Mengenal Aqidah yang Benar

February 1, 2013

Pendahuluan

Salah satu hal yang tidak diragukan lagi bahwa pengetahuan tentang aqidah Islam adalah dasar pengetahuan yang layak mendapatkan perhatian semua kalangan. Lebih-lebih lagi di zaman yang penuh dengan pemahaman yang menyimpang, seperti atheisme, sufisme, paganism, dan bid’ah-bid’ah lainnya yang menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pemahaman yang menyimpang itu amat berbahaya bagi seorang muslim yang tidak membentengi diri dengan aqidah yang benar, yaitu aqidah yang diambil dari al-Quran dan as-Sunah dengan pemahaman salaful umah.

Berikut ini kami akan bawakan pembahasan ringkas tentang makna dan pentingnya aqidah, sumber, dan metode yang ditempuh para salaf dalam perkara ini, serta sebab-sebab penyimpangan dan beberapa perkara yang bisa menjaga aqidah. Tulisan ini merupakan rangkuman dari beberapa tulisan Asy-Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan, seorang ulama dari Saudi Arabia yang cukup disegani keilmuannya di zaman ini.

 

Makna dan Penjelasan Tentang Pentingnya Aqidah

Aqidah adalah apa yang diyakini dan dijadikan pedoman oleh seseorang. Jika aqidah itu sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh para Rasul, ia adalah aqidah yang benar, dan akan menyelamatkan seseorang dari azab Allah dan membawanya kepada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Namun  jika aqidah tersebut menyelisihi ajaran para Rasul, ia adalah aqidah yang salah, dan akan membawa seseorang kepada azab Allah dan kesengsaraan hidup di dunia dan akhirat.

Perkara aqidah ini begitu penting karena ia adalah dasar agama ini, dan dengannya amal shalih dianggap sah. Allah berfirman yang artinya: “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan apapun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. al-Kahfi: 110) “Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (al-Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)…” (QS. az-Zumar: 2-3) “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan gugurlah amalmu dan sungguh kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. az-Zumar: 65) Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa amal-amal kebajikan tidak akan diterima kecuali jika dikerjakan dengan aqidah yang benar.

Karena pentingnya perkara aqidah, para Rasul menjadikannya sebagai seruan yang paling pertama ketika berdakwah. Mereka menyeru kaum mereka agar beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan segala bentuk peribadatan kepada selain-Nya. Allah berfirman yang artinya: “Dan sungguh Kami telah mengutus seorang rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (QS. an-Nahl: 36) Maka seruan yang mereka ucapkan pertama kali kepada kaumnya adalah: “Wahai kaumku sembahlah Allah, tak ada sesembahan yang benar bagimu selain-Nya.” (QS. al-A’raaf: 59, 65, 73, 85) Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, dan segenap para Nabi ‘alaihimushalaatu wa salaam mengatakan hal ini kepada kaumnya.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Mekah selama tiga belas tahun menyeru manusia untuk mentauhidkan Allah dan memperbaiki aqidah. Dan sungguh para da’i dan orang-orang yang mengadakan perbaikan di setiap zaman telah mengikuti jejak para Nabi dan Rasul tersebut. Mereka memulai dakwahnya dengan menyeru manusia untuk bertauhid dan memperbaiki aqidah, kemudian setelah itu menyerukan perintah-perintah agama yang lain.

 

Sumber dan Metode yang ditempuh Oleh Para SalafDalam Perkara Aqidah

Permasalahan aqidah adalah perkara yang sifatnya tauqifiyah (Yaitu tidak memahami kecuali dari apa yang terdapat didalam Al-Qur’an dan As-Sunnah); tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil dari syariat, bukan produk akal ataupun hasil ijtihad. Karena tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allah daripada diri-Nya sendiri dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian sumber aqidah hanya terbatas dari al-Quran dan as-Sunnah. Dan metode inilah yang ditempuh oleh para salaf dalam perkara aqidah, mereka tidak mengambilnya kecuali dari al-Quran dan as-Sunnah.

Dengan demikian mereka mengimani, meyakini, dan memenuhi segenap hak Allah yang terdapat di dalam al-Quran dan as-Sunah. Mereka juga menafikan dan menolak semua perkara tentang Allah yang tidak memiliki keterangan dari kedua sumber tadi. Mereka tidak berselisih dalam perkara aqidah. Aqidah dan jama’ah mereka satu. Allah telah menjamin akan mempersatukan kalimat dan kebenaran aqidah serta manhaj, bagi mereka yang berpegang dengan al-Quran dan as-Sunnah. Allah berfirman yang artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai..” (QS. al-‘Imraan: 103) “Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaahaa: 123).

Ini adalah metode yang benar dalam perkara aqidah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan bahwa umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semua golongan itu akan masuk neraka kecuali satu, yaitu mereka yang menjalani agama ini seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Beliau bersabda tentang satu golongan yang selamat ini: “Mereka adalah orang-orang yang beragama seperti apa yang aku dan sahabatku jalani pada hari ini.” (HR. Tirmidzi 2641)

Dan sungguh umat ini telah terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan seperti yang diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika mereka mengambil aqidah mereka bukan dari al-Quran dan as-Sunnah, tapi dari Ilmu Kalam dan kaidah-kaidah debat warisan para filosof Yunani. Sehingga terjadilah penyimpangan dan perselisihan dalam perkara aqidah yang mengakibatkan tercerai berainya umat dan terpecahnya persatuan kaum muslimin.

 

Sebab-sebab Penyimpangan Aqidah

Menyimpang dari aqidah yang benar adalah kebinasaan. Jika seseorang tidak memiliki aqidah yang benar, ia akan hidup dalam keraguan dan kebimbangan. Bisa jadi keduanya akan mendominasi dirinya sehingga ia tidak bisa lagi memandang dengan benar tentang makna hidup bahagia. Kemudian dengan pandangannya yang salah itu, ia merasa sempit dengan cobaan-cobaan hidup yang menimpanya dan berusaha melepaskan diri dari cobaan-cobaan itu dengan mengakhiri hidupnya. Masyarakat yang tidak memiliki aqidah yang benar adalah masyarakat yang menyerupai perangai binatang, sebagaimana yang kita saksikan di negara-negara kafir.

Berikut ini adalah sebab-sebab utama penyimpangan aqidah yang harus kita ketahui:

1.    Tidak mengerti tentang aqidah yang benar; karena tidak mau mempelajari atau mengajarkannya, atau karena menganggapnya sesuatu yang tidak penting.

2.    Fanatik dengan ajaran nenek moyang dan berpegang teguh dengannya walaupun salah, serta meninggalkan kebenaran yang menyelisihi ajaran tersebut. Allah berfirman yang artinya: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. al-Baqarah: 170)

3.    Taklid buta terhadap seseorang; mengambil segala ucapannya dalam perkara aqidah tanpa mengetahui dalil atau keshahihan dalil tersebut. Sebagaimana yang terjadi pada kelompok-kelompok menyimpang, seperti: Jahmiyah, Mu’tazilah, Shufiyah dan lain-lain.

4.    Sikap berlebihan menghormati orang-orang shalih dan mengangkat mereka di atas kedudukan yang semestinya; dengan meyakini bahwa orang-orang shalih itu mampu memberi manfaat dan menolak mudharat seperti Allah, lalu mereka dijadikan sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah.

5.    Lalai dari mentadaburi ayat-ayat Allah yang bersifat kauniyah dan syar’iyah, dan tenggelam dalam pola hidup yang materialis.

6.    Suasana rumah yang kosong dari ajaran Islam yang benar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap anak dilahirkan diatas fitrah, lalu kedua orang tuanya lah yang menjadikannya yahudi, nashrani ataupun majusi.”(HR. Bukhari 1319) Maka orang tua memiliki peranan penting terhadap pola berfikir seorang anak.

7.    Sarana pendidikan dan media massa yang tidak memenuhi kewajiban mengajarkan aqidah yang benar. Sungguh mayoritas metode pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah sedikit sekali memperhatikan masalah agama atau bahkan sama sekali tidak memperhatikannya, dan mayoritas media massa justru berisi banyak hal yang dapat menghancurkan dan memalingkan seseorang dari aqidah yang benar.

 

Beberapa Cara Untuk Menjaga Aqidah

Karena begitu pentingnya aqidah dan begitu banyaknya faktor yang dapat memalingkan kita darinya, sudah semestinya kita menjaga aqidah ini. Berikut ini beberapa hal yang bisa ditempuh untuk menjaga aqidah kita agar tetap lurus.

1.    Kembali kepada al-Quran dan as-Sunah dengan pemahaman salaful umah dalam beragama. Kemudian menelaah aqidah-aqidah yang menyimpang serta mempelajari subhat-subhat mereka agar mengerti kesalahan-kesalahan mereka dan bisa membantahnya.

2.    Perhatian terhadap pelajaran aqidah yang benar pada semua jenjang pendidikan, memberi porsi yang cukup untuk pelajaran ini di sekolah-sekolah, dan benar-benar teliti dalam memberikan latihan tentangnya.

3.    Menjadikan kitab-kitab bermanhaj salaf sebagai buku pedoman dalam pelajaran aqidah.

4.    Menggencarkan dakwah untuk kembali kepada aqidah salaf dan membantah kesesatan orang-orang yang menyimpang darinya.

 

Penutup

Demikianlah ringkasan ini kami tulis, semoga bermanfaat dan mudah-mudahan Allah memberi kita hidayah untuk memahami aqidah dengan benar dan menyelamatkan kita dari berbagai penyimpangan.

 

Sumber

‘Aqidah Tauhid dan al-Irsyad ilaa Shahihil I’tiqad, DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan  

 

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
«
Next Post
»