Menjadikan Sesuatu Sebagai Perantara Antara Seseorang dengan Allah Taala

Seseorang yang menjadikan sesuatu sebagai perantara antara dirinya dengan Allah; ia berdoa, meminta dan bertawakal kepadanya, maka ia telah kafir berdasarkan ijma. Ini sejenis dengan pembatal Islam yang pertama, yaitu kesyirikan. Namun karena banyak orang yang terjatuh ke dalamnya, maka ia perlu dibahas secara tersendiri.

Cukup banyak orang yang mengaku beragama Islam, namun juga menyembah kuburan. Mereka bertaqarrub kepada seorang yang dianggap sebagai wali, agar si wali memberi syafaat atau menyampaikan hajat mereka kepada Allah. Ini adalah perbuatan menjadikan selain Allah sebagai perantara. Mereka bernazar, menyembelih qurban dan meminta pertolongan kepada perantara tersebut. Mereka katakan bahwa perbuatan ini bukanlah kesyirikan. Wali tersebut hanyalah wasilah yang akan menyampaikan permohonan mereka kepada Allah. Mereka berkata, “Ia adalah orang shalih. Orang shalih memiliki kedudukan di sisi Allah. Kami mendekatkan diri kepadanya dengan tujuan agar ia mendekatkan diri kami kepada Allah.” Inilah hujjah mereka. Sama dengan hujjah orang-orang musyrik terdahulu.

Allah berfirman, “Orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (az-Zumar: 3) Mereka mengatakan, “Kami tidak menjadikan mereka sebagai sekutu-sekutu bagi Allah. Kami hanya menjadikan mereka sebagai perantara yang akan mendekatkan kami kepada Allah.” Namun Allah menamakan perbuatan ini sebagai kesyirikan.

Allah Taala berfirman, “Mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” (Yunus: 18)

Cukup banyak orang yang tidak mengetahui kebatilan perkara ini, bahkan dari kalangan penuntut ilmu agama sekalipun. Sampai-sampai ada orang yang disebut ulama, membela perbuatan syirik ini. Mereka katakan, “Ini bukanlah kesyirikan. Syirik adalah menyembah patung. Sementara orang-orang itu tidak menyembah patung.” Subhanallaah! Menyembah patung hanya salah satu bentuk kesyirikan. Syirik adalah menyembah sesuatu selain Allah, entah itu berupa patung, batu, pohon, kuburan, seorang wali, malaikat, atau orang shalih. Jadi, kesyirikan bukan hanya menyembah patung saja.

 

Tidak Mengkafirkan Orang-Orang Musyrik, atau Ragu Atas Kekafiran Mereka, atau Membenarkan Perbuatan Kufur Mereka

Ini adalah perkara yang sangat berbahaya. Banyak pula orang yang mengaku muslim, yang tidak menganggap kafir orang-orang musyrikin. Di antara mereka ada yang berkata, “Alhamdulillah, tidak ada kesyirikan pada diri saya, karena saya tidak menyekutukan Allah. Dan saya juga tidak akan mengkafirkan orang lain.” Kita katakan kepadanya, “Mengkafirkan orang yang dikafirkan oleh Allah, dan orang yang menyekutukan-Nya merupakan suatu kewajiban. Anda juga wajib berlepas diri dari orang tersebut sebagaimana Nabi Ibrahim berlepas diri dari ayah dan kaumnya.

Allah Taala berfirman, “Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah. tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.” (az-Zukhruf: 26-27)

Adapun orang yang menganggap kesyirikan sebagai sesuatu yang benar, maka ia lebih buruk lagi. Sebab ia telah membenarkan kekufuran dan kesyirikan, atau ragu atas kemungkarannya. Kita katakan kepada mereka, “Jika Anda seorang muslim dan mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad shallallahu alaih wa sallam, maka ketahuilah bahwa Rasulullah shallallahu alaih wa sallam diutus untuk mengkafirkan orang-orang musyrikin, memerangi mereka, menghalalkan harta dan darah mereka.”

Beliau bersabda, “Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan ‘laa ilaaha illallah’.” (HR. al-Bukhari 2946 dan Muslim 20) Beliau juga bersabda, “Aku diutus dengan pedang sampai Allah disembah.” (HR. Ahmad 5115) Allah Taala berfirman, “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah…” (al-Anfaal: 39) Fitnah yang dimaksud dalam ayat ini adalah kesyirikan.

 

Meyakini Selain Petunjuk Nabi shallallahu alaih wa sallam Lebih Sempurna dan Lebih Baik

Hal lain yang membatalkan keislaman adalah berhukum dengan selain apa yang telah diturunkan oleh Allah. Jika seseorang meyakini bahwa perbuatan ini mubah, sehingga boleh saja berhukum dengan syariat, atau dengan undang-undang buatan manusia, berarti ia menjadikan hukum thaghut setara dengan hukum Allah. Tujuan penegakan hukum syariat bukan sekadar menyelesaikan masalah, akan tetapi juga untuk beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla. Oleh karena itu, menetapkan hukum sesuatu dengan syariat Allah merupakan bentuk ibadah kepada-Nya. Sementara menetapkan hukum sesuatu dengan selain hukum Allah merupakan bentuk kesyirikan. Yaitu syirik dalam hal ketaatan dan hukum.

Allah Taala berfirman, “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (asy-Syura: 21) “Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (al-An’aam: 121) “Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (at-Taubah: 31)

Di dalam ayat-ayat ini, Allah menamakan perbuatan mereka sebagai kesyirikan. Dengan demikian, orang yang menyejajarkan hukum Allah dengan hukum taghut, dan mengatakan bahwa keduanya sama saja, telah keluar dari Islam. Lebih parah lagi, orang yang mengatakan bahwa berhukum dengan selain hukum Allah itu lebih baik daripada berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan. Demikian pula orang-orang yang mengatakan bahwa syariat Islam tidak cocok untuk diterapkan di masa sekarang dan tidak relevan lagi dengan peradaban.

Yang dimaksud dengan hukum thaghut adalah semua hukum selain hukum Allah. Entah itu hukum adat, aturan orang-orang kafir, undang-undang Perancis atau Inggris, atau adat kabilah. Semua ini adalah hukum thaghut.

Adapun orang yang berhukum dengan selain hukum Allah dikarenakan hawa nafsunya, atau ia belum mengetahui tentang hukum Allah, sementara ia meyakini bahwa hukum Allah adalah yang benar dan wajib diterapkan, maka ia telah melakukan suatu dosa besar yang diistilahkan dengan kufrun duuna kufrin (perbuatan kufur yang tidak menyebabkan pelakunya keluar dari Islam).

 

Membenci Ajaran Rasulullah shallallahu alaih wa sallam

Pembatal keislaman yang lain adalah membenci salah satu ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaih wa sallam. Allah Taala berfirman, “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Quran) sehingga Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad: 9) Maka kebencian yang ada di hati terhadap suatu ajaran Islam menyebabkan seseorang menjadi kafir, walaupun secara zahir ia mengamalkan ajaran tersebut.

 

Melecehkan Ajaran Rasulullah shallallahu alaih wa sallam

Termasuk hal yang menyebabkan kemurtadan adalah melecehkan ajaran yang Allah turunkan, atau sesuatu yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaih wa sallam, walaupun ia termasuk amalan sunnah atau mustahab. Seperti bersiwak, mencukur kumis, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan perkara-perkara sunnah yang lain. Jika seseorang melecehkan ajaran-ajaran ini, ia menjadi kafir.

Dalilnya ialah firman Allah Taala, “Jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (at-Taubah: 65-66)

Dengan demikian, orang yang melecehkan/mengejek satu saja ajaran Rasulullah shallallahu alaih wa sallam, entah itu perkara wajib ataupun sunnah, ia dihukumi murtad dan keluar dari Islam.

Lalu bagaimana lagi dengan orang yang mengatakan bahwa membiarkan jenggot, memotong kumis, mencabut bulu ketiak, dan yang semisalnya hanyalah perkara kulit. Sungguh, ucapan seperti ini merupakan bentuk pelecehan terhadap agama Allah ‘azza wa jalla. Sehingga walaupun mereka mengerjakan amalan-amalan ini, sesungguhnya mereka telah murtad dari agama Islam. Sebab, ucapan mereka itu berarti menganggap rendah/remeh ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaih wa sallam. Padahal setiap muslim wajib mengagungkan dan menghormati Rasulullah shallallahu alaih wa sallam. Seandainya seseorang terjatuh dalam perbuatan menyimpang karena terbawa hawa nafsunya, ia harus tetap menghormati sunnah Rasulullah shallallahu alaih wa sallam dan hadist-hadits beliau.

 

(Disadur dari Syarh Risalah Nawaqidul Islam, Syaikh DR. Shalih bin Fauzan)

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *