Mengingkari Kesyirikan Jimat

December 20, 2015

Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ustadz ana ada pertanyaan,

1. Ana punya kerabat yang meyakini benda mati dapat menangkal bahaya dengan sendirinya dan meminta perlindungan kepada selain Allah ta’ala misalnya makhluk gaib dipastikan murtad?
2. Apakah orang tersebut kafir dan diperlakukan seperti non muslim? Misalnya mengucapkan salam dll. dan apakah kita boleh melewati shalatnya?
3. Dan kerabat ana tersebut juga memasang jimat jimat di dinding rumah seperti benda mati, rajah lalu ana nasehati dan mereka menolak untuk dibuang dan ana buang secara diam-diam dan masih ada yang tersisa, bagaimana sikap ana ini? Apakah harus ana buang sampai habis walaupun kena marah?
Barakallahu fiikum (Tesar)

Dijawab oleh Ust Abu Usamah Yahya;

wa’alaikum salaam warahmatullahi wabarakaatuh,
Bismillah, assholatuwas salaamu’ala rasulillah waman waalahu
(1) Ini yang orang sering sebut “jimat”. Jimat berasal dari bahasa arab yaitu ‘azimah. Hakikatnya tidak lain bahwa seseorang bergantung dan bertawakal kepada sebab-sebab yang tidak jelas yang tidak disyari’atkan Allah SWT, dengan tujuan untuk menolak bala’ atau membentengi diri darinya. (Al Jauhari, Ash Shihah fil Lughah, 1/468)
Sedangkan Al Laits mengatakan ‘Azimah (jimat) adalah bagian dari mantera yang menggunakan jin dan syaithan. (Tahdzbul Lughah, 1/202)
Bentuknya bisa dengan memakai ‘gelang’ atau ‘kalung’, ataupun berbentuk benang (penangkal) yang diikatkan pada lengan, termasuk sabuk yang dililitkan.
Dan Imran bin Hushain, bahwasanya Rasulullah saw melihat pada tangan seseorang sebuah gelang, lalu beliau bersabda: “Celaka kamu, apa ini? “Ia menjawab: “Untuk menjaga diri dan penyakit wahinah.”Beliau bersabda: “Ingatlah, benda ini tidak menambah untukmu selain kelemahan. Buang jauh benda itu darimu, sesungguhnya jika kamu mati dan benda itu masih ada padamu, kamu tidak akan beruntung selamanya.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)
Rasulullah saw bersikap keras dalam rnengingkari hal ini demi memberikan peringatan dan berbagai bentuk kemusyrikan, dan mengajarkan kepada para sahabat agar menutup pintu yang memungkinkan umatnya masuk ke dalam kesyirikan. Diantara hadits yang berkaitan tentang hal ini adalah :
Rasulullah Saw bersabda “Sesungguhnya jampi-jampi, jimat dan pelet adalah kesyirikan”. (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban.)
Sedangkan dalam redaksi lain disebutkan, “Barangsiapa menggantungkan tamimah, ia telah syinik.” (HR Ahmad)
Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa menggantungkan tamimah (jimat), semoga Allah tidak mengabulkan keinginannya, dan barangsiapa menggantungkan wada‘ah,semoga Allah tidak memberi ketenangan pada dirinya.” (HR Ahmad)
Kalau seperti yang anda sebutkan meminta perlindungan kepada selain Allah, misalkan ke makhluq gaib ini sudah jelas-jelas masuk kedalam syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari islam. Karena masuk ke dalam syirik dalam ibadah (isti’adzah/isti’anah kepada makhluq yang tidak mampu memenuhinya kecuali Allah Ta’ala)
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al An’am: 88). Juga disebutkan dalam ayat lain,
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65).
(2) Tugas anda hanya sebatas menasehati dan membimbing kerabat anda ke dalam jalan yang lurus. Untuk menyikapinya dengan hukum-hukum yang terkait dengan sikap terhadap kaum kafir, itu hanya untuk seorang kafir mu’ayyan yang tentunya memutuskannya berdasarkan keputusan ulama’ dengan memeriksanya secara langsung. Seperti yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah,
أَنَّ التَّكْفِيرَ لَهُ شُرُوطٌ وَمَوَانِعُ قَدْ تَنْتَقِي فِي حَقِّ الْمُعَيَّنِ وَأَنَّ تَكْفِيرَ الْمُطْلَقِ لَا يَسْتَلْزِمُ تَكْفِيرَ الْمُعَيَّنِإلَّا إذَا وُجِدَتْ الشُّرُوطُ وَانْتَفَتْ الْمَوَانِعُ
“Bahwa takfir memiliki syarat-syarat dan penghalang-penghalang dalam mengkafirkan individu tertentu (mu’ayyan), dan bahwa takfir secara umum (muthlaq) tidak mengharuskan takfir terhadap individu tertentu (mu’ayyan), kecuali apabila terpenuhi syarat-syarat dan terangkat penghalang-penghalang.” [Majmu’ Al-Fatawa, 12/488]
(3) membuang segala jimat yang ada di rumah harus dilakukan karena termasuk bab amar ma’ruf nahi mungkar, jika dengan melakukannya tidak ada mudhorot yang berarti bagi anda ,maka lakukan hingga segala bentuk kesyirikan hilang. Allahua’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *