Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus kejelekan tersebut. Dan perlakukanlah orang lain dengan budi pekerti yang luhur.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)

Hadits di atas begitu agung. Di dalamnya, Rasulullah shallallahu alaih wa sallam mengumpulkan hak Allah dan hak hamba sekaligus. Hak Allah atas hamba adalah bahwa seorang hamba hendaknya bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Yaitu menjaga diri dari kemurkaan dan azab Allah, dengan menunaikan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Wasiat ini merupakan wasiat Allah kepada orang-orang terdahulu dan orang-orang terkemudian. Ia juga merupakan wasiat para rasul kepada kaum mereka. Para rasul itu berkata, “(yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku.” (Nuh: 3)

Allah menyebutkan sikap takwa dalam firman-Nya, “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 177)

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imraan: 133-134)

Pada ayat-ayat di atas, Allah menyifati orang-orang bertakwa sebagai orang-orang yang beriman dengan prinsip-prinsip aqidah, dan melakukan amal saleh, baik yang lahir maupun yang batin, serta menunaikan ibadah yang berkaitan dengan badan maupun harta, bersabar ketika ditimpa kesulitan, bencana dan malapetaka; memaafkan orang lain, bersikap sabar dalam menghadapi gangguan mereka, berbuat baik kepada mereka, dan memohonkan ampun untuk mereka ketika mereka berbuat keburukan atau menzalimi diri mereka sendiri.

Nabi shallallahu alaih wa sallam memerintahkan kita untuk senantiasa bertakwa di manapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun. Sebab seorang hamba sangat membutuhkan ketakwaan dalam segenap keadaannya. Kemudian ketika seseorang melakukan kekeliruan, Nabi shallallahu alaih wa sallam memerintahkannya untuk melakukan perkara yang dapat menghapus kekeliruan tersebut, yaitu mengiringinya dengan perbuatan baik.

Al-hasanah yang disebutkan dalam hadits di atas, menurut bahasa berarti kebaikan. Dan menurut istilah berarti semua perkara yang mendekatkan diri kepada Allah Taala. Dan kebaikan paling agung yang dapat menghilangkan kejelekan adalah taubat yang sungguh-sungguh, istighfar, kembali kepada Allah dengan berzikir mengingat-Nya, mencintai-Nya, takut dan harap kepada Allah, dan selalu mengharapkan keutamaan yang ada pada-Nya di setiap waktu. Termasuk dalam hal ini juga kafarat dalam bentuk harta ataupun jiwa yang telah ditentukan oleh syariat.

Kebaikan lain yang dapat menghapus kejelekan adalah memaafkan orang, berbuat baik kepada makhluk Allah, baik sesama manusia ataupun makhluk Allah lainnya, mencarikan solusi bagi yang tertimpa kesempitan, memudahkan mereka yang kesusahan, dan menyingkirkan sesuatu yang membahayakan.

Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Huud: 113)

Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Shalat lima waktu, dari (shalat) Jumat ke (shalat) Jumat, dan (dari puasa) Ramadhan ke (puasa) Ramadhan adalah penggugur dosa-dosa yang terjadi di antara waktu-waktu tersebut, selama dosa-dosa besar dijauhi.” Masih ada banyak lagi nas yang menunjukkan bahwa amalan ketaatan akan menghapus keburukan.

Kemudian termasuk perkara yang dijadikan oleh Allah sebagai penggugur dosa adalah musibah yang menimpa seorang hamba. Tidaklah seorang mukmin ditimpa kegundahan, kegelisahan, gangguan, atau tertusuk duri, kecuali Allah akan gugurkan dosanya dengan itu semua. Musibah yang dimaksud bisa dalam bentuk luputnya sesuatu yang dicintai atau datangnya sesuatu yang dibenci, baik berhubungan dengan badan, hati, atau harta, dari luar dirinya maupun dari dalam.

Setelah menyebutkan hak Allah, yaitu wasiat untuk bertakwa, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Dan perlakukanlah orang lain dengan budi pekerti yang luhur.”

Budi pekerti yang pertama adalah tidak mengganggu mereka dengan cara apapun, memaafkan kelakuan buruk mereka, kemudian berinteraksi dengan mereka secara baik. Dan yang lebih khusus lagi adalah banyak bersabar dalam menghadapi mereka, berwajah ceria, bertutur kata yang baik, menyenangkan orang yang diajak bicara, menghilangkan kegelisahan dan kesulitannya, dan boleh juga sedikit bercanda jika memang ada maslahatnya. Namun tentu tidak sampai terlalu banyak. Karena senda gurau dalam ucapan itu seperti garam dalam makanan. Jika tidak ada sama sekali atau melewati batas justru akan menjadi tercela.

Akhlak baik yang lain adalah bergaul dengan orang lain sesuai dengan keadaan mereka. Entah itu dengan mempertimbangkan usia, tingkat kecerdasan atau keilmuannya.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah dan berinteraksi secara baik dengan orang lain, ia akan memperoleh semua kebaikan. Sebab dengan demikian, ia telah menunaikan hak Allah dan hak hamba-Nya. Dan ia termasuk orang-orang yang berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah dan dalam bermuamalah dengan hamba-hamba Allah.

 

Mempelajari Ilmu Agama

Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah menginginkan kebaikan baginya, niscaya ia akan dijadikan faqih oleh Allah dalam agama.” (Muttafaqun alaih)

Hadits di atas termasuk hadits yang menunjukkan keutamaan paling agung dari ilmu agama. Ilmu bermanfaat yang dimiliki oleh seorang hamba, merupakan pertanda bahwa Allah menginginkan kebaikan bagi hamba tersebut.

Pemahaman ilmu agama yang dimaksud mencakup pemahaman tentang pokok-pokok keimanan, syariat dan hukum Islam, serta hakikat ihsan. Karena agama Islam mencakup tiga perkara ini, sebagaimana yang diterangkan di dalam hadits Jibril. Ketika Nabi shallallahu alaih wa sallam ditanya tentang iman, islam dan ihsan, beliau menjelaskan Iman sebagai keimanan dengan rukun iman yang enam, Islam sebagai pemenuhan rukun Islam yang lima, dan Ihsan dengan pengertian, “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka engkau meyakini bahwa Allah melihatmu.” Dengan demikian, termasuk dalam pengertian memahami agama adalah memahami ilmu aqidah sesuai dengan mazhab salaf, kemudian merealisasikannya secara lahir dan batin.

Dari hadits di atas, dapat dipahami bahwa barangsiapa berpaling secara total dari perkara-perkara yang telah disebutkan, berarti Allah tidak menginginkan kebaikan bagi dirinya. Ia terhalang dari sebab-sebab yang mengantarkan kepada kebahagiaan dan kebaikan.

 

(Sumber: Bahjah Qulub al-Abrar wa Qurratu ‘Uyun al-Akhyaar Syarh Jawami al-Akhbaar, Syaikh as-Sa’di)

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *