Islam sungguh-sungguh berupaya mengisolasi kekejian, bahkan memutus semua jalan yang mengarah kepadanya. Di antara upaya itu adalah dengan melarang penyebaran kekejian, baik berupa perbuatan, perkataan ataupun isyarat. Islam juga memerintahkan untuk menutup aib-aib kaum muslimin. Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang senang agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (QS. An-Nuur: 19) Ini adalah ancaman dan peringatan keras bagi siapa saja yang mendengar perkataan jelek, lalu muncul sesuatu pada pikirannya kemudian berbicara. Maka janganlah ia banyak berbicara  dan menyebarkan kejelekan itu kemana-mana. Barangsiapa terjatuh pada perkara ini sehingga akhirnya ia menuduh seorang muslim berbuat keji, maka ia diberi hukuman had di dunia, atau disiksa di akhirat dengan siksaan yang pedih.

Senang dengan tersebarnya kejelekan di kalangan orang beriman memiliki dua makna. Pertama, senang dengan tersebarnya kejelekan di tengah-tengah masyarakat muslim. Di antara contohnya adalah orang-orang yang mengedarkan film-film porno dan majalah-majalah cabul. Mereka ini jelas termasuk orang-orang yang senang dengan tersebarnya kejelekan di tengah masyarakat muslim. Mereka ingin membuat fitnah terhadap agama kaum muslimin melalui majalah dan film tersebut. Dan diikutkan kepada mereka ini, orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mencegah penyebaran film dan majalah itu, akan tetapi membiarkannya tersebar di tengah masyarakat muslim. Kedua, senang dengan tersebarnya berita kejelekan tentang seorang muslim.

 

Menutup Aib Diri Sendiri

Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Semua umatku akan dimaafkan kecuali orang- yang terang-terangan (melakukan maksiat). Termasuk orang yang terang-terangan adalah orang yang melakukan perbuatan (jelek) di malam hari, sedangkan Allah telah menutupi perbuatannya itu, akan tetapi di pagi hari ia berkata, “Hai fulan, tadi malam aku telah melakukan ini dan itu.” Padahal sungguh Allah telah menutupi perbuatannya sepanjang malam, namun keesokan harinya ia membuka aib yang telah Allah tutupi itu.” (Muttafaqun alaih)

Pada hadits ini, Nabi shallallahu alaih wa sallam mengatakan bahwa orang yang terang-terangan berbuat maksiat tidak dimaafkan. Orang yang seperti ini ada dua macam:

Pertama, orang yang berbuat maksiat secara terang-terangan di depan orang lain, dan dilihat oleh mereka. Orang seperti ini jelas tidak dimaafkan, dan termasuk orang yang terang-terangan berbuat maksiat karena dengan perbuatannya itu ia telah menyeret dirinya dan orang lain kepada kecelakaan. Menyeret dirinya sendiri kepada kecelakaan, karena ia telah menzalimi dirinya dengan berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan setiap orang yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah zalim kepada dirinya sendiri. Allah Taala berfirman, “Dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. al-Baqarah: 57)  Adapun maksud menyeret orang lain kepada kecelakaan adalah bahwa ketika orang-orang melihatnya berbuat maksiat secara terang-terangan, maksiat itu menjadi tampak ringan di hadapan mereka. Sehingga mereka pun akan melakukan seperti yang dia lakukan. Jadilah ia termasuk orang yang menyeru kepada neraka. Allah Taala berfirman tentang pengikut Firaun, “Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.” (QS. al-Qhashash: 41)

Kedua, orang yang berbuat maksiat di malam hari, di dalam rumahnya, dalam keadaan Allah menutupi dirinya dari pandangan manusia sehingga tidak ada seorangpun yang melihat. Akan tetapi kemudian di pagi harinya, ia bercerita kepada orang lain tentang maksiat yang telah ia lakukan. Ada dua sebab orang melakukan hal ini. Pertama, karena kelalaian dan tanpa maksud buruk. Ia menceritakan perbuatan jeleknya dengan niat yang baik, bukan dengan tujuan yang buruk. Kedua, orang yang menceritakan kemaksiatan karena merasa bangga dan bersikap tidak sepantasnya terhadap keagungan Allah. Ia menceritakan perbuatannya seperti orang yang mendapatkan harta rampasan perang. Ini adalah jenis orang yang paling jelek. Wal’iyadzu billah.

Maka sudah selayaknya seseorang menutupi apa yang telah ditutupi oleh Allah Taala, memuji-Nya atas keselamatan dari pandangan manusia, dan bertaubat dari maksiat yang ia lakukan secara sembunyi-sembunyi. Apabila ia bertaubat kepada Allah, niscaya Allah akan menutup aib tersebut di dunia dan akhirat.

 

Menutup Aib Orang Lain

Sesungguhnya manusia itu memiliki dua sifat yang tidak baik. Yaitu suka berbuat zalim dan sering berlaku bodoh. Allah Azza wa Jalla menerangkan hal ini dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. al-Ahzaab : 72) Seorang berlaku zalim ketika ia melakukan kesalahan dengan sengaja. Dan ia berlaku bodoh ketika melakukan kesalahan karena ketidaktahuan. Inilah keadaan manusia, kecuali orang yang dijaga oleh Allah Azza wa Jalla, dan diberi taufiq untuk mendapatkan ilmu dan bersikap adil. Orang yang demikian ini akan berjalan dengan kebenaran dan membimbing orang lain kepadanya. Akan tetapi sifat dasar/tabiat manusia adalah memiliki kekurangan dan cacat. Seorang muslim wajib menutupi aib saudaranya sesama muslim, dan tidak menyebarkannya kecuali dalam keadaan darurat. Karena bisa jadi saudaranya sesama muslim itu berbuat kesalahan karena syahwat (keinginan buruk) atau syubhat (pandangan keliru). Dan orang yang beriman diperintahkan untuk menutup aib saudaranya.

Misalnya, ketika Anda melihat seseorang berdagang dengan cara menipu dan berdusta, janganlah langsung menyebarkan hal itu kepada orang banyak. Nasihatilah ia dan tutuplah aibnya. Apabila kemudian ia diberi taufiq, mendapat hidayah dan meninggalkan perbuatan tersebut, itulah yang diharapkan. Akan tetapi kalau ia tetap pada kebiasaannya, Anda wajib menjelaskan keburukannya pada orang banyak agar mereka tidak tertipu dengannya. Intinya, selama aib seorang muslim masih mungkin untuk ditutupi, dan tidak ada maslahat atau kondisi darurat yang mendesak untuk disebarkan, tutuplah aibnya dan jangan sebarkan.

Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba menyembunyikan aib hamba yang lain di dunia, kecuali Allah akan menyembunyikan aibnya di akhirat.” (HR. Muslim)

Menutup aib orang lain kadang terpuji dan kadang tercela, sesuai dengan keadaannya. Terpuji, apabila berkenaan dengan seseorang yang lurus agamanya, tidak biasa melakukan kekejian dan kezaliman, kecuali sedikit sekali. Orang seperti ini sepantasnya disembunyikan aibnya, dinasihati dan diterangkan kepadanya bahwa dia salah. Menutup aib orang seperti ini termasuk yang dipuji. Adapun orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya, meremehkan segala perkara, jahat, dan suka berbuat zalim kepada orang lain, aibnya tidak pantas untuk ditutupi. Bahkan disyariatkan agar ia diadukan kepada pihak berwenang agar mereka bisa mencegah perbuatan buruknya itu, dan ia dapat menjadi pelajaran bagi yang lain.

Dengan ini, menutup aib orang lain tergantung maslahat yang diperoleh. Apabila menutup aib orang lain lebih bermaslahat, itulah yang utama. Namun apabila menjelaskan aib orang lain lebih bermaslahat, itulah yang utama. Jika seseorang ragu antara menyembunyikan atau membongkar aib orang lain, yang lebih utama adalah menyembunyikannya.

 

(Referensi: Syarh Riyadh ash-Shalihin, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin; Bahjah an-Nadhirin Syarh Riyadh ash-Shalihin)

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *