Bagi Anda yang ingin bertanya atau berkonsultasi dengan asatidzah pengasuh silakan menggunakan formulir di bawah ini.
Arsip konsultasi berbagai tema yang sudah dijawab bisa disimak di kategori Tanya-Jawab http://salaf.or.id/category/tanya-jawabSemoga bermanfaat. Baarokallohufiikum.

188 Comments

  • Alif Ihsan Syahroni says:

    Assalaamu’alaikum
    Saya mau tanya :
    1. Apakah jika kita berdzikir ba’da sholat subuh dan magrib bisa diniatkan juga untuk dzikir pagi dan petang dikarenakan ada beberapa dzikir yang sama seperti membaca ayat kursi, Al Ikhlas, Al falaq, Annas 3x ?
    2. Apakah ada dalilnya membaca dzikir laailahaillallahu sebanyak bilangan tertentu ba’da sholat fardhu seperti yang sering di praktekkan banyak kaum muslimin di Indonesia?

    Syukron

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,
      1] In syaa Allah boleh dengan beberapa alasan, diantaranya :
      Pertama : Pendapat yang kuat memang dzikir pagi itu dimulai ba’da shubuh hingga zawal (matahari tergelincir ke barat). Pendapat ini dikuatkan Al Lajnah Ad Daimah dalam fatawanya dan menjadi pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih All ‘Utsaimin dalam kajian Liqa’ Al Bab Al Maftuh.
      Kedua : Menggabungkan dua amalan sunnah dalam satu amalan adalah perkara yang dibolehkan menurut kesepakatan ahli ilmu. Allahua’lam

      2] Kami belum dapatkan dalilnya membaca dzikir laa ilaaha illallahu saja dengan jumlah tertentu setiap selesai shalat fardhu. Hanya saja ada anjuran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berdzikir kalimat tasbih, tahmid, takbir dan tahlil dengan jumlah tertentu disetiap saat. Seperti dalam hadits ini :
      عَنْ أُمِّ هَانِئٍ بِنْتِ أَبِى طَالِبٍ قَالَ قَالَتْ مَرَّ بِى ذَاتَ يَوْمٍ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى قَدْ كَبِرْتُ وَضَعُفْتُ – أَوْ كَمَا قَالَتْ – فَمُرْنِى بِعَمَلٍ أَعْمَلُهُ وَأَنَا جَالِسَةٌ. قَالَ « سَبِّحِى اللَّهَ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ رَقَبَةٍ تُعْتِقِينَهَا مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاحْمَدِى اللَّهَ مِائَةَ تَحْمِيدَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ فَرَسٍ مُسْرَجَةٍ مُلْجَمَةٍ تَحْمِلِينَ عَلَيْهَا فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَكَبِّرِى اللَّهَ مِائَةَ تَكْبِيرَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ بَدَنَةٍ مُقَلَّدَةٍ مُتَقَبَّلَةٍ وَهَلِّلِى اللَّهَ مِائَةَ تَهْلِيلَةٍ – قَالَ ابْنُ خَلَفٍ أَحْسِبُهُ قَالَ – تَمْلأُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلاَ يُرْفَعُ يَوْمَئِذٍ لأَحَدٍ عَمَلٌ إِلاَّ أَنْ يَأْتِىَ بِمِثْلِ مَا أَتَيْتِ بِهِ ».
      “Dari Ummi Hani’ binti Abu Thalib dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewatiku pada suatu hari, lalu saya berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, saya sudah tua dan lemah, maka perintahkanlah kepadaku dengan amalan yang bisa saya lakukan dengan duduk.” Beliau bersabda: “Bertasbihlah kepada Allah seratus kali, karena itu sama dengan kamu membebaskan seratus budak dari keturunan Isma’il. Bertahmidlah kepada Allah seratus kali karena itu sama dengan seratus kuda berpelana yang memakai kekang di mulutnya, yang kamu bawa di jalan Allah. Bertakbirlah kepada Allah dengan seratus takbir karena ia sama dengan seratus unta yang menggunakan tali pengekang dan penurut. Bertahlillah kepada Allah seratus kali.” Ibnu Khalaf berkata; saya mengira beliau bersabda: “Karena ia memenuhi di antara langit dan bumi, dan pada hari ini tidaklah amalan seseorang itu diangkat kecuali akan didatangkan dengan semisal yang kamu lakukan itu.” (HR. Ahmad 6/344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Ash Shilsilah Ash Shahihah no. 1316)
      Allahua’lam

    • andy gunawan says:

      Assalamualaikum ustadz,sy bekerja di bank konvensional,apakah bunga bank riba? Istri sy tdk bekerja sdh resign dr bank,keinginan sy utk resign dr bank tsb sangat kuat,tp ortu blm setuju dan terkadang sy msh ragu2 apakah yg hrs sy lakukan? Kl saya resign dana pensiun/jamsostek apkah juga termasuk riba? Demikian trimakasih.

      • Al Lijazy says:

        Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
        Tentang hukum bunga bank konvensional telah sepakat para ahli ilmu tentang ribanya. Bahkan justru di dalam bank konvensional itulah inti dari praktek riba.
        Tentang anda mau resign tidak disetujui ortu, pilihan ditangan anda, anda sebagai laki-laki kepala keluarga secara syar’i tidak ada yang berhak menghalangi langkah keputusan anda, jika anda mau terus tenggelam dengan harta haram dan memberi makan keluarga anda dengan harta haram, itu pilihan anda dan anda sendiri yang menanggung segala dunia akherat.
        Ancaman Allah Ta’ala tentang pelaku riba sudah jelas, maka itu jangan mengharapkan ridho makihluq siapapun untuk bermaksiyat pada Allah Ta’ala. Takutlah hanya kepada Allah Ta’ala yang adzabnya sangat pedih.
        Dan semua dana yang bersumber dari bank ribawi maka semuanya termasuk harta haram, sebab bank tersebut mengembangkan hartanya dengan cara riba, maka itu jangan mempergunakannya kecuali untuk sesuatu yang hina pula, misalkan untuk bangun WC umum, jalanan umum dan sebagainya. Yang jelas jangan untuk keperluan ibadah, makan dan keperluan sehari-hari. Allahua’lam

  • Bilal says:

    Bismillah, Alhamdulillah, wa sholatu wa salam ‘ala rasulillah

    Permisi Tadz, mau bertanya masalah fiqh jual beli, semoga ada waktu untuk menjawab..Jazaakallahu khairan

    Soal:

    1.) A ingin membeli motor seharga 20 jt , namun hanya punya uang 10jt

    2.) B seorang pebisinis kreditor biasa memberikan kredit barang kepada orang dan berusaha
    mengikuti aturan agama dalam berbisnis (syariah)

    3.) B ingin membelikan motor tsb namun qadarullah hanya punya uang 10 jt

    Bolehkah apabila si A memberikan pinjaman hutang uang ke B (akad hutang uang) sebesar 10jt, yang lalu si B mempunyai uang 20 jt dan membeli motor tersebut.

    Kemudian si B setelah membeli motor, menjual lg motor tsb ke si A,(akad jual-beli) dengan harga 25jt dengan tempo cicil selama 1 tahun,
    yang pada prakteknya lalu si A hanya membayar 15 jt saja dalam setahun ( karena dipotong hutang 10 jt diawal)

    Pertanyaan : Apakah muamalah yang disebutkan diatas diperbolehkan, mohon penjelasannya.

    Baarakallahufiikum

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,
      1] kami khawatir hal tersebut masuk ke dalam larangan setiap pinjaman yang memiliki manfaat adalah riba. Kaidah ini dinukil kesepakatannya oleh Ibnu Hazm, Ibnu Abdil Barr dan selainnya. Allahua’lam
      2] Yang kami soroti juga krediturnya. Dia membelikan barang dan mengkreditkannya setelah dapat permintaan dari pembeli. Kasus seperti ini Syeikh Ibnu Utsaimin melarangnya, seperti yang beliau jelaskan dalam Fatawa Mu’ashirah, hal. 52-53, dari Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin, beliau menjelaskan :
      “ Akan tetapi kredit (angsuran) yang dikenal di kalangan orang-orang saat ini adalah termasuk dalam bentuk pengelabuan terhadap riba. Teknisnya ada beberapa cara, di antaranya :

      Pertama : “ Seseorang memerlukan sebuah mobil, lalu datang kepada si pedagang yang tidak memilikinya, sembari berkata, “Sesungguhnya saya memerlukan mobil begini”. Lantas si pedagang pergi dan membelinya kemudian menjual kepadanya secara kredit dengan harga yang lebih banyak. Tidak dapat disangkal lagi, bahwa ini adalah bentuk pengelabuan tersebut, karena si pedagang mau membelinya hanya karena permintaannya dan bukan membelikan untuknya karena kasihan terhadapnya tetapi karena demi mendapatkan keuntungan tambahan, seakan dia meminjamkan harganya kepada orang secara riba (memberikan bunga, pent), padahal para ulama berkata, “Setiap pinjaman yang diembel-embeli dengan tambahan, maka ia adalah riba”. Jadi, standarisasi dalam setiap urusan adalah terletak pada tujuan-tujuannya.”

      Kedua : “ Bahwa sebagian orang ada yang memerlukan rumah tetapi tidak mempunyai uang, lalu pergi ke seorang pedagang yang membelikan rumah tersebut untuknya, kemudian menjual kepadanya dengan harga yang lebih besar secara tangguh (kredit). Ini juga termasuk bentuk pengelabuan terhadap riba, sebab si pedagang ini (asalnya) tidak pernah (berhajat) menginginkan rumah tersebut, meskipun ditawarkan kepadanya dengan separuh harga dia tidak akan membelinya (karena memang tidak ada hajat untuk membelinya), akan tetapi dia membelinya hanya karena merasa ada jaminan riba bagi dirinya dengan menjualnnya kepada orang yang berhajat tersebut.”
      Allahua’lam, wa fiikal barakah in syaa Allah

  • Tri kurniawati says:

    Bismillah.
    Mau tanya,bagaimana sikap kita terhadap saudara kandung yang murtad? Ortu kurang keras dalam mendidik anak, saya sampai sekarang sudah putus komunikasi sama saudara dan sudah berusaha menasehati tapi tidak ada hasil, jazaakumullohu khoiron.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, tentunya apa yang terjadi pada saudara kandung penanya tersebut adalah musibah baginya yang kita wajib berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar tidak menimpa kita dan agar Allah ‘Azza wa Jalla tetap menjaga kita untuk selalu kokoh dalam Islam hingga akhir hayat kita.
      Adapun apa yang telah terjadi, yakni saudara kandung penanya yang murtad ( keluar dari Islam ) tentunya ada sikap dari kita sebagai seorang muslim, diantaranya yaitu kita bara’ ( berlepas diri) darinya dan kekufurannya dan tidak wala’ ( mendukung / loyal ) terhadap ibadah dan ajaran barunya.
      Jika sikap penanya memilih memutus hubungan dengannya diusahakan agar dengan sikap seperti itu ada manfaat yang bisa diambil. Misalkan dengan didiamkan akan membuat dia berfikir dan bertaubat dari kekufurannya, dan tentunya ini yang kita inginkan.
      Namun dibalik sikap tersebut masih ada kesempatan bagi kita kita untuk menasehati dengan menyentuh hatinya agar bisa kembali kepada Islam, dan ini wajib hukumnya, meskipun dengan cara mengunjunginya dan menasehatinya, atau dengan metode ta’lif ( melembutkan hatinya ) dengan hadiah atau semisalnya. Namun jika sudah dinasehati dia tetap kokoh dengan kekufurannya tentunya kita tetap bara’ padanya hingga ia kembali kepada Islam.

      Mungkin ada yang perlu kita renungkan dari penjelasan Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ( dikutip dari buku Al Wala’ dan Al Bara’ Terhadap Orang Kafir, penulis Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah ) ketika beliau ditanya :

      Bagaimana hukum mencintai orang kafir dan lebih mengutamakan mereka dari pada kaum muslimin?

      Beliau menjawab, tidak ada keraguan bahwa orang yang mencintai orang kafir lebih dari kaum muslimin berarti dia telah melakukan keharaman yang besar. Karena sesungguhnya ia wajib mencintai kaum muslimin, dan cintanya untuk mereka sebagaimana kecintaan untuk dirinya. Adapun mencintai musuh-musuh Allah ‘Azza wa Jalla lebih dari kaum muslimin maka ini adalah bahaya besar dan haram baginya. Bahkan tidak boleh mencintai mereka meski lebih sedikit dari kaum muslimin.
      Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
      “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka.” (Al-Mujadalah: 22)
      Adapun orang-orang kafir karena murtad maka wajib di-hajr dan dijauhi. Jangan diajak duduk-duduk dan makan-makan jika sudah dinasehati dan didakwahi untuk kembali kepada Islam, namun mereka (tetap) menolak. Karena orang yang murtad tidak boleh dibiarkan pada kemurtadannya, namun diajak untuk kembali kepada agama yang ia keluar darinya. Jika dia menolak, wajib untuk membunuhnya ( oleh pemerintah yang sah. –pent-). Dan jika dibunuh karena murtad, maka ia tidak dimandikan, tidak dikafani, tidak dishalati, dan tidak dikubur bersama kaum muslimin. Akan tetapi dibuang dengan pakaian dan darahnya yang najis di lubang yang jauh dari pekuburan kaum muslimin di tanah yang tidak bertuan.

      Adapun orang kafir yang tidak murtad dan merupakan kerabat, mereka tetap punya hak kekerabatan sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

      “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (Al-Isra: 26)

      Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang dua orang tua yang kafir dan musyrik:

      “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik…” (Luqman: 15)

      Allahua’lam

  • Tri kurniawati says:

    Bismillah.
    Bagaimana sikap saya punya suami ikhwan tapi sering telfon sama wanita bukan mahrom dengan ucapan selayaknya orang kangen dalam waktu lama dan di hp ada nomer wanita-wanita utk hiburan, kalo saya tanya dia tidak mau jujur. Untuk memenuhi kebutuhan istri sama anak seringnya ngangluh, sedangkan dia makan sama teman diluar sana merasa bangga. Apa saya harus diam karena saya sudah berusaha menasehati tapi dia malah marah.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, Kita ma’lumi bahwa setiap wanita shalihah pasti mendambakan pasangan hidup dari laki laki yang shalih, sehingga ia dapat membimbingnya dalam agama serta menuntunnya diatas jalan menuju surga Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab, suami adalah imam bagi rumah tangga, jika ia baik niscaya kondisi rumah tangga akan menjadi baik, namun jika ia fasik maka akan terjadi ketimpangan agama dan akhlak pada keluarga tersebut. Dan tentunya wanita yang shalihah tidak layak mendapat pemimpin yang seperti ini. Allah Ta’ala dalam Al Quran telah memerintahkan kita untuk memilih pasangan hidup sesuai keadaan agama kita, baik itu pria maupun wanita, sebagaimana Firman-Nya,
      “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga). “ (an-Nur : 26)
      Demikian juga Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan kepada wali perempuan untuk menikahkan putrinya kepada orang yang baik agamanya.
      إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ
      “Jika datang kepada kalian seorang (pelamar) yang kalian ridhai agamanya serta akhlaknya maka nikahkanlah ia(dengan putri kalian) jika tidak kalian lakukan maka akan terjadi Fitnah(cobaan) di muka bumi dan kerusakan yang luas.” [Riwayat at-Tirmidzi, Syeikh al-Albani rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi ]

      Namun bagaimana jika semua usaha telah dilakukan untuk mendapat pasangan hidup yang baik, akan tetapi ternyata sang suami berubah di kemudian hari, ia menjadi pelaku maksiat, waliyaadzubillah , karena tidak menutup kemungkinan hal yang demikian bisa terjadi kepada siapa saja, sebagaimana keyakinan dari ahlu sunnah bahwa iman seseorang terkadang naik dan turun dan manusia itu tidak pernah lepas dari kesalahan dan dosa.

      Dalam keadaan demikian hendaklah sang istri melihat dengan terperinci dan bijaksana dosa-dosa yang dilakukan sang suami dengan rincian sebagai berikut :
      Pertama : Jika suami melakukan dosa kecil ( artinya tidak sampai ke derajat dosa besar yang mendapatkan ancaman neraka Allah ‘Azza wa Jalla ) maka hendaknya ia bersabar dengan menasihatinya dengan Al Qur’an dan As Sunnah sesuai kemampuan dengan cara yang baik ( tidak seperti menggurui hingga terkesan membodohkan sang suami ), ditambah lagi dengan selalu berdoa kepada Allah Ta’ala agar memberinya hidayah. Selain itu tidak boleh baginya untuk menceritakan hal tersebut kepada orang lain, karena ini merupakan aib suami.

      Kedua : Jika suami melakukan dosa besar ( dosa yang mendapat ancaman neraka atau laknat dari Allah Ta’ala ) semisal minum khamer, zina dan sebagainya maka yang harus ditempuh sang istri :
      – Tetap menasihatinya dengan cara yang baik dengan meminta suaminya untuk segera bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Tentunya senantiasa diiringi berdoa kepada Allah Ta’ala dengan khusyu’ dan ikhlash agar suaminya dapat kembali ke jalan yang lurus.

      – Jika dengan cara pertama tidak berubah atau bahkan terjadi keributan dan malah menjadi-jadi dalam berbuat maksiat maka hendaknya sang istri meminta bantuan pihak ketiga, yaitu orang tua suami atau saudaranya yang ia segani. Diharapkan dengan ini akan berubah dengan sebab nasihat dari keluarga dan kerabat sendiri tanpa melibatkan orang lain yang bukan kerabat. Namun jika ia tidak mendapatkan orang yang bisa menasehatinya pada keluarganya, maka si istri boleh melibatkan orang lain yang dihormati suami dalam urusan agama.

      – Apabila suami tetap tidak berubah maka sang istri hendaknya memperhatikan, yakni apabila dosa besar yang dilakukan suaminya tersebut adalah dosa yang sangat berpengaruh pada agama istri dan keluarga maka jalan yang terakhir adalah meminta cerai (khulu’), namun tentunya dengan pertimbangan syar’I dan kesiapan mental yang matang. Namun jika dosa itu hanya kembali pengaruhnya kepada suami saja maka hendaknya istri bersabar dan terus berusaha semampunya untuk menasihati, walaupun boleh baginya meminta cerai. Sebab dalam hadits disebutkan,
      عَنْ ثَوْبَانَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاَقًا فِى غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ.
      “Dari Tsauban radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,’Wanita mana saja yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan syar’i maka haram baginya bau surga.’” [Riwayat Abu Dawud no. 2228, at-Tirmidzi No. 1187. Hadis ini dishahihkan oleh al-Albani dalam ta’liq-nya]
      – Namun apabila dosa tersebut merupakan perbuatan syirik besar atau kekufuran yang membatalkan islam dan suami tidak mau bertobat dari perbuatan tersebut meskipun telah ditegakkan hujah atasnya, maka wajib bagi istri bercerai dengan suami. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala :
      “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka, maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana “ [al-Mumtahanah: 10 ]
      Nasehat untuk kita semua terkhusus kepada sang suami dari penanya hendaklah merenungkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang menerangkan bahwa suami adalah pemimpin keluarga maka hendaknya ia mengemban amanah ini dengan baik, karena ia akan ditanya tentang kepemimpinannya di hari kiamat. Dalam sebuah hadis disebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
      عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَمَسْؤُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا
      “Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, “Aku mendengar Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, ‘Setiap kalian pemimpin dan akan dimintai tanggung jawab tentang apa yang ia pimpin, dan imam (umaro’) adalah pemimpin dan akan dimintai tanggung jawab tentang rakyatnya, dan seorang laki laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai tanggung jawab tentang apa yang ia pimpin, dan seoarang perempuan di rumah suaminya adalah pemimpin dan ia akan dimintai tanggung jawab tentang apa yang ia pimpin…’” [Riwayat Bukhari No. 2751. Muslim No. 4828]
      Juga hendaknya memperhatikan apa yang dikatakan oleh Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ketika beliau di Tanya tentang hukum surat menyurat dengan perempuan yang bukan mahramnya, beliau rahimahullahu berkata:

      “Tidak boleh bagi seorang lelaki, siapapun dia, untuk surat-menyurat dengan wanita ajnabiyah. Karena hal itu akan menimbulkan fitnah. Terkadang orang yang melakukan perbuatan demikian menyangka bahwa tidak ada fitnah yang timbul. Akan tetapi syaithan terus menerus menyertainya, hingga membuatnya terpikat dengan si wanita dan si wanita terpikat dengannya.”
      Beliau rahimahullahu melanjutkan,
      “Dalam surat-menyurat antara pemuda dan pemudi ada fitnah dan bahaya yang besar, sehingga wajib untuk menjauhi perbuatan tersebut, walaupun penanya mengatakan dalam surat menyurat tersebut tidak ada kata-kata keji dan rayuan cinta.” (Fatawa Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, 2/898)

      Nasehat buat sang istri :
      Hendaknya bersabar dengan sepenuh hati, mungkin Allah ‘Azza wa Jalla sedang menguji anda, jika anda bersabar mungkin bisa jadi ladang pahala buat anda in syaa Allah, serta ingatlah bahwa istri yang shalihah adalah istri yang dapat menyimpan rahasia suaminya. Kecuali jika keadaan memaksanya untuk menceritakan kepada orang lain. Hal ini seperti yang dilakukan oleh shahabiyah Hindun yang mengadukan kebakhilan suaminya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
      Kedua, hendaknya anda sebagai istri banyak berintrospeksi diri tentang kondisi agama anda sendiri serta ketaatannya kepada suami, karena bisa jadi perubahan dari suami belakangan ini pemicunya dari anda sendiri yang mungkin sudah berkurang keta’atannya dan sebagainya. Maka dari itu mungkin dengan saling bicara satu sama lain dengan hati yang lapang akan lebih menemukan solusi dalam rumah tangga.
      Ketiga, jangan terburu-buru meminta khulu’ kecuali memang benar-benar ada mashlahat diniyyah dengan pertimbangan yang sesuai syari’at dan bimbingan ahli ilmu serta dengan kesiapan mental yang matang.

      Allahua’lam bish shawwaab, kami ikut mendo’akan semoga masalah keluarga anda segera membaik dan bisa menjadi keluarga idaman setiap muslim. Aamiin…

  • Abu muhammad says:

    Assalaamu’alaikum ustad, bagaimana status pernikahan yang dicampur dengan cara adat, sah atau tidak dan bgamana status anak mereka.berikut penjabarannya ustad:

    1. kedua pengantin dimandikan secara bersama ditengah kerumunan undangan.
    2. saat ijab qabul tangan pengantin wanita dan pria dipertemukan lalu tangan mereka tersebut ditutupi oleh kerudung.
    3.yang menjadi wali nikah wanita adalah saudara tiri ayahnya yang ditunjuk oleh ayahnya sendiri karena ayahnya sakit.
    4. penghulu yang mengucapkan ijab adalah penghulu adat dan ketakwaannya masih diragukan.
    mohon penjelasannya Baarakallahufiikum,,,,

  • Abu muhammad says:

    Assalaamu’alaikum ustad, bagimana status pernikahan yang digabung dengan adat dan status anak yang dilahirkan. adat yang dimaksud seperti :

    1. pengantin pria dan wanita dimandikan dihadapan undangan secara bersama-sama.
    2. saat pengucapan ijab qabul telunjuk laki2 dan wanita dipertemukan lalu tangan mereka ditutup(bungkus) dengan kain.
    3. yang menjadi wali wanita adalah saudara tiri ayahnya karena ayahnya lagi sakit sehingga ayahnya menunuk saudara tirinya untuk menggantikannnya.
    4. penghulu yang mengucapkan ijab adalah penghulu adat yang terkenal sering melenceng dalam melangsungkan pernikahan, misalnya menikahkan seorang wanita yang masih bersuami.Dalam kasus yang saya tanyakan ini,penghulu tersebut menjadi wali nikah
    setelah mendapat izin dari KUA.

    mohon penjelasannya, syukron,,,,

    • Al Lijazy says:

      Wa’alaikum Salam warhmatullahi wabarakaatuh
      Bismillah, yang menjadi sorotan kami dari pertanyaan diatas adalah wali dari saudara tiri ayah. Saudara tiri ayah jelas bukan kerabat bukan mahram, sedangkan syarat wali dalam pernikahan adalah dari kerabat, kalau tidak, di serahkan kepada wali hakim dari pemerintah yang sah. Adapun acara-acara bid’ah dan kemungkaran dalam pernikahan in syaa Allah tidak mempengaruhi sah atau tidaknya pernikahan, kecuali bid’ah yang mengandung kesyirikan didalamnya, jika demikian, bukan hanya pernikahannya yang tidak sah bahkan islamnya pun bisa batal. Jika hanya kemaksiatan atau bid’ah yang tidak mengandung kesyirikan, in syaa Allah tetap sah namun mungkin bisa mempengaruhi keberkahan dalan pernikahan tersebut. Allahua’lam

  • abu muhammad says:

    assalamu alaikum,,,kapan pertanyaan saya dijawab

  • tako_tako_chan says:

    Assalamualaikum pak ustad..
    aku mau cerita agak panjang y, aku punya tmn deket dr awal msk kul. IP dia ga nyampe 3, smntr aku cum laude.Mungkin kasarnya bisa dibilang dy itu slow learner. Dia sendiri nyadar,dr SMP-SMA nilainya juga cuma pas2an. tp dy rajin, mau trus bljr. Biarpun yg bisa dy serep cuma 50-60%.

    Aku sering banget diajak,dibayarin full sama dy buat ikut plthn,seminar,sertifikasi gitu sama dy.Dy dr kel. berada, mamanya dokter spesialis,papanya direkutur. Biar gitu dia baik,sederhana,,cenderung minderan. Aku sndr bkn dr kel berada, ayah ibu aku cuma cukup buat bayar kul aja,

    g mngkn bs ikt sertif/pthn yg sampe 2-3 jutaan. Cuma sering, aku lulus, dy gak lulus sertifnya. Alhamdulilah, krn bbrp sertif,pltihan aku dpt pkrjaan n gaji yg bisa dibilang tinggi buat freshgrad. Tp aku sedih bngd tmn aku yg ngajak aku ikt sertifikasi itu blm dpt kerja, gak lulus tes terus.

    tiap ktmuan, Dia selalu ceria,dy dukung aku. Berkali2 dy bilang aku keren dngn karir aku. Cuma semakin dy begitu, aku tau di lain pihak dy sedih. prnh skli aku buka2 hpnya tanpa dy tau, aku baca klo dy sbnrnya sedih banget krna yah, kkurangan dia yg “slow learner” ini.

    aku hrs gmn?Knp tmn yg bisa “Naikin nilai sm potensi” buat karir aku malah g dpt sama atau lebih dari aku? Bukannya kata agama, “Kalo ngasih 1, nerima 10”? tp knp yg aku rasa, tmn aku ngasih aku 10, tp dia sndr cuma dpt 3?
    makasih buat sharing pikirannya, maaf kepanjangan.

  • Abdullah Hasan says:

    Assalamu’alaikum…
    Pak ustadz yang ana cintai…
    Ana mau bertanya mengenai akhir zaman.
    Setelah kemunculan Imam Mahdi nanti, setiap laki laki wajib untuk berbai’at kepadanya walaupun merangkak di atas salju.
    Apakah benar kalau kita tidak berbai’at (mendatanginya) bersatu menjadi pasukan muslim untuk melawan para kafirun di perang dunia akan menjadi murtad ??
    Kalau kita datang ke Syam, apakah istri kita ditinggalkan atau ikut ? bagaimana keselamatannya jika ditinggal tanpa mahram nya? Padahal seharusnya kita harus menjaga istri dan anak anak agar tidak menjadi penyembah dajjal nantinya.
    Mohon jawabannya.
    Baarakallahufiik..

  • abu khonsa says:

    Bismillah.
    afwan ustad ana mau tanya.didaerah ana sholat dhuhur nya belum masuk waktu sholat.kesulitan untuk mencari masjid yang sholat setelah masuk waktu sholat.oleh karena itu ana dan para ikhwan selalu sholat dhuhur setelah para jamaah masjid selesai sholat dhuhurnya..
    1 apakah ana bisa dikatakan memecah belah jamaah masjid tersebut ustad?
    2 hukum sholat yang ana dan ikhwan kerjakan ini gimana?
    3 solusi untuk kasus ini bagaimana ustad?
    4 takmir masjid sudah sering dinasehati tapi tetap bandel ana kasihan sama jamah masjid tsb karena hakikatnya mereka belum sholat ya ustad?
    baarokallohufiikum

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, setelah kami membaca beberapa fatwa Ulama’ tentang masalah ini, yang bisa kami simpulkan adalah :
      -Jika anda memang yakin bahwa shalat tersebut dilakukan sebelum masuk waktu maka kita harus menasehati imamnya dengan cara yang baik, diminta dengan santun untuk mengakhirkan shalat sejenak hingga benar-benar sudah masuk waktu dengan kita sampaikan dalil-dalil tentang hal itu dengan cara yang hikmah.
      -Jika beliau menerima nasehat walhamdulillah, jika tidak mau menerima dan malah bersikeras dengan pendiriannya, maka kita mencari masjid yang lain yang shalatnya sudah masuk waktu.
      -Lain lagi keadaannya kita saat itu sudah ada di dalam masjid hendak shalat jama’ah, ternyata baru kita sadari kalau shalat akan ditegakkan sebelum masuk waktu, maka kita tetap shalat di belakang imam tetapi kita meniatkan shalat sunnah, mengingat tentang perbedaan niat antara imam dan makmun dalam shalat para Ulama sudah sepakat bolehnya. Lalu setelah masuk waktu kita mengulang shalat fardhu tersebut.
      (Silahkan lihat salah satu fatwa di tautan berikut : http://ferkous.com/home/?q=fatwa-144

  • putra says:

    Assalamu’alaikum,,
    ‘afwan ustad saya mau bertanya,
    ‘afwan,,dulu saya pernah satu kali melakukan hal buruk (hubungan suami istri di luar nikah) Astaghfirullaah. Tapi Alhamdulillaah Allah memberikan hidayah, dan kemudian saya bertaubat sejak lama. Kemudian saya ikut kajian-kajian. Setelah itu, saya bertekad ingin memiliki istri yang sholihah. Namun, saya masih ragu. Keraguan itu berkaitan dengan kondisi saya sekarang ini yang pernah melakukan hal buruk tersebut di atas.
    nah, yang saya mau tanyakan,,
    apakah sebelum menikahi seorang wanita, saya harus memberi tahu kepada calon istri saya bahwa saya pernah melakukan hal buruk tersebut?
    karena jika tidak memberi tahu, saya khawatir membohonginya nantinya,,di samping itu, saya juga khawatir jika saya memberi tahu tentang kondisi saya, tidak ada wanita sholihah yg mau menerima saya,,

    ‘afwan, mohon solusinya ustad,,
    jazaakumullaahu khoiron wa baarokallaahu fiikum.

    • Al Lijazy says:

      Wa’alaikum Salam warahmatullah,
      Bismillah, selama tidak ditanya oleh calon istrinya tentang hal itu jangan di ceritakan, bahkan ke siapapun, karena hal itu merupakan aib yang wajib di tutupi, bahkan di perintahkan untuk di tutupi. Seperti dalam riwayat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata :
      سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
      Dari Abu Hurairah, ia berkata : Aku telah mendengar Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bersabda: [Setiap ummatku dimaafkan, kecuali al mujahirin. Dan sesungguhnya termasuk al mujaharah adalah seorang yang bermaksiat pada malam hari kemudian pada pagi harinya ( padahal Allah telah menutupinya) ia berkata : “Wahai fulan, aku telah melakukan hal ini dan hal itu.” Allah telah menutup (aib)nya pada malam hari dan ia membukanya pada pagi harinya]. (Shahih Al Bukhari no. 6069)
      Kecuali kalau calon istri menanyakan tentang hal tersebut, maka kita harus jujur dilarang berbohong meskipun akibatnya pahit. Kita harus berbesar hati, bagaimanapun itu adalah bagian dari resiko yang harus ditanggung akibat perbuatan kita sendiri. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memberikan yang terbaik bagi kita. Allahua’lam

  • wiwi - solo says:

    Assalaamu’alaikum ustad,saya memiliki saudara perempuan yang sekarang sedang sakit sakitan ketika dibawa ke rumahsakit diagnosa menunjukkan tidak ada penyakit atau sehat kemudian saat dibawa pulang kembali sakit sll kambuh begitu seterusnya..

    Riwayat sebelumnya pernah mengalami sakit benjolan di bagian dada dari rumah sakit mengharuskan untuk operasi, dengan alasan tidak mau kehilangan organ kmudian dibawa kepengobatan alternatif yaitu tabib, dan meskipun sembuh yang saya dengar dari cerita bapaknya cara pengobatan tabib itu menggunakan hal2 berbau syirik..

    Yang saya ingin tanyakan ustadz, bagaimana dengan metode ruqyah syariah dapat menyembuhkan seseorang yang memiliki sakit tidak wajar, karena yang saya baca banyak metode ruqyah yang tidak syari?

    Kemudian point dari pertanyaan saya berikutnya dan yang terpenting ustadz, Disolo adakah ustadz/ustadzah yang melayani ruqyah syariah?

    Jazakumullah

  • Hamba Allah says:

    Assalmu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
    Ustadz, saya ingin bertanya. Apabila para muslimah hendak melaksanakan shalat lima waktu secara berjama’ah di rumah, apakah disyari’atkan untuk mengumandangkan iqamat sebelum menegakkan shalat walaupun adzan maupun iqamat sudah dikumandangkan di masjid-masjid sekitar?

    Jazaakumullaahu khayraa

    • Al Lijazy says:

      Wa’alaikum Salaam warahmatullahi wabaraakaatuhu,
      Bismillah,
      Pada asalnya wanita tidak disyariatkan adzan dan iqamah, sebab adzan dan iqamah hanya disyariatkan bagi laki-laki untuk mengumumkan sudah masuknya waktu shalat serta memanggil orang-orang agar datang ke masjid untuk shalat jamaah. Sedangkan para wanita yang afdhal shalat dirumahnya tanpa adzan dan iqamah.

      Namun jika ada sekelompok jamaah khusus wanita yang shalat jamaah di tempat yang khusus buat wanita, para Ulama berbeda pendapat, diantaranya ada yang berpendapat mustahab/disukai, ada yang makruh/dibenci dan ada yang berpendapat mubah/ boleh.

      Dan saat ini pendapat yang kami pilih adalah BOLEH bagi wanita untuk melakukan adzan dan iqamah dijama’ah khusus wanita dengan tempat yang khusus juga buat wanita, namun dengan syarat, hanya dilakukan di lingkungan tempat jama’ah khusus wanita dan dengan suara yang pelan hanya cukup didengar oleh jama’ah wanita saja.

      Di antara dalilnya adalah sebagai berikut:
      Pertama: Keterangan dari Ibnu Umar, bahwa beliau ditanya,
      هل على النساء أذان فغضب، وقال: أنا أنهى عن ذكر الله!!”.
      “Apakah wanita boleh adzan?” Kemudian, beliau marah, dan mengatakan, “Apakah saya melarang orang untuk berzikir (menyebut nama) Allah?” (Riwayat Ibnu Abu Syaibah dalam Mushannaf 1/202/2324, sanadnya dinilai baik oleh Syaikh Al-Albani)

      Kedua: Riwayat dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,
      ” أنها كانت تؤذن وتقيم، وتؤم النساء وتقوم وسطهن”.
      “Bahwa dulu beliau melakukan azan dan iqamah, kemudian mengimami jemaah wanita. Beliau berdiri di tengah shaf wanita.” (HR. Abdurrazaq dalam mushannaf 3/126/5016 dan Al-Baihaqi; dinilai kuat oleh Al-Albani)
      Semua riwayat di atas in syaa Allah menunjukkan bolehnya adzan dan iqamah bagi wanita. Hanya saja, harus dilakukan di lingkungan khusus wanita dan tidak didengar kaum laki-laki. Allahua’lam

  • Rachmat says:

    Bismillahirrahmanirrahiim
    Assalamu’alaikum,

    Ustadz, bagaimana hukumnya transaksi jual beli dengan sistem dropship?
    Metodenya adalah seseorang tidak mempunyai barang. Kemudian menghubungi pemilik barang untuk selanjutnya akan dijualkan. Si penjual bisa menjual baramg dengan harga yang ditetapkan oleh pemilik barang atau dengan harga sendiri yang dilebihkan dan ini sudah diridhoi oleh pemilik barang.
    Akan tetapi, yang bisa menjualkan barang si pemilik barang didata terlebih dahulu dan ada sistem gugur bila dalam 1 bulan tidak mampu menjual lebih dari 10 barang.

    Sistem transaksi ini gambarannya adalah sebagai berikut :

    Penjual (tidak memiliki barang) mencari pembeli. Kemudian ada pembeli yang tertarik dari foto atau promosi (dalam gal ini adalah pemasaran online). Kemudian si penjual ini menyuruh si pembeli untuk mentransfer sejumlah uang yang sudah ditetapkan ke penjual. Setelah dibayar, kemudian penjual menghibungi si pemilik barang utk mempersiapkan barang yang akan dibeli oleh pembeli. Kemudian penjual membayar sejumlah iang yg telah dikurangi keuntungan dia. Barang yang dikirimkan dikirim atas nama penjual, tp bs juga dikirim atas nama pemilik barang.

    Apakah hal tersebut termasuk larangan dalam hadits menjual barang yang bukan miliknya?

    Atas Jawabannya ana haturkan Jazakumullahu khairan katsiron.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,
      Wa’alaikum Salaam warahmatullah,

      Pada prinsipnya segala macam bentuk jual beli tidaklah diharamkan kecuali ada pelanggaran-pelanggaran syari’at didalamnya. Dan syari’at yang agung ini sudah mengatur beberapa kaidah dalam jual beli, yang apabila dilanggar salah satu darinya maka jual beli tersebut jadi dilarang.
      Melihat system dropship yang anda ceritakan ada hal-hal yang menjadi ganjalan bagi kami. Diantaranya :

      Pertama : Anda telah menjual yang belum anda miliki.
      Terbukti dengan anda meminta pembayaran terlebih dahulu dari pembeli, baru setelah uang sudah terkirim, anda baru bertransaksi/ membeli dari supplier (pemilik barang sesungguhnya).
      Berarti disini ada pelanggaran syariat, seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Hakim bin Hizam radhiallahu ‘anhu, ia berkata:
      فَقُلْتُ : يَأْتِينِي الرَّجُلُ يَسْأَلُنِي مِنْ الْبَيْعِ مَا لَيْسَ عِنْدِي ، أَبْتَاعُ لَهُ مِنْ السُّوقِ ثُمَّ أَبِيعُهُ ؟ قَالَ : (لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ(
      “Wahai Rasulullah, seseorang datang kepadaku untuk membeli suatu barang, kebetulan barang tersebut sedang tidak kumiliki, (bolehkan setelah dia membeli) aku akan beli untuknya di pasar lalu aku jual kepadanya, Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
      “Jangan engkau jual barang yang belum engkau miliki!” (HR. Abu Daud 3503, an nasa’iy 4613 dan selainnya. Hadis ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam irwa’ 1292).

      Kedua : Yang kami lihat didalam transaksi tersebut ada celah riba, yaitu dalam menjual kembali barang yang telah Anda beli namun secara fisik belum sepenuhnya Anda terima dari penjual.
      Pada kedua kondisi tersebut Anda belum dibenarkan menjual kembali barang yang telah Anda beli. Selain karena barang yang anda beli belum berpindah tempat ke anda juga mengingat pada kondisi tersebut masih menyisakan celah terjadinya praktik riba.
      Dalil tentang larangan ini adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
      عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ C: أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ r قَالَ: مَنِ ابْتَاعَ طَعَاماً فَلَا يَبِعْهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ. (البخاري: 2126، ومسلم: 1526). وفي لفط (لمسلم: 1526): حَتَّى يَقْبِضَهُ. وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ… مثله (مسلم: 1525).
      Dari Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membeli makanan, janganlah ia menjualnya hingga ia mengambil makanan itu seluruhnya.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari: 2126, dan Muslim: 1526). Dan pada riwayat Muslim no. 1526 digunakan lafaz: “Hingga makanan itu berada di tangannya.” Dan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas menggunakan lafaz yang semisal. (Muslim: 1525)

      Ketiga : Kejujuran dalam transaksi seperti ini mungkin agak diragukan.
      Misalkan tidak menutup kemungkinan para penjual seperti anda ini banyak yang mengaku sebagai pemiliki barang sebenarnya atau sebagai distributor/ agen dan semisalnya. Padahal kenyataannya tidak demikian. Mungkin karena bahasa iklan yang anda gunakan seolah-olah menunjukkan anda sebagai pemilik barang sehingga konsumen menduga ia mendapatkan barang dengan harga murah dari distributor langsung dan terbebas dari praktek percaloan. Padahal kenyataannya tidak demikian. Mungkin juga jika pembeli tahu bahwa dia sedang bertransaksi dengan para penjual seperti anda ini, bisa jadi mereka mengurungkan niatnya untuk membeli.

      Jadi sebagai nasehat buat kami dan anda bahwa berharap mendapat keuntungan dari perniagaan itu sah-sah saja bahkan merupakan salah satu yang kita harapkan, namun bukan berarti kita menghalalkan segala cara termasuk berkata dusta. Kejujuran sangat menentukan rizki yang barokah bagi kita dan keluarga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa kesempatan menekankan pentingnya arti kejujuran dalam perniagaan, di antaranya adalah hadits Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu yang berbunyi,
      عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا أَوْ قَالَ حَتَّى يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
      Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jual-beli itu dengan khiyar (hak pilih) selama belum berpisah–atau (beliau) menyatakan, ‘hingga keduanya berpisah.’ Apabila keduanya jujur dan menjelaskan (keadaan barangnya), maka berkah akan diberikan dalam jual-belinya, dan jika keduanya menyembunyikan (aib) dan berdusta maka berkah dihapus dalam jual-belinya.“ (HR. al-Bukhari dan Muslim)
      Demikian juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam dengan ancaman berat bagi orang yang berdusta dalam muamalahnya, dalam sabdanya,
      ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَ مِرَارًا قَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ
      “Ada tiga orang yang tidak diajak bicara dan tidak dilihat oleh Allah di hari kiamat, serta yang tidak disucikan dan yang mendapat adzab yang pedih. Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya tiga kali. Abu Dzar bertanya, ‘Mereka telah rugi dan menyesal. Siapakah mereka wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Orang yang berpakaian melebihi mata kaki (al-musbil), orang yang mengungkit pemberiannya (al-mannan), dan orang yang menutupi barang dagangannya dengan sumpah dan dusta.’ ” (HR. Muslim 1/71/306)
      Allahua’lam, semoga bermanfa’at.

  • andri says:

    Bismillah
    Assalamu’alaikum ustadz, barakallahi fiikum.

    Ana mau bertanya masalah hukum fasilitas pinjaman yang di fasilitasi kantor.
    Dimana kantor bekerjasama dengan pihak bank namun karyawan hanya berkewajiban membayar pokok pinjaman saja. Sedangkan bunga dan lain-lain dibayarkan oleh pihak kantor.

    Mohon nasehatnya ustadz

    Jazakallahu khairan, wassalamu’alaikum warahmatullah wa barakatuh.

    • Al Lijazy says:

      Untuk kasus antum diatas, kami masih khawatir antum masih terkena hukum ta’awun (tolong-menolong ) dalam pebuatan dosa yakni riba Yang itu dilarang dalam syari’at. Sebab dengan sebab antm meminjam uang tersebut akhirnya terjadi praktek riba dan bank tetap bisa mendapatkan hasil ribanya. Allahua’lam

  • hambaAllah says:

    assalamualaikum ustad..
    sy memang hamba Allah yg pernah melakukan dosa besar ustad..
    alhamdulillah Allah memberikan rahmat dan insyaAllah sy sdh bertaubat..

    sy sadar diri ats dosa sy ustad..sy saat ini ingin menikah dan alhamdulillah ad laki2 yg mau menikahi sy..
    tp kendalany adalah ibu dr laki2 itu tidak menyukai saya krn beberp alasan selain alasan suku dan status sosial jg karna sang ibu mendengar kabar masa lalu sy yg kurang baik dr seorang teman saya ustad..jujur sy sangat sedih..laki2 yg mw menikahi sy jug sangat sedih.. kami benar2 ingin menikah krn Allah,menghindari fitnah dan maksiat..
    apa yg harus kami lakukan ustad??
    sy sangat berkecil hati.. tp sy tau diri ustad.. mungkin ini cobaan dan balasan atas dosa sy..

    • Al Lijazy says:

      wa’alaikum Salam warahmatullahi wabarakatuhu
      wahai saudariku, setiap insan tidak ada yang luput dari perbutan dosa baik kecilny maupun dosa besarnya. Dan yang patut kita syukuri adalah Allah Ta’ala sudah mmbuka pintu hidayah buat anda untuk bertaubat kepadaNya. Dan sekedar untuk saudari ketahui untuk menyempurnakan taubat anda bahwasannya taubat itu memiliki syarat mutlak yang harus terpenuhi agar taubat tersebut diterima Allah Ta’ala.
      Dan ”Dalam kitab al-Iman disebutkan bahwa taubat memiliki 3 rukun: al-Iqla’ (meninggalkan dosa tersebut), an-Nadm (menyesali) perbuatan maksiat tersebut, dan al-Azm (bertekad) untuk tidak mengulangi dosa yang dia taubati selamanya. (Syarh Shahih Muslim, 17/59)
      Jika saudari anda sudah melakukan taubat dengan terpenui syarat-syarat tersebut maka in syaa Allah Allah ta’ala akan berkenan Mengampuninya.
      Tentang masalah yang saudari hadapi hendaknya saudari bersabar mnghadapi masalah yang saudari hadapi. Maksud dari sabar dalam hal ini adalah menahan diri dari melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala dan tetap untuk menjaga kea’atan kepadaNya,yakni dengan menghentikan hubungan dengan laki-laki yang bukan mahrom atau “pacaran”sebelum segalanya di halalkan syari’at. Masalah hambatan restu dari wali merupakan satu perkara yang memang harus dibicarakan dengan serius dengan mengedepankan nasehat yg bijak dari al Quran dan as Sunnah. Dan sebenarnya Tidak sepatutnya bagi wali untuk menjadi penghalang dari pernikahan jika memang sudah sesuai syarat dan ketentuan syar’i. dan menjadikan sesuatu menjadi penghalang yang secara syar’i hal itu bukan menjadi penghalang. yakinkan kepada orang tuanya bahwa calonnya dan saudari sendiri sudah benar-benar sudah meminta petunjuk Allah Ta’ala dengan istikharah tentang pernikahan tersebut, ,jika saudari belum mampu untuk menjelaskan kepada mereka, kami rasa mungkin perlu juga dicarikan pihak ketiga agar menjadi penengah, namun diupayakan penengahnya tersebut orang yang berilmu syar’i dan termasuk orang yang di segani ortunya. Misalkan seorang ustadz atau kerabat ysng diutamakan paham tentang ilmu syar’I erutama tentang fiqh pernikahan yang sesuai syari’at.
      Mungkin saudari perlu membaca artikel kami yg sudah pernah di muat di web ini sebagai bahan muyawarah dengan orang tuanya, linknya dibwah ini
      http://salaf.or.id/tanya-jawab/siap-menikah-tapi-belum-diperbolehkan-ortu.html

  • Muhammad Arifin says:

    Assalamu’alaikum Ustadz saya mohon jawabannya. Saya sudah melihat Video ceramah ustadz begitu bagus sesuai Manhaj yang saya yakini yaitu Manhaj Salaf .

    Saya ada permasalahan. Saya mau menikah namun kekhawatiran saya adalah bahwa ayah calon isteri saya yang menjadi Wali nikah nantinya dahulu ketika calon ibu mertua saya dulu tidak disetujui oleh ayah calon ibu mertua saya (tidak setujui oleh kakek calon isteri saya). Orang tua calon isteri saya dahulu dinikahkan oleh adiknya (Paman dari calon isteri saya maksudnya). Yang saya tahu bahwa pernikahan tanpa wali dan tidak boleh diwakilkan selama ayah masih hidup itu tidak sah. Saya menganggap bahwa pernikahan calon mertua saya dulu itu tidak sah. Berarti anak dari pernikahan yg tidak sah, tiada wali baginya dan akan diserahkan ke wali hakim. Sementara saya mau menikah dengan dia, dan pasti walinya adalah ayahnya ini. Saya beranggapan ayahnya ini tidak boleh jadi wali karena dulu pernikahan mereka (Pernikahan calon mertua saya) tidak sah. Bagaimana tanggapan ustadz benarkah prasangka saya ini atau salah? Jika benar, apakah kami harus dinikahkan oleh wali hakim? Kalau pun saya minta dinikahkan wali hakim, ternyata si ayah perempuan ini tersinggung yg berakibat jadi gagal pernikahan apa yang harus saya lakukan Ustadz?

    Tambahan pertanyaan saya, bolehkah si ayah wanita mewakilkan wali nikah dalam ijab kabul kepada petugas KUA seperti yang sudah banyak terjadi di masyarakat?

    Syukron…..

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakaatuhu
      Tanggapan kami dari pertanyaan anda
      Pertama: bahwa perlu kita luruskan bahwa ana tidak pernah membuat ceramah dalam bentuk video. Kalau memang anda pernah melihat video ceramah in syaa Allah bisa di pastikan itu bukan ana. Tolong di cek lagi apa betul penceramah di video tersebut sesuai dengan nama ana Abu Usamah yahya Al Lijaziy atau bukan.kalo iya tolong sertakan link nya biar bisa kita cek.
      Kedua: mengenai msalah anda, kalau tidak salah bisa kita garis bawahi bahwa calon ibu mertua anda dulu dinikahkan dengan wali adik kandungnya sendiri. Lantas bagaimana hukum pernikahan tersebut?
      Jawabnya yaitu menikahnya seorang wanita dengan wali adik kandungnya sendiri hukumnya SAH in sya allah jika memang wali-wali yang utama dari mereka berhalangan atau tidak mau menjdi wali.
      Memang terdapat perbedaan pendapat tentang siapa yang lebih utama mnjadi wali nikah,
      Ada pendapat yang mengatakan bahwa ayah kandung perempuan tersebut adalah orang yang paling berhak menjadi wali bagi anaknya, kemudian setelah ayah adalah kakek dari ayah tersebut. beginilah dalam madzhab Syafi’i, Hambali dan sebagian yang lain.
      Dalam kitab Kifayatul Akhyar, sebuah kitab fiqih yang lazim digunakan di dalam mazhab Syafi’i, disebutkan urutan wali nikah adalah sebagai berikut:
      1. Ayah kandung
      2. Kakek, atau ayah dari ayah
      3. Saudara kandung
      4. Saudara se-ayah saja
      5. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah dan se-ibu
      6. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah saja
      7. Saudara laki-laki ayah dst
      Jadi adik dari calon ibu mertua anda itu berhak menikahkan saudara kandung perempuan (calon ibu mertua anda), Sekalipun misalkan ayah anda yang tidak diketahui alamatnya atau tidak meridhhainya, kemudian anda menikahkan (menjadi wali nikah) kakak anda yang perempuan, maka pernikahannya sah. Artinya anda sah menjadi wali saudara kandung perempuan (kakak kandung anda). Allahu A’lam
      Namun jika ortunya mewakilkan pernikahan putrinya ke pemerintah, dalam hal ini adalah KUA maka in syaa Allah tetap dibolehan. Meskipun sendainya ayah kandung dari calon istri anda sendiri yang menjadi wali justru lebih afdhol in syaa Allah dalam madzhab as Syafi’iy. Allahua’lam

  • Abu Tamara says:

    Bismillah,,,ana mau tanya ustazd,,,
    1.Apakah setiap bacaan Al fatihah harus diakhiri dengan ucapan ‘Aamiin”.
    2.Apakah ketika khatib shalat jum’ah mengucap “Muhammad”,,jama’ah boleh menjawab dng “Shalallahu ‘alaihi wa salam,,
    3.Jika kita shalat berjama’ah dlm keadan masbuk,,tertinggal 1 raka’at,,apakah memulai shalatnya jg sama seperti awal,,maksudnya dng do’a iftitah,,,Mohon penjelasan,,Jazakallahu khair,,

  • Abu Tamara says:

    Bismillah..na’an,,syukran kastir wa Jazakallahu khair,,ana ada pertanyaan lg pak ustazd,,,
    1.Tentang gadai,,””Sy ditawari untuk menggadai kendaraan (mobil open cup/untk angkut barang).
    Jadi sy diminta uang 20 jt,,setelah itu mobil sama stnk diserahkan ke sy,,dan sm pemiliknya mobil dibolehkan untk dipakai sy berniaga/berdagang dng konsekwensi perawatan kendaraan sy yg nanggung.”Bagai mana hukum dlm islam keadaan seperti sy sebutkan diatas pak ustazd,,,krn In syaa Allah sepengetahuan sy klo gadai menggadai itu barang harusnya berhenti,,,bagai mana pula dng gadai tanah,,yg walaupun kesepakatan kedua belah pihak,,tanah yg digadaikan ditanami oleh yg menggadai dan hasilnya diambil oleh yg menggadai,,mohon penjelasan ustazd ,,,Barakallahufiik

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, melihat kasus anda diatas ada beberapa tanggapan dari kami.
      Pertama : disini anda berlaku sebagai pemberi hutang, dan yang diberi hutang meyerahkan barang gadai berupa mobil dan stnk nya kepada anda selama masa perjanjian gadai tersebut, ini in syaa Allah sudah di benarkan berdasarkan firman Allah Ta’ala :
      وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ
      “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).” (QS. Al-Baqarah: 283).
      Kedua :disini yang anda sebagai Pihak pemberi utang tidak dibenarkan untuk memanfaatkan barang gadaian. Sebab, sebelum dan setelah digadaikan, barang gadai adalah milik orang yang berutang, sehingga pemanfaatannya menjadi milik pihak orang yang berutang, sepenuhnya. Adapun anda pihak pemberi utang, hanya berhak untuk menahan barang tersebut, sebagai jaminan atas uangnya yang dipinjam sebagai utang oleh pemilik barang.
      Dengan demikian, anda selaku pemberi utang tidak dibenarkan untuk memanfaatkan barang gadaian, baik dengan izin pemilik barang atau tanpa seizin darinya. Bila ia memanfaatkan tanpa izin, maka itu nyata-nyata haram, dan bila ia memanfaatkan dengan izin pemilik barang, maka itu adalah riba. Sebab terdapat kaidah yang diambil dari hadits yang shahih secara mauquf dan tidak shahih secara marfu’, namun benar dalam sisi makna yaitu
      كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً، فَهُوَ رِبًا
      Karena setiap pinjaman yang mendatangkan manfaat maka itu adalah riba. (diriwayatkan dalam mushonnaf Abi Syaibah shahih secara mauquf dan tidak shahih secara marfu’ no 20690)
      Demikianlah hukum asal pegadaian yang menganut kaedah sama dengan masalah utang piutang.
      Namun ada gadaian yang boleh dimanfaatkan jika dikhawatirkan begitu saja ia akan rusak atau binasa. Seperti hewan yang memiliki susu dan hewan tunggangan bisa dimanfaatkan sesuai pengeluaran yang diberikan si pemberi utang dan tidak boleh lebih dari itu. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      لرَّهْنُ يُرْكَبُ بِنَفَقَتِهِ إِذَا كَانَ مَرْهُونًا ، وَلَبَنُ الدَّرِّ يُشْرَبُ بِنَفَقَتِهِ إِذَا كَانَ مَرْهُونًا ، وَعَلَى الَّذِى يَرْكَبُ وَيَشْرَبُ النَّفَقَةُ
      “Barang gadaian berupa hewan tunggangan boleh ditunggangi sesuai nafkah yang diberikan. Susu yang diperas dari barang gadaian berupa hewan susuan boleh diminum sesuai nafkah yang diberikan. Namun, orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan” (HR. Bukhari no. 2512).
      Demikian pula tentang gadai tanah memiliki kaidah yang sama dengan kasus diatas. Allahua’lam bish shawaab.

  • ummi habibah says:

    assalamu’alaykum… masalah jual beli dropship, bagaimana jika, antara penjual ( yg tidak memiliki barang ) sudah melakukan akad kepada suplier ( penjual yg punya stok barang ) ,intinya ijin terlebih dahulu, sehingga penjual ikhlas untuk di ambil foto produknya ,,, bagaimana perbedaan dengan jual beli salam ? apakah sama ? bagaimana dengan istilah marketer ? jazakumullah..

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salam warahmatullahi wabarokaatuhu
      Dari pertanyaan anda ada beberapa tanggapan dari kami
      Pertama : Jika memang yang seperti anda katakan sudah mendapatkan ijin dari supplier barang. Disini kita perlu perincian bentuk ijinnya yang bagaimana. Apa sekedar dapat ijin untukmngambil gambar produk-produknya saja atau dapat ijin untuk menjualkan produk dari supplier tersebut dengan syarat dan ketentuan dari suppliernya. Jika yang dimaksud dapat ijin yang jenis kedua maka in syaa Allah tidak ada masalah, sebab hal tersebut mirip wakalah yang dibolehkan. Yaitu anda ditunjuk sebagai wakil dari supplier untuk menjualkan produk miliknya dengan system dan ketentuan yang berlaku atasnya.
      Kedua : tentang perbedaan dengan jual beli salam jelas berbeda sekali. Sebab jual beli salam itu jual beli dengan pembayaran kontan di tempat antara penjual dan pembeli dengan mengakhirkan pengiriman barang ke pembeli(biasanya disebut jual beli inden). Yang membedakan disini adalah jika jual beli salam, secara umum penjual merupakan pemilik langsung barang dagangannya sebelum ia jual ke pembeli. Adapun dropshiper kebanyakan mereka belum memiliki barang dagangannya(bukan pemilik barang dagangannya) sebelum menjualnya ke pembeli.perbedaan lainnya bisa anda baca lagi dengan cermat system dropship dalam artikel kami tersebut.
      Ketiga : tentang marketer yang kami ketahui kurang lebihnya mirip wakalah yang telah kami jelaskan diatas atau bahkan dia sebagai pekerja resmi dari pemilik barang ( supplier atau perusahaan )dengan upah tertentu. Jadi tidak ada masalah in syaa Allah untuk marketer.
      Allahua’lam bish shawab

  • Abu Tamara says:

    Bismillah,,syukran kastiran,,Jazakallahu khair atas penjelasannya pak ustazd,,ada pertanyaan lg pak,,
    1.Tentang syarat islam adalah melaksanakan rukun yg 5,,dan barang siapa yg ingkar dari salah satunya maka dia kaafir,,,bagaimana bila ada orang yg sdh melaksnakan rukun yaitu shahadattain,,shalat,,zakat,syiamu ramadhan(lisan,,qalbi,,jawarih),,ttp enggan melaksanakan hajji (rukun yg ke 5),,padahal dia mampu.
    2.Bila ada orang yg melakaksanakan keislaman baru sampai rukun yg keempat,,dan yg ke5 dia berazm dng sngt kuat,,tp karena ketidak mampuanya secara biaya,,maka dia blm mampu mlaksanakan yg ke 5,,”Apakah orang tersebut sdh bisa disebut melaksanakan kesempurnaan Islam scara prinsip,,
    3.Apa makna setiap muslim diwajibkan melaksanakan shahadattain paling sedikit 9 kali dlm sehari semalam dan apa makna ketika dlm shalat ketika duduk atakhiyat jari telunjuk kanan menunjuk lurus ( pertanyaan ikhwan),,,mohon pejelasan pak ustazd,,Barakallahufiikum wa jazakumullahu khairan kastiran,,,

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,
      Untuk pertanyaan anda diatas tanggapan dari kami
      Pertama : tentang pernyataan anda bahwa ada orang yang mampu untuk berhaji namun dia enggan untuk menunaikannya, sebaiknya dipastikan dulu bentuk keengganannnya yang bagaimana, bener-bener tidak mau menunaikan atau hanya menunda untuk menunaikannya. Sebab dua keadaan tersebut berbeda hukumnya.
      Untuk Orang yang mampu berangkat haji dan dia sengaja tidak berangkat haji, atau memiliki niat untuk tidak berhaji maka dia melakukan dosa besar. Allah berfirman,
      وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
      Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Ali Imran: 97)
      Ketika menjelaskan tafsir ayat ini, Ibnu Katsir membawakan pernyataan dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu,
      أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: مَنْ أَطَاقَ الْحَجَّ فَلَمْ يَحُجَّ، فَسَوَاءٌ مَاتَ عَلَيْهِ يَهُودِيًّا أَوْ نَصْرَانِيًّا، وَهَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ إِلَى عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
      Bahwa Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu mengatakan, ‘Siapa yang mampu haji dan dia tidak berangkat haji, sama saja, dia mau mati yahudi atau mati nasrani.’ (adwa’ul bayan 4/29 tafsir surah ali imran)
      Komentar Ibnu Katsir, ‘Riwayat ini sanadnya shahih sampai ke Umar radhiyallahu ‘anhu.’(tafsir ibnu katsir 2/85)
      Namun jika dia mampu tapi menunda-nunda haji maka ancamannya terdapat dalam riwayat berikut :
      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      إِنَّ الله , عَزَّ وَجَلَّ , يَقُولُ : إِنَّ عَبْدًا أَصْحَحْتُ لَهُ جِسْمَهُ ، وَأَوْسَعْتُ عَلَيْهِ فِي الْمَعِيشَةِ تَمْضِي عَلَيْهِ خَمْسَةُ أَعْوَامٍ لاَ يَفِدُ إِلَيَّ لَمَحْرُومٌ.
      “Sesungguhnya Allah Azaa wa jalla berfirman, “Sesungguhnya seorang hamba telah Aku sehatkan badannya, Aku luaskan rezekinya, tetapi berlalu dari lima tahun dan dia tidak menghandiri undangan-Ku (naik haji, karena yang berhaji disebut tamu Allah, pent), maka sungguh dia orang yang benar-benar terhalangi (dari kebaikan)” (HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1662)
      Kedua : untuk pertanyaan kedua yang perlu anda ketahui disini adalah bahwa haji adalah kewajiban seorang muslim bagi yang mampu, baik mampu secara financial maupun jasmani. Jadi jika seorang tersebut tidak mampu, maka telah gugur kewajibannya untuk menjalankan rukun islam tersebut. Seandainya dia telah benar-benar iltizam dalam menjalankan rukun-rukun islam yang lainnya selain haji (karena dia tidak mampu) maka in syaa Allah mudah-mudahan dia sudah sempurna mengerjakan prinsip-prinsip islam sesuai kemampuannya, ya tentunya tidak sesempurna mereka yang sudah menunaikan kelima-limanya. Sebab prinsip islam khusus haji ini ada keterangan dari syari’ah bagi yang mampu. Dengan sendirinya jika seorang itu tidak mampu, itu sudah menjadi kehendak Allah Ta’ala atasnya sehingga gugurnya kewajibannya pun juga atas kehendak Allah ta’ala atasnya. Allahua’lam
      Ketiga: untuk pertanyaan ketiga afwan kami belum pernah tau ada keterangan tentang hal itu, baik hadits maupun kalam ulama’, jadi ilmu tentang itu belum sampai kepada kami. Allahua’lam

  • Abu Tamara says:

    Bismillah..Jazakallahu khair atas penjelasannya,,,melanjutkan pertanyaan yg ketiga,,”sy pernah mendengar ttp sblmnya ahwan jidan,,sy lupa sumbernya apakah kajian..rekaman kaset..atau radio,,Bahwa sahatattain 9 kali itu pengamalanya didllm shalat wajib,,shubuh 1,,dhuhur 2,,ashar 2,,maghrib 2,,dan isya’ 2 kali jd genab 9 kali,,dan fungsinya sbagai thaharah,,jangan jangan kita telah mengingkari shahadattain yg menjadikan batalnya shahadattain,,seperti kitika shalat buang angin,,maka hrs mengulang shalatnya dng wudhu’ terlebih dahulu sbgai pensucian,,,karena sblnya sy blm pernah mendengar,,maka sya bertanya kpd pak ustazd,,,dan sy pernah mendengar direkaman kajian ustazd Ahlul sunnah( semoga sy tdk salah dan mohon maaf sy tdk menyebut nama,,Allahu A’lam) yg semakna,,”Bahwa seorang muslim diwajibkan paling sdikit memohon kpd Allah paling sedikit 17 x dlm sehari smalam untk memohon dijadikan orang yg diberi nikmat,,dan dijauhkan dr golongan orang yg dimurkai dan sesat,,yaitu bentuknya dlm shalat membaca Al fatihah,,yaitu “”Ihdinashirathal mustaqim,,sirathallazdina ‘anamta’alaihim ghairil maghdhubi’alaihim waladhaaliin(klo ada ejaan yg salah mohon dimaafkan),,bagaimana dng yg seperti pak ustazd,,mohon penjelasan,,,Barakallahufiikum wa jazakumullahu khair,,

  • Abu Tamara says:

    Na’am,,Jazakallahu khairan kastiran,,,

  • Billy Nabil says:

    Bolehkah seorang muslimah memakai hijab & baju selain warna hitam & gelap? Bolehkah berwarna terang?

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, assholatu wassalaamu ‘ala Rasulillah wa ‘alaa alihi wa ashhabihi waman tabi’ahu ilaa yaumid diin
      Tentang pertanyaan anda diatas sebatas ilmu yang ada pada kami hingga saat ini belum mengetahui ada satu pun nash al Qur’an maupun hadits yang secara langsung melarang muslimah memakai baju dengan warna tertentu. Namun kalaupun ada, kemungkinan itu diambil dari pemahaman secara tersirat pada ayat Al-Qur’an yaitu
      وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
      “Dan janganlah perempuan mukminah itu memperlihatkan perhiasannya kecuali sesuatu yang nampak darinya.” (QS An-Nur [24]: 31).
      Syekh Ali As-Shabuni dalam bukunya “Tafsir Ayat Ahkam” jilid 2, menjelaskan bahwa ada enam syarat yang harus dipenuhi dalam memakai hijab atau menutup aurat, yaitu:
      a. Hijab itu harus menutup seluruh anggota tubuh.
      b. Hijab tersebut harus dengan kain yang tebal, tidak boleh dari bahan yang tipis .
      c. Hijab tersebut tidak boleh memiliki warna yang mencolok yang dapat mengundang perhatian orang.
      d. Hijab tersebut harus longgar, tidak boleh sempit dan ketat yang memperlihatkan
      lekukan tubuh.
      e. Hijab tersebut/pakaian tersebut tidak boleh diberikan wangi-wangian (atau perhiasan –pent)yang dapat mengundang perhatian orang lain yang bukan mahram-nya.
      f. Pakaian/hijab tersebut tidak boleh menyerupai pakaian laki-laki (dan menerupai pakaian orang kafir- pent).

      Demikian juga tidak ada nash Qur’an dan Hadits yang secara langsung memerintahkan perempuan beriman harus memakai warna hitam atau gelap. Warna gelap dipilih kemungkinan besar untuk mengurangi terawangnya lekukan tubuh pemakainya karena warnanya yang gelap, selain itu warna hitam memang warna yang kurang dalam sisi keindahan sehingga tidak menarik perhatian orang lain untuk memperhatikannya. Jadi, Dalam memakai hijab, perempuan muslimah diberikan kebebasan memilih warna apa saja selama tidak mencolok dan memenuhi enam syarat tersebut. Allahu a’lam bish shawaab sesungguhnya kebenaran hanyalah disisi Allah Ta’ala, kami hanya menyampaikan sebatas ilmu yang kami ketahui. Kalaupun ada nash yang menjelaskan tentang hal itu,in syaa Allah kami akan rujuk dengan sepenuh hati.

  • Abu Tamara says:

    Bismillah,,afwan pak ustad,,mohon penjelasan
    1.Apa persamaan kesesatan dari pemahaman :
    A. Golongan yahudi
    B. Golongan syiah
    C. Sufi/Jama’ah tablighk
    Yang membuat golongan ini keluar dari keislamanya,,,mohon penjelasan…Barakallahufiikum wa Jazakumulahu khairan kastiran…

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, assholatu wassalaamu ‘ala Rasulillah wa ‘alaa alihi wa ashhabihi waman tabi’ahu ilaa yaumid diin
      PERSAMAAN SYI’AH DENGAN YAHUDI

      kalau boleh kita katakan bahwa Syiah itu adalah Yahudi yang menggunakan baju Islam. Yang demikian itu karena Syi’ah adalah produk Yahudi melalui tokoh munafik Abdullah bin Saba’, dia adalah seorang pendeta yahudi yang berpura-pura masuk islam untuk menghancurkan Islam dari dalam, dia juga orang yang pertama mengisukan kalau Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu yang lebih berhak menjadi khalifah setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat, dia juga yang pertama kali mencela sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. menjadikan Syiah dan Yahudi memiliki banyak persamaan.

      Di antaranya:

      1. Yahudi telah mengubah-ubah Taurat, begitu pula Syi’ah mereka punya Al-Qur’an hasil perbuatan tangan mereka yakni “Mushaf Fathimah” yang tebalnya 3 kali Al-Qur’an kaum Muslimin.Mereka menganggap ayat Al-Qur’an yang diturunkan berjumlah 17.000 ayat, dan menuduh Sahabat menghapus lebih dari sepuluh ribu ayat.

      2. Yahudi menuduh Maryam yang suci berzina [QS. Maryam : 28], Syi’ah melakukan hal yang sama terhadap istri Rasulullah ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha sebagaimana yang diungkapkan Al-Qummi (pembesar Syi’ah) dalam “Tafsir Al-Qummi (II 34)”

      3. Yahudi mengatakan, “kami tidak akan disentuh oleh api neraka melainkan hanya beberapa hari saja”. [QS. Al-Baqarah : 80] Syi’ah lebih dahsyat lagi dengan mengatakan, “Api neraka telah diharamkan membakar setiap orang Syi’ah”sebagaimana tercantum dalam kitab mereka yang dianggap suci “Fashl Kitab (hal.157)”

      4. Yahudi meyakini, Allah mengetahui sesuatu setelah terjadinya sesuatu itu yang mana Allah tadinya tidak tahu, begitu juga dengan Syiah. Orang-orang Syiah menyebutnya sebagai akidah al bada’(tampak yang tadinya tersembunyi)( bahwa Allah Ta’ala mengetahui sesuatu setelah terjadinya, sebelum terjadi Allah tidak mengetahuinya). Abu Abdillah berkata, “Seseorang belum dianggap beribadah kepada Allah sedikit pun, hingga ia mengakui adanya sifat bada’ bagi Allah.” (Ushulul Kafi fi Kitabit Tauhid: 1/331).Maha Tinggi Allah Ta’ala setinggi-tingginya dari apa yang mereka sifatkan.

      coba Bayangkan, mereka menisbahkan kebodohan (ketidak tahuan) bagi Allah Ta’ala yang telahberfirman, :
      قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ
      “Katakanlah, “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah.” (QS. An-Naml: 65)
      Sementara di sisi lain, mereka berkeyakinan bahwa para imam mereka mengetahui segala ilmu pengetahuan dan tak ada sedikit pun yang samar baginya. Al Kulaini, seorang ulama paling terpercaya di kalangan Syiah berkata di dalam bukunya, “Bab bahwa para imam mengetahui ilmu yang telah dan akan terjadi, dan tidak ada sesuatu apa pun yang tersembunyi bagi mereka.” (Al Kafi: 1/261).
      5. Yahudi menghalalkan darah setiap muslim. Demikian pula Syi’ah, mereka menghalalkan darah Ahlussunnah.
      6. Orang-orang Yahudi membenci Jibril. Mereka mengatakan bahwa Jibril adalah musuh kita dari kalangan malaikat. Adapun Syiah berkata, Jibril telah keliru dalam menyampaikan wahyu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka juga berkata, “Sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam telah berkhianat ketika menyampaikan wahyu kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal sepantasnya dan yang lebih berhak adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.”
      Inilah Syiah, bagaimana bisa mereka menuduh Jibril ‘alaihis salam berkhianat, padahal Allah Azza wa Jalla telah menyifatinya dengan al amin (yang dapat dipercaya) dalam firman-Nya,

      نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ
      “Yang dibawa turun oleh ar-Ruh al Amin (Jibril).” (QS. As-Syu’ara: 193)
      7. Yahudi sangat keras memusuhi kaum Muslimin, firman Allah Azza wa Jalla, artinya:
      لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آَمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

      “Pasti kamu akan dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS. Al Maidah: 82)
      Demikian pula dengan orang-orang Syiah, sangat memusuhi Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mereka tudug sebagai wahabi, bahkan menganggap mereka sebagai najis.
      8. Kaum Yahudi juga meletakkan batu di depan mereka saat mereka melaksanakan ritualnya, sama seperti kaum Syiah.
      Itulah sebagian persamaan antara syi’ah dengan yahudi yang secara garis besar bisa kami simpulkan dari sekian banyak persamaan dari keduanya. Dari yang sedikit yang kami sebutkan diatas cukuplah kiranya kita meyakini bahwa syi’ah itu lebih dekat ke yahudi dari pada ke islam itu sendiri, dan yang demikian itu sangatlah wajar sebab syi’ah itu lahir dari agama yahudi, bukan dari islam. Allahua’lam.

  • Abu Tamara says:

    Bismillah,,syukran kastiran atas penjelasanya,,afwan pak ustazd,,tentang jama’ah tablighk belum,,,Barakallahufiikum wa Jazakumullahu khairan kastiran,,

    • Al Lijazy says:

      Beberapa Kesamaan Tarekat Sufiyah dan Syi’ah *
      Siapapun yang mengetahui hakikat tasawwuf (Sufi) dan tasyayyu’ (Syi’ah), ia akan mendapatkan keduanya memiliki kesamaan yang mendasar. kedua firqah ini memiliki kesamaan dalam pemikiran dan aqidah. Di antara persamaan dua golongan tersebut, ialah:
      Pertama. Kaum Syi’ah mengaku memiliki ilmu khusus yang tidak dipunyai kaum muslimin selain mereka. Mereka menisbatkan kedustaan ini kepada Ahlul bait dengan semaunya sendiri. Mereka juga mengklaim memiliki mushaf (Al-Qur‘ân) tersendiri, yang mereka sebut Mushaf Fathimah. Menurut keyakinan mereka, mushaf ini memiliki kelebihan tiga kali lipat lebih besar dibandingkan dengan Al- Qur‘ân yang ada di tangan kaum muslimin.( Ad-Dîn Baina Sâil Wal Mujîb karya Al-Hajj Mirza al-Hairi al-Ahqaqi hal 89) Mereka menganggap Muhammad diutus dengan tanzil, sedangkan Ali diutus dengan takwil.(Firaq asy-Syîah hal 38)
      Demikian pula orang-orang Sufi, mereka menganggap memiliki ilmu hakikat. Sedangkan orang dari luar kalangan mereka, hanya baru sampai pada tingkat ilmu syariat. Mereka beranggapan, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan ilmu laduni kepada mereka, saat orang-orang selain mereka mesti menimba ilmu dengan susah payah dari para ulama. Bahkan salah seorang tokoh Sufi , yaitu al-Busthami sampai berkoar: “Kami telah menyelam di dalam lautan ilmu, sementara para nabi (hanya) berdiri di tepinya”.4 Demikian, persamaan antara Sufi dan Syi’ah dalam masalah ilmu kebatinan.
      Kedua. Orang-orang Syi’ah mengkultuskan imam-imam mereka dan menempatkan imam-imam itu dengan kedudukan yang lebih tinggi dari para malaikat dan para rasul. Mereka mengatakan, para imam adalah katub pengaman bagi penduduk bumi sebagaimana bintang-bintang menjadi pengaman bagi penduduk langit. Apabila para imam diangkat dari muka bumi -walaupun sekejap- maka bumi dan para penduduknya ini akan hancur.5
      Khumaini, salah seorang tokoh besar Syi’ah berkata: “Di antara keyakinan madzhab (baca: agama) kami, bahwasanya imam-imam kami memiliki kedudukan yang tidak bisa diraih, sekalipun oleh para malaikat dan para rasul”.6
      Bahkan orang-orang Syi’ah memberikan sifat ketuhanan kepada para imam itu, dan menganggap mereka mengetahui segala sesuatu, meski sekecil apapun di alam ini.
      Sifat seperti ini pula yang disematkan orang-orang Sufi kepada orang-orang yang mereka anggap sebagai wali. Katanya, “para wali” itu ikut berperan dalam pengaturan alam semesta ini, dan mengetahui ilmu ghaib. Oleh karenanya, orangorang Sufi membentuk suatu badan khusus yang terdiri dari para wali mereka. Tugas badan khusus ini adalah mengatur alam dan seisinya.
      Dengan pernyataan ini, maka tidak tersisa lagi hak pengaturan alam semesta bagi Allah Ta’ala. Padahal, hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla hak untuk mencipta dan mengatur segala urusan. Maha suci Allah dari apa yang mereka katakan.
      Ketiga. Pengagungan terhadap kuburan serta kunjungan kepada makam-makam merupakan salah satu dasar akidah Syiah. Mereka itulah golongan pertama yang membangun kuburan dan menjadikannya sebagai syiar mereka.( Rasâil Ikhwân Ash Shafâ)

      Kemudian muncul orang-orang Sufi yang syiar terbesarnya adalah pengagungan terhadap kuburan, membangun dan menghiasinya, melakukan thawaf mengelilinginya meminta berkah dan meminta pertolongan kepada penghuninya. Bahkan kuburan Ma’rûf Al Kurkhi, seorang tokoh Sufi diyakini menjadi obat yang mujarab.( Thabaqât as- Shûfiyyah, as-Sulami hal 85)

      Demikian yang dapat kami sebutkan kesamaan antara tharekat sufiyah dengan syi’ah, tentunya keyakinan-keyakinan demikian tersebut jelas mengeluarkan pelakunya dari islam bahkan lebih buruk dari keyakinan kaum kafir jahiliyah dahulu. Untuk aqidah jama’ah tabligh kami belum mendapatkan keterangan yang tsabit/jelas dan pasti tentang mereka kecuali hanya sepintas lalu, kalau seandainya mereka memiliki aqidah sufiyah seperti tersebut di atas, jelas mendapatkan konsekwensi hukum yang sama yaitu keluar dari islam. Allahua’lam
      *1 Dikutip dari al-Jamâ’at Al Islâmiyyah Fi Dhauil Kitâbi Was Sunnah Bifahmi Salafil Ummah karya Syaikh Saliim bin Id al-Hilâli hlm. 115-127 , Dârul Atsariyyah Th. 1425H-2004M dengan ringkasan.

  • Abu Tamara says:

    Bismillah,,syukran kastiran atas penjelasanya pak ustazd,,Barakallahufiikum wa Jazakumullahu khairan,,,

  • Abu Tamara says:

    Bismillah,,ada pertanyaan pak ustazd ( pertanyaan ini atas keraguan sy,,dr pertanyaan hamba Allah yg dia sendiri sdh melakukan ),,krn kok klo menurut sy ini hilah,,””Jadi sifulan ini sdh tau tentang fikih gadai,,sifulan ini sdh tau seaandainya dia menggadai barang,,maka keadaan barang ini setelah digadai harus dlm posisi berhenti(tdk dimanfaantkan),,agar lebih jelasnya dia menggadai kendaraan,,Ttp atas persetujuan keduabelah pihak,,keduanya membikin perjanjian seperti ini,,”””kendaraan ini dibeli oleh sifulan dengan harga 30 jt,,ttp nanti setelah jangka waktu tertentu,,misal 3 bulan kendaraan itu akan dibeli lg oleh yg menggadaikan dng harga yg sama yaitu 30 jt,,dng demikiaan sifulan bisa menggunakan kendaraan tersebut,,”Mohon penjelasan dngbkeaadan seperti ini pak ustad,,Barakallahufiik

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, assolaatu wassalaamu ‘ala Rasulillah wa man waalahu.
      Untuk pertanyaan anda diatas kita kutipkan ringkasan penjelasan dari Syaikh Shaleh bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan yang beliau menjelaskan tentang syarat dalam jual beli. Berikut sedikit kutipan penjelasan beliau.

      Syarat dalam jual-beli terbagai dalam dua macam.

      Pertama, syarat yang sah. Yaitu, syarat yang tidak bertentangan dengan konsekuensi akad. Syarat jual-beli yang sah terbagi lagi menjadi dua macam.
      • Syarat untuk kemaslahatan akad, yaitu syarat yang akan menguatkan akad. Misal, “Saya akan membeli barang A, dengan syarat memenuhi kriteria tertentu, jika penjual bisa menyediakan sesuai kriteria yang saya sebutkan maka saya wajib membelinya”.
      • Syarat yang sah dalam jual beli, yaitu untuk saling memberikan manfaat yang mubah dalam jual beli. Misal, “Saya akan membeli barang A dengan syarat barang tersebut diantar oleh penjual sampai rumah”.
      Kedua, syarat yang rusak (tidak sah). Yaitu, syarat yang bertentangan dengan konsekuensi akad. Jenis ini juga terdiri dari dua macam.
      • Syarat rusak yang dapat membatalkan pokok akad itu sendiri. Misal, “Saya jual barang ini seharga sekian, dengan syarat engkau meminjamiku sejumlah uang”, maka syarat seperti ini rusak (tidak sah), dan membatalkan pokok akad itu sendiri (membatalkan jual-beli -red), karena larangan Nabi shalaLlahu alaihi wa sallam terhadap dua jualan di atas penjualan (disahihkan oleh Al Albany dalam Misykatul Mashabih, N0. 2798), sedang Imam Ahmad rahimahullah menafsirkan hadits tersebut dengan apa yang disebutkan.
      • Syarat yang rusak tetapi tidak membatalkan pokok akad. Yaitu, yang membatalkan syarat itu sendiri akan tetapi tidak membatalkan jual beli. Seperti pembeli mensyaratkan terhadap penjual jika dia rugi terhadap barang daganganya, dia akan mengembalikannya kepadanya. Atau penjual mensyaratkan kepada pembeli untuk tidak menjual lagi barang tersebut, dan yang sejenisnya. Maka syarat ini rusak karena menyelisihi konsekuensi akad yaitu pembeli mempunyai hak mutlak terhadap penggunaan barang.

      Di samping itu karena sabda Nabi shalallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa mensyaratkan suatu syarat yang tidak terdapat dalam Kitab Allah maka syarat itu bathil, meskipun ada seratus syarat” (Mutafaq alaihi). Adapun yang dimaksud dengan Kitab Allah di sini adalah hukumnya, maka termasuk padanya adalah Sunnah Rasulullah shalaLlahu alaihi wa sallam. Jual-beli tidaklah menjadi batal dengan batalnya syarat ini, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam kisah Barirah (Maula Aisyah radhiaLlahu anha) ketika penjualnya mensyaratkan loyalitas dari Barirah harus kepadanya (penjual) jika dia dibebaskan, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam membatalkan syarat ini, akan tetapi tidak membatalkan dari akad (jual-belinya), dan beliau bersabda “Sesungguhnya perwalian (loyalitas) itu bagi yang membebaskannya” (Shahih Al Jami’ : 2226)

      Kesimpulannya:

      Dari kasus yang disebutkan di atas terdapat syarat yang rusak pada transaksi tersebut. Yaitu, penjual membatasi hak pembeli dengan suatu syarat yang terkadang bisa merugikan pembeli. Padahal seharusnya pembeli mempunyai hak mutlak atas barang yang sudah dibeli. Misalkan pembeli bisa meanfaatkan barang tersebut sampai kapanpun yang pembeli inginkan atau bisa menjual dengan harga yang lebih dari itu.

      Apabila transaksi jual beli tersebut sudah terjadi maka syarat tersebut batal tanpa membatalkan jual beli, dan pembeli mempunyai hak mutlak atas barang tersebut. Allahua’lam bish shwaab

  • Abu Tamara says:

    Na’am,,syukran kastiran atas penjelasanya,,Barakallahufiikum wa Jazakumullahu khairan,,

  • Abu Tamara says:

    Bismillah,,mau tanya pak ustazd,,”Dalam keadaan dimana dan seperti apa,,ketika Allah memberikan keringanan shalat dijama’ pada waktu hujan,,dan mohon diberikan usul keringanan menjama’shalat dlm keadaan hujan..mohon penjelasan,,Barakallahufiik,,

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, assholatu wassalaamu ‘ala Rasulillah wa ‘alaa alihi wa ashhabihi waman tabi’ahu ilaa yaumid diin
      Dari yang kami ketahui bahwa di antara keringanan syari’ah saat turun hujan adalah jama’ah masjid diperbolehkan menjamak shalat. Inilah di antara kemudahan dan bentuk kasih sayang syari’at Islam bagi umatnya.
      Dalil dalam hal ini adalah riwayat Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,
      جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِى غَيْرِ خَوْفٍ وَلاَ مَطَرٍ
      ”Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah menjama’ shalat Zhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya di Madinah bukan karena keadaan takut dan bukan pula karena hujan.”) H.R Muslim 2/152 no 1667)
      Syaikh Al Albani rohimahullah mengatakan: (dalam perkataan Ibnu Abbas ini -pent) Seolah-olah beliau menyampaikan bahwasanya menjamak karena hujan adalah perkara yang sudah ma’ruf (dikenal) di masa hidup Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, kalaulah tidak karena latar belakang itu lalu manfaat apa yang bisa dipetik dari penafian hujan sebagai sebab yang membolehkan beliau untuk menjamak (Irwa’ul Ghalil, silakan lihat di Al Wajiz fii Fiqhi Sunnati wal Kitabil ‘Aziiz halaman 140-141, Kitab Sholat).
      Dalam riwayat Waki’, ia berkata, ”Aku bertanya pada Ibnu ’Abbas mengapa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan seperti itu (menjama’ shalat)?” Ibnu ’Abbas menjawab, ”Beliau melakukan seperti itu agar tidak memberatkan umatnya.”
      Dalam riwayat Mu’awiyah, ada yang berkata pada Ibnu ’Abbas, ”Apa yang Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam inginkan dengan melakukan seperti itu (menjama’ shalat)?” Ibnu ’Abbas menjawab, ”Beliau ingin tidak memberatkan umatnya.” (HR. Muslim no. 705)
      Namun perlu kita ketahui disini adalah apa saja yang menjadi patokan kapan keringanan menjama’ ketika hujan itu berlaku? Keringanan itu berlaku dengan beberapa ketentuan diantaranya:
      Pertama : Hujan yang di maksud adalah hujan deras yang muballil( yang kalo kita keluar sekejab membuat badan basah kuyup) serta menyulitkan jama’ah untuk datang ke masjid, bukan gerimis atau hanya rintik-rintik semata.
      Dalam Al Mughni disebutkan, ”Hujan yang membolehkan seseorang menjama’ shalat adalah hujan yang bisa membuat pakaian basah kuyup dan mendapatkan kesulitan jika harus berjalan dalam kondisi hujan semacam itu. Adapun hujan yang rintik-rintik dan tidak begitu deras, maka tidak boleh untuk menjama’ shalat ketika itu.” Lihat Al Mughni, 2: 117.
      Kedua: keringanan boleh menjama’ shalat ini hanya berlaku buat jama’ah yang sudah ada dimasjid saja.
      Adapun apabila dia sholat di rumahnya karena sakit (atau karena udzur lain -pent) sehingga tidak bisa hadir di masjid maka dia tidak boleh menjamak; karena tidak ada manfaat yang bisa dipetiknya dengan jamak tersebut (karena kewajibannya sudah gugur dengan udzur-nya tersebut-pent). Demikian juga kaum wanita (yang ada di rumah), maka tidak boleh menjamak sholat karena hujan sebab tidak ada manfaat yang bisa dipetiknya dengan menjamak itu, dan karena mereka bukan termasuk orang yang diwajibkan menghadiri sholat berjama’ah. (Disarikan dari Syarhul Mumti’ halaman 560).
      Ketiga : jama’ shalat tetap berlaku meskipun di tengah-tengah pelaksanaannya hujan sudah reda.
      apabila di awal pelaksanaan sholat ‘Isya’ yang dijama’ disyaratkan keadaan masih hujan, adapun apabila sholat ‘Isya’ sudah dilakukan kemudian di tengah-tengah tiba-tiba hujan berhenti maka wajib di teruskan hingga selesai, sebab tidaklah disyaratkan hal itu terus menerus ada sampai selesainya sholat yang kedua (‘Isya’). Demikian pula berlaku untuk sebab yang lainnya. Misalnya apabila ada seseorang yang karena sakitnya terpaksa harus menjama’ shalat kemudian tiba-tiba di tengah shalatnya sakit yang dideritanya menjadi hilang maka jama’ yang dilakukannya tidak menjadi batal; karena keberadaan udzur secara terus menerus hingga selesainya (shalat) kedua tidaklah dipersyaratkan (Disarikan dari Syarhul Mumti’ halaman 574).
      Demikian diantara patokan-patokan kapan di bolehkan menjama’ shalat yang bisa kami sampaikan.Allahua’lam bish shawab, Semoga bermanfa’at. Baarokallahu fiikum.

  • Abu Tamara says:

    Na’am,,syukran kastiran wa Jazakumullahu khairam atas penjelasan pak ustazd_selanjutnya,,bagaimana hukumnya ketika,,memotong hewan qurban sama sama dng koordinasi ta’mir masjid,,dan panitia / ta’mir mengambil daging hewan yg dipotong dan dimasak bareng untuk makan orang orang yg bergotong royong memotong hewan qurban,,,Hala apa Haram,,dan selanjutnya,,bagaimana hukum klo ada penceramah (pent),mulim,,ttp mendiskriditkan orang berjenggot dan bercelana syar’i,,,dengan teroris tanpa dalil,,mohon penjelasan,,Barakallahufiikum,,,

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,Bagi panitia qurban tidak ada bagi mereka hak bagian dari daging qurban kecuali mendapat hadiah dari shohibul qurban dari bagiannya (shohibul qurban), daging qurban hanya hak fuqara’ dan masakin.( lebih lengkapnya bisa dibaca pada buku kami yang berjudul “Qurban bersama Rasulullah”
      Tentang da’I yang berceramah melecehkan, menghina atau mediskreditkan sunnah Nabi atau pelaku Sunnah Nabi maka ditinggalkan aja, sebab kita tidak di perintahkan untuk mendengarkan ceramah dari da’i semacam itu. Selain itu, hal tersebut di khawatirkan termasuk istihza’ (mengolok-olok) bagian dari syari’at ini yang menyebabkan pelakunya batal islamnya dan juga dikawatirkan yang mendengar dan tidak mengingkarinya juga ikut batal islamnya karena dalil keumuman firman Allah.
      وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آَيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا
      “Dan sungguh, Allah telah menurunkan ketentuan kepadamu di dalam Al Quran,bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk bersama mereka, hingga mereka berbicara dengan pembicaraan yang lain. Karena (kalau kamu tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka (dalam kekafiran-pent). Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di neraka Jahanam.” (QS An NIsa 140
      Allahua’lam bish shawab.

  • Abu Tamara says:

    Bismillah,,In syaa Allah dlm buku bpk sdh sy baca dan pelajari,,tetapi mohon maaf,,,mungkin karena tumpul dan bodohnya sy,,jadi sy belum menemukan hal tentang menghukumi secara spesifik tentang “panitia qurban yg mengambil daging untk dimasak dan dimakan bersama itu hukumnya Haram atau halal,,mohon petunjuk pak ustazd,,,,sama ada pertanyaan tambahan pak ustazd,,””Apa arti dan makna Istighfar,,mohon penjelasan,,,Barakallahufiikum wa jazakumullahu khairan kastiran,,,

    • Al Lijazy says:

      kira-kira bagaimana menurut antum ada orang yang memakan sesuatu yang bukan haknya,melainkan hak orang lain. ini in syaa Allah bisa dipahami hukumnya oleh orang yang berakal.hanya orang yang tidak berakal saja yang mengatakan hal tersebut halal. memang kami tidak mendapatkan kalam para ulama’ yang memperjelas penyebutan tentang hal itu haram, namun sudah bisa kami pahami bahwa larangan syri’at itu tidak mungkin hukumnya halal.sebab Nabi melarang mengupah tukang jagal dari daging qurban, dan para Ulama’ memasukkan panitia penyembelihan termasuk bagian dari tukang jagal. Allahul musta’aan.

  • Hamba Allah says:

    Bismillaah. Ustadz, saya ingin bertanya, kapan waktu spesifik yang dianjurkan untuk melakukan dzikir pagi maupun petang? Jazaakumullaahu khayran.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, assholatu wassalaamu ‘ala Rasulillah wa ‘alaa alihi wa ashhabihi waman tabi’ahu ilaa yaumid diin. Amma ba’du,
      Kami dapatkan Para ulama berselisih pendapat dalam penentuan batasan persisnya waktu dzikir pagi dan petang.
      Untuk yang dzikir pagi Ada beberapa pendapat mengenai batasannya, diantaranya ada yang berpendapat dimulai dari terbitnya fajar hingga matahari terbit.Inilah pendapat yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan selainnya,adalagi yang berpendapat dimulai dari terbit fajar hingga waktu zawal (matahari bergeser ke barat). Ini pendapat yang dipilih Syaikh Muhammad bin Sholih All ‘Utsaimin dan selainnya dan beberapa pendapat yang lainnya. Dan pendapat yang kita pilih dari semua pendapat tersebut adalah waktu dzikir pagi adalah mulai dari terbit fajar hingga waktu zawal,
      Diantaranya Alasannya memang Mengenai batasan akhir waktu dzikir pagi tidak ditegaskan dalam dalil, sehingga dikembalikan ke dalam pemahaman dalam bahasa Arab yaitu apa yang dimaksud akhir waktu shobaah(pagi) yaitu zawalnya matahari. Allahua’lam
      Demikian pula dengan Waktu Dzikir Petang juga terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama.diantaranya ada yang berpendapat dimulai dari waktu zawal (matahari tergelincir ke barat) hingga matahari tenggelam dan awal malam.Inilah pendapat yang dipilih Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz dan selainnya. Ada juga yang berpendapat dimulai dari ‘Ashar hingga Maghrib. Ini pendapat yang dipilih Imam Nawawi dalam Al Adzkar, ada juga yang berpendapat dimulai dari waktu zawal hingga pertengahan malam.dan beberapa pendapat lagi yang berbeda-beda.
      Dan pendapat yang kita pilih untuk waktu dzikir petang adalah dimulai dari tenggelamnya matahari dan berakhir hingga batas terakhir shalat ‘Isya, yaitu pertengahan malam. Yang menjadi dalil bahwa awal waktu dzikir petang dimulai dari tenggelamnya matahari adalah ayat,
      فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ (17) وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ (18)
      “Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nya-lah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur.” (QS. Ruum: 17-18). Yang dimaksud dalam ayat ini, “وَعَشِيًّا” yang dimaksud dalam gelapnya malam, dan “تُظْهِرُونَ” adalah panasnya siang (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 11: 17).
      Dalil lain yang menunjukkan masaa’ yang dimaksud adalah setelah matahari tenggelam yaitu hadits berikut dari ‘Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata,
      كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى سَفَرٍ ، وَهُوَ صَائِمٌ ، فَلَمَّا غَرَبَتِ الشَّمْسُ قَالَ لِبَعْضِ الْقَوْمِ « يَا فُلاَنُ قُمْ ، فَاجْدَحْ لَنَا » . فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، لَوْ أَمْسَيْتَ . قَالَ « انْزِلْ ، فَاجْدَحْ لَنَا » . قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَلَوْ أَمْسَيْتَ . قَالَ « انْزِلْ ، فَاجْدَحْ لَنَا » . قَالَ إِنَّ عَلَيْكَ نَهَارًا . قَالَ « انْزِلْ ، فَاجْدَحْ لَنَا » . فَنَزَلَ فَجَدَحَ لَهُمْ ، فَشَرِبَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – ثُمَّ قَالَ « إِذَا رَأَيْتُمُ اللَّيْلَ قَدْ أَقْبَلَ مِنْ هَا هُنَا ، فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ »
      “Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safar, ketika matahari tenggelam, ia berkata pada sebagian kaum, “Wahai fulan, bangun dan siapkanlah minuman buat kami”. Orang yang disuruh itu berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika Anda menunggu hingga masaa’”. Beliau berkata: “Turunlah dan siapkan minuman buat kami”. Orang itu berkata, lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika Anda menunggu hingga masaa’”. Beliau berkata, lagi, “Turunlah dan siapkan minuman buat kami”. Orang itu berkata, lagi, “Sekarang masih nahaar”. Beliau kembali berkata, “Turunlah dan siapkan minuman buat kami”. Maka orang itu turun lalu menyiapkan minuman buat mereka. Setelah minum lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apabila kalian telah melihat malam sudah datang dari arah sana (timur) maka orang yang puasa sudah boleh berbuka.” (HR. Bukhari no. 1955). dalam hadits ini dibedakan antara nahaar dan masaa’. Masaa’ dalam hadits ini dijadikan bagian dari malam hari(setelah terbenamnya matahari), berbeda dengan nahaar(sebelum terbenamnya matahari). Waktu masaa’ menunjukkan waktu untuk berbuka puasa. Sehingga kurang tepat bagi yang menganggap waktu masaa’ dimulai setelah zawal atau dari waktu ‘Ashar.
      Kita pun dapat melihat dalam hadits dzikir petang, secara tegas disebut pula waktunya yaitu setelah Maghrib. Dari Abu Ayyub Al Anshari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      مَنْ قَالَ إِذَا صَلَّى الصُّبْحَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ عَشْرَ مَرَّاتٍ كُنَّ كَعَدْلِ أَرْبَعِ رِقَابٍ وَكُتِبَ لَهُ بِهِنَّ عَشْرُ حَسَنَاتٍ وَمُحِىَ عَنْهُ بِهِنَّ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ وَرُفِعَ لَهُ بِهِنَّ عَشْرُ دَرَجَاتٍ وَكُنَّ لَهُ حَرَساً مِنَ الشَّيْطَانِ حَتَّى يُمْسِىَ وَإِذَا قَالَهَا بَعْدَ الْمَغْرِبِ فَمِثْلُ ذَلِكَ
      “Barangsiapa yang shalat shubuh lantas ia mengucapkan “laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir” sebanyak 10 kali maka ia seperti membebaskan 4 budak, dicatat baginya 10 kebaikan, dihapuskan baginya 10 kejelekan, lalu diangkat 10 derajat untuknya, dan ia pun akan terlindungi dari gangguan setan hingga waktu petang (masaa’). Jika ia menyebut dzikir yang sama setelah Maghrib, maka ia akan mendapatkan keutamaan semisal itu.” (HR. Ahmad 5: 415. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa hadits ini shahih –dilihat dari jalur lain-). Dalam hadits ini mengisyarohkan waktu dzikir masaa’ adalah setelah maghrib. Allahua’lam bish shawab.

  • Abu Tamara says:

    Na’am,,Barakallahufiikum wa Jazakumullahu khairan,,In syaa Allah faham pak ustazd,,,

  • Abu Tamara says:

    Bismillah,,Barakallahifiik pak ustazd,,ana mau tanya bab “zikir’. Dalam keutamaan zikir “”Laaillahailallah wahdahulasyarkalahu,lahulmulku walahulhamdu,wa huwa alaqulli syaiin qadir”,jika dilakukan seratus kali sehari maka akan mendapatkan pahala ini,,ini,,dan ini(mohon maaf tdk rinci) pertanyaanya,,
    1, pelaksanaan yg afdhol itu dlm keadaan bagaimana
    2, bagaimana kalau dilakukan habis shalat fardu/sunnah setelah zikir yg sdh diajarkan
    3, apakah boleh dilakukan dlm keadaan jalan,,atau bekerja,,misal menanan padi sambil lisannya mengucap lafazd diatas,,
    4, apakah diperbolehkan lafazd diatas dilaksanankan didalam hati( maksudnya terhitung nggak untuk menggenapkan bilangan seratus),,jd peristiwanya ketika lisan mengucap 95 x krn ada kendala/gangguan maka yg 5x kali terlaksana didalam hati,,
    Mohon penjelasan,,Jazakallahu khairan kastiran,,,

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,kami tidak mengetahui dalilnya tentang waktu yang dianjurkan untuk dzikir tersebut 100 x, dalam haditsnya tidak disebutkan waktunya secara rinci. mungkin kalau dilakukan setelah sholat baik in syaa Allah. bertaqwalah kepada Allah semampunya. Allau’lam

  • Abu Tamara says:

    Bismillah,,na’am,,,syukran kastiran,,,Barakallahufiikum Wa Jazakumullahu khairan,,,

  • Abu Tamara says:

    Bismillah,,,mau tanya pak ustazd,,apa perbedaan antara muslim dan mu’min,,mohon penjelasan,,Barakallahufiik

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,assolaatu wassalaamu’ala rasulillah waman waalahu
      Sesungguhnya perbedaan batasan antara Mukmin dan Muslim sama halnya dengan perbedaan batasan Islam dan Iman. Dan ada kaidah yang dikatakan oleh para Ulama: bahwasanya keduanya jika berkumpul dalam satu kalimat, artinya berbeda. Namun jika tidak berkumpul maka artinya sama.
      فإذا ورد الإسلام والإيمان في نص واحد، كان معنى الإسلام: الأعمال الظاهرة. ومعنى الإيمان: الاعتقادات الباطنة، كقوله تعالى: ) [الحجرات:14]
      makna Iman adalah keyakinan dalam hati. Maka jika terdapat kata Islam dan Iman pada suatu nash (baik Al-Qur’an atau Hadits), maka Islam maknanya amalan-amalan yang dzahir (nampak), Sebagaimana dalam Firman Allah:
      قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْأِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ
      “Orang Arab Badui berkata: Aku telah beriman. Katakanlah, Kalian belum beriman. Akan tetapi katakanlah Aku telah berislam. Karena Iman belum masuk kedalam hati-hati kalian” (QS. Al Hujurat: 14)
      Adapun jika disebutkan Islam saja, maka termasuk di dalamnya makna Iman, sebagaimana Firman Allah:
      إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلامُ
      “Sesungguhnya Agama (yang benar) disisi Allah hanyalah Islam” (QS. Al Imran: 19)
      وإذا ذكر الإيمان وحده دخل فيه الإسلام، كقوله تعالى: () [المائدة:5].
      Dan jika disebutkan Iman saja, maka termasuk juga didalamnya makna Islam, sebagaimana dalam Firman-Nya:
      وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْأِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ
      “Barangsiapa yang kafir setelah beriman, maka hilanglah amalannya” (QS. Al Maidah: 5)
      Berdasarkan penjelasan di atas, maka sesungguhnya setiap Mukmin adalah Muslim, akan tetapi tidak setiap Muslim adalah Mukmin. Karenanya, seorang munafik tetap dikatakan sebagai seorang muslim di dunia, padahal di dalam hatinya tidak ada Iman. Dan mukmin jelas lebih tinggi tingkatanya dari muslim, sebab ia harus melalui beberapa tahap untuk bisa menjadi mukmin, yaitu menuntut ilmu syar’i yang dengannya bisa menumbuhkan iman dalam hatinya, terutama beriman tentang apa yang tidak bisa di saksikan dalam syari’at ini, misal beriman kepada Allah, para malaikatnya dan tentang hari akhirat, yang hal itu belum bisa diamalkan muslim karena ia belum mengilmuinya sehingga belum tumbuh iman dalam hatinya. setelah beriman baru ia harus beramal dengan apa yang ia imani. Sebab yang dikatakan iman itu adalah keyakinan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan, dan kertiganya ini merupakan keutuhan yang tidak bisa dipisahkan dari apa yang disebut iman. Allahua’lam

  • Tesar says:

    Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    Ustadz ana ada pertanyaan,

    1. Ana punya kerabat yang meyakini benda mati dapat menangkal bahaya dengan sendirinya dan meminta perlindungan kepada selain Allah ta’ala misalnya makhluk gaib dipastikan murtad?
    2. Apakah orang tersebut kafir dan diperlakukan seperti non muslim? Misalnya mengucapkan salam dll. dan apakah kita boleh melewati shalatnya?
    3. Dan kerabat ana tersebut juga memasang jimat jimat di dinding rumah seperti benda mati, rajah lalu ana nasehati dan mereka menolak untuk dibuang dan ana buang secara diam-diam dan masih ada yang tersisa, bagaimana sikap ana ini? Apakah harus ana buang sampai habis walaupun kena marah?

    Barakallahu fiikum

    • Al Lijazy says:

      wa’alaikum salaam warahmatullahi wabarakaatuh,
      Bismillah, assholatuwas salaamu’ala rasulillah waman waalahu
      (1) Ini yang orang sering sebut “jimat”. Jimat berasal dari bahasa arab yaitu ‘azimah. Hakikatnya tidak lain bahwa seseorang bergantung dan bertawakal kepada sebab-sebab yang tidak jelas yang tidak disyari’atkan Allah SWT, dengan tujuan untuk menolak bala’ atau membentengi diri darinya. (Al Jauhari, Ash Shihah fil Lughah, 1/468)
      Sedangkan Al Laits mengatakan ‘Azimah (jimat) adalah bagian dari mantera yang menggunakan jin dan syaithan. (Tahdzbul Lughah, 1/202)
      Bentuknya bisa dengan memakai ‘gelang’ atau ‘kalung’, ataupun berbentuk benang (penangkal) yang diikatkan pada lengan, termasuk sabuk yang dililitkan.
      Dan Imran bin Hushain, bahwasanya Rasulullah saw melihat pada tangan seseorang sebuah gelang, lalu beliau bersabda: “Celaka kamu, apa ini? “Ia menjawab: “Untuk menjaga diri dan penyakit wahinah.”Beliau bersabda: “Ingatlah, benda ini tidak menambah untukmu selain kelemahan. Buang jauh benda itu darimu, sesungguhnya jika kamu mati dan benda itu masih ada padamu, kamu tidak akan beruntung selamanya.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)
      Rasulullah saw bersikap keras dalam rnengingkari hal ini demi memberikan peringatan dan berbagai bentuk kemusyrikan, dan mengajarkan kepada para sahabat agar menutup pintu yang memungkinkan umatnya masuk ke dalam kesyirikan. Diantara hadits yang berkaitan tentang hal ini adalah :
      Rasulullah Saw bersabda “Sesungguhnya jampi-jampi, jimat dan pelet adalah kesyirikan”. (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban.)
      Sedangkan dalam redaksi lain disebutkan, “Barangsiapa menggantungkan tamimah, ia telah syinik.” (HR Ahmad)
      Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa menggantungkan tamimah (jimat), semoga Allah tidak mengabulkan keinginannya, dan barangsiapa menggantungkan wada‘ah,semoga Allah tidak memberi ketenangan pada dirinya.” (HR Ahmad)
      Kalau seperti yang anda sebutkan meminta perlindungan kepada selain Allah, misalkan ke makhluq gaib ini sudah jelas-jelas masuk kedalam syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari islam. Karena masuk ke dalam syirik dalam ibadah (isti’adzah/isti’anah kepada makhluq yang tidak mampu memenuhinya kecuali Allah Ta’ala)
      Allah Ta’ala berfirman,
      وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
      “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al An’am: 88). Juga disebutkan dalam ayat lain,
      وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
      “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65).
      (2) Tugas anda hanya sebatas menasehati dan membimbing kerabat anda ke dalam jalan yang lurus. Untuk menyikapinya dengan hukum-hukum yang terkait dengan sikap terhadap kaum kafir, itu hanya untuk seorang kafir mu’ayyan yang tentunya memutuskannya berdasarkan keputusan ulama’ dengan memeriksanya secara langsung. Seperti yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah,
      أَنَّ التَّكْفِيرَ لَهُ شُرُوطٌ وَمَوَانِعُ قَدْ تَنْتَقِي فِي حَقِّ الْمُعَيَّنِ وَأَنَّ تَكْفِيرَ الْمُطْلَقِ لَا يَسْتَلْزِمُ تَكْفِيرَ الْمُعَيَّنِإلَّا إذَا وُجِدَتْ الشُّرُوطُ وَانْتَفَتْ الْمَوَانِعُ
      “Bahwa takfir memiliki syarat-syarat dan penghalang-penghalang dalam mengkafirkan individu tertentu (mu’ayyan), dan bahwa takfir secara umum (muthlaq) tidak mengharuskan takfir terhadap individu tertentu (mu’ayyan), kecuali apabila terpenuhi syarat-syarat dan terangkat penghalang-penghalang.” [Majmu’ Al-Fatawa, 12/488]
      (3) membuang segala jimat yang ada di rumah harus dilakukan karena termasuk bab amar ma’ruf nahi mungkar, jika dengan melakukannya tidak ada mudhorot yang berarti bagi anda ,maka lakukan hingga segala bentuk kesyirikan hilang. Allahua’lam

  • tri says:

    bismillah
    assalamua’alaikum warohmatulloh wa barokaatuh
    saya mau tanya tentang hukum kerjasama dengan bank.
    ada bank BTPN menawarkan menjadi mitra outlet,, yang semua transaksi cukup melalui handphone dengan aplikasi tertentu.
    jadi kalo sudah menjadi agen, bisa melayani orang2 yang ingin menabung dengan didaftarkan dulu no hape nya ke saya .
    dengan tabungan tersebut, orang yang terdaftar bisa tarik tunai ke saya.sedang transfer,
    pembayaran telepon listrik pdam pulsa bisa dilakukan sendiri lewat HP.
    sbg agen saya mendapat komisi dengan batasan nominal tertentu.contoh kalo ada orang isi pulsa 1% massuk ke sya
    kalo orang tarik tunai, da biaya 4% masuk ke sya,
    dangan sistem ini, orang yang menabung, tidak dikenakan biaya admninstrasi bulanan, tp tetap dapat bunga di akhir tahun.
    apakah mutlak diharamkan?
    atau kalo sekedar untuk mempermudah transaksi dibolehkan?
    mohon penjelasannya.
    jazakumulloh khoir, barokallohufikum

    • Al Lijazy says:

      bismillah,wa’alaikum Salam warahmatullahi wabaraakatuh
      sementara yang kami pahami dari kasus ini salah satu pointnya anda menjadi washilah (perantara) nasabah dengan bank yang dengannya akan terjadi praktek ribawi, diantaranya adanya bunga bank dan selainnya. Maka itu dengan ini saja cukuplah kiranya anda terkena hukum tolong menolong dalam perbuatan dosa yang dilarang Allah Ta’ala dalam firmanNya
      وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
      “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. al-Maidah: 02)
      Saran kami untuk berhati-hati tinggalkan saja mu’amalah ini, carilah rizki yang jelas-jelas halal, tidak meragukan hukumnya.barokallahu fiikum
      Sementara,hanya itu yang dapat kami pahami dari kasus anda dan in syaa Allah kami akan coba pelajari lagi kasus ini lebih mendetail. Semoga nanti kita bisa menilainya dari kacamata syari’ah. Allahua’lam

  • Hamba Allah says:

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Minta bantuan penjelasan Ustad, apabila sblmnya ana prnh berselingkuh berjalan selama 1th kmdn ana tobat kmbl dg istri sah ana, namun perempuan selingkuhan tsb tidak mau memaafkan ana krn ana sdh sgt menyakiti dia. Bahkan dia selalu mendoakan ana akan mndptkn adzab yg bsr dr Allah Subhanahu Wa Ta’ala baik ana-nya istri anak2 dan turunan ana krn dia merasa terdzolim olh ana.
    Ana inget betul bahwa doa yg pasti dikabulkan adlh doa orang yg teraniaya.
    Mhn penjelasan ustad apkh adzab itu akan benar-benar dtg di dunia walopun ana sdh puluhan kali minta maaf? Dan apakah amalan ibadah ana akan diperuntukkan utk wanita itu? Dan apa yg hrs ana lakukan kmbl?

    Jazakumullah khairan

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, Wa’alaikum Salaam warahmatullahi wabaraakatuh
      Ana berharap Semoga tidak terjadi apa-apa dengan doanya, karena dia telah mendo’akan keburukan kepada hamba Allah yang telah bertaubat dan kembali ke jalan Allah,ditambah lagi pada posisi dia sendiri telah melakukan dosa besar lagi keji dimata Allah dan belum bertaubat darinya(afwan, ini yang ana pahami secara umum dari makna perselingkuhan).
      Atau mungkin jika memungkinkan anda nikahi aja dia sebagai istri kedua sekalian di bimbing juga ke jalan yang benar, semoga dengan cara ini dia bisa terima dan anda bisa hidup dengan tenang. Allahua’lam bish shawaab.

  • Aisyah says:

    Bismillaah
    Afwan ustadz ana mau tanya. Ada seorang akhwat dan ikhwan yang sedang melakukan proses ta’aruf, tempat mereka berjauhan (beda pulau). Bagaimanakah nazhor yang sesuai syari’at islam, bila sang ikhwan ternyata tidak bisa mendatangi akhwatnya? Apakah diperbolehkan nazhor dengan videocall/saling bertukar foto? Mohon penjelasannya tentang nazhor yang sesuai syari’at islam bila sang ikhwan tidak bisa mendatangi akhwat.
    Jazakumullahu khoiron

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, tentang hal ini kita sampaikan fatwa ulama’ tentang kasus yang serupa. Yaitu fatwa dari Syeikh Abdul Muhsin al Abbad hafidzahullah yaitu ketika beliau ditanya dengan pertanyaan seperti ini:
      السؤال: شخص يريد أن يخطب امرأة، ولكن لا يستطيع الذهاب إلى بلاده لرؤيتها، فهل يجوز في هذه الحالة أن ترسل له صورة شمسية حتى يتمكن من النظر إليها؟
      الإجابة:

      .. نص الإجابة:

      لا يجوز، وإنما إذا أراد أن يذهب لينظر إليها فليذهب وينظر إليها هو إذا كان يريد النظر، أما أن ترسل له الصورة فلا يصلح أن تؤخذ صور النساء وتعطى للأزواج؛ لأن الصورة تبقى وقد يستنسخ منها وتنتشر، أما إذا رآها فإن رؤيته لها تنتهي، فإن أعجبته تزوجها وإلا تركها، أما أن تكون الصورة بيد الرجل فيحتفظ بها أو يعطيها لغيره ويطلع غيره عليها فلا يجوز ذلك.

      Terjemahnya
      Soal:
      Seorang lelaki ingin melamar wanita. Namun ia tidak bisa pergi ke daerah tempat tinggal wanita tersebut untuk melihatnya. Apakah boleh bagi si wanita dalam keadaan seperti ini untuk mengirim foto sehingga tercapai tujuan lelaki tersebut untuk melihatnya?
      Jawab:
      Tidak boleh. Kalau memang ia ingin pergi untuk melihatnya, maka hendaknya berangkatlah. Ini bila memang ia benar-benar ingin melihatnya. Adapun dengan mengirim foto kepada lelaki tersebut, tidak dibenarkan anda memberikan foto wanita kepada beberapa lelaki. Karena foto itu sifatnya tetap( tidak berubah), bahkan terkadang bisa di-copy, dan bisa disebarkan. Dibanding dengan jika seorang lelaki melihat wanita tersebut secara langsung, setelah itu selesai perkara. Mungkin anda kagum lalu menikahinya, atau mungkin anda menolaknya.
      Adapun jika foto wanita tersebut berada di tangan lelaki tersebut, lalu ia simpan, atau ia berikan kepada orang lain sehingga mereka bisa melihat-lihat foto si wanita, ini tidak diperbolehkan.
      Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/33202
      Jadi berdasarkan fatwa tersebut maka hendaknya ikhwannya berusaha mendatangi akhwatnya dan nadzor secara langsung, sebab jika hanya lewat foto selain mudhorot yang syeikh sampaikan juga foto terkadang sifatnya menipu, tidak sesuai dengan kenyataannya. Kalau ikhwannya memang bener-bener niat ingin melamar akhwat tersebut kami rasa kalau hanya beda pulau in syaa allah masih bisa terjangkau, contoh-contoh yang sudah terjadi dari para ikhwah kita juga banyak dan alhamdulillah bisa dan lancar, itu semua tergantung ‘azm ( seberapa kuatnya keinginan untuk menikahi akhwatnya). Allahua’lam

  • Hamba Allah says:

    Assalamu ‘alaikum, ustadz apakah hukum bekerja diperusahaan laundry yang kadang kadang dicuci ada pakaian wanita yang tidak syar’i ataupun membuka aurat? Apakah jika kita bekerja disana ta’awun dalam maksiat? Jazakallahu Khairon

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, Wa’alaikum Salaam warahmatullahi wabarokaatuh
      Pertanyaan serupa ini pernah ditanyakan kepada fadhilatus syeikh Muhammad bin Abdillah Al Imam (Mudiir Ma’had Darul Hadits di Ma’bar, Yaman).
      Kesimpulan jawaban beliau yang bisa kami fahami yaitu seandainya seorang ikhwah atau akhwat yang bekerja di laundry yang keadaannya seperti itu kalu mereka meninggalkannya karena sikap waro’(hati-hati demi agamanya) maka itu baik baginya. Namun seandainya dia tetap bekerja ditempat itu kata beliau tidak sampai ke derajat HARAM, sebab mungkin menurut hemat kami dari jawaban beliau,karena dia tidak tanggung jawab langsung tentang pakaian-pakaian yang dilarang syari’at tersebut. Dia tidak memakainya juga tidak menjualnya.namun karena bentuk ta’awunnya yakni ikut memperbagus dan merapikan pakaian yang tidak syar’i tersebut untuk nantinya akan digunakan untuk bertabarruj atau bermaksiat itu yang perlu kita pertimbangkan. Jadi meninggalkannya untuk kehati-hatian mungkin lebih baik in syaa Allah. Allahua’lam bish shawab

      Dinukil dari: http://adhwaus-salaf.or.id/tanya-jawab-ringkas/

  • ressa says:

    assalamu’alaikum ustadz,
    saya ingin bertanya mengenai jumlah zakat yang harus saya keluarkan
    saya memiliki bangunan yang akan dijual sebesar 500jt, namun pengurusan surat-surat (surat balik nama, sertifikat, dll) belum saya lakukan karena kekurangan biaya. saya berniat menggunakan uang muka yg diberikan pembeli untuk mengurus surat-surat tersebut.
    Jadi zakat yg harus dikeluarkan apakah dari hasil total penjualan bangunan sebesar 500jt tsb (sebelum saya pergunakan uangnya untuk pengurusan surat, bayar hutang, dll), atau zakat dikeluarkan dari sisa uang penjualan yang sudah dikurangi untuk membayar pengurusan surat + hutang2 saya miliki.
    Jazakallahu ustadz, mohon bantuannya.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, , wa’alaikum Salaam warahmatullah,
      Untuk kasus anda diatas,yang perlu kita luruskan disini adalah asal muasal niat anda memiliki bangunan tersebut. Maksud kami jika anda di awal akan membeli bangunan tersebut dengan niat akan dijual kembali (barang dagangan) berarti bangunan tersebut termasuk barang dagangan yang terkena wajib zakat jika sudah berjalan masa kepemilikan selama setahun sebesar 2,5 % dari harga perolehannya baik bangunan tersebut sudah laku maupun belum. Namun jika niat anda membeli bangunan tersebut hanya sekedar buat aset semata tidak dg niat untuk diperdagangkan maka anda hanya terkena zakat mal/harta jika bangunan tersebut sudah laku dan anda memegang uang cash hasil penjualannya. Jadi,apabila yang anda sebutkan bangunan tersebut laku 500 juta atau berapapun setelah dipotong biaya pengurusan, dan nilai bersihnya diatas nishab ( 85 gram emas 24 karat atau senilai 42,5 jt jika harga emas 24karat 500rb/gram)) maka uang tersebut setelah berlalu kepemilikannya selama setahun, harus dikeluarkan zakatnya 2,5% jika masih senilai nishab atau lebih. Misalkan jika anda menerima uang hasil penjualan bangunan tersebut tanggal 1 januari 2016 sebesar 500juta atau berapapun setelah dipotong biaya pengurusan surat,yang jelas jumlahnya diatas nishab yang telah ditentukan diatas, maka anda wajib mengeluarkan zakat mal sebesar 2,5% dari uang tersebut jika masih senilai nishab atau lebih pada tanggal 1 januari 2017 . Demikian semoga bisa difahami. Allahua’lam

      • ressa says:

        Alhamdulillah saya faham ustadz, namun yang masih ragu, apakah 2,5% itu dihitung dari nilai kotor penjualan yang sebesar 500jt (sebelum dikeluarkan untuk pengurusan surat) atau 2,5% dihitung dari nilai bersih penjualan (setelah saya keluarkan untuk biaya pengurusan surat )? Saya takut pembayaran zakat yg saya lakukan tidak sesuai dengan yang rasulullah sholallahu ‘alihi wassalam perintahkan Ustadz.

        Dan berkaitan dgn hal diatas, jika saya memiliki hutang2, apakah saya harus membayar hutang2 saya terlebih dahulu, baru membayar zakat mal dari penjualan bangunan, atau sebaliknya?

  • Muhammad says:

    assalamu alaikum,,,bagaimana hukum pernikahan dimana didalamnya ada bidah yang awalnya dikira tidak mengandung kesyrikan,hanya sebatas makanan untuk dihidangkan untuk acara nikah dan tokoh adat juga awalnya menjelaskan itu tidak mengandung kesyrikan tapi belakangan baru diketahui ternyata itu ditujukan untuk sesajen oleh pihak orang tua mempelai wanita?bagmna pula hukum anak yg telah dmiliki dari prnkahan trsbut?

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah, untuk pernikahannya selama syarat dan rukun-rukunnya terpenuhi in syaa Allah tetap sah, namun tentang acara yang mengandung kesyirikan dalam pernikahan tersebut mungkin bisa mengurangi keberkahan dalam pernikahan. Kecuali kedua mempelainya atau salah satunya adalaah pelaku kesyirikan dan meyakini perbuatan syirik tersebut berarti keyakinannya terhadap kesyirikan tersebut otomatis membatalkan islamnya dan merusak pernikahannya. Maka itu wajib bertaubat dahulu dengan benar baru mengulang akad.Allahua’lam

      • muhammad says:

        syukron ustad atas jawabannya, bagaimana kalau yg musyrik hanya dari pihak keluarga wanita dan hga skrg tdk igin taubat, mempelai wanita dan pria insya Allah tdk mengetahui perbuatan musyrik trsbut dan memg sll mengungkari kesyrikan hanya saja sat nikah tdk mengetahui tujuan hidangan itu untuk sesajen.mhon jawabannya ustad mengingat masalah in sdh bkin khdupan trasa suram.

        • Al Lijazy says:

          Bismillah, jika demikian keadaannya maka in syaa Allah tidak ada mudhorot bagi kedua mempelai tersebut jika masih istiqomah dalam keadaan seperti itu. Hanya saja di anjurkan bagi mereka untuk menasehati mereka yang berbuat kesyirikan tersebut semampunya dengan berusaha menegakkan hujjah atas mereka. Jika mereka masih bersikukuh dalam kesyirikannya maka wajib atas kita berlepas diri terhadap kesyirikan dan pelakunya. Allahua’lam

  • Ardiyanto says:

    Assalamu’alaikum ustadz,
    Saya ardi, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan perihal taubat. Seperti yang sudah saya ketahui, syarat taubat itu adalah 1) Menyesali dosa yang telah diperbuat, 2) Meninggalkan perbuatan maksiat, 3) Berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengulangi lagi perbuatan maksiat yang telah lalu.
    Permasalahan yang saya hadapi adalah saya berkali-kali jatuh kembali setelah bertaubat, sehingga berakibat lelahnya hati untuk kembali memperbaiki diri, meskipun sebenarnya di dalam lubuk hati yang paling dalam masih ada sinar / keinginan untuk kembali memperbaiki diri.
    Ustadz, bagaimana kiat-kiatnya agar bisa benar-benar bangkit dari keterpurukan tersebut. Karena saya bersungguh-sungguh ingin memperbaiki hidup saya dengan jalan Islam dan mendapatkan istri yang sholehah.
    Pertanyaan yang kedua, apakah orang yang telah tergelincir dalam gelimang dosa bisa mendapatkan istri sholehah yang tentunya memiliki ilmu jauh lebih tinggi dari sang suami, karena “Laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik, dan laki-laki yang buruk untuk wanita yang buruk”, begitu pula sebaliknya.
    Demikian pertanyaan saya ustadz, mohon pencerahannya.
    Wassalamu’alaikum, wr, wb.

    • Al Lijazy says:

      bismillah, wa’alaikum salaam warahmatullah, tanggapan kami atas pertanyaan anda
      pertama: jika anda benar-benar jujur dalam bertaubat dan terpenuhi syarat-syarat dan rukunnya,maka in syaa Allah pasti Allah Ta’ala mengampuni.
      Yang mana Rukun Utama Taubat Ada 3:
      Imam An-Nawawi mengatakan,
      وقد سبق في كتاب الإيمان أن لها ثلاثة أركان: الإقلاع، والندم على فعل تلك المعصية، والعزم على أن لا يعود اليها أبدا
      ”Dalam kitab al-Iman disebutkan bahwa taubat memiliki 3 rukun: al-Iqla’ (meninggalkan dosa tersebut), an-Nadm (menyesali) perbuatan maksiat tersebut, dan al-Azm (bertekad) untuk tidak mengulangi dosa yang dia taubati selamanya. (Syarh Shahih Muslim, 17/59)
      Namun jika suatu saat setelah bertaubat anda kembali melakukan dosa yang sama karena memang kalah dengan godaan syaithon, segeralah bertaubat kembali dengan taubat nasuha niscaya Allah Ta’ala akan mengampuni anda lagi.
      Fatawa Ulama’ dari al-Lajnah ad-Daimah mengatakan:
      Apabila dia meminta ampun kepada Allah dan bertaubat dengan taubat nasuha serta berlepas diri dari dosa itu maka Allah akan menerima taubatnya serta mengampuninya. Apabila ia kembali berbuat dosa itu kemudian ia meminta ampun kepada Allah, bertaubat dengan taubat nasuha serta berlepas diri dari dosa itu maka Allah akan menerima taubatnya serta mengampuninya. Begitulah seterusnya.
      Dosa maksiat yang telah lalu tidak bisa kembali setelah taubat yang sungguh-sungguh dilakukan. Allah ta’ala berfirman (Thaha:82) :

      {وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى}

      Dan Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.
      Dan firman Allah ta’ala (an-Najm:32)

      {إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ}

      Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunan Nya. . Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 24/319
      Namun nasehat kami tolong ketika anda akan melakukan dosa itu kembali ingatlah bahwa anda sudah pernah berjanji sama Allah Ta’ala untuk tidak mengulangi lagi dosa tersebut. Demikian agar hal ini tidak bisa membuat anda bermudah-mudahan dalam mengulang-ngulang dosa.
      Dan meskipun anda merasa bergelimang dosa jangan sampai anda putus asa dari rahmat dan ampunan Allah Ta’ala. Karena jika anda merasa lelah dan putus asa justru akan semakin menjauhkan anda dari ampunanNya
      Dalam hadits yang disebutkan oleh ‘Abdur Razaq dalam Mushonnafnya,
      عن بن مسعود قال أكبر الكبائر الإشراك بالله والأمن من مكر الله والقنوط من رحمة الله واليأس من روح الله
      “Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata bahwa di antara dosa besar yang terbesar adalah berbuat syirik pada Allah, merasa aman dari murka Allah dan merasa putus asa dan putus harapan dari ampunan Allah.” (HR. Abdurrozaq, 10: 460, dikeluarkan pula oleh Ath Thobroni. Lihat Kitab Tauhid dengan tahqiq Syaikh Abdul Qodir Al Arnauth, hal. 128). Hadits ini menunjukkan bahwa berputus asa dari rahmat dan luasnya ampunan Allah termasuk dosa besar.
      Ingatlah ayat,
      قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54)
      “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).
      Dalam ayat lain disebutkan,
      أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ
      “Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya?” (QS. At Taubah: 104).
      وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا
      “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa’: 110).

      kedua :Masalah anda berkeinginan untuk mendapatkan istri yang shalihah maka teruslah berusaha dalam keta’atan kepadaNya dan senantiasa bertaubat kepadaNya in syaa Allah nanti akan dimudahkan, sudah banyak contohnya yang sudah terjadi,jadi anda tidak perlu khawatir dan kecil hati. Tapi jika anda masih suka bergelimang dosa dan belum bertaubat, maka jangan terlalu berharap akan hal itu. Allahua’lam

  • Dhi_hzy says:

    Assalamu`alaikum Ustadz
    saya mau tanya nih
    1.Apakah nyawa seseorang itu bisa di ambil setan?
    2.Apakah percaya sama hal/mitos2 kepercayaan org dulu itu termasuk musyrik?
    3.sebenarnya permasalahnya gini ustadz :
    saya mempunyai pcr yg telah sama saya 7tahun dan setelah 7 tahun ternyata orang tuanya melarang kita menikah dikarenakan orang tuanya percaya sama perkataan pamannya yg menyebut kalau saya dan calon istri saya menikah salah satu dari orang tua kita akan dijadikan ganti atau istilah sekarangnya tumbal dan kalau menikah bisa saja anak2 saya kelak bisa cacat dan meninggal (karena misan).saya dan calon istri saya skrg berusaha meluruskan pandangan orang tuanya.sedangkan dari pihak keluarga saya merestui saya.
    skrg menurut ustadz gmn?minta sarannya ustadz.

    • Al Lijazy says:

      bismillah,wa’alaikum salaam warahmatullah, itu semua keyakinan yang tidak benar,jadi jangan dipercaya sedikitpun.kalau percaya hal itu bisa jadi musyrik,sebab dia percaya ramalan makhluq tentang perkara ghaib yang hal itu hanya Allah yang tahu dan berhak menentukannya.mereka sudah mendahului Allah Ta’ala dalam menentukan taqdir masa depan, na’udzubillah. hidup mati itu ditangan Allah Ta’ala mutlak tidak ada yang ikut campur didalamnya.dan yang mencabut nyawa hanyalah malaikat maut dengan idzin Allah Ta’ala, bukan setan. jadi kalau dirasa kalian berdua sudah memenuhi syarat-syarat menikah maka segerakan saja menikah, STOP pacaran sampai semuanya dihalalkan syari’at.Jangan berlama-lama tenggelam dalam kema’shiyatan (khususnya pacaran), jika kalian dicabut nyawanya dalam keadaan seperti itu, maka kalian mati dalam keadaan su’ul khotimah, karena mati sedang berbuat ma’shiyat. wal’iyadzubillah nas’alullahas salaamah.jadi bertaubatlah kepada Allah Ta’ala sebelum terlambat dan segerakan menikah. Allahua’lam

  • Dhiane says:

    Assalamualaikum wr.wb
    Ustad saya mau tanya nih bagaimana menyadarkan orang tua yg sudah berbuat syirik?agar orang tua kita sadar dan kembali sadar.
    mohon pencerahaannya Ustadz.

    • Al Lijazy says:

      bismillah,wa’alaikum Salaam warahmatullah, harus ditegakkan hujjah atau nasehat kepada mereka dengan cara yang baik dan diminta bertaubat serta diajari cara bertaubat yang benar, jangan lupa semua itu diiringi berdo’a kepada Allah agar Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada mereka. Allahua’lam, Baarokallahu fiik

  • Dwi says:

    Assalamu’alaikum… Ustad saya mau tanya maaf mungkin agak panjang..
    Sebelumnya per kenalnya saya seorang Tkw janda tanpa anak , sekitar dua tahun lalu saya bertunangan dgn tetangga saya sendiri.. Lalu saya balik lagi kerja jadi TKW.. Setelah dua tahun saya pulang rencana mau menikah.. Tp ternyata tunangan saya itu belum siap untuk menikahi saya , selain itu dia juga selalu mengabaikan ajakan saya untuk sholat , dia selalu berfikir bahwa sholat itu dari hati nggak bs dipaksa..
    Kami sudah terlanjur melangkah jauh .
    Rencana buat rumah tangga sudah matang
    Tp saya sangat kecewa karna dia sama sekali nggak ada kesiapan untuk menikahi saya pdahal hubungan sudah 2 th lebih
    Dia juga malah menyuruh saya kerja lagi jdi TKW buat cari modal
    Dan akhirnya saya berangkat gitu aja.. Tp dalam hati saya sangat kecewa.. Harapan untuk menikah dgn dia sudah nggak ada… Kekecewaan selain soal materi jg soal ibadahnya.. Yg selalu di abaikan

    4 bulan sudah saya kembali kerja jd TkW lg… Akhirnya saya berkenalan dgn pria asal kalimantan yg InsyaaAllah ibadahnya jauh lebih baik ketimbang tunangan saya itu
    Dan dia mengajak saya menikah .. Bukan mengajak pacaran atau tunangan

    Tapi masalahnya orangtua saya sangat tidak setuju dgn pilihan saya ini

    Alasannya
    1. Karena dia bukan orang Jawa
    2. Kerena saya sdh terlanjur bertunangan malu kalau dibatalkan

    Padahal saya sudah sangat ingin menikah.. Dan nggak mau pacaran lagi .
    Apa yg seharusnya saya lakukan.. Saya sudah mencoba bicara baik baik dgn ortu saya

    Demikian pertanyaan dr saya Ustad.. Mohon pencerahannya.. Sebelumnya Terimakasih Jazakillah khairan

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,wa’alaikum Salaam warahmatullah, saran kami jika memungkinkan sebaiknya anda pulang dari kerja jadi TKW dan terima saja ajakan pria dari kalimantan tersebut untuk menikah selama dia memang pria yang bertaqwa,shalih, baik dan bertanggung jawab. kami lihat masalah anda hanya orang tua anda tidak setuju karena beda suku saja dan sudah terlanjur bertunangan, saran kami untuk langkah awal coba anda bicara serius dengan orang tua dan sampaikan alasan kenapa anda memilih dia, yang memang secara syar’i memilih calon suami itu harus yang bertaqwa dan shalih, sebab dia nantinya yang akan menjadi imam anda dalam keluarga, dan sampaikan pula kenapa anda tidak memilih yang pertama meskipun sudah bertunangan, alasannya selain dia peninggal sholat yang kalo dia meniggalkannya secara terus menerus sebagian ulama’ memandang batal islamnya, lantas bagaimana dengan keadaan seperti itu dia bisa menjadi imam anda dalam keluarga,juga selain itu tunangan dalam islam bukan berarti apa-apa, artinya belum merubah status secara hukum syar’i,yakni dia tetap bukan mahrom kita dan masih bisa dibatalkan dengan alasan tertentu.
      Namun jika upaya nasehat ini belum membuahkan hasil coba langkah kedua yaitu adakan musyawarah keluarga besar, bila perlu anda cari pihak ketiga dari kerabat maupun yang lain tentunya yang faham agama yang bisa membantu menjembatani antara anda dan keluarga anda, semoga dengan adanya musyawarah keluarga akan ada jalan keluar yang terbaik nantinya in syaa Allah. Allahua’lam semoga dimudahkan

  • arifin says:

    Assalaamu’alaikum
    Saya mau tanya :
    Semoga Allah SWT selalu memberikan rahmat dan taufikNya kepada kita semua amin.
    Mohon penjelasannya Pa Ustad, bagaimana cara menghitung zakat mal, karena menurut sebagian teman saya, kalau kita masih punya hutang, maka tidak wajib berzakat.
    Kami dan teman –teman lainnya adalah berprofesi sebagai pedagang, rata-rata setiap bulan keuntungan 5 Juta.
    Saya juga mempunyai gedung burung wallet, kalau dirata-rata setiap bulannya dapat penghasilan 5 juta. Kemudian pengeluaran untuk keperluaan hidup kami sekeluarga + 5 juta setiap bulan.
    Sehingga penghasilan dari hasil dagang dan sarang wallet setiap bulannya + 10 juta, tetapi sampai sekarang saya masih punya hutang dibank 200 juta.

    Mohon penjelasannya Pa Ustad, bagaimana cara menghitung zakatnya.
    Terimakasih, semoga Allah SWT selalu memberikan hidayah dan rahmatnya kepada kita. Amin…
    Mohon dibalas lewat alamat email ini juga.

    Trims hamba Allah
    Di Kalimantan selatan

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah,
      Zakat mal itu dikeluarkan jika uang anda sudah mencapai nishab dan sudah berlalu satu tahun tanpa berkurang dari nishab sedikitpun.
      Nisab zakat harta itu senilai 85 gram emas murni 24 karat.
      maka bila anda memiliki uang sudah mencapai harga nishab emas tersebut dan anda memilikinya dengan kepemilikan sempurna setelah berlalu satu tahun, anda wajib mengeluarkan zakatnya, yaitu 2,5% dari total uang yang tersimpan tersebut.
      Misalkan saat ini harga emas 24 karat sebesar Rp.500.000/gram, berarti untuk nishab emas sebesar Rp. 500.000 x 85 gram = Rp. 42.500.000.
      Sebagai contoh kasus, misalkan anda pada bulan ini memiliki uang sebesar Rp. 50.000.000, Berarti hartanya sudah sampai batas nishab wajib zakat.. Jika di bulan yang sama pada tahun berikutnya uang itu tetap sejumlah itu atau bertambah tanpa berkurang dari nishab di tengah-tengah tahun itu, maka tinggal dikalikan 2,5 %. Misalkan uang itu ditahun berikutnya tetap sejumlah itu, maka zakat yang harus dikeluarkan adalah :
      Rp. 50.000.000 x 2,5% = Rp. 1.250.000
      namun disini anda katakan bahwa anda seorang pedagang, maka perlu anda ketahui bahwa syari’at mewajibkan zakat perdagangan.
      Barang dagangan (‘urudhudh tijaroh) yang dimaksud di sini adalah yang diperjualbelikan untuk mencari untung.
      Dalil akan wajibnya zakat perdagangan adalah firman Allah Ta’ala,
      يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ
      “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.” (QS. Al Baqarah: 267). Imam Bukhari meletakkan Bab dalam kitab Zakat dalam kitab shahihnya, di mana beliau berkata,
      باب صَدَقَةِ الْكَسْبِ وَالتِّجَارَةِ
      “Bab: Zakat hasil usaha dan tijaroh (perdagangan)”[ Shahih Al Bukhari pada Kitab Zakat], setelah itu beliau rahimahullah membawakan ayat di atas.
      Ibnul ‘Arobi mengatakan,
      { مَا كَسَبْتُمْ } يَعْنِي : التِّجَارَةَ
      “Yang dimaksud ‘hasil usaha kalian’ adalah perdagangan”.[ Ahkamul Qur’an, Ibnul ‘Arobi, 1: 469]
      Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Para ulama empat madzhab dan ulama lainnya –kecuali yang keliru dalam hal ini- berpendapat wajibnya zakat barang dagangan, baik pedagang adalah seorang yang bermukim atau musafir. Begitu pula tetap terkena kewajiban zakat walau si pedagang bertujuan dengan membeli barang ketika harga murah dan menjualnya kembali ketika harganya melonjak. …( Majmu’ Al Fatawa, 25: 45.)
      Nishab zakat perdagangan
      Nishab zakat perdagangan sama dengan nishab zakat mal yakni senilai 85 gram emas murni 24 karat. Jadi jika harta dagangan jika sudah mencapai nishab tersebut maka sudah harus di catat tanggalnya dan ditunggu satu tahu berikutnya. Jika tahun berikutnya harta dagangan tetap segitu atau bertambah maka tinggal dihitung zakatnya.
      Cara menghitung zakat perdagangan
      Perhitungan zakat barang dagangan = nilai barang dagangan* + uang modal dagang yang ada + piutang lancar – hutang yang jatuh tempo**.
      * dengan harga saat jatuh haul, bukan harga saat beli.
      ** hutang yang dimaksud adalah hutang yang jatuh tempo pada tahun tersebut (tahun pengeluaran zakat). Jadi bukan dimaksud seluruh h hutang dagang yang ada. Karena jika seluruhnya, bisa jadi ia tidak ada zakat bagi dirinya.
      Kalau mencapai nishob, maka dikeluarkan zakat sebesar 2,5% atau 1/40.
      Contoh:
      anda mulai membuka usaha dengan modal 100 juta pada bulan Muharram 1432 H. Pada bulan Muharram 1433 H, perincian zakat barang dagangan anda misalkan sebagai berikut:
      – Nilai barang dagangan = Rp.60.000.000
      – Uang yang ada = Rp.10.000.000
      – Piutang lancar = Rp.10.000.000
      – Utang = Rp.20.000.000 (yang jatuh tempo tahun 1433 H)
      Perhitungan Zakat
      = (Rp.60.000.000 + Rp.10.000.000 + Rp.10.000.000 – Rp.20.000.000) x 2,5%
      = Rp.40.000.000 x 2,5%
      = Rp.1.500.000
      Allahua’lam, jadi silahkan anda hitung sendiri harta anda berdasar rumus di atas.Semoga Allah senantiasa memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat.

    • ADAM says:

      السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
      saya pernah dengar tausiyah salah satu ustad yang menyebutkan satu hadist yg maknanya : apabila kita shalat subuh berjama ah dimasjid selanjutnnya berzikir atau mendengarkan tausiyah hingga menjelang pajar kemudian dilanjutkan dengan shalat sunnah 2 raka at maka pahalanya sama dengan berumrah dan berhaji, sempurna..sempurna..sempurna..
      pertanyaan nya apakah tidak menyalahi shalat pada jam 6 atau jam 7 pagi karena waktu itu terlarang utk shalat, kemudian shalat tersebut dinamakan shalat apa… mohon penjelasan nya pa ustad. terima kasih

      • Al Lijazy says:

        Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullahi wabarakaatuh
        In syaa Allah hadits yang anda maksud adalah
        Hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
        « مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ »
        “Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian dia duduk – dalam riwayat lain: dia menetap di mesjid – untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian dia shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna sempurna sempurna“[HR at-Tirmidzi (no. 586), dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaditsish shahihah” (no. 3403).]
        Shalat dua rakaat ini diistilahkan oleh sebagian para ulama dengan shalat isyraq (terbitnya matahari),sebagian yang lain menyebutkan itu adalah sholat dhuha dan itu bukan pada waktu terlarang untuk sholat, sebab waktunya di awal waktu shalat dhuha[ Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/157) dan “Bughyatul mutathawwi’” (hal. 79).].
        Dalam teks hadits tersebut Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ “… sampai matahari terbit“, artinya: sampai matahari benar-benar telah terbit,dan matahari terbit terbit artinya sudah masuk waktu dhuha. Sedangkan yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat adalah ketika matahari baru saja terbit hingga benar-benar terbit, sedang terbenam hingga benar-benar tenggelam dan ketika persis lurus di tengah-tengah langit hingga tergelincir[ H.R Muslim (no. 831).]. Allahua’lam

  • arifin says:

    alhamdulillah, terima kasih pa ustad
    sudah ada pencerahan, semoga antum sekelurga selalu mendapat hidayah dan rahmat dari Allah SWT

  • Hariyanto says:

    Assalamu’alaikum ustad,
    Saya belum lama ini baru mengenal mengenai manhaj salaf, dan saya ingin terus belajar menimba ilmu bersama sahabat” saya Yang kebanyakan sudah sering ikut kajian manhaj salaf

    pertanyaan saya: Saya ingin menikahi salah satu akhwat , tetapi akhwat tersebut bukan lah dari manhaj Salaf, melainkan ia ikut atau tergabung dalam liqo, saya sudah mengajak nya untuk ber alih mengikuti manhaj salaf dan meninggalkan Liqo, namun seperti nya si akhwat keberatan…..

    Ada saran gak tad, untuk saya…? apabila saya menyukainya apakah saya harus mempertahankan nya hingga kami menikah atau saya mencari akhwat yag lain….? , dan apa dampak dari hubungan suami istri yg berbeda manhaj…?

    Jazakalloh khoiron

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Yang perlu anda ketahui adalah bahwa Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah mewajibkan atas setiap muslim dan muslimah untuk untuk selektif dalam memilih teman duduk dan teman bergaul, hendaknya dia hanya memilih teman yang baik agar agamanya tetap terjaga. Ini pada teman duduk, maka tentunya dalam memilih teman hidup itu harus lebih selektif dan hanya memilih yang benar-benar baik dan lurus akidah dan manhajnya. Allah Ta’ala berfirman:

      وَلاَ تَرْكَنُوْا إِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ

      “Dan janganlah kalian condong kepada orang-orang yang zhalim yang menyebabkan kalian disentuh oleh api neraka.”
      Dan dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari yang masyhur, Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- memperumpamakan teman duduk yang baik dengan penjual minyak wangi yang bisa memberikan manfaat kepada orang di dekatnya meski hanya sekenar tercium aroma wangi darinya, sedangkan teman duduk yang jelek bagaikan pandai besi yang bisa memudharatkan orang di dekatnya paling tidak akan mendapatkan bau yang tidak sedap(HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dan dalil-dalil lain yang semisal ini.
      Karenanya seorang muslim yang baik akidah dan manhajnya hendaknya tidak menikah dengan muslimah yang menyimpang akidah dan manhajnya, demikian pula sebaliknya. Bahkan menikahnya seorang muslimah yang baik akidah dan manhajnya dengan muslim yang menyimpang akidah dan manhajnya, adalah keadaan yang lebih parah dan lebih jelek akibatnya, karena biasanya istri akan mengikuti suaminya, sementara suaminya tidak berakidah menyimpang. Karenanya sikap untuk tidak mau menikah kecuali dengan yang benar akidah dan manhajnya adalah sikap yang sangat benar guna menjaga kehormatan dan agamanya.
      Ada sebuah kisah yang mungkin perlu anda renungkan, kisah ini masyhur dikalangan ahlu sunnah in syaa Allah. Disebutkan oleh para ulama mengenai seseorang yang bernama Imran Al-Haththan. Orang ini dulunya salah seorang da’i ahlussunnah, akan tetapi dia nekat menikah dengan putri pamannya (sepupunya) yang mempunyai pemikiran khawarij, dia berdalih menikahinya agar dia bisa menasehati jika dia sudah jadi istrinya. Akan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, justru dia yang malah dinasehati oleh istrinya hingga akhirnya qoddarullah dia keluar dari ahlussunnah menuju ke mazhab khawarij bahkan disebutkan bahwa dia lebih ekstrim daripada istrinya dalam mazhab khawarij ini. Na’udzubillah
      Maka lihatlah bagaimana seorang alim bisa terpengaruh oleh wanita yang notabene adalah istrinya sendiri, maka bagaimana kiranya dengan anda? Apakah anda yang mungkin ilmunya tidak seperti imran al haththan bisa menjamin keistiqomahan anda dalam manhaj salaf? Sedangkan hati ini sangatlah lemah dan selalu berbolak-balik dengan idzin Allah Ta’ala, maka renungkanlah wahai saudaraku..
      Maka dari itu saudaraku..ahsan tinggalkan saja dia kecuali dia sudah bertaubat dan mau beriltizam dengan manhaj salaf maka silahkan dilanjut, kalau tidak in syaa allah masih banyak akhwat yang bagus akidah dan manhajnya, karenanya anda harus bersabar,tetap berusaha dan bertawakkal kepada Allah Ta’ala.
      kitapun sudah memahami tentang ghaibnya jodoh, yang itu termasuk bagian dari takdir seseorang, dan tidak ada yang mengetahui apa takdirnya kecuali setelah terjadinya. Hanya saja mungkin kita bisa mendekatinya dengan shalat istikharah (tentunya setelah mendapatkan calon yang sesuai dengan kriteria syar’iy) guna menetapkan hatinya apakah calonnya bisa mendatangkan kebaikan bagi agama dan dunianya ataukah tidak, segeralah anda beristikharah kepada Allah ta’ala dan bertawakkal kepadaNya, wallahu a’lam. Semoga dimudahkan

  • Ria says:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh ustadz.

    Ustadz, apakah Ustadz juga membuka forum taaruf untuk ikhwan/akhwat yang sedang ikhtiar nikah?

    Jazaakallah khayr..

  • Leila says:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh ustadz.

    Saya seorang wanita berumur 24 tahun. Selama saya hidup, saya tidak pernah merasakan nafsu seksual ataupun romantis. Saya tidak tertarik secara romantis terhadap laki-laki dan selalu kebingungan jika teman2 saya semangat menjalin asmara (saya merasa pacaran tidak berguna, terlepas dari boleh/tidaknya dlm islam). Saya juga tidak tertarik pada perempuan jd saya cukup yakin saya bukan penyuka sesama jenis.

    Tahun lalu saya menikah dengan seorang laki-laki yang dipilihkan oleh orang tua saya dan saya terima karena saya berpikir “oh, memikah itu adalah jalur yg ‘normal’ bagi mayoritas, jadi saya juga harus mengikuti jalur tsb”. Sama sekali tidak ada rasa cinta maupun nafsu. Hanya ada rasa ‘menghargai’ yg normal seperti yg saya rasakan pada org lain.

    Tetapi kini saya sangat takut menjadi orang dzalim dan kufur krn saya tidak bisa memenuhi hak suami saya terutama hak bathin (berhubungan suami-istri) krn setiap disentuh sy merasa jijik. Saya merasa sangat bersalah krn suami sy org baik yg pantas mendapat yg lebih baik.

    Saya tidak merasa kondisi saya yg tidak memiliki syahwat ini sebagai kelemahan atau kekurangan. Sy merasa normal. Sy pernah diberi obat hormon selama 3 bulan tp sy tidak merasa berbeda.

    Pertanyaan saya: saya berniat untuk bercerai krn dgn demikian suami saya bisa mendapatkan istri baru yg bisa memenuhi haknya, dan sayapun tidak merasa dirugikan jika bercerai (justru lega krn sy takut makin dzolim dan kufur jika dilanjutkan lebih lama). Apakah dibolehkan dalam islam untuk saya meminta bercerai dgn alasan di atas?

    Jazakallah khair ustadz

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullahi wabarokaatuh
      Untuk masalah yang anda hadapi ini kami menyarankan anda untuk berobat semaksimal mungkin tentang hilangnya syahwat pada anda. Sebab sementara ini kami yakin bahwa itu adalah penyakit yang in syaa Allah ada obatnya (penanggulangannya) sebab Allah Ta’ala pada dasarnya menciptakan kita dengan fitrahnya yaitu diantaranya memiliki syahwat, dan sekarang jika anda kehilangan fitrah tersebut mungkin anda pernah mengalami sesuatu sehingga anda bisa mengalami keadaan seperti ini. Maka saran kami sebaiknya anda teraphi dulu dengan sungguh-sungguh selama setahun paling tidak, jika lewat setahun masih seperti itu maka urusannya kami serahkan pada anda untuk memutuskan. Hal ini kami sarankan berdasarkan nasehat dari para Ulama’ jika hal yang terjadi justru sebaliknya, yaitu dari pihak suami yang kehilangan syahwat, maka dalam hal ini istri diminta memberi waktu untuk berobat bagi suaminya selama setahun,
      jika telah lewat satu tahun, istri boleh menuntut “faskh” yaitu perceraian dengan keputusan hakim.
      Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,
      إذا وجدته عنينا, أجل إلى سنة, فإذا مضت و هو على حاله فلها الفسخ
      “Jika istri mendapati suaminya impoten, maka ditunda (diberi waktu kesempatan) satu tahun, jika telah berlalu dan suami masih impoten maka istri berhak mengajukan Faskh.”(Manhajus salikin hal 202, Darul Wathan, cet. I, 1421 H]
      Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah berkata,
      العلة في ذلك: حتى تمر به الفصول الأربعة، فقد يكون مثلا لا يقدر على الوطء، ولا يحصل منه الانتشار بسبب البرودة، فإذا زال البرد حصل له القوة، أو قد يكون سببه الحرارة، فيؤجل إلى سنة حتى تمر به الفصول الأربع, إذا مضت تلك المدة بدون تحسن يذكر فيحق للزوجة أن تطلب فسخ نفسها، وذلك لأن المرأة لها شهوة كما للرجل
      “Alasannya (mengapa satu tahun) yaitu sampai berlalu empat musim karena bisa jadi ia tidak mampu melakukan jima’ (lemah) karena pengaruh cuaca dingin. Jika dingin hilang maka datanglah kekuatan (jima’ dan bisa tegak). Bisa jadi juga sebabnya adalah cuaca panas. Maka ditangguhkan setahun sampai berlalu empat musim. Jika telah berlalu tanpa perbaikan, maka istri berhak mengajukan permintaan cerai (faskh) kepada hakim. Karena wanita juga memiliki syahwat sebagaimana laki-laki.”( Ibhajul Mu’min hal 250, Darul Wathan, cet.I, 1422 H)
      Jadi kami nasehatkan hal ini juga anda terapkan pada anda sendiri, anda harus berobat ataupun teraphi paling tidak setahun lamanya dengan sungguh-sungguh ingin sembuh dan diringi berdo’a minta kesembuhan pada Allah Ta’ala. Janganlah anda mudah minta cerai dengan terburu-buru sebelum berusaha berobat, karena ada ancaman bagi wanita yang mudah meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan yang jelas.
      Adapun minta cerai tanpa alasan syar’i maka hukumnya haram n trmasuk dosa besar. Hal ini berdasarkan hadits shahih berikut ini:
      عَنْ ثَوْبَانَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلاقَ فِي غَيْرِ مَا بَأْسٍ ، فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ “.
      Dari Tsauban radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wanita mana saja yg minta cerai (khulu’) dari suaminya tanpa alasan yg benar (syar’i) , maka diharamkan baginya mencium bau harum Surga.”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah no.2055. Dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani rahimahullah di dlm Shohih Sunan Ibnu Majah).

      Adapun jika saudah berlalu setahun dengan anda sudah berusaha dengan sungguh-sungguh dan berdo’a namun belum mendapatkan hasil maka kami serahkan pada anda tentang keputusannya.tapi sebaiknya sejak sekarang anda sudah harus bermusyawarah dengan suami anda tentang penyakit anda ini, biar nantinya jika keputusan akhirnya anda harus minta cerai karena dikhawatirkan anda tidak bisa memewnuhi hak suami, suami anda bisa mengerti dan ridha dengan keputusan tersebut sehingga bisa mempersiapkan segalanya,
      Tentang hukum istri yang meminta cerai karena dikhawatirkan kufur terhadap suaminya adalah termasuk alasan yang di bolehkan syari’at. Jadi
      Istri merasa benci n sdh tidak nyaman hidup brsama suaminya, bukan karena agama n akhlak suami yg baik, tapi karena khawatir tidak bisa memenuhi hak-haknya. Misalkan istri merasa jijik dengan suaminya karena suaminya buruk rupa ataupun yang lainnya,maka boleh baginya untuk minta khulu’.
      Para ulama telah menyebutkan bahwa boleh bagi seorang wanita yang meminta cerai dikarenakan tidak bisa meraih kebahagiaan dikarenakan sang suami buruk rupa atau yang lainnya. Dalil akan hal ini adalah kisah istri sahabat Tsabit bin Qois yang meminta cerai darinya. Ibnu Abbas meriwayatkan :

      أَنَّ امْرَأَةَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ مَا أَعْتِبُ عَلَيْهِ فِي خُلُقٍ وَلا دِينٍ ، وَلَكِنِّي أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِي الْإِسْلَامِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ ؟ قَالَتْ : نَعَمْ . قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اقْبَلْ الْحَدِيقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيقَةً

      “Bahwasanya istri Tsaabit bin Qois mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, suamiku Tsaabit bin Qois tidaklah aku mencela akhlaknya dan tidak pula agamanya, akan tetapi aku takut berbuat kekufuran dalam Islam”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apakah engkau (bersedia) mengembalikan kebunnya (yang ia berikan sebagai maharmu-pen)?”.

      Maka ia berkata, “Iya”. Rasulullah pun berkata kepada Tsaabit, “Terimalah kembali kebun tersebut dan ceraikanlah ia !” (HR Al-Bukhari no 5373)
      Allahua’lam, semoga Allah Ta’la memudahkan anda.

  • Mulia says:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

    Ustadz,mohon penjelasan Ustadz untuk kondisi sbb:

    Saya seorang wanita berusia 27 tahun, baru memeluk islam 3 tahun, belum bisa lancar membaca al-qur’an, dari awal masuk islam telah belajar tauhiid melalui kajian umum maupun intensif bersama guru, saat ini saya masih proses awal mempelajari ilmu syar’i. Baru mendalami kitab ushul ats tsalatsah untuk memperkokoh akidah.

    Secara duniawi, saya lulusan pascasarjana sebuah perguruan tinggi di jakarta. Dulu saya banyak memperoleh kesempatan jadi leader. Baik di kampus, di pekerjaan, maupun di rumah. Keadaan yang menurut saya tidak rapi manajemennya secara naluri saya rapikan dengan kemampuan yang Allah berikan kepada saya. Akan tetapi lama2 saya merasa menjadi seorang wanita yang melawan fitrah. Saya menjadi wanita tegas, berani, to the point dan cenderung maskulin jika berada di posisi yang berantakan/orang-orang di dalam kondisi itu saya anggap kurang berilmu sehingga pemecahan masalahnya bertele-tele dan tidak efektif dan malah keluar dari konteks.. belum lagi jika malah menjadi wadah ghibah.

    Namun aslinya, saya seorang yang memikirkan segala sesuatunya secara lembut, dalam artian memilih keputusan yang paling tidak menyakiti pihak2 yang berkepentingan. Saya juga bukan orang yang tahan dalam keributan. Jika marah, saya jadinya menangis dan sulit mengungkapkannya.

    Dari dulu saya lebih banyak berkawan dengan kaum adam karena pembicaraan dengan mereka pada umumnya lebih menarik untuk saya. Misalnya hal bisnis, agama, sosial, ide. Saya lebih suka hal itu dibandingkan pembicaraan bertele-tele dan basa basi khas wanita. Dan sy kurang suka gosip. Itu alasan utama sy lebih banyak punya teman laki2.

    Walaupun demikian, semenjak masuk islam, saya menjaga pergaulan dengan tidak bersentuhan dengan mereka atau tidak terlalu dekat dan menjaga bicara saya agar tidak menjurus ke hal-hal kurang baik. Kini sy juga sudah berhijab syar’i.

    Teman2 saya itupun menghormati saya. Jika ingin diskusi, mereka yang datang kerumah saya. Diskusi yang dilakukan pun biasanya tak jauh dari soal keilmuan dan agama.

    Ada seorang kawan yang sebenarnya menarik hati saya dikarenakan pola pikirnya, jiwa sosialnya, empatinya dan rencana juangnya dalam hal kemaslahatan umat dan kemajuan islam. Akan tetapi saya tidak mengutarakannya dan lagi saya tidak melihat dia sudah siap menikah. Dia juga sepertinya segan terhadap saya. Dan memang sebagian besar kawan sikapnya seperti segan terhadap saya.

    Kadang saya merasa berjarak, menjadi wanita yang terlalu independen untuk di lingkungan kawan2 yang belum ngaji sunnah.

    Saya merasa sisi lain diri saya yang muncul di lingkungan tsb dan bukan yang sebenarnya.

    Saya menemukan majelis tempat belajar sunnah. Saya senang mengikutinya. Jikapun sy datang saya memilih memakai cadar karena ada rasa malu jika berpapasan dengan ikhwan2 disana. Dalam proses ngaji ini saya menemukan sisi lain dari diri saya yang feminin dan berbeda 180 derajat dengan versi diri saya di lingkungan non ngaji.

    Lalu saya mulai ingin nikah dan salah satu ikhtiarnya saya memilih minta bantuan kepada orang2 amanah di lingkungan ngaji saya.

    Allah mengabulkan dan mulailah saya bertaaruf dengan beberapa orang. Namun qadarullah belum sampai ke pernikahan.

    Saya bukan mencari orang yang sempurna, Ustadz. Namun yg datang pada saya, ada yang sudah berilmu (Ustadz muda), saya suka fisiknya, tapi ia berhenti proses dgn saya dengan alasan takut tidak mampu mengikuti (gaya hidup) saya. Saya juga kurang jelas maksudnya. Mungkin dia mencari tahu tentang saya dari media sosial. Jikapun demikian, media sosial sy sudah lama tidak saya update dan rasanya tidak valid dengan kondisi sekarang. Ada pula seorang yang hijrah. Tidak punya pekerjaan tetap, namun takwa dan bergantungnya pada Allah tergolong kuat. Saya suka hati dan fisiknya. Namun tabiatnya masih kurang baik di mata ibu saya, sehingga akhirnya pernikahan pun batal krn ibu saya tidak setuju. Lalu yang ada pula yang datang, dia seorang shalih hijrah baru 1 tahun mengenal ilmu syar’i, sedang menimba ilmu bhs arab dan kajian sunnah, namun hati saya tidak condong pada fisik (wajahnya). Jujur utk yang terakhir ini, sy berat di soal fisik. Saya tidak menemukan sesuatu yang membuat saya tertarik padanya walaupun dia mungkin seorang yang shalih. Lalu ada juga seorang pengusaha muda, baru belajar sunnah, fisiknya saya suka namun tidak dapat lanjut karena dia berlokasi di kota lain dan saya terkendala dengan persoalan di rumah yang dimana sy menjadi pencari nafkah untuk ibu dan keponakan saya.

    Kondisi mencari nafkah ini juga menjadi kendala bagi saya,Ustadz.ibu saya seorang yang khawatiran dan memang belum kenal sunnah. Kekhawatirannya biasa tidak jauh dari soal keuangan. Jika sudah begitu beliau memendam, nanti menangis, lalu sakit, atau mengungkit2 keputusan saya yang resign dari sebuah perusahaan besar ribawi. Dalam menghadapi semua ini alhamdulillah Allah memberi jalan. Saya akhirnya memilih untuk membuka usaha di rumah dan memang saya ingin membuay sistemnya sehingga saya tidak perlu terlibat terlalu dalam sehingga usaha itu tidak bergantung pada kehadiran saya.

    Saya menyiapkan ini agar keluarga saya mandiri dan tidak lagi bergantung pada saya. Karena saya juga ingin menikah dan menjalani peran total sebagai istri dan ibu sesuai syariat.

    Ustadz,sekarang saya dalam keadaan stuck/bingung. Saya ingin menikah karena merasa butuh dipimpin terutama dlm agama. saya jemu melawan fitrah mengambil alih kepemimpinan dan saya ingin dipimpin. Ingin diarahkan. Banyaknya hal yang saya hadapi membuat saya membutuhkan teman hidup sekadar utk berbagi dan berbahagia. Ujungnya agar hati tenteram dan dapat beribadah dengan lebih tenang. namun seperti ada bagian diri yang bilang bahwa saya belum siap dan mengharuskan sy untuk belajar dulu agama,dll. Itu apakah bisikan setan, Ustadz untuk membuat saya menunda2 pernikahan? dan juga saya bingung apakah niat saya menikah itu sudah karena Allah?

    Saya juga bingung, apakah boleh jika saya menetapkan kriteria umur dan minimal pendidikan untuk ikhtiar taaruf berikutnya? Dan apakah boleh jika saya menaruh persyaratan pada calon ikhwan untuk memahami/memaklumi jika saya masih harus mengurus usaha demi untuk membantu keuangan ibu saya? Di satu sisi, saya belum bisa ngaji, ilmu belum banyak.. apakah boleh saya mengharapkan jodoh yang berilmu lebih baik daripada saya atau saya mencari saja yang sekufu?

    Mohon masukan Ustadz tentang diri saya. Apa yang perlu saya perbaiki.

    Jazaakallah khayr wa barakallahufiik Ustadz..

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, Wa’alaikum Salaam warahmatullahi wabarokaatuh, pertama kami bersyukur kepada Allah ta’ala atas keislaman anda, ditambah lagi rasa syukur kami, keadaan anda sekarang ini anda sedang mempelajari ilmu syar’i dengan jalan yang benar in syaa Allah, kami berdo’a pada Allah agar Allah membukakan pintu pemahaman bagi anda terhadap Islam, dan memberikan keistiqomahan dalam mununtut ilmu dan ibadah.
      Masalah yang kami garis bawahi dan harus kami komentari pada tulisan anda
      Pertama: tentang perubahan karakter fitrah anda menjadi cenderung maskulin. Ini sebaiknya jangan anda biarkan mengalir, anda harus segera kembali ke fitrah anda sebagai seorang wanita dengan kekhasannya sesuai fitrahnya, yang diantaranya rasa malunya yang kuat. Untuk membenahi ini kami sarankan mungkin anda perlu mencari ilmu tentang karakter para ummul mukminiin atau shohabiyah lainnya. Dari merekalah anda belajar menjadi wanita shalihah. Ilmiyahnya bisa anda dapatkan dari cara yang termudah bagi anda, baik dari kajian-kajian ilmiyah tentang sirah shohabiyah maupun dari buku-buku tentang kisah mereka.
      Kedua :tentang kebiasaan anda berkawan dengan kaum adam. Ini adalah perangkap syaithon, ketika anda merasa lebih nyaman dengan kaum adam, memang ini yang diinginkan syaithon, dan ini hembusan dan perhiasan syaithon terhadap anda agar anda terus berBuat dosa dengan sebab ikhlilat dan ujung-ujungnya menuju perzinahan,wal ‘iyaadzubillah tolong anda jangan remehkan seruan syaithon yang satu ini, menurut kisah-kisah yang sudah terjadi tipuan syaithon yang jenis ini banyak berhasilnya.kecuali orang-orang yang Allah selamatkan.
      Ingatlah firman Allah Ta’ala
      ولاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً
      “Janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu merupakan perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.” (Qs. al-Isra’: 32)

      Dan ikhtilah sudah jelas salah satu perbuatan yang mendekatkan kepada zina.

      Ketiga : tentang kebingungan anda mencari kriteria suami
      Kami tunjukkan kriteria suami yang ideal menurut syari’ah, dari situ silahkan anda menyeleksi siapa saja yang datang untuk melamar anda.
      1. Agamanya baik,khususnya bermanhaj ahlu Sunnah
      Untuk kriteria ini sudah menjadi harga mati tidak bisa ditawar-tawar lagi. Agama dan sekaligus akhlak yang baik. Karena Allah turunkan agama ini sebagai panduan utama untuk bimbingan manusia. Dan dia nanti akan benar dalam mengajarkannya jika disertai dengan dengan ilmu, manhaj dan akhlaknya yang baik,. Untuk itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan para wali, agar segera menerima pelamar putrinya, yang baik agama dan akhlaknya.
      Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan,
      إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ، إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ، وَفَسَادٌ عَرِيضٌ
      Apabila ada orang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, yang meminang putri kalian, nikahkan dia. Jika tidak, akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar. (HR. Tirmidzi 1084, Ibn Majah 1967, dan yang lainnya. Hadis ini dinilai hasan oleh al-Albani).
      2. Lembut dengan keluarga dan bukan berperangai keras
      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan wanita seperti al-Qawarir (gelas kaca). Fisiknya, dan hatinya lemah, sangat mudah pecah. Kecuali jika disikapi dengan hati-hati. Karena itu, tidak ada wanita yang suka disikapi keras oleh siapapun, apalagi suaminya. Maka sungguh malang ketika ada wanita bersuami orang keras. Dia sudah lemah, semakin diperparah dengan sikap suaminya yang semakin melemahkannya.
      Sebaliknya, keluarga yang berhias lemah lembut, tidak suka teriak, tidak suka mengumpat, apalagi keluar kata-kata binatang. Itulah kebahagiaan dan ketentraman di dunia.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
      إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
      “Sesungguhnya kelembutan menyertai sesuatu maka dia akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu, melainkan akan semakin memperburuknya.” (HR. Muslim 2594, Abu Daud 2478, dan yang lainnya).
      3. Berpenghasilan tetap,syukur-syukur cukup
      Ketika Fatimah bintu Qois ditalak 3 oleh suaminya, dia menjalani masa iddah di rumah Ibnu Ummi Maktum – seorang sahabat yang buta –. Usai masa iddah, langsung ada dua lelaki yang melamarnya. Yang pertama bernama Muawiyah dan kedua Abu Jahm. Ketika beliau meminta saran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
      أَمَّا أَبُو جَهْمٍ، فَلَا يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتِقِهِ، وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لَا مَالَ لَهُ، انْكِحِي أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ
      Untuk Abu Jahm, dia tidak meletakkan tongkatnya dari pundaknya. Sedangkan Muawiyah orang miskin, gak punya harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid. (HR. Muslim 1480, Nasai 3245, dan yang lainnya).
      Diantara makna: ’tidak meletakkan tongkatnya dari pundaknya’ adalah ringan tangan dan suka memukul.
      Anda bisa perhatikan, pertimbangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyarankan Fatimah agar tidak menikah dengan Abu Jahm, karena masalah sifatnya yang keras. Sementara pertimbangan beliau untuk menolak Muawiyah, karena miskin, tidak berpenghasilan.
      4. Tanggung jawab dan perhatian dengan keluarga
      Tanggung jawab dalam nafkah dan perhatian dengan kesejahteraan keluarganya.
      Bagian ini merupakan perwujudan dari perintah Allah untuk semua suami,
      وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
      ”Pergaulilah istri-istrimu dengan cara yang baik.” (QS. An-Nisa’: 19)
      Beberapa suami terkadang tidak perhatian dengan keluarganya. Penghasilannya banyak dia habiskan untuk kebutuhan pribadi, sementara kebutuhan rumah terabaikan bahkan lebih banyak ditanggung oleh istri. Lebih parah lagi, ketika terjadi perceraian, beberapa suami sama sekali tidak mau menafkahi anaknya. Sehingga yang menghidupi anaknya adalah ibunya. Maka dari itu anda butuh untuk karakter ini dalam memilih suami, demi kebaikan anda nantinya.
      Itu diantaranya kriteria calon suami yang kami sarankan. Dan silahkan anda menentikan kriteria-kriteria ataupun persyaratan yang lainnya selama sejalan dengan syari’at. Karena dalam syari’at kita, wanita juga memiliki hak untuk memilih calon suaminya.
      Demikian pula sebagai bahan pertimbangan kami sarankan anda untuk menjauhi beberapa karakter calon suami berikut ini,

      1. Aqidahnya rusak
      Aqidah yang rusak, bisa menyebabkan seseorang keluar dari islam. Karena kerusakan aqidah, merupakan gerbang kekufuran. Sementara Allah melarang wanita muslimah menikah dengan lelaki musyrik atau kafir.
      وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ
      Janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. (QS. Al-Baqarah: 221)
      Karena itu, perlu diwaspadai model lelaki yang demen dengan klenik, tenaga dalam, amalan-amalan pesugihan, pemikat orang, suka berteman dengan paranormal, bercita-cita mendapat karomah layaknya wali, atau merawat jimat. Umumnya mereka sangat sulit disembuhkan. Sekali percaya dengan dukun gurunya, biasanya terikat untuk terus jadi budak si dukun.
      Termasuk juga mereka yang memiliki pemahaman menyimpang, seperti pengikut Syiah, khawarij, penganut wihdatul wujud, atau penganut tarekat sesat lainnya. Kalau anda dapatkan laki-laki model seperti itu langsung aja coret dari daftar,Tidak ada yang perlu dipertahankan dari jenis mereka.
      2. peninggal Shalat
      Shalat merupakan ibadah paling penting bahkan rukun dalam islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan shalat sebagai batas antara mukmin dan kafir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ
      Sesungguhnya pembatas antara seseorang dengan kesyirikan atau kekufuran adalah meninggalkan shalat. (HR. Ahmad 15183, Muslim 82, dan yang lainnya).
      Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan shalat sebagai perjanjian besar umat islam. Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      إِنَّ الْعَهْدَ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُم الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
      Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Karena itu, siapa yang meninggalkannya maka dia kafir. (HR. Ahmad 22937, Nasai 463, Turmudzi 2621, dan dishahihkan al-Albani).
      Karena alasan ini, para sahabat menghukumi orang yang meninggalkan shalat, sebagimana orang kafir. Seorang tabi’in, Abdullah bin Syaqiq mengatakan,
      كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلَاةِ
      Dulu para sahabat, tidaklah mereka menganggap ada satu ibadah yang apabila ditinggalkan bisa menyebabkan kafir, selainshalat. (HR. Turmudzi 2622, dan dishahihkan al-Albani)
      Orang tidak shalat, sejatinya sumber petaka di rumah tangga. Karena itu, hindari kriteria calon suami yang tidak shalat.
      3. Tidak menjaga pergaulan dengan lawan jenis
      Allah ta’ala melarang orang baik-baik untuk menikah dengan lelaki pezina atau wanita pezina, hingga mereka bertaubat dari zinanya.
      الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
      ”Laki-laki pezina tidak boleh menikah melainkan dengan perempuan pezina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan pezina tidak boleh dikawini melainkan oleh laki-laki pezina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.” (QS. An-Nur: 3)
      Diantara hikmah larangan menikahi mereka adalah agar istri tidak terkena imbas buruk dari kebiasaan suami yang pernah berzina namun belum taubat. Karena penyakit ini,yakni mudah suka terhadap lawan jenis, bisa saja kambuh kapan saja. Terlebih jika dia pernah berhubungan di luar nikah. Sehingga perbuatannnya ini memicunya untuk selingkuh.
      4. Berpenghasilan haram
      Hidup serba kecukupan adalah dambaan setiap wanita. Dengan segala fasilitas yang lengkap, memudahkan dirinya untuk melakukan berbagai aktivitasnya. Namun itu semua hanya standar dunia. Standar yang hanya kembali pada kebahagiaan lahiriyah, yang tentu saja itu bukan segala-galanya. Konsekuensi menikah dengan lelaki berpenghasilan haram, berarti siap untuk makan harta haram hasil kerja suami. Rela untuk berbahagia dengan yang haram.
      Dari Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      لَا يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلَّا كَانَتْ النَّارُ أَوْلَى بِهِ
      “Tidak ada daging yang tumbuh dari as-suht(haram), kecuali neraka lebih layak baginya.” (HR. Turmudzi 614 dan dishahihkan al-Albani).
      Ibnu Rusyd mengatakan,
      ولم يختلف المذهب – المالكية – أن البكر إذا زوجها الاب من شارب الخمر، وبالجملة من فاسق، أن لها أن تمنع نفسها من النكاح، وينظر الحاكم في ذلك، فيفرق بينهما، وكذلك إذا زوجها ممن ماله حرام، أو ممن هو كثير الحلف بالطلاق
      Ulama madzhab Malikiyah tidak berselisih pendapat bahwa seorang gadis yang dinikahkan ayahnya denagn lelaki peminum khamr atau lelaki fasik secara umum, dia berhak untuk menolak lamaran nikah, sementara hakim menimbang masalah dan memisahkan keduanya. Demikian pula jika dia dinikahkan dengan orang yang hartanya haram atau lelaki yang suka mengancam talak (Bidayatul Mujtahid, Hal. 404).
      Berfikirlah 1000 kali untuk memiliki calon suami pegawai bank, berpenghasilan riba di luar bank, atau bekerja membantu proyek yang haram, pegawai perusahaan barang haram, dst. Halal haram penghasilan orang tua, menentukan keberlangsungan hidup anaknya.
      5. Perokok
      Selain merugikan kesehatan, merokok juga dapat membuat sebagian besar wanita hilang selera. Ada beberapa alasan, mengapa mereka tidak suka perokok,
      • Pertama, aroma tubuh seorang perokok tidak sedap apalagi perokok berat. Bagi orang yang tidak merokok, ngobrol bersama perokok adalah sebuah siksaan batin. Dia dipaksa sabar untuk menahan nafas bau mulutnya yang sangat tidak sedap.
      • Kedua, kebutuhan beli rokok, jelas mengurangi kantong tabungan sang suami. Jika kebutuhan rokok 10 ribu/bungkus/hari, dalam satu bulan suami menghabiskan 300rb hanya untuk menambah penyakit dan sesak paru-parunya.
      • Ketiga, ancaman bahaya bagi perokok pasif. Beberapa kasus anak kecil yang meninggal karena dosa ayahnya yang perokok. Sebenarnya dia sudah berupaya menghindari anaknya ketika merokok. Tapi endapan nikotin di baju sang ayah, tidak bisa dihindarkan dan tercium si anak. Allahul musta’aan
      Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah ingatkan, agar kita selalu berusaha menghindari hal yang membahayakan,
      لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
      “Tidak boleh melakukan perbuatan yang membuat mudharat bagi orang lain baik permulaan ataupun balasan.” (HR. Ibnu Majah. Hadis ini di shahihkan oleh Albani).
      Kami nasehatkan buat anda, sebelum anda menentukan kriteria dan syarat-syarat tertentu dalam memilih calon suami alangkah baiknya anda terlebih dulu berusaha menjadi wanita shalihah. Sebab tidak pantas rasanya jika anda sendiri belum masuk standar wanita shalihah lantas berani menginginkan calon suami yang shalih. Ingat..laki-laki shalih pasti akan memilih wanita yang shalihah, mereka tidak akan sesekali menginginkan wanita yang hanya punya kedudukan di dunianya tapi tidak shalihah. Sebab dengan modal dasar memiliki istri yang shalihah akan besar harapan memiliki anak-anak dan keturunan yang shalih dan shalihah. Sebab ibu adalah madrasah pertama serta salah satu tauladan bagi anak-anaknya.
      Allahu a’lam bish shawab, semoga urusan anda dimudahkan.

  • trish says:

    Bismillah.
    1. Bagaimana tata cara sholat seseorang yang mampu berdiri, tetapi tidak bisa duduk (baik iftirasy atau tawaruk) dikarenakan kakinya sakit bila ditekuk (jatuh dari motor).
    2. Orang tsb sdh sholat dengan cara duduk di lantai dg kaki dijulurkan ke depan, tapi kemudian membaca bhw bila masih mampu berdiri maka wajib berdiri. Bagaimana dengan sholat2 yg telah dilakukannya, apakah hrs diulang?
    3. Pada waktu sholat Idul Fitri, orang dgn kondisi tersebut di atas bagaimanakah sholatnya, apakah harus memakai kursi (krn t4 sholat agak jauh dan sulit utk membawa2 kursi)
    Jazaakallah khayr…

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, assholaatuwassalaamu ‘ala rasulillah
      Pertama:sholatnya orang yang tidak mampu berdiri dibolehkan duduk dengan cara yang dia mampu, baik duduknya dengan duduk bersila,selonjor maupun duduk diatas kursi. Jika kakinya tidak bisa di tekuk ketika tasyahud ataupun duduk yang lain maka dibolehkan dia tasyahud dalam keadaan selonjor maupun duduk diatas kursi. Hal ini berdasarkan keumuman dalil firman-Nya:
      لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
      “Allah Azza wa Jalla tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” [al-Baqarah/ 2:286]
      Allah Azza wa Jalla juga memerintahkan kaum Muslimin untuk agar bertaqwa sesuai kemampuan mereka. Allah Azza wa Jalla berfirman:
      فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
      “Maka bertakwalah kamu kepada Allah k menurut kesanggupanmu” [at-Taghâbun/ 64:16]
      Kedua : . Diwajibkan bagi orang yang sakit untuk shalat dengan berdiri apabila mampu dan tidak khawatir sakitnya bertambah parah, karena berdiri dalam shalat fardhu merupakan rukun shalat. Allah Azza wa Jalla berfirman :
      وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
      ” …………..Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu” [al-Baqarah/ 2:238]
      Diwajibkan juga bagi orang yang mampu berdiri walaupun dengan menggunakan tongkat, bersandar ke tembok atau berpegangan tiang, berdasarkan hadits Ummu Qais Radhiyallahu ‘anha yang berbunyi:
      أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا أَسَنَّ وَحَمَلَ اللَّحْمَ اتَّخَذَ عَمُودًا فِي مُصَلَّاهُ يَعْتَمِدُ عَلَيْهِ
      “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berusia lanjut dan lemah( sebab bertambah gemuk), beliau memasang tiang di tempat shalatnya sebagai sandaran” [HR Abu Dawud dan dishahihkan al-Albani dalam Silsilah Ash-Shohihah 319]
      Demikian juga orang bungkuk diwajibkan berdiri walaupun keadaannya seperti orang rukuk.
      Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Diwajibkan berdiri bagi seorang dalam segala caranya, walaupun menyerupai orang ruku’ atau bersandar kepada tongkat, tembok, tiang ataupun manusia”.[ Syarhu al-Mumti’ ‘Alâ Zâd al-Mustaqni’ 4/459)

      adapun yang telah berlalu karena sebab kejahilannya terhadap hukum semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengampuninya, seandainya dia mengulangi sholatnya untuk kehati-hatian kami rasa in syaa Allah itu baik. Sebab banyak pendapat dari para Ulama’ untuk sholat fardhu yang dikerjakan dalam keadaan duduk padahal dia mampu berdiri maka sholatnya tidak sah berdasarkan istimbath dari dalil-dalil yang ada.

      Ketiga : ketika sholat ied kalau tidak memungkinkan membawa kursi silahkan dia duduk dengan cara yang dia mampu seperti penjelasan sebelumnya. Allahua’lam

  • trish says:

    Bismillah.
    1. jadi masih sanggup berdiri dan rukuk, lalu untuk sujud juga bisa hanya susah (badan agak dimiringkan, kaki terjulur, dsb), manakah yg lebih baik, tetap sujud dengan dahi menyentuh lantai walaupun sulit, atau duduk semampunya dan sujud dengan membungkukkan kepala?
    2. untuk sholat tarawih dan sholat rowatib, witir, dhuha, benarkah boleh dilakukan sambil duduk selonjor sejak awal (tanpa berdiri?) sama sekali (dalam keadaan kaki sakit tsb)?
    Jazaakallah khair wa barakallahufiik

  • Uda Ramadhani says:

    Bismillah,
    Apakah baik dan tidak menyimpang dari sunnah apabila saya memberi nama seorang anak seperti ini :
    – Abu Abdullah Ar-Rahman
    – Abu Musa Tirmidzi
    – Abdurrahman Muslim
    – Mu’adz Al-Mubarak
    Apabila dari 4 nama diatas tidak dianggap baik, saya mohon saran yang baik untuk memberi nama seorang anak laki-laki.
    Syukron

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, untuk nama yang pertama sebaiknya jangan yakni Abu Abdullah Ar Rahman, sebab disitu terdapat nama Allah Ta’ala yaitu Ar Rahman yang nama ini dijelaskan Syeikh Ibnu Utsaimin dalam syarh Ushul Tsalatsah adalah nama yang hanya dikhususkan bagi Allah Ta’ala semata dan tidak boleh di sematkan kepada makhluq, kecuali diringi dengan nama “Abdu yakni Abdur Rahman. Yang ini di istilahkan dengan ta’bid. Disunnahkan memberi nama dengan ta’bid (didahului kata ‘abdu/hamba) sebelum nama-nama Allah yang baik (asmaul husna), seperti ‘Abdul Aziz (hambanya Yang Maha Mulia), ‘Abdul Malik (hambanya Yang Maha menguasai), dan lain-lain.
      Perlu anda ketahui bahwa Tidak ada perselisihan bahwa sang ayah adalah orang yang paling berhak untuk menamai anaknya. Jika seorang ayah berbeda pendapat dengan seorang ibu dalam menentukan nama untuk anaknya, maka ayahlah sebagai pihak yang diutamakan.
      Namun disini perlu kita sampaikan fiqh anjuran syari’at dalam memberi nama anak, agar nama pilihan sang ayah sesuai dengan syar’i dan berbarokah tetunya.
      Nama-Nama yang Disunnahkan untuk Diberikan kepada anak:
      1. Nama Abdullah dan Abdurrahman (tanpa embel-embel tambahan nama lain) berdasarkan hadits yang diriwayatkan Muslim dalam Kitab Shahihnya dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
      إِنَّ أَحَبَّ أَسمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبدُاللَّهِ وَ عَبدُ الرَّحْمَنِ
      “Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim no. 2132)
      Karena nama tersebut adalah nama terbaik, sampai-sampai di kalangan para sahabat terdapat sekitar 300 orang yang bernama Abdullah.
      2. Nama yang menunjukkan penghambaan diri terhadap salah satu dari nama-nama Allah Ta’ala ( ini yang tadi kita sudah jelaskan dengan istilah ta’bid) ‘Azza wa Jalla, seperti Abdul Malik, Abdul Bashiir, Abdul ‘Aziz dan lain-lain.Namun perlu diketahui di sini bahwa hadits, “Sebaik-baik nama adalah yang dimulai dengan kata “Abdu (hamba)” dan yang bermakna dipuji” bukanlah hadits shahih bahkan tidak diketahui darimana asal-usulnya sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.
      3. Bernama dengan nama para nabi dan rasul. Mereka adalah orang-orang yang memiliki akhlak yang paling mulia dan memiliki amalan yang paling bersih. Diharapkan dengan memberi nama seorang anak dengan nama nabi ataupun rasul dapat mengenang mereka juga karakter dan perjuangan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri juga pernah menamakan anaknya dengan nama Ibrahim, nama ini juga beliau berikan kepada anak sulung Abu Musa al asy ‘ariy radhiallahu ‘anhu dan beliau juga menamakan anak Abdullah bin Salaam dengan nama Yusuf.Adapun hadits tentang keutamaan orang yang bernama Ahmad atau Muhammad tidak ada yang shahih. Ibnu Bukair al-Baghdadi menyusun sebuah kitab tentang keutamaan orang yang bernama Ahmad atau Muhammad, dan pada kitab tersebut beliau menyertakan 26 hadits yang tidak shahih. Wallahu a’lam.
      4. Memberi nama dengan nama orang-orang shalih di kalangan kaum muslimin terutama nama para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadits shahih dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Mereka dahulu suka memakai nama para nabi dan orang-orang shalih yang hidup sebelum mereka.” (HR. Muslim no. 2135)
      5. Memilih nama yang mengandung sifat yang sesuai orangnya (namun dengan syarat nama tersebut tidak mengandung pujian untuk diri sendiri, tidak mengandung makna yang buruk atau mengandung makna celaan), seperti Harits (orang yang berusaha) dan Hammam (orang yang berkeinginan kuat).Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang dha’if dari Abu Wahb al-Jusyami bahwasannya nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pakailah nama para nabi, nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, yang paling benar adalah nama Harits dan Hammam dan yang paling jelek nama Harb dan Murrah.” (HR. Abu Daud dan An Nasai. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi sebagaimana disebutkan dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1977)

      berdasarkan keterangan di atas silahkan anda memilih dan menentukan nama sendiri untuk putra anda, sebab mentukan nama adalah selera masing-masing ayah. Semoga dengan memberi nama berdasarkan anjuran syari’at di atas akan membuat putra anda menjadi anak yang shalih dan bermanfa’at bagi agama dan kaum muslimin. Allahua’lam

  • hamba Allah says:

    menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il berkata, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d berkata, telah mengabarkan kepadaku Ibnu Syihab dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah dari Ibnu Abbas ia berkata, “orang-orang ahli kitab biasa mengurai rambutnya dan orang-orang musyrik biasa membelah rambut kepada mereka menjadi dua bagian. Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih senang menyamai orang-orang ahli kitab pada hal-hal yang tidak ada perintahnya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengurai rambutnya bagian depan, kemudian membelahnya setelah itu.” (HR. Abu Daud: 3656) – http://hadits.in/abudaud/3656

    menceritakan kepada kami An Nufaili berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Abu Najih dari Mujahid ia berkata; Ummu Hani berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke Makkah, dan saat itu beliau mempunyai empat kepangan.” (HR. Abu Daud: 3659) – http://hadits.in/abudaud/3659

    saya ingin bertanya mengenai 2 hadist tersebut&bagaimana ciri2x rambut rasul? dan apakah cowok boleh mempunyai rambut panjang(gondrong)

    • Al Lijazy says:

      bismillah,
      ciri Rambut Rasulullah saw ikal bergelombang, bukan lurus, panjang sampai menyentuh bahu. Warna rambutnya hitam, ketika semakin tua, rambut Rasulullah saw pun mulai beruban.
      Bar’ah bin Azib bercerita bahwa:
      “Saya tidak pernah melihat seorang pun yang lebih baik ketika mengenakan pakaian berwarna merah dari Rasulullah SAW. Ujung rambut beliau tergerai menyentuh pundak beliau. ” (HR al-Bukhairi dan Muslim)*
      Dari Abu Hurairah RA : “Rambut Rasulullah SAW sangat hitam” (HR. al-Baihaqi)**
      Dari Qatadah ia berkata:” Saya bertanya kepada Anas bin Malik ra.: Bagaimana keadaan rambut Rasulullah saw.? Anas bin Malik menjawab: Rambutnya ikal berombak tidak keriting dan tidak lurus dan terurai sampai sebatas pundaknya.” (HR. Muslim)

      Barâ` bin ‘Azib berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah lelaki yang berambut ikal, berpostur sedang, bahunya bidang, berambut lebat sampai cuping telinga dan beliau memakai kain merah. Aku belum pernah melihat orang yang lebih tampan dari beliau”. [al-Mukhtashar asy Syamail hadits no. 3]

      Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu berkata: “Rambut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai ke tengah atau (dalam riwayat lain: pertengahan/28) kedua telinga beliau”. [al-Mukhtashar hadits no. 21]
      ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata: “Aku mandi bersama Rasulullah dari satu bejana. Beliau mempunyai rambut yang sampai pundak dan (juga) hingga cuping telinga”. [al-Mukhtashar hadits no. 22]
      Dari hadits-hadits di atas kami memahami bahwa panjang rambut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang bagian depan panjangnya se telinga beliau dan yang bagian belakang seukuran bahu beliau. Untuk itu bagi para lelaki yang ingin memanjangkan rambutnya hendaknya mencocoki panjang rambut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan disertai niat mencontoh beliau karena kecintaan kepada beliau. Yang demikian agar kita mendapatkan pahala karenanya. Adapun jika lelaki memanjangkan rambutnya menyerupai wanita( seperti yang banyak kita saksikan zaman ini) maka ini terlarang karena merupakan tasyabbuh ( menyerupai) wanita yang diharamkan Syari’at. Allahua’lam

  • Edi S. says:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

    perkenalan sekaligus usul, mohon di situs ini ada forum ta’aruf, sehubungan kami berusaha menjalankan ajaran2 Allah Swt dan sunah Rasul yang benar, maka sebagai orangtua anak-anakku punya pasangan yang mengamalkan ajaran2 yang syar’i.

  • Ibnu saimin says:

    Assalamu’alaikum
    Seorang istri dalam keadaan hamil 2 bln mengajukan cerai kepada suami di karenakan KDRT. Sang istri ketakutan dan trauma sampai dia melarikan diri ke rmh orang tua meminta perlindungan. Trauma karena di aniaya di pukul memakai pentungan security di jalan raya, di depan kawan2 si suami. Apakah di perbolehkan untuk menggugat cerai ?
    جزك الله خير كثير

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Yang perlu anda ketahui bahwa Di dalam agama Islam, pada dasarnya seorang istri dilarang minta cerai (khulu’) dari suaminya kecuali jika didasari dengan alasan2 yg dibenarkan syariat Islam
      Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
      أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَاَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلاَقَ مِنْ غَيْرِ بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ
      “(Wanita mana yang meminta perceraian dari suaminya tanpa alasan yang jelas, maka haram baginya aroma surga)”. (HR Abu Dawud no 1928, At-Thirmidzi dan Ibnu Maajah, dan dihahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah)
      Namun disana terdapat alasan-alasan syar’i yang seorang istri di idzinkan menggugat cerai suaminya. Diantaranya seperti kasus yang anda ceritakan di atas bahwa sang istri meminta cerai karena perlakuan suami yang membahayakan, seperti seorang suami yang mengancam isterinya, menyakitinya, dan menahan infaqnya. Maka boleh bagi isteri untuk meminta cerai secara langsung maupun melalui qadhi (hakim) untuk menceraikannya secara paksa agar bahaya dan kezhaliman itu dapat dIhindarkan dari dirinya. Allah SWT berfirman:
      وَلا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لِتَعْتَدُوا …
      “Janganlah kamurujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka…” (Al Baqarah: 231)
      فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ
      “Maka ditahan (dirujuk) dengan baik atau menceraikan dengan cara yang baik…
      (Al Baqarah: 229)
      Dalam sebagian riwayat yang shahih menunjukkan bahwa Tsaabit bin Qois radhiallahu ‘anhu pernah memukul istrinya hingga tangannya patah. Sehingga inilah yang dikeluhkan oleh istri beliau sehingga minta khulu’

      Dari Ar-Rubayyi’ bin Mu’awwidz berkata :

      أن ثابت بن قيس بن شماس ضرب امرأته فكسر يدها وهي جميلة بنت عبد الله بن أبي فأتى أخوها يشتكيه إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فأرسل رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى ثابت فقال له خذ الذي لها عليك وخل سبيلها قال نعم فأمرها رسول الله صلى الله عليه و سلم أن تتربص حيضة واحدة فتلحق بأهلها

      “Sesungguhnya Tsaabit bin Qois bin Syammaas memukul istrinya hingga mematahkan tangannya. Istrinya adalah Jamilah binti Abdillah bin Ubay. Maka saudara laki-lakinya pun mendatangi Nabi mengeluhkannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan ke Tsabit dan berkata, “Ambillah harta milik istrimu yang wajib atasmu dan ceraikanlah dia”. Maka Tsaabit berkata, “Iya”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Jamilah untuk menunggu (masa ‘iddah) satu kali haid. Lalu iapun pergi ke keluarganya” (HR An-Nasaai no 3487 dan dishahihkan oleh Al-Albani) untuk kasus diatas karena istrinya dalam keadaan hamil maka iddahnya hingga dia melahirkan.
      Dengan solusi ini maka Islam telah membuka kesempatan bagi wanita sebagai bekal persiapan untuk menyelamatkan dirinya dari kekerasan suami dan penyelewengan kekuasaan suami yang tidak benar. Allahua’lam

  • piter says:

    assalamualaikum ustad…
    bbrp minggu yg lalu saya keluar kota dan didalam perjalanan menuju kota tujuan saya mampir disebuah pondok pesantren utk menunaikan ibadah sholat jum’at… namun sy melihat pemandangan yg tidak pernah sy lihat dmn pun sy sholat jum’at,
    1. di ponpes tsb sy melihat wanita (siswi pesantren) ikut sholat jum’at bersama..
    2. di ponpes tsb sy melihat mereka (baik imam dan makmun laki2 dan perempuan) melakukan sholat dzuhur berjamaah setelah menunaikan sholat jum’at..
    sy sebagai manusia yg miskin akan ilmu agama b’tny2,
    1. Ajaran apakah ini, apakah benar hal tsb pak ustadz ?
    2. Syahkah sholat jum’at yg sy kerjakan pak ustadz??
    3. Apakah ada dalil yg menggugurkan kewajiban sholat dzuhur di hari jum’at bg orang yg telah melaksanakan sholat jum’at??

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah,
      Tentang kasus anda tersebut ada beberapa hal yang harus kami jelaskan terlebih dahulu. Yakni Terkait hukum Jumatan bagi wanita, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan:
      Pertama, ulama sepakat bahwa wanita tidak wajib melaksanakan shalat Jumat, meskipun dia tidak sedang safar, dan tidak ada udzur apapun.
      Ibnul Mundzir dalam kitab kumpulan kesepakatan ulama karyanya, beliau menyebutkan:
      وأجمعوا على أن لا جمعة على النساء
      “Mereka (para ulama) sepakat bahwa Jumatan tidak wajib untuk wanita.” (Al-Ijma’, no. 52)
      Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadis dari Thariq bin Ziyad radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
      الجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَربَعَة : عَبدٌ مَملُوكٌ ، أَو امرَأَةٌ ، أَو صَبِيٌّ ، أَو مَرِيضٌ
      “Jumatan adalah kewajiban bagi setiap muslim, untuk dilakukan secara berjamaah, kecuali 4 orang: Budak, wanita, anak (belum baligh), dan orang sakit.” (HR. Abu Daud 1067 dan dishahihkan oleh Ibnu Katsir dalam Irsyadul Faqih, 1:190 dan Ibnu Rajab dalam Fathul Bari, 5:327).
      Di antara hikmah, mengapa wanita tidak wajib jumatan adalah agar wanita tidak turut berada di tempat berkumpulnya banyak laki-laki. Sehingga menjadi sebab munculnya tindakan yang tidak diharapkan. Semacam, ikhtilat campur baur antara lelaki dengan wanita. (Badai’ As-Shanai’, 1:258).
      Kedua, wanita boleh menghadiri jumatan
      Jika ada wanita yang bisa menjaga adab islami pada dirinya, dia dibolehkan menuju masjid untuk melaksanakan shalat Jumat dengan adab-adab islami pula. Cara yang dia lakukan sama persis dengan jumatan yang dilakukan jamaah laki-laki. Artinya, dia wajib mendengarkan khutbah dengan seksama, tidak boleh ngobrol dengan temannya, dan dia hanya shalat 2 rakaat bersama imam, sebagaimana aturan jumatan yang kita kenal.
      Ibnul Mundzir dalam kitab Al-Ijma’ mengatakan:
      وأجمعوا على أنَّهن إن حضرن الإمام فصلَّينَ معه أن ذلك يجزئ عنهن
      “Mereka (para ulama) sepakat bahwa jika ada wanita yang menghadiri Jumatan bersama imam, kemdian dia shalat bersama imam, maka itu sudah sah baginya.” (Al-Ijma’, no. 53).
      Maksud Ibnu Mundzir, dia tidak wajib melaksanakan shalat zuhur karena telah melaksanakan Jumatan.
      Hal senada juga dikatakan Ibnu Qudamah, setelah beliau memaparkan, Jumatan tidak wajib bagi wanita, beliau menegaskan:
      ولكنها تصح منها – أي الجمعة – ؛ لصحة الجماعة منها ، فإن النساء كن يصلين مع النبي صلى الله عليه وسلم في الجماعة
      “Hanya saja jumatan itu sah dikerjakan wanita (bersama imam). Karena mereka shalat jamaahnya sah (maksudnya: wanita boleh shalat jamaah, pen.). Dulu para wanita shalat berjamaah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Al-Mughni, 2:243)
      Jadi pada kasus di atas sholat jum’at tersebut in syaa Allah tetap sah, namun untuk para wanitanya jika tidak bisa menjaga adab islami, terutama hijab maka seharusnya mereka tidak ikut jum’atan, sebab justru akan membuka pinti dosa baginya dan bagi kaum muslimin yang lain.
      Kemudian tentang mereka sholat dzuhur berjama’ah setelah sholat jum’at ini yang salah, sebab sholat jum’at sudah menggugurkan sholat dzuhur. Bahkan Syeikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa Shalat dhuhur setelah shalat jum’at adalah perbuatan bid’ah, karena ia tidak bersumber dari Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka hal itu wajib dilarang
      Orang yang tidak shalat Jumat karena udzur, sakit atau safar, atau sebab lainnya, dia wajib melaksanakan shalat zuhur. Sebaliknya jika orang sudah mengikuti sholat jum’at maka tidak perlu lagi sholat dzuhur.
      Dalil hal ini adalah keterangan sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,
      مَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الْجُمُعَةَ، وَمَنْ لَمْ يُدْرِكِ الرَّكْعَةَ فَلْيُصَلِّ أَرْبَعًا
      “Siapa yang mendapatkan satu rakaat (bersama imam Jumat) maka dia mendapatkan Jumatan. Dan siapa yang tidak mendapatkan rakaat imam maka dia harus shalat zuhur.” (HR. Abdurrazaq dalam Mushannaf 5477)
      Dalam riwayat lain, dari jalur Hubairah bin Yarim, Ibnu Mas’ud mengatakan,
      مَنْ فَاتَتْهُ الرَّكْعَةُ الْآخِرَةُ فَلْيُصَلِّ أَرْبَعًا
      “Siapa yang ketinggalan rakaat terakhir (shalat Jumat) dia harus shalat empat rakaat.” (HR. Abdurrazaq dalam Mushannaf 5479)
      Kemudian dalam riwayat Abdullah bin Ma’dan dari neneknya, beliau menceritakan bahwa Abdullah bin Mas’ud pernah memberikan nasehat kepada kami (para wanita),
      إِذَا صَلَّيْتُنَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ مَعَ الْإِمَامِ فَصَلِّينَ بِصَلَاتِهِ، وَاذَا صَلَّيْتُنَّ فِي بُيُوتِكُنَّ فَصَلِّينَ أَرْبَعًا
      “Apabila kalian pada hari Jumat ikut shalat bersama imam (Jumatan) maka shalatlah sebagaimana shalatnya imam (2 rakaat). Dan jika kalian shalat di rumah, shalatlah empat rakaat.” (HR. Ibn Abi Syaibah 5154 dan Abdurrazaq dalam Mushanaf 5273).
      At-Turmudzi mengatakan
      وَالعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ العِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ، قَالُوا: مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الجُمُعَةِ صَلَّى إِلَيْهَا أُخْرَى، وَمَنْ أَدْرَكَهُمْ جُلُوسًا صَلَّى أَرْبَعًا
      Demikianlah yang dipraktekkan kebanyakan para ulama di kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang lainnya. Mereka mengatakan, ‘Siapa yang menjumpai satu rakaat shalat Jumat maka dia tambahkan satu rakaat lagi. Dan siapa yang menjumpai jamaah Jumatan telah duduk (tasyahud) maka dia harus shalat 4 rakaat.’ (Jami’ at-Turmudzi, 2:402).
      Seperti itulah sikap para sahabat. Sebagai mukmin yang baik, selayaknya kita hanya mengikuti dan tidak mengambil pendapat tanpa dasar yang jelas. Allahua’lam.

  • kuna says:

    Assalamualaikum ustad,
    Sy ingin bertaubat dari riba. susah sekali Bagaimana caranya?mhon arahannya

    Kronologis

    Saya mulai kerja IT di leasing juni 2013, sempat ada yg ingatkan gaboleh tp peringatanny tidak serius sehingga saya abaikan kemudian mei 2015 sy bertanya pada ustad via fb( stlh sya kenal kajian sunah sy simpulkan ustad itu bukan ustad sunah namun yg marak d media). Beliau bilang jika IT tidak masalah hanya subhat jika ada pekerjaan yg lebih baik. Kemdudian akhir 2015 sy mulai menabung utk menikah calon istri sudh ingatkan dan yakin jika kerja d leasing tidak boleh tp sya bersikeras itu boleh karna sy kasih jasa sy saya digaji dr keringat sya. Mendekati pernikahan calon makin rewel mengingatkan dan memberi referensi kajian sunah baru awal 2016 saya sadar dan ingin keluar dr perusahaan tp sy bertahan utk modal nikah dan calon memberi kelonggaran dr pd pacaran lbh baik nikah stlh nikah wajib pindah kerja. Menikah mei 2016 mulai cari kerja waktu puasa dpt kerja stlh cuti lebaran.
    Kerjaan baru sbg vendor IT pelanggan tetap ngurusin BUMN Minyak. Baru 3 hari kerja sy mendadak dpt proyek PKBL utk 2minggu lamanya( pemerintah dlm UU mewajibkan BUMN membuat pkbl )
    PK = program kemitraan yakni pinjaman modal bunga ringan utk umkm rakyat
    BL = murni sumbangan kemanusiaan

    Sblm berangkat ke tempat penginapan ngobrol dgn istri hingga akhirnya sadar bahwa PK adalah riba
    Syapun tertegun tp sy ttp melanjutkan karena ini hanya 2minggu kedepanny saya ngurusin oprasional minyak dan tidak ada riba2. Namun per hari ini proyek pkbl tinggal 2 hari lg.

    1.Bagaiamana ustad cara saya taubat?
    2. Gaji 3 tahun belakangan ini bagaiamna cara saya bersihkanny? Smntara saya bingung dgn sikap saya kapan sy betul2 meyakini riba haram karena kata ustad jika tidak tahu maka harta menjadi halal?
    Adapun mnrt usrtad sunah yg lain cara mmbersihkn harta riba uangnya sy harus sumbangkan utk kemaslahatan umat tp berapa yg hrus sy sumbangkn dan bagaimana ustad?per hari ini + gaji agustus uang sy ada 11jt.

    Terima kasih ustad. Mdh mdhan ustad membaca ini mdh mdhan Allah membalas kebaikan ustad

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah,
      Walhamdulillah, Kami syukuri niat anda untuk bertaubat. Semoga Allah Ta’ala semakin menambahkan keimanan dan hidayah-Nya kepada anda serta membukakan pintu-pintu rizqi yang halal nan berkah.
      Bertaubat dari perbuatan haram adalah seperti bertaubat pada umumnya, yaitu harus terpenuhi rukun-rukunnya.
      Yang mana Rukun Utama Taubat Ada 3:
      Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan,
      وقد سبق في كتاب الإيمان أن لها ثلاثة أركان: الإقلاع، والندم على فعل تلك المعصية، والعزم على أن لا يعود اليها أبدا
      ”Dalam kitab al-Iman disebutkan bahwa taubat memiliki 3 rukun: al-Iqla’ (meninggalkan dosa tersebut), an-Nadm (menyesali) perbuatan maksiat tersebut, dan al-Azm (bertekad) untuk tidak mengulangi dosa yang dia taubati selamanya. (Syarh Shahih Muslim, 17/59)
      Maka jika anda benar-benar jujur dalam bertaubat dan terpenuhi rukun-rukunnya maka in syaa Allah pasti Allah Ta’ala mengampuni.
      Kalau seluruh uang tersebut anda yakini murni semuanya dari harta riba saya yakin anda tidak akan berani memakannya meskipun sedikit.maka dari itu menyalurkannya semua justru akan menyelamatkan anda dan keluarga dari makan harta riba, namun jika harta tersebut bercampur maka silahkan anda hitung sendiri prosentase kehalalannya sehingga anda bisa menyalurkan yang tidak halal kepada faqir miskin dan kemashlahatan ummat selain tempat ibadah. Allahua’lam semoga dimudahkan

  • Adrian says:

    Ustadz, kawan saya punya usaha jual pulsa elektrik. Dia meminjamkan modal ke saya dalam bentuk saldo sebesar 1 Jt. Dengan syarat setiap transaksi yang saya lakukan kawan saya itu mendapatkan komisi sebesar Rp. 500.

    Contoh : Saya melakukan transaksi jual Token PLN dengan modal 20.000 saya jual 22.000 berarti keuntungan yang saya dapat adalah 2.000. Dari keuntungan awal yang saya dapatkan 2.000 td kawan saya dapat komisi 500 jadi keuntungan sekarang yang saya dapatkan adalah 1.500.

    Apakah boleh cara jual beli seperti ini ?

    • Al Lijazy says:

      Dalam kasus anda, Kalau akadnya pinjaman berarti anda harus mengembalikan pinjaman tersebut dengan nominal sesuai dengan pinjaman, kalau ada kelebihan yang di syaratkan maka jelas itu adalah riba nasi’ah. Yang kami pahami dari kasus anda,Seperti yang dia syaratkan ada komisi Rp.500,- setiap anda transaksi, itu jelas sebuahkelebihan dan manfaat yang dia dapatkan dari pinjaman dia buat anda, dan ini jelas riba in syaa Allah.
      kaidah yang para ulama sepakati dalam masalah ini berbunyi,
      كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِبَا
      “Setiap pinjaman yang menghasilkan manfaat adalah riba.”
      Allahua’lam

      • Adrian says:

        Terima Kasih Ustadz atas jawabannya.

        Ustadz, mohon solusi nya agar transaksi pulsa yang di lakukan menjadi halal dan kawan saya tetap mendapatkan keuntungan dari transaksi yang dilakukan..

        • Al Lijazy says:

          akadnya dirubah menjadi mudhorobah, in syaa Allah nantinya akan sama-sama mendapatkan keuntungan yang halal, silahkan anda pelajari tata cara, syarat dan rukun-rukun dari mudhorobah dari buku-buku fiqih dari Ulama’ yang terpercaya atau kalau tidak punya bisa dari artikel-artikel para asatidzah ahlu sunnah yang mumpuni di bidang fiqh yang banyak tersebar di internet.Allahua’lam semoga dimudahkan

  • Rian says:

    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

    Ustadz, Bagaimana hukum nya menggunakan uang orang tua yang bekerja di instansi yang terdapat transaksi riba di dalamnya, Untuk saya gunakan sebagai modal untuk membuka usaha..?

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullahi wabarokaatuh
      Kalau anda yakin harta tersebut murni hasil dari riba berarti harta riba termasuk harta haram, dan Modal usaha dari harta Haram merupakan Kunci Kebangkrutan
      Allah Azza wa Jalla telah berjanji untuk memusnahkan harta riba, baik keberkahannya maupun fisik hartanya.
      “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” (QS. AlBaqarah: 276)
      Dan bila Allah telah berjanji, Allah pasti memenuhi janji-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
      “Sesungguhnya (harta) riba, walaupun banyak jumlahnya, pada akhirnya akan menjadi sedikit.”(HR. Imam Ahmad, At Thabrany, dan AlHakim)
      Imam Ma’mar mengisahkan, beliau mendengar dari pengalaman orangorang tua di zamannya bahwa para pelaku riba tidaklah bertahan selama 40 tahun, melainkan keberkahan hartanya telah dihapuskan. (Riwayat Imam Abdurrazzaq).
      Penjelasan ini, walaupun secara khusus berkaitan dengan riba, namun juga dapat dijadikan cermin bagi harta haram lainnya. Terlebih Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
      “Bisa jadi seseorang terhalang dari mendapatkan rezekinya akibat dari dosa yang ia lakukan.”(HR. hmad, Ibnu Majah dan lainnya)
      Karenanya, sudah semestinya bagi kita untuk waspada dan selektif dalam urusan harta benda. Janganlah ada harta haram yang mencampuri harta kekayaan kita. Terlebih harta yang kita investasikan sehingga terus berputar dan berkembang. Semoga Allah Ta’ala memudahkan dan melapangkan rezeki halal untuk kita.
      Wallahu Ta’ala a’alam.

  • ama nina says:

    Assalamualaikum…
    ustd.. saya seorang akhwat pekerja dan aktif d tarbiyah.. akhr2 ini ada ikhwan salafi yg ingin mengajak saya u/ menikah. selama ini saya hanya mendengar ttg apa ITU salafi dr media internet. sampai brtmu dgn si ikhwan yg mengajukan bbarapa syarat apabila kelak setelah menikah hrs lebih banyak di rumah, suatu saat menggunakan cadar, tanpa TV, n hrs meninggalkan teman yg jahil. saya tidak terkejut krna yg saya tahu mmg sprti itu. tp, bnyk kekhawatiran yg timbul, blm lg hrs mendengar tanggapan org lain. krna dy ssorang duda, n yg dulu berprofesi s’orang PNS dan skrg sdh pensiun Dini dr pkerjaannya n bermodalkan dr gaji pensiunannya…
    saya butuh masukan u/ lbh menyakinkan saya… krna dr pemikiran saya timbul bnyak ketakutan tp ada keinginan kuat u/ mmperbaiki diri, dr dulu mmg saya ingin menambah wawasan ttg salafi. saya bingung saya tdk punya teman u/ bertukar fikiran, malah saya rasa mereka hnya mmberikan senyum… wallhualam…
    tolong beri saya masukan ustd, agar hati ini bs lebih yakin dengan apa yg hrs saya pilih… mudah2an ini mnjadi wasilah atas prtanyaan hati saya… jazakallah….

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,wa’alaikum Salam warahmatullah, kami rasa syarat ikhwan tersebut tidak ada yang salah, bahkan semuanya adalah perintah Allah dan Rasul Nya, dari anda sebagai perempuan memang harus banyak tinggal di rumah, tidaklah keluar kecuali hanya jika hajat saja, jika safar harus bersama mahrom, bercadar/berhijab juga jelas perintah Allah, demikian juga bergaul dengan memilih kawan yang shalih dan shalihah juga perintah Rasulullah dalam beberapa hadits, jadi in syaa Allah ikhwan tersebut sudah benar dalam mengajukan syaratnya, saran kami anda tidak perlu dahulu menilai dari golongan salafi atau bukan,sebab terkadang ada orang meskipun ngaku salafi secara lisan, tapi amaliyahnya jauh dari manhaj para salafus shalih yang mulia, dan anda tidak perlu takut terhadap salafi, sebab hakikatnya mereka adalah kelompok manusia yang ingin memurnikan agamanya seperti yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang diikuti Para sahabatnya, beribadah ingin sesuai dengan tuntunan Rasulullah, demikian pula cara beragamanya dan juga berdakwah, maka itu sudah seharusnya seorang salafiy itu harus bisa menyambung dakwah dan cara beragama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu sebagai rahmatan lil’alaaminn. Untuk itu selama dia bisa mengajak anda beragama secara kaffah dan berjalan diatas tuntunan Al Qur’an dan As Sunnah dan tentunya dia sendiri sudah benar-benar mengamalkannya sebelum mengajak anda maka lanjutkan saja dengan istikhoroh dahulu kepada Allah Ta’aa. Yang jelas secara dzahir dia sudah tampak sebagai laki-laki yang shalih dan semangat dalam ibadah dan menjalankan sunnah in syaa Allah akan baik buat imam anda nantinya. Allahua’lam

  • asalamualikum wr wb
    saya mengajukan pertanyaan sekiranya ustad bersedia menjawab
    1. jika talaq qinayah sang suami lupa niatnya apa jatuh talaq atau tidak?
    2. jika suami berkata kepada mertua, saya sudah tidak sanggup lagi sering bertengkar mending kami sendiri sndiri saja percuma nikah kalau menimbulkan dosa saja, saya mau urus semuanya,saya sudah tidak kuat karena dia(istri) tidak mau nurut perkataan saya…. (kata2 disni sudah jelas orng yg mndengarnya suami berniat mengajukan cerai dipengadilan) tapi diniat suami dia akan mengurus perceraian tapi biar pengadilan yang memutuskan cerai atau tidaknya… tpi tidak jdi mengurus k pngdilan karena sudah baikan… apakah sudah jatuh talaq?
    3. jika suami bertengkar dengan istri terus berucap tntng talaq qinayah kepada istrinya niat jadi bercampur aduk antara niat bercerai dan niat menakuti istri itu hukumnya gimana?
    4. jika sudah lupa dan tidak bisa menghitung jatuh talaq berapa atau tidak hukumya gimana?
    terima kasih wasalamualikum wr wb

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah

      1.jatuh tidaknya talak dalam kasus ini adalah tergantung dari niat anda: kalau ada niat talak maka jatuh talak 1, kalau tidak ada niat maka tidak terjadi talak. Kalau lupa atau ragu, maka dianggap tidak ada niat. Sesuai dengan kaidah fiqih bahwa apabila dalam keadaan ragu, maka kembali pada yang yakin secara asal yakni tidak adanya niat. Allahua’lam
      2.Allahua’lam, kita coba pelajari lagi kasus tersebut dengan melihat fatwa Ulama’

      3. Kalau maksudnya anda ragu-ragu dengan keraguan yang kuat apakah kinayah cerai pada istri anda niatkan talaq atau bukan. maka keraguan tidak dianggap, dan kembali pada hukum asal yaitu tetapnya pernikahan. Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, hlm. 7/380, mengutip pendapat Imam Syafi’i sbb:

      وإذا لم يدر أطلق أم لا فلا يزول يقين النكاح بشك الطلاق) وجملة ذلك أن من شك في طلاقه لم يلزمه حكمه، نص عليه أحمد وهو مذهب الشافعي وأصحاب الرأي، لأن النكاح ثابت بيقين فلا يزول بشك

      Artinya: Apabila suami tidak tahu apakah ia telah mentalak istrinya atau tidak maka keyakinan nikah tidak hilang dengan keraguan talak. Intinya, barangsiapa yang ragu dalam talaknya maka hukum talak tidak terjadi. Ini berdasarkan pendapat Imam Ahmad dan merupakan madzhab Syafi’i dan ahli ra’yi. Karena nikah itu sah dengan keyakinan, maka ia tidak hilang dengan adanya keraguan.
      Tapi kalo anda yakin kinayah tersebut berniat talaq maka in syaa Allah jatuh talaq. Allahua’lam
      4. Allahua’lam, kami butuh fatwa ulama’ dalam hal ini.

  • terimakasih ustad sudah bersedia menjawab,, saya ingin bertanya lagi ustad kalau sang suami tidak tau hukum talaq gimana? suami taunya kalau cerai ya dipengadilan bukan lewat talaq ucapan, dan suami tidak tau hukum tentang talaq dan rujuk dan baru tau saat sudah lama menikah itu hukumnya bagaimana? semisal dulu pernah bertengkar dan pernah menyinggung kata cerai……..terima kasih asalamualikum wr wb

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah,
      Mayoritas ulama fikih (jumhur) berpendapat bahwa ucapan cerai dari suami pada istri itu sah dan jatuh talak dalam keadaan apapun baik saat marah maupun karena tidak tahu hukumnya (dikira talak baru terjadi kalau ke pengadilan, dst). Kecuali kalau ucapan talak itu diucapkan saat marah yang tidak terkontrol(hilang kesadaran) yang sampai tingkat seperti orang gila, maka talak tidak terjadi.
      Namun ada pendapat yang menyatakan bahwa apabila talak yang dikeluarkan oleh suami yang bodoh alias tidak tahu pada konsekuensi hukum ucapan talak-nya, maka talak tidak terjadi. Ibnu Hazm dalam Maratibul Ijma’ 1/72 menyatakan
      وَاخْتلفُوا فِي طلاق الْجَاهِل، فكرهه الْحسن”. والمسألة فيها ثلاثة أقوال: القول الأول: يقع طلاقه. القول الثاني: لا يقع طلاقه. القول الثالث: يقع طلاقه قضاءً، إلا أن تظهر قرينة على عدم إرادته الطلاق، فيقضي بها.
      Artinya: Ulama berbeda pendapat dalam soal talaknya orang bodoh. Dan masalah ini terdapat tiga pendapat,Pendapat pertama: talak terjadi. Pendapat kedua, talak tidak terjadi. Pendapat ketiga, talak terjadi secara hukum kecuali ada bukti atas tidak adanya maksud suami untuk bercerai maka dihukumi tidak terjadi talak.
      Kesimpulan: kalau anda mengikuti pendapat yang menganggap tidak sahnya talak orang marah dan bodoh. Berarti pernikahan anda masih sah, Namun kedepannya, usahakan anda menjaga diri untuk tidak mudah mengeluarkan kata “talak” dan semacamnya dalam keadaan apapun. Nanti kebenarannya di sisi Allah Ta’ala. Allahua’lam

  • Syamsul says:

    ASSALAMUALAIKUM. USTADZ.

    afwan Saya mau bertanya, bagaimana hukum syar’i nya bagi orang yang menikah dalam keadaan hamil, sedangkan yang menikahi adalah orang yang telah menghamilinya

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      kalau maksud anda dia hamil karena perbuatan zina, maka ini ada pendapat khusus tentangnya. Yakni dari sebagian Ulama’ diantaranya madzhab Imam Ahmad dan selainnya mereka harus bertaubat dulu dari perbuatan zinanya, seperti yang dijelaskan oleh
      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/109: “Menikahi perempuan pezina adalah haram sampai ia bertaubat, apakah yang menikahinya itu adalah yang menzinahinya atau selainnya.
      berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:
      الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
      “Laki-laki yang berzina tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Dan telah diharamkan hal tersebut atas kaum mu`minin.” (QS. An-Nur: 3)
      Namun hukum haram tersebut bila ia belum bertaubat. Adapun kalau ia telah bertaubat maka terhapuslah hukum haram nikah dengan perempuan pezina tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:
      التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ
      “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak ada dosa baginya.” (Dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Adh-Dho’ifah 2/83 dari seluruh jalan-jalannya)
      Maksud taubat disini adalah taubat nasuha, yang harus terpenuhi syarat-syaratnya, yaitu
      1. Ikhlash karena Allah.
      2. Menyesali perbuatannya.
      3. Meninggalkan dosa tersebut.
      4. Ber‘azam dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya.
      5. Pada waktu yang masih bisa di terimanya taubat yakni sebelum matahari terbit dari Barat dan sebelum ruh sampai ke tenggorokan.

      Namun karena dalam kasus diatas perempuannya dinikahi dalam keadaan hamil. Berarti dia masih dalam keadaan iddah, Maka dalam keadaan ini dari sekian pendapat kami condong kepada pendapat yang Hukum pernikahannya tidak sah.karena masih dalam masa iddah, Berdasarkan firman Allah Ta’ala
      وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ
      Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. (QS: Ath-Thalaaq Ayat: 4)
      Juga Hadits Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda tentang tawanan perang Authos:
      لاَ تُوْطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعُ وَلاَ غَيْرُ حَامِلٍ حَتَّى تَحِيْضَ حَيْضَةً
      “Jangan dipergauli perempuan hamil sampai ia melahirkan dan jangan (pula) yang tidak hamil sampai ia telah haid satu kali.” (HR. Ahmad 3/62,87, Abu Daud no. 2157, Ad-Darimy 2/224 Al-Hakim 2/212, Al-Baihaqy 5/329, 7/449, Ath-Thobarany dalam Al-Ausath no. 1973 dan Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 307 dan di dalam sanadnya ada rowi yang bernama Syarik bin ‘Abdullah An-Nakha’iy dan ia lemah karena hafalannya yang jelek tapi hadits ini mempunyai dukungan dari jalan yang lain dari beberapa orang shohabat sehingga dishohihkan dari seluruh jalan-jalannya oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. 187)
      Kesimpulan Pembahasan:
      1. Tidak boleh nikah dengan perempuan yang berzina kecuali dengan dua syarat yaitu, bila perempuan tersebut telah bertaubat nasuha dari perbuatan zinanya dan telah lepas ‘iddah-nya.
      2. Ketentuan perempuan yang berzina dianggap lepas ‘iddah adalah sebagai berikut:
      • Kalau ia hamil, maka ‘iddahnya adalah sampai melahirkan.
      • Kalau ia belum hamil, maka ‘iddahnya adalah sampai ia telah haid satu kali semenjak melakukan perzinahan tersebut. Wallahu Ta’ala A’lam.

  • Abi says:

    Assalamualaikum ustadz..

    Menanggapi soal melaksakan hukum wasiat dan waris, jika ada seorang bpk berwasiat kpd anak2nya pd saat beliau hidup mengatakan bhw jika kelak bpk meninggal nanti tidak akan mewariskan harta nya kpd anak2nya dan beliau hny mewariskan ilmu kpd anak2nya… Dan anak2nya mengetahui hal tsb, setelah bbrp thn sibapak meninggal.. Stlh hmpr 15 thn sibapak meninggal, ada bbrp anak yg menginginkan harta waris bapaknya dan mempertanyakan hal tsb kpd ibunya…
    1.Bagaimana menanggapi hal tsb pak ustadz, dmn kondisi anak2 yg ditinggal sibapak bs dikatakan blm mapan scr finansial dan wasiat alm sibapak tdk tertulis?
    2.Dilain hal ada dalil yg menjelaskan wasiat dilaksanakan tdk melebihi dr 1/3, apa mksdnya pak ustadz?
    3.Bgmn pembagian warisannya pak ustadz, mengingat ada hukum positif yg berlaku di negara kita yg mana ada pembagian harta gonogini utk istri ug ditinggalkan sblm dilakukan pembagian waris ?
    4.almarhum memiliki 1istri, 1anak laki2 dan 2anak perempuan….

    Mohon penjelasannya pak ustadz…

    Wassalam…

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah.
      Pertama : kalau memang ada harta warisnya in syaa Allah boleh dibagi. Sebab waris adalah ketentuan Allah bagi hamba-hambaNya yang berhak menjadi ahli waris keluarganya. Sedangkan wasiat adalah permintaan manusia, maka itu jika ada wasiat yang menyelisihi ketentuan Allah Ta’ala waka boleh di abaikan.
      Kedua : ya memang wasiat tidak lebih dari 1/3 yaitu dari total harta peninggalan mayit.
      Ketiga dan keempat : pembagiannya secara islam adalah istri mayit mendapat 1/8 dari seluruh harta waris dan sisanya 7/8 dibagikan kepada anak-anaknya dengan ketentuan anak laki-laki mendapat dua bagian dari anak perempuan. Allahua’lam

  • uni says:

    Bismillah
    Assalamualaikum,
    Ustad sy mw mnanykan,sy sedang hamil terkadang sy suka memilih makanan krn sring tdk nafsu mkn, (ngidam),tpi suami sy tdk mw mngerti dn brasumsi ngidam yg sy alami hany sugesti sndiri,pdhl sy sdh mnjelskan tpi suami ttp tdk mw mndngar dn ttp mnyuruh mkn sprti biasa,pdhl suami sdh sring liat sy mual2 bhkan muntah,apkah mmg bnr ngidam sy hnya sugesti,dn bagaimana cr mengatasinya,
    Wassalam

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah,
      Ngidam yang dalam bahasa arab di sebut “al wahmu” adalah merupakan tabiat wanita ketika hamil, dan inipun di akui oleh para Ulama hal itu benar adanya bukan sugesti. Bisa di lihat penjelasan Imam An Nawawi dalam syarh hadits penciptaan janin dari sahabat Ibnu Mas’ud Radhiallahua ‘anhu, beliau menjelaskan masa ngidam itu biasanya terjadi pada 40 hari pertama sperma berada di rahim. Hal ini juga selaras dengan penjelasan ulama’ masa kini seperti Syeikh Shalih al munajjid hafidzahullah,
      Yang mana beliau menjelaskan bahwa ‘ngidam’ yang dialami oleh wanita yang sedang hamil, terutama di awal kehamilan merupakan fenomena yang diakui secara kedokteran, sebagai salah satu dampak kehamilan…. umumnya wanita yang hamil memiliki tabiat yang aneh di masa awal kehamilannya. Ada yang begitu suka dengan suami dan bau suami, dan ada yang sebaliknya, ada yang suka makan es, bahkan ada yang suka makan sesuatu yang tidak wajar, Dan kondisi psikologis yang aneh lainnya, yang tidak mungkin bisa disebutkan semuanya… karena itu, selayaknya anggota keluarga khususnya sang suami memperhatikan keadaan istri hamil yang sedang ngidam, dengan berusaha meminimalisir segala kemungkinan yang akan menimbulkan masalah yang lebih besar.
      Beliau juga mengatakan bahwa Kasus ngidam yang terjadi pada wanita hamil ini telah membingungkan ahli medis. Ada berbagai macam komentar dan pendapat yang mereka sampaikan. Mereka kesulitan memahami fenomena semacam ini. Ada sebagian pakar kedokteran yang mnyebutkan bahwa diantara therapi yang mungkin bisa dilakukan adalah menghindari terlalu banyak berpikir atau menginginkan sesuatu.
      Apapun itu, ngidam adalah perkara yang hakiki, dan tidak bisa diingkari hal ini terjadi pada kehidupan wanita hamil, juga tidak dinafikan secara medis. Karena itu, bagi anggota keluarga hendaknya memberikan penanganan yang sesuai untuk wanita hamil, dengan catatan, jangan sampai mengizinkan untuk makan makanan yang haram atau yang membahayakan dirinya. Kemudian bisa diarahkan untuk mengkonsumsi makanan yang lain, atau diarahkan untuk bisa dekat dengan suaminya dan anak-anaknya. Karena banyak terjadi perceraian di awal kehamilan, sebabnya adalah suami tidak memahami kondisi istrinya yang sedang ngidam atau tidak mampu memberikan penanganan yang sesuai bagi wanita ngidam.
      Al muhim kesimpulan pertama: ngidamnya wanita hamil adalah hakiki bukan sugesti dan dalam hal ini wanita tidak bisa disalahkan, sebab itu adalah tabiat alaminya,
      Kedua: jangan sampai ada keyakinan jika ngidam tidak di turuti makan nanti anaknya bisa cacat begini dan begitu, semua itu jelas tidak benar sama sekali, jika demikian maka dia telah mendahului kehendak Allah Ta’ala, dan ini membahayakan keimanan seorang muslim.
      Ketiga : nasehat bagi suaminya, jika istrinya ngidam sesuatu sebaiknya dibantu untuk mewujudkan keinginannya, selama hal tersebut tidak melampaui batas dan tidak memudharatkan semuanya. Karena jika tidak terpenuhi dikhawatirkan dia akan kepikiran terus menerus sehingga bisa mengganggu kesehatan dirinya dan janinnya.
      Keempat : jika ngidamnya anda sebagai istri belum bisa terpenuhi, maka kami nasehatkan agar anda bersabar serta menjadikan Al Qur’an sebagai alat terapi kondisi psikologis saat ngidam, yakni dengan banyak membacanya dan memahami serta merenungkan maknanya, karena Allah Ta’ala menjadikan al-Quran sebagai petunjuk dan obat. Allah Ta’ala berfirman:
      وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَاراً
      “Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al-Isra’: 82)
      Syaikh as-Sinqithi mengatakan:
      Firman Allah dalam ayat ini : [مَا هُوَ شِفَآءٌ ] “menjadi obat”, mencakup semua fungsi obat, baik bagi penyakit hati, seperti keraguan, kemunafikan, dan yang lainnya, maupun untuk badan, dalam bentuk ruqyah. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang shahih tentang sahabat yang meruqyah orang yang tersengat binatang berbisa dengan membacakan surat al-Fatihah. (Adhwaul Bayan, 3: 253). Allahua’lam semoga dimudahkan

  • lisa says:

    Assalamu’allaikum
    Sya tunangan sudah setahun lebih tapi keluarga saya belum mengizinkan saya menikah dengan alasan kakak perempuan saya belum menikah sedangkan saya sudah siap menikah.ayah saya sudah meninggal sejak kecil saya mempunyai 3 kakak laki laki.kakak saya yang pertama tidak mau menjadi wali nikah saya kalau saya menikah duluan.apa yang harus saya lakukan ustadz apa aku harus menunggu kakak perempuan saya menikah baru saya bolrh menikah. Trus apakah yang jadi wali saya harus kakak saya yang pertama.mohon bantuannya
    Wassalamu’allaikum

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Tidak merestui pernikahan karena alasan adat-istiadat yang melarang melangkahi saudara tua, menjaga perasaan saudara tua, menghindari mitos tidak baik perempuan dilangkah, menjaga pandangan orang terhadap kakak perempuannya yang dilangkah, dst.. maka semuanya bukanlah alasan-alasan syar’i yang bisa membuat pernikahan ditunda. Ketentuan-ketentuan tersebut bukanlah hukum islam dan seorang muslim hanya wajib terikat dengan hukum Allah saja, tidak ada yang lain. Allah berfirman;
      وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
      “Dan hendaklah kalian memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Maidah; 49)
      Jika sudah mampu menikah dan terpenuhi syarat-syaratnya sehingga dengan menunda menikah akan terjadi perbuatan dosa maka hukumnya wajib menikah.
      Jika wali tidak mau menikahkan wanita yang dalam perwaliannya dengan alasan yang tidak syar’i seperti ini, maka wali tersebut disebut wali ‘adhal, yaitu wali yang tidak mau menikahkan wanita yang dalam perwaliannya jika ia telah menuntut nikah. Perbuatan ini adalah haram. berdasarkan firman Allah swt :
      فَلاَ تَعْضُلُوهُنَّ أَن يَنكِحْنَ
      Artinya : “Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka menikah.” (QS. Al Baqarah : 232)
      Jika wali tidak mau menikahkan dalam kondisi seperti ini, maka hak kewaliannya bisa berpindah kepada wali kerabat yang lain dahulu dibawahnya (tidak harus kakak tertua), hingga seterusnya .kalo memang tidak ada lagi dari kerabat ,maka silahkan anda menggunakan wali hakim jika nantinya tidak ada mudharat bagi kehidupan rumah tangga anda dengan keputusan tersebut.Hal ini berdasarkan hadist dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      فَإِنْ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ
      Jika terjadi sengketa antara mereka, maka penguasa menjadi wali untuk orang yang tidak memiliki wali. (HR. Ahmad 24205, Abu Daud 2083, Turmudzi 1021, dan yang lainnya).
      Namun mungkin sebelum melangkah dengan keputusan anda tersebut, kami anjurkan anda bermusyawarah kekeluargaan, bila perlu anda cari pihak ketiga baik dari kerabat maupun bukan yang faham agama dan bijak yang bisa membantu menjembatani antara anda dan ortu anda. semoga dengan adanya musyawarah keluarga akan ada jalan tengah yang baik nantinya in syaa Allah.
      Untuk selanjutnya Kami anjurkan anda untuk shalat istikharah meminta petunjuk Allah Ta’ala dan memohon kemudahan dariNya, hanya Allah Ta’ala saja yang bisa membukakan hati manusia yang masih tertutup. Allahua’lam semoga dimudahkan

  • asalamulaikum wr wb
    ustad saya mau bertanya
    1. jika anak saya dilakukan adat jawa 7 bulnanan apakah termasuk bid’ah ?
    2. jika saya memilih salah satu madzab yang saya pikir hukumnya lebih ringan apakah berdosa atau bagaimana hukumnya
    terimka kasih asalamualikum wr wb

    • Al Lijazy says:

      bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      pertama : iya benar, adat jawa 7 bulanan untuk anak bukan termasuk ajaran islam, barang siapa menganggap hal tersebut adalah sebuah ibadah dalam ajaran islam maka wajib mendatangkan dalil tentangnya, sebab setiap ibadah dalam islam pasti ada dalilnya, baik dari Al quran maupun Hadits, jika tidak ada maka termasuk perbuatan bid’ah.
      Kedua : memilih hukum dari perselisihan madzhab yang benarnya adalah memilih yang paling dekat pendapatnya dengan dalil syar’i, dengan kata lain harus memilih yang paling rajih/kuat. Namun jika keterbatasan ilmu bagi orang awam tentang bagaimana mengetahui yang rajih maka boleh baginya mengikuti pendapat salah satu madzhab yang dia yakini selama khilaf tersebut adalah khilaf yang diakui kekhilafannya oleh ahli ilmu. Allahua’lam

  • tuty Alawiyah says:

    Assalamu’alaikum ustadz. Ana seorang akhwat yg tengah akan memuliakan sunnah dg jln pernikahan. Kmrin ksmpulan saat khitbah org tua menyerahkan tgl pernikhan ke ana dan calon suami alasannya untuk mencocokkan dg jdwal tugas krja, kuliah & supaya smw kluarga bisa kmpul.
    Kspkatan saat khitbah kami akan menikah bulan januari th 2017/ rabiul akhir tapi resepsi skitar bulan mei,karena ana msti mmprsiapkan bnyk hal menjlang KKN.
    Yg jdi fikiran ana adalah bhwa di masa lalu pd zaman Rasulullah di bulan rabiul akhir ad bnyak trjdi perang. Bagaimana sebaiknya mnurut antum?? Bolehkah kita mmprtimbangkan kebaikan2 pd bulan2 trtentu.. sdgkan fitnah dzman ini smkin luar biasa uztadz. Ana takut kbrkahan prnikhan mnjdi berkurang klo diundur mnunggu bulan yg baik. Sdgkn kmi mnikah berniat agar mnjauhi diri dr maksiat juga fitnah akhir zaman. Brdasarkan mslah inj yg lebih kita dahulukan tadz?? Mmprtimbangkan bulan baik tapi khwatir dg maksiat. Atau bgaimana ustadz. Syukron jazakallah khair..

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Perlu anda ketahui, bahwa meyakini salah satu bulan adalah bulan jelek,sial atau mengurangi keberkahan,sehingga menghalanginya dalam melakukan ibadah maupun yang lainnya itu adalah keyakinan kaum jahiliyyah sebelum datangnya islam.
      Misalkan yang berlaku di masyarakat jahiliyah berkeyakinan bahwa bulan shafar merupakan bulan sial. Mereka tidak berani mengadakan acara penting di bulan ini. Ketika islam datang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghapus keyakinan ini.
      Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
      لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ، وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ
      “Tidak ada penyakit menular, tidak ada thiyaroh, tidak ada shafar, dan tidak ada hammah.” (HR. Bukhari 5707 dan Muslim 2220)
      Keterangan:
      Salah satu diantara makna ‘tidak ada shafar’ adalah tidak ada keyakinan sial karena bulan shafar.
      Ibnu Rajab mengutip menjelaskan,
      أن أهل الجاهلية كانوا يستيشمون بصفر ويقولون: إنه شهر مشئوم فأبطل النبي صلى الله عليه وسلم ذلك
      ”Bahwa masyarakat jahiliyah berkeyakinan sial terhadap bulan shafar. Mereka mengatakan, shafar adalah bulan sial. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghapus keyakinan ini.” (Lathaif al-Ma’arif, hlm. 74).
      Akan tetapi sangat disayangkan, ternyata keyakinan semacam ini masih dilestarikan oleh kaum muslimin. Ketika Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghapuskannya sejak 15 abad silam, masih ada pengikut beliau yang melestarikannya.
      Semoga Allah melindungi kita dari keyakinan yang menyimpang dari ajaran-Nya.
      Nasehat kami, jika segala syarat-syarat menikah sudah terpenuhi maka segerakan menikah dengan tidak meyakini bulan tertentu. Tentunya semua itu setelah anda istikhoroh pada Allah Ta’ala mohon yang terbaik bagi anda. Allahua’lam

  • Fasia says:

    Bismillah..
    Assalamua’alaykum ustadz.
    Ada beberapa hal yg ingin ana tanyakan :
    1. Bagaimana hukum memelihara kucing di dalam rumah (tanpa dikeluarkan sama sekali), diberikan makan dan minum, memelihara dgn sewajarnya tanpa berlebih2an ?
    2. Kami memiliki 2 kucing, dirawat semenjak kecil dan kucing2 tsb sudah terbiasa dgn keadaan aman dan nyaman di rumah. Kita berkeinginan melepas nya tp khawatir kucing2 tsb di zhalimi orang2 sekitar yg notabene tidak menyukai kucing dn menelantarkannya bahkan melakukan kekerasan saat mengusirnya, mana yg lebih baik?
    3. Bagaimana hukum mengebiri kucing secara umum dan khusus dgn tujuan demi kebaikan?

    Jazaakallahu khoir

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Pertama : jika dirawat dengan baik dan terpenuhi hak-haknya in syaa Allah gk masalah
      Kedua : jika dengan di lepas akan memudhorotkannya maka ahsan jika bersedia, tetap di pelihara saja, kalau tidak sanggup memeliharanya kami rasa jika dilepaspun in syaa Allah gak masalah, sebab dia adalah mahluq Allah Ta’ala dan kami yakin Allah Ta’ala yang akan menjaga dan memelihara kelangsungan hidupnya, atau kalau nggak, dihadiahkan saja ke siapa saja yang sanggup memeliharanya dengan baik.
      Ketiga : Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mengebiri binatang. Namun sebaiknya kebiri dilakukan jika keadaan memaksa demikian, karena ada maslahat maupun menolak mudharat bagi hewan tersebut, dengan catatan hewan tersebut tidak merasakan tersiksa berkepanjangan atau bahkan menyebabkan kematian.
      Imam Ahmad pernah mengatakan,
      لا يعجبني للرجل أن يخصي شيئاً ، وإنما كره ذلك للنهي الوارد عن إيلام الحيوان
      Aku tidak menyukai jika ada seseorang yang mengebiri binatang. Hal itu dibenci karena terdapat larangan tentang menyakiti binatang (al-Adab asy-Syar’iah, 3:263).
      (Simak, al-Majmu’ karya an-Nawawi (6:155), al-Adab asy-Syar’iyah karya Ibnu Muflih (3:263)]
      خصاء السنور إذا كان فيه نفع أو دفع ضرر لا بأس به، كذا في الكبرى
      Mengebiri kucing, jika itu memberikan manfaat atau menghindari madharat, hukumnya boleh. Demikian keterangan di Al-Kubro (al-Fatawa al-Hindiyah, 44:20).
      Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,
      إذا كانت القطط كثيرة مؤذية ، وكانت العمليَّة لا تؤذيها : فلا حرج ؛ لأن هذا أولى من قتلها بعد خلقها .. وأما إذا كانت قططاً معتادة ولا تؤذي : فلعلَّ في بقائها تتنامى خيراً
      Jika populasi kucing terlalu banyak dan mengganggu, sementara tindakan mengebiri tidak sampai menyakitinya, tidak masalah mengebiri kkucing. Ini lebih baik dari pada membunuh setelah kucing itu hidup. Namun jika kucing itu tidak menggaggu, barangkali dibiarkan berkembang biak akan menyuburkan kebaikan. (Fatawa Islamiyah, 4:448 no. 10502). Allahua’lam

  • hendro says:

    asslamu’alaikum ustadz
    saya mau bertanya,
    saya seorang laki – laki, Jadi ada perempuan yang ingin saya nikahi, tapi terkendala dengan ibu saya. karena yang saya sukai ini adalah anak dari adek ibu(saudara laki – laki dari ibu ) saya. Ibu saya tidak setuju karena adeknya ini suka judi, mabuk – mabukan serta suka mengambil harta ibu saya(ibu), waktu muda dulu. dari pengalaman tersebut ibu saya tidak menyetujui karena hal tersebut. ibu saya juga takut jika saya menikah dengan anaknya saya akan lebih perhatian dengan bapaknya dari pada ibu saya serta bapaknya juga akan menumpang hidup dengan saya. dan juga ibu saya takut jika suatu saat saya bermalasah dengan keluarga dia atau keluarga saya, maka hubungan antar keluarga akan rusak. Tapi bapak dari perempuan yang ingin saya nikahi ini setuju jika anaknya menikah dengan saya. Saya sudah lama mengenal perempuan yang ingin saya nikahi ini sejak SMP dulu. dia senang saya begitu juga saya. mohon pencerahaanya ustadz. Terima kasih

    • Al Lijazy says:

      bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      kami pikir alasan ibu ortu tidak merestui sudah sesuai syar’i, yakni dengan mempertimbangkan nasab, dan ini sesuai hadits
      dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
      تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
      “Wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kemuliaan nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka nikahilah wanita yang baik agamanya niscaya kamu beruntung.”
      Hadits tersebut diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim (2/1086).
      Sangan wajar ortu menolak jika calon menantunya memiliki ortu yang seperti anda sebutkan,yang nantinya dikhawatirkan akan mengganggu keharmonisan rumah tangga anaknya serta keluarga besarnya. maka itu saran kami , tapi demi kebaikan semua pihak coba anda berusaha menyesuaikan dulu dengan keinginan ortu anda dan mencari washilah untuk mencarikan calon yang lain yang nasabnya lebih baik, tereutama agamanya, sambil berdo’a pada Allah Ta’ala minta dimudahkan mendapatkannya, agar ortu anda tenang dan bahagia, sebab kebahagiaan ibu akan membuahkan ridho yang akan membahagiakan anda nantinya in syaa Allah. Setelah itu maka kami anjurkan anda segera istikhoroh minta pilihkan pada Allah Ta’ala yang terbaik buat anda, dan tanda Allah ridhoi seseorang menjadi jodoh anda biasanya ditandai dengan kemantaban hati, lancarnya urusan penuh kemudahan dan keberkahan di dalamnya. Namun jika sebaliknya dikhawatirkan itu pertanda Allah Ta’ala belum meridhoinya. Allahua’lam

  • Regiana Sobandi says:

    Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh
    Ustadz semoga Allah senantiasa menjaga antum
    Ana seorang pencari kerja, saat ini ana sedang proses recruitment di sebuah perusahaan. Saat Interview ada beberapa pertanyaan yang ana jawab dengan berbohong, ana menyesal dan ana bertaubat dari dosa tersebut.
    Yang ingin ana tanyakan jika ana diterima bekerja disitu, bagaimana status gaji ana ?
    Jazakumullahu khairan

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullahi wabarokaatuh, aamiin..syukron atas do’anya dan semoga juga Allah Ta’ala senantiasa menjaga antum.
      Yang perlu antum ketahui disini adalah Pada dasarnya berbohong, berkata dusta atau berperilaku tidak jujur haram hukumnya dalam Islam. Al Quran dan al hadits secara tegas mencela mereka yang suka berbohong.

      Al Quran menganggap berbohong adalah perilaku orang yang tidak beriman.

      إنما يفتري الكذب الذين لا يؤمنون بآيات الله وأولئك هم الكاذبون

      Artinya: Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pembohong. (QS An Nahl 16:105)

      Rasulullah menegaskan haramnya berdusta dan menjadi salah satu tanda orang munafik:

      آية المنافق ثلاثة : إذا حدث كذب , وإذا وعد أخلف , وإذا اؤتمن خان
      Artinya: Tanda orang munafik ada tiga: berkata bohong, ingkar janji, mengkhianati amanah (HR Bukhari & Muslim).
      Tentang keadaan antum, jika seperti yang antum telah katakan bahwa antum telah bertaubat dari itu. Maka, Jika antum telah bertaubat dengan sungguh-sungguh dan terpenuhi syarat-syaratnya maka kami berharap Allah Ta’ala mengampuni antum dan tidak menjadikan mudhorot sedikitpun dengan hasil jerih payah antum.
      Tinggal kita setelah itu senantiasa memperbanyak amal shalih dan shodaqoh yang dengannya in syaa Allah akan menghapus dosa-dosa kita. Semoga Allah Ta’ala mengampuni kita semua karena sebab dosa yang satu ini..aamiin. Allahua’lam, baarokallahu fiikum

  • ABDULLAH says:

    ASSALAMUALAIKUM
    USTAD ANA ADA PERMASALAHAN YANG SUDAH SANGAT LAMA INGIN ANA TANYAKAN, TAPI MALU INGIN BERTANYA KEPADA SIAPA.
    ANA MOHON USTAD MENJAWAB PERTANYAAN ANA USTAD.
    KARENA KEBODOHAN SAYA, SEKITAR 3 TAHUN YANG LALU ANA PERNAH MELAKUKAN SEKALI SEX ORAL DENGAN SEORANG WARIA, SANG WARIA MENGHIS@P KEMALUAN SAYA HINGGA KLIMAKS, TIDAK ADA YANG LAIN YANG SAYA LAKUKAN KECUALI ITU USTAD.
    SAYA SANGAT MENYESAL DAN SELALU MENJADI PIKIRAN SAYA CARA BERTAUBATNYA..
    APAKAH SAYA TERMASUK DALAM HADIST ” barang siapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum luth (homosex) maka bunuh pelaku dan pasangannya”
    YANG ARTINYA HUKUMANNYA BUNUH USTAD….APAKAH SAYA TERKENA HUKUMAN BUNUH UNTUK MEMBERSIHKAN DIRI ANA USTAD
    MOHON PENJELASANNYA DAN CARA BERTAUBAT YANG BENAR USTAD., JAZAKALLAHU KHAIR

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Hadits yang anda kutip tentang hukuman bagi pelaku kaum luth memang benar adanya, jadi hadnya harus di bunuh keduanya, meskipun cara membunuhnya paraFuqoha’ berbeda pendapat, ada yang mengaruskan dibakar hidup-hidup hingga mati, ada yang berpendapat harus dilemparkan dari atas bangunan tertinggi di tempat tersebut dengan dilempari batu dari atas ( menyerupai adzab kaum luth yang sebenarnya),, ada yang berpendapat di penggal kepalanya, wa ‘ala kulli haal yang jelas pelaku kaum luth hadnya harus mati bagaimanapun caranya yang di pilih oleh hakim saat itu.
      Namun yang perlu anda ketahui disini adalah eksekusi had tersebut akan terlaksana jika pelakunya tertangkap basah oleh pemerintah islam dan sudah masuk mahkamah islamiyah. Jika sudah demikian keadaannya maka eksekusi Pasti akan terlaksana in syaa Allah.
      Namun lain halnya jika perbuatan nista tersebut tidak sampai terangkat ke mahkamah islamiyah, artinya pelakunya menyembunyikan perbuatannya dan lantas menyesalinya maka in syaa Allah hukuman had tidak akan tegak terhadapnya, jika pelakunya bertaubat dengan taubatan nasuha atas perbuatannya tersebut semoga Allah Ta’ala mengampuninya meskipun had tidak ditegakkan had atasnya.
      Dan sebagai tambahan ilmu bagi anda tentang taubat, bahwa
      Agar taubat seseorang itu diterima, maka dia harus memenuhi tiga hal yaitu:
      (1) Menyesal, (2) Berhenti dari dosa tersebut, dan (3) Bertekad untuk tidak mengulanginya. setelah itu dia hiasi kehidupannya dengan banyak beramal shalih
      Yang mana Rukun Utama Taubat Ada 3:
      Imam An-Nawawi mengatakan,
      (2) وقد سبق في كتاب الإيمان أن لها ثلاثة أركان: الإقلاع، والندم على فعل تلك المعصية، والعزم على أن لا يعود اليها أبدا
      (3) ”Dalam kitab al-Iman disebutkan bahwa taubat memiliki 3 rukun: al-Iqla’ (meninggalkan dosa tersebut), an-Nadm (menyesali) perbuatan maksiat tersebut, dan al-Azm (bertekad) untuk tidak mengulangi dosa yang dia taubati selamanya. (Syarh Shahih Muslim, 17/59)

      Taubat tidaklah ada tanpa didahului oleh penyesalan terhadap dosa yang dikerjakan. Barang siapa yang tidak menyesal maka menunjukkan bahwa ia masih senang dengan perbuatan tersebut dan menjadi indikasi bahwa ia akan terus menerus melakukannya. Akankah kita percaya bahwa seseorang itu bertaubat sementara dia dengan ridho masih terus melakukan perbuatan dosa tersebut? Hendaklah ia membangun tekad yang kuat di atas keikhlasan, kesungguhan niat serta tidak main-main. Bahkan ada sebagian ulama yang menambahkan syarat yang keempat, yaitu tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut. sehingga kapan saja seseorang mengulangi perbuatan dosanya, jelaslah bahwa taubatnya tidak benar. Akan tetapi sebagian besar para ulama tidak mensyaratkan syarat yang keempat ini. Allahua’lam

  • fitr says:

    Assalamualaikum
    Semoga ustad di berkahi Allah . Dan ilmunya berkah
    Ustad, ana ada pertanyaan..
    Bagaimana kita sholat di belakang imam, kemudian ketika sholat kita baru tau bahwa imamn ini bacaannya salah ustad, mulai makhrajnya, panjangnya, huruf tho manjadi huruf ta… yg kesalahan2nya saya rasa kesalahan fatal dan merubah makna,
    Bagaimana sikap kita…apa tetap ikut imam atau diniatkan ketika sholat sedang berlangsung keluar dari jamaah dan sholat sendiri? Sukron wajazakallah

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Aamiin..syukron atas do’anya dan ssemoga anda juga demikian.
      Tentang bermakmum pada imam yang bacaannya salah dengan tingkatan lahnun jali ( kesalahan berat sehingga bisa merubah makna ayat) disini ditinjau pada kesalahan baca pada saat kapan, jika bacaan tersebut ketika membaca surah alfatihah maka sebagian pendapat mengatakan sholatnya batal, sebab dia adalah salah satu rukun dalam sholat, dan tidak batal jika kesalahan tersebut di selain bacaan alfatihah. sebagaimana pendapat madzab Maliki. Seperti membaca (أَنْعَمْتَ : an’amta) dibaca (أَنْعَمْتُ : an’amtu), maka itu telah merubah makna dan ini membatalkan shalatnya. Bahkan, menurut Malikiyah, jika dia sengaja membaca seperti itu maka dia murtad.
      Sedangkan jika kesalahan ringan misalkan samar dalam membaca antara huruf ضdan ظ dengan lafadz di antara keduanya, atau panjang pendeknya yang tidak sampai merubah makna maka shalatnya tetap sah.
      Namun sebagian pendapat mengatakan tetap sah sholatnya namun dosa dan kesalahannya ditanggung imam seluruhnya. Allahua’lam
      Tentang sikap kita sebagai makmum memang pada sebagian kitab-kitab fiqh dari sebagian madzhab membolehkan makmum dalam keadaan tersebut mufaroqoh( melepaskan diri ) dari sholat bersama imam asalkan diutamakan tetap berada dalam shofnya tidak meninggalkan jama’ah dengan berpindah tempat, tapi di dalam shof tersebut dia sholat sendiri tidak mengikuti imam, yang demikian untuk menjaga kekhusyu’an sholat dan prasangka-prasangka yang tidak baik bagi makmum yang lain . Namun dari pendapat yang lain sebaiknya di lanjutkan bersama imam hingga selesai, dan segalanya dosa dan kesalahan ditanggung imam tersebut, jadi in syaa Allah makmum tetap dapat pahala sempurna dari sholat berjama’ah. Meskipun Seandainya anda menganggap sholat tadi tidak sah berdasarkan salah satu pendapat maka in syaa Allah tidak ada halangan jika anda mengulang sholat tersebut di rumah jika hati anda bisa tenang dengan melakukannya. Allahua’lam bish shawwab
      Sebagai tambahan ilmu kami sertakan fatwa ulama’ tentang hal ini diantaranya
      Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Ada seorang imam yang suka ber-talhin (tidak sesuai ilmu tajwid) dalam bacaan Al-Qur’an dan terkadang menambah dan mengurangi huruf-huruf ayat Al-Qur’an. Apa hukum shalat bermakmum kepadanya ?
      Jawaban.
      Bila lahn-nya tidak merubah makna (ayat) maka tidak apa-apa shalat bermakmum kepadanya, seperti me-nashab-kan kata Rabba atau me-rofa-kannya (Rabbu) di dalam Alhamudlillahi Rabbil Alamin, begitu juga jika me-nashab-kan kata Ar-Rahman atau me-rofa-kannya dan lain-lain. Adapun bila menyebabkan perubahan makna, maka tidak (boleh) shalat bermakmum kepadanya jika orang itu tidak mengambil manfaat dengan belajar atau diberi tahu (bacaan salahnya) seperti membaca iyyaka na’budu dengan kaf di-kasrah (iyyaki) dan sepeti membaca an-‘amta dengan di-kasrah atau di-dhammah huruf ta-nya.
      Namun Bila dia menerima arahan dan memperbaiki bacaannya dengan cara diberitahu oleh makmum, maka shalat dan bacaannya itu sah.
      Yang jelas, setiap muslim dalam semua keadaan disyari’atkan mengajari saudaranya, baik dalam shalat atau di luar shalat, karena seorang muslim merupakan saudara muslim lainnya. Dia mengarahkannya bila salah dan mengajari bila bodoh dan membetulkan bacaannya bila terjadi kekeliruan.
      [Fatwa Ibnu Baz Kitab Ad-Da’wah- (Al-Fatawa 1/57)

  • fitr says:

    Assalamualaikum
    Ustad ana mau tanya..
    Apakah dalil yg menjadi dasar ttg bersalaman sembari bersholawat ini sahih ustad
    Rasulullah SAW bersabda sebagai berikut:

    عن انس عن النبي صلى الله عليه وسلم, قال: مامن عبدين متحابين فى الله يستقبل أحدهما صاحبه فيتصافحان ويصليان على النبي صلى ألله عليه وسلم الا لم يتفرقا حتى تغفر ذنوبهماماتقدم منهاوما تأخّر. أخرجه أبويعلى والبيهقى فى شعب الايمان

    Artinya: “tidaklah dua orang hamba yang saling mencintai di jalan Allah saling berhadapan lalu berjabatan tangan dan bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW, kecuali pasti mereka tidak berpisah sebelum diampuni dosanya baik yang terdahulu maupun yang kemudian” (HR Abu Ya’la dalam musnadnya dan Baihaqi dalam Syu’abul Iman.)

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      Dalam penjelasan sebagian ahli ilmu menerangkan bahwa hadits dengan redaksi tersebut di dho’ifkan Syeikh Al Albani, namun tentang keutamaan berjabat tangan ketika bertemu tanpa disertai sholawat terdapat pada hadits lain yang beliau shahihkan yaitu ;
      ما من مسلمين يلتقيان فيتصافحان إلا غفر لهما قبل أن يفترقا.
      “tidaklah dua orang muslim saling bertemu dan berjabat tangan kecuali keduanya akan diampuni dosanya sebelum berpisah ( H.R Imam Ahmad, abu Daud dan selainnya dengan sanad shahih. Di shahihkan syeikh Al Albani dalam as shahihah no. 525).” Allahua’lam

  • Fulanah says:

    Assalamu’alaikum…Jika ada wanita yg pernah khalwat (hal paling jauh adalah menempelkan kemaluan walau tdk sampai masuk dan masih ada kain yg membatasinya).
    Dan 2 tahun kemudian dia menikah dgn laki2 lain, dan baru mengetahui adanya ayat dalam surat An-Nur(3) tsb stlh dia melahirkan anak dr pernikahannya tsb. Apakah pernikahan mereka sah? Sedangkan sblm menikah,wanita ini blm taubat secara syar’i (tapi tidak mau mengulangi dan menyesali perbuatannya yg dulu) dan masih pacaran dgn calon suaminya tsb walau tindakan plg jauh berpegangan tangan dan cium kening. Apakah pernikahan mereka harus diulangi?

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah, kami nasehatkan untuk dia benar-benar bertaubat nasuha dari perbuatannya tersebut, dan semoga keadaan khalwat yang anda maksud belum termasuk zina farj yang dimaksud ayat sehingga pernikahannya dengan laki-laki yang lain teranggap sah. Dan tentunya lebih yakinnya jika sudah didahului taubat nasuha sebelum menikah dengan laki-laki lain. Allahua’lam, keputusannya yang maha adil disisi Allah Ta’ala.

      • Fulanah says:

        Jadi,bagaimana ustadz? Apakah untuk berhati2 lebih baik pernikahannya diulangi? Karena Insya Allah wanita tsb yakin kalau khalwat yg dilakukan dulu tidak sampai memasukkan kemaluan (penetrasi). Dan bagaimana status nasab anak mereka yg sudah terlanjur lahir? Krn perlu kepastian untuk wali nikah nya di kemudian hari.
        Jazakallahu khairan ustadz atas jawabannya.

        • kuna says:

          Komentar Anda sedang menunggu moderasi.

          assalamualaikum ustad,
          Bbrp keraguan dlm pekerjaan sy
          1.Jika sy bekerja di perusahaan dagang jual ratusan alat enginering dan alat berat, namun dr ratusan barang satu produknya adalah lemaari es utk wine tidak trlalu laku tp pertahun ada aja yg beli. Bagaimana ustad apakaha halal gaji sy?
          2. Sy sbg akunting yg kerjanya memposting transaksi ke pembukuan
          Pertanyaanya :
          -Perusahaan punya berbagai bank utk kegiatanya, tiap bulan setiap bank memberi bunga bank akhir bulan dan saya harus mencatat angka bunga itu ke pembukuan ? Apakah sy termasuk pencatat riba ?
          -suatu hari sy d beri info bos kalo tiap bulan akan masuk uang berupa cicilan dan bunga transferan dr owner karna dia pinjam modal perusahaan shingga dia akan transfer cicilan tiap bulan. uang yg masuk d bank sy harus mencatatnya ke pembukuan. Sy tidak terlibat deal2 an pinjam meminjamnya dan tdk jd saksi. Apakah sy pencatat riba juga?

          Mohon kiranya dpt menjawab pertanyaan diatas

          Ats perhatiaan ya sy ucp trimaksih moga Allah membalas budi hambanya yg membantu sesama.

          • Al Lijazy says:

            Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
            kalau melihat barang dagangan anda, paling tidak didalamnya terdapat syubhat karena tercampur antara yang halal dan yang haram, maka dari itu meninggalkan syubhat lebih baik in syaa Allah, sebagaimana dalam hadits Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
            إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ كَالرَّاعِى يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ
            “Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599)

            Ditambah lagi anda disitu mencatat masukan bunga bank yang sudah pasti itu riba meskipun anda tidak sebagai pelaku riba tapi hukum riba juga berlaku bagi pencatatnya, sebagaimana dalam hadits Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
            لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.
            “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1598).

            maka dari itu nasehat kami segeralah mencari sumber rizki yang yakin akan halalnya agar kehidupan anda penuh dengan keberkahan in syaa Allah. Allahua’lam semoga dimudahkan.

          • Al Lijazy says:

            Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
            Kalau melihat barang dagangan anda paling tidak didalamnya terdapat syubhat karena tercampur antara yang halal dan yang haram, maka dari itu meninggalkan syubhat lebih baik in syaa Allah, sebagaimana dalam hadits Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
            إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ كَالرَّاعِى يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ
            “Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599)

            Ditambah lagi anda disitu mencatat masukan bunga bank yang sudah pasti itu riba meskipun anda tidak sebagai pelaku riba tapi hukum riba juga berlaku bagi pencatatnya, sebagaimana dalam hadits Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
            لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.
            “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1598).

            maka dari itu nasehat kami segeralah mencari sumber rizki yang yakin akan halalnya agar kehidupan anda penuh dengan keberkahan in syaa Allah. Allahua’lam semoga dimudahkan.

  • nanang setyawan says:

    Assalamualaikum…
    Maaf ustadz jk pertanyaannya sy melenceng dr materi, sy mw tanya sy b’keinginan melamar seorang akhwat, tetapi sy bingung krn akhwat tsb pengamal bid’ah dan tergolong taat mengamalkannya,, mnrut ustadz Apkh sy ttp melamar dan bersabar smbil b’harap agar akhwat tsb diberi hidayah, atw bgmna sebaiknya ustadz…
    Dikarenakan perbedaan pandangan ini, sya dan akhwat tsb skrg mjd renggang…
    Mohon sarannya ustadz..
    Jazaakallah khairan..

    Nanang_sidoarjo

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah, perlu anda ketahui bahwa salah satu penyebab kebahagiaan utama dalam rumah tangga adalah adanya kesamaan manhaj dan aqidah dalam beragama, jika keduanya sudah berbeda, pada kenyataan yang terjadi sulit sekali untuk membuahkan kebahagiaan. Karena inti ketenangan dalam rumah tangga adalah beribadah sesuai Al Quran dan As Sunnah. Dan tabiat ahlu sunnah selalu resah dan tidak suka melihat kebid’ahan dan pelakunya, meskipun itu keluarganya sendiri.
      Maka itu kami nasehatkan tunggu dia bertaubat dulu dengan meninggalkan bid’ahnya setelah beriltizam dengan sunnah baru anda melamarnya, kasih dia washilah-washilah agar dia mengenal sunnah dengan tetap menjaga adab-adab syar’iy, jika perlu anda do’akan khusus buat dia agar Allah Ta’ala memberikannya hidayah,semoga dengannya dia segera dapat hidayah dan kemudian silahkan anda lanjutkan. Allahua’lam

  • Saya Ingin Bertanya Tentang Bulan yang memiliki cahayanya sendiri dalam Surah Nuh/71:16.Ada yang menafsirkah “Nur” atau “Muniira” dalam ayat tersebut sebagai cahaya yang dipinjam/cahaya pasif.Namun,bukankah itu akan bertentangan dengan sifat Allah yakni An Nur?.Tidaklah mungkin Allah bersifat cahaya pasif.Sehingga kami meminta penjelasan apakah Sains yang kita percayai selama ini bahwa bulan adalah refleksi cahaya matahari itu salah?Ataukah kita yang salah dalam memahami Ayat?Mengingat Quran turun dari Zat yang Haq.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, kbagai ahlu sunnah wajib mengimani ayat tersebut seperti datangnya sesuai dengan bimbingan para mufassirin yang beraqidah lurus dan tidak berusaha mentakwil kepada makna lain, apalagi hanya berdasar sains, yang kami soroti dalam kasus anda adalah adanya kesalahan anda dalam memahami sifat Allah ta’ala, yaitu anda menyerupakan sifat Allah ta’ala dengan sifat makhluq, makanya anda bingung sendiri padahal Allah Ta’ala berfirman
      لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
      “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (Qs. Asy-Syuura: 11)
      Sebagai tambahan ilmu bagi anda tentang bagaimana memahami asma dan sifat Allah Ta’ala kami terangkan bahwa,
      Tauhid asma dan sifat adalah pengakuan seorang hamba tentang nama-nama Allah yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya ataupun sunnah Nabi-Nya tanpa melakukan empat hal berikut:
      1. Penyimpangan (tahrif),yaitu merubah atau mengganti makna dari apa yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya dan yang ditetapkan oleh Rasul-Nya.
      Misalnya:
      Sifat marah Allah diganti maknanya menjadi keinginan untuk menghukum, sifat istiwa Allah diselewengkan menjadi istaula (menguasai).
      2.Penolakan (ta’thil), yYaitu meniadakan nama dan sifat yang telah Allah tetapkan, baik sebagiannya ataupun seluruhnya. Misalnya membatasi sifat Allah hanya bebeberapa sifat saja dan menolak sifat lainnya karena (mereka katakan) akan menyerupakan Allah dengan makhluk. Padahal penetapan sifat Allah tidak berarti menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.
      3.Membahas bagaimana bentuk nama dan sifat Allah (takyif), yaitu membatasi bagaimanakah sifat dan nama yang dimiliki oleh Allah. Padahal hal ini tidak mungkin. Karena kita Untuk mengetahui bentuk dan hakekat dari sebuah sifat, dapat diketahui dari tiga hal:
      1. Melihat zat tersebut. Dan ini tidak mungkin kita lakukan karena manusia di dunia tidak ada yang pernah melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
      2. Ada sesuatu yang semisal zat tersebut. Dan ini juga tidak mungkin kita lakukan kepada Allah karena Allah tidak serupa dengan makhluknya.
      3. Ada berita yang akurat (khobar shodiq). Orang yang paling tahu tentang Allah adalah Rasul-Nya, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memberitakan tentang bentuk sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
      4. Menyamakan Allah dengan makhluk-Nya.
      Inipun tidak mungkin karena Allah tidak serupa dengan hamba-Nya, akan tetapi Allah tetap memiliki nama dan sifat sebagaimana yang ditetapkan oleh-Nya dalam kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya.
      لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
      “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (Qs. Asy-Syuura: 11)
      Tentang penggalan ayat 36 Surah Al Nur,
      اللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ
      ‘Allah adalah Nur seluruh langit dan bumi..…’;
      Anda jangan memahami nur Allah seperti nur makhluq, jelas tidak akan sama selama-lamanya nur Allah Ta’ala jauh lebih agung dan meliputi segala sesuatu.
      Menurut Kamus Bahasa Arab, an-Nur adalah salah satu sifat Allah Ta’ala yang mengandung keagungan,maha luas meliputi segala sesuatu dan jelas tidak dimiliki makhluq, yang berkat keberadaan-Nya, keadaan manusia yang sebelumnya ‘buta’ dapat menjadi melihat; dan mereka yang tadinya sesat menjadi memperoleh petunjuk hidayah berkat karunia-Nya. Dan berkat keberadaan-Nya itulah segala sesuatu menjadi ada. Wujud-Nya berada disebabkan diri-Nya sendiri; lalu membuat segala sesuatu menjadi bukti akan keberadaan-Nya.

      Diterangkan pula di penggalan ayat 36 Surah Al Nur,
      اللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ
      ‘Allah adalah Nur seluruh langit dan bumi..…’; yakni, hanya Allah-lah yang mampu memberikan nur cahaya kepada segala makhluk yang berada di langit maupun di bumi. Nur Ilahi adalah cahaya yang memudahkan segala sesuatu dapat menyebar-luas dan menjadi tampak satu sama lain. Nur Ilahi meliputi dunia maupun Akhirat. Namun Nur Ilahi bagi dunia mengandung banyak hikmah. diantaranya adalah hanya dapat dikenali melalui ilmu syar’iy dan tafakkur atau perenungan yang mendalam, atau berkat adanya petunjuk Ilahi. Allahua’lam semoga bisa difahami.

  • Fulan says:

    :Assalamu’alaikum ustadz,mohon izin untuk bertanya.
    Saya dan teman2 baru mau membentuk koperasi simpan pinjam,namun saya masih ragu dan berhati2 agar tidak terjerumus dalam riba.
    Yg ingin saya tanyakan.

    Misal saya pinjam uang di koperasi 1jt untuk modal dagang dan pengembalian utang tsb dengan jumlah yg sama yaitu 1jt jika saya cicil.*tdk ada bunga.
    Namun, saya mempunyai kewajiban membagi keuntungan berdagang sebesar 20%(yang telah diketahui dan disepakati semua anggota koperasi) dari keuntungan berdagang setiap bulannya selama masa cicilan uang pinjaman saya yg 1jt tadi belum terselesaikan.

    Apabila cicilan 1jt tsb sdh lunas,barulah sy tidak dibebankan lagi dgn kewajiban 20%.

    Apakah ini termasuk riba ustadz? Walaupun utang saya tetap 1jt,tp apakah kewajiban 20% ini yg menjadi riba ustadz?
    Nantinya, keuntungan dari 20% akan dijadikan SHU.

    Apakah SHU dari dana tsb halal ustadz?
    Mohon nasihati saya ustadz agar sy bisa memberikan saran kpd teman2 mana yg halal dan yg haram.

    Terimakasih ustadz,
    Semoga Allah menjaga ustadz dan keluarga. Aamiin.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah, aamiin, syukron atas do’anya, semoga antm juga demikian in syaa Allah
      Untuk kasus antum ini 20% tersebut in syaa Allah adalah riba yang diambil koprasi tersebut karena sebab pinjaman dia kepada antm, sebab jelas sekali aturannya bahwa 20% tersebut menjadi kewajiban antm selama hutang 1 jt belum lunas. Itu sebenarnya akal-akalan dari koprasi tersebut untuk mendapatkan riba (bunga), tidak diambil dari pinjaman tapi diambil dari hasil keuntungan dagang antum yang modalnya mereka pinjami. Berarti disini terkena larangan setiap pinjaman yang mengalir manfaat di dalamnya maka itu termasuk riba. Seperti kaidah yang ma’ruf yang para ulama sepakati dalam masalah ini berbunyi,
      كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِبَا
      “Setiap pinjaman yang menghasilkan manfaat adalah riba.”
      Demikian pula SHUnya, karena ia berasal dari hasil riba maka hukumnya juga haram. Allahua’lam

  • Anwil says:

    Assalamualaikum ustadz, saya ingin bertanya saya berumur 19 tahun dan masih menempuh kuliah dan saya mempunyai calon yang masih berumur 19 tahun juga, calon pasangan saya itu sudah siap ingin menikah dan saya pun begitu tapi saya takut untuk berbicara ke pada ortu saya kalo saya ingin menikah karena saya sempat bertanya beliau tidak mengijinkan karena alasan saya harus kuliah dan kerja dulu agar dapat menikah, sedangkan calo saya walaupun masih umur nya sama dia sudah siap untuk menafkahi saya karena dia sudah bekerja tetapi ustadz saya bingung ortu saya pun waktu itu menikah waktu umur 19 tahun.. Bagaimana solusi agar meyakinkan ortu saya? Kalo saya ingin menikah dan saya yakin klp sudah lulus saya bakal kerja

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah,
      Nasehat kami bahwa Seseorang yang sudah mampu ( ada syahwat, harta dan ilmu )dan telah memenuhi syarat untuk menikah serta jika tidak menikah di khawatirkan akan terjatuh kedalam perbuatan dosa maka hukumnya wajib baginya untuk menikah. Alasan yang anda sebutkan yaitu harus lulus kuliah dulu dan bekerja bukan termasuk alasan syar’i yang dibolehkan untuk menunda atau menolak pernikahan jika memang telah terpenuhi syarat-syaratnya. tapi sebagai nasehat saja,jika keadaan anda tidak terlalu darurat untuk menikah maka sebaiknya anda turuti saja keinginan orang tua, apalagi jika hanya menunggu lulus kuliah tidak terlalu lama,anda bersabar dengan tetap menjaga kehormatan diri untuk tidak berbuat maksiyat hingga semuanya halal dengan mendapat restu orang tua, tentunya nantinya akan baik dan melegakan buat keluarga kecil anda nantinya. Namun jika hal itu darurat buat anda untuk menikah, artinya jika tidak menikah di khawatirkan terjatuh dalam perbuatan dosa Maka segera utarakan pada ortu anda tentang rencana pernikahan anda, dan utarakan alasan dengan jujur kepada mereka bahwa anda ingin beribadah dengan menikah dan menjaga kehormatan diri, in syaa Allah mudah-mudahan mereka akan bisa mengerti.
      Kalau memang belum berhasil,mungkin sebaiknya anda adakan musyawarah keluarga besar, bila perlu anda cari pihak ketiga yang bisa membantu menjembatani antara anda dan ortu anda. Intinya secara syar’i anda tetap memiliki hak untuk punya keinginan menikah demi mashlahat pada diri anda dan juga berhak untuk memilih calon pasangan hidup anda, namun tidak ada salahnya tetap memperhatikan mudharat dan mashlahat dengan keluarga besar anda, maka itu semoga dengan adanya musyawarah keluarga akan ada jalan keluar yang terbaik nantinya in syaa Allah.
      Untuk Selanjutnya Kami nasehatkan anda untuk shalat istikharah meminta petunjuk Allah Ta’ala dan memohon kemudahan dariNya, hanya Allah Ta’ala saja yang bisa membukakan hati manusia yang masih tertutup. Pastikan sebelum istikharah pilihan anda sudah sesuai dengan kriteria syari’ah dan bersabarlah setelah berdo’a sambil menunggu jawaban dari Allah Ta’ala, jangan menunggu jawaban Allah Ta’ala sambil bermaksiat kepadanya misalkan dengan tetap berpacaran dengannya, stop pacaran sampai dia sudah menjadi halal bagi anda. Setelah Allah Ta’ala nantinya memutuskan sesuatu kepada anda dengan kemantaban hati baru silahkan anda yakinkan orang tuan anda bahwa calon anda adalah pilihan Allah untuk anda. Dan andapun sudah siap untuk menikah. Allahua’lam, semoga dimudahkan

  • ufadz says:

    assalamualaikum ustadz,
    suami sy bekerja di kantor pajak yg menurut ulama mrpkn slh satu dosa bsr (pemungut pajak).saya sudah mendakwahi suami supaya resign tp beliau blm siap sekarang,intiny beliau belum mau krn beliau pemahaman nya masih awam dan belum bisa 100% menerima hujjah kalau pajak itu haram.yang saya tanyakan:
    1.bgaimana status nafkah yg suami berikan kpd sy dan anak sy, apakah haram?bolehkah kami makan dgn nafkah tsb?
    2.kl tidak boleh,lalu sy hrs bagaimana ustadz?saya masih pny anak yg masih kecil sehingga sy tidak bisa bekerja terlalu lama keluar rumah, selain itu apakah syar’i bagi wanita utk berkarir dlm kasus saya?
    3.kalau makanan yg sy makan haram dr nafkah suami, bagaimana dgn doa doa dan ibadah yg sy lakukan?saya tkt terhalang.
    4.bolehkah saya membuka usaha dgn gji suami?
    5.sampai sejauh mana seorang wanita diijinkan bekerja di dalam islam?
    saya mohon ustadz sempatkan jawab karena saya bingung sekali,,,semoga Alloh menjaga ustadz.Wassalamualaikum

    • Al Lijazy says:

      bismillah, wa’alaikumus salaam warahmatullah, nasehat kami, mungkin anda perlu mengulangi penyampaian hujjah kepada suami anda, dan tolong sampaikan dalil-dalil yang kami paparkan disini, semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah pada suami anda.
      Pada prinsipnya, Islam tidak membenarkan berbagai pungutan yang tidak didasari oleh alasan yang dibenarkan syariat, diantaranya ialah pajak. Pajak atau yang dalam bahasa arab disebut dengan al muksu adalah salah satu pungutan yang diharamkan, dan bahkan pelakunya diancam dengan siksa neraka:
      إِنَّ صَاحِبَ المُكْسِ فِي النَّارِ. رواه أحمد والطبراني في الكبير من رواية رويفع بن ثابت رضي الله عنه ، وصححه الألباني
      “Sesungguhnya pemungut upeti akan masuk neraka.” (Riwayat Ahmad dan At Thobrany dalam kitab Al Mu’jam Al Kabir dari riwayat sahabat Ruwaifi’ bin Tsabit radhiallahu ‘anhu, dan hadits ini, oleh Al Albany dinyatakan sebagai hadits shahih.)
      Para Ulama’ menjelaskan
      لما فيه من الظلم والإعانة عليه ؛ إذ لا يجوز أخذ مال امرئ معصوم إلا بطيب نفس منه ، وقد دلت النصوص على تحريم المَكْس ، والتشديد فيه ، ومن ذلك قوله صلى الله عليه وسلم في المرأة الغامدية التي زنت فرجمت : ( لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا صَاحِبُ مَكْسٍ لَغُفِرَ لَهُ ) رواه مسلم (1695)
      Alasan diharamkannya hal ini adalah karena pungutan pajak adalah kezaliman sehingga bekerja di pajak berarti membantu pihak yang hendak melakukan kezaliman. Tidak boleh mengambil harta seorang yang hartanya terjaga (muslim) kecuali dengan kerelaannya. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan haramnya al muksu ( pajak) dan adanya ancaman keras tentang hal ini. Di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seorang perempuan dari suku Ghamidiyyah yang berzina lantas dihukum rajam. Beliau bersabda, “Perempuan tersebut telah bertaubat dengan suatu taubat yang seandainya pemungut pajak bertaubat seperti itu tentu dia akan diampuni” (HR Muslim no 1695).
      قال النووي رحمه الله : “فيه أن المَكْس من أقبح المعاصي والذنوب الموبقات ، وذلك لكثرة مطالبات الناس له وظلاماتهم عنده ، وتكرر ذلك منه ، وانتهاكه للناس وأخذ أموالهم بغير حقها ، وصرفها في غير وجهها ” اهـ .
      Ketika membahas hadits di atas, an Nawawi mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa memungut pajak itu termasuk kemaksiatan yang paling buruk dan termasuk dosa yang membinasakan (dosa besar). Hal ini disebabkan banyaknya tuntutan manusia kepadanya (pada hari Kiamat) dan banyaknya tindakan kezaliman yang dilakukan oleh pemungut pajak mengingat pungutan ini dilakukan berulang kali. Dengan memungut pajak berarti melanggar hak orang lain dan mengambil harta orang lain tanpa alasan yang bisa dibenarkan serta membelanjakannya tidak pada sasaran yang tepat”.
      وروى أحمد (17333) وأبو داود (2937) عن عقبة بن عامر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ( لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ صَاحِبُ مَكْسٍ )
      قال شعيب الأناؤوط : حسن لغيره. وضعفه الألباني في ضعيف أبي داود
      Diriwayatkan oleh Ahmad no 17333 dan Abu Daud no 2937 dari Uqbah bin Amir, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pemungut pajak itu tidak akan masuk surga”. Hadits ini dinilai hasan li ghairihi oleh Syu’aib al Arnauth namun dinilai lemah oleh al Albani dalam Dhaif Abu Daud.

      Semoga dalil-dalil diatas akan mengetuk hati suami anda dan sadar akan perbuatannya
      Saran kami, jika anda langsung meminta suami anda resign mungkin akan terlalu berat baginya untuk menerimanya, namun saran kami jika memungkinkan bagi suami anda berusaha untuk minta mutasi ke instansi lain yang tidak ada kaitannya dengan pajak atau perbankan, walaupun resikonya harus turun jabatannya. Bila solusi ini tidak dapat ditempuh, maka lebih baik suami anda berhenti dari pekerjaan ini dan mencari pekerjaan lain yang jelas-jelas halal. Percayalah, bahwa bila beliau meninggalkan pekerjaan yang haram karena Allah Ta’ala, in syaa Allah Allah Ta’ala akan memberi beliau jalan keluar dan pekerjaan yang halal dan lebih baik dari yang pekerjaan sekarang. Allah Ta’ala berfirman :
      وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا {2} وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا . الطلاق 2-3
      “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Qs. At Talaaq: 2-3)
      Para ulama’ kita menegaskan:
      مَنْ تَرَكَ شَيئاً لله عَوَّضه الله خَيراً منه
      “Barang siapa meninggalkan suatu hal karena Allah, niscaya Allah menggantinya dengan yang lebih baik.”

      Jadi Kesimpulannya dengan adanya dalil-dalil tersebut maka pekerja dikantor pajak adalah berpenghasilan dengan penghasilan yang haram, dan namanya harta haram tentunya tidak boleh kita gunakan untuk hal-hal yang baik dan untuk kehidupan sehari-hari apalagi untuk ibadah.
      Wallahu a’alam bisshawab.semoga dimudahkan

      • ufadz says:

        Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, saya bersyukur ustadz berkenan memberi jawaban dalam hal ini.saya sudah menyampaikan hujjah hujjah kepada suami yang atas izin Alloh akhirnya suami ada rencana utk pindah ke divisi lain, namun demikian ini tidak bisa serta merta dikarenakan utk pindah harus naik pangkat dulu dan menunggu ada lowongan yang kosong, suami sendiri tidak berniat utk keluar dr PNS karena berbagai alasan duniawi,
        Jadi begini ustadz, beliau masih ragu/ blm bs menerima 100% kalau pajak itu haram (beliau masih awam, beliau berhujjah dgn ucpn hizbi (HTI, IM, dll bhw pajak halal,sementara beliau belum mau belajar manhaj yang haq) namun demikian utk menghindari kerancuan halal-haram beliau mau pindah namun beliau tdk bisa memastikan kpd saya kapan dan bagaimana.
        terus terang saya takut dan khawatir dengan nafkah yg suami berikan kpd saya dan anak saya, sampai sampai saya tidak berani beli beli apa apa kecuali yg sangat dibutuhkan.
        ustadz, semoga Alloh menjaga anda, saya mohon ustadz berikan arahan bagaimana saya harus bersikap sembari menunggu suami pindah/berkenan pindah, apa yang bisa saya lakukan?saya sudah berkali kali membahas dengan suami namun beliau mudah marah meskipun saya bicara halus, tidak suka membahas ttg keharaman pajak sehingga saya takut untuk mengulang ulang dan beliau bilang tunggu tunggu dan sabar saja, sementara belum ada hal konkrit yg beliau lakukan.suami sendiri tidak mau menceraikan saya karena mengasihi saya.
        ustadz, apakah saya perlu bekerja atau bagaimana?saya merasa tidak berdaya karena saya tidak bisa berbuat banyak padahal ini sudah urusan menyangkut diterimanya ibadah/tdk.
        dan apakah boleh kalau suami pindah tapi sebagai dosen (yang mengajar tata cara pajak bagi calon pegawai pajak)?ataukah itu termasuk ta’awwun dl maksiat?
        mohon ustadz berikan nasihat, semoga ustadz dirahmati Alloh, jazakallohu khoir

  • Muhammad Reza says:

    Bismillahirrahmanirrahim..
    Assalamualaikum ustad.
    Ada yang mau saya tanyakan perihal pernikahan.
    Saya seorang pria yg ayahnya telah meninggal.
    kini keluarga saya ada ibu, dan 3 adik saya. 1 adik saya telah bekerja.
    saya juga memiliki beberapa paman yang selama saya kuliah sampai lulus dibantu dibiayai oleh paman2 saya.
    kini saya telah lulus dan bru bekerja 1,5 bulan di sebuah perusahaan dijakarta.
    saya kini berumur 23 tahun. saya berniat menikahi seorang gadis berumur 20 tahun yang masih kuliah.
    saya mantap insya allah ingin menikah dengannya, karna ia adalah gadis yang mengingatkan saya pada Rabb saya. akhlaknya pun insya allah baik. saya menikah dengan tujuan ingin bahagia.

    nah,karna kondisi keluarga saya saat ini, dimana ibu sya masih dalam keadaan berdagang, dengan umur 49 tahun. saya telah mengutarakan niat saya menikah pada ibu, awalnya beliau berkata bahwa pernikahan itu tidaklah mudah, dan lagi saya diharapkan mengurus 2 adik saya yg msih sekolah. ibu berpikir dengan saya menikah, maka takutnya saya tidak akan sempat mengurus adik2 maupun membiayai adik2. sampai saat ini adik2 saya masih dibiayai oleh paman2 saya.
    setelah saya jelaskan pada ibu, beliau pun mengerti dan saya mengatakan akan menikah akhir tahun ini atau awal tahun depan sembari menabung untuk menikah.

    nah, masalahnya sekarang ada pada paman2 saya. mereka berpikir bahwa saya harus sukses dulu, harus mengurus keluarga saya dulu, baru menikah. karna kondisi sya baru bekerja, mereka saya takutkan tidak memberi saya izin karna tidak sepemikiran dengan sya, karna mereka berpikir saya harus sukses dulu. karna merekapun membiayai saya, sya bingung bagaimana meyakinkan paman saya padahal saya sudah siap dan mantap untuk menikah.
    begitupun calon istri saya.
    bagaimana baiknya ya ustad? apa memang sebaiknya sukses, mengurus keluarga dulu bru menikah, atau menikah, dan sambil mengurus keluarga? akan tetapi saya bingung meyakinkan paman saya… beliau2 itu psti berpikir saya tidak akan sukses kalo menikah sekarang dan mengurus istri bersmaan dngn mengurus adik dan ibu2 saya. wlaupun ibu sya saat ini msh berdgang. mohon bantuannya ustad.

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum salaam warahmatullah
      jika anda sudah memiliki kemampuan dan sudah terpenuhi syarat-syarat menikah dan jika dengan tidak menikah anda terjerumus kedalam perbuatan dosa maka anda sudah wajib menikah. Menurut kami dalam keadaan seperti ini menikah bagi anda harus didahulukan dari pada menjalankan amanah untuk mengurusi adik anda sekolah, yang mana menyekolahkan adik anda secara asal hukum adalah kewajiban orang tuanya, bukan kewajiban anda.kecuali jika dengan tidak menikah anda tidak terganggu ibadahnya dan tetap dalam keadaan bertaqwa kepada Allah Ta’ala, artinya anda tidak terjerumus dalam perbuatan dosa seperti pacaran dan segala yang menjadi washilah ke perzinahan, maka silahkan anda mengurus keluarga dahulu hingga anda benar2-benar mampu atau sukses menurut keluarga anda. Namun menurut hemat kami jika bisa dilaksanakan dua-duanya in syaa Allah bagus, anda bisa menikah sekaligus menjalankan amanah orang tua anda.sebab bisa jadi dengan menikah justru Allah Ta’ala membukakan pintu rizki bagi anda, sehingga bisa sekalian menyekolahkan adik anda.
      Adapun Masalah dengan paman-paman anda kalaupun mereka tidak mengizinkan anda menikah, tidak akan mempengaruhi keabsahan jika anda menikah nantinya, karena anda laki-laki yang jika menikah tidak membutuhkan wali siapapun, anda bisa menikah hanya dengan diri anda sendiri. Namun jika anda ingin mengutamakan keutuhan dan kerukunan keluarga besar anda maka mungkin perlu anda adakan musyawarah keluarga besar anda untuk membahas rencana anda ini. Jika perlu datangkan pihak ketiga yang anda percayai keilmuan agamanya agar bisa menjelaskan kepada mereka mashlahat besar yang akan di dapat seorang dengan menikah.sehingga dalam musyawarah keluarga tersebut akan dihasilkan keputusan yang membuahkan ridho dari semua pihak, dan andapun akan tenang dalam melangkah. Allahua’lam semoga dimudahkan

  • ufadz says:

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, saya bersyukur ustadz berkenan memberi jawaban dalam hal ini.saya sudah menyampaikan hujjah hujjah kepada suami yang atas izin Alloh akhirnya suami ada rencana utk pindah ke divisi lain, namun demikian ini tidak bisa serta merta dikarenakan utk pindah harus naik pangkat dulu dan menunggu ada lowongan yang kosong, suami sendiri tidak berniat utk keluar dr PNS karena berbagai alasan duniawi,
    Jadi begini ustadz, beliau masih ragu/ blm bs menerima 100% kalau pajak itu haram (beliau masih awam, beliau berhujjah dgn ucpn hizbi (HTI, IM, dll bhw pajak halal,) namun demikian utk menghindari kerancuan halal-haram beliau mau pindah namun beliau tdk bisa memastikan kpd saya kapan dan bagaimana.
    terus terang saya takut dan khawatir dengan nafkah yg suami berikan kpd saya dan anak saya, sampai sampai saya tidak berani beli beli apa apa kecuali yg sangat dibutuhkan.
    ustadz, semoga Alloh menjaga anda, saya mohon ustadz berikan arahan bagaimana saya harus bersikap sembari menunggu suami pindah/berkenan pindah, apa yang bisa saya lakukan?saya sudah berkali kali membahas dengan suami namun beliau mudah marah, dan beliau bilang tunggu tunggu dan sabar saja, sementara belum ada konkrit yg beliau lakukan.suami sendiri tidak mau menceraikan saya karena mengasihi saya.
    ustadz, apakah saya perlu bekerja atau bagaimana?
    dan apakah boleh kalau suami pindah tapi sebagai dosen (yang mengajar tata cara pajak bagi calon pegawai pajak)?ataukah itu termasuk ta’awwun dl maksiat?
    mohon ustadz berikan nasihat, semoga ustadz dirahmati Alloh, jazakallohu khoir

  • ismail says:

    assallammualaikum
    ustadz sy mw nanya
    1. bagaimana hukumnya jika kita double job smntara pekerjaan yang satu tidsk boleh double job dan terikat kontrak
    2. bolehkan srorang muslim itu aktif dalam suatu partai politik?
    syukron

    • Al Lijazy says:

      bismillah, wa’alaikum Salaam warahmatullah
      jika pekerjaan satunya sudah mengamanahi anda seperti itu dan anda sebelumnya sudah menyanggupinya maka anda wajib menjalankan amanah tersebut, jangan mengkhianatinya. Sebab wajib hukumnya seorang muslim menjalankan amanah yang di amanahkan kepadanya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam
      Surat an Nisaa/4 ayat 58 :
      إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
      “Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…”
      Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
      أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْـتَمَنَكَ، وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ
      “Tunaikanlah amanah kepada orang yang engkau dipercaya (untuk menunaikan amanah kepadanya), dan jangan khianati orang yang telah mengkhianatimu”. [Diriwayatkan oleh al Imam Ahmad dan Ahlus Sunan.
      Dan ingatlah Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anha , yang menerangkan khianat adalah salah satu tanda-tanda orang munafik, ia berkata:
      عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: آيـَةُ المُـنَافِقِ ثَلاَثٌ، إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ؛ وَإِذَا وَعَدَ أَخْـلَفَ؛ وَإِذَا اؤْتُـمِنَ خَانَ .
      “Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga : apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia menyelisihi janjinya, dan apabila diberi amanah (kepercayaan) ia berkhianat” [HR al Bukhari (1/21 no. 33, 2/952 no. 2536, 3/1010 no. 2598, 5/2262 no. 5744), Muslim (1/78 no. 59), dan lain-lain.].

      Adapun tentang aktif di par pol maka seorang muslim yang ingin menjalankan agamanya dengan baik selayaknya tidak usah ikut terjun di par pol, karena hal itu bukan ibadah juga tidak ada kebaikan buat dakwah islam, yang ada justru dia akan tersibukkan dengan urusan dunia demi memperebutkan jabatan, harta dan sebagainya dari perkara dunia. Dan kesemuanya itu jelas akan mengganggu aktifitas pokok dalam beragama. Allahua’lam

  • nanang setyawan says:

    Assalamu’alaikum… Maaf ustadz, sy mw tanya dan meminta nasihat…
    Sblumnyansy dkat dgn seorang akhwat pengamal bid’ah, tp stelah istikhoroh sya dipalingkan dari akhwat, dan kemudian sy dtunjukkan oleh Allah dgn akhwat yg lain. Saat ini sy sedang dekat dgn seorang janda beranak 1, sy msh bingung apkah akan mlnjutkan smpai kearah yg lebih serius atw tidak, krn sy blm siap dgn ‘status’ akhwat tsb… apalagi bbrp teman jg kenal dgn nya, dan sy pun kenal dgn mantan suaminya…

    akhwat tsb sudah sesuai dgn kriteria sy , agamanya bagus dan mw mnerima masukan dan mgkn bs mjd psangan yg taat dan insyaAllah mw mngenal sunnah…
    Tpi spertinya sya yg belum siap dengan alasan sperti diatas tadi..

    Sya mohon saran dan nasihat nya ustadz mngenai hal ini, dan apa ad fadhilah2 mngenai menikahi janda!?

    Jazakallahu khairan…

  • asalamualikum wr wb
    ustad apakah semua manusia yang beragama islam akan masuk surga semua?

  • ustad mau tanya beda pendapat ulama tentang perktaan cerai dalam keadaan marah, ada ulama yg berpendpat marah di pertengahan antara marah biasa dan marah memuncak itu ada yg berpendapat sah talaqnya dan ada yang berpendapat tidak jatuh talaq,,,, itu gmn ya ustad orang awan kan bingung milih yang mana

  • Dewi Regia says:

    Assalamu’alaikum saya mau bercerita..dan menanyakan tanggapan ustadz..
    Desember 2016 saya dan seorang ikhwan berencana menikah..dulu ada kendala dimana bapak saya tidak suka laki2 berjenggot dan bercelana cingkrang..tapi karena niat yg kuat dr kami maka ikhwan tsb datang ke rumah dan ternyata bapak menerima walaupun dikomentari soal penampilannya yg bagi bapak seperti teroris..dan keluarga saya sudah setuju..tapi karena di saat yg sama adik sudah dilamar lebih dulu maka saya harus menunggu 1 tahun islam..(akhir september 2017)..sambil saling kenal keluarga masing2..dan sudah mendekati tahun islam yg baru ternyata ada masalah baru di keluarga ikhwan yg awalnya menunjukkan sikap menerima jadi kurang menerima dan menyatakan ingin agar kami menunda paling tidak sampai 2019 kami baru boleh menikah..alasannya kakak si ikhwan belum menikah yg usianya sdh mencapai 36 tahun..dan sudah dilangkahi 2 kali oleh saudara perempuan..kaka tertua tidak mau jika harus dilangkahi ketiga kalinya..kondisinya kedua orgtua ikhwan sudah almarhum..bagaimana menurut ustadz apa baiknya yg harus kami berdua lakukan padahal bapak saya sudah menetapkan tgl nikah dan resepsi akhir oktober dan kami jg sudah lama menyiapkan tabungan utk menikah?(terimakasih)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *