Hukum Jual Beli Dropship

August 24, 2015

Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu’alaikum,
Ustadz, bagaimana hukumnya transaksi jual beli dengan sistem dropship?
Metodenya adalah seseorang tidak mempunyai barang. Kemudian menghubungi pemilik barang untuk selanjutnya akan dijualkan. Si penjual bisa menjual baramg dengan harga yang ditetapkan oleh pemilik barang atau dengan harga sendiri yang dilebihkan dan ini sudah diridhoi oleh pemilik barang.
Akan tetapi, yang bisa menjualkan barang si pemilik barang didata terlebih dahulu dan ada sistem gugur bila dalam 1 bulan tidak mampu menjual lebih dari 10 barang.
Sistem transaksi ini gambarannya adalah sebagai berikut :
Penjual (tidak memiliki barang) mencari pembeli. Kemudian ada pembeli yang tertarik dari foto atau promosi (dalam gal ini adalah pemasaran online). Kemudian si penjual ini menyuruh si pembeli untuk mentransfer sejumlah uang yang sudah ditetapkan ke penjual. Setelah dibayar, kemudian penjual menghibungi si pemilik barang utk mempersiapkan barang yang akan dibeli oleh pembeli. Kemudian penjual membayar sejumlah iang yg telah dikurangi keuntungan dia. Barang yang dikirimkan dikirim atas nama penjual, tp bs juga dikirim atas nama pemilik barang.
Apakah hal tersebut termasuk larangan dalam hadits menjual barang yang bukan miliknya?
Atas Jawabannya ana haturkan Jazakumullahu khairan katsiron.

Dijawab oleh Al Ustadz Abu Usamah Yahya Al Lijaziy
Bismillah,
Wa’alaikum Salaam warahmatullah,

Pada prinsipnya segala macam bentuk jual beli tidaklah diharamkan kecuali ada pelanggaran-pelanggaran syari’at didalamnya. Dan syari’at yang agung ini sudah mengatur beberapa kaidah dalam jual beli, yang apabila dilanggar salah satu darinya maka jual beli tersebut jadi dilarang.
Melihat system dropship yang anda ceritakan ada hal-hal yang menjadi ganjalan bagi kami. Diantaranya :

Pertama : Anda telah menjual yang belum anda miliki.
Terbukti dengan anda meminta pembayaran terlebih dahulu dari pembeli, baru setelah uang sudah terkirim, anda baru bertransaksi/ membeli dari supplier (pemilik barang sesungguhnya).
Berarti disini ada pelanggaran syariat, seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Hakim bin Hizam radhiallahu ‘anhu, ia berkata:
فَقُلْتُ : يَأْتِينِي الرَّجُلُ يَسْأَلُنِي مِنْ الْبَيْعِ مَا لَيْسَ عِنْدِي ، أَبْتَاعُ لَهُ مِنْ السُّوقِ ثُمَّ أَبِيعُهُ ؟ قَالَ : (لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ(
“Wahai Rasulullah, seseorang datang kepadaku untuk membeli suatu barang, kebetulan barang tersebut sedang tidak kumiliki, (bolehkan setelah dia membeli) aku akan beli untuknya di pasar lalu aku jual kepadanya, Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
“Jangan engkau jual barang yang belum engkau miliki!” (HR. Abu Daud 3503, an nasa’iy 4613 dan selainnya. Hadis ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam irwa’ 1292).

Kedua : Yang kita lihat didalam transaksi tersebut ada celah riba, yaitu dalam menjual kembali barang yang telah Anda beli namun secara fisik belum sepenuhnya Anda terima dari penjual.
Pada kedua kondisi tersebut Anda belum dibenarkan menjual kembali barang yang telah Anda beli. Selain karena barang yang anda beli belum berpindah tempat ke anda juga mengingat pada kondisi tersebut masih menyisakan celah terjadinya praktik riba.
Dalil tentang larangan ini adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ C: أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ r قَالَ: مَنِ ابْتَاعَ طَعَاماً فَلَا يَبِعْهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ. (البخاري: 2126، ومسلم: 1526). وفي لفط (لمسلم: 1526): حَتَّى يَقْبِضَهُ. وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ… مثله (مسلم: 1525).
Dari Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membeli makanan, janganlah ia menjualnya hingga ia mengambil makanan itu seluruhnya.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari: 2126, dan Muslim: 1526). Dan pada riwayat Muslim no. 1526 digunakan lafaz: “Hingga makanan itu berada di tangannya.” Dan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas menggunakan lafaz yang semisal. (Muslim: 1525)

ketiga : Kejujuran dalam transaksi seperti ini mungkin agak diragukan.
Misalkan tidak menutup kemungkinan para penjual seperti anda ini banyak yang mengaku sderopshipebagai pemiliki barang sebenarnya atau sebagai distributor/ agen dan semisalnya. Padahal kenyataannya tidak demikian. Mungkin karena bahasa iklan yang anda gunakan seolah-olah menunjukkan anda sebagai pemilik barang sehingga konsumen menduga ia mendapatkan barang dengan harga murah dari distributor langsung dan terbebas dari praktek percaloan. Padahal kenyataannya tidak demikian. Mungkin juga jika pembeli tahu bahwa dia sedang bertransaksi dengan para penjual seperti anda ini, bisa jadi mereka mengurungkan niatnya untuk membeli.

Jadi sebagai nasehat buat kami dan anda bahwa berharap mendapat keuntungan dari perniagaan itu sah-sah saja bahkan merupakan salah satu yang kita harapkan, namun bukan berarti kita menghalalkan segala cara termasuk berkata dusta. Kejujuran sangat menentukan rizki yang barokah bagi kita dan keluarga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa kesempatan menekankan pentingnya arti kejujuran dalam perniagaan, di antaranya adalah hadits Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu yang berbunyi,
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا أَوْ قَالَ حَتَّى يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jual-beli itu dengan khiyar (hak pilih) selama belum berpisah–atau (beliau) menyatakan, ‘hingga keduanya berpisah.’ Apabila keduanya jujur dan menjelaskan (keadaan barangnya), maka berkah akan diberikan dalam jual-belinya, dan jika keduanya menyembunyikan (aib) dan berdusta maka berkah dihapus dalam jual-belinya.“ (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Demikian juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam dengan ancaman berat bagi orang yang berdusta dalam muamalahnya, dalam sabdanya,
ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَ مِرَارًا قَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ
“Ada tiga orang yang tidak diajak bicara dan tidak dilihat oleh Allah di hari kiamat, serta yang tidak disucikan dan yang mendapat adzab yang pedih. Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya tiga kali. Abu Dzar bertanya, ‘Mereka telah rugi dan menyesal. Siapakah mereka wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Orang yang berpakaian melebihi mata kaki (al-musbil), orang yang mengungkit pemberiannya (al-mannan), dan orang yang menutupi barang dagangannya dengan sumpah dan dusta.’ ” (HR. Muslim 1/71/306)
Allahua’lam, semoga bermanfa’at.

40 Comments

  • Abu Tamara says:

    Bismillah,,ana mau tanya pak ustazd,,”Bagaimana dng jual beli sistem salesman,,?contoh,,barang dari pabrik harga rp.5000,,selanjutnya sy diijinkan untuk menjual ke agen/toko toko dengan mengambil keuntungan sendiri,,dng sistem pembayaran cash tempo dng jangka waktu 1 bln lunas,,setelah penagian uang disetor ke pabrik,,lsng dipotong keuntungan boleh atau ditransfer total tagihan dulu baru keuntungan ditransfer balik ke saya pak ustazd,,,Bagaimana dng sistem seperti ini pak ustaz,,apakah ada yg melanggar syariat pak ustazd,,,mohon penjelasan,,Barakallahufiikum wabJazakumullahu Khairan Kastiran

    • Al Lijazy says:

      Bismillah jual beli dengan system yang anda sebutkan itu , in syaa Allah tidak ada masalah. System itu mirip wakalah dari pemilik barang. Jadi anda termasuk wakil dari pemilik barang untuk menjualkan barangnya.Allahua’lam

  • Nasruddin says:

    Bismillah,,melanjutkan pertanyaan tentang dropship,
    “Bagaimana jika kita membayar sejumlah uang ke supplier barang sebagai jaminan bahwa kita bisa membeli beberapa barang senilai dengan uang tersebut, namun barang masih di supplier tersebut. Ketika ada yang butuh (pembeli) menghubungi saya, dan saya minta supplier tersebut mengirimkan barang ke alamat pembeli tersebut. Jadi, barang tidak sampai di tempat saya terlebih dahulu (langsung ke pembeli lewat supplier), namun uang pembeli masuk ke saya”
    Apakah jual beli seperti ini dihalalkan ?
    Barokallahu fiikum wa Jazakumullohu Khoiron Katsiron.

    • Al Lijazy says:

      bismillsh, pernyataan anda dalam pertanyaan ” . Jadi, barang tidak sampai di tempat saya terlebih dahulu (langsung ke pembeli lewat supplier),” cukup menjadi alasan tidak bolehnya jual beli tersebut. silahkan anda baca lagi artikel kami tentang dropship tentang dalil dari larangan tersebut. allahua’lam

  • abu husna says:

    bismilah,ustad ana mempunyai masalah dengan mobil yang sekarang ana miliki,begini ceritanya awalnya ana ingin membeli mobil bekas sesuai kemampuan tapi atas dorongan orang tua, adik ana membelikan mobil baru atas nama dia dengan uang yg ana titipkan sebesar Rp.25jt, kemudian kekurangannya ana yang mencicil setiap bulan (mobil dibeli dengan lysing)padahal ana sudah bilang jangan pakai lysing atau kredit dalam bentuk apapun kodaruloh selang berapa bulan adik ana meninggal sementara mobil telah diasuransikan sehingga ana hanya membayar 1/2 dari harga mobil tersebut. pertanyaanya bagaimana status mobil tersebut, apa hukumnya dan bagaimana cara ana membersihkan harta dari riba, atas jawabanya ana sampaikan jazakumullohu khoiron

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, yang menjadi sorotan kami dari pertanyaan anda diatas adalah bahwa pembelian mobil tersebut dengan cara kredit melalui leasing. Yang perlu kita ketahui dahulu disini adalah hukum jual beli kredit melalui leasing.
      Para ahli ilmu sudah membahas dengan panjang lebar tentang jual beli kredit melalui leasing. Dan mereka memasukkan jual beli ini kedalam bentuk jual beli yang di Haramkan Syari’at.
      Pada asalnya jual beli kredit itu dibolehkan Syari’at asal tidak terdapat unsur-unsur yang menjadi sebab diharamkannya. Sedangkan dalam jual beli kredit leasing ini terdapat unsur-unsur yang menjadikan jual beli tersebut jadi HARAM berdasarkan dalil-dalil Syar’i, diantaranya:
      Pertama, dalam leasing terdapat penggabungan dua akad, yaitu sewa menyewa dan jual beli, menjadi satu akad (akad leasing). Berdasarkan yang kita tahu bahwa Financial lease merupakan bentuk sewa dengan kepemilikan barang tersebut berpindah dari pihak pemberi sewa kepada penyewa. Bila dalam masa akhir sewa pihak penyewa tidak dapat melunasi sewanya, barang tersebut tetap merupakan milik pemberi sewa (perusahaan leasing). Akadnya dianggap sebagai akad sewa. Sedangkan bila pada masa akhir sewa pihak penyewa dapat melunasi cicilannya, maka barang tersebut menjadi milik penyewa. Dalam financial lease terdapat dua proses akad sekaligus: sewa sekaligus beli. Inilah sebabnya leasing bentuk ini disebut sebagai “sewa-beli”.
      Padahal hukum syari’at telah melarang penggabungan akad menjadi satu akad.
      نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَفْقَتَيْنِ فِي صَفْقَةٍ
      Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dua kesepakatan dalam satu kesepakatan (HR. Ahmad, Al Musnad, I/398).
      Kedua, dalam akad leasing biasanya terdapat bunga. Maka harga sewa yang dibayar per bulan oleh pencicil bisa jadi dengan jumlah tetap (tanpa bunga), namun bisa jadi harga sewanya berubah-ubah sesuai dengan suku bunga pinjaman. Atau apabila pencicil telat membayar cicilan maka dikenakan denda yang pada hakikatnya bunga. Maka leasing dengan bunga seperti ini hukumnya haram, karena bunga termasuk riba:
      الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
      Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS Al Baqarah [2] : 275)
      Ketiga, dalam akad leasing terjadi akad jaminan yang tidak sah, yaitu menjaminkan barang yang sedang menjadi obyek jual beli. Imam Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah berkata, “Tidak boleh jual beli dengan syarat menjaminkan barang yang dibeli.: (Al Fatawa al Fiqhiyah al Kubra, 2/287). Imam Ibnu Hazm berkata, ” Tidak boleh menjual suatu barang dengan syarat menjadikan barang itu sebagai jaminan atas harganya. Kalau jual beli sudah terlanjur terjadi, harus dibatalkan.” (Al Muhalla, 3/437).
      Keempat, terlarangnya menjual barang yang belum selesai diserahterimakan. .Maksudnya,yang biasa terjadi ketika pihak lessor membeli motor dari dealer, barang itu belum diserahkan/berpindah tempat dari dealer ke lessor, tetapi langsung dijual kembali kepada lessee (pembeli). Cara seperti ini di haramkan Syari’at berdasarkan dalil
      Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ
      “Barangsiapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai menerimanya.”
      Larangan menjual barang yang belum selesai diserahterimakan ini berlaku bagi bahan makanan dan barang lainnya. Oleh sebab itu, barang yang sudah dibeli harus berpindah tempat terlebih dahulu ke tempat pembeli sebelum dijual kembali kepada pihak lain.
      Ibnu ‘Umar juga mengatakan,
      كُنَّا فِى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَبْتَاعُ الطَّعَامَ فَيَبْعَثُ عَلَيْنَا مَنْ يَأْمُرُنَا بِانْتِقَالِهِ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِى ابْتَعْنَاهُ فِيهِ إِلَى مَكَانٍ سِوَاهُ قَبْلَ أَنْ نَبِيعَهُ.
      “Kami dahulu di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli bahan makanan. Lalu seseorang diutus pada kami. Dia disuruh untuk memerintahkan kami agar memindahkan bahan makanan yang sudah dibeli tadi ke tempat yang lain, sebelum kami menjualnya kembali.” (HR. Bukhari 2136 dan Muslim 1525).
      Ibnu ‘Abbas mengatakan,
      وَأَحْسِبُ كُلَّ شَىْءٍ مِثْلَهُ
      “Aku berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya sama dengan bahan makanan. (HR. Bukhari no. 2136 dan Muslim no. 1525)
      Jadi status pembelian mobil tersebut adalah HARAM berdasarkan dalil-dalil diatas.namun hutang cicilan anda harus tetap dibayar, karena itu suatu kewajiban meskipun perniagaan riba adalah bentuk perniagaan yang terlaknat. Maka itu harus diringi dengan taubat dengan sungguh-sungguh dan istighfar kepada Allah Ta’ala. Allahua’lam bish shawwab. Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa kita semua. Aamiin.

  • ummu abirrahman says:

    afwan ustadz, mau tanya mengenai dropshipper tadi.
    saya menjadi member sebuah produk karena saya membeli produk itu untuk keperluan saya dengan harga murah (harga member) ditambah biaya untuk menjadi member 20 ribu, dengan biaya tambahan ini harga produk yang saya beli tetap lebih murah atau bisa sama dengan harga pasar.
    selanjutnya jika saya membeli produk itu lagi maka saya akan mendapat harga yang murah (harga member).
    bolehkah yang seperti ini ustadz?

    lalu karena sudah jadi member saya juga berhak menjadi agen/menjualkan produk tersebut kepada pihak lain.
    lalu sebagai agen apakah kita boleh menawarkan produk tersebut kepada pihak lain tanpa kita memiliki produk tersebut terlebih dahulu lalu pembeli membayar ke kita, kita pesan dan bayar ke pabrik, pabrik langsung mengirim ke pembeli. semua proses ini diketahui pabrik maupun pembeli. apakah hal seperti ini boleh ?
    jika boleh maka bagaimana cara kita mengambil keuntungan harga produk ?
    jika tidak boleh maka bagaimana solusi nya, mohon dicontohkan ustadz karena maaf kekurangan saya memahami artikel bagian solusinya.
    jazakallahu khoiron ustadz

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,jika anda telah ditunjuk oleh pabrik sebagai agen pabrik tersebut ini artinya anda berlaku juga sebagai bagian dari pabrik tersebut, maka transaksai yang anda lakukan tersebut in syaa Allah tidak ada masalah. Sebab inilah yang disebut wakalah, anda sebagai wakil dari pabrik untuk menjualkan produknya. Allahua’lam

      • ummu abirrahman says:

        jadi kalau sudah jadi agen boleh ya ustadz kita menawarkan produk tanpa kita miliki/stok produk tersebut ?
        keuntungannya langsung memotong dari harga jual kita dikurangi harga jual dari pabrik (karena itu perjanjian dengan pabriknya) ?

        jazakallahu khoiron sebelumnya ustadz

  • abu yanaaz says:

    Ustadz, ana mau menanyakan untuk memperdalam lagi:
    1. Ana sebagai produsen, ada orang (fulan A) yang pesen barang untuk dikirim ke orang lain (fulan B). Apakah ana juga terkena hukum dropshipping tadi ustadz? Dan bagaimana solusi untuk ana sebagai produsen? Apakah ana terkena kewajiban untuk menanyakan ke setiap pembeli yang mengirimkan ke orang lain bahwa dia dropshipping atau sekedar membeli barang untuk hadiah ke orang lain?
    2. Untuk masalah penjualan sebelum berpindah barang (misalnya seperti kasus nomor 1 tapi fulan A menjual barang ke fulan B, ana yang mengirim), apakah boleh jika ana menyediakan orang di rumah ana/karyawan ana (fulan C) sebagai wakil dari penjual (fulan A)? Mungkin ada fee dari fulan A ke fulan C. Jadi ana menyerahkan barang ke fulan C sebagai wakil dari fulan A. Lalu fulan C mengirimkan barang ke fulan B? Jika boleh, apakah harus ada perjanjian antara fulan A dan fulan C. Dan apakah ana boleh mengusulkan ke semua pembeli yang akan mengirimkan ke orang lain, untuk menggunakan jasa A sebagai wakil mereka?
    Syukran Ustadz

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,sekilas kami baca pertanyaan anda, fulan C dalam hal ini tidak bisa merubah keadaan. Solusinya in syaa Allah sementara ini yang terlintas dibenak kami yang aman mungkin anda harus menanyakan ke setiap pembeli jika pengiriman barang selain ke alamat pembeli,bahwa barang ini untuk dijual lagi atau untuk yang lain. Kalau untuk dijual lagi maka kami (produsen) harus ngirim ke alamat anda (pembeli), kalo nggak mau terpaksa transaksi kami batalkan. Sebab kami transaksinya kami dengan anda sebagai pembeli kami, bukan dengan pembeli anda. Sementara itu yang kami pandang sebagai solusi, sambil kita pikirkan lagi nantinya barangkali ada solusi ang lebih mudah. Allahua’lam

  • abu yanaaz says:

    Syukran. Jazakallah ustadz..

  • Anis says:

    Assalamualaikum ustadz,
    Saya mau menanyakan masih seputar dropship,
    Saya penjual yg membeli online pada pemilik barang,
    Ketika pembeli ingin membeli barang dan sy langsung pesan ke pemilik dan saya langsung bayar ke pemilik.
    Setelah itu sy minta ke pemilik supaya barang dikirim ke alamat pembeli.
    Kemudian setelah barang sedang dlm perjalanan si pembeli membayar kpd sy penjual.
    Kebetulan saya menjual sepatu sepatu dan bnyak model dan size,jd sy hanya punya stock 1 etalase saja dan bnyak ukuran dan model tidak ada jd sy langsung pesan ke pemilik.
    Itu bagaimana ustadz.

    • Al Lijazy says:

      bismillah, wa’alaikum salaam warahmatullah,jika bentuknya seperti anda ceritakan, maka seperti itulah bentuk jual beli yang dilarang. sebab anda menjual kembali barang yang anda beli sebelum barang tersebut anda terima terlebih dahulu.dalilnya jelas, dan bisa anda baca kembali di artikel kami tentang jual beli dropship. Allahua’lam

  • WARTI says:

    Assalamua’alaikum. Ustadz. Ane mau nanya. Misalny kita sbgi dropshipper telah membuat perjanjian dgn produsen barang bahwa utk menjadi reseller barangnya kita diminta utk membayar sejumlah uang sebagai jaminan saja sesuai harga brg yg kita pesan. Setelah uang jaminan kita setor bru pihak produsen mengirimkan barangny ke reseller yg kemudian dijual dgn harga lebih mahal utk mendpt untung. Kita diberikan waktu 3 minggu utk menjual brg tsb jika tdk laku dlm tempo itu, uang reseller dikembalikan lagi oleh produsen sesuai harga brg yg blum laku tdi. Apakah smcam ini dibolehkan mengingat produsen dan reseller menyetujui cara spt itu. Jazakallah ustadz

    • Al Lijazy says:

      bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah, terus terang kami masih belum bisa memahami tujuan uang jaminan tadi, fungsinya untuk apa? yang kami belum faham kapan semestinya uang jaminan itu dikembalikan ke reseller, kalau memang uang itu buat jaminan barang, kenapa seperti yang anda sebutkan jika barang dalam 3 minggu belum laku maka uang jaminan tersebut dikembalikan, sedangkan yang kami fahami barang dagangan masih ditangan reseller tapi uang jaminan sudah dikembalikan. lalu sebenarnya apa fungsi uang jaminan tersebut?dan dia dikembalikan utuh atau ada potongan?

  • Lia says:

    Ustd saya mmbeli prodak promo lalu saya jual kmbali kpd konsumen, dgn harga normal . bolehkah ?

    Syukron

  • khansa says:

    Bismillah..afwan ustad ana mau tanya..misalkn ana promosikan brg dr teman dgn hrg yg sdh ditentukan olh tman td..klu ada yg brminat ana suruh trnsfer k no.rek tman ana..trs barangnya dikirim k pembeli atas nama..dr stiap brg yg laku ana mendapat komisi..pertanyaan ana apakah jual beli yg ana lakukan ini sdh benar

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,selama anda hanya pada possisi mempromosikan aja, dan pembeli tidak melakukan proses transaksi dengan anda,baik dari proses khiyar hingga sepakat harga,tapi proses transaksi hingga pembayaran tetap dengan pemilik barang, maka anda in syaa Allah anda tidak terkena larangan didalamnya, sebab anda disini mirip pada posisi ‘amil (pekerja). Namun jika proses transaksinya hingga deal dengan anda,Cuma transfernya aja anda arahkan ke pemilik barang maka ini yang salah, anda tetap menjual barang yang bukan milik anda.kecuali anda sudah ditunjuk sebagai wakil dari pemilik barang maka ini tidak masalah,sebab sudah masuk bab wakalah,Allahua’lam semoga bisa difahami.

  • khansa says:

    afwan ustd ana mau tanya..mislkan ana mmpromosikan brg tman (tdk ana miliki) trs ada yg ingin mmbeli..stlh ana suruh transfer k no.rek yg ana kasih (rek.tman yg punya brg)..dr penjualan itu ana dpt komisi dr yg punya brg..pertnyaannya, apakah jual beli yg ana lakukan ini sdh benar ustad?

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,selama anda hanya pada possisi mempromosikan aja, dan pembeli tidak melakukan proses transaksi dengan anda,baik dari proses khiyar hingga sepakat harga,tapi proses transaksi hingga pembayaran tetap dengan pemilik barang, maka anda in syaa Allah anda tidak terkena larangan didalamnya, sebab anda disini mirip pada posisi ‘amil (pekerja). Namun jika proses transaksinya hingga deal dengan anda,Cuma transfernya aja anda arahkan ke pemilik barang maka ini yang salah, anda tetap menjual barang yang bukan milik anda. kecuali anda sudah ditunjuk sebagai wakil dari pemilik barang maka ini tidak masalah,sebab sudah masuk bab wakalah. Allahua’lam,semoga bisa difahami.

  • agnitronik says:

    afwan ustd ana mau tanya…ane punya usaha jual beli HP/laptop Credit (plus jasa instalasi software dan pengurusan Garansi selama 1th)tanpa denda jika terlambat bayar. Prinsipnya calon pembeli tanya harga ke ana ttg HP tertentu dan setelah pembeli menyatakan pesan, ane baru mencarikan barang (Pembeli tahu kalo barang sy datangkan dari luarkota) .stlh barang saya terima,kadang saya coba dulu atau install software sesuai pesanan ato saya kirim dengan kondisi segel sesuai pesanan.Kmdn HP saya serah terimakan ke Pembeli.jika pembeli menerima barang tsb maka pembeli membayar angsuran pertama,jika pembeli tidak puas maka saya harus memperbaiki ato mengganti barang yang lain ato transaksi dibatalkan sesuai permintaan pembeli…spt ini bagaimana ustad? kalo masih diharamkan apa ada solusi nya ustad?

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, selama anda tidak menentukan harga sebelum barang dagangan anda miliki secara sempurna maka in syaa Allah boleh.jadi anda harus menentukan harga jual kepada calon pembeli anda setelah anda memiliki barang dagangan yang akan anda jual dengan kepemilikan sempurna. Allahua’lam

      • agnitronik says:

        afwan ustad, beberapa pembeli sudah tanya dulu harga sebelum pesan dan sebelum barang tersedia, walaupun nanti akadnya pas serah terima barang, dan sebelum akad (serah terima barang dan uang) pembeli masih bisa menawar atopun membatalkan karena belum kita anggap deal akad.

  • Hidayat says:

    Uztad ana ingin tanya, bagaimana orang yang berkerja mengantarkan barang kepada si pembeli, namun si pembeli ini membeli barangnya melalui online intinya si pekerja ini bekerja pada lembaga pendistributor pesanan online.??

  • dea says:

    Afwan ustadz, mau tanya.

    1. Bagaimana jika sipenjual sudah ijin ke suplier utk memajang dagangannya. Dan suplier pun sudah mengijinkan.
    si penjual juga menetapkan harga jual sekian & sekian sebelum memiliki barangnya. Jika ada berminat, si penjual langsung membelikan barangnya ke suplier. setelah barangnya sampai ketangan penjual barulah pembeli me transfer uangnya.

    Apakah yng seperti ini juga dikategorikan “Menjual barang yang bukan miliknya?”

    2. Si penjual ijin ke produsen utk menjualkan barangnya. Dan sesuai kesepakatan, produsen akan memberi imbalan sekian jika berhasil menjualkan produknya sekian. Jika tidak memenuhi target maka tidak akan mendapatkan imbalan/fee. Tapi produsen mengijinkan penjual utk menjual produknya dengan harga berapapun yg ia mau.

    Yang jadi pertanyaan, bolehkan penjual yg sudah mendapatkan ijin dari produsen tersebut MENETAPKAN HARGA JUAL sendiri? Halalkah jual beli seperti itu?

    Sukron atas Jawabannya ustadz

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Pertama. Kalau bentuknya masih seperti itu iya, berarti anda menjual barang yang belum anda miliki. Sebab anda sudah melakukan kesepakatan harga dan transaksi jual beli sebelum anda memiliki barang dagangannya.Saran kami sebaiknya anda mendaftar sebagai agen atau free line dari suplier tersebut untuk menghilangkan kendala ini. Jadinya anda nantinya satu badan dengan suplier tersebut.
      Kedua. Jika anda sudah ditunjuk sebagai wakil dari produsen tersebut untuk memasarkan barangnya, maka in syaa Allah halal bagi anda. Allahua’lam

  • Arul says:

    Assalamu’alaikum ustadz, ada beberapa hal yg ingin saya tanyakan. Mohon maaf jika pertanyaan ini berulang karna pemahaman saya yg masih sangat rendah thdp jual beli.

    1. Bagaimana hukum marketplace ustadz karna saya termasuk salahsatu pengguna baik sbg penjual dan pembeli?
    (Sistem marketplace kurang lebih, saya jual barang dagangan, pembeli tertarik barang dagangan saya lalu mentransfer sejumlah uang sesuai harga barang dagangan saya ke rekening marketplace tsb yg biasa disebut rekening bersama dgn alasan jaminan keamanan, lalu ketika uang sdh di trf ke rekber marketplace akan memberi notif ke saya untuk mengirim barang ke pembeli, ketika barang sdh saya kirim lalu sampai ke pembeli maka pembeli akan mengkonfirmasi ke marketplace bahwa barang sdh diterima,terakhir marketplace baru akan mencairkan uang saya ketika barang diterima)

    2. Yang saya sdg jalani saat ini, saya tdk punya barang,saya menjual barang milik orang lain(supplier) di akun marketplace saya,ketika pembeli tertarik dan membeli maka terjadilaj transaksi diatas. Namun,saya merasa terganjal disini, karna saya telah menjual barang yg blm ada pada saya. Saya menjual barang supplier dgn sebelumnya saya minta izin kpd supplier tsb. Jadi,ketika ada pembeli,saya dgn uang saya beli barang ke suplier tanpa saya pegang barangnya hnya foto saja dan saya minta dikirimkan langsung ke pembeli saya,apalah saya terkena hadist diatas? Ohya ustadz Dgn keyakinan saya, misal supplier jual barang 199.000 saya naikkan menjadi 299.000(sesuai spekulasi saya) karna saya yakin sy bs service lebih apa itu boleh karna sy tdk blng ke suplier bahwa sy up harga?

    3. Jika saya sdh lakukan transaksi haram, bagaimana status keuntungan yg saya dapatkan ustadz apakah boleh saya pergunakan keuntugan tsb untuk modal dagang lagi? Dengan terlebih dahulu sy bertaubat kpd Allah.

    Mohon penjlasannya ustad karna sy tdj ingin terlalu dalam terjun kedalam dosa.
    Semoga Allah selalu menjaga ustadz dan keluarga.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah, aamiin.. syukron atas do’anya semoga anda juga demikian in syaa Allah. Adapun tanggapan kami untuk pertanyaan anda
      Pertama : tentang jasa rekber marketplace, jika pembeli transaksi hingga dealnya langsung dengan anda sebagai pemilik barang dengan terpenuhinya syarat-syaratnya, misalnya tidak ada riba dan gharar, barang spesifikasinya jelas dan tidak ada yang tersembunyi,selain itu juga anda telah memiliki barang tersebut sebelum anda tawarkan maka in syaa Allah tidak ada masalah dengan jual beli tersebut. Marketplace disini tidak ada sangkutpautnya secara langsung dengan transaksi anda melainkan dia hanya sebagai pihak ketiga yang berfungsi sebagai jasa penitipan uang sebagai jaminan keamanan selama transaksi. Jadi in syaa allah gak masalah. Allahua’lam
      Kedua : dalam hal ini anda terkena dua dalil larangan, pertama tentang menjual apa yang belum anda miliki, yang kedua menjual kembali barang yang belum anda pegang (setelah anda beli), dalil detail bisa anda lihat lagi artikel kami jual beli dropship.
      Solusinya sebaiknya anda melamar ke suplier tersebut sebagai wakilnya, atau sales freeline sehingga dengan begitu nantinya anda disitu juga berlaku sebagai suplier itu sendiri.( sebagai keluarga besar perusahaan suplier tersebut).
      Ketiga : untuk penghasilan yang haram jauhkan penggunaannya untuk kebutuhan makan keluarga. Sebab daging yang tumbuh dengan sebab harta haram maka neraka lebih berhak atasnya. Jika sudah terlanjur mendapat harta haram maka gunakan harta tersebut untuk kepentingan umum selain kepentingan ibadah. Misalkan untuk pembuatan wc umum, jalan umum dan sebagainya. Allahua’lam bish shawwab,semoga Allah Ta’ala memudahkan anda. Baarokallahu fiikum

      • Arul says:

        Assalamu’alaikum ustadz, syukron untuk penjelasan dan do’anya…
        Mohon maaf ustadz bukan bermaksud menyanggah atau mendebat atau tidak mau dengar tp saya semata2 hanya ingin lebih berhati2 dalam jual beli yg diatur syari’at.

        Begini ustadz,katakanlah saya sdh ngobrol dgn pemilik barang bahwa saya mau jual barang dia,hanya dgn fotonya saja,tp saya tetap tdk pegang barangnya alias masih sistem dropship
        Hanya ada kesepakatan saja di awal,bahwa saya mau menjual lagi dengan harga yg saya tentukan sendiri(biasaya sy up harga tanpa persetujuan suplier karna akad saya hanya sebatas dia menjual barang saya beli dgn harga dia,bukan saya menjual sesuai persetujuan dia)
        Jadi,ada pembeli di toko saya,maka saya blng kpd suplier bahwa sy mau beli brg ini,ini uangnya sy trf,tolong kirimkan kepada si fulan (tanpa saya pegang dulu barangnya) karna urgent/jarak/waktu.
        Jadi barang tsb harus benar2 saya terima/pegang dulu baru saya bisa jual lagi atau bagaimana ustadz?

        Apakah tetap terkena larangan?
        Jazakallah..

  • Arul says:

    Jadi ustadz maksud saya,apa kalau saya sdh melamar kesana mau menjual lagi dgn cara saya dan terjadi kesepakatan secara lisan/tulisan.
    Masih boleh saya menjual barang kpd orang lain(barang yg belum saya punya karna masih ada di supplier atau sy belum beli)stelah saya beli (karna ada yg mau barang tsb) lalu langsung sy kirim ke orang yg mau beli dagangan saya tanpa ke tangan saya dulu?

    Terimkasih ustadz,mohon maaf banyak tanya. Semoga semua jawaban yg ustadz beri menjadi catatan amal kebaikan..

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, tentunya jika anda sudah melamar ke supliernya dan diterima menjadi karyawan (salesman) dari suplier tersebut meskipun hanya sebagai free line maka anda disini secara tidak langsung sudah dihukumi sebagai pemilik barang, karena suplier sudah mewakilkan penjualan barang dagangannya kepada anda. Jadi setelah itu anda boleh menawarkan barang dagangan tersebut meski hanya menggunakan media penunjang promosi dari sipliernya. jika ada yang order anda tinggal hub suplier tersebut untuk dellivery order. In syaa Allah jika seperti ini keadaannya jual beli tersebut sah. Allahua’lam

  • Annisa says:

    Assalamu’alaikum
    Ustadz mau tanya semisal saya berjualan produk, saya tdk memiliki stok tetap tp saya jual pakai foto produk milik orang lain. Jadi barang saya posisinya disediakan stlh ada pemesanan. Soal kualitas sama tadz, cuma krn saya ga punya stok saja saya jd pake foto punya orang. Itu gimana ustadz boleh ga?

  • bundi says:

    Ust. Bagaimana jika penjualan nya dg sist. Po (pre order). Kebetulan sy jual karpet dan keranjang yg ready stocknya tdk banyak. Shg jika ada pesanan baru saya pesankan ke pengrajin sbg produsen. Tapi brg yng sama dg yg saya pesankan sy juga sdh ada, hanya dlm stock yg terbatas. Bagaimanakah jika sprt ini ust. Apakah diperbolehkan? Syukron atas jawabn nya tadz, smg Allah berkahi selalu. Aamiin

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, jual beli pre order itu yang kami pahami adalah jual beli sistem pesan, dan dalam islam jual beli pesan seperti ini dikenal dengan istilah jual beli salam.
      Yang mana kriteria yang harus ada dalam jual beli salam ini adalah
      1. Pembayaran dilakukan didepan (kontan di tempat akad), oleh karena itu jual beli ini dinamakan juga as-salaf.
      2. Serah terima barang ditunda sampai waktu yang telah ditentukan dalam majlis akad tersebut.[Nihâyatul Muhtâj Syarhu Minhâjit Thâlibîn, ar-Ramli. Lihat, kitab Buhûts Fiqhiyyah Fi Qadhâyâ Iqtishâdiyah al-Mu’âshirah, 1/183

      Dan hukum bai’us salam (jual beli pesan) ini diperbolehkan dalam syariat Islam. Ini berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur`ân dan sunnah serta ijma.
      a. Dalam al-Qur`ân, Allah Azza wa Jalla berfirman :
      يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ
      Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang telah ditentukan, hendaklah kamu menulisnya. [al-Baqarah/2:282].
      Sahabat yang mulia Abdullâh bin Abbâs Radhiyallahu anhu menjadikan ayat ini sebagai landasan membolehkan jual beli sistem pesan ini. Beliau Radhiyallahu anhu mengatakan, “Saya bersaksi bahwa jual-beli as-salaf (as-salam) yang terjamin hingga tempo tertentu telah dihalalkan dan diizinkan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam al-Qur’ân. (Kemudian beliau membaca firman Allâh Azza wa Jalla artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak dengan secara tunai, untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya. (Hadits ini dishahihkan al-Albâni t dalam kitab Irwâ’ul Ghalîl, no. 340 dan beliau t mengatakan, “Hadits ini dikeluarkan imam asy-Syâfi’i t no. 1314, al-Hâkim, 2/286 dan al-Baihaqi 6/18).
      Firman Allâh Azza wa Jalla diatas, yang artinya, “apabila kamu bermu’amalah tidak dengan secara tunai,” bersifat umum, artinya meliputi semua yang tidak tunai, baik pembayaran maupun penyerahan barang. Apabila yang tidak tunai adalah penyerahan barang maka itu dinamakan bai’us salam.[5]
      b. Dalam hadits Abdullâh bin Abbâs Radhiyallahu anhu diriwayatkan :
      قَدِمَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَهُمْ يُسْلِفُونَ فِى الثِّمَارِ السَّنَةَ وَالسَّنَتَيْنِ فَقَالَ : مَنْ أَسْلَفَ فِى تَمْرٍ فَلْيُسْلِفْ فِى كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ
      Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di kota Madinah, penduduk Madinah telah biasa memesan buah kurma dengan waktu satu dan dua tahun. maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa memesan kurma, maka hendaknya ia memesan dalam takaran, timbangan dan tempo yang jelas (diketahui oleh kedua belah pihak).” [Muttafaqun ‘alaih]
      c. Para Ulama telah berijmâ’ (berkonsensus) tentang kebolehan bai’us salam ini, seperti diungkapkan Ibnu al-Mundzir t dalam al-Ijma’, hlm. 93. Ibnu Qudâmah rahimahullah menguatkan penukilan ijma’ ini. Beliau rahimahullah menyatakan, “Semua ulama yag kami hafal sepakat menyatakan as-salam itu boleh.”[6]. Allahua’lam, baarokallahu fiikum.

  • ummu Habibah says:

    Bismillah..
    Ust… Saya sudah mendaftar sebagai agen produk obat obat herbal disalah satu distributor herbal.
    dgn belanja minimal 2 juta misal..
    Kemudian saya dapat kartu member, dan tercatat agen resmi.
    Pertanyaannya; bolehkah saya menjual produk herbal dengan memasang gambar produk dari website dstributor tersebut, jika ada pembeli baru saya ambilkan di distributord(karena tidak semua produk kami stok
    Syukron atas jawabn nya tadz

    • Al Lijazy says:

      bismillah, kalau anda sudah di tunjuk sebagai agen resmi sebuah perusahaan, maka tentunya anda sudah terhitung dari bagian perusahaan tersebut. maka anda juga berhak mempromosikan atau menjual produk perusahaan seperti cara perusahaan tersebut memasarkannya. Allahua’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *