Bagaimana Seorang Pekerja Menunaikan Amanahnya

Dalam kehidupan ini manusia tidak akan pernah lepas dari amanah yang dibebankan kepadanya. Siapapun dia dan sebagai apapun profesinya. Namun kenyataan yang ada tidak jarang kita melihat berbagai macam kerusakan dimana-mana. Kerusakan yang terjadi di berbagai lapisan masyarakat, dari masalah pencurian, tipu muslihat, sumpah palsu, perselingkuhan, korupsi, suap menyuap, manipulasi dan masih banyak tindak kejahatan yang membuat hati miris.
Salah satu penyebab dari semua itu adalah mereka telah menyia-nyiakan amanah yang telah dibebankan kepadanya. Sungguh benar apa yang telah disabdakan Rasulullah r :
أَوَّلُ مَا تَفْقِدُوْنَ مِنْ دِيْنِكُمْ الأَمَانَةَ وَآخِرُهُ الصَّلَاة
“Yang pertama hilang(disia-siakan) di dalam Agama kalian adalah amanah dan terakhirnya (disia-siakan) adalah sholat”.
Untuk itu perlu kita ketengahkan tentang permasalahan amanah, seberapa agungnya kedudukan amanah dalam Islam dan juga betapa dahsyatnya ancaman Allah I untuk mereka yang menyia-nyiakan amanah.
Allahul Musta’aan

Makna amanah.
Amanah berasal dari kata “a-mu-na – ya‘munu – amnan wa amânatan” yang artinya jujur atau dapat dipercaya. Secara bahasa, amânah dapat diartikan sesuatu yang dipercayakan atau kepercayaan. Amanah juga berarti titipan (al-wadî‘ah).
Dan secara istilah Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah membawakan beberapa perkataan sahabat dan tabi’in tentang makna amanah dengan menyatakan bahwa makna amanah adalah ketaatan, kewajiban-kewajiban, (perintah-perintah) agama, dan batasan-batasan hukum. Sedangkan lawan dari amanah adalah khianat, yang artinya adalah إِضَاعَةُ الأَمَانَةِ yaitu menyia-nyiakan amanah.
Dengan demikian berarti amanah terjadi di atas ketaatan, ibadah, “al-wadî’ah” (titipan),dan“Ats tsiqoh” (kepercayaan). Oleh karena itu amanah merupakan sesuatu yang dipercayakan untuk dijaga, dilindungi dan dilaksanakan sebaik-baiknya.

Ayat-ayat Al Qur’an Yang Menjelaskan Tentang Wajibnya Menunaikan Amanah

1. Firman Allah I :
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat”.(An Nisa :58)

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah di dalam Tafsirnya berkata : Allah I telah mengabarkan bahwa sesungguhnya Dia memerintahkan (kepada kita) untuk menunaikan amanah kepada pemiliknya. Dalam sebuah hadits dari al Hasan, dari Samurah radhiallahu’anhu beliau berkata sesungguhnya Rasulullah r bersabda:

أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْـتَمَنَكَ، وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ
“Tunaikanlah amanah kepada orang yang memberimu amanah dan jangan khianati orang yang telah mengkhianatimu”.
Ini mencakup seluruh jenis amanah yang wajib atas seseorang untuk menunaikannya. Baik amanah itu berupa hak-hak Allah I atas hambaNya, seperti menunaikan shalat, zakat, kaffarat (denda), nadzar, puasa, dan lain-lainnya yang ia terbebani dengannya yang tidak terlihat oleh hamba-hamba Allah I yang lain. Ataupun berupa hak-hak sesama manusia, seperti barang-barang titipan dan yang semisalnya, yang mereka saling mempercayai satu sama lain dengan tanpa ada bukti atasnya. Maka, Allah I telah memerintahkannya untuk menunaikannya.
Barangsiapa tidak menunaikannya di dunia maka akan diambil darinya pada hari Kiamat kelak.

2.Firman Allah I :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. (Al Anfal:27)

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata,”… Dan khianat, mencakup seluruh perbuatan dosa, baik yang kecil maupun yang besar, baik (dosanya) terahimahullahdap dirinya sendiri maupun terahimahullahdap orang lain. ‘Ali bin Abi Thalhah radhiallahu’anhu berkata, dari Ibnu ‘Abbas, tentang firmanNya ( أَمَانَاتِكُمْ وَتَخُونُواْ ) amanah adalah seluruh perbuatan yang telah Allah bebankan kepada hamba-hambaNya (untuk di tunaikan) yaitu yang berupa kewajiban-kewajiban. Dan maksud “janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat” adalah, janganlah kamu menggugurkannya.
Dalam sebuah riwayat, ‘Ibnu Abbas menjelaskan maksud firmanNya:
   …
“Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul…”
Beliau berkata : Dengan cara meninggalkan sunnah Nabi r dan melakukan maksiat kepada Nabi r”.

3. Firman Allah I:
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.(Al Ahzab: 72)

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, setelah membawakan beberapa perkataan dari Sahabat dan Tabi’in radhiallahu’anhum tentang makna amanah ini, beliau berkata: “Seluruh perkataan ini, tidak ada pertentangan satu sama lain. Bahkan seluruhnya bermakna sama dan kembali kepada satu makna, yaitu pembebanan, penerimaan perintah-perintah dan larangan-larangan dengan syarat-syaratnya. Dan hal ini, jika seseorang menunaikannya, maka ia akan diberi pahala. Namun, jika ia menyia-nyiakannya, maka ia pun akan disiksa. Akhirnya, manusialah yang menerima amanah ini, padahal ia lemah, bodoh, lagi berbuat zhalim. Kecuali orang yang diberi taufiq oleh Allah I, dan Allah I lah tempat memohon pertolongan”.

4. Firman Allah I :
وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ
“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya”.( Al mukminun : 8)dan (Al Ma’arij:32)

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsirnya berkata: “Maksudnya, apabila mereka diberi amanah (dalam suatu urusan), maka mereka tidak berkhianat. Dan apabila mereka mengadakan perjanjian, mereka tidak menyelisihinya. Demikianlah sifat orang-orang yang beriman. Dan kebalikan dari ini, adalah sifat orang-orang munafik. Sebagaimana diterangkan dalam hadits shahih riwayat Abu Hurairah radhiallahu’anhu beliau berkata Rasulullah r bersabda :
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ
“Tanda orang munafiq ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia menyelisihi janjinya, dan apabila diberi amanah (kepercayaan) ia berkhianat.”.

5. Firman Allah I :
وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آَثِمٌ قَلْبُهُ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya”.(Al Baqarah:283)

Hadits-hadits Rasulullah r yang menerangkan tentang wajibnya menunaikan amanah.

Terpampang secara jelas dari beberapa Hadits yang menunjukkan tentang wajibnya menunaikan amanah, serta didalamnya terdapat peringatan keras bagi mereka yang menyia-nyiakannya. Diantaranya :

1. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah r bersabda :
أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ .

“Tunaikanlah amanah kepada orang yang engkau dipercaya (untuk menunaikan amanah kepadanya), dan jangan khianati orang yang telah mengkhianatimu.”
Berkaitan dengan perintah Rasulullah r dalam Hadits ini, Asy Syaikh al Mubarakfuri rahimahullah berkata: “Perintah (di dalam Hadits ini) menunjukkan wajibnya hal tersebut”.

2. Juga terdapat Hadits yang menerangkan salah satu ciri-ciri kiamat adalah apabila amanah telah disia-siakan,seperti dalam riwayat Abu Hurairah radhiallahu’anhu beliau berkata :
بَيْنَمَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ ، جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ ، قَالَ : مَتَى السَّاعَةُ ؟ فَمَضَى رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُحَدِّثُ ، فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ : سَمِعَ مَا قَالَ : فَكَرِهَ مَا قَالَ ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ : بَلْ لَمْ يَسْمَعْ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيثَهُ ، قَالَ : أَيْنَ السَّائِلُ عَنِ السَّاعَةِ ؟ قَالَ : هَأَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : إِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ ، قَالَ : كَيْفَ إِضَاعَتُهَا ؟ قَالَ : إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ عَلَى غَيْرِ أَهْلِهِ ، فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

“Tatkala Rasulullah r berada dalam sebuah majelis (dan) berbicara dengan sekelompok orang, tiba-tiba datang kepada beliau seorang badui(orang pedalaman) dan langsung berkata, “Kapankah hari kiamat?”. Namun Rasulullah r tetap melanjutkan pembicaraannya, maka sebagian orang ada yang berkata, “Beliau r mendengar ucapannya, namun Beliau r tidak menyukainya”. Dan sebagian yang lain berkata: “Bahkan beliau tidak mendengarnya,” hingga akhirnya Rasulullah r selesai dari pembicaraannya, dan beliau pun bersabda, “Dimana orang yang tadi bertanya tentang hari kiamat?” Orang itu berkata,”Saya, wahai Rasulullah.” Rasulullah r bersabda,”Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari kiamat!” Orang itu kembali bertanya,”Bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?” Rasulullah r bersabda,”Apabila suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah hari kiamat!”

3. Beliau juga meriwayatkan tentang ciri-ciri orang munafik adalah khianat yaitu menyia-nyiakan amanah:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ
“Tanda orang munafiq ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia menyelisihi janjinya, dan apabila diberi amanah (kepercayaan) ia berkhianat.”.

Disadur dari Kitab Kaifa yu’addil muwadzdzofu al amaanata, Syeikh Abdul Muhsin Al Abbad Hafidzahulloh

salah-satu-ruangan-kerja-untuk-karyawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *