Assalamu’alaikum, ustadz. Ana baru tahu ttg manhaj salaf, jika berniat belajar agama lebih dalam harus mulai dari mana tadz ? Syukron.
Wassalamu’alaikum. (Intan)

Jawaban oleh Ustadz Abu Usamah Yahya:

Wa’alaikum Salam warahmatullah, sebelumnya kita bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang telah memberikan hidayahNya kepada kita dengan mengenalnya kita terhadap dakwah salaf yang agung ini. Tentunya setelah kita mengenal dakwah ini, ada hal yang harus kita lakukan yaitu memperdalam ilmu agama. Pada prinsipnya para Ulama menjelaskan bahwa hal yang pertama dan utama yang harus kita pelajari terlebih dahulu adalah sesuatu yang berkaitan dengan hak Allah ‘Azza wa Jalla terhadap hambaNya, yaitu ilmu tentang bagaimana cara mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla dengan benar. Seperti dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“ Dari Mu’âdz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Saya pernah dibonceng oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam di atas seekor keledai, lalu beliau bersabda kepadaku, ‘Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah terhadap para hamba dan apa hak para hamba atas Allah?’ Saya menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’ Beliau pun menjawab, ‘Hak Allah terhadap para hamba ialah mereka beribadah kepada-Nya semata dan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya, sedang hak para hamba atas Allah adalah bahwa Allah tidak akan mengadzab orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya.’ Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, tidakkah saya (perlu) menyampaikan kabar gembira (ini) kepada manusia?’ Beliau menjawab, ‘Janganlah engkau menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka (karena) mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri.’.” (Dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhari 5/2312 dan Imam Muslim 1/43)

Ilmu Aqidah, itu yang mula-mula harus kita pelajari dan fahami. Sebab dalam ilmu Aqidah didalamnya dipelajari diantaranya tentang bagaimana mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla sesuai yang Allah ‘Azza wa Jalla inginkan. Juga didalamnya dipelajari tentang iman tentang hari akhirat dan selainnya yang in syaa Allah akan bisa menumbuhkan semangat untuk beribadah dan mendekatkan diri kepadaNya.

Namun seiring dengan waktu kita juga mempelajari fiqh ibadah dan selainnya. Karena ilmu fiqh didalamnya dipelajari tentang tata cara ibadah kita sehari-hari serta tata cara muamalah dengan sesama manusia sesuai dengan tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Selain itu juga jangan lupa kita untuk mempelajari sirah Nabawiyah, yaitu kisah perjalanan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam mendakwahkan islam, dari kisah beliau sebelum diangkat menjadi Nabi hingga setelah beliau diangkat menjadi Rasul. Dengan tujuan agar kita dapat mencontoh dan mengambil pelajaran berharga dari beliau tentunya dengan harapan bisa menumbuhkan rasa cinta yang sebenarnya kepada junjungan kita Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa memudahkan kita dalam menuntut ilmu agama sesuai dengan bimbingan para Ulama salafus shalih. Baarokallahu fiikum. Allahua’lam

—————————-
(Red: Bagi pengunjung yang ingin berkonsultasi silakan melalui kolom komentar yang telah tersedia. Baarokallohufiikum)

21 Comments

  • ikanurmalaya says:

    Bismillah…afwan ust ana tu sudah usia siap menikah tapi ana sama ortu d larang…padahal tujuan ana krn Allah kmdian ingin mnghindari fitnah…bgaimana cara ana ngmong baik2 k ortu berdasarkan Al Qur an dan hadits?jazakumullahu khoiron…

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, larangan orang tua bagi anaknya untuk menikah adalah suatu hal yang kerap terjadi di tengah masyarakat kita. Namun menyikapi tentang hal itu kita tidak harus terburu-buru berburuk sangka terhadap orang tua, melainkan harus mencari tahu terlebih dahulu sebab larangan tersebut. Khususnya seperti pertanyaan diatas, dimana didalamnya tidak dijelaskan alasan orang tua melarang beliau untuk menikah.
      Sebatas yang kita ketahui, melarangnya orang tua bagi putrinya untuk menikah itu ada beberapa keadaan :

      Pertama : Orang tua melarang putrinya menikah dengan laki-laki yang memang secara syar’i tidak boleh menjadi suami putrinya. Seperti laki-laki tersebut masih mahramnya, non muslim, atau dia muslim tapi tidak pernah mengerjakan kewajiban-kewajiban dalam islam sama sekali. Jika memang demikian maka larangan itu benar bahkan wajib.

      Kedua : Orang tua melarang putrinya menikah dengan laki-laki yang tidak sesuai untuk kebaikan agama putrinya. Misalkan dia itu seorang peminum khamer, penipu, pencuri, penjudi dan semisalnya dari perbuatan-perbuatan fasiq. Yang seperti itu orang tua boleh melarangnya bahkan dianjurkan demi terjaganya agama putrinya, tentunya seiring dengan itu ada arahan untuk mencari laki-laki yang shalih dan bertaqwa.

      Ketiga : Orang tua melarang putrinya menikah karena mereka rasa putrinya belum cukup umur, masih kuliah, dan sebagainya. Jika demikian kita hendaknya berbicara dengan orang tua dengan cara yang paling baik dan menjelaskan bahwa menikah adalah fitrah manusia dan termasuk bagian dari kebutuhan hidup manusia yang pokok setelah menginjak usia baligh dan memiliki keinginan terhadap lawan jenis. Sebagaimana hal ini juga dirasakan oleh para orang tua tatkala mereka masih muda. Dimana dan kapan saja yang diingat selalu lawan jenisnya.
      Lalu, bagaimana perasaan kita sebagai orang tua yang apabila pada masa muda kita ingin menikah, namun dihalang-halangi oleh orang tua? Tentu kita akan merasa menderita, yang bisa jadi dampaknya kan berpengaruh terhadap aktivitas ibadah kita, selain adanya kekhawatiran terjatuh kedalam fitnah syahwat. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
      وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
      “ Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S An Nuur : 32 )

      Apalagi putra-putri kita sudah menyatakan siap untuk menikah, hendaklah segera dinikahkan. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para pemuda untuk menikah jika sudah mampu. Seperti dalam sabdanya :
      يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
      “ Wahai para pemuda, apabila kalian telah mampu menikah maka menikahlah. Dan barangsiapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu benteng baginya” (H.R Muslim 4/128/3464)
      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :
      إذا جاءكم من تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فأنكحوه إلا تفعلوا تكن فِتْنَةٌ فى الأرض وَفَسَادٌ عَرِيضٌ
      “Jika datang kepadamu seorang yang kamu senangi agama dan akhlaknya maka nikahkanlah (putrimu) dengannya. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan dipermukaan bumi ini.” (HR Tirmidzi: 1005, dan dihasankan oleh al-Albani dalam Mukhtashor Irwaul Gholil 1/370)

      Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah tatkala ditanya : ” Bagaimana hukum orang tua yang menghalangi putrinya yang sudah kuat (keinginannya) untuk menikah tetapi mereka masih menyuruh putrinya melanjutkan kuliah?”
      Maka beliau menjawab: ” Tidak diragukan lagi bahwa orang tuamu yang melarangmu (menikah padahal kamu) sudah siap menikah hukumnya adalah haram. Sebab, menikah itu lebih utama dari pada menuntut ilmu, dan juga karena menikah itu tidak menghalangi untuk menuntut ilmu, bahkan bisa ditempuh keduanya. Jika kondisimu demikian wahai Ukhti! Engkau bisa mengadu ke pengadilan agama dan menyampaikan perkara tersebut, lalu tunggulah keputusannya.” (Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin 2/754)

      Keempat : Orang tua melarang putrinya menikah dengan laki-laki karena pertimbangan duniawi semata, misalkan laki-laki tersebut kurang kaya, tidak punya kedudukan, kurang tampan, kurang mapan, tidak punya pekerjaan tetap dan sebagainya. Jika keadaannya demikian maka ada beberapa hal yang perlu kita jelaskan terlebih dahulu.
      Pertama yang perlu kita fahami terlebih dahulu adalah bahwa seorang wanita itu memiliki hak untuk memilih calon suaminya, tanpa intervensi siapapun, baik orang tuanya bahkan negara sekalipun. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
      لَا تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ وَلَا الثَّيِّبُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ إِذْنُهَا قَالَ إِذَا سَكَتَتْ
      “Gadis tidak boleh dinikahkan hingga dimintai izin, dan janda tidak boleh dinikahkan hingga dimintai persetujuannya.” Ada yang bertanya; ‘ya Rasulullah, bagaimana tanda izinnya? ‘ Nabi menjawab: “ tandanya diam.” (H.R. Bukhari 6/2555/6567)

      Dalam riwayat Aisyah radhiallahu ‘anha berkata :
      سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْجَارِيَةِ يُنْكِحُهَا أَهْلُهَا أَتُسْتَأْمَرُ أَمْ لَا فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ تُسْتَأْمَرُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ لَهُ فَإِنَّهَا تَسْتَحْيِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَلِكَ إِذْنُهَا إِذَا هِيَ سَكَتَتْ
      “Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai seorang gadis yang dinikahkan oleh keluarganya, apakah harus meminta izin darinya atau tidak?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Ya, dia dimintai izin.” ‘Aisyah berkata; Lalu saya berkata kepada beliau; “Sesungguhnya dia malu (mengemukakannya).” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika dia diam, maka itulah izinnya.” (H.R. Muslim 4/140/3540)

      Dua hadits diatas menerangkan bahwa seorang wanita itu, baik yang masih gadis maupun yang janda tetap memiliki peranan penuh dalam menentukan calon suaminya, bagi gadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dia dinikahkan sebelum dimintai izinnya, dalam kondisi janda Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam juga melarang dia dinikahkan sebelum diajak musyawarah untuk dimintai pertimbangan. Semua perlakuan ini menunjukkan bahwa wanita dalam kondisi apapun tidak boleh dipaksa menikah dengan seseorang yang tidak dia inginkan. Maknanya, hak penuh memilih ada pada tangannya, bukan ditangan walinya atau orang lain.

      Bahkan suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah merekomendasikan kepada seorang wanita untuk menikahi seorang lelaki yang sangat mencintainya. Sayangnya wanita tersebut tidak mencintai lelaki itu sehingga dia menolaknya. Dalam keadaan tersebut Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam tidak memaksa wanita itu untuk menikahi lelaki itu meski sang lelaki sangat mencintainya. Seperti yang terdapat dalam shahih Bukhari dalam riwayat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menceritakan :
      أَنَّ زَوْجَ بَرِيرَةَ كَانَ عَبْدًا يُقَالُ لَهُ مُغِيثٌ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ يَطُوفُ خَلْفَهَا يَبْكِي وَدُمُوعُهُ تَسِيلُ عَلَى لِحْيَتِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعبَّاسٍ يَا عَبَّاسُ أَلَا تَعْجَبُ مِنْ حُبِّ مُغِيثٍ بَرِيرَةَ وَمِنْ بُغْضِ بَرِيرَةَ مُغِيثًا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ رَاجَعْتِهِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَأْمُرُنِي قَالَ إِنَّمَا أَنَا أَشْفَعُ قَالَتْ لَا حَاجَةَ لِي فِيهِ
      Dari Ibnu Abbas bahwasanya suami Barirah adalah seorang budak. Namanya Mughits. Sepertinya aku melihat ia selalu mengikuti di belakang Barirah seraya menangis hingga air matanya membasahi jenggot. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abbas, tidakkah kamu ta’ajub akan kecintaan Mughits terhadap Barirah dan kebencian Barirah terhadap Mughits?” Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “ andai saja kamu mau meruju’nya kembali (menikah dengannya).” Barirah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Anda menyuruhku?” beliau menjawab, “Aku hanya menyarankan.” Akhirnya Barirah pun berkata, “Sesungguhnya aku tak butuh sedikit pun padanya.” (H.R. Bukhari 5/2023/4979)

      Mughits sangat mencintai Barirah. Besarnya cinta ini sampai membuat Mughits mengikuti kemanapun Barirah pergi dengan derai air mata yang membasahi janggutnya. Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam iba dengan penderitaan Mughits, lalu merekomendasikan Barirah agar berkenan menikah dengan Mughits. Ternyata Barirah menolaknya dan Nabipun tidak memaksa. Tidak adanya paksaan dari Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam kepada Barirah kepada Mughits padahal Mughits sangat mencintai Barirah, menunjukkan bahwa memilih suami adalah hak penuh wanita hingga Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam sendiripun tidak berani intervensi yang bersifat memaksa/menekan.

      Bahkan seandainya sang putri dalam hal ini tidak mentaati orang tuanya, atau kalau boleh dikatakan membangkang terhadap perintah orang tuanya maka in syaa Allah tidak termasuk kedurhakaan kepada orang tuanya. Seperti dalam riwayat berikut ini :
      عَنْ خَنْسَاءَ بِنْتِ خِذَامٍ الْأَنْصَارِيَّةِ أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهِيَ ثَيِّبٌ فَكَرِهَتْ ذَلِكَ فَأَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ نِكَاحَهَا
      “Dari Khansa’ binti Khidzam Al Anshariyah; bahwa ayahnya mengawinkannya -ketika itu ia janda-dengan laki-laki yang tidak disukainya, kemudian dia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau membatalkan pernikahannya. “ (H.R. Bukhari 6/2547/6546)
      Dalam riwayat lain disebutkan :

      عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ ابْنَةَ خِذَامٍ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَتْ أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهِيَ كَارِهَةٌ فَخَيَّرَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
      Dari Ibnu Abbas; bahwasannya anak perempuan Khidzam menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan bahwa ayahnya telah menikahkan dirinya, padahal ia tidak menyukainya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberinya hak untuk memilih. (H.R. Ahmad 1/273/2469)

      Seandainya pembangkangan Khansa’ binti Khidzam kepada ayahnya dalam hal pilihan suami termasuk kedurhakaan, niscaya Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam akan memerintahkan Khansa’ taat atas keputusan ayahnya dalam hal pilihan suami. Dan ternyata Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam justru memberikan pilihan kepada Khansa’ untuk membatalkan pernikahan atau melanjutkannya, maka hal ini menunjukkan bahwa memilih suami adalah hak besar wanita yang bahkan menjadi Takhsish atas keumuman perintah taat kepada Ayah/wali atau perintah berbakti kepada orang tua.

      Dengan demikian menghalang-halangi wanita untuk menikah dengan lelaki yang telah menjadi pilihannya, tentunya yang sesuai dengan kriteria syari’i adalah kezaliman yang diharamkan oleh Islam dan disebut dalam pembahasan fiqh dengan istilah ‘Adhl. Adhl hukumnya haram. Allah berfirman ketika mengharamkan ‘Adhl :
      فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ
      “ Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka menikah lagi dengan calon suaminya apabila telah ada saling ridha di antara mereka dengan cara yang ma’ruf (Al-Baqoroh; 232)

      Ayat ini turun berkaitan ‘Adhl yang dilakukan seorang shahabat bernama Ma’qil bin Yasar yang tidak mau menikahkan saudarinya ketika dilamar seorang lelaki. At-Tirmidzi meriwatkan kisahnya;
      عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّهُ زَوَّجَ أُخْتَهُ رَجُلاً مِنَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَكَانَتْ عِنْدَهُ مَا كَانَتْ ثُمَّ طَلَّقَهَا تَطْلِيقَةً لَمْ يُرَاجِعْهَا حَتَّى انْقَضَتِ الْعِدَّةُ فَهَوِيَهَا وَهَوِيَتْهُ ثُمَّ خَطَبَهَا مَعَ الْخُطَّابِ فَقَالَ لَهُ يَا لُكَعُ أَكْرَمْتُكَ بِهَا وَزَوَّجْتُكَهَا فَطَلَّقْتَهَا وَاللَّهِ لاَ تَرْجِعُ إِلَيْكَ أَبَدًا آخِرُ مَا عَلَيْكَ قَالَ فَعَلِمَ اللَّهُ حَاجَتَهُ إِلَيْهَا وَحَاجَتَهَا إِلَى بَعْلِهَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ) إِلَى قَوْلِهِ (وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ) فَلَمَّا سَمِعَهَا مَعْقِلٌ قَالَ سَمْعًا لِرَبِّى وَطَاعَةً ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ أُزَوِّجُكَ وَأُكْرِمُكَ.
      Dari Ma’qil bin Yasar bahwa pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia menikahkan saudarinya dengan seorang lelaki dari kaum muslimin, lalu saudarinya tinggal bersama suaminya beberapa waktu, setelah itu dia menceraikannya begitu saja, ketika masa Iddahnya usai, ternyata suaminya cinta kembali kepada waanita itu begitu sebaliknya, wanita itu juga mencintainya, kemudian dia meminangnya kembali bersama orang-orang yang meminang, maka Ma’qil berkata kepadanya; hai dungu, aku telah memuliakanmu dengannya dan aku telah menikahkannya denganmu, lalu kamu menceraikannya, demi Allah dia tidak akan kembali lagi kepadamu untuk selamanya, inilah akhir kesempatanmu.” Perawi berkata; “Kemudian Allah mengetahui kebutuhan suami kepada istrinya dan kebutuhan isteri kepada suaminya hingga Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan ayat: “Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya.” QS Al-Baqarah: 231 sampai ayat “Sedang kamu tidak Mengetahui.” Ketika Ma’qil mendengar ayat ini, dia berkata; “Aku mendengar dan patuh kepada Rabbku, lalu dia memanggilnya (mantan suami saudarinya yang ditolaknya tadi) dan berkata; “Aku nikahkan kamu dan aku muliakan kamu.” (H.R At-Tirmidzi 5/216/2981)

      Jadi segala bentuk menghalang-halangi pernikahan wanita dengan calon suami pernikahannya secara zalim termasuk ‘Adhl yang hukumnya haram. Adapun jika alasannya Syar’i seperti yang disebutkan diatas dan alasan-alasan lainnya seperti wanita masih di masa iddah, wanitanya seorang pezina yang belum bertaubat dan sebagainya maka menghalangi demikian tidak teramsuk ‘Adhl yang dilarang. Allahua’lam
      Atas dasar ini, memilih calon suami adalah hak penuh wanita dan tidak boleh dihalang-halangi menikah dengan lelaki pilihannya. Dan saudari Penanya hendaknya memeriksa kembali kasusnya, apakah halangan dari keluarga bisa dikatakan Syar’i ataukah termasuk ‘Adhl. Jika halangannya Syar’i, maka hendaknya dia mentaati orang tuanya selama dalam hal yang ma’ruf, karena itu juga demi kebaikan anda sendiri di dunia dan akhirat.
      Namun jika sudah terkategori Adhl maka silahkan melanjutkan dengan sikap yang bijak, dengan diusahakan tanpa menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Dikarenakan wali yang melakukan ‘Adhl telah gugur hak perwaliannya dan berpindah pada wali yang terdekat. Jadi misalkan jika ayah gugur perwaliannya, maka hak perwalian untuk menikahkan pindah ke kakek (ayah-nya ayah), buyut (ayahnya ayah ayah), saudara, paman, dst sesuai aturan urutan wali dalam fikih Islam. Wallahua’lam bish shawab wa lahul musta’aan.

  • Salwa says:

    Bismillaah.
    Ustadz, saya ingin bertanya. Berapakah tinggi minimum benda/sesuatu yang dapat digunakan sebagai sutrah di dalam shalat? Apakah bisa ransel digunakan sebagai sutrah?
    Jazaakumullaahu khayraa.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,
      Tentang minimal tinggi benda yang dapat digunakan sebagai sutrah dalam shalat diantaranya apa disebutkan dalam riwayat Thalhah dari ayahnya berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
      إِذَا وَضَعَ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ فَلْيُصَلِّ، وَلاَ يُبَالِ مَنْ مَرَّ وَرَاءَ ذَلِكَ

      “Apabila salah seorang dari kalian meletakkan semisal mu`khiratur rahl di hadapannya maka silakan ia shalat dan jangan memedulikan orang yang lewat di belakang sutrahnya tersebut.” (HR. Muslim no. 1111 atau 2/54/1138 Maktabah syamilah)

      Al Imam An Nawawi rahimahullah ketika mensyarah hadits ini beliau menjelaskan bahwa
      mu`khiratur rahl (مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ) adalah tinggi minimal benda yang dapat digunakan untuk sutrah dalam shalat. Yang dia itu adalah sebuah kayu yang diletakkan di bagian belakang tunggangan unta. Dan beliau jelaskan juga tinggi mu`khiratur rahl adalah sekitar sepertiga dira’(hasta).
      Jadi yang dikatakan sehasta itu adalah panjang dari siku sampai ujung jari tangan, berarti jika sepertiganya dari itu bisa diukur dan dikira-kira sendiri. Untuk tas rangsel jika memang setinggi itu juga bisa dibuat sutrah. Allahua’lam

  • Dalfi says:

    Bismillaah.
    Ustadz, saya ingin bertanya mengenai harta warisan. Almarhumah nenek memiliki sepetak tanah dan tanah tersebut dijual oleh anak2nya dan uang hasil jual tanah tersebut dibagikan perorang, dan ibu saya mendapatkan bagiannya juga, ibu saya berniat apabila tanah tersebut terjual dan dia mendapatkan bagiannya maka ibu akan membeli 1 ekor sapi untuk disembelih dan dagingnya akan dibagikan untuk memberi makan anak yatim dan orang yang berhak menerimannya, pertanyaan saya bagaimana menurut sunnahnya apakah niatnya itu dilanjutkan ataukah diganti dengan pemberian dalam bentuk uang seharga sapi tersebut. mohon bantuannya ustadz…
    Jazaakumullaahu khayraa.

    • Al Lijazy says:

      Menurut kami untuk masalah dalam pertanyaan anda diatas, karena ibu anda hanya sekedar berniat untuk melakukan sesuatu, dan bukan bernadzar kepada Allah atau mengucapkan janji kepada seseorang atau suatu kaum maka menurut hemat kami bisa dilihat pertimbangan manfaat dan mudharatnya saja nantinya. Jika dengan mengganti niat semula dengan perbuatan yang lain yang disitu akan lebih besar mnfaatnya, maka mungkin diganti yang lebih bermanfaat lebih baik in syaa Allah.yang jelas intinya beliau tetap melaksanakan niat baiknya sehingga in syaaAllah akan mendapatkan janji Allah Ta’ala, yaitu ganjaran yang berlipat-lipat in syaaAllah Allahua’lam

  • sakri says:

    assalamu’alaikum ustadz..
    Mngenai belajar islam dri dasar.
    Kan telah d jelaskan diatas klau memulainya dri belajar masalah aqidah.
    Bsa tdk ustadz menyarankan kitab apa yg mudah dipelajari untuk pertama kalinya?
    Syukron

    • Al Lijazy says:

      wa’alaikum Salam warahmtullah,
      seperti yang telah dinsehatkan dan di terapkan oleh guru-guru kami dri kalangan masyayikh untuk kitab pertama yang perlu kita pelajari dalam masalah aqidah diantarnya kitab al qowaidul arba’ karya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah, sebab dengan mempelajari kitab tersebut kita di bimbing dengan di suguhkan empat kaidah yang mudah untuk mmahami hakikat tauhid dan syirik sesuai dengan AL Qur’an dan Sunnah, setelah itu untuk mengembangkan pengetahuan kita tentang tauhid, bisa kita mempelajari kitab ushul tsalatsah juga karya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah misalnya yang di syarah oleh syeikh Muhammad bin shalih al utsaimin Rahimahullah , sebab dari kitab tersebut kita akan bisa memahami pembagian tauhid dan siyirik yang benar beserta rincian penjelasnnya, untuk pemahaman tentang tauhid dalam kitab tersebut akhususnya pada penekanan pemhaman tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyyah dan sedikit disinggung tauhid asma’ dan sifat. Dan untuk kitab selanjutnya untuk lebih memahami secara khusus tauhid asma’ dan sifat Allah Ta’ala bisa mempelajari kitab aqidah al wshithiyyah karya syaikhul islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dengan syarah/penjelasan para ulama’ yang masyhur akan kilmuannya, misalkan syarah dari syeikh Muhammad bin shalih al utsaimin Rahimahullah, syeikh shalih al fauzan dan selainnya dari para ulama’ ahlu sunnah. Setelah itu silahkan mengembangkan dengan kitab-kitab aqidah dari para ulama’ ahlu sunnah seperti kitabut tauhid, kasyfu syubhat, aqidah Thohawiyah dan selainnya asal dengan bimbingan seorang guru/ustadz yang juga beraqidah ahlu sunnah.Allahua’lam bish shawab baarokallahu fiikum, zaadakallahu khirson wa ilman naafi’an

      • Khaira says:

        Assalamu’alaikum ustadz, maaf mau bertanya. Kalau mempelajari kitab-kitab tersebut tanpa berguru bagaimana ya hukumnya? Kerabat saya melakukan hal tsb, dan saya berpendapat bahwa ia sedikit mengalami kesalahan dalam penafsiran/sudut pandangnya, bahkan terlalu kaku dan menuai kritik. Bagaimana, ya, Ustadz ?

        • Al Lijazy says:

          Bismillah, wa’alaikum salaam warahmatullah
          Tidak boleh mempelajari kitab-kitab tersebut tanpa guru, dikhawatirkan akan terjadi kesalah pahaman atau malah di ajari syaithon agar menafsirkan dengan akalnya sendiri yang lemah. Sebaiknya anda nasehatkan agar dia mau belajar kepada guru-guru dari asatidzah kita yang sudah mumpuni, atau anda hadiahkan mp3 kajian tentang kitab tersebut agar dia bisa belajar dengan mendengarkan mp3.
          Coba sampaikan nasehat berikut ini kepada beliau barangkali hatinya akan tergugah untuk segera mencari guru.
          Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Kitabul ‘Ilmi menjelaskan bahwa seseorang penuntut ilmu hendaknya memiliki guru dan tidak membiarkan dirinya belajar sendiri tanpa bimbingan. Seseorang yang memiliki guru akan memperoleh beberapa manfaat, diantaranya:
          1. Menemukan metode yang mudah dalam belajar. Dia tidak perlu bersusah payah memahami sebuah kitab untuk melihat apa pendapat yang paling kuat dan apa sebabnya, demikian pula apa pendapat-pendapat yang lemah dan alasannya. Ketika seseorang memiliki guru, maka guru itu yang akan mengajarinya dengan metode yang lebih mudah. Guru itu akan menjelaskan perbedaan pendapat di kalangan ahli ilmu, manakah pendapat yang terkuat beserta dalil-dalilnya. Tidak diragukan lagi, hal ini sangat bermanfaat bagi penuntut ilmu.
          2. Lebih cepat paham. Seorang penuntut ilmu jika membaca di hadapan gurunya akan lebih cepat mengerti dibandingkan jika mempelajari sendiri. Jika dia hanya membaca seorang diri, boleh jadi ia akan menemukan istilah-istilah baru yang sulit untuk dipahami dan membutuhkan usaha serta pengulangan yang memakan waktu dan tenaga. Bahkan bisa jadi dia jatuh dalam kesalahan saat memahaminya
          3. Adanya hubungan yang terjalin antara penuntut ilmu dan para ulama. Maka dari itu membaca sebuah buku di hadapan para ulama lebih bermanfat dan lebih utama daripada membacanya sendiri.
          Wallahu A’lam.

  • hardina says:

    Assalamualaikum…
    Ustad sy ingin bertanya…
    Sy seorang istri polisi…sy hrus mengikuti kegiatan ibu bhayangkari yg seragam nya tdk syar’I…
    Apakah sy hrus ttp ikut kegiatan trsbt dg pakaian itu atau menolak nya…sedangkan pimpinan terus memaksa untuk ikut kegiatan.
    Mohon penjelasan nya…

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Tentunya pada prinsipnya tidak ada keta’atan kepada makhluq siapapun untuk bermaksiyat kepada Allah Ta’ala, jadi siapapun dari makhluq, sebesar dan setinggi apapun kedudukannya dimuka bumi ini memerintahkan kita untuk berma’siyat kepada Allah Ta’ala maka kita tidak boleh menta’atinya. Namun adakalanya kita dibolehkan menta’atinya jika dalam keadaan dipaksa dan jiwa kita terancam jika menolaknya, dengan syarat hati kita tetap harus dalam keadaan istiqomah dalam keimanan.
      Firman Allah Ta’ala
      مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
      “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.”( Q.S An Nahl 106)
      juga riwayat dari Sahabat Ibnu ‘Abbas Radliyallahu ‘anhuma, beliau meriwayatkan dari Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

      إنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِى الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ

      “Sesungguhnya Allah memaafkan umatku karena aku (apa yang mereka lakukan) tanpa ada kesengajaan, lupa dan apa yang mereka dipaksa untuk melakukannya.” [Hadits Hasan riwayat Ibnu Majah dan Al Baihaqi]

      Saran kami buat anda, coba ajak bicara atasan anda dengan baik-baik. Kemukakan keberatan anda dengan perintah tersebut dengan alasan prinsip dan perintah agama.dan coba minta keringanan khusus buat anda untuk tidak mengikuti kegiatan tersebut, meskipun jika nantinya diijinkan tapi harus di tebus dengan tugas lain yang tidak menyalahi syari’at in syaa Allah itu lebih baik. Allahua’lam semoga dimudahkan

  • furqon says:

    Assalamu’alikum ustad.
    Bolehkah sy minta rekomendasi dri ustad tentang tempat2 kajian islami yg baik, kapan dan dimana?

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,wa’alaikum Salaam warahmatullah, anda sekarang domisili dimana? barangkali kalo kami tahu posisi anda dimana kami bisa rekomendasikan anda bisa belajar ke ustadz siapa yang kami tahu. allahua’lam

  • SanisaAzzahra says:

    Assalamu’alaikum ustadz..
    Ustadz dulu saya hidup dalam ke jahiliyahan. Dan saya punya pacar. . Waktu pacaran saya merasa ibadah saya tidak sampai hati. Pada akhirnya saya memilih memutuskan dia , berhijrah dan bertaubat .. waktu pacaran dengan saya dia jarang sekali sholat. Setiap dia meninggalkan sholat lalu saya ingatkan ada baaanyaaak sekali alasannya.
    Tapi setelah putus ntah itu bener apa tidak dia mulai memperbaiki diri. Dan katanya akan mengkhitbah saya.
    Tapi sblum proses ta’aruf saya menolaknya . Karna saya tidak punya hajat dan sudah tidak menyukainya lagi. Terlebih lagi saya tau sifatnya. Dan dia mengancam saya dengan bawa2 hadist2. .
    Alhamdulillah Saat ini saya dalam proses ta’aruf dengan ikhwan pilihan kakak saya ..
    Apakah saya salah menolaknya ? Mohon penjelasannya ustadz.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Dalam Islam seorang wanita di berikan keluasan untuk memilih calon suami baginya, dan tidak boleh bagi siapapun untuk memaksakan calon suami kepada seorang wanita. Kalau memang anda sudah tidak berhasrat pada mantan anda maka sah-sah saja anda menolak pinangannya. Apalagi seperti yang anda ceritakan anda hanya denger-denger saja kalau dia sudah berubah, artinya belum ada kepastian dia sekarang sudah berubah jadi baik dan shalih. Sedangkan di depan anda sekarang ada laki-laki yang baik dan shalih yang akan meminang anda, maka saran kami silahkan anda memilih yang sudah jelas kebaikannya secara syar’i. Tentunya jangan lupa dengan beristikhoroh pada Allah ta’ala tentang calon anda.
      Tentang ancaman dia, kami tidak tahu dia mengancam anda dengan hadits yang mana, dalam hal ini kami juga membawakan hadits tentang seorang wanita yang di izinkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta cerai karena tidak berhasrat terhadap suaminya.
      Dulu ada sahabat sangat shalih, namanya Tsabit bin Qais bin Syammas. Beliau menikah dengan Jamilah bintu Abdillah. Suatu ketika Jamilah pernah melihat suaminya berjalan bersama deretan para sahabat. Dia terheran, tidak ada lelaki yang lebih jelek dari pada suaminya. Hingga dia merasa tidak tahan untuk bersama Tsabit, karena takut tidak bisa menunaikan hak suaminya.
      Beliau ceritakan hal tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
      يَا رَسُولَ اللَّهِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ أَمَا إِنِّى مَا أَعِيبُ عَلَيْهِ فِى خُلُقٍ وَلاَ دِينٍ وَلَكِنِّى أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِى الإِسْلاَمِ
      Ya Rasulullah, Tsabit bin Qais, saya sama sekali tidak mencela keindahan akhlak dan agamanya yang bagus. Namun saya khawatir kufur dalam islam. (HR. Bukhari 5273, Nasai 3476, dan yang lainnya).
      Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh istrinya untuk mengembalikan maharnya. Lalu Tsabit diminta menjatuhkan talak untuknya.
      Artinya Rasa tidak suka semacam itu, sifatnya manusiawi. Semua orang tentu mengharapkan pasangan yang menyejukkan pandangannya. Baik lelaki maupun wanita. Sehingga jika ini ada dalam diri seseorang, maka in syaa Allah dia tidak berdosa. Dan kisah ini wanita tersebut di izinkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal mereka sudah menikah, maka dari itu terlebih bagi anda yang belum menikah tentunya tidak berdosa in syaa Allah anda menolak pinangan laki-laki yang anda sudah tidak berhasrat terhadapnya.Allahu a’lam.

  • Randi eka says:

    Assalamu’alikum ustad.
    Bolehkah sy minta rekomendasi dri ustad tentang tempat2 kajian islami yg baik, kapan dan dimana?

    Lokasi saya di
    Bandung
    Buah batu
    Deket Telkom university,
    Mohon jawabanya ya ustad 🙂

    • Al Lijazy says:

      Wa’alaikum Salaam warahmatullah, coba anda hubungi no. 0813 2071 0071( Abu Umar), beliau in syaa Allah koordinator kajian-kajian sunnah di Bandung. Allahua’lam semoga dimudahkan

  • ummu fathimah says:

    Assalamu’alikum ustad.
    Bolehkah ana minta rekomendasi dri ustad tentang tempat2 kajian islami yg baik, Khusus ikhwan dan khusus akhwat kapan dan dimana ?
    Lokasi ana di karawang, badami
    Deket smk jayabeka 2.

    • Al Lijazy says:

      wa’alaikum Salaam warahmatullah, afwan sebelumnya karena kami saat ini posisi di jogja jadi untuk info kajian dikerawang saat ini kami belum mengetahui,nanti kalau sudah dapat info in syaa Allah kami kabari segera. baarokallahu fiikum

  • Rezky Rachmadany Rachman says:

    Assalamu’alikum ustad.
    Bolehkah ana minta rekomendasi dri ustad tentang tempat2 kajian islami yg baik, Khusus ikhwan dan khusus akhwat kapan dan dimana ?
    Lokasi ana di Segeri, Kab. Pangkep, Sulawesi Selatan. Dekat Indomaret dan tidak terlalu jauh dengan Mesjid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *