Pembatal keislaman disebut juga dengan sebab-sebab kemurtadan. Setiap muslim harus mengerti hal-hal apa saja yang dapat menyebabkan seseorang menjadi murtad, agar ia menjauhi dan mewaspadainya. Jika ia tidak mengetahui sebab-sebab ini, dikhawatirkan ia akan terjatuh ke dalamnya. Hal ini tentu amat berbahaya, sebab keislamannya akan menjadi gugur.

Pengertian Murtad dan Hukum Orang Murtad

Seorang yang murtad dari Islam berarti telah meninggalkan Islam. Allah Taala berfirman, “Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 217)

Ini adalah peringatan yang sangat keras dari Allah Taala untuk orang-orang yang beriman. Allah juga berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, setan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.” (Muhammad: 25)

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (al-Maaidah: 54)

Di dalam ayat-ayat di atas, terdapat peringatan dan ancaman agar seorang muslim tidak terjatuh dalam kemurtadan. Adapun penjelasan di dalam As-Sunnah, Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Tidak halal darah seorang muslim kecuali dengan tiga sebab. Seorang yang berzina dalam keadaan ia pernah menikah, orang yang melakukan pembunuhan, dan orang yang meninggalkan agamanya dan memisahkan diri dari jamaah.” (HR. al-Bukhari 6878 dan Muslim 1676) Beliau juga bersabda, “Barangsiapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah dia!” (HR. al-Bukhari 4/75, Abu Dawud 2/440, at-Tirmidzi 6/243 dan Ahmad 1/282)

Jika yang murtad adalah sekelompok orang yang memiliki kekuatan senjata, maka mereka diperangi sebagaimana Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu memerangi orang-orang murtad pada masa pemerintahan beliau. Mereka diperangi sampai tunduk kepada Islam. Di antara mereka ada yang dibunuh karena telah murtad, dan ada yang tidak dibunuh karena telah bertaubat. Perbuatan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu memerangi orang-orang murtad ini adalah bukti kebenaran firman Allah Taala dalam surat al-Maaidah ayat 54. Para ulama mengatakan, “Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar ash-Shiddiq dan sahabat-sahabatnya, yang memerangi orang-orang murtad.

Firman Allah, “Barangsiapa yang murtad”, mengabarkan suatu peristiwa di masa yang akan datang. “..maka kelak Allah akan datangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” Allah datangkan Abu Bakar ash-Shiddiq dan sahabat-sahabat lainnya untuk memerangi orang-orang murtad.”

Namun jika yang murtad satu orang, ia ditangkap dan diminta untuk bertaubat. Apabila tidak mau bertaubat, ia dibunuh. Hukum orang murtad tidaklah seperti hukum orang yang kafir dari asalnya. Sebab, orang yang murtad telah mengetahui kebenaran, masuk Islam dengan pilihan dan kemauannya, serta mengakui bahwa Islam adalah agama yang benar. Jika kemudian ia murtad dari Islam, berarti ia telah mempermainkan agama Islam. Oleh karena itu, ia dibunuh agar agama Islam tidak dijadikan bahan permainan oleh orang murtad ini.

Orang murtad juga ada yang dibunuh tanpa diminta bertaubat terlebih dahulu. Yaitu yang sangat berat kemurtadannya.

Para ulama telah menulis sekian banyak buku berkenaan dengan kondisi murtad. Di dalam buku-buku tersebut, mereka membuat satu bab yang diberi judul ‘Bab Hukum Orang Murtad’. Mereka mengatakan, “Orang murtad adalah orang yang menjadi kafir setelah memeluk Islam.” Sebabnya, bisa karena keyakinan batil yang ada di hatinya, atau keraguan atas suatu perkara di dalam Islam; bisa juga karena perbuatan yang ia lakukan, seperti bersujud, menyembelih hewan dan bernazar untuk selain Allah.

Barangsiapa melakukan perbuatan-perbuatan ini, ia telah murtad. Atau bisa juga karena perkataan yang ia ucapkan, seperti mencela Allah Taala, atau Rasulullah shallallahu alaih wa sallam, atau mencela agama Islam. Allah Taala berfirman, “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?” Tidak usah kalian beralasan, karena kalian telah kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kalian (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (at-Taubah: 65-66)

Dengan demikian, kemurtadan bisa disebabkan oleh perkataan, perbuatan, keyakinan, atau keraguan atas perkara-perkara agama. Misalnya, ragu atas wajibnya shalat dan zakat, atau ragu atas perkara tauhid. Orang yang ragu seperti ini hukumnya adalah kafir.

Hal-hal yang menyebabkan seseorang murtad ada banyak. Berikut ini akan disebutkan beberapa sebab yang paling penting.

 

Menyekutukan Allah dalam peribadatan

Bentuk kemurtadan yang paling besar adalah menyekutukan Allah dalam peribadatan. Yaitu mempersembahkan ibadah kepada Allah dan juga kepada selain Allah. Seperti menyembelih hewan untuk selain Allah, bernazar untuk selain Allah, bersujud kepada selain Allah, minta pertolongan kepada selain Allah untuk suatu keperluan, padahal yang mampu menolong dalam keperluan tersebut hanya Allah. Ini adalah jenis kemurtadan yang paling besar.

Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (al-Maaidah: 72) “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (an-Nisaa: 48) “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (an-Nisaa: 116)

Kesyirikan adalah kemurtadan yang paling besar, dan banyak orang yang mengaku muslim melakukannya. Misalnya, mendirikan bangunan di atas pusara-pusara lalu berthawaf mengelilinginya; menyembelih hewan dan bernazar untuk orang yang dikubur di pusara itu, seraya meyakini bahwa itu semua adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Mengapa mereka tidak langsung mendekatkan diri kepada Allah dan meninggalkan sangkaan-sangkaan ini? Sungguh, Allah Azza wa Jalla sangat dekat dengan makhluk-Nya, dan Maha Mendengar permohonan mereka. Allah berfirman, “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (al-Baqarah: 186) “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Ghafir: 60)

Lalu mengapa orang-orang itu pergi dan memohon kepada selain Allah dengan mengatakan, “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (az-Zumar: 3) Dengan begitu, seakan-akan mereka meyakini bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu kecuali melalui perantara.

Demikianlah setan-setan dari kalangan jin dan manusia menghiasi perbuatan syirik kepada mereka. Padahal mereka mengaku sebagai orang Islam, bersyahadat laa ilaaha illallah, melakukan shalat, puasa dan amal-amal shalih yang lain. Akan tetapi mereka mencampur amal-amal shalih ini dengan syirik besar, sehingga mereka keluar dari agama Islam. Orang yang menganggap mereka masih muslim hendaknya mengerti hal ini.

Sungguh, mempersekutukan Allah adalah dosa paling besar dan paling berbahaya. Namun banyak orang yang mengaku muslim terjatuh ke dalamnya. Mereka tidak menyebut perbuatan syirik sebagai kesyirikan, melainkan sebagai tawassul, atau meminta syafaat, atau istilah-istilah lainnya. Akan tetapi penamaan tidaklah merubah hakikat. Syirik tetaplah syirik. Inilah kemurtadan yang paling berbahaya dan banyak orang yang terjatuh ke dalamnya. Padahal, hal ini sudah sangat jelas diterangkan di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, baik dalam bentuk peringatan ataupun ancaman atas orang yang melakukannya.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti sehingga diberi uzur. Maka kita katakan, sampai kapan kebodohan ini ditolerir, sementara Al-Quran telah dibacakan kepada mereka. Mereka pun sudah membaca, bahkan menghafal Al-Quran. Sungguh, hujjah telah tegak atas mereka dengan sampainya Al-Quran. Allah Taala berfirman, “Al-Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya).” (al-An’aam: 19) Dengan demikian, setiap orang yang telah sampai padanya Al-Quran, berarti hujjah telah ditegakkan terhadapnya, dan tidak ada uzur lagi baginya untuk melakukan kesyirikan.

 

(Disadur dari Syarh Risalah Nawaqidul Islam, Syaikh DR. Shalih bin Fauzan)

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *