Urgensi Ilmu Dalam Dakwah

December 4, 2015

Di antara perkara yang wajib diperhatikan secara sungguh-sungguh oleh para pelaku dakwah ini adalah ilmu. Ilmu tentang syariat Allah Azza wa Jalla yang diambil dari dua sumber utama: Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaih wa sallam. Allah Taala berfirman, “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl: 44) “Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.” (QS. An-Nisaa: 113)

Ilmu adalah dasar dan materi dakwah. Tidak akan mungkin dakwah akan sempurna sesuai dengan keridhaan Allah Azza wa Jalla kecuali jika dibangun di atas dasar ilmu. Imam al-Bukhari rahimahullah membuat satu bab di dalam kitab shahihnya dengan judul, ‘Bab Berilmu Sebelum Berkata dan Berbuat’ dengan dasar firman Allah Taala, “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sembahan (yang haq) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (QS. Muhammad: 19)

Maka setiap dakwah yang tidak didasari ilmu, pasti memiliki penyimpangan dan kesesatan. Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaih wa sallam memberikan peringatan tentang suatu keadaan ketika para ulama diwafatkan, dan tidak ada lagi pemimpin selain dari kalangan orang-orang yang bodoh. Mereka berfatwa tanpa ilmu sehingga mereka tersesat dan menyesatkan.

Kita lihat, banyak saudara-saudara kita yang memiliki kesadaran ini mulai berbicara dengan dasar semangat keagamaan. Tidak diragukan bahwa ini adalah kebaikan. Karena jika tidak ada semangat yang menggelora seperti ini, tentu tidak akan ada kemajuan. Namun demikian, semangat saja tidaklah cukup. Ia harus disertai dengan ilmu yang akan menuntun seseorang dalam perbuatan dan dakwahnya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Sampaikan dariku walaupun satu ayat!” (HR. al-Bukhari 3461) Dan kita tidak mungkin bisa menyampaikan sesuatu dari beliau, kecuali apabila kita mengetahui syariat yang beliau ajarkan.

Maka wajib atas seorang dai untuk memiliki ilmu tentang apa yang ia dakwahkan. Ilmu yang benar berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaih wa sallam. Sebab setiap ilmu yang diambil selain dari keduanya harus ditimbang dengan keduanya terlebih dahulu. Bisa jadi ia mencocoki keduanya atau menyelisihinya. Jika ilmu itu sesuai dengan keduanya maka ia diterima. Dan jika ternyata tidak sesuai, maka harus ditolak, siapapun yang mengatakannya. Sungguh telah shahih riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Hampir saja kalian dihujani batu dari langit ketika aku mengatakan perkataan Nabi shallallahu alaih wa sallam dan kalian membantahnya dengan perkataan Abu Bakar atau Umar.” Kalau demikian keadaannya berkenaan dengan perkataan Abu Bakar dan Umar yang dipertentangkan dengan sabda Rasul shallallahu alaih wa sallam, maka bagaimana lagi jika sabda beliau dipertentangkan dengan perkataan orang yang lebih rendah dari mereka berdua dalam ilmu, ketakwaan, status persahabatan dengan Nabi shallallahu alaih wa sallam dan kekhalifahan? Sungguh, menolak perkataan orang yang seperti ini lebih pantas dilakukan ketika menyelisihi Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaih wa sallam. Allah Azza wa Jalla berfirman, “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. an-Nuur: 63) Imam Ahmad berkata, “Tahukah Anda apa yang dimaksud dengan fitnah pada ayat ini? Fitnah yang dimaksud adalah kesyirikan. Karena bisa jadi ketika seseorang menolak beberapa sabda Nabi shallallahu alaih wa sallam di hatinya muncul sebuah penyimpangan (niat) sehingga ia pun binasa.”

Adapun berdakwah tanpa ilmu, maka ia adalah dakwah di atas kejahilan. Dakwah di atas kejahilan mudaratnya lebih besar daripada manfaatnya. Sebab dai ini telah mendudukkan dirinya sebagai pembimbing. Kalau yang membimbing adalah orang jahil, maka ia akan menjadi orang yang sesat dan menyesatkan. Dan kejahilannya itu adalah kejahilan murakkab yang lebih parah daripada kejahilan biasa. Karena kejahilan biasa mencegah orangnya dari berbicara, dan masih mudah dihilangkan dengan belajar. Akan tetapi orang yang jahil murakkab, tidak akan mau diam dan terus berbicara walaupun di atas kejahilan. Ketika itu, ia akan lebih banyak menghancurkan daripada memberi penerangan.

Sesungguhnya dakwah kepada Allah tanpa ilmu, menyelisihi jalan Nabi shallallahu alaih wa sallam dan orang-orang yang mengkutinya. Perhatikanlah firman Allah Taala yang memerintahkan Nabi-Nya shallallahu alaih wa sallam, “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 10) Yakni, bahwa orang yang mengikuti beliau haruslah menyeru kepada Allah di atas ilmu, bukan di atas kejahilan. Dan maksud firman Allah ‘dengan hujjah yang nyata’ adalah berdasarkan ilmu tentang tiga perkara:

 

Pertama: ilmu tentang apa yang akan diserukan

Seorang dai harus berilmu tentang hukum syariat yang ia sampaikan. Sebab, bisa jadi ia menyeru kepada suatu perkara yang disangka wajib, namun ternyata tidak wajib menurut syariat. Dengan demikian, ia mewajibkan perkara yang tidak diwajibkan oleh Allah. Dan mungkin saja ia menyeru untuk meninggalkan sesuatu yang disangka haram namun sesungguhnya tidak haram dalam Islam. Dengan begitu, ia mengharamkan perkara yang dihalalkan oleh Allah.

 

Kedua: ilmu tentang keadaan orang yang didakwahkan

Ketika Nabi shallallahu alaih wa sallam mengutus Muadz ke negeri Yaman, beliau berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau akan datang kepada satu kaum yang merupakan Ahli Kitab.” (HR. al-Bukhari 1390 dan Muslim 19) Hal ini agar Mu’adz tahu keadaan mereka dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Apakah engkau mau mendatangi dan mendakwahi seseorang, sedangkan engkau tidak tahu keadaanya? Bisa jadi, orang itu memiliki ilmu yang batil yang bisa membungkammu di awal seruanmu, walaupun engkau di atas kebenaran. Oleh karena itu, engkau harus mengerti keadaan orang yang akan kau dakwahi. Bagaimana tingkat keilmuannya? Bagaimana kemampuan debat yang ia miliki? Agar engkau dapat bersiap-siap menghadapinya sehingga bisa membantah dan mendebatnya. Apabila engkau masuk dalam perdebatan dengan orang seperti ini, maka engkau akan kalah karena kemampuannya dalam bersilat lidah. Keadaan ini merupakan cela yang besar bagi kebenaran, dan engkau menjadi penyebabnya. Jangan engkau mengira bahwa orang yang memiliki kebatilan akan kalah di setiap keadaan, karena Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian mengadukan kepadaku berbagai permasalahan dan saling berbantahan di hadapanku. Bisa jadi sebagian kalian lebih pandai menyampaikan hujjahnya daripada yang lain. Sehingga aku memutuskan perkara itu untuknya sesuai dengan apa yang aku dengar. Maka barangsiapa yang aku menangkan perkaranya, (padahal itu) dengan menganiaya hak saudaranya, maka janganlah (hak saudaranya itu) ia ambil! Karena sesungguhnya aku memberikan untuknya satu bagian dari neraka.” (HR. al-Bukhari 2680 dan Muslim 1713) Ini menunjukkan bahwa orang yang berada di atas kebatilan, kadang lebih pandai bersilat lidah dengan hujjahnya daripada yang lain. Sehingga dimenangkanlah perkaranya sesuai dengan argumen yang dia sampaikan. Oleh karena itu, seorang dai harus mengerti keadaan orang yang didakwahi.

 

Ketiga: ilmu tentang cara berdakwah

Banyak dai yang tidak mengerti perkara ini. Mereka mungkin memiliki semangat dan ghirah yang sangat kuat untuk menerapkan suatu hukum. Sehingga ia berdakwah kepada Allah tanpa hikmah. Padahal Allah Subhaanahu wa Taala berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125) Akan tetapi dai yang baik ini, yang hatinya Allah penuhi dengan kecemburuan terhadap agamanya, tidak mampu menguasai diri. Sehingga ketika ia mendapatkan suatu kemungkaran, ia langsung menyambarnya sebagaimana burung menyambar daging. Ia tidak memikirkan akibat perbuatannya itu terhadap dirinya sendiri, ataupun terhadap dai yang lain. Sudah dimaklumi bahwa kebenaran memiliki banyak musuh. Allah Taala berfirman, “Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-Furqaan: 31) Setiap dakwah nabi memiliki musuh dari kalangan orang-orang jahat.

Maka dengan demikian, seorang dai wajib mempertimbangkan berbagai hal sebelum ia mengambil suatu langkah. Karena boleh jadi tindakan tergesa-gesa yang ia lakukan justru memadamkan api semangatnya pada saat itu juga.

Jika pembekalan dai dengan ilmu yang benar berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaih wa sallam ini telah ditunjukkan di dalam nas-nas syariat, maka ia juga sesuai dengan akal sehat yang tidak mengandung syubhat ataupun syahwat. Sebab bagaimana seseorang akan berdakwah mengajak orang lain kepada Allah Azza wa Jalla, sedangkan ia sendiri tidak mengerti bagaimana caranya, dan tidak mengerti syariat Allah?

Apabila seseorang tidak memiliki ilmu, maka yang lebih utama baginya adalah belajar terlebih dahulu, baru kemudian berdakwah. Kalau ada yang bertanya, “Bukankah ucapan ini bertentangan dengan sabda Nabi shallallahu alaih wa sallam, ‘Sampaikan dariku walaupun hanya satu ayat?” Jawabnya, tidak. Sebab Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Sampaikan dariku…” Kalau begitu, apa yang kita sampaikan haruslah bersumber dari Rasulullah shallallahu alaih wa sallam. Inilah yang dimaksud. Bukan bahwa orang tersebut harus mencapai kedudukan yang tinggi dalam hal keilmuan. Akan tetapi, janganlah ia mendakwahkan sesuatu kecuali apa yang dia ketahui saja. Janganlah ia berbicara tentang sesuatu yang tidak ia ketahui.

 

(Sumber: ash-Shahwah al-Islamiyyah, Dhawabith wa Tawjihaat, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)

Silahkan Download File Pdf: Download

3 Comments

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,afwan ustazd,,mau pertanya,,”Bagaimana pandangan pak ustazd secara pribadi dan para Alim ‘ulama secara syariat islam,,tentang memberikan sejumlah uang scara rotin/terus menerus bagi anak yg mau belajar dipondok pesantren,,trus mengumandangkan azdan,,contoh,,bagi santri skali berangkat belajar diantar jemput,,kemudian setiap pulang diberikan sejmlah uang,,atau orang sekali mengumandangkan azdan diberikan sjmlah uang,,.
    Selanjutnya bagaimana pula hukum secara syar’i,,apabila ada sebuah pondok pesantren,,yg melakukan pemberitahuan/menerima/memakai dana riba’,,dana haram,,dana subhat,,contoh iklan “” Menerima dana riba’,,dana haram,,dana subhat,,bagi siapa sj yg mau menyalurkan silahkan transfer di norek(pemilik /pengurus pondok),,mohon penjelsan pak ustazd,,,Barakallahufiik

  • Abu tamara says:

    Na’am,,barakallahufiikum,,kira kira jam brp ya pak waktu longgar,,,bisa dihub by phone,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *