Zikir menggugurkan dosa

Di antara faidah zikir adalah bahwa ia menggugurkan dan menghilangkan dosa, serta menyelamatkan pelakunya dari azab Allah. Dalam kitab al-Musnad, dari riwayat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Tidak ada satu amalan yang dikerjakan oleh seorang manusia, yang lebih menyelamatkannya dari azab Allah, selain zikir mengingat Allah Taala.” (al-Musnad 5/239)

 

Zikir mengundang pahala yang banyak

Dengan berzikir, seseorang akan mendapatkan anugerah, pahala dan keutamaan yang tidak didapatkan dengan amalan lain. Padahal zikir adalah ibadah yang termudah, karena gerakan lisan adalah gerakan anggota tubuh yang paling ringan. Namun pahala yang didapat darinya sangat besar dan banyak.

Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Barangsiapa berkata ‘laa ilaaha illallah wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syaiin qodiir’ seratus kali dalam sehari, maka ia mendapat pahala sebanding dengan membebaskan sepuluh budak, dicatat baginya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus kejelekan, dan ia akan mendapat perlindungan dari setan di hari itu sampai sore. Tidak ada seorang pun yang melakukan amalan lebih utama daripada yang ia lakukan kecuali seseorang yang mengerjakan amalan lebih banyak dari itu.” (HR. al-Bukhari 3293 dan Muslim 2891)

Diriwayatkan pula dari Nabi shallallahu alaih wa sallam, bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa mengucapkan ‘subhaanallah wa bihamdihi’ seratus kali dalam sehari, maka dihapus dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. al-Bukhari 6405) Beliau juga bersabda, “Aku mengucapkan ‘subhaanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar’ lebih aku sukai daripada terbitnya matahari.” (HR. Muslim 2695) Hadits-hadits yang semakna dengan ini banyak sekali.

 

Zikir adalah tanaman surga

Sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah hadits, bahwa surga adalah lembah yang tanahnya baik, airnya segar, dan tanamannya adalah zikrullah. Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallahu alaih wa sallam bersabda, “Di malam saat aku di isra-kan, aku berjumpa dengan Ibrahim al-Khalil ‘alaihis salam, dan ia pun berkata, “Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu. Kabarkan kepada mereka bahwa surga itu tanahnya baik, airnya segar, dan ia adalah sebuah lembah yang tanamannya adalah ‘subhaanallah, alhamdulillah, laa ilaaha illallah, dan allahu akbar.” At-Tirmidzi mengatakan, “Hadits ini hasan gharib, dari riwayat Ibnu Mas’ud.” (HR. at-Tirmidzi 3462)

Imam Ahmad meriwayatkan dari hadits Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu anhu dengan lafal sebagai berikut, “Sesungguhnya di malam saat Rasulullah shallallahu alaih wa sallam di-isra-kan, beliau berpapasan dengan Ibrahim. Ibrahim pun berkata, “Siapakah yang bersamamu ini, wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Ini adalah Muhammad.” Ibrahim berkata lagi, “Perintahkanlah umatmu untuk memperbanyak tanaman surga, karena surga itu baik tanahnya dan luas lahannya.” Beliau kemudian bertanya, “Apakah tanaman surga itu?” Ibrahim menjawab, “Laa hawla wa laa quwwata illa billah.” Hadits ini adalah pendukung untuk hadits sebelumnya. (al-Musnad 5/3465)

At-Tirmidzi meriwayatkan dari hadits Mu’adz bin Anas al-Juhaniy radhiyallahu anhu, dari Rasulullah shallallahu alaih wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa mengucapkan ‘subhaanallahil ‘azhim’ maka akan tumbuh satu tanaman untuknya di surga.”(al-Musnad 3/440)

 

Zikir adalah cahaya

Zikir akan menjadi cahaya bagi pelakunya di dunia, di alam kubur dan di akhirat kelak. Penerang di hadapannya ketika melalui ash-shirath. Tidak ada yang menerangi hati dan kubur semisal zikrullah Taala.

Allah Taala berfirman yang artinya, “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?” (al-An’aam: 122)

Orang pertama yang dimaksud di dalam ayat di atas adalah orang beriman. Ia mendapat cahaya dengan beriman kepada Allah, mencintai-Nya, dan berzikir mengingat-Nya. Sedangkan orang yang satunya lagi adalah orang yang lupa akan Allah Taala, berpaling dari berzikir mengingat-Nya, dan dari mencintai-Nya.

Maka urusan yang paling utama dan kebahagiaan yang sesungguhnya terdapat pada cahaya zikir ini. Dan kecelakaan yang sebenarnya adalah ketika seseorang kehilangan cahaya tersebut. Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaih wa sallam banyak berdoa agar Allah menjadikan cahaya itu di setiap bagian terkecil dari dirinya, yang lahir maupun yang batin, dan agar cahaya itu meliputinya dari segala sisi, serta menjadikan segenap dirinya sebagai cahaya.

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih beliau, dari hadits Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu anhuma, tentang zikir Nabi shallallahu alaih wa sallam di malam hari. Ibnu Abbas berkata, “Dan termasuk doa beliau adalah ‘allahummaj’al fii qalbii nuuran, wa fii basharii nuuran, wa fii sam’ii nuuran, ‘an yamiinii nuuran, wa ‘an yasaarii nuuran, wa fauqii nuuran, wa tahtii nuuran, wa amaamii nuuran, wa khalfii nuuran, wa ‘azhzhim lii nuuran’.” Kuraib –salah seorang yang meriwayatkan hadits ini- berkata, “Masih ada tujuh lagi yang aku tidak ingat. Kemudian aku menjumpai sebagian anak al-Abbas, dan mereka menyebutkan ketujuh bagian itu kepadaku. Maka disebutkan: sarafku, dagingku, darahku, rambutku, kulitku dan disebutkan dua bagian lainnya.” (HR. Muslim 763)

Maka zikir adalah cahaya bagi hati, wajah dan anggota tubuh orang yang berzikir, di dunia, alam barzakh dan pada hari kiamat kelak.

 

Zikir mengundang shalawat Allah dan para malaikat         

Zikir akan menjadi sebab Allah dan malaikat-Nya bershalawat untuk orang yang berzikir. Dan barangsiapa diberi shalawat oleh Allah dan para malaikat-Nya, maka ia benar-benar beruntung dan berbahagia. Allah Taala berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (al-Ahzaab: 41-43)

 

Zikir adalah sebab Allah ‘Azza wa Jalla membenarkan hamba-Nya.

Karena orang yang berzikir sesungguhnya sedang memberi kabar tentang Allah Taala berkenaan dengan sifat-Nya yang maha sempurna dan mulia. Maka Allah akan membenarkan orang yang memberi kabar sedemikian ini. Dan barangsiapa dibenarkan oleh Allah Taala, ia tidak akan dibangkitkan bersama orang-orang pendusta, dan diharapkan ia akan dibangkitkan bersama orang-orang yang benar.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, al-Hakim dan selain mereka, dari Abu Ishaq, dari al-Agharr Abu Muslim, bahwa ia mempersaksikan bahwa Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhuma mempersaksikan bahwa Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Jika seseorang mengatakan ‘laa ilaaha illallaah wallaahu akbar’, Allah Tabaaraka wa Taala berkata, “Telah benar hamba-Ku itu, ‘tidak ada sembahan yang benar selain Aku dan Aku Maha besar.” Jika ia mengatakan, ‘laa ilaaha illallaah wahdah’, Allah berkata, “Telah benar hamba-Ku itu ‘tidak ada sembahan yang benar selain Aku saja’.” Jika ia mengatakan, ‘laa ilaaha illallaah laa syariika lahu’, Allah berkata, “Telah benar hamba-Ku itu, ‘tidak ada sembahan yang benar selain Aku dan tidak ada sekutu bagi-Ku’.” Jika ia mengatakan, ‘laa ilaaha illallaahu lahul mulku wa lahul hamdu’, Allah berkata, “Telah benar hamba-Ku itu, ‘tidak ada sembahan yang benar selain Aku, dan hanya milik-Ku lah segenap kerajaan dan segala pujian.” Dan jika ia mengatakan, ‘laa ilaaha illallaah wa laa hawla wa laa quwwata illa billah’, Allah berkata, “telah benar hamba-Ku itu, ‘tidak ada sembahan yang benar selain Aku dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan sebab Aku.” Kemudian al-Agharr mengatakan sesuatu yang tidak aku pahami. Aku berkata kepada Abu Ja’far, “Apa yang ia katakan?” Abu Ja’far berkata, “Ia berkata, “Barangsiapa yang diberi anugerah untuk mengucapkannya ketika ajal menjemput, maka ia tidak akan disentuh api neraka.”

At-Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan, dishahihkan oleh al-Hakim dan pendapat beliau disepakati oleh adz-Dzahabi. Syaikh al-Albani mengatakan, “Ia adalah hadits shahih.”

 

Banyak berzikir akan melindungi seseorang dari kemunafikan

Dengan banyak berzikir mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, seorang hamba akan mendapatkan perlindungan dari sifat munafik. Karena orang-orang munafik sedikit sekali berzikir mengingat Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Taala befirman tentang orang-orang munafik yang artinya, “Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (an-Nisaa: 142)

Ka’ab berkata, “Barangsiapa banyak berzikir mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia berlepas diri dari kemunafikan.”

Mungkin karena inilah, Allah Taala menutup surat al-Munafiqun dengan ayat berikut yang artinya, “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (al-Munafiquun : 9) Sungguh, ayat ini mengandung peringatan keras akan fitnah orang-orang munafik yang karena lalai dari berzikir mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, mereka terjatuh dalam kemunafikan.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu pernah ditanya tentang orang-orang khawarij, apakah mereka orang-orang munafik? Maka beliau menjawab, “Orang-orang munafik itu tidak berzikir mengingat Allah kecuali sedikit sekali.”

Dengan demikian, sedikit berzikir mengingat Allah merupakan salah satu tanda kemunafikan. Atas dasar ini, banyak berzikir mengingat Allah merupakan pelindung dari sifat kemunafikan. Allah ‘Azza wa Jalla Maha Mulia sehingga Dia tidak akan menimpakan malapetaka kemunafikan kepada hati yang banyak berzikir mengingat-Nya. Malapetaka kemunafikan itu hanya akan menimpa hati-hati yang lalai dari berzikir mengingat Allah ‘Azza wa Jalla.

 

(Diambil dari Kitab Fiqh al-Ad’iyah wa al-Adzkaar, Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Badr)

Silahkan Download File Pdf: Download

3 Comments

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,mau tanya pak ustazd,,,Apakah shalawat yaitu Allahummashali’alamuhammd wa ‘ala alimuhammad dan ucapan salam yaitu assallamu’alaikum warahmati wa
    barakatuhu,,ini termasuk ucapan zdikir ustazd,,sy adavpertanyaan dr ikhwan,,sy ragu dlm menjawab,,,mohon dijelaskan/dijawab pak ustazd,,Barakallahufiik

    • Al Lijazy says:

      Ya, in syaa Allah keduanya termasuk dzikir, sebab keduanya terkandung makna do’a yang dipanjatkan kepada Allah Ta’ala seperti dzikir-dzikir yang lain. Selain itu keduanya juga perintah Allah Ta’ala, seperti dalam firmanNya :

      إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ , يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

      “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya!” (al-Ahzab: 56)
      Untuk perintah ucap salam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      « حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ ». قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ ».
      “Hak muslim pada muslim yang lain ada enam.” Lalu ada yang menanyakan, ”Apa saja keenam hal itu?” Lantas beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam padanya, (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya, (3) Apabila engkau dimintai nasehat, berilah nasehat padanya, (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’), (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia, dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim no. 2162).
      Allahua’lam

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,syukran kastiran,,Barakallahufiik wa jazkallahu khair,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *