Assallmua’alaikum pak ustad saya numpang shering ya pak
Nama saya nita pak umur saya 24 dan umur pasangan saya 23 pak kita ada rencana untuk menikah di thn 2017 tpi insyaallah
Tapi mohon maaf pak ustd ada salah seorang orang tua dari pasangan lelaki tidak merestui saya untuk menikah dengan anaknya
Tapi pasangan saya tetep kekeh mau nikah sama saya sampai misalakan dia masih tidak di ijinin nikah dengan orang tuanya dia nekad kabur dan mau menikah siri dengan saya
Mohon penjelasannya ya pak ustd
Jawaban dari Al Ustadz Yahya Al Lijaziy,
Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah,
Yang kami soroti tentang cerita anda tersebut adalah rencana calon anda untuk membawa kabur anda dan nikah sirri, berarti yang kami tangkap nikah siri anda dengan tanpa sepengetahuan orang tua anda, yaitu tentunya disini anda akan menikah dengan perantara wali hakim sedangkan wali nasab anda masih ada meskipun mereka tidak merestui, ini masalah pertama.
Pembahasan untuk masalah yang pertama yang perlu anda ketahui adalah,
Pertama, wali nikah bagi wanita merupakan rukun dalam akad nikah
Keberadaan wali merupakan rukun dalam akad pernikahan. Karena itu, tidak sah menikah tanpa wali. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan kesimpulan, ini, diantaranya,
Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ
“Tidak sah nikah kecuali dengan adanya wali.” (HR. Abu Daud 1785, Turmudzi 1101, dan Ibnu Majah 1870).
Dari Aisyah radhiallahu anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ
“Wanita manapun yang menikah tanpa seizin walinya maka nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal. (HR. Ahmad 24205, Abu Daud 2083, Turmudzi 1021, dan yang lainnya).
Kedua, tidak semua orang bisa seenaknya menjadi wali nikah.
Allah menghargai hubungan kekeluargaan manusia. Karena itu, kelurga lebih berhak untuk mengatur dari pada orang lain yang bukan kerabat. Allah berfirman,
وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Orang-orang yang mempunyai hubungan Kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Anfal: 75)
Bagian dari hak ’mengatur’ itu adalah hak perwalian. Karena itu, kerabat lebih berhak menjadi wali dibandingkan yang bukan kerabat. Lebih dari itu, kerabat yang berhak menjadi wali juga ada urutannya. Sehingga orang yang lebih dekat dengan wanita, dia lebih berhak untuk menjadi wali bagi si wanita itu.
Urutan kerabat ayah yang berhak menjadi wali nikah, dijelaskan Al-Buhuti berikut,
ويقدم أبو المرأة الحرة في إنكاحها لأنه أكمل نظرا وأشد شفقة ثم وصيه فيه أي في النكاح لقيامه مقامه ثم جدها لأب وإن علا الأقرب فالأقرب لأن له إيلادا وتعصيبا فأشبه الأب ثم ابنها ثم بنوه وإن نزلوا الأقرب فالأقرب
Lebih didahulukan ayah si wanita (pengantin putri) untuk menikahkannya. Karena ayah adalah orang yang paling paham dan paling menyayangi putrinya. Setelah itu, penerima wasiat dari ayahnya (mewakili ayahnya), karena posisinya sebagaimana ayahnya. Setelah itu, kakek dari ayah ke atas, dengan mendahulukan yang paling dekat, karena wanita ini masih keturunannya, dalam posisi ini (kakek) disamakan dengan ayahnya. Setelah kakek adalah anak si wanita (jika janda), kemudian cucunya, dan seterusnya ke bawah, dengan mendahulukan yang paling dekat. (Ar-Raudhul Murbi’, hal. 1/100)
Dan tidak boleh kerabat yang lebih jauh menjadi wali nikah sementara masih ada kerabat yang lebih dekat. Karena semacam ini sama halnya dengan merampas hak perwalian, sehingga nikahnya tidak sah.
Al-Buhuti mengatakan,
وإن زوج الأبعد أو زوج أجنبي ولو حاكما من غير عذر للأقرب لم يصح النكاح لعدم الولاية من العاقد عليها مع وجود مستحقها
Jika wali yang lebih jauh menikahkannya, atau orang lain menjadi walinya, meskipun dia hakim (pejabat KUA), sementara tidak ada izin dari wali yang lebih dekat maka nikahnya tidak sah, karena (dianggap) tidak adanya perwalian ketika proses akad, sementara orang yang lebih berhak (untuk jadi wali) masih ada.” (Ar-Raudhul Murbi’, 1/10)
Ketiga, kapan wali hakim berperan?
Wali hakim berperan ketika calon wanita sudah tidakbuku-nikah memiliki wali lagi dari nasab atau kerabat,
Dalam hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَإِنْ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ
Jika terjadi sengketa antara mereka, maka penguasa menjadi wali untuk orang yang tidak memiliki wali. (HR. Ahmad 24205, Abu Daud 2083, Turmudzi 1021, dan yang lainnya).
Jadi kesimpulannya berdasarkan cerita anda jika anda nekat melanjutkan rencana anda maka status pernikahan anda dengan perantara wali hakim dengan keadaan wali nasab masih ada,maka saya mengkhawatirkan bahwa pernikahan tersebut tidak sah. Jadi percuma saja anda menikah toh jatuhnya zina juga.
Maka itu saran kami, coba dipelajari dahulu alasan apa orang tua tidak merestui hubungan kalian, in syaaAllah kalau kita sabar setiap rintangan pasti bisa kita lalui dengan baik. Dan kami saat ini belum bisa kasih solusi sebab anda belum menceritakan alasan orang tua anda tidak merestui hubungan kalian. Allahua’lam semoga dimudahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *