Bismillah, Alhamdulillah, wa sholatu wa salam ‘ala rasulillah
Permisi Tadz, mau bertanya masalah fiqh jual beli, semoga ada waktu untuk menjawab..Jazaakallahu khairan
Soal:
1.) A ingin membeli motor seharga 20 jt , namun hanya punya uang 10jt
2.) B seorang pebisinis kreditor biasa memberikan kredit barang kepada orang dan berusaha
mengikuti aturan agama dalam berbisnis (syariah)
3.) B ingin membelikan motor tsb namun qadarullah hanya punya uang 10 jt
Bolehkah apabila si A memberikan pinjaman hutang uang ke B (akad hutang uang) sebesar 10jt, yang lalu si B mempunyai uang 20 jt dan membeli motor tersebut.
Kemudian si B setelah membeli motor, menjual lg motor tsb ke si A,(akad jual-beli) dengan harga 25jt dengan tempo cicil selama 1 tahun,
yang pada prakteknya lalu si A hanya membayar 15 jt saja dalam setahun ( karena dipotong hutang 10 jt diawal)
Pertanyaan : Apakah muamalah yang disebutkan diatas diperbolehkan, mohon penjelasannya.
Baarakallahufiikum

Dijawab oleh Ustadz Abu Usamah Yahya:

Bismillah,
1] kami khawatir hal tersebut masuk ke dalam larangan setiap pinjaman yang memiliki manfaat adalah riba. Kaidah ini dinukil kesepakatannya oleh Ibnu Hazm, Ibnu Abdil Barr dan selainnya. Allahua’lam
2] Yang kami soroti juga krediturnya. Dia membelikan barang dan mengkreditkannya setelah dapat permintaan dari pembeli. Kasus seperti ini Syeikh Ibnu Utsaimin melarangnya, seperti yang beliau jelaskan dalam Fatawa Mu’ashirah, hal. 52-53, dari Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin, beliau menjelaskan :
“ Akan tetapi kredit (angsuran) yang dikenal di kalangan orang-orang saat ini adalah termasuk dalam bentuk pengelabuan terhadap riba. Teknisnya ada beberapa cara, di antaranya :

Pertama : “ Seseorang memerlukan sebuah mobil, lalu datang kepada si pedagang yang tidak memilikinya, sembari berkata, “Sesungguhnya saya memerlukan mobil begini”. Lantas si pedagang pergi dan membelinya kemudian menjual kepadanya secara kredit dengan harga yang lebih banyak. Tidak dapat disangkal lagi, bahwa ini adalah bentuk pengelabuan tersebut, karena si pedagang mau membelinya hanya karena permintaannya dan bukan membelikan untuknya karena kasihan terhadapnya tetapi karena demi mendapatkan keuntungan tambahan, seakan dia meminjamkan harganya kepada orang secara riba (memberikan bunga, pent), padahal para ulama berkata, “Setiap pinjaman yang diembel-embeli dengan tambahan, maka ia adalah riba”. Jadi, standarisasi dalam setiap urusan adalah terletak pada tujuan-tujuannya.”

Kedua : “ Bahwa sebagian orang ada yang memerlukan rumah tetapi tidak mempunyai uang, lalu pergi ke seorang pedagang yang membelikan rumah tersebut untuknya, kemudian menjual kepadanya dengan harga yang lebih besar secara tangguh (kredit). Ini juga termasuk bentuk pengelabuan terhadap riba, sebab si pedagang ini (asalnya) tidak pernah (berhajat) menginginkan rumah tersebut, meskipun ditawarkan kepadanya dengan separuh harga dia tidak akan membelinya (karena memang tidak ada hajat untuk membelinya), akan tetapi dia membelinya hanya karena merasa ada jaminan riba bagi dirinya dengan menjualnnya kepada orang yang berhajat tersebut.”
Allahua’lam, wa fiikal barakah in syaa Allah

5 Comments

  • Muhammad Nasruddin says:

    Assalamu’alaikum ustadz,

    Bagaimana hukumnya jika harta hasil cicilan yang mengandung riba dijual,
    Lalu hasil dari penjualan tersebut dipergunakan untuk membiayai orang tua untuk beribadah haji.
    Apakah hal ini diperbolehkan ?
    Dan seharusnya bagaimana cara untuk membersihkan harta yang dari hasil cicilan mengandung riba tersebut ?
    Mohon penjelasan nya.

    Barokallohu fiikum ustadz,
    Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

  • widiastuti says:

    bismillah, afwan ustd ana mau tanya
    apa hukumnya menerima jasa pelayanan kesehatan dadi BPJS?
    di puskesmas, kami melayani semua pasien baik yg BPJS maupun non BPJS, dalam aturan permenkes tenaga kesehatan mendapat jasa pelayanan dari BPJS, apakah uang tersebut halal? jazakumullohu khoeron atas jawabannya

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, kalau itu memang aturan dari pemerintah maka diterima saja gk masalah. cuma yang perlu kita garis bawahi disini hukum BPJS itu sendiri bagaimana dalam islam? yang saya tau ada sebagian ahli ilmu dari sebagian asatidzah kita yang telah meneliti dan membahasnya hasilnya in syaa Allah BPJS tidak dibenarkan syara’ dengan alasan intinya ada unsur qimar (taruhan)/ gambling. Allahua’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *