Sakit di Bulan Ramadhan

June 26, 2015

Sakit adalah lawan dari sehat. Sakit dapat terjadi pada tubuh maupun agama seseorang, sebagaimana sehat berkaitan dengan tubuh dan agama seseorang. Penyakit yang menimpa agama adalah semua perkara yang menyebabkan seseorang keluar dari kebenaran agama. Sementara penyakit yang mengenai tubuh adalah kerusakan pada kondisi fisik seseorang yang sebelumnya stabil. Orang yang sakit adalah orang yang kesehatannya terganggu, baik pada sebagian ataupun keseluruhan badannya.

Kewajiban pertama atas orang sakit adalah bersabar dan mengharap pahala atas musibah yang menimpanya. Allah Taala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (az-Zumar: 10) “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (Muhammad: 31)

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” (al-Hadid: 22-23) “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (at-Taghabun: 11)

Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Sabar adalah cahaya.” (Muslim 223) “Sungguh mengagumkan kondisi orang beriman, karena semua kondisinya adalah kebaikan. Dan tidak ada yang seperti itu kecuali orang yang beriman. Jika ia ditimpa kebaikan, maka ia bersyukur, dan itu adalah kebaikan untuknya. Dan jika ia ditimpa kejelekan, maka ia bersabar, dan itu juga kebaikan untuknya.” (Muslim 2999) “Tidaklah menimpa seorang muslim satu keletihan, penyakit, kegundahan, kesedihan, gangguan, bahkan sekadar duri yang menusuknya, kecuali Allah gugurkan kesalahan-kesalahannya dengan sebab itu semua.” (Muttafaqun alaih, al-Bukhari 5641 dan Muslim 2573)

 

Dua macam penyakit

Berkenaan dengan orang yang sakit pada bulan Ramadhan, maka perlu dilihat penyakit yang ia derita. Penyakit jasmani dibagi menjadi dua:

  1. Penyakit yang masih ada harapan untuk sembuh. Orang yang terkena penyakit seperti ini, tidak lepas dari tiga keadaan:
  2. Puasa tidak memberatkan atau membahayakannya. Orang ini wajib berpuasa tepat pada waktunya. Sebab ia tidak memiliki uzur yang membolehkannya meninggalkan puasa.
  3. Puasa memberatkannya namun tidak membahayakan. Orang ini boleh tidak berpuasa pada bulan Ramadhan, namun ia berpuasa di waktu lain saat sudah kembali sehat. Jika ia tetap berpuasa –padahal puasa memberatkannya-, maka hal seperti ini tidak dianjurkan. Karena dengan demikian, ia tidak mengindahkan keringanan yang Allah berikan, dan menyiksa diri sendiri. Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah senang jika keringanan-Nya dilaksanakan, sebagaimana Allah tidak suka jika kemaksiatan kepada-Nya dilakukan.” (HR. Ahmad 2/108)
  4. Puasa membahayakannya. Orang ini wajib tidak berpuasa pada bulan Ramadhan, namun ia berpuasa saat telah kembali sehat. Hal ini berdasarkan firman Allah Taala yang artinya, “..Dan janganlah kamu membunuh dirimu ; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (an-Nisaa: 29) “..dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan..” (al-Baqarah: 195) Salman al-Farisi pernah berkata kepada Abu Darda, “Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu juga memiliki hak atasmu. Maka berikanlah hak semua pihak yang memiliki hak atasmu!” Kemudian Abu Darda datang kepada Nabi shallallahu alaih wa sallam dan menyebutkan hal itu kepada beliau. Beliau pun kemudian berkata kepadanya. “Salman benar.” (al-Bukhari 1968) Salah satu hak diri yang wajib dipenuhi oleh seorang muslim adalah tidak membahayakan diri sendiri padahal ada keringanan dari Allah Taala.

Apabila seseorang terserang penyakit di tengah hari bulan Ramadhan, dan sulit baginya untuk menyempurnakan puasa di hari itu, maka ia boleh berbuka karena ada sebab yang membolehkannya untuk tidak berpuasa.

Kemudian jika ia sembuh di siang hari bulan Ramadhan, sementara ia sudah tidak berpuasa sejak pagi karena uzur, maka ia tidak sah berpuasa pada sisa hari itu. Sebab ia telah berbuka di awal hari, sementara puasa Ramadhan tidak sah kecuali dengan berniat sebelum terbit fajar, dan menahan diri dari pembatal puasa, dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Namun demikian, ia tetap menahan diri dari pembatal puasa di sisa hari tersebut, dan menggantinya di hari yang lain, berdasarkan firman Allah Taala yang artinya, “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” Dan, “Karena itu, barangsiapa di antara kamu mendapati bulan tersebut, maka hendaklah ia berpuasa, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (al-Baqarah 184, 185)

 

  1. Orang yang tidak lagi dapat diharapkan kesembuhannya. Seperti orang yang sudah tua renta, dan orang dengan penyakit yang sulit/tidak bisa sembuh. Ketentuan tentang penyakit yang sulit/tidak bisa disembuhkan ini diperoleh dari keterangan dokter muslim yang ahli dan terpercaya. Dalam keadaan demikian, orang ini tidak wajib puasa Ramadhan, karena ia tidak memiliki kemampuan untuk berpuasa. Hal ini berdasarkan firman Allah Taala, “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu..” (at-Taghabun: 16) “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (al-Baqarah: 286) Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama bersepakat bahwa orang tua renta dan orang lemah yang tidak mampu berpuasa, tidak wajib berpuasa.” Namun mereka wajib memberi makan orang miskin sebagai pengganti puasa Ramadhan yang tidak mampu mereka laksanakan. Ibnu Abbas mengatakan, “Orang tua renta yang tidak mampu berpuasa, memberi makan orang miskin untuk menggantikan setiap hari puasa yang mereka tinggalkan.” Imam al-Bukhari mengatakan, “Adapun orang tua renta yang sudah tidak mampu berpuasa, maka sesungguhnya Anas bin Malik, setelah berusia lanjut, tidak berpuasa Ramadhan selama satu atau dua tahun, dan memberi makan orang miskin dengan roti dan daging setiap harinya.”

Orang yang tidak mampu berpuasa Ramadhan karena penyakit yang tidak dapat/sulit disembuhkan, atau sudah lanjut usia seperti ini, memiliki dua pilihan dalam hal memberi makan orang miskin:

  1. Memberikan makanan secara terpisah kepada orang-orang miskin. Setiap orang miskin diberi setengah sha’ menurut pendapat yang shahih. Nabi shallallahu alaih wa sallam berkata kepada Ka’ab bin ‘Ajzah, “Atau engkau memberi makan enam orang miskin, masing-masing dari mereka diberi setengah sha’..” (Muttafaqun alaih) Satu sha’ nabawi adalah empat kali cidukan dengan dua telapak tangan seorang laki-laki ukuran standar. Jika ditimbang, kira-kira tiga kilogram. Dengan demikian, setengah sha’ setara dengan kira-kira satu setengah kilogram. Inilah pendapat yang dipilih oleh Syaikh Bin Baz. Beliau berkata, “Untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan, setengah sha’ dari makanan pokok negeri tersebut, baik itu kurma, beras, atau yang lainnya. Apabila diukur dengan timbangan, maka kira-kira satu setengah kilogram.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 15/15, 203/201-205).
  2. Boleh juga dengan membuat hidangan makanan, kemudian mengundang orang-orang miskin sesuai dengan jumlah hari yang wajib ia ganti. Sebab Anas bin Malik radhiyallahu anhu, selama satu atau dua tahun setelah berusia lanjut, beliau tidak berpuasa dan memberi makan satu orang miskin dengan roti dan daging untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Syaikh Bin Baz mengatakan, “Apabila seorang laki-laki atau wanita tua renta tidak mampu lagi berpuasa, maka keduanya boleh tidak berpuasa dan memberi makan satu orang miskin untuk mengganti satu hari puasa yang ditinggalkan. Caranya bisa dengan mengajak orang miskin itu makan, atau menyerahkan setengah sha’ kurma, tepung atau beras kepada satu orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan..” (Majmu Fatawa Syaikh Bin Baz, 15/202) Beliau berkata tentang fidyah (makanan pengganti puasa) dari orang tua renta dan orang sakit yang tidak bisa disembuhkan, “Fidyah bisa diberikan untuk beberapa orang fakir miskin, dan boleh diberikan kepada satu orang miskin saja..” (Majmu Fatawa 15/205) Di tempat yang lain beliau mengatakan, “Kaffarah ini boleh diberikan kepada satu orang miskin, atau lebih, di awal bulan, pertengahan bulan, ataupun akhir bulan.” (Majmu Fatawa Ibnu Baz 15/204)

 

(ash-Shiyam Fi al –Islam Fii Dhaui al-Kitab wa as-Sunnah, DR. Said bin Wahf al-Qhahthaniy)

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *