanita dgn keadaan saya yg jauh dari harapan ini,,

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah, saran kami sebaiknya anda berbekal dahulu sebelum menikah, maksud bekal disini yang paling utama adalah berbekal ilmu syar’i, yang mencakup ilmu pokok-pokok syari’at kita lebih-lebih ilmu tentang pernikahan secara syar’i. Agar nantinya ibadah anda khususnya nikah ini bisa sesuai dengan tuntunan syari’ah yang tentunya akan membuahkan keberkahan dalam hidup anda dan keluarga. Kemudian bekal selanjutnya adalah ke shalihan diri. Anda harus menjadi orang shalih dahulu jika ingin mendapatkan istri yang shalihah.Hal ini juga karena anda nantinya akan menjadi imam keluarga, bagaimana jadinya jika imamnya saja belum mampu menjalankan perintah Allah dan RasulNya atau imamnya sendiri masih secara terang-terangan berbuat maksiyat akan mampu mendidik keluarganya menjadi keluarga yang sa ma war dan mampu menjaga mereka dari api neraka?, kami rasa sulit sekali. Maka itu jagalah diri anda dari neraka dahulu baru kemudian anda menjaga keluarga anda.
      karena perintah Allah,
      يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ ناراً وقودها النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عليها مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدادٌ لاَّ يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
      “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs. At-Tahrim [66]:6)
      Ini semua nantinya akan menjadi tanggung jawab anda sebagai imam keluarga, sebab kita semua adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban sebagaimana dijelaskan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
      كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَّةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّت) متفق عليه
      “Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (Muttafaqun alaihi)

  • Ryw says:

    Assalamualaikum wr wb.

    saya seorang ikhwan berumur 27 tahun saya ingin menikahi seorang wanita, tetapi tertahan karena ada amanah dari almarhum bpk. untuk menguliahkan adik sampai selesai. manakah yang harus saya dahulukan antara amanah dan menikah ?
    sementara di pihak akhwat sudah mau jika saya mendahulukan adik saya ketika sudah meniikah nanti. Mohon pencerahannya ustadz.

    Terima kasih

    • Al Lijazy says:

      bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      jika anda sudah memiliki kemampuan dan sudah terpenuhi syarat-syarat menikah dan jika dengan tidak menikah anda terjerumus kedalam perbuatan dosa maka anda sudah wajib menikah. Menurut kami dalam keadaan seperti ini menikah bagi anda harus didahulukan dari pada menjalankan amanah untuk membiayai adik anda sekolah yang mana menyekolahkan adik anda secara asal hukum adalah kewajiban orang tuanya, bukan kewajiban anda. Namun jika bisa dilaksanakan dua-duanya in syaa Allah bagus, anda bisa menikah sekaligus menjalankan amanah orang tua anda.sebab bisa jadi dengan menikah justru Allah Ta’ala membukakan pintu rizki bagi anda, sehingga bisa sekalian menyekolahkan adik anda. Allahua’lam semoga dimudahkan

  • rafli arifudin says:

    assalamu’alaikum pak ustad saya mau bertanya sebelum nya saya mau kenalkan diri saya,nama saya rafli arifudin umur 19thn,saya minta saran dan petunjuk nya dari pak ustad nih,sayakan waktu sore kemaren saya sms ibu nya bilang seperti ini
    pak ustad
    percakapan saya dengan ibun cewe saya di sms:
    saya: assalamu’alaikum bu,saya mau tanya apakah anak ibu udah boleh pacaran atau belum kalo belum oh yaudah kalo gitu makasih bu,kalo misalkan udah boleh pacaran saya mau bilang ke ibu,saya pacar nya anak ibu dan saya sangat mencintain anak ibu,bahwa saya sangat cinta sama anak ibu,bahwa saya ingin serius sama anak ibu,dan ingin menikahin nya,itu ajah bu,yg ingin saya sampaikan sama ibu,sebelum nya makasih bu,wassalamu’laikum bu
    ibu cewe saya: maaf y rafli ibu br bk sms km, mslh itu kalian msh pd bau kencur, tau apa kalian soal nikah, sklh dl pd yg bnr bljr, bkny pd ngmogin pcrn apalg nikah. cr krja dl yg mapan.mgkn kalian pcrn jg msh cnta monyet,bg ibu yg pntg sklh dl yg pntr jgn buat main2.
    lantas apa yg harus saya jawab ustad dan apakah niat saya karna allah salah ustad,mohon penjelasan dan jawaban nya yah ustad,sebelum nya makasih ustad,wassalamu’alaikum ustad

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah, menurut kami niat anda untuk menikahi calon anda itu sudah benar jika didasarkan ibadah karena Allah Ta’ala. Tapi dalam masalah ini niat saja tidak cukup ya akhi, ada hal-hal lain yang harus anda persiapkan sebelum ibadah yang satu ini. Kalau anda bertanya pada kami apa yang harus anda jawab dari sms ibu tersebut, maka sebaiknya anda jawab:” Baik bu, in syaa Allah nasehat ibu akan saya jalankan. Dan in syaa Allah saya akan bersabar hingga waktunya tiba”
      Kenapa harus jawab demikian?, karena afwan ya akhi, dalam hal ini kami sependapat dengan ibu tersebut bahwa anda sebaiknya fokus menyelesaikan pendidikan setelah itu fokus untuk mencari bekal untuk menikah. Hentikan pacaran hingga waktunya tiba dan dia menjadi halal buat anda. Kalo anda teruskan pacaran maka anda telah berbuat ma’siyat kepada Allah Ta’ala secara terang-terangan, dan kami khawatir hal itu nantinya akan menyulitkan kehidupan anda sendiri. Lalu Dimasa menunggu halalnya calon anda bagi anda maka anda harus berbekal dahulu sebelum menikah, maksud bekal disini selain harta untuk menikah juga yang paling utama adalah berbekal ilmu syar’i, yang mencakup ilmu pokok-pokok syari’at agama kita lebih-lebih ilmu tentang pernikahan secara syar’i. Agar nantinya ibadah anda khususnya nikah ini bisa sesuai dengan tuntunan syari’ah yang tentunya akan membuahkan keberkahan dalam hidup anda dan keluarga. Kemudian bekal selanjutnya adalah keshalihan diri anda. Anda harus menjadi orang shalih dahulu jika ingin mendapatkan istri yang shalihah dan bisa membina keluarga yang sakinah mawahdah warahmah.Hal ini juga karena anda nantinya akan menjadi imam keluarga, bagaimana jadinya jika imamnya saja belum mampu menjalankan perintah Allah dan RasulNya yang wajib atau imamnya sendiri masih secara terang-terangan berbuat maksiyat akan mampu mendidik keluarganya menjadi keluarga yang sa ma war dan mampu menjaga mereka dari api neraka?, kami rasa sulit sekali. Maka itu jagalah diri anda dari neraka dahulu baru kemudian anda menjaga keluarga anda. Allahua’lam semoga dimudahkan

  • rafli arifudin says:

    ustad saya mau menanya lagi apakah ada pacaran tapi niat nya karna allah,itu bagai mana apakah tetep tdk boleh
    mohon penjelasan nya yah ustad
    terimakasih sebelum nya ustad
    wassalamu’alaikum

    • Al Lijazy says:

      bismillah, imam an Nawawi rahimahullah, menjelaskan ikhlas tidak berlaku dalam urusan ma’siyat. artinya jika seorang berbuat ma’siyat meskipun dia ikhlas karena Allah Ta’ala maka tetap berdosa. pacaran adalah perkara ma’siyat sudah pasti, bahkan menjadi washilah menuju dosa besar zina. maka itu meskipun anda katakan karena Allah Ta’ala maka tetap berdosa. yang benar itu anda harus putus pacaran karena Allah Ta’ala. Allahua’lam

  • renita says:

    Assallmua’alaikum pak ustad saya numpang sering ya pak
    Nama saya nita pak umur saya 24 dan umur pasangan saya 23 pak kita ada rencana untuk menikah di thn 2017 tpi insyaallah
    Tapi mohon maaf pak ustd ada salah seorang orang tua dari pasangan lelaki tidak merestui saya untuk menikah dengan anaknya
    Tapi pasangan saya tetep kekeh mau nikah sama saya sampai misalakan dia masih tidak di ijinin nikah dengan orang tuanya dia nekad kabur dan mau menikah sirih dengan saya
    Mohon sering ya pak

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah,
      Yang kami soroti tentang cerita anda tersebut adalah rencana calon anda untuk membawa kabur anda dan nikah sirri, berarti yang kami tangkap nikah siri anda dengan tanpa sepengetahuan orang tua anda, yaitu tentunya disini anda akan menikah dengan perantara wali hakim sedangkan wali nasab anda masih ada meskipun mereka tidak merestui, ini masalah pertama.
      Pembahasan untuk masalah yang pertama yang perlu anda ketahui adalah,
      Pertama, wali nikah bagi wanita merupakan rukun dalam akad nikah
      Keberadaan wali merupakan rukun dalam akad pernikahan. Karena itu, tidak sah menikah tanpa wali. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan kesimpulan, ini, diantaranya,
      Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
      لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ
      “Tidak sah nikah kecuali dengan adanya wali.” (HR. Abu Daud 1785, Turmudzi 1101, dan Ibnu Majah 1870).
      Dari Aisyah radhiallahu anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
      أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ
      “Wanita manapun yang menikah tanpa seizin walinya maka nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal. (HR. Ahmad 24205, Abu Daud 2083, Turmudzi 1021, dan yang lainnya).
      Kedua, tidak semua orang bisa seenaknya menjadi wali nikah.
      Allah menghargai hubungan kekeluargaan manusia. Karena itu, kelurga lebih berhak untuk mengatur dari pada orang lain yang bukan kerabat. Allah berfirman,
      وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
      Orang-orang yang mempunyai hubungan Kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Anfal: 75)
      Bagian dari hak ’mengatur’ itu adalah hak perwalian. Karena itu, kerabat lebih berhak menjadi wali dibandingkan yang bukan kerabat. Lebih dari itu, kerabat yang berhak menjadi wali juga ada urutannya. Sehingga orang yang lebih dekat dengan wanita, dia lebih berhak untuk menjadi wali bagi si wanita itu.
      Urutan kerabat ayah yang berhak menjadi wali nikah, dijelaskan Al-Buhuti berikut,
      ويقدم أبو المرأة الحرة في إنكاحها لأنه أكمل نظرا وأشد شفقة ثم وصيه فيه أي في النكاح لقيامه مقامه ثم جدها لأب وإن علا الأقرب فالأقرب لأن له إيلادا وتعصيبا فأشبه الأب ثم ابنها ثم بنوه وإن نزلوا الأقرب فالأقرب
      Lebih didahulukan ayah si wanita (pengantin putri) untuk menikahkannya. Karena ayah adalah orang yang paling paham dan paling menyayangi putrinya. Setelah itu, penerima wasiat dari ayahnya (mewakili ayahnya), karena posisinya sebagaimana ayahnya. Setelah itu, kakek dari ayah ke atas, dengan mendahulukan yang paling dekat, karena wanita ini masih keturunannya, dalam posisi ini (kakek) disamakan dengan ayahnya. Setelah kakek adalah anak si wanita (jika janda), kemudian cucunya, dan seterusnya ke bawah, dengan mendahulukan yang paling dekat. (Ar-Raudhul Murbi’, hal. 1/100)
      Dan tidak boleh kerabat yang lebih jauh menjadi wali nikah sementara masih ada kerabat yang lebih dekat. Karena semacam ini sama halnya dengan merampas hak perwalian, sehingga nikahnya tidak sah.
      Al-Buhuti mengatakan,
      وإن زوج الأبعد أو زوج أجنبي ولو حاكما من غير عذر للأقرب لم يصح النكاح لعدم الولاية من العاقد عليها مع وجود مستحقها
      Jika wali yang lebih jauh menikahkannya, atau orang lain menjadi walinya, meskipun dia hakim (pejabat KUA), sementara tidak ada izin dari wali yang lebih dekat maka nikahnya tidak sah, karena (dianggap) tidak adanya perwalian ketika proses akad, sementara orang yang lebih berhak (untuk jadi wali) masih ada.” (Ar-Raudhul Murbi’, 1/10)
      Ketiga, kapan wali hakim berperan?
      Wali hakim berperan ketika calon wanita sudah tida memiliki wali lagi dari nasab atau kerabat,
      Dalam hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      فَإِنْ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ
      Jika terjadi sengketa antara mereka, maka penguasa menjadi wali untuk orang yang tidak memiliki wali. (HR. Ahmad 24205, Abu Daud 2083, Turmudzi 1021, dan yang lainnya).
      Jadi kesimpulannya berdasarkan cerita anda jika anda nekat melanjutkan rencana anda maka status pernikahan anda dengan perantara wali hakim dengan keadaan wali nasab masih ada,maka saya mengkhawatirkan bahwa pernikahan tersebut tidak sah. Jadi percuma saja anda menikah toh jatuhnya zina juga.
      Maka itu saran kami, coba dipelajari dahulu alasan apa orang tua tidak merestui hubungan kalian, in syaaAllah kalau kita sabar setiap rintangan pasti bisa kita lalui dengan baik. Dan kami saat ini belum bisa kasih solusi sebab anda belum menceritakan alasan orang tua anda tidak merestui hubungan kalian. Allahua’lam semoga dimudahkan.

  • Al anggera says:

    assalamualaikum pak uztd … saya mau nanya
    saya berumur 20 tahun, tapi saya udah berniat sekali untuk menikah dan insyallah fikiran saya sudah matang untuk menikah … tapi yg jadi kendalanya ortu saya tidak boleh saya menikah dulu dg alasan
    1. kakak saya blom menikah
    2. adek2 saya yg masih sekolah
    3. saya masih muda, fikiran masih anak2
    4. takut jika setelah menikah saya akan melupakan ortu n adek2 saya
    5. kakak saya takut kalo di langkahi di tidak akan menikah seumur hidup n malu karna dilangkahi sama adeknya sendiri
    tapi pak uztd saya udah mateng2 banget berfikir untuk menikah dg alasan karna takut zina, perbuatan2 yg di murkai allah karna itu saya berniat sekali untuk menikah n skrg saya sdah disetujui sangat oleh ortu wanitanya … tolong pak uztd sarannya ???
    dan siapa atau apa yg harus aku pilih …???
    jujur pak uztd saya sangat mencintai calon saya itu pak uztd .

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah.
      Afwan saudaraku, Umur 20 itu in syaa Allah belum masuk usia matang, meskipun anda merasa sudah matang,itu mungkin hanya perasaan anda saja. dari bahasa pertanyaan anda saja in syaa Allah bisa menunjukkan kalau anda sebenarnya belum matang,
      Saudaraku..,kami nasehatkan antum bahwa Seseorang yang sudah mampu ( ada syahwat, harta dan ilmu )dan telah memenuhi syarat untuk menikah dan jika tidak menikah di khawatirkan akan terjatuh kedalam perbuatan dosa maka hukumnya wajib baginya untuk menikah. Alasan yang anda sebutkan bukan termasuk alasan syar’i untuk menunda pernikahan. Dan Tentang pihak laki-laki tidak di syaratkan harus ada wali maupun persetujuan siapapun, tapi sebagai nasehat saja,jika anda memberitahu dan mendapat restu orang tua tentunya nantinya akan baik dan melegakan buat keluarga kecil anda nantinya. Dan tentunya anda nantinya tidak ingin ada ganjalan dalam kehidupan anda kan? maka segerakan utarakan pada ortu anda tentang rencana pernikahan anda, dan utarakan alasan dengan jujur kepada mereka bahwa anda ingin beribadah dan menjaga kehormatan diri, in syaa Allah mereka akan bisa mengerti.
      Atau adakan musyawarah keluarga besar, bila perlu anda cari pihak ketiga yang bisa membantu menjembatani antara anda dan ortu anda. Intinya secara syar’i anda tetap memiliki hak untuk punya keinginan menikah demi mashlahat pada diri anda dan juga berhak untuk memilih calon pasangan hidup anda, namun tidak ada salahnya tetap memperhatikan mudharat dan mashlahat dengan keluarga besar anda, maka itu semoga dengan adanya musyawarah keluarga akan ada jalan keluar yang terbaik nantinya in syaa Allah.
      Untuk Selanjutnya Kami anjurkan anda untuk shalat istikharah meminta petunjuk Allah Ta’ala dan memohon kemudahan dariNya, hanya Allah Ta’ala saja yang bisa membukakan hati manusia yang masih tertutup. Pastikan sebelum istikharah pilihan anda sudah sesuai dengan kriteria syari’ah dan bersabarlah setelah berdo’a sambil menunggu jawaban dari Allah Ta’ala, jangan menunggu jawaban Allah Ta’ala sambil bermaksiat kepadanya misalkan dengan tetap berpacaran dengannya, stop pacaran sampai dia sudah menjadi halal bagi anda. Setelah Allah Ta’ala nantinya memutuskan sesuatu kepada anda dengan kemantaban hati baru silahkan anda yakinkan orang tuan anda bahwa calon anda adalah pilihan Allah untuk anda. Dan andapun sudah siap untuk menikah. Allahua’lam, semoga dimudahkan

  • An-nisa says:

    Assalamualaikum ustad
    Ustad beberapa minggu yg lalu saya dilamar pacar saya,keluarga pacar saya sudah datang kerumah unt meminta izin kepada ortu saya dan kawaban merekapun memperbolehkan saya beserta pacar saya kejenjang berikutnya,ayah saya ingin sekali menikahkan saya secara sederhana yg penting SAH di mata allah&agama,namun ibu saya tidak setuju karna bliau ingin sekali menikahkan saya secara besar”an,ibu saya bernah berkata(walaupun 2thn ibu dapat uang kamu harus menunggu)ibu saya memang besar sekali gengsinya masyaallah miris hati saya ustad padahal kami ingin sekali menikah meski sederhana,usia saya 25thn calon suami saya 34thn kami ingin sekali segera menikah namun bagaimana unt meluluhkan hati ibu saya??ustad tolong saya beri saya solusi nasehat,trimakasih sebelumnya wassalamualaikum

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Sebenarnya jika anda tetap melanjutkan pernikahan dengan wali ayah anda in syaa Allah tetap sah meskipun ibu anda tidak merestuinya. Namun ridho ibu juga anda perlukan untuk ketenangan hati dan keberkahan pernikahan dan keluarga kecil anda nantinya. Oleh karena itu memang dibutuhkan banyak kesabaran anda untuk meluluhkan hati ibu anda agar menerima keputusan anda untuk bisa segera menikah dengan acara yang sederhana. misalnya langkah pertama dengan mengajak orangtua anda berbicara dari hati kehati. Sampaikan nasehat ke beliau dengan cara yang lembut,
      Kami beri anda bekal nasehat sebagai bahan renungan bagi ibu anda, bahwasannya
      Agar dalam resepsi pernikahan tidak mengandung unsur kesia-siaan, hendaknya resepsi atau walimah diselenggarakan dengan niat yang lurus, yakni untuk mengumumkan pernikahan dan memberi jamuan kepada tamu yang diundang. Dengan niat yang baik,yakni menjalankan Sunnah Nabi, maka apa yang dibelanjakan untuk resepsi in syaa Allah akan bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala.
      Adapun untuk makanan yang disediakan, hendaknya juga sesuai kemampuan yang punya hajat. Undanglah para fakir miskin, jangan hanya mengundang orang-orang kaya saja. Hal ini agar yang fakir tidak merasa tersisihkan. Selain itu, undanglah para kerabat dan sahabat sehingga menambah nilai silaturahim yang berkah dengan mengundang mereka dalam walimah.
      Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallohu’anhu, bahwa RosulullohSholallohu’alaihi wa Sallam bersabda:
      “Seburuk-buruk hidangan adalah hidangan walimah, yang diundang padanya orang-orang kaya saja dan tidak diundang para fakir miskin..” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
      Dewasa ini, banyak orang yang lebih mementingkan kemegahan acara daripada makna acara itu sendiri. Gedung mahal, dekorasi mewah, pakaian glamour, dan hiburan yang meriah justru ditonjolkan ketimbang suasana yang syahdu, dipenuhi oleh doa-doa dan ungkapan syukur. Bahkan, seringkali walimah diwarnai kemubadziran, baik dari segi makanan, konsep pesta, dan waktu yang digunakan untuk menampilkan hiburan-hiburan yang kurang penting, bahkan cenderung ma’siyat.
      Maka dari itu, selenggarakanlah resepsi pernikahan dengan sederhana, tanpa kehilangan momentum berharga dalam pernikahan. Manfaatkan momen pernikahan tersebut untuk syiar tentang kesederhanan, bukan kemubadziran. Jadikan walimah sebagai momen bersilaturahim yang mengundang keberkahan. Gunakan momen tersebut untuk ajang berbagi, kepada yang fakir. Ciptakan momen syahdu untuk doa-doa yang mustajab.
      Menciptakan resepsi pernikahan yang sederhana in Syaa Allah akan terasa lebih nikmat daripada bereuforia dalam kemegahan yang mubadzir
      Dan jika cara memberikan renungan tersebut masih belum berhasil langkah kedua Anda mungkin perlu seorang mediator yang mendukung pemikiran anda baik dari kerabat maupun orang lain yang pendapatnya dapat didengarkan orangtua dan adakan musyawarah keluarga besar.
      Barangkali dari situ nantinya akan ada jalan terbaik in syaa Allah. Allahua’lam semoga dimudahkan

  • Nia says:

    assalammualaikum pak ustadz bagaimana cara meluluhkan bapa saya yang keadaan orang tua saya sudah berpisah bahwa saya ingin dan sudah siap untuk menikah walaupun saya masih kuliah ?

    • Al Lijazy says:

      bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah,
      mungkin sebaiknya anda ajak bicara ayah anda dari hati-ke hati dahulu, ungkapkan keinginan anda untuk menikah karena Allah Ta’ala, agar tidak terjerumus kedalam dosa besar jika tidak menikah. Sampaikan ke ayah anda bahwa anda sudah mendapatkan calon suami (jika ada) yang terbaik bagi dunia dan akhirat anda serta siap menjadi imam anda dalam keluarga ( tentunya hal ini setelah anda istikhoroh pada Allah), dan janjikan pada beliau bahwa dengan menikah tidak akan mengganggu proses kuliah anda ( jika itu yang menjadi kekhawatiran ayah anda)
      jika cara ini belum berhasil dan anda masih ingin melanjutkan niat anda menikah, coba dengan cara bermusyawarah kekeluargaan, bila perlu anda cari pihak ketiga, baik dari kerabat maupun bukan yang sepaham dengan anda yang bisa membantu menjembatani antara anda dan ortu anda(khususnya ayah anda). semoga dengan adanya musyawarah keluarga akan ada jalan tengah yang baik nantinya in syaa Allah. Jangan lupa selalu berdo’a memohon pada Allah Ta’ala, agar Allah Ta’ala berkenan membuka hati ayah anda dan memudahkan urusan anda,Allahua’lam, semoga dimudahkan.

  • vinda says:

    Ustad saya mau bertanya. Usia saya sekarang 19 tahun, dan usia dia (pcr aaya) 20 tahun. Kita sdh slg mengenal dr 3 tahun yg lalu. Waktu yg cukup lama. Dia adalah seorang yg sangat baik, mau belajar terus untuk agama menghargai ortu saya. Kini kita berdua sedang kuliah dan bekerja ditempat yang sama. Sebenarnya dia sudah mengajak untuk menikah, namun orang tua saya brfikir bahwa saya harus lulus S1 dan alasan lainya bahwa ortu saya kurang setuju karena ayahnya yg tinggal di jatim, mbanya dijakarta dan ibunya yg sudah meninggal (tidak kumpul jd 1) padahal dari pihak dia jg baik trhdp saya. Apa yg harus saya lakukan ustd? Mohon bantuanya…

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alailkum Salaam warahmatullah
      Nasehat kami bahwa Seseorang yang sudah mampu ( ada syahwat, harta dan ilmu )dan telah memenuhi syarat untuk menikah dan jika tidak menikah di khawatirkan akan terjatuh kedalam perbuatan dosa maka hukumnya wajib baginya untuk menikah. Alasan yang anda sebutkan yaitu alasan harus lulus kuliah dulu dan keadaan keluarga calon anda bukan termasuk alasan syar’i yang dibolehkan untuk menunda atau menolak pernikahan jika memang telah terpenuhi syarat-syaratnya. tapi sebagai nasehat saja,jika keadaan anda tidak terlalu darurat untuk menikah maka sebaiknya anda turuti saja keinginan orang tua, apalagi jika hanya menunggu lulus kuliah tidak terlalu lama,anda bersabar hingga mendapat restu orang tua tentunya nantinya akan baik dan melegakan buat keluarga kecil anda nantinya. Namun jika hal itu darurat buat anda untuk menikah, artinya jika tidak menikah di khawatirkan terjatuh dalam perbuatan dosa Maka segera utarakan pada ortu anda tentang rencana pernikahan anda, dan utarakan alasan dengan jujur kepada mereka bahwa anda ingin beribadah dan menjaga kehormatan diri, in syaa Allah mudah-mudahan mereka akan bisa mengerti.
      Kalau memang belum berhasil,mungkin sebaiknya anda adakan musyawarah keluarga besar, bila perlu anda cari pihak ketiga yang bisa membantu menjembatani antara anda dan ortu anda. Intinya secara syar’i anda tetap memiliki hak untuk punya keinginan menikah demi mashlahat pada diri anda dan juga berhak untuk memilih calon pasangan hidup anda, namun tidak ada salahnya tetap memperhatikan mudharat dan mashlahat dengan keluarga besar anda, maka itu semoga dengan adanya musyawarah keluarga akan ada jalan keluar yang terbaik nantinya in syaa Allah.
      Untuk Selanjutnya Kami anjurkan anda untuk shalat istikharah meminta petunjuk Allah Ta’ala dan memohon kemudahan dariNya, hanya Allah Ta’ala saja yang bisa membukakan hati manusia yang masih tertutup. Pastikan sebelum istikharah pilihan anda sudah sesuai dengan kriteria syari’ah dan bersabarlah setelah berdo’a sambil menunggu jawaban dari Allah Ta’ala, jangan menunggu jawaban Allah Ta’ala sambil bermaksiat kepadanya misalkan dengan tetap berpacaran dengannya, stop pacaran sampai dia sudah menjadi halal bagi anda. Setelah Allah Ta’ala nantinya memutuskan sesuatu kepada anda dengan kemantaban hati baru silahkan anda yakinkan orang tuan anda bahwa calon anda adalah pilihan Allah untuk anda. Dan andapun sudah siap untuk menikah. Allahua’lam, semoga dimudahkan

  • Dewi Regia says:

    Saya pernah menyatakan suka dgn ikhwan yang ternyata juga menyukai saya.Dan dia berniat menikahi saya akhir tahun ini.Namun ada kendala dengan masalah biaya karena saya dan dia harus menggunakan penghasilan kami untuk membiayai hutang keluarga kami masing2.Dia membantu kakanya sedangkan saya membantu orangtua yg masing2 mencapai hingga sekitar 40 juta.Bagaimana baiknya, karena saya ingin menghindari fitnah.Dan saya sudah menolak 4 kali tawaran taaruf karena menunggu ikhwan tsb.

    • Al Lijazy says:

      Kami sarankan anda istikhoroh pada Allah Ta’ala, minta petunjuk yang terbaik dari Nya, jika secara dzahir anda memandang belum mampu menikah untuk saat ini dari sisi kesiapan harta maka bersabarlah menunggu saatnya mampu sambil saling menjaga kehormatan masing-masing dan jangan sekali-kali berani mendekati pintu-pintu perzinahan, sabarlah hingga semuanya menjadi halal bagi anda, semakin mendekatkan dirilah kepada Allah dengan ibadah puasa sunnah ataupun yang lainnya, in syaa Allah anda akan terhindar dari fitnah, namun jika anda memandang dengan menikah tanggungan-tanggungan tersebut bisa di penuhi meskipun nanti pas-pasan maka silahkan menikah jika sudah terpenuhi syarat-syaratnya. In syaa Allah dengan menikah akan lebih menjernihkan dan menenangkan pikiran dalam mengatasi masalah dengan dipikir berdua dengan suami, juga dengan menikah in syaa Allah nantinya akan terbuka pintu rizki anda. Pilihan terserah pada anda dengan mempertimbangkan mashlahat dan mudhorot yang nanti anda akan hadapi. Allahua’lam semoga dimudahkan.

  • Noura says:

    Assalamualaikum saya ingin bertanya,
    Saya wanita berusia 23 tahun, setahun yang lalu saya bertaarruf dengan laki2 dgn usia 26 tahun. Pada akhirnya kami saling mencintai dan sudah berkinginan ingin ke taraf yang lebih dekat yakni pernikahan, orang tua kami sudah setuju pada awalnya dan pihak calon saya sudah akan ke rumah untuk meminang saya tapi di undur2 terus dengan alasan sibuk dll. Hingga pada akhirnya calon mertua saya mengatakan jika telah melakukan istikhoroh dan melihat pohon sawu yang tumbang yg artinya kami akan bercerai jika di lanjutkan menikah, kami belum bisa menerima dengan hasil istihoroh itu dan sempat datang ke beberapa kyai untuk menanyakan tentang istihoroh tersebut, mereka mengatakan bahwa istihoroh belum tentu benar semua tergantung dengan yang menjalani, calon saya terus mendesak org tuanya karna saya adalah calon ke 3 yang terus saja di tolak oleh org tuanya, ada saja alasan org tuanya menolak wanita2 yg diinginkan oleh calon saya, entah masalah agamanya kurang, atau kurang pendidikanya, dan sekarang saya yg sudah sekufu malah dgn alasana istihoroh, mohon pencerahanya ustad,, kami ingin menikah dengan restu orang tua, dan masalah kami masih terus berlanjut karna orang tuanya masih menolak saya lantaran istihoroh itu, bahkan kemaren org tuanya ingin menikahkan calon saya dgn orang lain yg hanya dia dengar namanya saja dan langsung di istihorohkan dan ternyata cocok, tapi tidak berlanjut karna nasab wanita tersebut kurang baik, dalam hati saya selalu menyalahkan sikap orang tuanya yang terlalu tega egois dan tidak logis dalam memilih mennatu, saya mencintainya ustad, tapi org tuanya tidak mengharapkan saya, tolong pencerahanya ustad jazakallah…

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah.
      Perlu anda ketahui bahwa hasil istikhoroh dari Allah Ta’ala adalah ditunjukkan dengan adanya kemantaban hati untuk melangkah dan rencana bisa berjalan dengan lancar dan barokah.Kami rasa pohon tumbang itu bukan hasil istikhoroh,tapi hanya mitos atau bahkan tahayyul saja, maka itu sudah seharusnya tidak menjadikannya sebagai dasar putusan yang berkaitan dengan masa depan. Sebab menentukan masalah yang ghaib ( masa depan seseorang) berdasarkan mahluq atau kejadian alam semata adalah perkara kesyirikan yang bisa membahayakan keislaman seorang muslim. Sudah seharusnya seorang muslim hanya pasrah dan tawwakkal pada Allah Ta’ala tentang masa depannya, yang penting dia sudah melakukan ikhtiyar dengan benar.
      Untuk kasus anda kami sarankan anda atau calon anda untuk bicara dengan baik-baik dan lemah lembut kepada orang tua, nasehatkan kepada beliau bahwa kalau memang putra-putrinya sudah siap menikah dan sudah terpenuhi syarat-syaratnya maka segerakan saja menikahkannya. Sebab perintah Rasulullah adalah menyegerakan nikah bagi yang sudah mampu seperti dalam sabda beliau
      يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ منكم الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
      “Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang sudah mampu menanggung nafkah, hendaknya dia menikah. Karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sementara siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa. Karena itu bisa menjadi tameng syahwat baginya.” (HR. Bukhari 5065 dan Muslim 1400).
      Tentang keyakinan beliau dengan adanya pohon tumbang dan mitos-mitos lainnya maka itu bukanlah alasan-alasan syar’i yang bisa membuat pernikahan ditunda. Ketentuan-ketentuan tersebut bukanlah hukum islam dan seorang muslim hanya wajib terikat dengan hukum Allah saja, tidak ada yang lain. Allah berfirman;
      وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
      Dan hendaklah kkalian memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Al-Maidah; 49)
      Jika sudah mampu menikah dan dengan menunda menikah akan terjadi perbuatan dosa maka hukumnya wajib menikah. Dan menghalanginya dengan alasan yang tidak dibenarkan syari’at termasuk dosa besar.
      Dan sampaikan juga nasehat kepada orang tua agar merenungkan bahwasannya bagaimana perasaan kita sebagai orang tua yang apabila dahulu ketika masa muda kita ingin menikah, namun dihalang-halangi oleh orang tua? Tentu kita akan merasa menderita, yang bisa jadi dampaknya akan berpengaruh terhadap aktivitas ibadah kita, selain adanya kekhawatiran terjatuh kedalam fitnah syahwat. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
      وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
      “ Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S An Nuur : 32 )
      Jika dengan cara nasehat yang baik belum membuahkan hasil , kami anjurkan anda adakan musyawarah kekeluargaan, bila perlu anda cari pihak ketiga yang bisa membantu menjembatani antara anda dan ortu calon anda. semoga dengan adanya musyawarah keluarga akan ada jalan tengah yang baik nantinya in syaa Allah.
      Untuk selanjutnya Kami anjurkan anda untuk shalat istikharah meminta petunjuk Allah Ta’ala dan memohon kemudahan dariNya, hanya Allah Ta’ala saja yang bisa membukakan hati manusia yang masih tertutup. Allahua’lam semoga dimudahkan

  • Arnia says:

    Assalamualaikum ustd. Saya wanita usia 22 th.. saya sudah bekerja . Saya mempunyai calon usianya 25 th dia laki2 baik dan sudah berpenghasilan tetap. Kami sudah saling mengenal selama 6 th.. dia sllu mengajak saya menikah tp saya merasa belum siap.. tapi akhir2 ini saya merasa benar siap .. kami memutuskan untuk menikah.. orang tua calon saya sudah setuju tetapi orang tua saya tidak setuju dengan alasan saya masih memiliki seorang kakak wanita dgn usia 24 th. Dan dia belum menikah.. orang tua saya bilang saya harus menjaga hati kakak tidak boleh saling menyakiti.. kami sempat bersabar menunggu kakak saya . Tp tetap kakak saya masih belum menikah orang tua saya sempat ingin mnjodohkn kakak saya tp dia sllu menolak.. kami benar2 ingin segera menikah kami sudah benar2 siap hanya saja terhalang Restu orang tua saya .. mereka tetap ingin menikahkan anak2 nya secaa berurutan.. bagaiman ustd seharusnya saya bersikap.? Dan mohon penjelasan nya ustad.
    Terimakasih
    Wasss.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Bismillah, bicaralah dengan baik-baik dan lemah lembut kepada orang tua, nasehatkan kepada beliau bahwa kalau memang putra-putrinya sudah siap menikah dan sudah terpenuhi syarat-syaratnya maka segerakan saja menikahkannya. Sebab perintah Rasulullah adalah menyegerakan nikah bagi yang sudah mampu seperti dalam sabda beliau
      يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ منكم الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
      “Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang sudah mampu menanggung nafkah, hendaknya dia menikah. Karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sementara siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa. Karena itu bisa menjadi tameng syahwat baginya.” (HR. Bukhari 5065 dan Muslim 1400).
      Tentang adat-istiadat yang melarang melangkahi saudara tua, menjaga perasaan saudara tua, menghindari mitos tidak baik perempuan dilangkah, menjaga pandangan orang terhadap kakak perempuannya yang dilangkah, dst.. maka semuanya bukanlah alasan-alasan syar’i yang bisa membuat pernikahan ditunda. Ketentuan-ketentuan tersebut bukanlah hukum islam dan seorang muslim hanya wajib terikat dengan hukum Allah saja, tidak ada yang lain. Allah berfirman;
      وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
      Dan hendaklah kkalian memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Al-Maidah; 49)
      Jika sudah mampu menikah dan dengan menunda menikah akan terjadi perbuatan dosa maka hukumnya wajib menikah. Dan menghalanginya dengan alasan yang tidak dibenarkan syari’at termasuk dosa besar.
      Dan sampaikan juga nasehat kepada orang tua agar merenungkan bahwasannya bagaimana perasaan kita sebagai orang tua yang apabila dahulu ketika masa muda kita ingin menikah, namun dihalang-halangi oleh orang tua? Tentu kita akan merasa menderita, yang bisa jadi dampaknya kan berpengaruh terhadap aktivitas ibadah kita, selain adanya kekhawatiran terjatuh kedalam fitnah syahwat. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
      وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
      “ Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S An Nuur : 32 )
      Sebagai contoh kasus yang semisal Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah tatkala ditanya : ” Bagaimana hukum orang tua yang menghalangi putrinya yang sudah kuat (keinginannya) untuk menikah tetapi mereka masih menyuruh putrinya melanjutkan kuliah?”
      Maka beliau menjawab: ” Tidak diragukan lagi bahwa orang tuamu yang melarangmu (menikah padahal kamu) sudah siap menikah hukumnya adalah haram. Sebab, menikah itu lebih utama dari pada menuntut ilmu, dan juga karena menikah itu tidak menghalangi untuk menuntut ilmu, bahkan bisa ditempuh keduanya. Jika kondisimu demikian wahai Ukhti! Engkau bisa mengadu ke pengadilan agama dan menyampaikan perkara tersebut, lalu tunggulah keputusannya.” (Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin 2/754).
      Kalau dengan alasan kuliah saja beliau berfatwa demikian apalagi hanya karena adat atau mitos,tentunya akan lebih kuat lagi hukumnya in syaa Allah.
      Jika dengan cara nasehat yang baik belum membuahkan hasil , kami anjurkan anda adakan musyawarah kekeluargaan, bila perlu anda cari pihak ketiga yang bisa membantu menjembatani antara anda dan ortu anda. semoga dengan adanya musyawarah keluarga akan ada jalan tengah yang baik nantinya in syaa Allah.
      Untuk selanjutnya Kami anjurkan anda untuk shalat istikharah meminta petunjuk Allah Ta’ala dan memohon kemudahan dariNya, hanya Allah Ta’ala saja yang bisa membukakan hati manusia yang masih tertutup. Allahua’lam semoga dimudahkan

  • ayumeilasari says:

    Assalamualaikum ustadz saya perempuan berusia 19 tahun saya ingin menikah tapi ortu saya belum mengizinkan lantaran saya masih lerlalu kecil, belum mempunyai modal yang cukup, sebenarnya saya sudah sama” siap menikah tapi dari pihak laki” belum mempunyai modal yang cukup tad, dan semenjak ayah saya berkata sepertu itu sampai sekarang saya tidak berani membahas tentang pernikahan, mohon jawabannya tad terimakasih wassamualikum

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      kami rasa, mungkin hampir kebanyakan orang tua jika putrinya mau dilamar oleh seseorang yang belum memiliki kesiapan modal nikah akhirnya mereka timbul keraguan itu hal yang wajar, sebab namanya aja belum punya modal, modal untuk nikah saja tidak punya bayangkan..padahal itu salah satu syarat kemampuan menikah.
      Laki-laki yang mau menikah berbeda dengan wanita. Wanita jika mau menikah hanya berpikir bagaimana mendapatkan pria yang yang baik agamanya dan berpenampilan yang menarik. Tapi untuk laki-laki lebih tidak cukup demikian. Dia harus bertanggung jawab menafkahi diri, istri, dan anak. Jika dia belum punya mata pencarian atau belum bekerja, maka bagaimana dia bisa menunaikan kewajiban sebagai kepala keluarga??
      Hidup berkeluarga bukan hanya menafkahi istri satu atau dua hari saja. Namun sebuah perjalanan yang panjang, selain itu juga suami harus bertanggung jawab atas kesehatan keluarga,tempat tinggal yang layak dan kebutuhan lainnya yang masih banyak sekali., maka jika hal demikian masih dipaksakan menikah dikhawatirkan nantinya rumah tangga akan terganggu. Yang Ini sering dialami oleh pasutri bahkan terkadang hal itu akan menjadi buah bibir, baik dari mertua maupun tetangga. Karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
      وَ لْيَسْتَعْفِفِ الَّذينَ لا يَجِدُونَ نِكاحاً حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ
      “Dan orang-orang yang tidak mampu menikah, hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sampai Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya…”(Q.S. an nur 33)
      Untuk itu nasehat kami hendaknya calon anda tersebut dinasehati untuk fokus mencari maisyah/ pekerjaan dalam rangka menyiapkan bekal-bekal pernikahan. Sebab bekal-bekal pernikahan itu bukan hanya ilmu syar’i,tapi harta juga iya. Paling tidak ada kesiapan untuk biaya menikah dari biaya mahar hingga biaya walimah.untuk sementara belum mampu menikah saat ini maka kami nasehatkan anda berdua untuk bersabar dan banyak puasa. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri untuk tidak melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala dan tetap menjaga kea’atan kepadaNya, yakni dengan menghentikan hubungan yang tidak halal dengan pasangan yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan syari’at. Demikian agar Allah Ta’ala akan berkenan memudahkan jalan bagi anda. Allahua’lam bish shawab semoga segera mendapat jalan keluar yang terbaik in syaa Allah.

  • Janni Mubdi says:

    Assalamualaykum warahmatullah pak ustadz ..
    Ana Janni, usia 23.

    Pak ustadz ana ingin bertanya dan membutuhkan saran, afwan jika ini akan sedikit panjang.

    Pak ustadz, ana dulu pernah memiliki calon suami. Dia seorang muslim muallaf dari Amerika yg alhamdulillah agama nya cukup baik. Tapi November lalu (2015), beliau meninggal dunia karena kecelakaan tabrak lari. Sejak saat itu hingga saat ini, hati ana masih sangat terpukul dan terluka.

    Tapi, Januari lalu (2016), sana tanpa sengaja bertemu lg dengan seorang lelaki dari Turki. Kami tidak banyak berbicang karena dia jg muslim yg sangat “saklek” dan ana jg tidak ada ketertarikan apapun karena masih dalam keadaan berduka. Kami hanya sempat berbicang sebentar via whatsapp. Tetapi dalam waktu kurun 1-2 minggu, dia tiba2 menyatakan bahwa dia mencintai ana dan berniat menikahi ana. Ana sudah menolak berulang kali (dia tau ana dalam keadaan berduka karena ana sempat cerita), bahkan ana sempat menolak dengan cara sedikit kasar supaya dia meninggalkan ana tapi dia bersikokoh tidak ingin pergi atau meninggalkan ana.
    Hampir setiap hari dia “melamar” ana secara pribadi “maukah kamu menikah denganku?” dan ana selalu menolak. Hingga suatu hari, ana merasa iba dan menyakiti dirinya. Dan ketika dia mengulang melamar ana, akhirnya ana menjawab “iya”. Tapi saat itu, ana tidak memiliki perasaan apapun, bahkan rasa suka ataupun tertarik.

    Waktu terus berjalan. Tanpa sadar ana tertarik padanya. Bukan karena fisik tetapi ke”saklek”an agamanya. Dia alhamdulillah sangat baik iman dan akhlak nya, paling tidak lebih baik dari ana. Dia besar dari keluarga yg jg “saklek” dan memiliki gaya hidup sangat islami, dia jg lulusan sekolah islam (jika di indonesia seperti Al Falah, Al Hikmah, Muhammadiyah, dll) sejak SD sampai SMA, dia tidak pernah berkomunikasi dengan wanita kecuali adik2 & saudara/sepupu nya atau dengan teman jika ada yg perlu dibicarakan.
    Alhamdulillah dia jg berhasil merubah ana yg tadinya seorang “hijaber” dan alhamdulillah ana sekarang berpakaian syari karena dia mendidik ana dengan lembut dan benar.

    Pak ustadz, meski hati ana masih terluka, tapi dari dalam lubuk hati yg paling dalam ana sudah menerimanya. Ana sudah amat sangat yakin padanya dan jg yakin bahwa in shaa Allah dia baik untuk dunia dan akhirat ana.

    Lalu, suatu hari ana bicara pd ayah ana. Jujur, orang tua ana bukan orang tua yg “relijius” dan sbg orang jawa, mereka sangat kental dan memprioritaskan tradisi dan budaya dibanding agama. Jg orang tua ana adalah orang2 yg keras kepala.
    Pak ustadz, setelah ana cerita pd ayah ana, beliau bilang “kamu bisa sama dia, tapi ga perlu jauh2” “ngapain yg jauh2, sama yg dekat2 aja” “kamu bisa cari orang seperti dia dekat sini, ga perlu jauh” dll. Pd intinya orang tua ana tidak ingin jauh dari ana. Dulu orang tua ana restu pd almarhum calon suami yg dulu karena almarhum akan tinggal di indonesia. Sedangkan dengan laki2 ini saya akan diboyong ke turki.

    Pa ustadz, ana berpikir bahwa “mungkin Allah mengambil almarhum calon suami saya, dan Dia menggantikan dengan yg lebih baik lg untuk ana” dan ana percaya pertemuan kami adalah Qadarullah.

    Pak ustadz, apakah ana harus kembali merasakan sakit dengan mematuhi orang tua? Sedangkan orang tua tidak restu hanya karena ana akan diboyong dimana hal tsb adalah alasan diluar syariat islam dan konsekuensinya hak perwalian ayah saya akan gugur. Sedangkan “modal utama” laki2 ini untuk menjadi imam lebih dari cukup dan sudah membawa dampak positif pd ana.

    Ana jg bertemu seorang wanita yg menikah dengan muslim belanda. Kasus beliau hampir sama karena orang tua tidak mau menantu bule. Tapi setelah dia cari tahu, bicara pd ustadz, mrmbaca buku, beliau memutuskan untuk tidak menerima alasan diluar syariat sehingga beliau jalan terus akan niatnya untuk menikah. Pd akhirnya beliau menikah tanpa restu orang tua dengan wali orang lain (orang tua hanya datang akad sbg saksi bukan wali). Dan beliau sekarang bahagia dan sudah dikarunia 2 anak perempuan yg cantik2. Dan ayahnya akhirnya benar2 ikhlas dan sadar bahwa anaknya bahagia dan sehat2 saja meski ibunya belum ikhlas.

    Pak ustadz, jika ana melakukan hal yg sama dengan wanita itu apakah ana melakukan hal yg benar? Apakah ana durhaka? 1 hal ana ingin jalani adalah menjalankan hidup dengan 100% sesuai ajaran islam dan syariat jg sunnah dan hadist. Bukan adat atau tradisi.

    Pak ustadz, mohon bantu saran dan masukan bagaimana untuk membut orang tua saya terbuka hatinya?

    Ana tunggu jawabannya pak ustadz. Afwan jika sangat panjang. JazakAllah khair.

    Wassalamualaykum warahmatullah.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullahi wabarakaatuh
      Ya memang seperti yang anda katakan bahwa sebenarnya alasan ortu anda yang tidak merestui hubungan anda hanya karena tidak mau anda tinggal jauh-jauh, tidak tergolong alasan syar’i in syaa Allah, tapi demi kebaikan semua pihak coba anda berusaha menyesuaikan dulu dengan keinginan ortu anda dan mencari washilah untuk mencarikan calon yang dekat-dekat saja sambil berdo’a pada Allah Ta’ala minta dimudahkan mendapatkannya, agar ortu anda tenang dan bahagia, sebab kebahagiaan ortu akan membuahkan ridho yang akan membahagiakan anda nantinya in syaa Allah. Bagaimanapun pasangan hidup yang sekufu (diantaranya maksudnya yaitu satu negri dan budaya/kultur) lebih sesuai sunnah dan akan lebih menjamin kebahagiaan in syaa Allah.lagi pula tentang calon anda yang dari turki ini kami belum mendapatkan keterangan kalau anda sudah istikhoroh pada Allah Ta’ala tentangnya, jika memang belum maka kami anjurkan anda segera istikhoroh minta pilihkan pada Allah Ta’ala yang terbaik buat anda, dan tanda Allah ridhoi seseorang menjadi jodoh anda biasanya ditandai dengan kemantaban hati, lancarnya urusan penuh kemudahan dan keberkahan di dalamnya. Namun jika sebaliknya dikhawatirkan itu pertanda Allah Ta’ala belum meridhoinya. Adapun jika nantinya Allah Ta’ala taqdirkan bagi anda jodoh yang jauh tempat tinggalnya, in syaa Allah hal ini bukan perkara yang sulit in syaa Allah,ini bisa di musyawarahkan dengan ortu anda. Jika perlu anda datangkan orang ketiga yang anda pandang bijak dan berilmu agama dengan baik, baik dari kerabat atau bukan yang bisa menjembatani antara anda dan ortu anda. Dari jalan musyawarah kekeluargaan tersebut nanti kita bisa menimbang segala maslahah dan mudhorot dari setiap keputusan yang akan kita ambil.Sebab yang kami tahu kasus seperti ini bukan hanya menimpa anda, tapi banyak yang kami dapatkan juga menimpa saudara muslim kita yang lain, dan hasilnya ternyata bisa dicari jalan tengahnya dengan musyawarah in syaa Allah.dan semuanya bisa sama-sama ridho. Kami nasehatkan nantinya anda juga mencoba menempuh cara ini, semoga dimudahkan urusannya.Allahua’lam

  • yanti says:

    assalamualaikum ustadz bagaimana hukumnya jika seorang pria yg ingin menikahi seorang wanita namun terhalang restu dari keluarga sang pria dikarenakan pekerjaan sang wanita hanyalah seorang bidan berbeda jauh dengan anaknya yang seorang dokter dan perwira tni dan antusias orangtuanya ingin mendapatkan menantu dokter atau pejabat karena menurut beliau apabila hidup dengan dokter atau pejabat maka akan sejahtera serta kekayaannya akan bertambah ,namun jika menikah dengan seorang bidan maka hidupnya kedepan akan biasa biasa saja .
    sesungguhnya hubungan mereka sudah hampir 11 tahun, pria tersebut pun sudah mencoba bicara baik baik dengan keluarganya namun nihil tetap saja keinginan orangtuanya yang hanya ingin punya menantu dokter atau pejabat . bagaimana hukumnya pa ustadz jika mereka tetap menikah dengan kondisi seperti ini?

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah, sebenarnya untuk laki-laki bisa saja dan sah menikah dengan calon pilihannya meskipun tanpa ada restu dari orang tuanya. Sebab laki-laki tidak membutuhkan perwalian siapapun dalam pernikahannya. Namun jika tidak mengantongi restu dari keluarganya mungkin itu saja yang akan mengganggu keharmonisan rumah tangga kecilnya nanti. Saran kami agar calon laki-laki tetap bersabar dan tekun untuk membujuk ortunya dengan menunjukkan kebaikan dan nilai lebih dari calon istrinya. Jika perlu adakan musyawarah keluarga dan cari penengah yang adil dan berilmu agama yang akan membelanya di hadapan ortunya. Musyawarah keluarga dengan mempertimbangkan maslahat dan mudhorot dari setiap keputusan yang akan diambil dan jangan lupa istikhoroh kepada Allah Ta’ala itu yang paling penting. Jika memang Allah Ta’ala tetapkan dia sebagai jodohnya in syaa Allah segala rintangan akan segera terlewati dengan mudah.Allahua’lam semoga dimudahkan

  • Mega says:

    Assalamualaikum ustad saya mega,umur saya 19 tahun ada seorang duda umur 37 ingin meminang saya .menurut saya agama ya bagus sudah bekerja ,perhatian dengan anak nya
    Saya merasa siap dan tidak ada masalah karna tujuan saya ingin mendapat ridho allah lagi pula laki2nya anjloknya baik. Tapi saya tidak berani bicara kepada orang tua .. itu gimana ya ustad bicaranya agar mereka mengerti bahwa tujuan saya ini bener 2 karna allah

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Saran kami segeralah meminta izin ortu anda dan utarakan bahwa niat menikah anda ini hanya untuk ibadah dan ceritakan juga keadaan calon anda apa adanya dari segala kebaikan yang anda banggakan darinya,jangan merasa dihantui perasaan jangan-jangan tidak direstui dan sebagainya. Masalah perasaan itu hanya sekedar perasaan, belum terjadi, coba beranikan diri untuk ngomong, namun jangan lupa istikhoroh terlebih dahulu. Setelah ada kemantaban hati baru bicarakan dan minta izin kepada ortu anda. Artinya anda mengajukan calon suami kepada ortu dari hasil istikhoroh anda kepada Allah Ta’ala. Masalah hasilnya kita lihat nanti aja, kalau memang ada jalan buntu, in syaa Allah kita akan bantu cari solusi in syaa Allah. Allahua’lam semoga dimudahkan.

  • Ayu wira says:

    Assalamualaikum wr.wb
    Pak ustad, saya Ayu,dan pacar saya Akbar. saya dan pasangan saya sdh jln 2 thn pacaran, awalnya org tua saya dan pacar saya setuju , bahkan orang tua pcr saya snang karna bisa mrubh sifat bruknya saat pcr saya peminum dsb, stlh mngnl saya , Akbar brubh dya mau nurutin printah saya agar tdk jdi lelaki pminum, jarang pulang, mrokok dsb, Dulu akbar brusha untuk mndptkn saya dgn awalnya bkrja sbgai kuli, lalu alhamdulillah saat ini dya bkrja di sbuah prushaan. Lantas org tua akbar sangat bangga akn prubhannya. Lalu saya blg saya tdk ingin lma2 mnunggu untuk sgera mnikah. Brp bln yg lalu org tua saya dan org tua akbar brtmu dgn mksud untuk sgera org tua akbar sgra mnikhkn kmi, org tua saya mnjwab akbar, blm dewasa sprtinya masalah nikh gampang saya crikn tnggl ujar ortu saya , bbrpa hri kmudian ayh saya crikn tnggl baik untuk mnikah. Lalu prtmuan kdua org tua kmi kumpul kmbli, akbar ingin skli mnikhi saya, skrng orgtuanya yg mmbrikn alsan blm ckup umur, ini itu. Pdhal wktu prtmuan prtama sdh bilang ingin mnikhkn anknya sama2 suka knp dipisahkn , sgra nikhkn saja ujar ortu akbar , Kmi brdua sngat trtekan, krna alsan ortu akbar yg tdk efisien. Terutama akbar, dya skrng spulang kerja tdk prnh tpat wktu karna dya kcwa org tuanya plinplan dan akbar jga malu dgn org tua saya, Aku nggak plg mlm trs skrng , biar org tuaku sdr tanpa kmu aku nggak bisa ujar akbar. Pak, saya mohon sousinya. Trima ksih pak ustad.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Pertama kami nasehatkan sebaiknya anda jika menulis surat atau lainnya untuk tidak menyingkat salam dengan wr.wb, termasuk memulyakan kalimat agung ini adalah dengan menulis lengkap dan jelas agar anda dapat pahala dengannya.
      Tentang masalah anda yang kami pahami adalah ketidak tegasan alasan orang tua ketika mempersulit rencana pernikahan kalian. Kami rasa pasti ada satu atau beberapa alasan yang prinsip yang belum mereka utarakan kepada kalian tentang keengganan restu mereka.
      Saran kami dalam menghadapi masalah ini sebaiknya anda tenang dan sabar dulu dan jangan melakukan tindak gegabah. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri untuk tidak melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala dan tetap menjaga keta’atan kepadaNya, yakni dengan menghentikan hubungan yang tidak halal dengan pasangan yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan syari’at. Demikian agar Allah Ta’ala akan berkenan memudahkan jalan bagi anda.
      Meskipun anda secara syar’i juga berhak menentukan calon suami,namun agama juga tidak menyarankan anak perempuan untuk melawan orangtuanya, , karena ridho orangtua juga anda perlukan untuk keberkahan pernikahan anda. Oleh karena itu memang dibutuhkan banyak kesabaran anda untuk meluluhkan hati orangtua agar menerima pilihan anda. misalnya langkah pertama dengan mengajak orangtua anda berbicara dari hati kehati, kemukakan alasan terbaik anda memilih dia jadi suami. Atau misalkan anda sudah merasa dia pantas untuk menjadi imam keluarga anda dan sebagainya.
      Namun jika belum berhasil, sebagai langkah kedua Anda mungkin perlu seorang mediator yang pendapatnya dapat didengarkan orangtua dan adakan musyawarah keluarga besar.
      perlu anda ketahui bahwa Untuk menikah secara syah, tentu harus memenuhi rukun nikah yang salah satunya adanya wali dari ayah kandung atau wakil dari pihak ayah dan seterusnya. Meskipun tidak mengantongi restu ortu, anda teranggap sah menikah dengan calon suami anda selama rukun nikah terpenuhi. Meski demikian ada baiknya jika anda bersabar hingga orangtua yakin bahwa pilihan anda adalah pria terbaik bagi anda.
      Saya yakin bagaimanapun orangtua hanya menginginkan anaknya bahagia, karenanya tunjukkan bahwa pilihan anda adalah orang yang tepat dan satu-satunya yang bisa membahagiakan anda dunia dan akhirat. Di samping itu memohonlah pada Allah agar Allah Ta’ala membukakan hati kedua orangtua agar mau menerima segala yang ada pada calon suami anda. Semoga dengan menempuh langkah diatas tidak perlu waktu terlalu lama bagi anda untuk mendapatkan restu orangtua anda. Allahualam bishawab

  • Soleh says:

    Saya di larang menikah sama kedua orang tua saya.. alasannya si wanita janda beranak 4. Paling besar kelas 6 sd, dan yang kedua kelas 3 sd, dan yang ketiga baru mau masuk sd dan yang keempat baru mau masuk les belajar membaca dan menulis.. padahal saya sudah siap. Masa gara” si cewek janda beranak 4 saya di larang menikah.. gimana solusinya ya pak??

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, kami rasa anda hanya butuh ekstra sabar untuk mengajak orangtua anda berbicara dari hati kehati, kemukakan alasan terbaik anda memilih dia jadi istri anda. Tentunya hal ini setelah anda istikhoroh pada Allah Ta’ala tentang pilihan anda ini. Orang tua anda mungkin hanya butuh pencerahan saja, terutama tentang keutamaan menikahi janda yang memiliki anak.
      Misalkan Kita tahu bersama bahwa anak yatim adalah anak yang ditinggal mati ayahnya. Anak seperti inilah yang dikatakan yatim dan punya keutamaan untuk ditolong karena penanggung nafkahnya -yaitu ayahnya- sudah tiada. Jika ada yang menikahi janda karena ingin menolong anaknya, maka ia akan dapat keutamaan besar menyantuni anak yatim.
      Dari Sahl ibnu Sa’ad, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,
      « أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هَكَذَا » . وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى ، وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا
      “Kedudukanku dan orang yang menanggung anak yatim di surga bagaikan ini.” [Beliau mengisyaratkan (mensejajarkan)jari telunjuk dan jari tengahnya, namun beliau sedikit regangkan antara keduanya]. (HR. Bukhari no. 5304).

      Semoga dengan pencerahan tersebut hati orang tua anda akan sedikit terbuka, sebab sebagai orang tua yang berhati bersih pasti akan merasakan iba terhadap nasib para anak yatim yang mereka tidak ada yang mengurusi/ menanggung biaya hidupnya. Dan tentunya akan menjadi bangga jika anaknya yang akan menjadi penolong anak-anak yatim tersebut, sehingga dengan demikian mereka akan meresstui pernikahan anda. Allahua’lam

  • ElI says:

    Assalamu’alaykum ustadz, saya akhwat 25 th. Ada laki2 pilihan saya telah datang menemui org tua saya meminta izin untuk menikahkan saya. Ia berasal dari keluarga sederhana, namun sudah punya pekerjaan tetap. Ia sudah mulai ikut kajian sunnah karena mengenalnya dari keluarga saya. Namun sangat disayangkan org tua saya meminta sejumlah biaya yg cukup besar bagi laki2 pilihan saya tsb dan tidak ingin menyegerakan pernikahannya dengan alasan nikah perlu waktu lama untuk persiapan, tidak bisa segera. Setelah ia beberapa kali kontak dengan org tua saya, org tua saya cukup tersinggung ketika laki2 pilihan saya tersebut menyebutkan hadits ttg menyegerakan nikah dan resepsi sederhana. Org tua saya merasa diajari. Pada akhirnya org tua saya menolaknya dgn berharap ada laki2 kaya yg mau melamar saya nantinya. Bagaimana lagi cara saya meyakinkan org tua saya ustadz? Mohon nasehatnya. Syukron. Wassalamu’alaykum.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum \salaam warahmatullah
      Kami sependapat dengan calon anda menasehati asalkan dengan cara yang paling baik sesuai adat setempat dan tidak terkesan menggurui yang lebih tua umurnya, bahwasannya kalau memang sudah siap menikah dan sudah terpenuhi syarat-syaratnya maka di segerakan saja menikahnya. Sebab perintah Rasulullah adalah menyegerakan nikah bagi yang sudah mampu seperti dalam sabda beliau

      يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ منكم الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

      “Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang sudah mampu menanggung nafkah, hendaknya dia menikah. Karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sementara siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa. Karena itu bisa menjadi tameng syahwat baginya.” (HR. Bukhari 5065 dan Muslim 1400).
      Apalagi melihat keadaan tertundanya pernikahan anda karena terlalu beratnya mahar yang diminta , yang ini termasuk perkara yang harus dihindari untuk memudahkan para pemuda untuk bisa menikah, tidak justru kita mempersulitkan keadaan. Sedangkan Islam menganjurkan agar meringankan mahar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      “Sebaik-baik mahar adalah mahar yang paling mudah (ringan).” (HR. al-Hakim : 2692, beliau mengatakan “Hadits ini shahih berdasarkan syarat Bukhari Muslim.”)
      Imam Ahmad meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
      إِنَّ مِنْ يَمْنِ الْمَرْأَةِ تَيْسِيْرُ صَدَاقُهَا وَتَيْسِيْرُ رَحِمُهَا.
      “Di antara kebaikan wanita ialah memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya.”[ HR. Ahmad (no. 23957), al-Hakim (II/181), ia menshahihkannya dan menilainya sesuai dengan kriteria al-Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak mengeluar-kannya serta disetujui oleh adz-Dzahabi, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ (II/251) dan dalam al-Irwaa’ (VI/250).

      ‘Urwah berkata: “Yaitu, memudahkan rahimnya untuk melahirkan.”
      3. Abu Dawud meriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiyallahu anhu, ia mengatakan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
      خَيْـرُ النِّكَـاحِ أَيْسَـرُهُ.
      ‘Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah.’”[ HR. Abu Dawud (no. 2117) kitab an-Nikaah, al-Hakim (II/182), ia menshahih-kannya dan menilainya sesuai syarat Syaikhan (al-Bukhari-Muslim), dan Syaikh al-Albani menilainya sesuai syarat Muslim. Lihat al-Irwaa’ (VI/345).

      Dalam riwayat Imam Ahmad:
      إِنَّ أَعْظَمَ النَّكَـاحِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُ مُؤْنَةً.
      “Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.”[ HR. Ahmad (no. 24595).

      Saran kami dalam menghadapi masalah ini sebaiknya anda tenang dan sabar dulu dan jangan melakukan tindak gegabah. Meskipun anda secara syar’i juga berhak menentukan calon suami,namun agama juga tidak menyarankan anak perempuan untuk melawan orangtuanya, , karena ridho orangtua juga anda perlukan untuk keberkahan pernikahan anda. Oleh karena itu memang dibutuhkan banyak kesabaran anda untuk meluluhkan hati orangtua agar menerima pilihan anda. misalnya langkah pertama dengan mengajak orangtua anda berbicara dari hati kehati, kemukakan alasan terbaik anda memilih dia jadi suami. Jelaskan ke ayah anda bahwa dia lali-laki yang ta’at kepada Rabbnya,mau menuntut ilmu syar’i, sehingga dia pantas untuk menjadi imam keluarga anda.
      Namun jika belum berhasil, sebagai langkah kedua Anda mungkin perlu seorang mediator yang pendapatnya dapat didengarkan orangtua dan adakan musyawarah keluarga besar.
      perlu anda ketahui bahwa Untuk menikah secara syah, tentu harus memenuhi rukun nikah yang salah satunya adanya wali dari ayah kandung atau wakil dari pihak ayah dan seterusnya. Meskipun tidak mengantongi restu ortu, anda teranggap sah menikah dengan calon suami anda selama rukun nikah terpenuhi. Meski demikian ada baiknya jika anda bersabar hingga orangtua yakin bahwa pilihan anda adalah pria terbaik bagi anda.
      Saya yakin bagaimanapun orangtua hanya menginginkan anaknya bahagia, karenanya tunjukkan bahwa pilihan anda adalah orang yang tepat dan satu-satunya yang bisa membahagiakan anda dunia dan akhirat. Di samping itu memohonlah pada Allah agar Allah Ta’ala membukakan hati kedua orangtua agar mau menerima segala yang ada pada calon suami anda. Semoga dengan menempuh langkah diatas tidak perlu waktu terlalu lama bagi anda untuk mendapatkan restu orangtua anda. Allahualam bishawab

  • ELN says:

    Assalamualaikum ustad…. saya akhwat berumur 26.
    Ada seorang laki-laki umur 33 mengajak taaruf melalui teman saya, lelaki ini bekerja satu kabupaten dengan tempat tugas saya. Setelah proses taaruf hingga istikharah.. saya merasa cocok dan mantap menerimanya karena agamanya yang bagus.
    Lelaki ini meminta kepada ayah saya, tp secara tersirat ayah menolaknya karena ortu saya menginginkan saya mutasi ke kabupaten asal saya, ortu ingin suatu saat nanti saya menikah setelah adik-adik saya selesai kuliah, sedangkan saat ini adik saya masih duduk dibangku SMA. Mereka takut saya tidak membiayai adik-adik. Saya telah menjelaskan kepada ortu saya akan membiayai, tp ortu mengatakan kalau saya menikah semua akan beda. Sampai ibu saya mengatakan saya boleh menikah setelah mereka tiada. Langkahin dulu mayat kami baru kamu boleh menikah kata ibu saya, dan beliau mengatakan sudah menyekolahkan saya hingga sarjana, kenapa pas sudah kerja harus menikah, dan anehnya malah beliau menyuruh pacaran saja tp tidak menikah. Saya pernah menjelaskan kepada ibu saya dengan baik2 bahwa berdosa jika saya berpacaran. Tapi yang terjadi beliau mengamuk dan memaki2 saya, beliau mngatalan berdosa mana pacaran atau tidak menuruti maunya beliau..
    Mohon sarannya ustad… saya sangat bingung…

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum salam warahmatullahi wabarokaatuh
      Tanggapan kami yang Pertama tentang masalah anda adalah ortu memerintahkan anda pacaran dengan calon anda. Ini yang kami sesalkan, dan ini jelas harus anda ingkari dan tidak boleh mentaatinya meski perintah tersebut dari ortu kita.
      Dalil tentang hal ini adalah sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam,
      لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ إِنَّمَا الطَّاعَةَ فِي الْمَعْرُوْفِ
      “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya di dalam kebaikan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu)
      Saran kami dalam menghadapi masalah ini sebaiknya anda tenang dan sabar dulu dan jangan melakukan tindak gegabah. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri untuk tidak melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala dan tetap menjaga keta’atan kepadaNya, yakni dengan menghentikan hubungan yang tidak halal dengan pasangan yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan syari’at. Demikian agar Allah Ta’ala akan berkenan memudahkan jalan bagi anda.
      Meskipun anda secara syar’i juga berhak menentukan calon suami,namun agama juga tidak menyarankan anak perempuan untuk melawan orangtuanya, , karena ridho orangtua juga anda perlukan untuk keberkahan pernikahan anda. Oleh karena itu memang dibutuhkan banyak kesabaran anda untuk meluluhkan hati orangtua agar menerima pilihan anda. misalnya langkah pertama pada saat dan waktu yang tepat anda mengajak orangtua anda berbicara dari hati kehati, kemukakan alasan terbaik anda memilih dia jadi suami. Atau misalkan anda sudah merasa dia pantas untuk menjadi imam keluarga anda dan sebagainya.
      in syaa Allah dalam keadaan seperti ini jika tidak menikah akan terjadi fitnah syahwat bagi anda yang akan menjerumuskan kedalam perbuatan dosa, maka menikah bagi anda harus didahulukan dari pada menjalankan amanah untuk membiayai adik anda sekolah, yang mana menyekolahkan adik anda secara asal hukum adalah kewajiban orang tuanya, bukan kewajiban anda. Namun jika bisa dilaksanakan dua-duanya in syaa Allah bagus, anda bisa menikah sekaligus menjalankan amanah orang tua anda.sebab bisa jadi dengan menikah justru Allah Ta’ala membukakan pintu rizki bagi anda, sehingga bisa sekalian menyekolahkan adik anda.

      Namun jika langkah pertama belum berhasil, sebagai langkah kedua Anda mungkin perlu seorang mediator yang pendapatnya dapat didengarkan orangtua dan adakan musyawarah keluarga besar.
      perlu anda ketahui bahwa Untuk menikah secara syah, tentu harus memenuhi rukun nikah yang salah satunya adanya wali dari ayah kandung atau wakil dari pihak ayah dan seterusnya. Meskipun tidak mengantongi restu ortu, anda teranggap sah menikah dengan calon suami anda selama rukun nikah terpenuhi. Meski demikian ada baiknya jika anda bersabar hingga orangtua yakin bahwa pilihan anda adalah pria terbaik bagi anda.
      Saya yakin bagaimanapun orangtua hanya menginginkan anaknya bahagia, karenanya tunjukkan bahwa pilihan anda adalah orang yang tepat dan satu-satunya yang bisa membahagiakan anda dunia dan akhirat. Di samping itu memohonlah pada Allah agar Allah Ta’ala membukakan hati kedua orangtua agar mau menerima segala yang ada pada calon suami anda. Semoga dengan menempuh langkah diatas tidak perlu waktu terlalu lama bagi anda untuk mendapatkan restu orangtua anda. Allahualam bishawab

  • Cici says:

    Assalamualaikum ustad, saya ingin bertanya. Saya telah dilamar seorang laki dari sebelum bulan puasa, saya sdh mengenalnya 9th yg lalu. Tapi orgtua saya blum memberikan izin krna laki laki tersebut anak angkat. Orgtua saya terutama ibu saya malu sama tetangga kalau punya menantu sperti dia, padahal ibu sya tau laki laki tersebut sopan dan baik thp saya dan keluarga. dan bbrpa alasan lainnya dri ibu dan bapak saya. Saya juga minta bantuan kpd nenek saya, tante, om, semua sodara2 saya.. alhamdulillah mereka mensupport. Yang jdi masalah hanya orgtua saya, mereka pgen tau laki2 itu berasal dri keluarga drimana. Sementara saya tdk tau dia dilahirkan siapa, bahkan laki2 ini juga tdk tau kalau dia anak angkat.Bagaimana ini ustad? Tlong saya.. disatu sisi saya sayang kpd orgtua.. tpi saya juga ingin menikah dg laki laki pilihan saya. 😢😢

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Sebaiknya anda istikhoroh dulu pada Allah Ta’ala meminta petunjuk tentang calon anda tersebut, nanti kalau memang Allah Ta’ala meridhoi kalian pasti jalannya akan mulus, dan jika semakin mantap dengan pilihan anda tersebut karena sebab istikhoroh, baru beranikan diri untuk meminta restu kembali dari ortu anda, kemukakan alasan terbaik anda kenapa anda memilih dia sebagai calon suami
      \ Namun Kalau dengan bicara sendiri dengan baik-baik belum berhasil,mungkin sebaiknya anda adakan musyawarah keluarga besar, bila perlu anda cari pihak ketiga yang berilmu syar’i dan bijak yang bisa membantu menjembatani antara anda dan ortu anda dan jika memungkinkan hadirkan juga calon anda dalam musyawarah tersebut untuk menyampaikan tentang siapa jati dirinya dan mengutarakan niat baiknya. Intinya secara syar’i anda tetap memiliki hak untuk punya keinginan menikah demi mashlahat pada diri anda dan juga berhak untuk memilih calon pasangan hidup anda, namun tidak ada salahnya tetap memperhatikan mudharat dan mashlahat dengan keluarga besar anda, maka itu semoga dengan adanya musyawarah keluarga akan ada jalan keluar yang terbaik nantinya in syaa Allah. Allahua’lam.

  • reko oktora says:

    Assalamualaikum ustad.. Saya Riko usia 25 tahun Anak tunggal, sudah punya usaha sendiri dan saya merasa usia penghasilan saya sudah memadai untuk berumah tangga..
    Dan saya sudah mempunyai calon yg diapun sudah bersedia menerima saya.
    Tapi orang tua saya tidak sutuju kami menikah, dg alasan si wanita tinggalnya jauh dari tempat tinggal kami, karna saya anak tunggal orang tua saya menginginkan saya menikah dg wanita yg tinggalnya tidak jauh dari t4 tinggal kami padahal saya sangat menyukai wanita tersebut dan saya juga sudah yakin dengan pilihan saya. Pertanyaannya bagaimana tindakan saya selanjutnya ?
    Sementara saya takut skali melawan orang tua saya.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,wa’alaikum Salaam warahmatullah, sebenarnya alasan ortu anda tidak tergolong alasan syar’i in syaa Allah, tapi demi kebaikan semua pihak coba anda berusaha menyesuaikan dulu dengan keinginan ortu anda dan mencari washilah untuk mencarikan calon yang dekat-dekat saja sambil berdo’a pada Allah Ta’ala minta dimudahkan mendapatkannya, agar ortu anda tenang dan bahagia, sebab kebahagiaan ortu akan membuahkan ridho yang akan membahagiakan anda nantinya in syaa Allah. Namun jika nantinya Allah Ta’ala taqdirkan kecondongan dan kemantaban bagi anda jodoh yang jauh tempat tinggalnya, in syaa Allah hal ini bukan perkara yang sulit in syaa Allah,ini bisa di musyawarahkan dengan ortu anda. Sebab yang kami tahu kasus seperti ini bukan hanya menimpa anda, tapi banyak yang kami dapatkan juga menimpa saudara muslim kita yang lain, dan hasilnya ternyata bisa dicari jalan tengahnya dengan musyawarah in syaa Allah. dan semuanya bisa sama-sama ridho. Kami nasehatkan nantinya anda juga mencoba menempuh cara ini, bila perlu anda cari pihak ketiga yang berilmu syar’i dan bijak yang bisa membantu menjembatani antara anda dan ortu anda.semoga dimudahkan usannya.Allahua’lam

      • reko oktora says:

        Assalamualaikum.wr.wb..
        Pak ustad dulu stlh dimusyawarahkan akhirnya org tua saya stuju saya menikah dg pilihan Saya yg tinggalnya jauh dari tempat saya,. Berita tersebut sudah saya sampaikan kpada wanita pilihan saya dan keluarganya, dan kamipun telah merencanakan mnikah bbrapa bln lagi, memang blm ada pembicaraan serius antara keluarga saya dg kluarga sang Gadis, dan brita inipun blm bnyak yg tau hanya sbatas kluarga dekat kami yg mngetahui brita trsbt. Tapi bbrapa hari yg lalu ada utusan dari kluarga wanita lain yg datang dan mengiinginkan saya utk mnikah dg wanita trsebut, dan tinggalnya tidak jauh dari tempat saya dan org tua saya malah brubah pikiran dan ingin saya menerima wanita yg barusan datang sdangkan saya tlh memutuskan dan berjanji kpda wanita yg jauh dari t4 tinggal saya. Dari segi akhlak dan agama kduanya sama-sama baik. Saya harus bgaimana pak ustad ?

        • Al Lijazy says:

          bismillah,wa’alaikum salaam warahmatullah, jika menurut anda keduanya sama-sama baik dari sisi agama dan akhlaqnya maka anda kami nasehatkan untuk sholat istikhoroh mohon pilihkan kepada Allah Ta’ala pendamping yang terbaik buat anda, teruslah beristikhoroh terutama di setiap sepertiga malam terakhir hingga Allah Ta’ala memberikan kemantaban hati bagi anda untuk memilih. Allahua’lam

  • Desi says:

    Assalamu’alaikum pak ustadz, nama saya desi, umur saya 24 tahun dan pacar saya juga 24 tahun, kami sudah merencanakan menikah, tapi orangtua saya melarang kami menikah dengan alsan laki-laki yang saya pilih belum mapan (tunggu sukses dulu), dan belum boleh menikah sebelum kakak pertama saya (31 tahun) menikah, sedangkan saya ingin menikah untuk menghindari fitnah dan dosa2 pacaran, saya dianggap tidak menghargai orangtua kalau saya tidak mengikuti kemauan orangtua saya, apa yang harus saya lakukan pak ustadz ??

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      kami rasa wajar ya jika kebanyakan orang tua menginginkan yang terbaik bagi putrinya, jika putrinya mau dilamar oleh seseorang yang belum siap bekal hartanya kemudian ortu ada keraguan itu hal yang wajar, sebab namanya aja masih belum punya bekal. Wajar ortu meragukan masa depan putrinya, meskipun yang benar mereka harus tawwakalkan kepada Allah ta’ala tentang rizki putrinya. Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan hambaNya selama dia bertaqwa kepada Nya.
      Namun sebagai bahan renungan agar melegakan semua pihak bahwa Laki-laki yang mau menikah berbeda dengan wanita. Wanita jika mau menikah hanya berpikir bagaimana mendapatkan pria yang yang baik agamanya dan berpenampilan yang menarik. Tapi untuk laki-laki tidak cukup demikian. Dia harus bertanggung jawab menafkahi diri, istri, dan anak. Jika dia belum punya mata pencarian atau belum bekerja, maka bagaimana dia bisa menunaikan kewajiban sebagai kepala keluarga??
      Hidup berkeluarga bukan hanya menafkahi istri satu atau dua hari saja. Namun sebuah perjalanan yang panjang, selain itu juga suami harus bertanggung jawab atas kesehatan keluarga,tempat tinggal yang layak dan kebutuhan lainnya yang masih banyak sekali., maka jika hal demikian masih dipaksakan menikah dikhawatirkan nantinya rumah tangga akan terganggu. Yang Ini sering dialami oleh pasutri bahkan terkadang hal itu akan menjadi buah bibir, baik dari mertua maupun tetangga. Karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
      وَ لْيَسْتَعْفِفِ الَّذينَ لا يَجِدُونَ نِكاحاً حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ
      “Dan orang-orang yang tidak mampu menikah, hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sampai Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya…”(Q.S. an nur 33)
      Untuk itu nasehat kami hendaknya calon anda tersebut dinasehati untuk fokus mencari maisyah/ pekerjaan dalam rangka menyiapkan bekal-bekal pernikahan. Sebab bekal-bekal pernikahan itu bukan hanya ilmu syar’i,tapi harta juga iya. Paling tidak ada kesiapan untuk biaya menikah dari biaya mahar hingga biaya walimah.untuk sementara belum mampu menikah saat ini maka kami nasehatkan anda berdua untuk bersabar dan banyak puasa. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri untuk tidak melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala dan tetap menjaga kea’atan kepadaNya, yakni dengan menghentikan hubungan yang tidak halal dengan pasangan yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan syari’at. Demikian agar Allah Ta’ala akan berkenan memudahkan jalan bagi anda. Allahua’lam bish shawab semoga segera mendapat jalan keluar yang terbaik in syaa Allah.

  • bella says:

    Ass.. Pk ustad, nama sya bela umur saya 21 tahun dan pcr sya umur 28 tahun, kami berniat menikah tpi orang tua saya melarang untuk menikah dgn pacar saya dgn alasan ada sumpahan dari kakek saya yg sudah meninggal tidak boleh menikah dgn orang jawa, dikarenakan anak kakek pernah menikah dengan orang terus disakitin, mohon pk ustad penjelasan nya bagaimana kami bisa mendapatt kan restu org tua, trs bagaimana dgn sumpah itu

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, sumpah jika bertentangan dengan syari’at maka tidak teranggap. Tidak semua orang jawa seperti itu. Jika ada orang jawa yang baik agamanya bertaqwa pada Allah dan keadaannya siap menikah lahir batinnya dan terpenuhi semua syaratnya maka sangat pantas un tuk dijadikan pendamping hidup.
      Dalam keadaan seperti ini memang dibutuhkan banyak kesabaran anda untuk meluluhkan hati orangtua agar menerima pilihan anda. misalnya langkah pertama pada saat dan waktu yang tepat anda mengajak orangtua anda berbicara dari hati kehati, kemukakan alasan terbaik anda memilih dia jadi suami. Atau misalkan anda sudah merasa dia pantas untuk menjadi imam keluarga anda dan sebagainya.
      Namun jika langkah pertama belum berhasil, sebagai langkah kedua Anda mungkin perlu seorang mediator yang pendapatnya dapat didengarkan orangtua dan adakan musyawarah keluarga besar.
      perlu anda ketahui bahwa Untuk menikah secara syah, tentu harus memenuhi rukun nikah yang salah satunya adanya wali dari ayah kandung atau wakil dari pihak ayah dan seterusnya. Meskipun tidak mengantongi restu ortu, anda teranggap sah menikah dengan calon suami anda selama rukun nikah terpenuhi. Meski demikian ada baiknya jika anda bersabar hingga orangtua yakin bahwa pilihan anda adalah pria terbaik bagi anda.
      Saya yakin bagaimanapun orangtua hanya menginginkan anaknya bahagia, karenanya tunjukkan bahwa pilihan anda adalah orang yang tepat dan satu-satunya yang bisa membahagiakan anda dunia dan akhirat. Di samping itu memohonlah pada Allah agar Allah Ta’ala membukakan hati kedua orangtua agar mau menerima segala yang ada pada calon suami anda. Semoga dengan menempuh langkah diatas tidak perlu waktu terlalu lama bagi anda untuk mendapatkan restu orangtua anda. Allahualam bishawab

  • Dita says:

    Assalaamuàlaikum ustadz, saya mahasiswi umur 18thn saya punya teman dekat pria berumur 19thn. Baik saya maupun dia masih sama2 kuliah. Kami berdua sudah sama2 ingin menikah, hanya saja ada kendala dari pihak keluarga yang masih menganggap tabu menikah dini. Padahal kami hanya ingin terhindar dari perbuatan dosa.Mengingat baik saya maupun ia sama2 memiliki -maaf- syahwat yg tinggi.
    Akhirnya dia menjanjikan akan melamar saya setelah lulus kuliah dan setelah dia memiliki pekerjaan. Namun yang saya takutkan apakah tidak terlalu lama, mengingat akan lebih banyak dosa yang dilakukan. Terlebih saya juga berpikir apakah ia memang jodoh saya atau bukan, lalu jika nanti dalam waktu 3 thn itu ada yang melamar saya bagaimana..Sehingga saya selalu mendesak untuk segera melamar saya secepatnya, namun dia selalu menolak karena dari orang tua nya belum mengizinkan.
    Ustadz yang ingin saya tanyakan, bagaimana solusi terbaiknya? Terimakasih

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      masalahnya yang kami lihat adalah calon anda tersebut masih kuliah, kami rasa mungkin hampir kebanyakan orang tua jika putrinya mau dilamar oleh seseorang yang masih kuliah lalu ada mereka ragu, itu hal yang wajar, sebab namanya aja masih kuliah, yang tentunya masih di bayai ortunya, bagaimana dia akan memberi nafkah istrinya kalau sekarang aja dirinya sendiri masih butuh nafkah dari ortunya.
      Laki-laki yang mau menikah,keadaannya berbeda dengan wanita. Wanita jika mau menikah hanya berpikir bagaimana mendapatkan pria yang yang baik agamanya dan berpenampilan yang menarik. Tapi untuk laki-laki lebih tidak cukup demikian. Dia harus bertanggung jawab menafkahi diri, istri, dan anak. Jika dia belum punya mata pencarian atau belum bekerja, maka bagaimana dia bisa menunaikan kewajiban sebagai kepala keluarga??
      Hidup berkeluarga bukan hanya menafkahi istri satu atau dua hari saja. Namun itu adalah sebuah perjalanan yang panjang, selain itu juga suami harus bertanggung jawab atas kesehatan keluarga,tempat tinggal yang layak dan kebutuhan lainnya yang masih banyak sekali., maka jika hal demikian masih dipaksakan menikah dikhawatirkan nantinya rumah tangga akan terganggu. Yang Ini sering dialami oleh pasutri bahkan terkadang hal itu akan menjadi buah bibir, baik dari mertua maupun tetangga. Karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
      وَ لْيَسْتَعْفِفِ الَّذينَ لا يَجِدُونَ نِكاحاً حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ
      “Dan orang-orang yang tidak mampu menikah, hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sampai Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya…”(Q.S. an nur 33)
      Untuk itu nasehat kami hendaknya calon anda tersebut dinasehati untuk fokus menyelesaikan kuliah dulu,setelah itu fokus mencari maisyah/ pekerjaan dalam rangka menyiapkan bekal-bekal pernikahan. Sebab bekal-bekal pernikahan itu bukan hanya ilmu syar’i,tapi harta juga iya. Paling tidak ada kesiapan untuk biaya menikah dari biaya mahar hingga biaya walimah.untuk sementara belum mampu menikah saat ini maka kami nasehatkan anda berdua untuk bersabar dan banyak puasa sunnah demi meredam syahwat. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri untuk tidak melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala dan tetap menjaga kea’atan kepadaNya, yakni dengan menghentikan hubungan yang tidak halal dengan pasangan yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan syari’at. Demikian agar Allah Ta’ala akan berkenan memudahkan jalan bagi anda. Tentang di masa menunggu kesiapan calon anda, jika ada yang masuk dan anda cocok maka tidak ada halangan anda jika menerimanya, sebab dalam proses menunggu tersebut anda belum di khitbah, jadi masih terbuka bagi siapa saja. Kecuali calon anda yang masih kuliah tadi mengkhitbah anda dan menjanjikan waktu maka anda wajib menunggunya dan harus menutup pintu bagi yang lain, kecuali khitbah tersebut dibatalkan.Allahua’lam bish shawab semoga segera mendapat jalan keluar yang terbaik in syaa Allah.

  • Ayuni says:

    Assalamualaikum ustad, saya perempuan berumur 27th dan ingin menikah dengan laki-laki berumur 33th. Saya sudah memiliki pnghasilan tetap dan laki-laki yg ingin menikahi saya jg telah memiliki penghasilan. Laki-laki tersebut sdh pernah bertemu kdua org tua saya untuk melamar, tetapi kdua org tua saya blm menjawab dkarenakan hrus berdiskusi dgn kluarga besar terlebih dahulu. Saat ini masalah yg saya hadapi adalah, org tua pihak laki-laki pernah kecewa dikarenakan org tua saya tidak jd datang bersilaturrahmi ke rmh beliau. Apakah saya salah karena saya meminta kdua org tua saya untuk bersilaturrahmi krmh org tua pihak laki-laki (ibu saya branggapan silaturrahmi itu sama dengan melamar), padahal org tua pihak laki-laki hanya ingin berkenalan dgn org tua saya. Saya sudah sering kali menjelaskan kepada orang tua saya bahwasanya kami prgi ke rmh pihak laki-laki hanya unt silaturrahmi bukan untuk melamar laki-laki tsb, dikarenakan sblmnya laki-laki tsb jg sudah pernah prgi krmh saya dan beberapa kluarga besar unt berkenalan. Kami hanya ingin segera menikah, dan saat ini hanya terganjal masalah tsb, org tua saya tidak ingin krmh pihak laki-laki unt bersilaturrahmi dan org tua laki-laki dan keluarganya jg tidak ingin krmh saya dikarenakan sblmnya pernah kecewa dan jg merasa blm mengenal kluarga saya. Mohon bantuan dan solusi dr ustad. Terimakasih sebelumnya. Wassalam

    • Al Lijazy says:

      bismillah, wa’alaikum salaam warahmatullah,nasehat kami sebaiknya salah satu keluarga harus ada yang mengalah, kalau nuruti kecewanya hati tidak akan pernah menyelesaikan masalah, berbesarlah hati demi maslahat yang lebih besar, mengalah demi kebaikan in syaa Allah akan berbuah pahala, kalau melihat situasi keluarga anda sebaiknya keluarga laki-laki yang berbesar hati dan mengalah untuk sowan ke keluarga anda, lagipula memang yang pantas di adat kita adalah keluarga laki-laki yang memulai duluan untuk ta’aruf dengan keluarga wanita. coba anda nasehatkan mereka mudah-mudahan mereka mau menerima. Allahua’lam

      • Ayuni says:

        Terimakasih ustad atas solusinya. Mohon maaf sebelumnya ustad, saya sudah menyampaikan hal tsb kpada pihak laki-laki tetapi hasilnya ttp sama pihak laki-laki tidak mw pergi menemui keluarga saya. Apakah salah apabila saya meminta kepada org tua saya agar lebih dulu pergi menemui keluarga laki-laki ( dlm adat minang, pihak perempuan yg lebih duluvdatang krmh laki-laki)? Sebelumnya saya sudah prnh eminta agar org tua saya dtg, tetapi org tua saya keberatan dikarenakan takut dikucilkan oleh keluarga beliau karena dikeluarga kami biasanya pihak laki-laki yg dluan dtg krmh perempuan. Mohon solusi dari ustad, terimakasih sebelumnya. Wassalam

  • reko oktora says:

    Assalamualaikum.wr.wb..
    Pak ustad dulu stlh dimusyawarahkan akhirnya org tua saya stuju saya menikah dg pilihan Saya yg tinggalnya jauh dari tempat saya,. Berita tersebut sudah saya sampaikan kpada wanita pilihan saya dan keluarganya, dan kamipun telah merencanakan mnikah bbrapa bln lagi, memang blm ada pembicaraan serius antara keluarga saya dg kluarga sang Gadis, dan brita inipun blm bnyak yg tau hanya sbatas kluarga dekat kami yg mngetahui brita trsbt. Tapi bbrapa hari yg lalu ada utusan dari kluarga wanita lain yg datang dan mengiinginkan saya utk mnikah dg wanita trsebut, dan tinggalnya tidak jauh dari tempat saya dan org tua saya malah brubah pikiran dan ingin saya menerima wanita yg barusan datang sdangkan saya tlh memutuskan dan berjanji kpda wanita yg jauh dari t4 tinggal saya. Dari segi akhlak dan agama kduanya sama-sama baik. Saya harus bgaimana pak ustad ?

  • Ahmad says:

    Assalamualikum ustad., sebelumnya sy sdh tau sdkt tentang bagaimana Ldii . Lalu jika sy ada rencana menikah dengan perempuan Ldii dengan keyakinan penuh bisa membawanya kembali ke jalan yg insyaallah lurus. Tapi pasti ada halangan di ortu si perempuan, karena ortunya adalah orang ternama di ldii. Bagaimana menurut ustad rencana yg akan sy lakukan??
    Saya juga meminta ustad bagaimana caranya bisa menyadarkan perempuan dan ortunya itu untuk keluar dr jamaah tersebut?

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah,
      Sebelumnya kami menyoroti kalimat anda “dengan keyakinan penuh bisa membawanya kembali ke jalan yg insyaallah lurus”. Ini sebuah kalimat terkesan seolah hidayah itu milik anda, sehingga anda bisa bebas sesuka anda untuk memberikan hidayah kepada siapapun yang anda inginkan dan kapan saja anda mau. ini tidak benar saudaraku, ini terkesan mendahului kehendak Allah Ta’ala, sebab dalam kalimat anda tanpa mengucapkan kalimat “ in syaa Allah”. Sedangkan pada hakikatnya hidayah itu mutlaq milik Allah semata, dan hanya Allah Ta’ala yang bisa memberikan hidayah kepada siapapun yang Allah Ta’ala kehendaki, bukan anda. Sebagaimana dalam firmanNya :
      إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
      “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al Qashash: 56).
      Untuk kasus anda mungkin kami sebagai tambahan ilmu bagi anda nukilkan potongan fatwa dari Syaikh Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili tentang hukum menikahi ahli bid’ah, beliau berkata :
      “Pernikahan dengan Ahlul Bid’ah terlarang secara global menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karena akan memberi dampak negatif yang besar, dan bertentangan dengan hal-hal yang disepakati dalam syariat, yaitu : Tidak berwala’ (loyalitas), tidak mencintai mereka (Ahlul Bid’ah), wajib mengisolir mereka, dan menjauhi mereka (Penguraian masalah ini akan dijelaskan dengan membawakan riwayat-riwayat yang menunjukan hal itu, yaitu ucapan-ucapan para Salaf dan contoh-contoh sebagian kerusakan yang ditimbulkan karena pernikahan dengan Ahlul Bid’ah.)
      Hukumnya haram mengadakan pernikahan dengan mereka dan menikahi wanita-wanita mereka. Tentang hukum kepastian rusak dan sahnya akad-akad pernikahan mereka dengan Ahlus Sunnah tergantung dengan jauh dekatnya mereka terhadap agama. Oleh karena itu hukum terhadap mubtadi’ (Ahlul Bid’ah, yaitu orang yang mengada-adakan atau menambahi dalam perkara agama yang tidak ada contoh dari Rasulullah, ed.) yang telah sampai ke derajat kufur disebabkan karena kebid’ahannya tidaklah sama terhadap orang yang kebid’ahannya belum sampai ke derajat kufur, sebagaimana juga berbedanya hukum pernikahan mereka dengan wanita-wanita Ahlus Sunnah dan pernikahan Ahlus Sunnah dengan para wanita mereka di sebagian keadaan.
      Berikut ini perincian hukum tentang masalah di atas menurut keadaan yang disebutkan tadi:
      Adapun hukum pernikahan Ahlul Bid’ah yang telah dihukumi dengan kekafiran adalah haram secara mutlak. Ini disebabkan kekufuran dan kemurtadan mereka dari agama. Oleh karena itu Ahlus Sunnah tidak halal menikahi wanita-wanita mereka. Demikian juga sebaliknya, mereka haram menikahi para wanita Ahlus Sunnah.” (Diambil dari kitab “Mauqif Ahlus Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa wal Bida”)
      Jadi tinggal anda pelajari aqidah dari kelompok LDII, apakah sudah sampai ke derajat kekufuran atau tidak.
      Dan sebagai tambahan nasehat dari kami sebagai bahan renungan bahwa
      perlu anda ketahui bahwa salah satu penyebab kebahagiaan utama dalam rumah tangga adalah adanya kesamaan manhaj dan aqidah dalam beragama, jika keduanya sudah berbeda, pada kenyataan yang terjadi sulit sekali untuk membuahkan kebahagiaan. Karena inti ketenangan dalam rumah tangga adalah beribadah sesuai Al Quran dan As Sunnah. Dan tabiat ahlu sunnah selalu resah dan tidak suka melihat kebid’ahan dan pelakunya, meskipun itu keluarganya sendiri.
      Maka itu kami nasehatkan tunggu dia bertaubat dulu dengan meninggalkan bid’ahnya setelah beriltizam dengan sunnah baru anda melamarnya, kasih dia washilah-washilah agar dia mengenal sunnah dengan tetap menjaga adab-adab syar’iy, jika perlu anda do’akan khusus buat dia agar Allah Ta’ala memberikannya hidayah,semoga dengannya dia segera dapat hidayah dan kemudian silahkan anda lanjutkan. Allahua’lam

  • eka says:

    Assalamualaikum wr wb pak ustad
    saya prempuan dan sudah brumur 27 tahun. Dan belum menikah.
    Sudah skitar 7 bulan ini saya terkena phk di kantor saya.
    Saya sudah sangat ingin sekali untuk menikah,
    namun ayah saya tidak memberikan sinyal2 untuk memperbolehkan saya menikah sebelum saya mendapatkan kerja lagi.
    Kebetulan saya sudah mempunyai calon.
    calon saya sudah cukup berpenghasilan dan sampai rela menunggu dan berjuanh agar sesuai dengan kriteria dari kluarga saya ( menjadi sarjana)
    Setelah ini kebetulan calon saya sudah lulus.
    Dan selama tujuh bulan ini saya sudah trus mencova untuk melamar kerja, tapi memang belum ada panggilan
    menurut pak ustadz apa yg harus saya lakukan?
    Jujur saya sedikit depresi dengan hal ini. Apalagi ayah saya org yg sangat keras.
    Dan saya sudah sangat cukup umur untuk menikah.
    Saya jga tidak enak terhadap calon saya. Apabila smpai dia ditolak hanya gara2 saya blm bekerja. Mohon pencerahanya pak ustad

    • Al Lijazy says:

      bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah, menurut kami ayah anda hanya butuh pencerahan saja, coba terangkan kepada beliau bagaimana kedudukan seorang istri dalam islam. yakni yang berkewajiban menafkahi adalah suaminya, bukan istri. jadi kalau mensyaratkan istri harus bekerja ini tentunya memaksakan seorang wanita melawan kodratnya, jelas ini sebuah kedzaliman. sedangkan dalam islam syariat memerintahkan para wanita untuk tinggal di rumah-rumah mereka dan suami-suamilah yang harus keluar mencari rizki Allah ta’ala. kalau anda tidak mampu memberikan pencerahan sendiri kepada ayah anda, maka kami sarankan anda mencari pihak ketiga dari kerabat ataupun yang lain yang mampu memberikan pencerahan tersebut kepada ayah anda, serta meyakinkan ayah anda bahwa anda memang benar-benar sudah sangat ingin dan siap menikah. Allahua’lam semoga dimudahkan

  • Ari says:

    Assalamualaikum Ustad,

    Saya laki-laki berumur 26 tahun. Insya Allah saya sudah yakin lahir dan batin untuk menikah.
    Masalahnya Ibu saya belum memberi izin, dengan berbagai macam alasan. Namun yang saya tangkap adalah beliau belum mau “melepas” saya untuk menikah. Beliau takut saya akan melupakan beliau, karena saya anak satu-satunya.
    Walaupun saya sudah meyakinkan beliau bahwa saya tidak akan mungkin melupakan beliau, tetapi malah ujung-ujungnya saya dibilang durhaka. Padahal saya tidak pernah berkata kasar, bahkan tidak pernah meninggikan nada bicara saya.
    Di sisi lain keluarga besar saya sudah mendesak saya untuk segera menikah, tetapi tidak ada dari mereka yang berani bicara atau menasehati Ibu saya, karena keluarga saya tau dengan sifat keras Ibu saya.
    Apa yang harus saya lakukan Ustad? Saya tidak ingin pernikahan saya diiringi perselisihan dengan Ibu saya, saya sudah melakukan berbagai cara untuk meluluhkan hati Ibu saya, namun belum ada tanda-tanda perubahan sikap beliau. Mohon pencerahannya Ustad. Jazakumullah Khairan.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,wa’alaikum Salaam warahmatullah, sebenarnya alasan ibu anda tidak tergolong alasan syar’i in syaa Allah, tapi demi kebaikan semua pihak coba anda berusaha menyesuaikan dulu dengan keinginan ibu anda, yakni dengan cara berjanji setelah nikah nanti anda dan istri untuk tetap tinggal bersama ibu anda,mudah-mudahan cara seperti itu bisa menenangkan hati ibu anda, karena dengan begitu anda masih tetap dekat dengan beliau serta masih bisa menjaga dan merawat dan berbakti dengan baik kepada beliau. dan untuk keadaan demikian bersabarlah untuk sementara waktu hingga ibu anda bisa ridho untuk berpisah dengan anda.llahua’lam semoga dimudahkan

  • lina says:

    Assalamualaikum ustadz, saya sudah berusia 22thn, sampai saya kelas 6 SD, saya di asuh oleh kakek-nenek, mamang-bibi saya dari keluarga papa saya di kampung yang alhamdulillah mendidik saya dengan ilmu agama, mulai kelas 1 smp saya tinggal dengan papa dan ibu tiri saya yang sama sekali tidak pernah menuntut ilmu agama sampai sekarang. Saya sering sekali berbeda pendapat dengan ibu tiri saya meskipun tidak sampai berkelahi apalagi masalah kehidupan beragama. Sekarang saya sudah punya teman lelaki yg menemani saya hampir 5 tahun. Meskipun terkadang saya ragu terhadap agama dari lelaki itu, tetapi saya keukeuh ingin menikah dengannya karna sudah tidak betah tinggal di rumah juga tidak ingin berlama lama terjerumus dalam perbuatan maksiat, dia adalah pilihan saya satu satunya. Bagaimana menurut ustadz tentang keinginan saya menikah karna sudah tidak ingin serumah dengan ibu tiri saya? Sedangkan calon suami satu satunya belum baik agamanya. Saya berpikir kalau saya menikah akan menjauhkan saya dari dosa, dan memulai kehidupan yg damai. Mohon saran nya ustadz, terimakasih

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikumus Salaam warahmatullah, ya kalau berbicara calon suami ideal tentunya dia harus sosok laki-laki yang bertaqwa, berilmu agama dengan baik,shalih, dewasa, bijak,lembut terhadap keluarga, penyayang dan memiliki kemampuan lahir dan batin, sebab suami nantinya akan menjadi imam keluarga dan yang dominan akan mengarahkan bahtera keluarga, baik mengarah ke sorga ataupun ke neraka suami sangat menentukan itu semua, karena dialah nahkodanya. Namun tentunya laki-laki yang ideal tersebut sedikit jumlahnya, dan jika seorang wanita ingin mendapat laki-laki seperti itu maka dia juga harus mengimbangi ke shalihannya. Sebab Allah ta’ala akan menganugerahkan wanita shalihah dengan laki-laki yang shalih juga.demikian pula sebaliknya. Adapun untuk masalah anda tentunya kuncinya pada anda sendiri, andalah yang menentukan pilihan calon suami anda sendiri, dan resiko tentunya anda tanggung sendiri. Dalam keadaan seperti anda ini in syaa Allah menikah adalah jalan yang baik selama kalian sudah memenuhi syaarat-syarat untuk menikah dan memiliki kemampuan untuk itu.Namun saran kami sebelum anda memutuskan sebaiknya anda istikhoroh pada Allah Ta’ala tentang calon dan rencana anda tersebut. Dan Pastikan sebelum istikharah pilihan anda sudah sesuai dengan kriteria syari’ah, lalu bersabarlah setelah berdo’a sambil menunggu jawaban dari Allah Ta’ala, jangan menunggu jawaban Allah Ta’ala sambil bermaksiat kepadanya misalkan dengan tetap berpacaran dengannya, stop dulu pacaran sampai dia sudah menjadi halal bagi anda. Setelah Allah Ta’ala nantinya memutuskan sesuatu kepada anda dengan kemantaban hati baru silahkan anda yakinkan orang tua anda bahwa calon anda adalah pilihan Allah untuk anda. Dan anda bisa melanjutkan rencana menikah anda. Allahua’lam semoga dimudahkan

  • putri says:

    asalamualaikm ustad saya perempuan umur 22 tahun dan calon saya umur 25 tahun..saya dan calon sudah kenal cukup lama ..dan kami ingin segera membawa hbungan kami kejenjang pernikahan akan tetapi tetapi ketika niat baik itu kami sampaikan orang tua saya menyuruh calon saya untuk menunggu bebreapa tahun karena saya masih blum lulus kuliah karena orang tua saya berfikir jika menikah akan memutus pendidikan..pdahal kami berdua sudah sama” siap lahir dan batin tetapi orang tua saya ttetap blum bsa menikahkan saya..kami ingin menyegerakan menikah karena kami tdk mau terjerumus ke perzinaan ditengah” menunggu kami ustd..yang saya mau tanyakan bagaimana cara meyakinkan orang tua saya bahwasanya jika menikah tdk akan memutus pendidikan? dan apa hukumnya jika orang tua menunda pernikahan anaknya jka sudah ada kerelaan dri kedua belah pihak..? apakah jika kami menlangsungkan ijab kabul dlu itu salah ustd? trima kasih mohon sarannya

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alailkum Salaam warahmatullah
      Nasehat kami bahwa Seseorang yang sudah mampu ( ada syahwat, harta dan ilmu )dan telah memenuhi syarat untuk menikah dan jika tidak menikah di khawatirkan akan terjatuh kedalam perbuatan dosa maka hukumnya wajib baginya untuk menikah. Alasan yang anda sebutkan yaitu alasan harus lulus kuliah dulu, itu sebenarnya bukan termasuk alasan syar’i yang dibolehkan untuk menunda atau menolak pernikahan. terlebih jika memang telah terpenuhi syarat-syaratnya. tapi sebagai nasehat saja,jika keadaan anda tidak terlalu darurat untuk menikah maka sebaiknya anda turuti saja keinginan orang tua, apalagi jika hanya menunggu lulus kuliah tidak terlalu lama,anda bersabar hingga mendapat restu orang tua yang tentunya akan baik dan melegakan buat keluarga kecil anda nantinya. Namun jika hal itu darurat buat anda untuk menikah, artinya jika tidak menikah di khawatirkan atau bahkan terjatuh dalam perbuatan dosa Maka segera utarakan pada ortu anda tentang rencana pernikahan anda, dan utarakan alasan dengan jujur kepada mereka bahwa anda ingin beribadah dan menjaga kehormatan diri, in syaa Allah mudah-mudahan mereka akan bisa mengerti.
      Kalau memang belum berhasil,mungkin sebaiknya anda adakan musyawarah keluarga besar, bila perlu anda cari pihak ketiga yang bisa membantu menjembatani antara anda dan ortu anda. Intinya secara syar’i anda tetap memiliki hak untuk punya keinginan menikah demi mashlahat pada diri anda dan juga berhak untuk memilih calon pasangan hidup anda, namun tidak ada salahnya tetap memperhatikan mudharat dan mashlahat dengan keluarga besar anda, maka itu semoga dengan adanya musyawarah keluarga akan ada jalan keluar yang terbaik nantinya in syaa Allah.
      Untuk Selanjutnya Kami anjurkan anda untuk shalat istikharah meminta petunjuk Allah Ta’ala dan memohon kemudahan dariNya, hanya Allah Ta’ala saja yang bisa membukakan hati manusia yang masih tertutup. Pastikan sebelum istikharah pilihan anda sudah sesuai dengan kriteria syari’ah dan bersabarlah setelah berdo’a sambil menunggu jawaban dari Allah Ta’ala, jangan menunggu jawaban Allah Ta’ala sambil bermaksiat kepadanya misalkan dengan tetap berpacaran dengannya, stop pacaran dulu sampai dia sudah menjadi halal bagi anda. Setelah Allah Ta’ala nantinya memutuskan sesuatu kepada anda dengan kemantaban hati baru silahkan anda yakinkan orang tuan anda bahwa calon anda adalah pilihan Allah untuk anda. Dan andapun sudah siap untuk menikah. Allahua’lam, semoga dimudahkan

  • aziz says:

    asalamualaikum ustad bolehkan jarak antara ijab kabul dan rsepsi itu berjarak 1 tahun ustad..lalu bagaimana cara menyakinkan dan memberikan penjelasan kepda orang tua bahwasanya kami ingin ijab kabul terlebih dahulu agar tidak menimbulkan fitnah??

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikumus Salaam warahmatullah
      Yang kami belum pahami dengan baik adalah istilah resepsi. Apakah yang si maksud resepsi itu walimatusl ‘ursy atau bagaimana, sebab jika itu adalah walimatul ‘ursy, maka hal tersebut adalah tuntunan syari’at yang terkait dengan adab-adab syar’iy, seperti yang di jelaskan oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi dalam kitab “al wajiiz”, beliau menjelaskan
      Wajib bagi orang yang menikah untuk menyelenggarakan walimah setelah menggauli isteri (malam pertama), sebagaimana perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf dalam hadits yang telah disebutkan sebelumnya dan juga hadits yang telah diriwayatkan oleh Buraidah bin al-Hashib, ia berkata:
      لَمَّا خَطَبَ عَلِيٌّ فَاطِمَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّهُ لاَبُدَّ لِلْعَرْسِ مِنْ وَلِيْمَةٍ.
      “Tatkala ‘Ali meminang Fatimah Radhiyallahu anhuma ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya merupakan keharusan bagi pengantin untuk menyelenggarakan walimah.’”[ Shahih: [Shahiih al-Jaamiishh Shaghiir (no. 2419)], Ahmad (XVI/205, no. 175)]
      Ada Beberapa Hal Yang Harus Diperhatikan, yaitu :
      Pertama: Walimah hendaknya diselenggarakan selama tiga hari setelah dukhul (sang suami menggauli sang isteri), karena demikianlah yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
      Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata:
      تَزَوَّجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَفِيَّةَ وَجَعَلَ عِتْقَهَا صَدَاقَهَا وَجَعَلَ الْوَلِيْمَةَ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ.
      “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Shafiyyah dan kemerdekaannya sebagai maskawinnya, kemudian beliau menyelenggarakan walimah selama tiga hari.” [Sanadnya shahih: [Aadaabuz Zifaaf, hal. 74], Dikeluarkan oleh Abu Ya’la dengan sanad seperti yang terdapat dalam Fat-hul Bari (IX/199), dan riwayat tersebut juga terdapat dalam Shahiih al-Bukhari dengan maknanya (IX/224, no. 1559). Hal ini disebutkan oleh Syaikh al-Albani]
      Kedua: Mengundang orang-orang shalih untuk menghadiri walimah tersebut, baik dari kalangan orang miskin maupun orang kaya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
      لاَتُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا، وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ.
      “Janganlah berteman kecuali dengan orang mukmin dan janganlah makan makananmu kecuali orang yang bertakwa.”[ Hasan: [Shahiih al-Jaamiish Shaghiir (no. 7341)], Sunan Abi Dawud (XIII/178, no. 4811), Sunan at-Tirmidzi (IV/27, no. 2506)]
      Ketiga: Menyelenggerakan walimah dengan seekor kambing atau lebih jika memang ia memiliki keluasan rizki, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf Radhiyallahu anhu :
      أَوْلِمْ وَلَوْبِشَاةٍ.
      “Adakanlah walimah walaupun hanya dengan seekor kambing.”
      Dan dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu ia berkata :
      مَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْلَمَ عَلَى امْرَأَةٍ مِنْ نِسَائِهِ مَا أَوْلَمَ عَلَى زَيْنَبَ، فَإِنَّهُ ذَبَحَ شَاةً.
      “Aku tidak melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelenggarakan walimah bagi isteri-isterinya seperti apa yang beliau selenggarakan bagi Zainab. Sesungguhnya beliau menyembelih seekor kambing.” [Muttafaq ‘alaih: Shahiih Muslim (II/1049, no. 1428(90)) dan ini adalah lafazhnya, Shahiih al-Bukhari (IX/237, no. 5171), Sunan Ibni Majah (I/615, no. 1908)]
      Dan tidaklah mengapa jika walimah diselenggarakan dengan hidangan seadanya walaupun tanpa adanya daging, sebagaimana hadits riwayat Anas, ia berkata:
      أَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ خَيْبَرَ وَالْمَدِيْنَةِ ثَلاَثًا بَنَى عَلَيْهِ بِِصَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ فَدَعَوْتُ الْمُسْلِمِينَ إِلَى وَلِيمَتِهِ، فَمَا كَانَ فِيْهَا مِنْ خُبْزٍ وَلاَ لَحْمٍ، أَمَرَ بِاْلأَنْطَاعِ فَأَلْقَى بِهَا مِنَ التَّمْرِ وَاْلأَقِطِ وَالسَّمْنِ فَكاَنَتْ وَلِيْمَتُهُ.
      “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiam selama tiga malam di daerah antara Khaibar dan Madinah ketika memboyong Shafiyyah binti Huyay. Lalu aku mengundang kaum muslimin untuk menghadiri walimahnya. Dalam walimah tersebut tidak ada roti dan daging. Beliau menyuruh memben-tangkan tikar kulit, lalu diletakkan di atasnya buah kurma, susu kering dan samin. Demikianlah walimah beliau pada saat itu.”[ Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (IX/224, no. 5159) dan ini adalah lafazhnya, Shahiih Muslim (II/1043, no. 1365), Sunan an-Nasa-i]
      Tidak boleh bagi seseorang mengundang orang-orang kaya saja tanpa mengundang orang-orang miskin. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
      شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُمْنَعُهَا مَنْ يَأْتِيهَا وَيُدْعَى إِلَيْهَا مَنْ يَأْبَاهَا وَمَنْ لَمْ يُجِبِ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُولَهُ.
      “Sejelek-jelek makanan ialah makanan walimah yang ia ditolak orang yang datang kepadanya dan diundang kepadanya orang yang enggan mendatanginya. Maka barangsiapa tidak memenuhi undangan tersebut, ia telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.” [Muttafaq ‘alaih: Shahiih Muslim (II/1055, no. 1432 (110)), hadits tersebut terdapat dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim secara mauquf dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Shahiih al-Bukhari (IX/244, no. 5177)]
      Jika resepsi itu maksudnya adalah walimah, maka tentunya harus sesuai dengan adab-adab yang telah disebutkan diatas, kecuali resepsi itu yang dimaksud bukan walimah maka silahkan lakukan sesuka hati. Allahua’lam

  • fitri* says:

    Assalamualaikum Ustad,
    saya wanita usai 24 tahun, setelah berta’aruf dengan seorang pria berusia 24 tahun. insyaAllah agama dan akhlaknya baik. saya ingin menikah dengannya.tetapi orang tua saya tidak mengizinkan karena dia belum mapan secara harta dan menafkahi saya. orang tua saya ingin saya memilih calon yang mapan. dengan alasan ingin kehidupan saya lebih baik daripada sebelumnya. saya berkeinginan segera menikah karena takut terjerumus dalam nafsu syahwat. apa yang harus saya lakukan ustad. minta sarannya. Sukron*

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      kami rasa wajar ya jika kebanyakan orang tua menginginkan yang terbaik bagi putrinya, jika putrinya mau dilamar oleh seseorang yang belum siap bekal hartanya kemudian otru ada keraguan itu hal yang wajar, sebab namanya aja masih belum punya bekal. Wajar ortu meragukan masa depan putrinya, meskipun yang benar mereka harus tawwakalkan kepada Allah ta’ala tentang rizki putrinya. Allah Ta’ala tidak akan menyianyiakan hambaNya selama dia bertaqwa kepada Nya.
      Namun sebagai bahan renungan agar melegakan semua pihak bahwa Laki-laki yang mau menikah berbeda dengan wanita. Wanita jika mau menikah hanya berpikir bagaimana mendapatkan pria yang yang baik agamanya dan berpenampilan yang menarik. Tapi untuk laki-laki tidak cukup demikian. Dia harus bertanggung jawab menafkahi diri, istri, dan anak. Jika dia belum punya mata pencarian atau belum bekerja, maka bagaimana dia bisa menunaikan kewajiban sebagai kepala keluarga??
      Hidup berkeluarga bukan hanya menafkahi istri satu atau dua hari saja. Namun sebuah perjalanan yang panjang, selain itu juga suami harus bertanggung jawab atas kesehatan keluarga,tempat tinggal yang layak dan kebutuhan lainnya yang masih banyak sekali., maka jika hal demikian masih dipaksakan menikah dikhawatirkan nantinya rumah tangga akan terganggu. Yang Ini sering dialami oleh pasutri bahkan terkadang hal itu akan menjadi buah bibir, baik dari mertua maupun tetangga. Karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
      وَ لْيَسْتَعْفِفِ الَّذينَ لا يَجِدُونَ نِكاحاً حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ
      “Dan orang-orang yang tidak mampu menikah, hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sampai Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya…”(Q.S. an nur 33)
      Untuk itu nasehat kami hendaknya calon anda tersebut dinasehati untuk fokus mencari maisyah/ pekerjaan dalam rangka menyiapkan bekal-bekal pernikahan. Sebab bekal-bekal pernikahan itu bukan hanya ilmu syar’i,tapi harta juga iya. Paling tidak ada kesiapan untuk biaya menikah dari biaya mahar hingga biaya walimah.untuk sementara belum mampu menikah saat ini maka kami nasehatkan anda berdua untuk bersabar dan banyak puasa. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri untuk tidak melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala dan tetap menjaga kea’atan kepadaNya, yakni dengan menghentikan hubungan yang tidak halal dengan pasangan yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan syari’at. Demikian agar Allah Ta’ala akan berkenan memudahkan jalan bagi anda. Allahua’lam bish shawab semoga segera mendapat jalan keluar yang terbaik in syaa Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *