Menikah dengan yang Sekufu

January 14, 2016

Pertanyaan:
Bismillah,mau tanya ustazd, dalam pernikahan dikenal istilah sekufu, antara lain dalam agama,nasab,dsb
Nah terkait masalah tersebut ana ingin mengetahui lebih dalam terkait kufu dalam agama, bagaimana penjelasannya? Apakah sekufu dalam beragama itu harus sesama muslim atau lebih dari itu,misal hafalan al quran dan dhadistnya setara atau bagaimana? Selain itu di indonesia ada beberapa ormas beragama,yg mungkin terkadang ada beberapa perbedaan, apakah sekufu dalam beragama jg harus satu ormas,terima kasih (Ibnghofur)

Dijawab oleh Ust Abu Usamah Yahya:
Bismillah,tentang anjuran sekufu dalam pernikahan kita dapatkan penjelasan dari para ahli ilmu yang penjelasannya kami ringkaskan sebagai berikut :
Pertama :Arti Kufu
Kufu atau kafa’ah, artinya adalah kesepadanan. Yakni kesepadanan calon suami dan calon istri yang akan menikah dan membina rumah tangga. Istilah kufu terdapat dalam beberapa hadits, berupa nasehat Rasulullah untuk segera menikah atau menikahkan muslimah yang telah menemukan calon suami yang sekufu. Diantara hadits-hadits tersebut, yang paling baik sanadnya adalah riwayat Imam Tirmidzi, yang telah dihasankan oleh Syeikh Al Albani.
يَا عَلِيُّ ثَلَاثٌ لَا تُؤَخِّرْهَا الصَّلَاةُ إِذَا أَتَتْ وَالْجَنَازَةُ إِذَا حَضَرَتْ وَالْأَيِّمُ إِذَا وَجَدَتْ لَهَا كُفْؤًا
“Wahai Ali, ada tiga perkara yang jangan kau tunda pelaksanannya; shalat apabila telah tiba waktunya, jenazah apabila telah siap penguburannya, dan wanita apabila telah menemukan jodohnya yang sekufu/sepadan” (HR. Tirmidzi; hasan)
Berdasarkan hadits di atas, sekufu itu terkadang perlu. Namun Ia bukan syarat dan rukun pernikahan tetapi terkadang hanya sesuatu yang dapat menjadi sebab kelanggengan dan keharmonisan dalam pernikahan.
Nah, sekarang sebenarnya apa kriteria calon sepasang suami istri tersebut bisa dikatakan sekufu? Diantara kriteria sekufu dalam pemahaman sebagian orang diantaranya yaitu.
1.Kufu dalam Usia.
Dalam pemahaman sebagian orang, sekufu itu artinya usianya tidak terpaut jauh. Ini pula yang menjadi alasan bagi banyak ikhwan untuk ‘menolak’ akhwat yang secara usia lebih tua beberapa tahun di atasnya.
Benarkah demikian? Mari kita lihat pernikahan Rasulullah. Beliau menikah pertama kali pada usia 25 tahun, sedangkan istri beliau Khadijah usianya 40 tahun. Terpaut 15 tahun. Faktanya, keluarga beliau adalah keluarga yang paling berbahagia. Khadijah bahkan menjadi wanita yang paling dicintai Nabi dan tidak tergantikan oleh siapapun sesudah beliau wafat.
Pun misalnya pernikahan Rasulullah dengan Aisyah, setelah wafatnya Khadijah. Aisyah saat itu masih sangat muda, terpaut puluhan tahun dengan Rasulullah. Namun, keluarga mereka justru menjadi keluarga paling romantis dan penuh cinta. Tidak jarang Rasulullah bercanda dan bermain bersama Aisyah. Diantara bentuk canda Beliau yaitu Pernah beberapa kali lomba lari berdua. Pernah juga mandi berdua dan sebagainya dari hal-hal yang menunjukkan keromantisan dan keharmonisan rumah tangga.
2.Kufu dalam Harta.
Sebagian orang juga memahami bahwa sekufu itu artinya harta dan jabatan calon suami dan calon istri sepadan. Benarkah demikian?
Praktik pernikahan di zaman Rasulullah, sebagian sahabat yang miskin menikah dengan shahabiyah yang kaya raya. Pun sebaliknya, ada sahabat yang kaya raya menikah dengan shahabiyah yang tak memiliki banyak harta. Misalnya antara Asma’ binti Abu Bakar dengan Zubair bin Awwam.
Asma berasal dari keluarga yang sangat kaya, keluarga Abu Bakar. Seperti kita tahu, dengan kekayannya yang melimpah sebagai saudagar jujur, Abu Bakar pernah menginfakkan seluruh hartanya saat menjelang perang Tabuk. Abu Bakar juga tak terhitung dermanya kepada dakwah Islam dan orang-orang yang membutuhkan. Sedangkan Zubair, ia termasuk sahabat yang miskin. Saat akan menikah dengan Asma, Zubair hanya memiliki harta berupa seekor kuda. Namun demikian, keluarga mereka tumbuh menjadi keluarga yang barakah. Pada mulanya, Asma mengikuti keprihatinan Zubair hidup dalam keterbatasan. Namun suatu saat, Zubair berubah menjadi orang yang kaya raya.
Demikian pula dengan Umar bin Khatab. Beliau menjodohkan putranya, Ashim, dengan anak penjual susu. Ashim yang anaknya khalifah menikah dengan rakyat jelata. Dan itu tidak masalah. Bahkan, kelak, dari pernikahan mereka lahirlah Ummu Ashim, dan dari Ummu Ashim lahirlah Umar bin Abdul Aziz, khulafaur rasyidin ke 5.
3.Kufu dalam Kecantikan dan Ketampanan.
Ada pula yang mengira bahwa sekufu itu artinya perempuan cantik haruslah dapat laki-laki tampan, laki-laki tampan hanya sekufu dengan wanita cantik. Benarkah demikian?
Rasulullah adalah orang yang paling tampan. Namun, istri beliau tidak semuanya cantik. Mayoritas yang beliau nikahi adalah janda-janda tua. Demikian pula pernikahan sahabat. Tidak semuanya yang tampan ketemu dengan yang cantik. Dan tidak semua yang cantik kemudian beroleh yang tampan. Misalnya Fathimah binti Qais dengan Usamah bin Zaid. Fathimah adalah seorang wanita yang cantik, dari keluarga terhormat dan kaya raya. Sedangkan Usamah adalah mantan budak.
Lalu Kufu dalam Apa?
Menurut Imam Malik, ungkapan kafa’ah ini khusus untuk agama, iman taqwa dan akhlaknya.. Bahwa orang yang bagus agamanya, ia sekufu dengan pasangan yang bagus pula agamanya. Imam Syafi’i juga mendukung pendapat ini. Bahwa kafa’ah adalah dalam bidang agama, sedangkan harta tidak dimasukkan dalam kategori kafa’ah.
Jadi, kafa’ah dalam bidang agama yang dimaksud bukanlah tingkat pengetahuan terhadap agama, melainkan pengamalan terhadap agama, terhadap syariat Islam.
Meski demikian, bukan berarti masalah usia, harta dan kedudukan serta kecantikan dan ketampanan diabaikan begitu saja. Sebab kita hidup bersama keluarga besar dan masyarakat. Kita hidup dengan lingkungan dan situasi yang tidak sama dibandingkan dengan lingkungan dan situasi yang dialami oleh para sahabat. Bahkan, ada pula sahabat yang akhirnya bercerai karena ketidakcocokan istri dengan ‘ketampanan suami.’ “Ya Rasulullah,” kata istri Tsabit bin Qais, “aku ingin meminta cerai dari Tsabit bukan karena aku mencela agamanya dan akhlaknya, akan tetapi aku khawatir diriku menjadi kufur”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya; “Sanggupkah kamu mengembalikan tanah kebun yang ia berikan kepadamu sebagai mas kawin ketika pernikahanmu dulu?”. Ia menjawab; “Ya, aku sanggup”. Ia pun mengembalikan tanah kebun itu. Rasulullah lalu berkata kepada Tsabit; “Ceraikanlah dia”.
Jika anda menyebutkan bagaimana dengan banyaknya ormas islam sekarang ini, bagaimana sekufu itu? Maka jawabnya hendaknya yang ahlu sunnah memilih jodoh juga dari kalangan ahlu sunnah, jangan mencari jodoh di ormas-ormas yang berpemahaman menyimpang dari agama.agar nantinya ada kesamaan prinsip dalam agama sehingga terjalin keharmonisan dalam rumah tangga. Allahua’lam bish shawwab.

22 Comments

  • Hamba Allah says:

    Assalamu’alaykum
    Ustadz, ada teman saya yg telah di khitbah saat ia masih duduk di bangku kuliah. teman saya akan menerima khitbah dari calonnya dengan syarat bahwa setelah akad tidak akan melakukan hubungan intim sebelum ia lulus kuliah. di takutkan jika ia melakukan hubungan itu maka ia akan hamil dan memperlambat ia dalam proses penyusunan skripsi serta mengecewakan amanah ortu yang mengharuskan teman saya lulus dengan tepat waktu. apakah boleh melakukan syarat seperti itu? mohon jawabannya ustadz.

    • Al Lijazy says:

      wa’alaikum Salaam warahmatullah,Bismillah, washolaatu wassalaamu ‘alaa rasulillah wa man waalah
      Kami khawatir syarat tersebut adalah syarat yang tidak sesuai syar’I, sebab tidak seiring dengan tujuan dan hikmah pernikahan.kecuali memang kondisinya yang menuntut demikian,misalkan menikah dalam kondisi sakit yang sama dokter masih belum dianjurkan berhubungan suami istri dahulu, atau memang istrinya belum cukup umur untuk dikumpuli,seperti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menikahi Aisyah radhiallahu ‘anha yang baru belaiu kumpuli beberapa tahun kemudian. Namun untuk kasus diatas hanya alasan kepentingan pribadi yang kami pandang bukan darurat. Sedangkan tujuan pernikahan yang paling utama adalah berhubungan suami istri. Seperti firman Allah Ta’ala
      وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
      Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

      Dan Rasullullah shallallahu alahi wassalam bersabda:
      يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج فأنه أغضّ للبصر و أحصن للفوج
      Wahai para pemuda, barang siapa diantara kamu menikah, maka hendaklah menikah, karena(nikah) itu lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan

      Mungkin kalau memang belum siap lahir batin untuk menikah maka sebaiknya ditunda dulu hingga benar-benar siap. Daripada dipaksakan justru nantinya terdapat pelanggaran syari’at lebih baik ditunda asal masih bisa menjaga diri untuk tidak terjatuh kedalam perbuatan maksiyat,misalkan pacaran dan seterusnya termasuk washilahnya. Namun kalau tidak menikah terjatuh kedalam perbuatan maksiyat sedangkan dirinya sudah mampu menikah maka menikah hukumnya wajib baginya. Allahua’lam bish shawab

  • abdul says:

    Assalamualaikum Ustadz
    Saya lelaki 34 thn, saya mempunyai hutang perdagangan pada orang lain dan saat ini saya tidak bisa melunasinya. Saya mempunyai pekerjaan. Saya berkeinginan untuk nikah. Apakah saya termasuk dalam golongan mampu?
    Mohon penjelasannya

    • Al Lijazy says:

      bismillah,wa’alaikum Salaam warahmatullah, jika penghasilan anda mencukupi untuk biaya hidup bersama istri dan untuk nyicil hutang, maka kami sarankan anda menikah aja, sebab dengan menikah selain pikiran kita jadi tenang, in syaa Allah Allah Ta’ala akan membukakan pintu rizki bagi anda,bismillah dan tawakkal saja selama itu di niatkan untuk ibadah pada allah,in syaa Allah allah Ta’ala akan mencukupi. Allahua’lam

  • anggoro maulana says:

    Assalaamu ‘alaikum Ustadz,

    Saya punya adik perempuan sudah pacaran dari 3 tahun lau dan akan menikah, bapak saya sangat tidak setuju dengan rencana pernikahan itu karena lasan syar’i yang sangat kuat dan sampai sekarang sudah dari 2 tahun lau adik saya mohon dizinkan nikah,kalau bapak saya tidak mau menikahkan adik sayatersebut karena alasan syar’i yang sangat kuat ( calon suami pernah pezina, punya anak 2 hasil zina, mabuk, baru mualaf dan meragukan, sering meninggalkan / tidak shalat), dan sampai sekarang dan sampai kapanpun tetap keras tidak mau menikahkan / jadi wali adik saya, Nah ustadz kalau seandainya “maaf” bapak saya meninggal, apakah secara otomatis alasan syar’i jadi gugur dengan sendirinya, artinya wali nikah setelah bapak saya ( sesuai urut-urutan wali nikah )dapat menikahkahkan adik saya tersebut, atau apakah kondisi alasan syar’i bapak saya yang menolak menikahkan adik saya tetap sama / tidak gugur dimata hukum islam, bahwa siapapapun wali nikah setelah bapak tetap tidak bisa / boleh menikahkan adik saya tersebut dengan berdasarkan alasan syar’i tersebut.
    Mohon jawabannya Ustadz.

    Wassalam, Jazakallahu khairan katsir
    DNR

    • Al Lijazy says:

      Bismillahi, wa’alaikum Salaam warahmatullah, jika calon adik anda tersebut masih dalam keadaan demikian hingga sekarang, artinya belum bertaubat nasuha, maka sebaiknya adik anda dicarikan calon yang lain yang jauh lebih baik dan sesuai dengan kriteria syar’I, menurut hemat kami sikap ayah anda yang tidak merestui hubungan mereka dengan alasan tersebut sudah benar dan in syaa Allah juga di benarkan syar’iy jika benar calon adik anda hingga sekarang masih dalam keadaan seperti itu.
      Dan perlu anda ketahui bahwa alasan ayah anda tidak meridhai hubungan mereka ini in syaa Allah termasuk alasan yang syar’I, dan alasan syar’I tidak bisa gugur kecuali dengan taubatnya pelaku dengan taubat nasuha, namun jika tidak maka alasan ini tetap berlaku meskipun ayah anda sudah meninggal, dan wali penerus ayah sebaiknya tetap menggunakan alasan syar’I ini sebagai alasan untuk tidak meridhai hubungan mereka. Namun keadaan ini tidak menghalangi kita untuk tetap menasehati calon adik anda untuk diminta bertaubat sebagai nasehat sesama muslim. Termasuk juga nasehati adik anda untuk putus dan tidak berhubungan lagi sama dia, sebab kalau melihat dari cerita anda tentang track record calon adik anda itu, dikhawatirkan sangat besar kemungkinan untuk mereka berbuat dosa besar, na’udzubillah, maka itu sebelum terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan hendaknya adik anda dinasehati,kalo perlu kumpulkan keluarga besar untuk menasehati adik anda ini.Allahua’lam, semoga dimudahkan

      • hamba Allah says:

        assalamu’alaikum yai,..
        sya ingin mminta solusinya…
        sya brhubungan pcaran dari masih klas 2 MTs/smp smpe skrang sudh 5thn.umur sya 19thn ,pcar sya 22thn.
        stelah llus skolah MTs sya d sruh pcar sya msuk pesantren krena pcar sya seorang santri..
        awalnya orang tua sya tdk mngidzinkan tp akhirnya mmperbolehkn..
        sya satu pesantren dengan pcar sya.
        setelah pcar sya khatam binadzor pcar sya memutuskan untuk menghafalkn al qur’an dan pindah pesantren ,sebelum kberangkatannya dia bertemu dengan sya berjanji kpd sya jka khatam nanti dia akan mnikahi sya n mencium dan memeluk sya,awalnya sya tdk mau tpi dia memaksanya dan dia meyaqinkan sya bahwa dia akan mnikahi sya..
        dia pun berangakat kepesantren lain dan sya pun berangkat kpesantren stelah 4hari kemudian ternyata dia pulang karene tidak betah atau nyaman d pesanten barunya,akhirnya dia mmutuskan untuk kmbali kepesantren lamanya dan mulai menghafalkn al qur.an, stelh sya pulang kita pun bertemu dan dia pun juga brjanji kpd sya akan mnikahi sya setelah khatam hafalannya.
        stiap bertemu diapun meminta hal yg aneh2 kpda sya,sya mnolaknya tp dia ttap mmaksa sya dan meyaqinkan sya dia akan mnikahi sya.
        dia sngat syang kpd sya dan ingin selalu memiliki sya,dia sngat takut kehilangan sya..dia pun mmaksa mmbuka baju sya shingga diapun melihat smua tbuh sya dan mnyentuhnya ,sya mnangis tp dia ttap meyaqinkn sya bhwa dia akan mnikahi sya.
        dia sudah mngetahui smua kekurangan sya sya,dia laki2 yg bisa mmbuat sya berhijab,memakai baju sopan dan longgar dan mnjadi seorang santriwati,..dia sllu mnasehati sya jka sya slah,dan memberitau pelajaran agama yg blum sya ketahui,sya merasa nyaman dan lebih baik saat barsamanya.
        stelah dia khatam dia meyaqinkan orang tuanya bahwa ingin mnikahi sya tp orang tuanya belum mngidzinkn dia mnikah,kata orang tuanya dia masih kecil d suruh melancarkan al qur.annya terlebih dahulu,tpi dia sudah trlanjur berjanji dan berbuat yg tidak wjar kpda sya..dia ber kali2 meyaqinkan orang tuanya bhwa ingin mnikahi sya tpi orang tuanya ttap melarangnya,dia ttap d sruh melancarkan al qur.annya..
        skarang pacar sya mnyerah dan pasrah mnuruti kata orang tuanya dan mmutuskan sya..
        sya bingung,sya terlanjur mnyayanginya,dia pun sudh mngetahui semua tentang dri sya trmasuk dlam baju sya sudah dia raba.
        sya sangat ingin brsmanya dunia akhirat,karena sya yaqin dia orang yg bisa mnjadikan sya istri sholehah untuknya dan ibu sholehah untk anaknya.
        kluarganya ibadahnya sangat baik,sngat mementingkan ibadahnya,semua anaknya d masukkan pesantren sedangkn kluarga sya kurang pengetahuan tentang agama seakan2 hnya mmentingkan dunia sja.
        sya takut jika tdk mnikah dengan dia sya akan spt klurga sya,.
        bagaimana solusinya yai,slahkah sya jika masih mengharapkan pacar sya?
        berdosakah sya mnyuruh pcar sya mnikahi sya walu msih blum lancar hafalannya??
        durhakakah saya jika sya lbih mmilih pcar sya yg bisa mwngajarkn sya agama dri pda orang tua sya yg tdk mau beribadah??

        • Al Lijazy says:

          Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah,
          Dari cerita anda kami hanya berucap INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI RAAJI’UUN, ini adalah musibah, syaithon telah mengalahkan anda berdua. Dari cerita anda yang sebagai seorang santri yang menuntut ilmu agama, sudah seharusnya andalebih bisa menjauhi jalan-jalan syaithan, yang diantaranya adalah pacaran. Anda tahu kan kalau pacaran itu dosa besar dan pasti mengarah kepada perzinahan yang menjijikan dimata agama.dan anda pasti tahu firman Allah Ta’ala:
          وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
          “Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Israa’: 32)
          Anda sudah mengetahui penjelasan ayat tersebut belum? Jika belum kami akan terangkan pada anda agar anda mau bertaubat pada Allah Ta’ala
          Penjelasan makna ayat
          وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا
          Dan janganlah kalian mendekati zina.
          Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat ini: “Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam rangka melarang hamba-hamba-Nya dari perbuatan zina dan larangan mendekatinya, yaitu larangan mendekati sebab-sebab dan pendorong-pendorongnya.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 5/55)
          Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini di dalam tafsirnya, “Larangan mendekati zina lebih mengena ketimbang larangan melakukan perbuatan zina, karena larangan mendekati zina mencakup larangan terhadap semua perkara yang dapat mengantarkan kepada perbuatan tersebut. Barangsiapa yang mendekati daerah larangan, ia dikhawatirkan akan terjerumus kepadanya, terlebih lagi dalam masalah zina yang kebanyakan hawa nafsu sangat kuat dorongannya untuk melakukan zina.” (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal.457)
          إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً
          Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji.
          Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Maksudnya adalah dosa yang sangat besar.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 5/55)
          Asy-Syaikh As-Sa’di berkata, “Allah subhanahu wata’ala menyifati perbuatan ini dan mencelanya karena ia (كَانَ فَاحِشَةً) adalah perbuatan keji.
          Maksudnya adalah dosa yang sangat keji ditinjau dari kacamata syariat, akal sehat, dan fitrah manusia yang masih suci. Hal ini dikarenakan (perbuatan zina) mengandung unsur melampaui batas terhadap hak Allah dan melampaui batas terhadap kehormatan wanita, keluarganya dan suaminya. Dan juga pada perbuatan zina mengandung kerusakan moral, tidak jelasnya nasab (keturunan), dan kerusakan-kerusakan yang lainnya yang ditimbulkan oleh perbuatan tersebut.” (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal.457)
          وَسَاءَ سَبِيلًا
          dan (perbuatan zina itu adalah) suatu jalan yang buruk.
          Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah mengatakan, “Dan zina merupakan sejelek-jelek jalan, karena ia adalah jalannya orang-orang yang suka bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, dan melanggar perintah-Nya. Maka jadilah ia sejelek-jelek jalan yang menyeret pelakunya kedalam neraka Jahannam.” (Tafsir Ath-Thabari, 17/438)
          Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullah menafsirkan lafazh ayat (yang artinya) “suatu jalan yang buruk” dengan perkataannya, “Yaitu jalannya orang-orang yang berani menempuh dosa besar ini.” (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 457)
          Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menyatakan bahwa Allah subhanahu wata’ala mengabarkan tentang akibat perbuatan tersebut. Bahwasannya perbuatan tersebut adalah sejelek-jelek jalan. Karena yang demikian itu dapat mengantarkan kepada kebinasaan, kehinaan, dan kerendahan di dunia serta mengantarkan kepada adzab dan kehinaan di akhirat. (Lihat Al-Jawab Al- Kafi, hal. 206)
          Untuk sekarang ini kami hanya menyarankan anda untuk putus dengan pacar anda, tidak usah pacaran lagi.fokuslah dalam beribadah dan menuntut ilmu agama serta mintalah kepada Allah jodoh yang benar-benar sholih, sebab kalau dia benar-benar orang shalih tidak akan pernah mengajak anda berzina,kalau dia benar-benar shalih tidak akan pernah merayu dengan rayuan syaithon kepada anda untuk berbuat dosa. Kami harap anda tetap patuh dan ta’at pada orang tua selama mereka tidak memerintahkan ma’siyat pada Allah ta’ala. Sabar dan tunggu saja saatnya jodoh datang siapapun orangnya, atau silahkan saja kalau memang anda tetap menunggu pacar anda datang menikahi anda, dengan catatan dikala itu dia sudah siap menikah dan sudah terpenuhi syarat-syaratnya untuk menikah dengan diiringi ridho dari keluarganya.serta dengan syarat dia sudah bertaubat nasuha atas perbuatanya terhadap anda, demikian juga anda juga harus bertaubat nasuha atas perbuatan anda bersamanya
          Dan sebagai tambahan ilmu bagi anda tentang taubat, bahwa
          Agar taubat seseorang itu diterima, maka dia harus memenuhi tiga hal yaitu:
          (1) Menyesal, (2) Berhenti dari dosa, dan (3) Bertekad untuk tidak mengulanginya.
          Yang mana Rukun Utama Taubat Ada 3:
          Imam An-Nawawi mengatakan,
          (2) وقد سبق في كتاب الإيمان أن لها ثلاثة أركان: الإقلاع، والندم على فعل تلك المعصية، والعزم على أن لا يعود اليها أبدا
          (3) ”Dalam kitab al-Iman disebutkan bahwa taubat memiliki 3 rukun: al-Iqla’ (meninggalkan dosa tersebut), an-Nadm (menyesali) perbuatan maksiat tersebut, dan al-Azm (bertekad) untuk tidak mengulangi dosa yang dia taubati selamanya. (Syarh Shahih Muslim, 17/59)

          Taubat tidaklah ada tanpa didahului oleh penyesalan terhadap dosa yang dikerjakan. Barang siapa yang tidak menyesal maka menunjukkan bahwa ia masih senang dengan perbuatan tersebut dan menjadi indikasi bahwa ia akan terus menerus melakukannya. Akankah kita percaya bahwa seseorang itu bertaubat sementara dia dengan ridho masih terus melakukan perbuatan dosa tersebut? Hendaklah ia membangun tekad yang kuat di atas keikhlasan, kesungguhan niat serta tidak main-main. Bahkan ada sebagian ulama yang menambahkan syarat yang keempat, yaitu tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut. sehingga kapan saja seseorang mengulangi perbuatan dosanya, jelaslah bahwa taubatnya tidak benar. Akan tetapi sebagian besar para ulama tidak mensyaratkan hal ini. Allahua’lam

  • atun says:

    assalamu’alaikum ustadz…
    saya mau bertanya ..
    bolehkah jika saya berdoa sperti ini setelah selesai sholat wajib/sunnah..
    ya Allah jika memang Engkau menakdirkan Y berjodoh dengan hamba dekatkan lah sedekat dekatnya dia dengan hamba,jadikanlah dia laki2 yang lebih baik,laki2 sholeh yang bisa menuntun hamba dijalan yang haq,jalan yang Engkau ridloi..
    Ya Allah luluhkan lah hati orang tua y supaya mereka mengizinkan hamba menikah dengan y,..

    • Al Lijazy says:

      bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah..
      do’a yang anda baca tersebut in syaa Allah tidak ada masalah, mintalah kepada Allah apapun yang anda inginkan dan dengan bahasa apapun, setelah itu tawakkal lah kepadaNya serta yakin bahwa Allah Ta’ala pasti akan mengabulkan do’a anda.
      Jika boleh kami tambahkan do’a-do’a yang khusus minta jodoh pada Allah bisa anda baca juga do’a-do’a dibawah ini.
      رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

      “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan hidup kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang2 yang bertakwa.” (QS Al-Furqaan 74)

      Atau juga bisa baca
      رَبِّ لَا تَذَرْنِى فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْوَٰرِثِينَ

      “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.

      Atau bisa juga anda baca

      رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ زَوْجًا طَيِّبًا أَخْطُبُهَ وَأَتَزَوَّجُ بِهِ وَيَكُوْنُ صَاحِبًا لِى فِى الدُنْيَا وَالْأَخِرَة

      “Ya Robb, berikanlah kepadaku suami yang terbaik dari sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia & akhirat”.

      Allahua’lam. Baarokallahu fiikum

      • Abu says:

        afwan akhi ..
        doa berikut

        رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ زَوْجًا طَيِّبًا أَخْطُبُهَ وَأَتَزَوَّجُ بِهِ وَيَكُوْنُ صَاحِبًا لِى فِى الدُنْيَا وَالْأَخِرَة

        “Ya Robb, berikanlah kepadaku suami yang terbaik dari sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia & akhirat”.

        siapa yang merangkai doa tersebut dan dari dalil apa ??
        hadis atau quran ???
        jika tidak ada ,, berarti ini bid’ah ..
        afwan ana hanya mengingatkan
        syukron

        • Al Lijazy says:

          bismillah, saya pikir memvonis bid’ah dalam perkara ini adalah sikap yang sangat terburu-buru ya akhi. Sebab yang di syariatkan atas kita adalah memohon dan meminta apa yang kita hajatkan hanya kepada Allah Ta’ala, namun untuk urusan lafadz do’a alhamdulillah kita diberi keluasan dengan menggunakan lafadz dan bahasa sesuai yang kita inginkan dengan syarat tidak terkandung didalamnya kesyirikan, ghuluw maupun kalimat-kalimat yang terkandung su’ul adab di dalamnya.
          Untuk lafadz do’a tersebut memang secara persis tidak kita dapatkan baik dalam alqur’an maupun sunnah. Kami hanya berusaha memilihkan lafadz do’a yang kami pandang sesuai dengan hajat penanya.Namun apa yang salah dengan lafadz do’a tersebut ya akhi? Bisa antum tunjukkan kesalahan lafadz do’a tersebut pada kami? Bahkan lafadz tersebut adalah lafadz yang masuk dalam makna do’a istikhoroh yang di sunnahkan, yakni meminta pilihan yang terbaik kepada Allah Ta’ala berdasarkan Ilmu Allah Ta’ala. Allahua’lam, ‘ala kulli hal jazaakallahu khoiron sudah mengingatkan. Baarokallahu fiik

  • Disu says:

    Assalamu’alaikum, ustadz, bagaimana hukumnya menggambar di makanan? Membuat makanan berbentuk makhluk bernyawa dicetak atau di gambar. Misal puding bentuk ikan, bolu dilukis wajah manusia/ hewan. Jazakallah khairon.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah, yang seperti itu in syaa Allah hukumnya sama dengan menggambar makhluk, meskipun yang ini dengan media yang lain yaitu dari bahan makanan, namun hakikatnya sama yaitu membentuk makhluk bernyawa.
      Diantara dalil larangannya adalah hadits Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
      إنَّ الَّذينَ يصنَعونَ هذِه الصُّوَرَ يعذَّبونَ يومَ القيامةِ ، يقالُ لَهم : أحيوا ما خلقتُمْ
      “orang yang menggambar gambar-gambar ini (gambar makhluk bernyawa), akan diadzab di hari kiamat, dan akan dikatakan kepada mereka: ‘hidupkanlah apa yang kalian buat ini’” (HR. Bukhari dan Muslim).
      Dan hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, beliau berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
      إنَّ أشدَّ النَّاسِ عذابًا عندَ اللَّهِ يومَ القيامةِ المصوِّرونَ
      “orang yang paling keras adzabnya di hari kiamat, di sisi Allah, adalah tukang gambar” (HR. Bukhari dan Muslim).
      Hadits-hadits diatas intinya yang di adzab adalah tukang gambar secara umum,yakni bagaimanapun cara dan bahannya, jadi apapun bahannya, baik dari kayu,kertas, semen maupun yang lain intinya mereka di adzab karena berusaha meniru ciptaan Allah Ta’ala. Jadi menggambar dengan media makanan juga harus di hindari. Allahua’lam

  • nana rere says:

    Assalamu’alaikum ustad.
    Ana sedang mengalami posisi sulit ustad. Ibu ana selingkuh. Ayah ana sudah tahu, memaafkan kesalahan ibu dan berusaha mempertahankan keutuhan keuarga. Ana pun sudah memaafkan, meskipun ana sudah di kutuk2 dan dikatain anak durhaka krna marah kepadanya, ana tetap berusaha memberi perhatian lebih dan memperlakukan ibu seperti ratu di rumah. Krna menurut ana ibu selingkuh krna kurang perhatian dr keluarga. Keluarga ana sudah kembali normal dan bahagia. Namun ternyata diluar dugaan saya, ia masih selingkuh dan ketahuan lagi seminggu yg lalu. Bahkan ibu menggunakan dukun untuk meredam kemarahan ayah. Mengetahui itu ana menjadi sangat benci dgn ibu krna ana tidak menyangka ibu setega itu dgn ayah padahal ayah sedang sakit jantung. Ana merasa bakti ana kepadanya tidak dihargai. Bahkan ketika ana marah ana tidak melihat ada rasa bersalah pada ibu. Sejak seminggu yg lalu ana tidak teguran dgn ibu. Mohon solusinya ustad apa yg harus ana lakukan. Ana merasa sudah sangat final tidak tau harus berbuat apa lagi dan tidak dapat memaafkan kesalahan ibu.

    • Al Lijazy says:

      Wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Tentang masalah anda intinya anda menghadapi orang tua yang berma’siyat, lantas bagaimana seharusnya sikap anda sebagai anak?
      Dalam hal ini kita dapatkan fatwa dari Syeikh bin Baz rahimahullah tentang bersikap kepada orang tua yang berma’siyat, beliau menjelaskan bahwasannya: “Allah Jalla Wa ‘Alaa berfirman dalam Al Qur’an Al Karim,
      أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ * وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
      “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik” (QS. Luqman: 14-15)
      ayat ini menjelaskan bahwa kedua orang tua musyrik yang memerintahkan anaknya untuk berbuat musyrik. Namun Allah Ta’ala berfirman:
      وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
      “Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik”

      Orang tua yang musyrik saja yang memerintahkan anaknya berbuat syirik namun tetap Allah Ta’ala memerintahkan anaknya untuk mempergaulinya dengan baik ( tentunya sesuai dengan batasan syar’i )
      Maka hendaknya anda bersabar doakan beliau agar mendapat hidayah. Semisal anda mengatakan kepadanya ‘Hadaakillah‘ (Semoga Allah memberimu hidayah), atau ‘Afaakillah‘ (Semoga Allah memberimu kebaikan lahir batin), atau ‘Waffaqakillah‘ (Semoga Allah memberimu taufiq. Maka sudah semestinya anda bersabar dan tidak menghadapi ujian ini kecuali dengan kesabaran.
      Bertutur-katalah sesuai dengan yang diperintahkan Allah Ta’ala:
      وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
      “Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik”
      Andaikan ia tidak menunaikan shalat, maka ia diperlakukan sama seperti orang tua yang musyrik, yaitu sebagaimana firman Allah Ta’ala tersebut.
      Bimbing dan tuntunlah ia ke jalan hidayah, dengan doa anda. Berdoalah kepada Allah di waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa. Mintalah agar Allah melimpahkan hidayah kepadanya, melindunginya dari godaan setan, memberinya rahmat, agar ia luluh terhadap nasehat anak-anaknya, agar ia diberi taufiq dan doa yang lainnya.
      Wajib bagi anda untuk bersabar dan memperlakukannya dengan baik serta mendoakan agar ia mendapatkan hidayah. Hendaknya anda juga mengusahakan cara-cara yang bisa menjadi sebab datangnya hidayah, misalnya dengan menyarankan teman dan kerabat baiknya untuk menasehatinya, atau cara-cara baik yang lain. Semoga Allah membalas kebaikan anda dan memberikan hasil yang baik bagi anda.”( Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/19867)
      Nasehat kami buat anda , anda harusnya jangan malah memutus komunikasi dengan ibu anda atau membenci beliau, karena hal itu di khawatirkan justru akan menambah ibu anda makin berputus asa dan semakin tenggelam dalam perbuatannya, berbicaralah dengan orang tua anda dengan perkataan yang baik, karena bagaimanapun beliau tetap ibu anda dan tidak akan pernah putus kekerabatan dan nasehatkan ke beliau dengan bahasa yang paling baiknya untuk meminta beliau segera bertaubat dari perbuatan dosanya, ingatkan ke beliau bahwa zina adalah dosa besar yang mewajibkan qishas bagi pelakunya, apalagi beliau sempat menggunakan sihir lewat dukun yang menyebabkan batalnya islam, tapi besarkan hati beliau untuk bertaubat, yakinkan bahwa Allah ta’ala pasti menerima taubatnya hamba sebesar dan sebanyak apapun dosa hamba tersebut.
      Kuatkan hati anda, maafkan kesalahan ibu anda, ingat hadits yang berbunyi
      كل ابن آدم خطاء، وخير الخطائين التوابون
      “Setiap anak Adam pasti pernah salah, namun sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang suka bertaubat.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan Hakim dari Anas. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Jami’ No. 4515)
      Jika Allah Ta’ala saja berkenan untuk mengampuni dosa-dosa hamba-Nya, meskipun itu dosa besar (misal: kisah pembunuh 100 orang) jika seorang hamba benar-benar bertaubat. Maka lebih sepatutnya hal tersebut kita lakukan, terlebih lagi terhadap orang tua kita sendiri. Siapapun beliau, dia adalah orang tua yang wajib kita perlakukan dengan baik. Allahua’lam semoga dimudahkan

  • Irfa suharti says:

    Assallamu’alaikum Uztadz..
    Saya ingin share cerita saya,semoga saya m’dpt kan pencerahan,bnr atau tdk yg saya lakukan…
    Saya kenal dgm s’org laki2,bisa dibilang saya pcran,dr thn 2012 pria ini sdh ditentang untuk m’nikahi saya,dgn alasan saya msh kuliah…
    Februari kmrn,dy dtg dgn rencana ingin m’lamara,tp abang2 saya menolak,sdg kan bapak saya cm blg,jgn skrg krn saya baru nikahin anak laki2 saya januari kmrn,nanti apa kt org…Wallahi hati saya hancur,dimana saya sdh b’keinginan menikah tp berkali2 dihalangi,bahkan abang2 saya yg harapkan bisa jd moderator untuk keinginan saya,justru mlh jd org yg paling menentang…bahkan kakakk ipar saya m’bawakan air minum untuk diminum,dan bertanya saya mual atau tdk,,,stlh saya selidiki tnyt itu suruhan org tua saya,beliau ingin tau saya di guna2 atau tdk…
    Pria yg ingin menikahi saya ini,mmg bbkn org kaya dan berpendidikan,tp saya yakin dy bisa menjalani hdp rmh tangga dgn dy…
    Oktober lalu,saya bicara lg sgn Bapak saya,tnyt Bapak saya mulai iku menentang,dgn alasan tdk ekufu dan sdh dibutakan dgn cinta,,saya sdh blg bahwa obt untuk org yg salin mencintai adlh menikah,saya sdh sampaikan bahwa Allahbakan m’cukupkan apabila ada hamba2nya gg menikah,saya jg sdh sampaikan ttg surat al-baqarah aya 232…
    Salahkan saya klo ttp bersikeras ingin menikah dgn laki2 pilihan saya…salahkah saya klo saya tdk mau menikah dgn laki2 dgn pilhan abang2 saya…
    Mohon pencerahnnya…
    Jazakallah khairon katsir…

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,wa’alaikum Salaam warahmatullahi wabarokaatuh
      Masalah pertama yang saya tangkap dari curhat anda adalah salahkah anda atau durhaka atau tidak kalau menolak jodoh dari orang tua?
      Yang perlu anda ketahui dalam masalah pertama ini yaitu Penolakan jodoh anak dari orang tuanya in syaa Allah Tidak termasuk durhaka. Karena menikah dan menentukan calon suami itu murni hak anak. Orang tua tidak boleh memaksa anaknya untuk menikah dengan seseorang yang tidak disukai anaknya. Dalilnya:
      عن أبي سعيد الخدري أن رجلا أتى بابنة له إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال إن ابنتي قد أبت أن تتزوج قال فقال لها أطيعي أباك قال فقالت لا حتى تخبرني ما حق الزوج على زوجته فرددت عليه مقالتها قال فقال حق الزوج على زوجته أن لو كان به قرحة فلحستها او ابتدر منخراه صديدا أو دما ثم لحسته ما أدت حقه قال فقالت والذي بعثك بالحق لا اتزوج ابدا قال فقال لا تنكحوهن إلا بإذنهن
      Dari Abu Said al-Khudri, bahwa ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa putrinya. Orang ini mengatakan, “Putriku ini tidak mau menikah.” Nabi memberi nasihat kepada wanita itu, “Taati bapakmu.” Wanita itu mengatakan, “Aku tidak mau, sampai Anda menyampaikan kepadaku, apa kewajiban istri kepada suaminya.” (merasa tidak segera mendapat jawaban, wanita ini pun mengulang-ulangi ucapannya). Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      “Kewajiban istri kepada suaminya, andaikan di tubuh suaminya ada luka, kemudian istrinya menjilatinya atau pada tubuh suaminya mengeluarkan nanah atau darah, kemudian istrinya menjilatinya, dia belum dianggap sempurna menunaikan haknya.”
      Spontan wanita itu mengatakan: “Demi Allah, Dzat yang mengutus Anda dengan benar, saya tidak akan nikah selamanya.”
      Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada ayahnya, “Jangan nikahkan putrimu kecuali dengan idzinnya (kerelaannya).” (HR. Ibn Abi Syaibah no.17122)
      Bahkan jika orang tua memaksa dan anak tidak ridha kemudian terjadi pernikahan, maka status kelangsungan pernikahan dikembalikan kepada anaknya. Jika si anak bersedia, pernikahan bisa dilanjutkan, dan jika tidak maka keduanya harus dipisahkan. Di antara dalilnya adalah
      عن ابن عباس رضي الله عنهما ” أن جارية بكراً أتت رسول الله صلى الله عليه وسلم فذكرت أن أباها زوجها وهي كارهة , فخيرها رسول الله صلى الله عليه وسلم “
      Dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau menceritakan, “Ada seorang gadis yang mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melaporkan bahwa ayahnya menikahkannya sementara dia tidak suka. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan hak pilih kepada wanita tersebut (untuk melanjutkan pernikahan atau pisah).” (HR. Ahmad 1:273, Abu Daud no.2096, dan Ibn Majah no.1875)
      Masalah kedua dari curhat anda adalah orang tua anda tidak merestui calon pilihan anda, dalam masalah iniJika wali menolak menikahkan anak gadisnya berdasarkan alasan syar’i, wali wajib ditaati dan kewaliannya tidak berpindah kepada pihak lain (wali hakim).
      Namun adakalanya wali menolak menikahkan dengan alasan yang tidak syar’i (dan ini sudah terjadi, bukan berdasar kekhawatiran semata), yaitu alasan yang tidak dibenarkan hukum syara’. misalkan wali menolak menikahkan hanya karena alasan adat yang tidak dibenarkan syari’at,masih kuliah, beda suku, atau calonnya miskin atau bahkan alasan-alasan yang mengarah kepada kesyirikan misalkan kepercayaan-kepercayaan tertentu yang tersebar di masyarakat, misalkan calonnya lahirnya harus weton ini dan itu, harus dari putra sulung dan sebagainya. Jika wali tidak mau menikahkan anak gadisnya dengan alasan yang tidak syar’i seperti ini, maka wali tersebut disebut wali ‘adhal, yaitu wali yang tidak mau menikahkan perempuan yang diwalinya jika ia telah menuntut nikah. Perbuatan ini adalah haram dan pelakunya (wali) adalah orang fasik. berdasarkan firman Allah swt :
      فَلاَ تَعْضُلُوهُنَّ أَن يَنكِحْنَ
      Artinya : “Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka menikah.” (QS. Al Baqarah : 232)
      Jika wali tidak mau menikahkan dalam kondisi seperti ini, maka hak kewaliannya bisa berpindah kepada wali kerabat yang lain dahulu dibawahnya secara berurutan sesuai dengan kedekatannya, hingga seterusnya . karena kerabat lebih berhak menjadi wali dibandingkan yang bukan kerabat. Lebih dari itu, kerabat yang berhak menjadi wali juga ada urutannya. Sehingga orang yang lebih dekat dengan wanita, dia lebih berhak untuk menjadi wali bagi si wanita itu.
      Namun mungkin sebelum melangkah dengan keputusan yang lebih jauh, kami anjurkan anda bermusyawarah kekeluargaan, bila perlu anda cari pihak ketiga baik dari kerabat ataupun bukan yang bisa membantu menjembatani antara anda dan ortu anda(khususnya ayah anda). semoga dengan adanya musyawarah keluarga akan ada jalan tengah yang baik nantinya in syaa Allah.
      Untuk selanjutnya Kami anjurkan anda untuk shalat istikharah meminta petunjuk Allah Ta’ala dan memohon kemudahan dariNya, hanya Allah Ta’ala saja yang bisa membukakan hati manusia yang masih tertutup. Allahua’lam semoga dimudahkan

  • ummu alfi says:

    assalamu’alaikum ustadz. mohon penjelasan, adakah perbedaan tata cara pernikahan antara gadis dan janda? terima kasih.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Dalam tata cara atau proses akad nikahnya Secara umum in syaa Allah tidak ada perbedaan antara gadis dan janda, yakni keduanya tetap harus ada wali ,saksi,mahar dan lainnya dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan syari’at. Allahua’lam

  • Rahmawati says:

    assalamualaikum pak ustadz.. saya mau tanya soal jodoh yg sekufu.. saya wanita yg biasa saja.. agama saya pun tidak setinggi wanita” syar’i di luar sana.. tapi saya kagum dengan laki” yg memang agamanya jauh lebih tinggi di atas saya.. saya terkadang merasa minder dengan itu.. karna kembali lg berkaitan dengan jodoh yg sekufu.. saya malah berfikir mustahil bahwa ia akan saya miliki pak ustad.. lalu saya harus bagaimana pak ustadz menanggapi rasa yg ada didiri saya.. untuk alasan menikah saya siap .. tapi saya takut menyampaikan kepadanya karna memang ia merupakan pria yg jarang sekali tersentuh wanita… untuk bicara dengannya pun saya cangggung ..

    • abuhusain says:

      wa’alaykumussalaam.
      yang pertama perlu diperbaiki adalah diri sendiri, berusaha menjadikan diri pantas untuk mendapatkan laki-laki yang baik. seorang wanita boleh saja menawarkan diri kepada laki-laki shalih utk dinikahi, tapi jika malu maka bisa melalui perantara misalnya lewat teman yang sudah menikah agar suaminya menyampaikan keinginan tersebut. Jika memang belum Allah takdirkan maka tidak perlu kecewa, husnudzhon kepada Allah bahwa Allah akan berikan pasangan yang lebih baik lagi jika kita juga berusaha memperbaiki diri. wallohu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *