Ucapan Yang Paling Baik

June 3, 2016

Sesungguhnya sebaik-baik perkara yang sepantasnya digunakan oleh seorang hamba dalam berzikir mengingat Allah Taala adalah firman-Nya. Firman Allah merupakan ucapan terbaik, terindah, paling benar dan paling bermanfaat. Ia adalah wahyu dari Allah yang tidak mengandung kebatilan sedikitpun. Ia adalah kitab paling utama yang Allah Taala turunkan kepada rasul paling utama, hamba pilihan dan sebaik-baik makhluk-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Taala berfirman menerangkan kemuliaan dan keutamaan Al-Quran al-Karim, “Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” (al-Furqaan: 33)

Ibnu Katsir mengatakan, “Padanya terdapat perhatian yang besar terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena malaikat datang kepada beliau untuk menyampaikan Al-Quran, di pagi atau petang hari, ketika mukim atau safar. Sehingga dalam berbagai kesempatan, datang kepadanya malaikat untuk menyampaikan Al-Quran. Tidak seperti keadaan kitab-kitab sebelum Al-Quran.

Ini adalah kedudukan yang paling mulia, tinggi dan agung daripada segenap para nabi saudara-saudara beliau. Semoga shalawat dan salam Allah atas mereka semua. Maka Al-Quran adalah kitab paling mulia yang Allah turunkan, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi paling agung yang diutus oleh Allah Taala.” (Tafsir Al-Quran al-Azhim 6/118)

Sesungguhnya keutamaan Al-Quran al-Karim, kemuliaan, ketinggian derajat dan kedudukannya adalah perkara yang tidak tersembunyi bagi kaum muslimin. Ia adalah kitab Allah, Rabb alam semesta; ucapan Pencipta seluruh makhluk. Di dalam Al-Quran terdapat berita tentang umat sebelum kita, umat setelah kita, dan hukum yang harus ditegakkan di antara kita.

Al-Quran adalah pemutus perkara, bukan senda gurau. Barangsiapa meninggalkannya karena sombong, niscaya Allah akan membinasakannya. Barangsiapa mencari petunjuk dari selainnya, niscaya Allah akan menyesatkannya. Al-Quran adalah tali Allah yang kuat, zikir yang penuh hikmah, dan jalan yang lurus. Al-Quran tidak akan menyimpangkan jiwa, tidak akan mengaburkan ucapan, dan para ulama tidak akan pernah berhenti mengkajinya.

Al-Quran tidak akan usang dengan banyaknya bantahan, dan tidak akan habis keajaibannya. Barangsiapa berkata dengan dasar Al-Quran, ia telah benar. Barangsiapa mengamalkan Al-Quran, akan diberi pahala. Barangsiapa menetapkan hukum dengannya, ia telah berlaku adil. Dan barangsiapa menyeru orang lain kepada Al-Quran, ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Kemuliaan dan keutamaan Al-Quran sesuai dengan keutamaan dan kemuliaan Dzat yang menurunkannya. Ia adalah Kalam Allah, dan sifat-Nya. Sebagaimana tidak ada yang serupa dengan Allah dalam nama dan sifat-Nya, tidak ada pula yang serupa dengan-Nya dalam ucapan-Nya. Maka Allah Taala memiliki sifat kesempurnaan yang mutlak dalam zat, nama dan sifat-Nya.

Tidak ada sesuatupun dari makhluk-Nya yang serupa dengan Allah, dan Dia tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya. Maha Tinggi dan Maha Suci Allah dari keserupaan dan kemiripan. Allah Taala berfirman, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat” (asy-Syura: 11)

Perbedaan ucapan Allah dengan ucapan makhluk seperti perbedaan Sang Pencipta dengan yang diciptakan.

Abu Abdurrahman as-Sulami mengatakan, “Keutamaan Al-Quran atas seluruh perkataan seperti keutamaan Allah atas seluruh makhluk-Nya.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam al-Asmaa wa ash-Shifaat 1/504)

Ucapan ini ada yang meriwayatkannya secara marfu’ sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,  akan tetapi yang demikian tidak shahih sebagaimana diterangkan oleh Imam al-Bukhari dalam Kitab-nya Khalq Af’aal al-‘Ibaad. Adapun maknanya adalah benar tanpa ada keraguan padanya dalam kebaikan, kelurusan dan keindahan kandungannya.

Para ulama menguatkan keshahihan makna ucapan ini dengan beberapa nas. Bahkan Imam al-Bukhari menjadikannya sebagai judul salah satu tema dalam bab-bab keutamaan Al-Quran dalam kitabnya. Beliau menuliskan pada bab ketujuh belas, Bab Keutamaan Al-Quran atas Seluruh Ucapan. Beliau membawakan dalam bab ini dua hadits yang mulia:

– Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Permisalan orang yang membaca Al-Quran, seperti buah utrujjah, rasanya manis dan baunya harum. Sedangkan yang tidak membaca Al-Quran seperti buah kurma, rasanya manis namun tidak ada baunya. Dan permisalan orang jahat yang membaca Al-Quran seperti raihanah, baunya harum namun rasanya pahit. Sedangkan permisalan orang jahat yang tidak membaca Al-Quran seperti hanzhalah, rasanya pahit dan tidak ada baunya.” (HR. al-Bukhari 5020 Muslim 797)

Ibnu Katsir mengatakan, “Ini adalah penjelasan ringkas yang mengandung pelajaran berharga untuk Kitab Fadhail Al-Quran dalam Shahih al-Bukhari. Sisi kesesuaian bab ini dengan hadits di atas adalah bahwa ada tidaknya aroma wangi itu bergantung pada dibaca atau tidaknya Al-Quran. Hal ini menunjukkan kemuliaan Al-Quran dari perkataan lainnya yang keluar dari orang baik maupun orang jahat.” (Fadhail Al-Quran Hal. 101)

– Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kemuliaan kalian dibanding dengan kemuliaan umat yang terdahulu adalah seperti waktu shalat Ashar dan terbenamnya matahari. Permisalan kalian dengan Yahudi dan Nasrani adalah seperti seseorang yang mempekerjakan seorang tukang.

Ia berkata, “Siapa yang mau bekerja untukku sampai tengah hari dengan bayaran satu qirath?” maka Yahudi mau melakukannya. Kemudian orang itu berkata lagi, “Siapa yang mau bekerja untukku dari tengah hari sampai waktu Ashar?” maka Nasrani mau melakukannya. Kemudian kalian bekerja dari Ashar sampai Maghrib dengan bayaran dua qirath.

Maka mereka berkata, “Kami bekerja banyak tapi dengan bayaran yang sedikit.” Ia menjawab, “Apakah aku telah berbuat zalim berkenaan dengan hak kalian?” Mereka berkata, “Tidak.” Ia berkata, “Demikianlah keutamaan dariku, aku memberikannya kepada siapa yang aku inginkan.” (HR. al-Bukhari 5021)

Ibnu Katsir mengatakan, “Sisi kesesuaian hadits ini dengan tema pembahasan ialah bahwa umat ini, dengan waktu yang pendek, lebih utama daripada umat sebelumnya dengan waktu yang panjang. Sebagaimana Allah firmankan, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (Ali Imraan: 110)

Dalam al-Musnad dan kitab-kitab Sunan disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalian memenuhi tujuh puluh umat. Kalian adalah yang paling baik dan paling mulia di sisi Allah.” (al-Musnad 5/3, at-Sunan Tirmidzi 3001)

Sesungguhnya kaum muslimin bisa beruntung seperti itu dengan sebab keberkahan Al-Quran yang telah Allah muliakan dari kitab lain yang diturunkan. Allah menjadikan Al-Quran sebagai pengoreksi, penghapus dan penutup kitab-kitab tersebut. Sebab kitab-kitab terdahulu diturunkan ke bumi dalam satu waktu sekaligus, sedangkan Al-Quran turun secara bertahap sesuai dengan keadaan yang ada. Sehingga setiap kali turun ayat/surat dalam Al-Quran, ia seperti turunnya satu kitab dari kitab-kitab sebelumnya.

Umat terdahulu yang paling mulia adalah Yahudi dan Nasrani. Umat Yahudi Allah hadirkan sejak zaman Nabi Musa sampai Nabi Isa alaihima salaam. Umat Nasrani Allah hadirkan dari zaman Nabi Isa sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian Umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Allah hadirkan sampai hari kiamat. Maka seakan-akan, ia serupa dengan akhir hari. Allah memberikan dua umat terdahulu masing-masing satu qirath, sedangkan umat ini dua qirath. Dua kali lipat daripada yang diberikan kepada mereka.

Maka mereka berkata, “Wahai Rabb kami, mengapa kami beramal banyak namun diberi sedikit pahala?” Allah menjawab, “Apakah Aku telah berbuat zalim berkenaan dengan pahala kalian?” Mereka menjawab, “Tidak.” Maka Allah berkata, “Demikianlah keutamaan-Ku.”

Sebagaimana Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kami terangkan yang demikian itu supaya ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (al-Hadid: 28-29) (Fadhail Al-Quran Hal. 102-103)

Kita memohon kepada Allah agar Dia menumbuhkan di hati kita kecintaan, pengagungan dan pemulian terhadap Al-Quran, serta memberi kita taufiq untuk mengamalkannya.

 

Sumber: Fiqh al-Ad’iyah wa Al-Adzkaar, DR. Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Badr

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *