Zakat Mal
Bagian 1
Oleh : Yahya Al Lijaziy

Segala puji bagi Allah I yang telah melimpahkan rizki dan karuniaNya kepada kita, sehingga tiada lain yang harus kita lakukan kecuali bersyukur dan semakin tunduk kepada perintah-perintahNya. Namun dari sekian banyak rizki yang Allah I limpahkan kepada kita ada kewajiban yang harus ditunaikan, sebagai konsekwensi sebagai hamba Allah I selama masih hidup didunia, yang pada hakikatnya hanya untuk beribadah kepadaNya. Diantara konsekwensi dari rizki yang Allah I karuniakan berupa harta adalah menunaikan zakat. Menunaikan zakat adalah satu kewajiban hamba yang memiliki harta sudah mencapai batas nishab untuk dikeluarkan zakatnya. Perintah wajib ini terdapat dalam firman Allah I :
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ , أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“ Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”( At Taubah : 103)

Jangan sampai harta yang Allah I karuniakan kepada kita justru akan menyebabkan malapetaka bagi kita kelak di akhirat. Sifat bakhil (kikir) pada seseorang akan hartanya, hingga dia tidak mau menunaikan perintah wajib zakat dari Allah I tidak akan membuatnya baik sama sekali, bahkan justru akan membuatnya sengsara di hari kiamat. Seperti dalam firmanNya :
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Justru Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(Ali imran : 180)

Ketahuilah bahwa kalung yang akan dikalungkan padanya dihari kiamat terdapat penjelasannya pada hadits Abu Hurairah t bahwa Rasulullah r bersabda :
مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاع أَقْرَعَ لَهُ زَبِيبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ – يَعْنِى شِدْقَيْهِ – ثُمَّ يَقُولُ : أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ ، ثُمَّ تَلاَ هَذِهِ الآيَةَ (لاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونُ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ)
“Barangsiapa yang diberi harta oleh Allah I, lalu tidak menunaikan zakatnya, maka pada hari kiamat kelak hartanya diserupakan ular yang botak kepalanya berumur panjang, memiliki dua buah taring di rahangnya. Ular besar itu dikalungkan dilehernya lalu mematuk kedua pipi dan kedua rahangnya secara terus menerus. Kemudian ular itu berkata,” Aku adalah hartamu, aku adalah simpananmu (yang tidak kamu keluarkan zakatnya). Kemudian beliau membaca ayat, “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Justru Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat.” (Shahih sunan nasa’i no : 2327, fathul bari 3/268 no 1403)

Selain itu terdapat pula ancaman yang sangat mengerikan bagi mereka yang tidak mau mengeluarkan zakat dari hartanya dalam firman Allah I :
وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ , يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ
“… Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu diletakkan (bara perhiasan tersebut) di dahi mereka, Lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.”(At taubah 34-35)

Al imam Ibnu Katsir rhm berkata tentang ayat ini:
“Dinyatakan bahwa setiap orang yang mencintai sesuatu dan lebih mendahulukannya dibanding ketaatan kepada Allâh, niscaya ia akan disiksa dengannya. Dan dikarenakan orang-orang yang disebut pada ayat ini lebih suka untuk menimbun harta kekayaannya daripada mencari keridhaan Allâh, maka mereka akan disiksa dengan harta kekayaannya. Sebagaimana halnya Abu Lahab semoga Allah I melaknatnya yang tidak pernah berhenti memusuhi Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, dan istrinya juga ikut membantunya dalam hal tersebut. Maka kelak pada hari kiamat, istrinya akan berbalik ikut serta menyiksa dirinya. Di leher istri Abu Lahab akan terikatkan tali dari sabut, dengannya ia mengumpulkan kayu-kayu bakar di neraka, lalu ia menimpakannya kepada Abu Lahab. Dengan cara ini, siksa Abu Lahab semakin terasa pedih, karena dilakukan oleh orang yang semasa hidupnya di dunia paling ia cintai. Demikianlah halnya para penimbun harta kekayaan. Harta kekayaan yang sangat ia cintai, kelak pada hari kiamat menjadi hal yang paling menyedihkannya. Di neraka Jahannam, harta kekayaannya itu akan dipanaskan, lalu digunakan untuk membakar dahi, perut, dan punggung mereka” (Tafsir Katsir surat At taubah 34-35)

Ibnu Hajar al-Asqalani rhm juga berkata:
“Dan hikmah dikembalikannya seluruh harta yang pernah ia miliki, padahal hak Allâh (zakat) yang wajib dikeluarkan hanyalah sebagiannya saja, ialah karena zakat yang harus dikeluarkan menyatu dengan seluruh harta dan tidak dapat dibedakan. Dan karena harta yang tidak dikeluarkan zakatnya adalah harta yang tidak suci.” (Lihat Fathul-Bâri, 3/305)

Syarat –syarat Pada Harta Yang Wajib Dikeluarkan Zakatnya
Harta yang wajib dikeluarkan zakatnya wajib memenuhi beberapa syarat-syarat berikut ini :
1. Harta tersebut masuk ke dalam jenis harta yang memang terkena wajib zakat. Sebab tidak semua harta terkena wajib zakat. Dan ini membutuhkan pembahasan tersendiri secara terperinci. Yang pasti emas dan perak salah satu jenis harta yang terkena wajib zakat padanya.
2. Harta tersebut harus mencapai nishab. Nishab adalah batas minimal dari harta zakat. Bila seseorang telah memiliki harta sebesar itu, maka ia wajib untuk mengeluarkan zakat.
3. Harta tersebut harus miliknya dengan kepemilikan sempurna. Sebab dalam dalil-dalilnya disebutkan penyandaran harta kepada pemiliknya. Seperti dalam firmanNya :
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka” (At taubah 103)
Juga firmanNya :
وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ
“Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu.”(Al ma’arij : 24).
4. Telah berlalu padanya satu tahun. Ini syarat umum, sebab ada beberapa harta yang penunaian zakatnya tidak perlu menunggu satu tahun. Misalkan zakat pertanian dikeluarkan zakatnya di hari panennya, dan yang lainnya yang pembahasannya di butuhkan bab tersendiri.

Nishab Zakat Emas Dan Perak
Jika emas dan perak sudah memenuhi syarat-syarat dikeluarkan zakat diatas, dan sudah berlalu satu tahun, maka ketika itu dia sudah wajib dikeluarkan zakatnya sekali dalam setahun. Dan pembahasan kita kali ini adalah nishab keduanya dan harta yang semakna dengannya, yaitu uang kertas. Nishab keduanya terdapat pada hadits Ali t bahwa Rasululah r bersabda :
فَإِذَا كَانَتْ لَكَ مِائَتَا دِرْهَمٍ، وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ، فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ، وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ – يَعْنِي – فِي الذَّهَبِ حَتَّى يَكُونَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا، فَإِذَا كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا، وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ، فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ، فَمَا زَادَ، فَبِحِسَابِ ذَلِكَ»

“Bila engkau memiliki dua ratus dirham dan telah berlalu satu tahun (sejak memilikinya), maka padanya engkau dikenai zakat sebesar lima dirham. Dan engkau tidak berkewajiban membayar zakat sedikitpun –maksudnya zakat emas– hingga engkau memiliki dua puluh dinar. Bila engkau telah memiliki dua puluh dinar dan telah berlalu satu tahun (sejak memilikinya), maka padanya engkau dikenai zakat setengah dinar. an setiap kelebihan dari (nishab) itu, maka zakatnya disesuaikan dengan hitungan itu”.(Riwayat Abu Dawud, al-Baihaqi, dan dishahîhkan oleh Syaikh al-Albani)

Dan pada riwayat Jabir bin Abdillah t Rasulullah r juga bersabda :
لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ أَوَاقٍ مِنَ الْوَرِقِ صَدَقَةٌ
“Tidaklah ada kewajiban zakat pada uang perak yang kurang dari lima Uqiyah.” (muttafaqun ‘alaihi)

Pada riwayat riwayat Abu Bakar radhiyallâhu’anhu dinyatakan:
وَفِي الرِّقَةِ رُبْعُ الْعُشْرِ
“Dan pada perak, diwajibkan zakat sebesar seperempatpuluh (2,5 %).” (Riwayat al-Bukhari 2/527 Bab : zakat pada kambing)

Hadits-hadits di atas adalah sebagian dalil tentang penentuan nishab zakat emas dan perak, dan dari dalil-dalil tersebut, kita dapat menyimpulkan beberapa hal:

1. Nishab emas adalah 20 (dua puluh) dinar. 1 dinar = 4,25 gram emas murni. Jadi 20 dinar = 85 gram emas murni 24 karat. Jika menggunakan emas yang 21 karat maka nishabnya 97 gram dan jika menggunakan emas 18 karat maka nishabnya 113 gram.
2. Nishab perak adalah 5 (lima) uqiyah/ 200 (dua ratus) dirham. 1 dirham = 2,975 gram perak. Jadi 200 dirham = 595 gram perak.
3. Kadar zakat yang harus dikeluarkan dari emas dan perak jika sudah mencapai nishab adalah 1/40 atau 2,5 %.

Cara Menghitung Zakat Emas Dan Perak.
Misalkan seseorang memiliki emas seberat ½ Kg. karena sudah melebihi batas nishab 85 gram dan sudah berlalu satu tahun maka cara perhitungan zakatnya yaitu :
500 gram x 1/40 : 12,5 gram
Atau
500 gram x 2,5 % : 12,5 gram
Demikian pula untuk menghitung zakat perak. Misalkan seseorang memiliki perak seberat 100 gram. Karena sudah melebihi batas nishab 595 gram dan berlalu satu tahun, maka cara perhitungan zakatnya adalah :
100 gram x 1/40 = 2,5 gram
Atau
100 gram x 2,5 % = 2,5 gram
Cara membayar zakat emas atau perak yang ia miliki, dibolehkan untuk memilih satu dari dua cara berikut :
Cara pertama, membeli emas atau perak sebesar zakat yang harus ia bayarkan, lalu memberikannya langsung kepada yang berhak menerimanya.
Cara kedua, ia membayarnya dengan uang kertas yang berlaku di negerinya sejumlah harga zakat (emas atau perak) yang harus ia bayarkan, sesuai dengan kurs harga emas saat itu.
Sebagai contoh kasus diatas untuk zakat emas dia bisa beli emas seberat 12,5 gram kemudian langsung diberikan kepada yang berhak menerimanya. Atau bisa dia cairkan menjadi uang kertas sesuai dengan kurs emas saat itu. Misalkan harga emas 24 karat saat itu Rp. 500.000/gram, maka zakat yang harus di keluarkan adalah:
Rp. 500.000 x 12,5 gram = Rp. 6.250.000
Untuk zakat perak juga demikian caranya.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin ? berkata:
“Aku berpendapat, bahwa tidak mengapa bagi seseorang membayarkan zakat emas dan perak dalam bentuk uang seharga zakatnya. Ia tidak harus mengeluarkannya dalam bentuk emas. Yang demikian itu, lebih bermanfaat bagi para penerima zakat. Biasanya, orang fakir, bila engkau beri pilihan antara menerima dalam bentuk kalung emas atau menerimanya dalam bentuk uang, mereka lebih memilih uang, karena itu lebih berguna baginya.”

Bersambung insyaallah……bag 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *