Sesungguhnya Tauhid merupakan perkara paling awal dan paling akhir, juga sisi lahir dan sisi batin dari agama Islam. Ia adalah kandungan awal dan akhir dari dakwah para rasul, serta makna kalimat ‘laa ilaaha illallah’. Karena tauhid inilah jin dan manusia diciptakan, para rasul diutus, dan kitab-kitab diturunkan. Dikarenakan tauhid ini, manusia dibedakan menjadi mukmin dan kafir; menjadi golongan yang berbahagia sebagai ahli surga, dan golongan yang celaka sebagai ahli neraka. Ia adalah kewajiban paling pertama seorang mukallaf, dan merupakan hakikat agama Islam.

Tauhid memiliki keistimewaan dan keutamaan yang cukup banyak. Keistimewaan dan keutamaan itu menunjukkan kedudukannya yang mulia dan posisinya yang tinggi. Di antaranya adalah:

  1. Tauhid adalah tujuan penciptaan manusia.

Allah Taala berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzaariyat: 56) Maksud ‘beribadah kepada-Ku’ adalah ‘mentauhidkan-Ku’. Dengan demikian, Tauhid adalah tujuan keberadaan kita dalam kehidupan ini. Allah Subhaanahu wa Taala tidaklah menciptakan kita dengan sia-sia untuk dibiarkan begitu saja. Allah menciptakan seluruh makhluk agar mereka beribadah hanya kepada-Nya, mentauhidkan-Nya. Ini sudah cukup menunjukkan betapa besar dan agungnya perkara tauhid.

  1. Tauhid adalah poros dakwah para nabi dan rasul.

Dakwah setiap nabi yang diutus Allah Azza wa Jalla terpusat pada tauhid. Dalil-dalil tentang hal ini banyak sekali, di antaranya:

  • Firman Allah Taala, “Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada sembahan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. al-Anbiyaa: 25)
  • Firman Allah Taala, “Tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu, “Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?” ( az-Zukhruf 45)
  • Firman Allah Taala, “Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaaf dan sesungguhnya telah terdahulu peringatan-peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah.” ( al-Ahqaaf: 21) Yang dimaksud dengan ‘peringatan-peringatan’ pada ayat ini adalah para rasul. Para rasul yang datang baik sebelum ataupun sesudah Nabi Hud memiliki kesamaan dakwah: ‘Janganlah kamu menyembah selain Allah’. Maka Tauhid adalah intisari dakwah para nabi dan rasul. Oleh karena itu, kalimat pertama yang disampaikan oleh para nabi itu adalah tauhid. Ia adalah pondasi dasar agama. Ibarat pohon dengan akarnya. Pohon tidak akan tegak kecuali dengan akarnya. Demikian pula agama Islam tidak akan tegak kecuali dengan dasar tauhid. Allah berfirman, “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (QS. Ibrahim: 24) Sebagaimana pohon akan mati jika akarnya dipotong, demikian pula agama Islam tidak akan bermanfaat bagi seseorang jika tidak dibangun di atas tauhid. Dan termasuk dalil yang menunjukkan tauhid sebagai inti dakwah para nabi dan rasul adalah sabda Nabi shallallahu alaih wa sallam, “Para nabi adalah saudara. Syariat mereka berbeda-beda namun agama mereka satu.” (HR. Muslim 2365) Maksudnya, aqidah mereka satu. Semuanya menyeru untuk mentauhidkan Allah, walaupun syariat mereka berbeda-beda. Allah Taala berfirman, “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS. al-Maaidah: 48)
  1. Tauhid adalah kewajiban paling pertama seorang mukallaf.

Seorang yang masuk Islam, kewajiban pertamanya adalah tauhid. Tauhid menjadi perkara pertama yang disampaikan dalam berdakwah menuju Allah. Hal ini ditunjukkan oleh sekian banyak dalil, di antaranya:

  • Sabda Nabi shallallahu alaih wa sallam, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mempersaksikan bahwa ‘tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah’” ( al-Bukhari 1399 dan Muslim 21)
  • Sabda Nabi shallallahu alaih wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu ketika mengutusnya ke negeri Yaman. Beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari kalangan ahli kitab, maka jadikanlah perkara pertama yang kalian serukan adalah beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla.” ( al-Bukhari 1458 dan Muslim 19) Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Maka jadikanlah perkara pertama yang kalian serukan adalah agar mereka mentauhidkan Allah Taala.” (HR. al-Bukhari 7372)

Maka tauhid adalah kewajiban paling pertama yang harus ditunaikan. Dengan Tauhidlah, dakwah Islam harus dimulai. Ia merupakan hal pertama yang menyebabkan seseorang masuk Islam.

  1. Tauhid adalah sebab ketenteraman dan hidayah di dunia dan akhirat.

Ketenteraman ada di tangan Allah. Dia tidak memberikannya selain kepada orang-orang yang mentauhidkan dan memurnikan agama hanya untuk-Nya semata. Allah Taala berfirman, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. al-An’aam: 82) Ketika ayat ini turun, para sahabat merasa kesulitan sehingga mereka mendatangi Nabi shallallahu alaih wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, siapa di antara kita yang tidak menzalimi dirinya sendiri?” Maksudnya, semua orang pasti telah menzalimi dirinya sendiri. Sedangkan Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. al-An’aam 82) Maksud para sahabat, jika demikian keadaannya, berarti kami tidak akan mendapat bagian keamanan dan hidayah, karena kami semua pasti telah menzalimi diri sendiri. Maka Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Tidak demikian, (tidaklah demikian makna ‘kezaliman’ pada ayat tersebut). Apakah kalian tidak pernah membaca ucapan hamba yang shalih, Luqman al-Hakim, “Sesungguhnya kesyirikan adalah kezaliman yang paling besar.” (QS. Luqman 13) Nabi shallallahu alaih wa sallam menjelaskan bahwa makna ‘kezaliman’ pada ayat ini adalah kesyirikan. Dengan demikian, siapa yang beriman dan tidak berbuat kesyirikan, akan mendapat keamanan dan hidayah di dunia dan akhirat.

  1. Di dalam tauhid terdapat keselamatan dari kerancuan dan kontradiksi.

Berbeda dengan akidah-akidah lain yang penuh karancuan dan kontradiksi. Allah Taala berfirman, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. an-Nisaa: 82) Semua akidah yang dibuat oleh manusia mengandung kerancuan dan kontradiksi yang sangat banyak. Adapun keimanan yang benar, keyakinan yang selamat, dan tauhid yang kokoh berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, ia selamat dari itu semua.

  1. Tauhid sesuai dengan fitrah dan akal sehat.

Tauhid adalah agama fitrah. Allah Taala berfirman, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. ar-Ruum: 30) Sedangkan syirik telah menyimpang dari fitrah. Nabi shallallahu alaih wa sallam juga bersabda, “Tidak ada seorang bayi pun kecuali dilahirkan di atas fitrah, namun kemudian kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi dan Nasrani.” (HR. al-Bukhari: 2599) Demikianlah, setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Jika kemudian ia menjadi Nasrani, Majusi atau terjatuh pada penyimpangan, kesesatan dan kebatilan, maka hal tersebut terjadi dengan sebab kedua orang tua atau lingkungan tempat dia dibesarkan.

  1. Tauhid adalah ikatan sesungguhnya yang tidak akan terputus di dunia dan akhirat.

Tidak ada ikatan hubungan antar manusia yang semisal ikatan tauhid. Sebab ikatan yang ada di antara orang-orang yang bertauhid itu langgeng di dunia dan akhirat. Allah Taala berfirman, “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. az-Zukhruf 67) Dalam ayat yang lain, Allah berfirman, “ (Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” (QS. al-Baqarah: 166) Maka setiap ikatan cinta dan hubungan antar manusia akan terputus, kecuali ikatan cinta dan hubungan yang dilandasi dengan tauhid dan iman kepada Allah Azza wa Jalla. Segala sesuatu yang diperuntukkan bagi Allah akan langgeng dan abadi. Sedangkan yang diperuntukkan bagi selain-Nya akan terputus dan sirna. Sekuat dan sedalam apapun ikatan dan hubungan itu, ia pasti berakhir, di dunia atau pun di akhirat, kecuali ikatan yang dibangun di atas tauhid dan keimanan yang benar kepada Allah.

  1. Tauhid diambil dari mata air yang jernih. Ia didasarkan pada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaih wa sallam.
  2. Tauhid adalah kekokohan dan jaminan pemeliharaan. Allah Taala menanggung penjagaan tauhid dan keberlangsungan agama Islam. Allah Taala berfirman, “Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS. at-Taubah: 33) “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.(QS. al-Hajj: 38) “Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS. ar-Ruum: 47) “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim, dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)
  3. Tauhid mengandung banyak faidah dan keutamaan di dunia dan akhirat.

 

(Sumber: Min Ma’alim at-Tauhid, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr)

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *