Ilmu dan Keutamaannya

January 3, 2014

Secara bahasa, al-‘ilmu adalah lawan dari kata al-jahlu (ketidaktahuan). Maka ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dengan pasti.

Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu syar’i/ilmu agama, yaitu ilmu tentang keterangan-keterangan dan petunjuk yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya. Nabi shallallahu alaih wasallam bersabda: “Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan baginya, Allah akan membuatnya faqih dalam perkara agama.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) Beliau juga bersabda: “Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan emas dan perak. Yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud)

Yang diwariskan oleh para nabi adalah ilmu tentang syariat Allah, bukan ilmu yang lain. Mereka tidak mewariskan ilmu tentang perindustrian dan yang berkaitan dengannya. Ketika Rasulullah shallallahu alaih wasallam datang ke Madinah, beliau mendapati orang-orang di sana melakukan penyerbukan pohon kurma. Karena memandang pekerjaan ini membuat mereka susah, beliau berkata: “Sesungguhnya kalian tidak perlu melakukan ini.” Maka mereka pun mengerjakan apa yang dikatakan Nabi, dan tidak melakukan penyerbukan lagi. Namun ternyata kurma-kurma itu menjadi rusak. Maka Nabi shallallahu alaih wasallam bersabda: “Kalian lebih mengetahui urusan-urusan dunia kalian.” (HR. Muslim)

Seandainya ilmu keduniaan inilah yang terpuji, niscaya Rasulullah shallallahu alaih wasallam adalah orang yang paling mengetahuinya. Karena orang yang paling banyak dipuji dalam masalah ilmu dan amal adalah beliau shallallahu alaih wasallam.

Dengan demikian, ilmu yang terpuji dan yang disanjung pemiliknya adalah ilmu syar’i/ilmu agama. Namun demikian, tidak dipungkiri bahwa ilmu-ilmu yang lain juga memiliki faedah. Dengan ketentuan, jika ilmu-ilmu itu bisa membantu ketaatan kepada Allah, menolong agama-Nya, dan bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya. Mempelajari ilmu-ilmu keduniaan terkadang menjadi suatu kewajiban, ketika ia termasuk ke dalam apa yang dimaksud pada firman Allah taala: “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang.” (Al-Anfaal: 60)

Banyak ulama yang menyebutkan bahwa hukum mempelajari ilmu perindustrian adalah fardhu kifayah. Karena orang pasti membutuhkan wadah untuk memasak, minum dan keperluan-keperluan lainnya. Jika tidak ada seorangpun yang melakukan pekerjaan ini, hukum mempelajarinya adalah fardhu kifayah. Perkara ini adalah masalah yang diperselisihkan oleh para ulama.

Yang penting, ilmu yang terpuji secara mutlak adalah ilmu syar’i/ilmu agama, yaitu ilmu tentang Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaih wasallam. Adapun ilmu yang lain, ia bisa menjadi wasilah kebaikan atau wasilah keburukan, sehingga hukumnya sesuai dengan kebaikan atau keburukan yang dihasilkan.

 

Keutamaan Ilmu Agama

Allah subhaanahu wata’ala telah memuji ilmu sekaligus para ahli ilmu, dan menganjurkan hamba-hamba-Nya untuk membekali diri dengan ilmu. Demikian pula as-Sunnah al-Muthahharah.

Mempelajari ilmu agama termasuk amal shalih yang paling utama, dan ibadah tathawwu’ yang paling mulia karena ia termasuk jihad fi sabilillah. Agama Allah azza wa jalla hanya akan tegak dengan dua perkara. Pertama, dengan ilmu dan keterangan. Kedua, dengan perang dan pedang. Tidak mungkin agama Allah akan tegak dan menang kecuali dengan dua perkara ini. Dan ilmu itu lebih didahulukan daripada pedang. Oleh karena itulah Nabi shallallahu alaih wasallam tidak menyerang suatu kaum kecuali setelah dakwah Islam sampai kepada mereka.

Berikut ini beberapa keutamaan ilmu agama yang terpenting selain yang disebutkan di atas:

  1. Ilmu agama adalah warisan para nabi. Mereka tidaklah mewariskan emas dan perak. Akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak.
  2. Ilmu akan tetap sedangkan harta benda akan sirna. Abu Hurairah radhiallahu anhu adalah seorang sahabat yang fakir, dan pernah terjatuh karena lapar seperti orang yang terkena penyakit ayan. Namun orang masih sering menyebut beliau di zaman sekarang. Beliau akan terus mendapat pahala dengan sebab orang-orang yang mengambil manfaat dari hadits-hadits riwayat beliau. Nabi shallallahu alaih wasallam bersabda: “Apabila manusia telah meninggal, amalnya terputus kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
  3. Ilmu tidak sulit dijaga. Ketika Allah memberi ilmu kepada seseorang, tempatnya adalah di qalbu. Tidak perlu brankas, kunci atau yang lainnya untuk menjaga ilmu. Dan ilmu juga akan menjaga pemiliknya dari marabahaya, dengan izin Allah. Sedangkan pemilik harta menjaga hartanya dengan lemari besi, dan bersamaan dengan itu hati mereka masih merasa tidak tenang.
  4. Ilmu akan mengantarkan seseorang menjadi saksi atas kebenaran. Dalilnya ialah firman Allah taala: “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada sembahan yang haq selain Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu(juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada sembahan yang haq selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali-Imraan: 18)
  5. Orang berilmu adalah salah satu dari ulul amri yang harus ditaati berdasarkan perintah Allah dalam firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu…” (An-Nisaa: 59) Ulul amri disini mencakup umara/para pemimpin dan para hakim, ulama dan para penuntut ilmu. Wewenang ulama adalah dalam menjelaskan syariat Allah dan menyeru manusia kepadanya, sedangkan wewenang umara adalah dalam menerapkan syariat Allah tersebut dan melazimkan syariat itu kepada manusia.
  6. Orang-orang berilmu adalah orang-orang yang berdiri kokoh di atas perintah Allah sampai hari kiamat. Dalilnya ialah hadits Mu’awiyah radhiallahu anhu, dia berkata: “Aku mendengar Nabi shallallahu alaih wasallam bersabda: “Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan baginya, Allah akan menjadikannya faqih dalam perkara agama. Aku ini hanya pembagi dan Allah lah yang memberi. Senantiasa akan ada sekelompok orang dari umat ini yang tegak di atas perintah Allah. Tidak akan memberi mudarat kepada mereka orang-orang yang menyelisihi mereka, sampai datang perintah Allah.” (HR. al-Bukhari) Imam Ahmad berkata tentang sekelompok orang yang dimaksud dalam hadits ini: “Kalau bukan ahli hadits maka aku tidak mengetahui siapa mereka.” Al-Qadhi ‘Iyaadh berkata: “Yang dimaksud oleh Ahmad adalah ahlus sunnah dan orang-orang yang berkeyakinan seperti ahli hadits.”
  7. Ilmu adalah salah satu nikmat Allah. Nabi shallallahu alaih wasallam memperbolehkan sikap iri kepada orang yang memiliki nikmat ilmu. Beliau shallallahu alaih wasallam bersabda: “Tidak ada iri kecuali kepada dua golongan manusia: seorang yang Allah beri harta kemudian ia habiskan hartanya semaksimal mungkin dalam kebenaran, dan seorang yang Allah beri hikmah (ilmu) kemudian ia ajarkan ilmu itu, dan ia gunakan untuk memberikan keputusan hukum.” (al-Bukhari dan Muslim)
  8. Ilmu adalah jalan menuju surga. Nabi shallallahu alaih wasallam bersabda: “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
  9. Ilmu adalah cahaya penerang bagi seorang hamba. Dengan ilmu dia mengetahui bagaimana beribadah kepada Rabb-Nya, dan bermuamalah dengan hamba-hamba-Nya.

10. Seorang yang berilmu adalah sinar yang membimbing manusia dalam urusan agama dan dunia mereka. Kisah seorang laki-laki dari Bani Israil yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang tentu sudah kita ketahui. Dikisahkan bahwa ia bertanya tentang orang yang paling berilmu, namun yang ditunjukkan kepadanya adalah seorang ahli ibadah. Laki-laki itu bertanya kepada si ahli ibadah: “Apakah masih ada kesempatan taubat bagiku?” Karena si ahli ibadah memandang laki-laki ini telah melampaui batas, ia berkata: “Tidak.” Mendengar jawaban tersebut, laki-laki itu pun membunuhnya sehingga orang yang ia bunuh menjadi genap seratus. Kemudian laki-laki itu pergi kepada seorang yang berilmu, dan bertanya kepadanya dengan pertanyaan yang sama. Orang alim tersebut menjawab bahwa masih ada kesempatan taubat untuknya, dan tidak ada penghalang apapun antara dia dengan taubat. Lalu orang alim itu menunjukkan kepadanya suatu tempat yang penduduknya baik agar ia tinggal di sana. Laki-laki itu pun pergi ke tempat tersebut, namun di tengah perjalanan kematian datang menjemputnya. (HR. al-Bukhari) Lihatlah perbedaan antara si ahli ibadah yang bodoh dan orang yang berilmu.

11. Orang yang berilmu akan ditinggikan oleh Allah di dunia dan di akhirat. Di dunia, Allah akan meninggikan derajat mereka di antara hamba-hamba-Nya yang lain sesuai dengan perbuatan mereka terhadap ilmu tersebut. Dan di akhirat Allah akan meninggikan derajat mereka sesuai dengan amal dan dakwah yang mereka lakukan. Allah berfirman: “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Mujaadilah: 11)

 

(Disadur dari Kitab al-Ilmu, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *