Asy Syeikh Muhammad bin Shalih AlUtsaimin rahimahullah berkata :

dokter1Wahai saudara-saudaraku para dokter,
• Hendaknya dalam bekerja mengikhlashkan amal hanya karena Allah I, bukan hanya untuk mendapatkan gaji atau penghormatan dan lain-lain. Tapi bekerja untuk mengobati dan menghilangkan sakit dengan Takdir Allah I melalui usaha saudara-saudara sekalian. Dan dengan tujuan baik kepada orang yang saudara-saudara obati. Karena dengan niat yang ikhlas insyaAllah pekerjaan akan memberikan hasil yang baik ,begitu pula sebaliknya.
• Hendaknya bersungguh-sungguh untuk mengingatkan pasien untuk bertaubat, istighfar dan memperbanyak dzikir,membaca al Qur’an, terlebih untuk mengucapkan Dua Kalimat Syahadat.
. Sebab Rasulullah r bersabda :
كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
“Dua kalimat yang ringan di ucapkan dilisan, berat di timbangan dan dicintai Ar Rahman, yaitu Subhaanallahi wa bihamdihi subhaanallahil ‘adziim.”
insyaAllah pasien tidak sulit untuk mengucapkan kalimat tersebut dan doronglah pasien untuk menggunakan waktunya sebaik-baiknya.
• Ketika pasien hendak dalam kondisi hendak menjemput ajalnya maka tugas saudara-saudara adalah mentalqinnya dengan kalimat Syahadat Laa ilaaha illalloh Muhammadur Rasulullah. Sesuai dengan riwayat Abu Said Al Khudri rdhu Rasululah r bersabda :
لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
“Talqinkan orang yang mau meninggal diantara kalian dengan kalimat Laa ilaaha illallaah”
Dengan harapan mudah-mudahan Allah I menjadikan kalimat terakhirnya dengan kalimat tersebut. Sebab Rasulullah r bersabda:
مَنْ كَانَ آخِرُ قَوْلِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barang siapa di akhir hayatnya mengucapkan Laa ilaaha illallah maka akan masuk sorga.”
Tapi yang perlu diperhatikan dalam mentalqin yaitu hendaknya yang mentalqin tersebut adalah orang yang paling dicintai dan paling dekat dengan pasien sehingga pasien bisa dengan senang hati dan tenang berusaha mengucapkan kalimat Tauhid. Atau kalau memang tidak ada orang didekat pasien kecuali saudara-saudara maka hendaknya mentalqin dengan lemah lembut sehingga tidak membuat pasien takut dan enggan untuk mengucapkan kalimat tersebut.
Mungkin yang lebih baik dalam mentalqin adalah saudara-saudara berdzikir disampingnya dengan perlahan-lahan kalimat Laa ilaaha illallah,dengan begitu diharapkan pasien akan mengingat dan mengikuti apa yang saudara-saudara ucapkan.
• Apabila pasiennya orang kafir maka berusahalah mentalqinkannya dengan kalimat Syahadat atau minimal kalimat Laa ilaaha illallah. Seperti yang Rasulullah lakukan pada pamannya Abu Tholib ketika menjelang ajalnya,beliau berkata
يَا عَمِّ قُلْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ كَلِمَةً أُحَاجُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللهِ
“ Wahai pamanku katakana Laa ilaaha illallah,kalimat yang bisa aku gunakan sebagai hujjah untukmua di hadapan Allah kelak”
Juga seperti yang Rasulullah r lakukan pada seorang pemuda yahudi di Madinah ketika Beliau menjenguk pemuda tersebut disaat menjelang ajalnya beliau r menawarkan Islam kepada pemuda tersebut, lalu pemuda itu menoleh ke ayahnya seolah meminta ijin, maka ayahnya berkata “ Taatilah Abul Qasim”, lalu akhirnya pemuda itu masuk islam. Kemudian Rasulullah r bersabda “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka”. Rasulullah r memuji kepada Allah I atas berpindahnya agama pemuda itu dari yahudi ke Islam.
• Kemudian juga saudara-saudara tanyakan kepada pasien tentang sholatnya (yaitu tata cara sholat bagi orang sakit atau yang berkaitan dengan hukum sholat musafir dan sebagainya) dan cara bersucinya (bersuci bagi orang yang udzur karena sakit termasuk yang berkaitan dengan suci dan najisnya pakaian dan sebagainya),kalau pasien tidak tahu caranya ajarkan sesuai dengan ilmu yang saudara-saudara kuasai.
• Khusus dalam hal sholat saya nasehatkan agar saudara-saudara bersungguh-sungguh dalam hal mengadapkan pasien ketika sholat ke arah kiblat semampu mungkin, kalaupun memang tidak mampu maka katakanlah kepada pasien ”Bertaqwalah kamu kepada Allah I bagaimanapun keadaanmu” juga sampaikan Firman Allah I :
     
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (Al Baqoroh 286)
Juga Firman Allah I:
              
“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah, Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui”.( AlBaqarah 115)

• Berikutnya saya nasehatkan jika pasiennya lawan jenis, dalam arti suatu kondisi yang darurat yang menuntut seorang dokter laki-laki mengobati pasien wanita, maka jangan membuka bagian tubuhnya kecuali sekedar keperluannya saja, dan mengurangi obrolan dan penanganan untuk menghindari sesuatu yang melanggar syariat. Sebab “Syaithan berjalan di tubuh anak adam didalam aliran darahnya”.
• Kemudian jika pasien dijadikan dalam satu ruangan maka hendaknya saudara-saudara menasehati para pasien untuk tidak saling mengganggu satu sama lain,sebab terkadang ada pasien yang terkadang perbuatannya menggangu pasien lain. Misalnya dengan menimbulkan suara berisik yang mengganggu pasien lain, walaupun dengan membaca Al Qur’an kalau dengan suara yang keras hingga pasien lainya terganggu maka ini dilarang. Seperti yang di sabdakan Rasulullah r :
فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلَا يَرْفَعَنَّ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ
“Janganlah kalian saling mengganggu satu sama lain dan jangan saling mengeraskan suara sebagian kalian untuk sebagian yang lain dalam membaca Al Qur’an”
• Kemudian saya wasiatkan untuk para dokter supaya tidak memperbanyak obrolan dengan perawat wanita kecuali sesuai dengan tingkat kebutuhannya yang bersifat darurat dengan tetap berusaha menjaga pandangan. Karena ini termasuk perkara yang sangat berbahaya, dikarenakan obrolan itu terkadang bisa mendorong kepada hal-hal yang lebih buruk lagi.
• Dan saya juga berpesan kepada saudara-saudara untuk menjaga kedisiplinan waktu kerja. Jangan terlambat dari waktu masuk kerja dan jangan pulang dahulu sebelum waktu pulang. Karena waktu kerja itu bukan hak kalian sebab kalian telah mengambil upah dari jam kerjanya, yang setiap detik ada perhitungan upah bagi kalian. Maka tidak halal hukumnya bagi mereka yang terlambat dari jam kehadiran atau lebih maju dari jam kepulangan. Maka seseorang itu harus menunaikan dan menjaga amanahnya.

Disadur oleh : Abu Usamah Yahya Allijaziy muhadhoroh Syeikh Muhammad ibn Sholih Al Utsaimin Rohimahulloh dengan para dokter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *