Beda Istilah Muslim dan Mukmin

December 20, 2015

Pertanyaan:
Bismillah,,,mau tanya pak ustazd,,apa perbedaan antara muslim dan mu’min,,mohon penjelasan,,Barakallahufiik (Abu Tamara)

Dijawab oleh Ust Abu Usamah Yahya:

Bismillah,assolaatu wassalaamu’ala rasulillah waman waalahu
Sesungguhnya perbedaan batasan antara Mukmin dan Muslim sama halnya dengan perbedaan batasan Islam dan Iman. Dan ada kaidah yang dikatakan oleh para Ulama: bahwasanya keduanya jika berkumpul dalam satu kalimat, artinya berbeda. Namun jika tidak berkumpul maka artinya sama.
فإذا ورد الإسلام والإيمان في نص واحد، كان معنى الإسلام: الأعمال الظاهرة. ومعنى الإيمان: الاعتقادات الباطنة، كقوله تعالى: ) [الحجرات:14]
makna Iman adalah keyakinan dalam hati. Maka jika terdapat kata Islam dan Iman pada suatu nash (baik Al-Qur’an atau Hadits), maka Islam maknanya amalan-amalan yang dzahir (nampak), Sebagaimana dalam Firman Allah:
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْأِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ
“Orang Arab Badui berkata: Aku telah beriman. Katakanlah, Kalian belum beriman. Akan tetapi katakanlah Aku telah berislam. Karena Iman belum masuk kedalam hati-hati kalian” (QS. Al Hujurat: 14)
Adapun jika disebutkan Islam saja, maka termasuk di dalamnya makna Iman, sebagaimana Firman Allah:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلامُ
“Sesungguhnya Agama (yang benar) disisi Allah hanyalah Islam” (QS. Al Imran: 19)
وإذا ذكر الإيمان وحده دخل فيه الإسلام، كقوله تعالى: () [المائدة:5].
Dan jika disebutkan Iman saja, maka termasuk juga didalamnya makna Islam, sebagaimana dalam Firman-Nya:
وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْأِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ
“Barangsiapa yang kafir setelah beriman, maka hilanglah amalannya” (QS. Al Maidah: 5)
Berdasarkan penjelasan di atas, maka sesungguhnya setiap Mukmin adalah Muslim, akan tetapi tidak setiap Muslim adalah Mukmin. Karenanya, seorang munafik tetap dikatakan sebagai seorang muslim di dunia, padahal di dalam hatinya tidak ada Iman. Dan mukmin jelas lebih tinggi tingkatanya dari muslim, sebab ia harus melalui beberapa tahap untuk bisa menjadi mukmin, yaitu menuntut ilmu syar’i yang dengannya bisa menumbuhkan iman dalam hatinya, terutama beriman tentang apa yang tidak bisa di saksikan dalam syari’at ini, misal beriman kepada Allah, para malaikatnya dan tentang hari akhirat, yang hal itu belum bisa diamalkan muslim karena ia belum mengilmuinya sehingga belum tumbuh iman dalam hatinya. setelah beriman baru ia harus beramal dengan apa yang ia imani. Sebab yang dikatakan iman itu adalah keyakinan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan, dan kertiganya ini merupakan keutuhan yang tidak bisa dipisahkan dari apa yang disebut iman. Allahua’lam

6 Comments

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,mau tanya pak ustazd,,Bagaimana hukum walimahhan khitan didalam islam,,dan apa hukumnya khitan untuk laki laki dan perempuan,,mohon penjelasan,,,Barakallahufiikum wa jazakumullahu khairan kastiran,,

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, tentang walimah khitan Para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini, ada yang berpendapat sunnah, ada yang berpendapat mubah (boleh-boleh saja) dan ada yang pula yang berpendapat makruh.
      Kesimpulan dari permasalahan ini, setelah kita melihat dalil-dalil masing-masing pendapat maka pendapat yang kami pilih dan kami anggap kuat adalah bahwa hukum walimah khitan suatu hal yang mubah. Karena hukum sunnah adalah hukum syar’i, untuk mengatakan suatu hal itu hukumnya sunnah butuh dalil-dalil yang shahih dan marfu’ (yang sampai) kepada Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam. Belum kita dapatkan dalil satupun bahwa Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam mengadakan walimah khitan.
      Hanya saja disana terdapat Atsar dari sebagian shahabat, yang mana mereka melakukan walimah khitan, diantaranya atsar yang diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhory dalam Adabul Mufrod:
      قال سالم: خَتَنَنِي ابْنُ عُمَرَ أَنَا وَنُعَيْمًا، فَذَبَحَ عَلَيْنَا كَبْشًا.
      “Salim (bin Abdullah bin Umar) berkata: Ibnu umar mengkhitanku dan juga mengkhitan Nu’aim, maka beliau menyembelih seekor kibas (domba besar) untuk khitan kami” [HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul mufrad no. 1246, berkata Syekh Al Albany: Atsar ini sanadnya dho’if]
      Dan juga atsar ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang diriwayatkan oleh Ibnu abi Ad-dunya dalam kitab al ‘iyaal nomor 586:
      عَنِ الْقَاسِمِ، قَالَ: أَرْسَلَتْ إِلَيَّ عَائِشَةُ بِمِائَةِ دِرْهَمٍ فَقَالَتْ: أَطْعِمْ بِهَا عَلَى خِتَانِ ابْنِكَ
      “Dari Al-Qasim (bin Muhammad bin Abi Bakr Ash-Shiddiq) berkata: “Aisyah radhiallahu ‘anha telah mengirim kepadaku uang 100 dirham seraya berkata berilah makanlah bagi orang-orang untuk khitan anakmu.”
      Dan juga atsar lainnya seperti Atsar Ibnu Abbas.
      Kalau seandainya semua atsar di atas shahih, maka ini menunjukan bahwa hanya sebatas para shahabat saja dahulu yang biasa melakukan walimah khitan.
      Maka itu Berkata Syekh Al ‘Utsaimin dalam Syarhul Mumti’ jilid 12 hal 320:
      كالوليمة للختان، فهذه مباحة؛ لأن الأصل في جميع الأعمال غير العبادة الإباحة، حتى يقوم دليل على المنع
      “Seperti walimah khitan, maka (hukumnya) boleh-boleh saja, karena segala bentuk amalan di luar ibadah maka hukum asalnya boleh-boleh saja, sampai datang dalil yang menunjukan larangannya.”
      Berkata Syaikhul Islam ibnu taimiyah rahimahullah dalam Majmu’ Al Fatawa jilid 32 hal 206:
      وأما ” وليمة الختان ” فهي جائزة : من شاء فعلها ومن شاء تركها
      “Adapun Walimah khitan maka (hukumnya) boleh-boleh saja. Barangsiapa yang ingin, maka boleh ia melakukannya ataupun meninggalkannya.”
      Demikianlah hasil kesimpulan tentang seputar hukum mengadakan walimah khitan yang mana hal itu adalah diperbolehkan dalam islam. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh para ulama, seperti Syaikhul Islam, Ibnul Qoyyim, Imam Asy Syaukani, Syekh Ibnu Baz, Syekh Al ‘Utsaimin, Syekh Abdul Muhsin Al ‘Abbad dan yang lainnya.
      Adapun hukum khitan itu sendiri, untuk laki-laki hukumnya wajib tidak ada khilaf in syaa Allah, namun khitan untuk perempuan terdapat khilaf ulama’ antara wajib dan sunnah. Dan berdasarkan dalil-dalil yang kami tela’ah dari kedua pendapat, hasilnya kami ikut menguatkan khitan bagi wanita hukumnya sunnah in syaa Allah. Allahua’lam

  • Ibn ghoffur says:

    Bismillah,mau tanya ustazd, terkait kufu dalam agama bagaimana kriterianya, apakah harus satu golongan (maaf mengingat di indonesia ada beberapa ormas)

  • Ibn ghoffur says:

    Bismillah,mau tanya ustazd, dalam pernikahan dikenal istilah sekufu, antara lain dalam agama,nasab,dsb
    Nah terkait masalah tersebut ana ingin mengetahui lebih dalam terkait kufu dalam agama, bagaimana penjelasannya? Apakah sekufu dalam beragama itu harus sesama muslim atau lebih dari itu,misal hafalan al quran dan dhadistnya setara atau bagaimana? Selain itu di indonesia ada beberapa ormas beragama,yg mungkin terkadang ada beberapa perbedaan, apakah sekufu dalam beragama jg harus satu ormas,terima kasih

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,tentang anjuran sekufu dalam pernikahan kita dapatkan penjelasan dari para ahli ilmu yang penjelasannya kami ringkaskan sebagai berikut :
      Pertama :Arti Kufu
      Kufu atau kafa’ah, artinya adalah kesepadanan. Yakni kesepadanan calon suami dan calon istri yang akan menikah dan membina rumah tangga. Istilah kufu terdapat dalam beberapa hadits, berupa nasehat Rasulullah untuk segera menikah atau menikahkan muslimah yang telah menemukan calon suami yang sekufu. Diantara hadits-hadits tersebut, yang paling baik sanadnya adalah riwayat Imam Tirmidzi, yang telah dihasankan oleh Syeikh Al Albani.
      يَا عَلِيُّ ثَلَاثٌ لَا تُؤَخِّرْهَا الصَّلَاةُ إِذَا أَتَتْ وَالْجَنَازَةُ إِذَا حَضَرَتْ وَالْأَيِّمُ إِذَا وَجَدَتْ لَهَا كُفْؤًا
      “Wahai Ali, ada tiga perkara yang jangan kau tunda pelaksanannya; shalat apabila telah tiba waktunya, jenazah apabila telah siap penguburannya, dan wanita apabila telah menemukan jodohnya yang sekufu/sepadan” (HR. Tirmidzi; hasan)
      Berdasarkan hadits di atas, sekufu itu terkadang perlu. Namun Ia bukan syarat dan rukun pernikahan tetapi terkadang hanya sesuatu yang dapat menjadi sebab kelanggengan dan keharmonisan dalam pernikahan.
      Nah, sekarang sebenarnya apa kriteria calon sepasang suami istri tersebut bisa dikatakan sekufu? Diantara kriteria sekufu dalam pemahaman sebagian orang diantaranya yaitu.
      1.Kufu dalam Usia.
      Dalam pemahaman sebagian orang, sekufu itu artinya usianya tidak terpaut jauh. Ini pula yang menjadi alasan bagi banyak ikhwan untuk ‘menolak’ akhwat yang secara usia lebih tua beberapa tahun di atasnya.
      Benarkah demikian? Mari kita lihat pernikahan Rasulullah. Beliau menikah pertama kali pada usia 25 tahun, sedangkan istri beliau Khadijah usianya 40 tahun. Terpaut 15 tahun. Faktanya, keluarga beliau adalah keluarga yang paling berbahagia. Khadijah bahkan menjadi wanita yang paling dicintai Nabi dan tidak tergantikan oleh siapapun sesudah beliau wafat.
      Pun misalnya pernikahan Rasulullah dengan Aisyah, setelah wafatnya Khadijah. Aisyah saat itu masih sangat muda, terpaut puluhan tahun dengan Rasulullah. Namun, keluarga mereka justru menjadi keluarga paling romantis dan penuh cinta. Tidak jarang Rasulullah bercanda dan bermain bersama Aisyah. Diantara bentuk canda Beliau yaitu Pernah beberapa kali lomba lari berdua. Pernah juga mandi berdua dan sebagainya dari hal-hal yang menunjukkan keromantisan dan keharmonisan rumah tangga.
      2.Kufu dalam Harta.
      Sebagian orang juga memahami bahwa sekufu itu artinya harta dan jabatan calon suami dan calon istri sepadan. Benarkah demikian?
      Praktik pernikahan di zaman Rasulullah, sebagian sahabat yang miskin menikah dengan shahabiyah yang kaya raya. Pun sebaliknya, ada sahabat yang kaya raya menikah dengan shahabiyah yang tak memiliki banyak harta. Misalnya antara Asma’ binti Abu Bakar dengan Zubair bin Awwam.
      Asma berasal dari keluarga yang sangat kaya, keluarga Abu Bakar. Seperti kita tahu, dengan kekayannya yang melimpah sebagai saudagar jujur, Abu Bakar pernah menginfakkan seluruh hartanya saat menjelang perang Tabuk. Abu Bakar juga tak terhitung dermanya kepada dakwah Islam dan orang-orang yang membutuhkan. Sedangkan Zubair, ia termasuk sahabat yang miskin. Saat akan menikah dengan Asma, Zubair hanya memiliki harta berupa seekor kuda. Namun demikian, keluarga mereka tumbuh menjadi keluarga yang barakah. Pada mulanya, Asma mengikuti keprihatinan Zubair hidup dalam keterbatasan. Namun suatu saat, Zubair berubah menjadi orang yang kaya raya.
      Demikian pula dengan Umar bin Khatab. Beliau menjodohkan putranya, Ashim, dengan anak penjual susu. Ashim yang anaknya khalifah menikah dengan rakyat jelata. Dan itu tidak masalah. Bahkan, kelak, dari pernikahan mereka lahirlah Ummu Ashim, dan dari Ummu Ashim lahirlah Umar bin Abdul Aziz, khulafaur rasyidin ke 5.
      3.Kufu dalam Kecantikan dan Ketampanan.
      Ada pula yang mengira bahwa sekufu itu artinya perempuan cantik haruslah dapat laki-laki tampan, laki-laki tampan hanya sekufu dengan wanita cantik. Benarkah demikian?
      Rasulullah adalah orang yang paling tampan. Namun, istri beliau tidak semuanya cantik. Mayoritas yang beliau nikahi adalah janda-janda tua. Demikian pula pernikahan sahabat. Tidak semuanya yang tampan ketemu dengan yang cantik. Dan tidak semua yang cantik kemudian beroleh yang tampan. Misalnya Fathimah binti Qais dengan Usamah bin Zaid. Fathimah adalah seorang wanita yang cantik, dari keluarga terhormat dan kaya raya. Sedangkan Usamah adalah mantan budak.
      Lalu Kufu dalam Apa?
      Menurut Imam Malik, ungkapan kafa’ah ini khusus untuk agama, iman taqwa dan akhlaknya.. Bahwa orang yang bagus agamanya, ia sekufu dengan pasangan yang bagus pula agamanya. Imam Syafi’i juga mendukung pendapat ini. Bahwa kafa’ah adalah dalam bidang agama, sedangkan harta tidak dimasukkan dalam kategori kafa’ah.
      Jadi, kafa’ah dalam bidang agama yang dimaksud bukanlah tingkat pengetahuan terhadap agama, melainkan pengamalan terhadap agama, terhadap syariat Islam.
      Meski demikian, bukan berarti masalah usia, harta dan kedudukan serta kecantikan dan ketampanan diabaikan begitu saja. Sebab kita hidup bersama keluarga besar dan masyarakat. Kita hidup dengan lingkungan dan situasi yang tidak sama dibandingkan dengan lingkungan dan situasi yang dialami oleh para sahabat. Bahkan, ada pula sahabat yang akhirnya bercerai karena ketidakcocokan istri dengan ‘ketampanan suami.’ “Ya Rasulullah,” kata istri Tsabit bin Qais, “aku ingin meminta cerai dari Tsabit bukan karena aku mencela agamanya dan akhlaknya, akan tetapi aku khawatir diriku menjadi kufur”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya; “Sanggupkah kamu mengembalikan tanah kebun yang ia berikan kepadamu sebagai mas kawin ketika pernikahanmu dulu?”. Ia menjawab; “Ya, aku sanggup”. Ia pun mengembalikan tanah kebun itu. Rasulullah lalu berkata kepada Tsabit; “Ceraikanlah dia”.
      Jika anda menyebutkan bagaimana dengan banyaknya ormas islam sekarang ini, bagaimana sekufu itu? Maka jawabnya hendaknya yang ahlu sunnah memilih jodoh juga dari kalangan ahlu sunnah, jangan mencari jodoh di ormas-ormas yang berpemahaman menyimpang dari agama.agar nantinya ada kesamaan prinsip dalam agama sehingga terjalin keharmonisan dalam rumah tangga. Allahua’lam bish shawwab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *