Pertanyaan:
Assalaamu’alaikum ustad, bagimana status pernikahan yang digabung dengan adat dan status anak yang dilahirkan. adat yang dimaksud seperti :
1. pengantin pria dan wanita dimandikan dihadapan undangan secara bersama-sama.
2. saat pengucapan ijab qabul telunjuk laki2 dan wanita dipertemukan lalu tangan mereka ditutup(bungkus) dengan kain.
3. yang menjadi wali wanita adalah saudara tiri ayahnya karena ayahnya lagi sakit sehingga ayahnya menunuk saudara tirinya untuk menggantikannnya.
4. penghulu yang mengucapkan ijab adalah penghulu adat yang terkenal sering melenceng dalam melangsungkan pernikahan, misalnya menikahkan seorang wanita yang masih bersuami.Dalam kasus yang saya tanyakan ini,penghulu tersebut menjadi wali nikah
setelah mendapat izin dari KUA.
mohon penjelasannya, syukron,,,,
(Abu Muhammad)

Dijawab oleh Ustadz Abu Usamah Yahya:
Wa’alaikum Salam warhmatullahi wabarakaatuh
Bismillah, yang menjadi sorotan kami dari pertanyaan diatas adalah wali dari saudara tiri ayah. Saudara tiri ayah jelas bukan kerabat bukan mahram, sedangkan syarat wali dalam pernikahan adalah dari kerabat, kalau tidak, di serahkan kepada wali hakim dari pemerintah yang sah. Adapun acara-acara bid’ah dan kemungkaran dalam pernikahan in syaa Allah tidak mempengaruhi sah atau tidaknya pernikahan, kecuali bid’ah yang mengandung kesyirikan didalamnya, jika demikian, bukan hanya pernikahannya yang tidak sah bahkan islamnya pun bisa batal. Jika hanya kemaksiatan atau bid’ah yang tidak mengandung kesyirikan, in syaa Allah tetap sah namun mungkin bisa mempengaruhi keberkahan dalam pernikahan tersebut. Allahua’lam

2 Comments

  • Abdul Syukur says:

    Assalamu’alaikum wr. wb
    maaf pak ustad saya mw tanya :
    1.apa hukum nya acara , 7 bulanan bagi wanita hamil
    2.apa hukum nya jika bayi baru lahir dan potong rambut pertama di dalam aqiqahan ?

    • Al Lijazy says:

      Wa’alaikum Salam warahmatullahi wabaraakatuhu,
      Bismillah.
      Pertama : Acara selamatan untuk wanita yang sedang hamil 7 bulan dan semisalnya adalah bukan termasuk ajaran Islam. Maka kita wajib meninggalkannya karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melakukan tradisi itu ketika istri beliau Khadijah maupun putri beliau Fathimah radhiyallahu ‘anhuma sedang hamil.
      Demikian juga dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada seorang pun dari mereka yg melakukan tradisi seperti ini. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
      Jika tradisi itu dianggap ibadah maka Islam sudah sempurna tidak perlu tambahan ibadah buatan manusia. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
      الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً
      “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS.Al Maidah : 3)
      Kalaupun tetap memaksa melakukan tradisi ini, selain dia berdosa besar karena mengada-adakan ibadah baru dalam islam dan telah “Menandingi” Allah ‘Azza wa Jalla dalam membuat syariat , juga pastinya akan tertolak dan sia-sia. Seperti sabda Rasululllah saw :
      مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَد ٌّ
      “Barang siapa berbuat suatu amalan yang tidak ada padanya perintah kami (Allah dan Rasul-Nya), maka amalan itu tertolak .(H.R. Imam Muslim 3/1343/1718).

      Kedua : Hukum mencukur rambut bayi ketika aqiqah adalah sunnah.
      Berdasarkan beberapa dalil diantaranya dari Samurah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      الْغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ يُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُسَمَّى وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ
      “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelih pada hari ketujuh, diberi nama, dan digundul kepalanya.” (HR. Nasai 4149, Abu Daud 2837, dan Turmudzi 1522)
      Al Imam Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan :” Dianjurkan menggundul kepala bayi pada hari ketujuh dan diberi nama. Berdasarkan hadis Samurah. Jika dia bersedekah dengan perak seberat rambut itu, maka itu merupakan perbuatan yang baik. Berdasarkan hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada Fatimah ketika melahirkan Hasan: “Cukur rambutnya, bersedekahlah dengan perak seberat timbangan rambutnya kepada orang miskin dan ahlus sufah.” (HR. Ahmad)… (al-Mughni, 22:8)
      Hal itu jika memang mudah untuk melakukannya, namun jika tidak mampu mencukurnya, dengan sebab tidak ditemukan tukang cukur atau yang lainnya maka dalam keadaan seperti ini Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Pada hari tujuh kelahiran dianjurkan untuk menggundul rambut kepala anak laki-laki, lalu menyedekahkan perak seberat rambut tersebut. Hal ini dilakukan jika memungkinkan, artinya jika ditemukan tukang cukur bayi yang mampu menggundul habis rambut kepala bayi tersebut. Akan tetapi jika tidak ditemukan tukang cukur bayi, lalu orangtua bayi tersebut mensedekahkan perak yang diperkirakan seberat rambut kepala bayi tersebut. Maka kami harap tindakan tersebut boleh-boleh saja. Meskipun sebenarnya menggundul rambut kepala bayi pada hari ini memiliki dampak yang positif bagi pertumbuhan rambut. Akan tetapi dimungkinkan kita tidak menemukan tukang cukur yang mampu menggundul habis rambut kepala bayi disebabkan pada hari itu gerak bayi tidak bisa dikendalikan. Boleh jadi bayi bergerak pada saat kepalanya digundul. Di samping itu, kepala bayi masih lembut sehingga dimungkinkan bisa terluka oleh pisau cukur. Oleh karena itu, jika kita tidak menemukan tukang cukur yang mampu menggundul para bayi maka diperbolehkan menyedekahkan perak seberat rambut kepala bayi yang kita ketahui dengan cara menaksir. (Lihat as-syarhu al-Mumti’ Jilid VII hal 540-541)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *