As Syafaat
Dalam Pandangan Ahlu Sunnah wal Jama’ah
Oleh : Abu Usamah Yahya Al Lijaziy

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
أَمَّا بَعْدُ, فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ اْلهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

Segala puji hanyalah milik Allah I . Kami memuji, meminta pertolongan dan ampunan-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah I dari kejahatan diri-diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah I, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah I, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah I semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad r adalah hamba dan rasul-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah I dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”. [QS. Ali Imran: 102]

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah I menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah I memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah I yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah I selalu menjaga dan mengawasi kamu.”. [QS. An-Nisa: 1]

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah I dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah I memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah I dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” [QS. Al-Ahzab: 70-71]

Adapun selanjutnya:
Sesungguhnya sebenar-benar pembicaraan adalah Kalam Allah I, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad r. Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan adalah di neraka.

Pendahuluan

Pembahasan tentang syafaat merupakan salah satu bab tersendiri dalam akidah Islam, yaitu beriman terhadap syafaat di hari kiamat. Sehingga wajib bagi kaum muslimin untuk mempelajari dan menjadikannya sebagai akidah dalam beragama. Oleh karenanya, wajib bagi kita untuk mempelajari dan memahaminya dari penjelasan para ulama yang dikenal dengan akidah dan manhaj yang lurus dan istiqamah di atas jalan-Nya. Sebaliknya, akan sangat berpengaruh terhadap keimanan seseorang jika mempelajarinya dari jalan yang salah.
Oleh sebab itu, kami berupaya mengumpulkan ilmu dan pemahaman dari para ulama’ Ahlus Sunnah, insyaAllah, melalui risalah ringkas yang berjudul “Syafaat Dalam Pandangan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah.”
Yang mana inti pembahasannya adalah tentang syafaat Rasulullah r kelak di hari kiamat untuk sebagian umatnya.
InsyaAllah, hampir dipastikan bahwa semua manusia menginginkan mendapatkan syafaat dari Rasulullah r di hari itu. Namun untuk mendapatkannya tidaklah semudah yang dibayangkan. Membutuhkan kesungguhan dalam beragama ketika di dunia, khususnya dalam bertauhid kepada Allah I dan ittiba’ kepada qudwah kita, Rasulullah Muhammad r , yaitu dengan beribadah kepada Allah sesuai tuntunan sunnah beliau r .
Dan apa yang tertuang dalam risalah ini meskipun sangat ringkas, mudah-mudahan dapat dipetik sedikit manfaat untuk menambah keyakinan kita tentang akidah Islam, khususnya tentang syafaat di hari kiamat. Dengan harapan dapat membuahkan amal shalih sehingga bermanfaat untuk kita semua kelak ketika menghadap Allah I .

Fasal Pertama : Makna Syafaat

Syafaat secara bahasa diambil dari kata as-syaf’u yang artinya adalah lawan dari kata al-witru (ganjil), yaitu menjadikan yang ganjil menjadi genap. Sebagaimana kita menjadikan satu menjadi dua, tiga menjadi empat, dan seterusnya. Atau dengan bahasa lain, menggabungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain sejenisnya agar menjadi sepasang. Sebagaimana penjelasan Ibnu Faris ? bahwa kata syafaat terdiri dari huruf syiin, faa’ dan ‘aiin , asal yang benar adalah menunjukkan makna bergandengannya dua sesuatu, dan asy syaf’u adalah menyelisihi ganjil. (Mu’jam Maqayis Al Lughah, Ahmad bin faris hal 122 )
Penggunaan makna syafaat secara bahasa bisa dilihat dalam firmanNya :
وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ
“Dan yang genap dan yang ganjil.” (Al Fajr : 3)
Adapun secara istilah, disebutkan oleh Ibnu Atsir ? bahwa syafaat adalah permohonan (kepada Allah ‘Azza wa Jalla) untuk pengampunan dosa. Atau bisa diistilahkan bahwa syafaat itu adalah ungkapan permohonan dari pemberi syafaat atas suatu perkara untuk orang yang akan diberi syafaat, baik itu berupa syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam atau selainnya. (An nihaayah fii ghariibil hadits liibni atsiir 2/485)

Syafaat juga bisa diartikan sebagai perantara dalam menunaikan hajat. Yaitu perantara antara yang berhajat dengan yang memiliki hajat tersebut ( An nihaayah fii ghariibil hadits liibni atsiir 2/485), yaitu yang bisa memenuhi hajat tersebut.
Syaikh Ibnu Utsaimin ? menjelaskan bahwa syafaat adalah penengah (perantara) bagi yang lain dengan mendatangkan suatu kemanfaatan atau menolak suatu kemudharatan. Maksudnya, syaafi’ (pemberi syafaat) itu berada di antara masyfu lahu (yang diberi syafaat) dan masyfu’ ilaih (syafaat yang diberikan), sebagai wasithah (perantara) untuk mendatangkan manfaat bagi masyfu’ lahu atau menolak mudharat darinya. ( Fatawa Anil Iman wa Arkaniha lis Syeikh ibnu Utsaimin )

1011810_836794033002980_4146645740392418733_n

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *