Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Ustadz saya mohon jawabannya. Saya sudah melihat Video ceramah ustadz begitu bagus sesuai Manhaj yang saya yakini yaitu Manhaj Salaf .

Saya ada permasalahan. Saya mau menikah namun kekhawatiran saya adalah bahwa ayah calon isteri saya yang menjadi Wali nikah nantinya dahulu ketika calon ibu mertua saya dulu tidak disetujui oleh ayah calon ibu mertua saya (tidak setujui oleh kakek calon isteri saya). Orang tua calon isteri saya dahulu dinikahkan oleh adiknya (Paman dari calon isteri saya maksudnya). Yang saya tahu bahwa pernikahan tanpa wali dan tidak boleh diwakilkan selama ayah masih hidup itu tidak sah. Saya menganggap bahwa pernikahan calon mertua saya dulu itu tidak sah. Berarti anak dari pernikahan yg tidak sah, tiada wali baginya dan akan diserahkan ke wali hakim. Sementara saya mau menikah dengan dia, dan pasti walinya adalah ayahnya ini. Saya beranggapan ayahnya ini tidak boleh jadi wali karena dulu pernikahan mereka (Pernikahan calon mertua saya) tidak sah. Bagaimana tanggapan ustadz benarkah prasangka saya ini atau salah? Jika benar, apakah kami harus dinikahkan oleh wali hakim? Kalau pun saya minta dinikahkan wali hakim, ternyata si ayah perempuan ini tersinggung yg berakibat jadi gagal pernikahan apa yang harus saya lakukan Ustadz?

Tambahan pertanyaan saya, bolehkah si ayah wanita mewakilkan wali nikah dalam ijab kabul kepada petugas KUA seperti yang sudah banyak terjadi di masyarakat?

Syukron…..

Penjelasan:
Bismillah, wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakaatuhu
Tanggapan kami dari pertanyaan anda
Pertama: bahwa perlu kita luruskan bahwa ana tidak pernah membuat ceramah dalam bentuk video. Kalau memang anda pernah melihat video ceramah in syaa Allah bisa di pastikan itu bukan ana. Tolong di cek lagi apa betul penceramah di video tersebut sesuai dengan nama ana Abu Usamah yahya Al Lijaziy atau bukan.kalo iya tolong sertakan link nya biar bisa kita cek.
Kedua: mengenai msalah anda, kalau tidak salah bisa kita garis bawahi bahwa calon ibu mertua anda dulu dinikahkan dengan wali adik kandungnya sendiri. Lantas bagaimana hukum pernikahan tersebut?
Jawabnya yaitu menikahnya seorang wanita dengan wali adik kandungnya sendiri hukumnya SAH in sya allah jika memang wali-wali yang utama dari mereka berhalangan atau tidak mau menjdi wali.
Memang terdapat perbedaan pendapat tentang siapa yang lebih utama mnjadi wali nikah,
Ada pendapat yang mengatakan bahwa ayah kandung perempuan tersebut adalah orang yang paling berhak menjadi wali bagi anaknya, kemudian setelah ayah adalah kakek dari ayah tersebut. beginilah dalam madzhab Syafi’i, Hambali dan sebagian yang lain.
Dalam kitab Kifayatul Akhyar, sebuah kitab fiqih yang lazim digunakan di dalam mazhab Syafi’i, disebutkan urutan wali nikah adalah sebagai berikut:
1. Ayah kandung
2. Kakek, atau ayah dari ayah
3. Saudara kandung
4. Saudara se-ayah saja
5. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah dan se-ibu
6. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah saja
7. Saudara laki-laki ayah dst
Jadi adik dari calon ibu mertua anda itu berhak menikahkan saudara kandung perempuan (calon ibu mertua anda), Sekalipun misalkan ayah anda yang tidak diketahui alamatnya atau tidak meridhhainya, kemudian anda menikahkan (menjadi wali nikah) kakak anda yang perempuan, maka pernikahannya sah. Artinya anda sah menjadi wali saudara kandung perempuan (kakak kandung anda). Allahu A’lam
Namun jika ortunya mewakilkan pernikahan putrinya ke pemerintah, dalam hal ini adalah KUA maka in syaa Allah tetap dibolehan. Meskipun sendainya ayah kandung dari calon istri anda sendiri yang menjadi wali justru lebih afdhol in syaa Allah dalam madzhab as Syafi’iy. Allahua’lam
(Ust Abu Usamah Yahya)

26 Comments

  • tanaya says:

    Assalamu’alaikum ustadz tolong di jawab,saya punya pertanyaan terhadap masalah saya.saya perempuan usia 25tahun yg sudah memiliki calon serius hubungan kita sudah 4tahun berjalan,orang tua calon saya sudah melamar dua kali akan tetapi orang tua saya belom menyetujui dengan alasan,dia malu karna calon pilihan saya cacat pisik buta mata kiri,sedangkan saya benar” sayang dan cinta sama calon saya,dan di samping itu banyak keluarga seperti paman dan bibik dari keluarga ibu saya menyarankan nikah wali hakim ajah,,saya bingung harus gimana sedangkan saya dan calon maunya secepat mungkin,karna keluarga calon saya sudah siap semua persiapan nikah termasuk mahar sudah di beli berupa emas..tolong jawab sesuai hukum,dan qu’an dan hadis yg sahih..trimah kasih wassalamu’alaikum

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullahi wabarokaatuh
      Bismillah,Satu hal yang menyedihkan memang, bila calon suami pilihan kita ternyata tidak direstui orangtua, apalagi ketidak setujuannya karena cacat fisik yang kita anggap tidak penting untuk dipermasalahkan. Memang dalam Islam sendiri tidak dibenarkan orang tua menolak seseorang untuk menikahi putrinya karena cacat fisik yang itu sudah menjadi kehendak Allah Ta’ala atasnya. Karena, kebaikan ahlak dan pemahaman agama yang baik adalah yang paling penting dari segalanya. Maka itu jika laki-laki tersebut termasuk dari mereka yang baik secara agama, maka sebenarnya tidak boleh mereka menjadi prenghalang untuk menikahkannya. Seperti sabda Rasulullahdari Abu Hatim Al-Muzani rodhiyallohu ‘anhu juga :

      إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوْهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي اْلأَرْضِ وَفَسَادٌ

      “Apabila telah datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya (untuk meminang) maka hendaknya kalian menikahkannya dengan wanita kalian. Jika tidak, akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan.” (At Tirmidzi 1085, hadits hasan).
      Dalam riwayat lain Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

      إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي اْلأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

      “Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang , maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Jika tidak kalian lakukan niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (At-Tirmidzi 1084, dihasankan Asy Syaikh Al Albani rohimahullohu dalam Al-Irwa’ 1868, Ash-Shohihah 1022).
      serta jika syarat kemampuan untuk menikah sudah ada maka harus segera dilangsungkan pernikahan tersebut.seperti dalam sabda beliau
      يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ منكم الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
      “Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang sudah mampu menanggung nafkah, hendaknya dia menikah. Karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sementara siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa. Karena itu bisa menjadi tameng syahwat baginya.” (HR. Bukhari 5065 dan Muslim 1400).
      dan cacat fisik bukan termasuk penghalang dalam kelangsungan pernikahan, apalagi jika sudah sama-sama ridho dengan keadaan tersebut. Dianjurkan orang tua tidak mengada-adakan penghalang yang bukan penghalan di mata syari’at. Apalagi hal itu hanya berdasar hawa nafsu semata. Allah Ta’alaberfirman;
      وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ
      Dan hendaklah kkalian memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. (Al-Maidah; 49)
      Namun Meskipun demikian, agama juga tidak menyarankan anak perempuan untuk melawan orangtuanya dalam hal ini, karena ridha orangtua juga anda perlukan untuk keberkahan pernikahan anda. Oleh karena itu memang dibutuhkan banyak kesabaran anda untuk meluluhkan hati orangtua agar menerima pilihan anda. misalnya dengan mengajak orangtua anda berbicara dari hati kehati, kemukakan alasan terbaik anda memilih dia jadi suami anda. Atau Anda mungkin perlu seorang mediator yang pendapatnya dapat didengarkan orangtua.

      Yang pasti, Untuk menikah secara sah, tentu harus memenuhi rukun nikah yang salah satunya adanya wali dari ayah kandung atau wakil dari pihak ayah dan seterusnya. Meskipun tidak mengantongi restu ortu, anda tetap teranggap sah menikah dengan calon suami anda selama rukun nikah terpenuhi. Meski demikian ada baiknya jika anda bersabar hingga orangtua yakin bahwa pilihan anda adalah pria terbaik bagi anda.
      Saya yakin bagaimanapun orangtua hanya menginginkan anaknya bahagia, karenanya tunjukkan bahwa pilihan anda adalah orang yang tepat dan satu-satunya yang bisa membahagiakan anda dunia dan akhirat. Di samping itu memohonlah pada Allah agar Dia membukakan hati kedua orangtua agar mau menerima kekurangan calon suami anda. karena cacat fisiknya juga merupakan ciptaan Allah Ta;alayang tidak sepantasnya dijadikan alasan untuk menolaknya sebagai calon suami anda. Semoga tidak perlu waktu terlalu lama bagi anda untuk mendapatkan restu orangtua anda.
      Tentang anjuran saudara-saudara anda menikah dengan wali hakim,sebelum ke wali hakim kewajiban anda harus mencari wali nasab anda terlebih dahulu, kalau tidak didapatkan baru boleh menggunakan wali hakim. Wali nasab anda Dalam kitab Kifayatul Akhyar, sebuah kitab fiqih yang lazim digunakan di dalam mazhab Syafi’i, disebutkan urutan wali nikah adalah sebagai berikut:
      1. Ayah kandung
      2. Kakek, atau ayah dari ayah

      3. Saudara kandung
      4. Saudara se-ayah saja
      5. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah dan se-ibu
      6. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah saja
      7. Saudara laki-laki ayah dst.
      Allahualam bishawab

  • Annisa fatma says:

    Assalamualaukum ustaz, mohon penyelesaian permasalahan saya, saya punya masalah yg membuat keraguan,sy seorang ibu, bagaimana perwalian nikah anak gadis sy(21th),krn ayah kndg (suami sy mualap) sdh meninggal dunia 19 thn yl. Kemudian saudara laki2 seayah bukan muslim begitupun anak2nya, kakek dari alm suami juga non muslim, tetapi kakek mempunyai sdr kandung yg muslim, tapi dlm ketentuan wali nikah saudara kandung kakek tidak ada, apakah boleh jd wali nikah atau hakim saja, dan apakah harus ada izin juga dari pamannya yg non muslim? U/informasi sy telah menikah lg dan anak sy dibesarkan oleh sy bersama suami yg skrng sejak dia balita, apakah bisa jika hakim memberi izin perwalin pd ayah tiri, mohon penjelasan krn sy ingin pernikahan anak sy sah dan sesuai dengan hukum yg benar,semoga allah memberi jalan pada keragu2an saya ini. Amin tksh ustaz wasalamualaikum warohmatullahiwabarikatuh

    • Al Lijazy says:

      bismillah,wa’alaikum Salaam warahmatullah, untuk kasus anda tersebut in syaa Allah masih ditemukan wali nikah dari jalur nasab,maka harus didahulukan yaitu saudara kakek yang muslim. jadi Untuk saudara laki-laki kakek sebapak seibu atau sebapak saja yang muslim in syaa Allah bisa menjadi wali nikah. bahkan paman dari kakek sebapak seibu atau sebapak saja bisa menjadi wali nikah kalau tidak ada saudara laki-laki kakek. Allahua’lam

  • Nurul says:

    Assalamu’alaikum ustadz,
    Apakah boleh seorang anak perempuan yg akan menikah dengan wali hakim sedangkan ayah kandungnya masih hidup? Karena problemnya:
    1. Ayah kandung menelantarkan anaknya dari kecil (tidak dinafkahi)
    2. Ayah kandung sempat memutuskan hubungan keluarga (menyatakan bukan anak-anaknya lagi), namun saat lebaran kemarin ingin bertemu (yang akhirnya bertemu)
    3. Ayah kandung sering mengancam (anak perempuannya tidak bisa menikah tanpa beliau), ini sering diucapkan ketika ayah kandung menginginkan sesuatu dari pihak ibu kandung yg merawatnya dari kecil
    4. Dikhawatirkan Ayah kandung mau menikahkan anak perempuannya dengan syarat (ibu kandung yg merawatnya tidak boleh hadir di akad & walimah), ini membuat terpukul anak perempuan yg dirasa di hancurkan bathin nya dari kecil. (Berkaca dari pengalaman pernikahan kaka perempuannya dulu)
    5. Dikhawatirkan ayah kandung menjanjikan sesuatu yg berlebihan kepada pihak calon dan akhirnya yg menanggung itu ibu kandungnya sehingga banyak berhutang (berkaca dari pengalaman pernikahan kaka laki2).
    Mohon penjelasan bagaimana hukum nya dalam islam apakah boleh bila ayah kandung tidak diberi tahu (karena udzur diatas) atau bagaimana ustadz? Karena watak ayah kandung yg keras.jazakallah khairan katsiran

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,wa’alaikum Salaam warahmatullah,saran kami menurut apa yang kami fahami dari pertanyaan anda bahwa si anak perempuan yang hendak menikah tersebut hendaknya tetap meminta ijin/restu kepada ayahnya terlebih dahulu sebelum menuju wali hakim. Bagaimanapun beliau tetap ayah kandungnya yang paling berhak untuk menikahkannya. Kalau anda langsung menuju wali hakim tanpa meminta restu ayah kandung hanya karena berdasarkan kekhawatiran-kekhawatiran semata maka ini tetap tidak benar, sebab hukum tidak bisa di putuskan jika hanya alasan kekhawatiran semata. Jalani dulu prosedurnya dengan benar, jika nantinya ada yang tidak bisa dan setelah dipelajari kasusnya maka nantinya akan ada hukum pilihan.
      Sebaiknya anda pahami dahulu dari beberapa uraian kami sebagai tambahan ilmu,
      Pertama, wali nikah merupakan rukun dalam akad nikah
      Keberadaan wali merupakan rukun dalam akad pernikahan. Karena itu, tidak sah menikah tanpa wali. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan kesimpulan, ini, diantaranya,
      Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
      لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ
      “Tidak sah nikah kecuali dengan adanya wali.” (HR. Abu Daud 1785, Turmudzi 1101, dan Ibnu Majah 1870).
      Dari Aisyah radhiallahu anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
      أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ
      “Wanita manapun yang menikah tanpa seizin walinya maka nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal. (HR. Ahmad 24205, Abu Daud 2083, Turmudzi 1021, dan yang lainnya).
      Kedua, tidak semua orang bisa seenaknya menjadi wali nikah.
      Allah Ta’ala menghargai hubungan kekeluargaan manusia. Karena itu, kelurga lebih berhak untuk mengatur dari pada orang lain yang bukan kerabat. Allah Ta’ala berfirman,
      وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
      Orang-orang yang mempunyai hubungan Kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Anfal: 75)
      Bagian dari hak ’mengatur’ itu adalah hak perwalian. Karena itu, kerabat lebih berhak menjadi wali dibandingkan yang bukan kerabat. Lebih dari itu, kerabat yang berhak menjadi wali juga ada urutannya. Sehingga orang yang lebih dekat dengan wanita, dia lebih berhak untuk menjadi wali bagi si wanita itu.
      Urutan kerabat ayah yang berhak menjadi wali nikah, dijelaskan Al-Buhuti berikut,
      ويقدم أبو المرأة الحرة في إنكاحها لأنه أكمل نظرا وأشد شفقة ثم وصيه فيه أي في النكاح لقيامه مقامه ثم جدها لأب وإن علا الأقرب فالأقرب لأن له إيلادا وتعصيبا فأشبه الأب ثم ابنها ثم بنوه وإن نزلوا الأقرب فالأقرب
      Lebih didahulukan ayah si wanita (pengantin putri) untuk menikahkannya. Karena ayah adalah orang yang paling paham dan paling menyayangi putrinya. Setelah itu, penerima wasiat dari ayahnya (mewakili ayahnya), karena posisinya sebagaimana ayahnya. Setelah itu, kakek dari ayah ke atas, dengan mendahulukan yang paling dekat, karena wanita ini masih keturunannya, dalam posisi ini (kakek) disamakan dengan ayahnya. Setelah kakek adalah anak si wanita (jika janda), kemudian cucunya, dan seterusnya ke bawah, dengan mendahulukan yang paling dekat. (Ar-Raudhul Murbi’, hal. 1/100)
      Dan tidak boleh kerabat yang lebih jauh menjadi wali nikah sementara masih ada kerabat yang lebih dekat. Karena semacam ini sama halnya dengan merampas hak perwalian, sehingga nikahnya tidak sah.
      Al-Buhuti mengatakan,
      وإن زوج الأبعد أو زوج أجنبي ولو حاكما من غير عذر للأقرب لم يصح النكاح لعدم الولاية من العاقد عليها مع وجود مستحقها
      Jika wali yang lebih jauh menikahkannya, atau orang lain menjadi walinya, meskipun dia hakim (pejabat KUA), sementara tidak ada izin dari wali yang lebih dekat maka nikahnya tidak sah, karena (dianggap) tidak adanya perwalian ketika proses akad, sementara orang yang lebih berhak (untuk jadi wali) masih ada.” (Ar-Raudhul Murbi’, 1/10)
      Ketiga, kapan wali hakim berperan?
      Wali hakim berperan ketika calon wanita sudah tidak memiliki wali lagi dari nasab atau kerabat,
      Dalam hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      فَإِنْ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ
      Jika terjadi sengketa antara mereka, maka penguasa menjadi wali untuk orang yang tidak memiliki wali. (HR. Ahmad 24205, Abu Daud 2083, Turmudzi 1021, dan yang lainnya).
      Jadi kesimpulannya berdasarkan cerita anda jika anda nekat melanjutkan rencana anda maka status pernikahan anda dengan perantara wali hakim dengan keadaan wali nasab masih ada,maka saya mengkhawatirkan bahwa pernikahan tersebut tidak sah. Jadi percuma saja anda menikah toh jatuhnya zina juga.
      Kalo seandainya anda beralasan bahwa wali anda tidak setuju atau tidak mau menjadi wali maka harus dirinci dahulu alasannya kenapa mereka tidak mau jadi wali.
      Jika wali menolak menikahkan anak gadisnya berdasarkan alasan syar’i, wali wajib ditaati dan kewaliannya tidak berpindah kepada pihak lain (wali hakim).
      Namun adakalanya wali menolak menikahkan dengan alasan yang tidak syar’i (dan ini sudah terjadi, bukan berdasar kekhawatiran semata), yaitu alasan yang tidak dibenarkan hukum syara’. misalkan wali menolak menikahkan hanya karena alasan adat yang tidak dibenarkan syari’at, atau bahkan mengarah ke kesyirikan. Jika wali tidak mau menikahkan anak gadisnya dengan alasan yang tidak syar’i seperti ini, maka wali tersebut disebut wali ‘adhal, yaitu wali yang tidak mau menikahkan perempuan yang diwalinya jika ia telah menuntut nikah. Perbuatan ini adalah haram dan pelakunya (wali) adalah orang fasik. berdasarkan firman Allah swt :
      فَلاَ تَعْضُلُوهُنَّ أَن يَنكِحْنَ
      Artinya : “Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka menikah.” (QS. Al Baqarah : 232)
      Jika wali tidak mau menikahkan dalam kondisi seperti ini, maka hak kewaliannya bisa berpindah kepada wali kerabat yang lain dahulu dibawahnya, hingga seterusnya .kalo memang tidak ada lagi dari kerabat ,maka silahkan anda menggunakan wali hakim jika nantinya tidak ada mudharat bagi kehidupan rumah tangga anda dengan keputusan tersebut.Hal ini berdasarkan hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      فَإِنْ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ
      Jika terjadi sengketa antara mereka, maka penguasa menjadi wali untuk orang yang tidak memiliki wali. (HR. Ahmad 24205, Abu Daud 2083, Turmudzi 1021, dan yang lainnya).
      Namun mungkin sebelum melangkah dengan keputusan anda tersebut, kami anjurkan anda bermusyawarah kekeluargaan, bila perlu anda cari pihak ketiga yang bisa membantu menjembatani antara anda dan ortu anda(khususnya ayah anda). semoga dengan adanya musyawarah keluarga akan ada jalan tengah yang baik nantinya in syaa Allah.
      Untuk selanjutnya Kami anjurkan anda untuk shalat istikharah meminta petunjuk Allah Ta’ala dan memohon kemudahan dariNya, hanya Allah Ta’ala saja yang bisa membukakan hati manusia yang masih tertutup. Allahua’lam semoga dimudahkan

  • Ridwan Zanuar says:

    Assalamualaikum ustadz,
    Ayah kandung dari calon istri saya sudah melakukan taukil wali nikah via telepon, beliau memberikan hak wali nikahnya kepada petugas KUA karena dikhawatirkan tdk bisa hadir saat akad pernikahan dilaksanakan (alasan tmpt tinggal jauh), yg ingin saya tanyakan : bagaimana jika pada hari pernikahan ternyata sang ayah bisa hadir? Apakah pernikahan sah jika ayahnya hanya menyaksikan? (tdk menjadi wali karena sudah melakukan taukil nikah)

    (N.B. : wali nikah selain ayah kandung pun sama jauhnya)

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Hukum tawkil untuk akad nikah lewat telepon adalah sah, selama taukil tersebut dapat dipahami lafadz dan maknanya serta tidak ada penolakan dari pihak yang menerima wakalah.
      Jika pada hari H wali asli bisa hadir tentunya sebaiknya wali aslinya yang menikahkan jika tidak ada udzur, namun jika memang ada udzur untuk menikahkan secara langsung in syaa Allah wakil dari wali yang sah in syaa Allah sah dalam menikahkan. Allahua’lam

  • inggit winggiana wiseisa says:

    assalamualaikum,,
    saya mau tanya,
    jika seandainya wali bersedia jadi wali nikah dan pada hari H beliau tidak datang..
    krna alasan jarak dan kesibukan??
    apakah akan si lempar ke wali hakim??
    tolong solusinya
    terima kasih

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,waa’alaikum Salaam warahmatullah, sebaiknya dikonfirmasi dahulu walinya kenapa tidak bisa hadir, kalau memang benar-benar udzur, lalu tanyakan kepadanya apakah dia bersedia menyerahkan perwalian kepada wali pengganti, baik dari kerabat yang lain( ini yang didahulukan) maupun wali hakim ( jika wali kerabat sudah tidak ada lagi), jika beliau bersedia dan menyerahkan secara langsung hak perwaliannya kepada mereka yang beliau tunjuk maka pernikahan bisa dilaksanakan dan sah in syaa Allah.sebab wali utama tetap menjadi wali intinya,kalau nekat menggunakan wali pengganti padahal wali inti bersedia menjadi wali maka perwalian tersebut tidak sah, kecuali wali inti udzur dan sudah menyerahkan perwaliannya secara langsung baik secara lisan maupun tulisan maka wali yang di tunjuk telah sah menjadi wali. Allahua’lam

  • sopyan says:

    Assalamualaikum ustadz,
    Tmn sy ingin menikah, sementara ada masalah dengan wali dikarnakan wali tersebut sudah tidak ada (sudah bercerai) sejak beliau kecil dan tidak tahu keberadaan ayahny tersebut. Mohon pencerahanny ustadz.
    Wassalam’mualaikum wr.wb

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum salaaam warahmatullah
      Yang perlu anda ketahui disini adalah siapa saja yang bisa menjadi wali nikah selain ayah kandung, kalau ternyata ayahnya tidak diketahui keberadaannya, maka masih harus dicari wali yang derajatnya dibawahnya. Untuk itu dibawah ini adalah urutan perwalian yang harus kita ketahui.
      Dalam kitab Kifayatul Akhyar, sebuah kitab fiqih yang lazim digunakan di dalam mazhab Syafi’i, disebutkan urutan wali nikah adalah sebagai berikut:
      1. Ayah kandung
      2. Kakek, atau ayah dari ayah
      3. Saudara (kakak/ adik laki-laki) se-ayah dan se-ibu
      4. Saudara (kakak/ adik laki-laki) se-ayah saja
      5. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah dan se-ibu
      6. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah saja
      7. Saudara laki-laki ayah
      8. Anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah (sepupu)
      Daftar urutan wali di atas tidak boleh dilangkahi atau diacak-acak. Sehingga bila ayah kandung masih hidup, maka tidak boleh hak kewaliannya itu diambil alih oleh wali pada nomor urut berikutnya. Kecuali bila pihak yang bersangkutan memberi izin dan haknya itu kepada mereka
      Jadi, tidak boleh kerabat yang lebih jauh menjadi wali nikah sementara masih ada kerabat yang lebih dekat. Karena semacam ini sama halnya dengan merampas hak perwalian, sehingga nikahnya tidak sah.
      Al-Buhuti mengatakan,
      وإن زوج الأبعد أو زوج أجنبي ولو حاكما من غير عذر للأقرب لم يصح النكاح لعدم الولاية من العاقد عليها مع وجود مستحقها
      Jika wali yang lebih jauh menikahkannya, atau orang lain menjadi walinya, meskipun dia hakim (pejabat KUA), sementara tidak ada izin dari wali yang lebih dekat maka nikahnya tidak sah, karena (dianggap) tidak adanya perwalian ketika proses akad, sementara orang yang lebih berhak (untuk jadi wali) masih ada.” (Ar-Raudhul Murbi’, 1/10)
      Kemudian, kapan wali hakim ( KUA) berperan?
      Wali hakim berperan ketika calon wanita sudah tida memiliki atau tidak didapatkan wali lagi dari nasab atau kerabat, baru wali hakim bisa menjadi walinya.
      Dalam hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      فَإِنْ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ
      Jika terjadi sengketa antara mereka, maka penguasa menjadi wali untuk orang yang tidak memiliki wali. (HR. Ahmad 24205, Abu Daud 2083, Turmudzi 1021, dan yang lainnya).
      Allahua’lam

  • Tya says:

    assalamu’alaikum ustadz,
    saya mau bertanya, saya wanita (24 tahun) merupakan anak pertama dari 3 bersaudara, dari saya lulus sekolah (SMK) saya memutuskan untuk bekerja guna membantu perekonomian orang tua, setahun setelah bekerja alhamdulillah Allah memberikan jalan bagi saya untuk kuliah, saya pun bekerja sembari kuliah, tanpa sedikitpun mengurangi uang bulanan yg saya berikan kepada orang tua.. saat usia saya menginjak 23 tahun, ada seseorang yg berniat melamar saya, namun hati saya selalu ragu karena saya masih harus membantu orang tua, karena saya anak pertama saya merasa harus bertanggung jawab. Dan ditahun yg sama pula sempat ada yg berniat mengajak ta’aruf (melalui teman) namun saya masih menolaknya karena alasan yg sama. Tahun ini saya sudah menginjak usia 24 tahun, ada teman saya yg memberanikan diri untuk mengajak saya ta’aruf (melalui perantara murobbi), awalnya saya ragu, sangat ragu karena pada saat itu saya masih mempunyai hutang yg saya pinjam untuk biaya operasi ayah saya, saya sempat berpikir sangat lama dan berdoa setiap hari bagaimana saya bisa melunasi hutang tersebut. Dan akhirnya sayapun meminta waktu pada teman sy untuk memikirkannya lebih lama. Qadarullah, Allah membantu saya, rejeki itu tiba-tiba datang dari arah yg berbeda, sehingga hutang saya bisa lunas hanya dalam hitungan minggu T__T dari situ saya yakin Allah sudah memberikan jalannya sehingga entah mengapa hati saya yakin padanya (teman yg mengajak ta’aruf). Kami sudah bertukar cv, dan dia bilang dia yakin dan masih mau melanjutkan. Saya mash melakukan sholat istikhoroh untuk lebih memantapkan hati saya . Namun saat saya mencoba membicarakannya dengan orang tua saya, mereka terlihat tidak suka. Padahal sebelumnya ibu saya sempat menanyakan perihal jodoh. Alasan yg paling utama adalah, jika saya menikah, mereka takut saya tidak bisa membantu perekonomian keluarga lg, mengingat ayah saya yg kondisinya mash belum sembuh betul. Tapi saya sungguh ingin menikah. Saya sempat berpikir, “Saya kan wanita, bukan kewajiban saya untuk terus mencari nafkah bukan?” namun saya merasa menjadi orang yg sangat jahat telah berpikiran seperti itu. Mungkin karena rasa kecewa jd saya sempat berpikiran seperti itu. Atau mungkin ini merupakan jawaban dari sholat istikhoroh yg saya lakukan? Untuk menolaknya karena alasan tersebut? Namun harus sampai kapan saya bertanggung jawab terhadap keluarga saya, jika itu memang alasannya? Ridho orang tua memng yg paling utama kan ustadz? tp saya harus bagaimana? mohon jawabannya ustadz. Terimakasih

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum salaam warahmatullah
      jika anda sudah memiliki kemampuan dan sudah terpenuhi syarat-syarat menikah dan jika dengan tidak menikah anda terjerumus kedalam perbuatan dosa maka anda sudah wajib menikah. Menurut kami dalam keadaan seperti ini menikah bagi anda harus didahulukan dari pada menjalankan amanah untuk membantu perekonomian keluarga,yang mana hal tersebut secara asal hukum adalah kewajiban orang tua anda, bukan anda, kalaupun anda membantu, itu semata-mata hanya perbuatan baik in syaa Allah, kecuali mungkin keluarga benar-benar tidak bisa jalan kehidupannya sama sekali kecuali hanya dengan hasil usaha anda, maka hal tersebut bisa lain hukumnya. Namun dari sisi lain jika dengan tidak menikah anda tidak terganggu ibadahnya dan tetap dalam keadaan bertaqwa kepada Allah Ta’ala, artinya anda tidak terjerumus dalam perbuatan dosa seperti pacaran dan segala yang menjadi washilah ke perzinahan, maka silahkan anda mengurus keluarga dahulu hingga anda benar2-benar mampu atau dianggap sudah waktunya menurut keluarga anda. Namun menurut hemat kami jika bisa dilaksanakan dua-duanya in syaa Allah bagus, anda bisa menikah sekaligus menjalankan amanah orang tua anda.sebab bisa jadi dengan menikah justru Allah Ta’ala membukakan pintu rizki bagi anda, baik rizki dari jalur suami mungkin atau dari yang lain yang tidak anda sangka-sangka, sebab pada prinsipnya menikah adalah salah satu bentuk ketaqwaan kepada Allah Ta’ala karena menjalankan perintah syariat dan demi menjaga kehormatan, dan kita ma’lumi bahwa Allah Ta’ala senantiasa akan memberikan pertolongan jalan keluar dan rizki dari arah yang tidak dia sangka bagi hambaNya yang bertaqwa. Allahua’lam semoga dimudahkan

  • novia says:

    Assalamualaikum warrahmatullah, ustadz ijin bertanya.

    Saya teringat cerita ibu saya mengenai pernikahannya dahulu dengan bapak saya. Ayah dari ibu saya (kakek saya) sudah meninggal. Namun, ibu saya masih mempunyai kakak kandung laki-laki yang sedang bekerja di luar kota (pada saat itu). Sebelum menikah, ibu saya menitipkan pesan kepada temannya kakak kandung ibu saya untuk mengatakan bahwa ibu saya akan menikah dan membutuhkan wali. Kaka kandung ibu saya tersebut tidak bisa pulang (maklum mungkin terbentur jarak dan juga pekerjaan) sehingga kakak kandung ibu saya menyerahkan perwalian kepada adiknya ayah dari ibu saya (om nya ibu saya).

    Pada saat akan menikah, ibu saya mengatakan kepada wali hakim bahwa perwalian sudah diserahkan kepada adiknya ayah ibu saya, namun wali hakim mengatakan tidak bisa (kurang lebih ibu saya bercerita seperti itu) sehingga wali hakim lah yang menikahkan ibu saya. Yang saya tanyakan apakah pernikahan ibu saya sah?

    Jika pernikahannya tidak sah apakah hukum anaknya pak ustadz? Apakah disebut anak syubhat? Lalu bagaimana perwalian menikah saya nanti? Ayah saya sudah meninggal. Orang tua ayah (kakek nenek saya) juga sudah meninggal. Ayah saya adalah anak tunggal. Apakah perwaliannya bisa ke wali hakim?

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikumus Salaam warahmatullahi wabarakaatuh
      Jadi intinya yang kami pahami dari pertanyaan anda adalah hukum menikah dengan wali paman dari jalur ibu.
      Kami dapatkan penjelasan dari Ulama’ dalam hal ini menjelaskan
      bahwaPerwalian nikah yang sah adalah dari jalur ashabah, mereka adalah kerabat laki-laki dari jalur ayah, seperti: bapak, kakek, anak, saudara laki-laki, dan paman dari jalur ayah.
      Sedangkan kerabat dari jalur ibu, mereka bukanlah sebagai ashabah, dan tidak bisa menjadi wali dalam pernikahan.
      Begitu pula Paman dari jalur ibu bukanlah sebagai ashabah, maka tidak bisa menjadi wali dalam pernikahan.
      Namun disana ada beberapa kondisi yang menjadikan perwalian paman dari jalur ibu itu sah dalam akad nikah, yaitu:
      1. Jika sebagai wakil dari wali.
      2. Jika akadnya sudah sempurna, dan sudah disahkan oleh negara Islam yang menyatakan bolehnya perwalian paman dari jalur ibu.
      Dari penjelasan tersebut in semoga pernikahan ibu anda sah karena telah terpenuhinya syarat seperti penjelasan ulama’ diatas. apalagi jika walinya juga telah menyerahkan perwalian kepada KUA, maka tidak ada yang perlu kita khawatirkan tentang hal itu Allahua’lam

      • novia says:

        Maaf pak ustadz boleh saya jelaskan sedikit lagi. Pamannya itu dari jalur ayah pak ustadz mohon maaf. Jadi pamannya itu saudara kandung ayahnya ibu.

        Kemudian kakak kandung (laki2) ibu saya menyerahkan perwalian kepada beliau. Namun menurut KUA tidak bisa, sehingga perwalian dilakukan oleh wali hakim. Begitu pak ustadz mohon maaf apabila kurang jelas.

        Lalu bagaimana pak ustadz? Apakah tidak mengapa jika perwalian oleh wali hakim? Sedangkan kakak laki2 ibu saya menyerahkan kepada paman (paman dari jalur ayah).

        • Al Lijazy says:

          Sebenarnya wali kerabat yang ditunjuk sebagai pengganti oleh wali utama itu sudah sah untuk menikahkan dan itu justru lebih utama dari wali yang bukan kerabat, saya ragu dengan kejadian yang sebenarnya apakah wali utama sempat menyerahkan perwalian tersebut kepada KUA atau belum, kalau ternyata belum, artinya KUA merampas hak perwalian dimana wali kerabat masih ada, ini masalah yang kami kawatirkan, sebab kita dapatkan keterangan dari para Ulama’ diantaranya
          Imam Al-Buhuti mengatakan,
          وإن زوج الأبعد أو زوج أجنبي ولو حاكما من غير عذر للأقرب لم يصح النكاح لعدم الولاية من العاقد عليها مع وجود مستحقها
          Jika wali yang lebih jauh menikahkannya, atau orang lain menjadi walinya, meskipun dia hakim (pejabat KUA), sementara tidak ada izin dari wali yang lebih dekat maka nikahnya tidak sah, karena (dianggap) tidak adanya perwalian ketika proses akad, sementara orang yang lebih berhak (untuk jadi wali) masih ada.” (Ar-Raudhul Murbi’, 1/10)
          Allahua’lam, silahkan ditelusuri lagi dengan seksama kejadian yang sebenarnya agar tidak menjadi sebuah keraguan yang berkepanjangan. Semoga dimudahkan.

          • Novia says:

            Saya termasuk orang yang sering waswas pak ustadz. Sebenernya masalah ini benar2 mengusik saya. Saya jadi takut bagaimana jika saya menikah nanti dengan walinya siapa. Kadang saya berpikir bahwa ayah ibu saya menikahnya tidak sah.
            Lalu saya pun bercerita kepada teman saya mengenai hal ini. Beliau mengatakan “kita tidak bisa menilai apa-apa karena tidak tau kronologis yg sesungguhnya, husnudzon saja, petugas KUA juga tidak akan menikahkan sembarangan, mereka juga insyaa Allah punya ilmunya” setelah itu keraguan saya hilang pak ustadz karena saya berpikir husnudzon saja. Ya, karena memang saya tidak tau kronologi aslinya. Wali yg ditunjuk oleh wali utama (paman ibu) telah meninggal, mungkin saja siapa tau dulu paman ibu telah menyerahkan kepada KUA karena tidak mau atau bagaimana. Apakah salah pak ustadz jika saya berfikir seperti itu? Karena yaa saya tidak tau yg sesungguhnya. Saya juga tidak bisa menilai apa-apa. Saya jadi bimbang sendiri pak ustadz. Kadang sholat saya terganggu karena saya sering waswas jika ada masalah agama, apalagi ini masalah pernikahan. Do’akan saya pak ustadz agar bisa sembuh dari semua ini.

          • Al Lijazy says:

            bismillah, kami nasehatkan anda agar jangan terpedaya oleh tiupan was-was dari syaithon. keraguan dan was-was anda itu in syaa Allah datangnya dari syaithon. tentang nasehat teman anda “kita tidak bisa menilai apa-apa karena tidak tau kronologis yg sesungguhnya, husnudzon saja, petugas KUA juga tidak akan menikahkan sembarangan, mereka juga insyaa Allah punya ilmunya” kami setuju dengan nasehat tersebut. jadi husnudzon saja pada KUA saat kejadian itu bahwa mereka melakukan yang sebagaimana mestinya dalam agama. saran kami berlindunglah selalu kepada Allah Ta’ala selalu dari tipu daya dan was-was syaithon ini. bangunkan keyakinan dalam hati serta serahkan pada Allah Ta’ala apa yang terjadi saat itu.dan sekarang sebaiknya pikirkan saja langkah anda ke depan, persiapkan segalanya agar semuanya nantinya bisa berjalan sesuai dengan syariat yang benar. semoga Allah Ta’ala menyembuhkan dan menghilangkan penyakit was-was pada hati anda dan segera menggantikannya dengan keyakinan yang benar..aamiin,Allahua’lam.

  • Naura says:

    Bismillah..
    Assalamualaikum warrahmatullah..
    Bapak saya ingin bertanya..
    Begini, saya adalah anak perempuan. Saya tidak mempunyai sodara (dalam artian saya adalah anak tunggal). Ayah saya sudah meninggal. Ayah saya juga anak tunggal, tidak mempunyai sodara kakak/adik (dalam artian saya tidak mempunyai paman). Kakek saya juga telah meninggal. Apakah sah pernikahan saya jika walinya adalah wali hakim?
    Terimakasih wassalam.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikumusSalaam warahmatullah,
      Yang perlu anda fahami disini adalah bahwa Perwalian nikah yang sah adalah dari jalur ashabah, mereka adalah kerabat laki-laki dari jalur ayah, seperti: bapak, kakek, anak, saudara laki-laki, dan paman dari jalur ayah.
      Wali hakim berperan ketika calon wanita sudah tidak memiliki wali lagi dari nasab atau kerabat,
      Dalam hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ
      “ Maka penguasa menjadi wali untuk orang yang tidak memiliki wali.” (HR. Ahmad 24205, Abu Daud 2083, Turmudzi 1021, dan yang lainnya).
      Jadi kesimpulannya jika wali nasab sudah tidak ada, maka KUA sebagai wali hakim bisa menjadi wali anda in syaa Allah. Allahua’lam

      • Naura says:

        Bagaimana jika ternyata kakek (kakek jalur ayah) saya mempunyai adik laki-laki tapi saya sudah terlanjur menikah dan walinya wali hakim. Apakah pernikahannya tetap sah? Saya kemarin2 membaca bahwa urutan wali itu ada ayah, kakek, saudara laki-laki, paman laki-laki, anak laki-laki (semuanya dari jalur ayah) dan tidak disebutkan adiknya/kakaknya kakek. Apakah tidak mengapa pak ustadz jika nikahnya oleh wali hakim sementara adik kakek saya masih ada? Apakah sah pernikahan syaa?

  • indah safitri says:

    Assalamualaikum Bapak..
    Saya mau tanya bagaimana saya menikah smentara ayah kandung saya telah bercerai dngan ibu saya sejak saya kecill..saya dibesarkan ibu saya jauh dri daerah keluarga ayah kandung saya.. dan kini saya tdak tau dmana keberadaan ayah kandug saya beserta seluruh kluarganya dan sodara2 nya,, lalu apakah boleh saya menikah dengan wali adik kandung saya sendiri?
    wassalam

    • abuhusain says:

      wa’alaykumussalaam warahmatullah,
      jika demikian keadaannya secara islam boleh menikah dengan wali adik kandung. sebelumnya tentu perlu dijelaskan kepada pihak KUA perihal keadaan keluarga tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *