Tauhid adalah mengesakan Allah Azza wa Jalla terkait dengan hak dan sifat yang hanya dimiliki oleh-Nya. Sedangkan syirik adalah menyamakan makhluk dengan Allah dalam hal hak dan sifat yang hanya khusus milik Allah Taala. Inilah hakikat tauhid. Yaitu mengesakan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain.

Allah Taala berfirman, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS. an-Nisaa: 36) “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia.” (QS. al-Israa: 23) “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. al-Baiyyinah: 5) Dan masih banyak lagi ayat yang semakna.

 

Jenis-jenis Tauhid

Tauhid ada tiga macam: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Asma wa Shifat dan Tauhid Uluhiyyah. Rububiyyah adalah sifat mampu melakukan apa yang dikehendaki terhadap alam semesta berupa mencipta, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan dan mengatur. Ini adalah sifat khusus bagi Allah Taala. Dengan demikian, Tauhid Rububiyyah bermakna meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta, memberi rezeki, menguasai, memberi nikmat dan mengatur alam raya. Tidak ada makhluk yang memiliki satupun dari sifat-sifat itu.

Allah Taala berfirman, “Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (QS. ar-Ra’d: 16) “Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” (QS. al-Mukminuun: 84-88)

Nama-nama Allah yang baik, sifat-sifat-Nya yang mulia, kehendak-Nya yang tak terhalangi, kemampuan-Nya yang mencakup segala sesuatu, ilmu-Nya yang luas, dan segala kesempurnaan nama dan sifat-Nya juga termasuk sifat-sifat yang hanya khusus dimiliki oleh Allah Taala. Oleh karena itu, seorang hamba harus mengesakan Allah dalam sifat-sifat tersebut. Inilah yang disebut dengan Tauhid Asma wa Shifaat. Yaitu, mengesakan Allah terkait dengan nama-nama-Nya yang indah, dan sifat-sifat-Nya yang mulia, sebagaimana yang tertera di dalam Al-Quran dan as-Sunnah.

Allah Taala berfirman, “Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik)..” (QS. Thaaha: 8) “Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik).” (QS. al-Israa: 110)

“Dialah Allah Yang tiada sembahan yang benar selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Hasyr: 22-24)

Hak Allah yang harus ditunaikan oleh seorang hamba adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sembahan. Tidak boleh ada penyembahan sedikitpun yang ditujukan kepada selain Allah. Nabi shallallahu alaih wa sallam pernah berkata kepada Mu’adz radhiyallahu anhu, “Wahai Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah yang harus ditunaikan oleh hamba-Nya? Dan apa hak hamba yang akan diberikan oleh Allah kepada mereka?” Mu’adz berkata, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”

Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Sungguh, hak Allah yang harus ditunaikan oleh hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun. Dan hak hamba yang akan ditunaikan oleh Allah Taala adalah tidak menyiksa mereka yang tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.” (HR al-Bukhari 2856 dan Muslim 30)

Hak untuk disembah hanya milik Allah Subhaanahu wa Taala semata. Barangsiapa memalingkan suatu ibadah, walaupun sedikit, untuk selain Allah, maka orang tersebut telah membatalkan tauhidnya. Inilah yang dinamakan Tauhid Uluhiyyah. Yaitu mengesakan Allah Subhaanahu wa Taala dalam ibadah, seperti berdoa, sikap berharap dan takut, bernadzar, shalat, puasa, dan jenis-jenis ibadah yang lain. Dengan kata lain, memurnikan ketundukan hanya bagi Allah saja dan berlepas diri dari kesyirikan. Allah Taala berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5) “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (QS. Zumar: 3)

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. al-An’aam: 162-163) Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Barangsiapa mati dalam keadaan beribadah kepada sekutu selain Allah, ia akan masuk neraka.” (HR. al-Bukhari 4497 dan Muslim 92)

 

Lawan Tauhid

Setiap jenis tauhid di atas memiliki lawan. Jika telah dimengerti bahwa Tauhid Rububiyyah adalah pengakuan bahwa Allah adalah pencipta, pemberi rezeki, yang menghidupkan, yang mematikan, yang mengatur segala urusan pada setiap makhluk-Nya, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya itu, maka lawan dari Tauhid Rububiyyah adalah meyakini adanya pengatur selain Allah dalam perkara-perkara yang hanya mampu dilakukan oleh Allah.

Demikian pula, jika telah diketahui bahwa Tauhid Asma wa Shifaat adalah memanggil Allah dengan nama yang Allah berikan untuk diri-Nya dan menyifati Allah dengan sifat yang diterangkan oleh Allah dan Rasul-Nya tentang diri-Nya, serta menafikan keserupaan dengan makhluk, maka lawan dari Tauhid Asma wa Shifaat adalah dua perkara:

  • Menafikan nama-nama itu dari Allah Taala dan menanggalkan sifat-sifat kesempurnaan yang diterangkan dalam Al-Quran dan as-Sunnah, dari Allah.
  • Menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk, sementara Allah berfirman, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. asy-Syuraa: 11) “Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” (QS. Thaha: 110)

 

Dan jika telah diketahui bahwa Tauhid Uluhiyyah adalah mengesakan Allah dalam seluruh peribadatan dan tidak mempersembahkan ibadah-ibadah itu kepada selain-Nya, maka lawan dari Tauhid Uluhiyyah adalah memberikan suatu peribadatan kepada selain Allah. Perkara inilah yang dominan dilakukan oleh orang-orang musyrik. Dan dalam perkara inilah terjadi perseteruan antara para rasul dengan umat mereka.

 

Memurnikan dan Menyempurnakan Tauhid

Yang dimaksud dengan memurnikan tauhid adalah menyempurnakan dan membersihkannya dari kotoran-kotoran syirik, bid’ah dan maksiat. Tiga perkara ini disebut oleh para ulama sebagai penghalang-penghalang yang merintangi perjalanan seorang hamba menuju Allah dan negeri akhirat. Penghalang pertama adalah syirik. Cara melepaskan diri darinya adalah megikhlaskan tauhid untuk Allah semata. Penghalang kedua adalah bid’ah.

Cara melepaskan diri darinya adalah dengan melazimi sunnah Nabi shallallahu alaih wa sallam, mengikuti dan berjalan di atas manhaj beliau shallallahu alaih wa sallam. Dan penghalang ketiga adalah maksiat. Cara melepaskan diri darinya adalah dengan menjauhi, bersikap waspada, dan bertaubat dengan sungguh-sungguh kepada Allah ketika terjatuh ke dalamnya. Dengan melakukan tiga hal tersebut di atas, seorang hamba telah memurnikan tauhid.

Memurnikan tauhid memiliki dua tingkatan: wajib dan mustahab. Orang-orang yang memurnikan tauhid dalam dua tingkatan ini akan masuk surga tanpa perhitungan dan siksaan.

  • Tingkat pertama adalah golongan muqtashidun/pertengahan. Yaitu tingkatan orang-orang yang mengerjakan kewajiban dan meninggalkan yang diharamkan. Jika seorang hamba selalu menjaga amalan-amalan wajib, dan meninggalkan perkara-perkara haram, dosa-dosa besar dan kecil, maka ia telah merealisasikan tauhid yang wajib, dan termasuk golongan pertengahan. Ia termasuk orang-orang yang akan masuk surga tanpa perhitungan dan siksaan.
  • Tingkat kedua yang lebih tinggi dari tingkat pertama adalah tingkat yang mustahab. Ia adalah tingkatan orang-orang saabiquun (yang bersegera dalam kebaikan). Yaitu orang-orang yang selain menjaga amalan-amalan wajib, dan menjauhi dosa besar dan perkara haram, mereka juga bersegera mengerjakan amalan-amalan sunah.

 

Dua golongan di atas adalah orang-orang yang merealisasikan tauhid. Keduanya akan masuk surga tanpa perhitungan dan siksaan. Allah Taala berfirman, “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (QS. Fathir: 32)

Makna ayat ini adalah bahwa ada tiga golongan manusia yang akan masuk surga ‘Aden. Mereka adalah golongan orang yang menzalimi diri sendiri, golongan orang yang pertengahan, dan golongan orang yang bersegera dalam kebaikan.

Adapun golongan orang yang pertengahan dan yang bersegera dalam kebaikan, maka mereka masuk surga tanpa perhitungan dan siksaan. Sedangkan golongan orang yang menzalimi diri sendiri dengan dosa-dosa selain syirik, maka mereka juga akan masuk surga, akan tetapi tidak seperti dua golongan di atas. Mereka masih akan dihadapkan dengan perhitungan dan siksaan, dan berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak untuk menyiksa mereka terlebih dahulu, maka mereka akan disiksa. Namun jika Allah berkeinginan untuk mengampuni mereka, maka mereka pun akan diampuni.

 

(Sumber: Min Maalim at-Tauhid, Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Badr)

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *