Tuntunan Beristinja

April 10, 2015

Arti dan hukum istinja

Secara istilah, istinja berarti membersihkan kotoran yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur) dengan air, batu, daun atau yang sejenisnya.

Istinja disebut juga dengan istijmar apabila menggunakan jimar (batu kecil). Dan dinamakan istithabah, karena menghilangkan bau tak sedap dan kotoran dari tubuh.

Hukum istinja dari segala sesuatu yang keluar dari dubur dan kemaluan, seperti air seni, madzi, atau tinja adalah wajib menurut sebagian besar ulama, kecuali Abu Hanifah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaih wa sallam, “Jika salah seorang dari kalian mendatangi tempat buang hajat, hendaknya ia beristinja dengan tiga buah batu. Sungguh hal itu sudah cukup baginya.” (HR. Abu Dawud 121)

Hadits di atas berisi perintah. Dan hukum asal suatu perintah menunjukkan perkara yang wajib. Lafaz ijzaa` (mencukupi) dalam ucapan beliau ‘itu sudah cukup baginya’ hanya digunakan untuk sesuatu yang wajib. Beliau bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian beristinja dengan kurang dari tiga buah batu.” (HR. Muslim 262) Larangan menggunakan kurang dari tiga buah batu menunjukkan keharaman. Jika meninggalkan sebagian dari najis itu diharamkan, maka meninggalkan seluruh najis tentu lebih diharamkan lagi.

 

Dengan apakah istinja dilakukan?

Istinja dilakukan dengan dua benda:

1. Dengan batu atau benda padat lainnya yang bisa menghilangkan najis, dan bukan benda yang dimuliakan. Seperti daun, kartas, atau kayu.

Dasarnya adalah hadits Aisyah radhiyallahu anha, Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kamu mendatangi tempat buang hajat, maka hendaklah ia beristinja’ dengan tiga buah batu. Sesungguhnya itu sudah cukup baginya.” (HR. Abu Dawud 40)

Tidak boleh beristijmar dengan kurang dari tiga buah batu, menurut pendapat yang lebih kuat. Salah satu dasarnya adalah hadits Salman radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaih wa sallam melarang kami menghadap kiblat ketika buang air besar atau buang air kecil, beristinja dengan tangan kanan, beristinja dengan kurang dari tiga buah batu, dan beristinja dengan kotoran hewan yang kering atau tulang.” (HR. Muslim 262)

2. Dengan air

Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaih wa sallam memasuki tempat buang air, lalu aku dan seorang anak kecil lainnya membawakan segayung air dan tongkat kecil. Lalu beliau beristinja dengan air.” (HR. al-Bukhari 151)

Beristinja dengan air lebih baik daripada beristijmar dengan batu. Allah Taala telah memuji penduduk Quba karena beristinja dengan air. Allah Taala berfirman, “Di dalam masjid itu ada orang-orang yang membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (at-Taubah: 108)

At-Tirmidzi berkata, “Inilah yang berlaku di kalangan ahli ilmu. Mereka memilih beristinja dengan air. Adapun beritinja dengan batu, menurut mereka sudah mencukupi. Namun mereka menyukai beristinja dengan air, dan memandangnya lebih utama. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh ats-Tsauri, Ibnu al-Mubarak, asy-Syafi’i, Ahmad dan Ishaq.”

 

Tidak Perlu Istinja Karena Buang Angin, dan Tidak Harus Beristinja Sebelum Wudhu

Seseorang tidak perlu istinja karena buang angin atau bangun tidur. Ibnu Qudamah berkata, “Kami tidak mengetahui ada perbedaan pendapat pada masalah ini. Abu Abdillah (Ahmad) berpendapat, tidak ada kewajiban istinja karena buang angin dalam Al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya. Yang wajib baginya adalah berwudhu.

Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam tentang firman Allah Taala, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki..” (al-Maaidah: 6)

Maksudnya, jika kamu bangun tidur dan hendak mengerjakan shalat.. Yang diperintahkan dalam ayat ini hanya berwudhu. Ini menunjukkan bahwa istinja setelah bangun tidur tidak wajib. Karena kewajiban seperti ini harus berasal dari syariat, sementara tidak ada nas yang menunjukkannya baik secara eksplisit maupun secara implisit. Juga karena istinja disyariatkan untuk menghilangkan najis, sedangkan dalam kasus ini tidak ada najis.” (al-Mughni 1/206)

Istinja juga tidak wajib digabungkan dengan wudhu. Ia tidak disunnahkan dan tidak juga dianjurkan, sebagaimana yang dipahami oleh banyak orang. Bahkan istinja adalah ibadah terpisah untuk membersihkan tempat yang terkena najis. Tidak ada seorang pun yang menukilkan bahwa Rasulullah shallallahu alaih wa sallam beristinja setiap kali berwudhu, atau memerintahkannya.

 

Adab beristinja

1. Tidak beristinja dengan tangan kanan.

Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Janganlah seorang dari kalian memegang kemaluannya dengan tangan kanan ketika buang air kecil, jangan pula ia beristinja dengan tangan kanan, dan jangan bernafas di dalam bejana.” (HR. al-Bukhari 153)

Diriwayatkan pula dari Salman, dia berkata, “Ada seorang bertanya kepadaku, “Apakah sahabat kalian (Rasulullah shallallahu alaih wa sallam) mengajarkan kepada kalian hingga masalah buang air?” Aku menjawab, “Ya, beliau melarang kami menghadap kiblat ketika buang air besar atau baung air kecil. Beliau juga melarang kami untuk beristinja dengan tangan kanan, atau dengan kurang dari tiga buah batu.” (HR. Muslim 262)

2. Tidak menyentuh kemaluan dengan tangan kanan

3. Mengusapkan tangan ke tanah –setelah istinja- atau mencucinya dengan sabun dan yang semisalnya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata, “Apabila Nabi shallallahu alaih wa sallam mendatangi tempat buang hajat, aku mengikutinya dengan membawa seember air. Lalu beliau beristinja dan mengusapkan tangannya ke tanah.” (HR. Ibnu Majah 678) Hadits ini dikuatkan dengan hadits Maimunah, “Kemudian Nabi menuangkan air pada kemaluan dan mencucinya dengan tangan kirinya. Lalu beliau memukulkan tangan kirinya ke tanah lalu mencucinya.” (HR. al-Bukhari 266)

4. Memercikan air pada kemaluan dan celana untuk menghilangkan was-was

Dasarnya adalah hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu alaih wa sallam berwudhu lalu memercikkan air pada kemaluannya.” (HR. ad-Darimi 711)

 

Adab Buang Hajat

Seseorang yang ingin buang hajat (buang air besar atau kecil) harus memperhatikan adab-adab berikut:

1. Menutup diri dan menjauh dari orang lain, apalagi ketika di tanah lapang

Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu anhu, ia berkata, “Kami pernah bepergian dengan Rasulullah shallallahu alaih wa sallam, dan beliau tidak buang hajat kecuali pergi menjauh hingga tak terlihat orang.” (HR. Abu Dawud 2)

2. Tidak membawa sesuatu yang mengandung nama Allah

Seperti cincin yang tertulis padanya nama Allah dan semisalnya. Karena memuliakan nama Allah termasuk perkara yang telah dimaklumi secara umum dalam agama Islam. Allah Taala berfirman, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (al-Hajj: 32) Dan diriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah shallallahu alaih wa sallam jika masuk ke tempat buang hajat, beliau meletakkan cincinnya. Namun hadits ini adalah hadits munkar. Dan telah diketahui dalam riwayat al-Bukhari, bahwa pada cincin Nabi shallallahu alaih wa sallam terdapat ukiran ‘Muhammad Rasululllah’.

Jika cincin atau yang semisalnya ditutupi dengan sesuatu, diletakkan di saku misalnya, maka boleh masuk tempat buang hajat dengan membawanya. Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Jika ia mau, ia bisa menggenggam cincin itu.” Dan jika dikhawatirkan cincin itu akan hilang apabila ditinggalkan di luar tempat buang hajat, maka ia boleh di bawa ke dalam karena alasan darurat.

3. Membaca ‘bismillah’ dan meminta perlindungan kepada Allah ketika masuk tempat buang hajat

Hal ini dilakukan jika tempat buang hajatnya adalah bangunan yang tertutup. Jika buang hajat dilakukan di tempat terbuka, maka ucapan tersebut diucapkan ketika menyingkapkan pakaian. Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Penutup antara jin dan aurat manusia ketika seseorang masuk tempat buang hajat adalah ucapan ‘bismillah’.” (HR. at-Tirmidzi) Dan diriwayatkan dari Anas radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu alaih wa sallam biasanya jika masuk tempat buang hajat mengucapkan, “Allahumma inni a’uudzu bika minal khubutsi wal khabaits.” (HR. al-Bukhari 142)

4. Mendahulukan kaki kanan ketika masuk, dan kaki kiri ketika keluar

Asy-Syaukani mengatakan, “Adapun mendahulukan kaki kanan ketika masuk, dan kaki kiri ketika keluar, maka ia mengandung sisi pandangan yang dapat diterima, karena berarti ia mendahulukan bagian kanan dalam perkara yang mulia dan bagian kiri dalam perkara yang tidak mulia. Memang ada dalil yang menunjukkan hal ini secara umum.” (Sailul Jarrar 1/64)

5. Tidak berbicara ketika buang hajat kecuali ada keperluan

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu “Sesungguhnya ada seseorang melewati Rasulullah shallallahu alaih wa sallam ketika beliau sedang buang air kecil. Orang itupun mengucap salam, namun beliau tidak menjawabnya.” (HR. Muslim 370) Membalas salam adalah wajib. Sehingga ketika Nabi shallallahu alaih wa sallam tidak melakukannya, berarti ia menunjukkan haramnya berbicara ketika sedang buang hajat. Apalagi jika di dalam pembicaraan itu terdapat ucapan-ucapan yang mengandung zikrullah. Namun dibolehkan berbicara apabila ada keperluan yang harus dilakukan karena darurat.

6. Tidak buang hajat di jalan, atau di tempat orang berteduh, dan semisalnya

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata, “Sesungguhnya Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Jauhilah dua perkara yang dikutuk oleh orang!” Para sahabat bertanya, “Apakah itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu buang hajat di jalan atau di tempat orang berteduh.” (HR. Muslim 68)

7. Tidak buang hajat di kolam tempat mandi

Lebih khusus lagi jika air berkumpul di tempat itu. “Sungguh Nabi shallallahu alaih wa sallam melarang seorang kencing di kolam tempat ia mandi.” (HR. an-Nasai 1/130)

8. Tidak buang hajat di air yang menggenang

Hal ini berdasarkan hadits Jabir, bahwa Nabi shallallahu alaih wa sallam melarang orang kencing di air yang menggenang.” (HR. Muslim 281)

 

(Sumber: Shahih Fiqh as-Sunnah wa Adillatuh wa Tawdiihu Madzahib al-Aimmah, Abu Malik Kamal)

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *