Tenteram dengan Berzikir

July 31, 2015

Urgensi dan manfaat zikir merupakan suatu perkara yang disadari oleh setiap muslim. Zikir termasuk amalan paling bermanfaat yang akan mendekatkan diri seorang hamba kepada Allah Taala. Sesungguhnya Allah telah memberikan perintah untuk berzikir pada sekian banyak tempat di dalam Al-Quranul Karim. Dia juga memberikan pujian yang sangat tinggi kepada orang orang-orang yang berzikir.

Allah Taala berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (Al-Ahzaab: 41) “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu , atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu.” (Al-Baqarah: 200)

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imraan: 191) “…laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzaab: 35)

Pada ayat-ayat di atas, Allah Taala memerintahkan manusia untuk banyak berzikir. Hal itu karena setiap hamba sangat membutuhkan zikir, dan ia tidak bisa merasa cukup darinya walau hanya sesaat. Jika ada satu momen ketika seorang hamba tidak berzikir kepada Allah, maka momen itu kelak akan menjadi beban yang memberatkan dirinya. Kerugian dari momen itu akan tampak lebih besar daripada keuntungannya. Dan pada saat berjumpa dengan Allah nanti, hamba tersebut akan sangat menyesalinya.

Terdapat riwayat shahih dari Nabi shallallahu alaih wa sallam, sebagaimana dalam Kitab Syu’abul Iman karya Imam Al-Baihaqi, dan Al-Hilyah karya Abu Nu’aim, dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata, “Tidak ada satu saat pun yang dilewati seorang manusia tanpa berzikir (mengingat Allah Taala) kecuali ia akan merasa rugi dengan kelalaiannya pada saat itu di hari kiamat.” (Syuabul Iman No. 508, dan Al-Hilyah 5/362)

Di dalam as-Sunnah juga terdapat sekian banyak hadits yang menunjukkan keutamaan zikir, ketinggian derajat dan kedudukannya, serta manfaatnya yang banyak.

Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Maukah kalian aku beritahukan amal yang lebih baik untuk kalian, lebih suci di sisi Rabb kalian, lebih meninggikan bagi derajat kalian; ia lebih baik daripada menginfakkan emas dan perak, dan lebih baik daripada pertemuan kalian dengan musuh yang kemudian kalian saling bertempur dalam peperangan tersebut?” Mereka menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Maka beliau bersabda, “Dzikrullah.(HR. at-Tirmidzi 3377)

Beliau juga bersabda, “Al-mufarridun telah jauh berada di depan.” Para sahabat bertanya, “Siapakah al-mufarridun itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka adalah para lelaki dan wanita yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim 2672) Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaih wa sallam, beliau bersabda, “Permisalan orang yang berzikir/mengingat Rabbnya dengan yang tidak berzikir, adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.(HR. al-Bukhari 6407) Masih ada sekian banyak hadits lainnya dalam bab ini.

Dalam kesempatan ini, akan dikemukakan ringkasan beberapa faidah zikir. Di antara ulama yang sangat baik membahas masalah ini adalah Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitab al-Wabil ash-Shoyyib Min al-Kalaam ath-Thoyyib. Di dalam kitab tersebut beliau berkata, “Dan dalam zikir terdapat seratus lebih faidah..” Kemudian beliau menyebutkan satu-persatu faidah berzikir, sampai mencapai lebih dari tujuh puluh faidah. Satu saja dari sekian banyak faidah itu sebenarnya sudah cukup untuk membangkitkan semangat untuk banyak berzikir mengingat Allah. Faidah dan manfaat zikir bahkan lebih agung dari yang bisa dijelaskan, dan lebih banyak dari yang pernah dihitung oleh siapapun. “Tak seorangpun mengetahui berbagai ni’mat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (As-Sajdah: 17)


Faidah Zikir

Di antara faidah zikir, ia akan mengusir, mengekang dan mengalahkan setan. Allah Taala berfirman yang artinya, “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (az-Zukhruf: 36) “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (al-A’raaf: 201)

Dalam Musnad Imam Ahmad, Sunan at-Tirmidzi, Mustadrak al-Hakim dan selainnya, dengan sanad yang shahih, dari hadits al-Harits al-Asy’ari, dari Nabi shallallahu alaih wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan Yahya bin Zakariya dengan lima perkara untuk ia amalkan, dan agar ia memerintahkan Bani Israil untuk mengamalkannya juga. Namun beliau menunda dalam hal itu, sehingga Isa alaihis salam berkata kepadanya, “Sesungguhnya Allah memerintahkanmu dengan empat perkara untuk kau amalkan, dan agar engkau memerintahkan Bani Israil untuk mengamalkannya juga. Maka hendaklah engkau perintahkan kepada mereka, atau aku yang akan melakukannya.” Yahya pun berkata, “Aku khawatir jika engkau mendahuluiku menyampaikannya, aku akan ditelan bumi, atau disiksa.” Maka beliau mengumpulkan orang-orang di Baitul Maqdis. Baitul Maqdis pun penuh dengan manusia. Mereka duduk di atas permadani. Yahya pun berkata, “Sesungguhnya Allah memerintahkan lima perkara kepadaku untuk aku amalkan, dan agar aku memerintahkan kalian untuk mengamalkannya juga..”

Disebutkan dalam riwayat itu, bahwa beliau memerintahkan mereka untuk bertauhid, shalat, puasa dan sedekah. Lalu beliau menyebutkan perkara yang kelima, “Dan aku perintahkan kepada kalian untuk berzikir kepada Allah. Sebab perumpamaan yang demikian adalah seperti seseorang yang dikejar musuh dengan cepat, sampai ia tiba di benteng yang kokoh, kemudian berlindung di dalamnya dari kejaran mereka. Maka demikian pula keadaan seorang hamba. Ia tidak bisa melindungi dirinya dari setan kecuali dengan zikir kepada Allah Taala ..” (al-Musnad 4/202, Sunan at-Tirmidzi 2863, al-Mustadrak 1/117, 118, 124)

Ibnul Qoyyim menyebut hadits di atas sebagai hadits yang mengandung perkara besar, sehingga sudah sepantasnya dihafal dan dipahami isinya oleh setiap muslim.

Hadits tersebut berisi penjelasan tentang keutamaan zikir. Diterangkan bahwa zikir akan mengusir setan dan menyelamatkan seseorang darinya. Ia seperti benteng yang kokoh dan pelindung yang kuat, yang hanya dengannya seseorang dapat terhindar dari bahaya musuh. Tentu ini merupakan keutamaan yang sangat agung. Oleh karena itu, Ibnul Qoyyim mengatakan, “Seandainya tidak ada lagi keutamaan zikir kecuali hanya satu ini saja, maka sudah seharusnya lisan seorang hamba tidak putus dari berzikir kepada Allah Taala.

Sebab ia tidak bisa menjaga diri dari bahaya setan kecuali dengan zikir. Dan setan tidak bisa masuk kepadanya kecuali dari pintu kelalaian. Setan akan selalu mengintai dirinya. Tatkala ia lalai, setan akan dengan segera melompat dan menerkamnya. Apabila hamba itu kemudian berzikir kepada Allah Taala, setan pun akan menjadi lemah, mengecil dan terkekang sampai menjadi seperti lalat. Oleh karena itu, waswas hati disebut khannas, yaitu yang banyak membisik-bisikan di dalam dada. Namun jika orang yang bersangkutan berzikir kepada Allah Taala, bisikan itu menjadi lemah dan mengecil.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhu mengatakan, “Setan itu mendekam di hati anak manusia. Jika ia lalai dan lupa, setan membisik-bisikkan hatinya. Namun jika ia berzikir kepada Allah Taala, setan pun menjadi lemah.”

Faidah lain dari zikir adalah bahwa zikir membawa rasa lapang, bahagia dan senang di hati orang yang gemar berzikir. Allah Taala berfirman yang artinya, “ (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (ar-Ra’du: 28) Makna “membuat hati tentram” adalah bahwa zikir menyingkirkan kegelisahan dan kegalauan dari hati. Kemudian memberinya ketentraman, kebahagiaan dan rasa lapang. Dan sungguh, hati tidak akan menjadi tenang dengan apapun kecuali dengan mengingat Allah Taala.

Bahkan zikir merupakan kehidupan hati yang sesungguhnya. Ia adalah makanan utama hati dan ruh. Apabila ia hilang dari hati seseorang, keadaan orang tersebut seperti tubuh yang tidak mendapatkan makanan pokoknya. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Kedudukan zikir bagi hati adalah seperti air untuk ikan. Maka bagaimana jadinya keadaan ikan jika ia berpisah dengan air.”

Seorang yang berzikir mengingat Allah, akan mendapatkan balasan berupa ingatnya Allah akan dirinya. Allah berfirman yang artinya, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (al-Baqarah: 152)

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaih wa sallam mengatakan dari apa yang beliau riwayatkan dari Rabbnya Ta’ala, “Barangsiapa berzikir mengingat-Ku seorang diri, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Dan barangsiapa menyebut-Ku dalam satu perkumpulan, Aku akan menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih baik dari mereka.” (HR. al-Bukhari 7405 dan Muslim 2675)

 

(Sumber: Fiqh al-Ad’iyah wa al-Adzkaar, Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr)

 

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *