Assalaamu’alaikum
Saya mau tanya :
1. Apakah jika kita berdzikir ba’da sholat subuh dan magrib bisa diniatkan juga untuk dzikir pagi dan petang dikarenakan ada beberapa dzikir yang sama seperti membaca ayat kursi, Al Ikhlas, Al falaq, Annas 3x ?
2. Apakah ada dalilnya membaca dzikir laailahaillallahu sebanyak bilangan tertentu ba’da sholat fardhu seperti yang sering di praktekkan banyak kaum muslimin di Indonesia?
Syukron (Alif Ihsan)

Dijawab oleh Ustadz Abu Usamah Yahya:

Bismillah, Wa’alaykumussalaam warahmatullah,

1] In syaa Allah boleh dengan beberapa alasan, diantaranya :
Pertama : Pendapat yang kuat memang dzikir pagi itu dimulai ba’da shubuh hingga zawal (matahari tergelincir ke barat). Pendapat ini dikuatkan Al Lajnah Ad Daimah dalam fatawanya dan menjadi pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih All ‘Utsaimin dalam kajian Liqa’ Al Bab Al Maftuh.
Kedua : Menggabungkan dua amalan sunnah dalam satu amalan adalah perkara yang dibolehkan menurut kesepakatan ahli ilmu. Allahua’lam

2] Kami belum dapatkan dalilnya membaca dzikir laa ilaaha illallahu saja dengan jumlah tertentu setiap selesai shalat fardhu. Hanya saja ada anjuran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berdzikir kalimat tasbih, tahmid, takbir dan tahlil dengan jumlah tertentu disetiap saat. Seperti dalam hadits ini :
عَنْ أُمِّ هَانِئٍ بِنْتِ أَبِى طَالِبٍ قَالَ قَالَتْ مَرَّ بِى ذَاتَ يَوْمٍ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى قَدْ كَبِرْتُ وَضَعُفْتُ – أَوْ كَمَا قَالَتْ – فَمُرْنِى بِعَمَلٍ أَعْمَلُهُ وَأَنَا جَالِسَةٌ. قَالَ « سَبِّحِى اللَّهَ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ رَقَبَةٍ تُعْتِقِينَهَا مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاحْمَدِى اللَّهَ مِائَةَ تَحْمِيدَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ فَرَسٍ مُسْرَجَةٍ مُلْجَمَةٍ تَحْمِلِينَ عَلَيْهَا فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَكَبِّرِى اللَّهَ مِائَةَ تَكْبِيرَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ بَدَنَةٍ مُقَلَّدَةٍ مُتَقَبَّلَةٍ وَهَلِّلِى اللَّهَ مِائَةَ تَهْلِيلَةٍ – قَالَ ابْنُ خَلَفٍ أَحْسِبُهُ قَالَ – تَمْلأُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلاَ يُرْفَعُ يَوْمَئِذٍ لأَحَدٍ عَمَلٌ إِلاَّ أَنْ يَأْتِىَ بِمِثْلِ مَا أَتَيْتِ بِهِ ».
“Dari Ummi Hani’ binti Abu Thalib dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewatiku pada suatu hari, lalu saya berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, saya sudah tua dan lemah, maka perintahkanlah kepadaku dengan amalan yang bisa saya lakukan dengan duduk.” Beliau bersabda: “Bertasbihlah kepada Allah seratus kali, karena itu sama dengan kamu membebaskan seratus budak dari keturunan Isma’il. Bertahmidlah kepada Allah seratus kali karena itu sama dengan seratus kuda berpelana yang memakai kekang di mulutnya, yang kamu bawa di jalan Allah. Bertakbirlah kepada Allah dengan seratus takbir karena ia sama dengan seratus unta yang menggunakan tali pengekang dan penurut. Bertahlillah kepada Allah seratus kali.” Ibnu Khalaf berkata; saya mengira beliau bersabda: “Karena ia memenuhi di antara langit dan bumi, dan pada hari ini tidaklah amalan seseorang itu diangkat kecuali akan didatangkan dengan semisal yang kamu lakukan itu.” (HR. Ahmad 6/344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Ash Shilsilah Ash Shahihah no. 1316)
Allahua’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *