Jenis-Jenis Air

Air tidak keluar dari dua jenis:

  1. Air Mutlak

Yaitu air yang keadaannya masih seperti asal penciptaannya. Ia adalah setiap air yang keluar dari bumi atau turun dari langit. Allah Taala berfirman, “..dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu..” (QS. al-Anfaal : 11) Masuk dalam pengertian ini air sungai, salju, embun dan air sumur. Bahkan walaupun air tersebut berubah karena terlalu lama atau tercampur dengan benda suci yang tidak mungkin dihindari. Demikian pula air laut, karena Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda ketika ditanya tentang air laut, “Ia suci airnya dan halal bangkainya.

Air yang seperti ini tidak diperselisihkan oleh para ulama kebolehan penggunaannya untuk wudhu dan mandi walaupun tercampur sedikit dengan benda yang suci selama masih disebut sebagai air. Dalam hadits Ummu Hani, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaih wa sallam dan Maimunah mandi dari satu tempat air dengan mangkuk ceper besar yang masih ada bekas adonannya.” (HR. an-Nasaai 240) Dan berdasarkan perintah Nabi shallallahu alaih wa sallam kepada para wanita yang memandikan putri beliau, Zainab, “Mandikanlah dia tiga kali dengan air dan daun bidara, dan buatlah di akhirnya dengan kafur.” (HR. al-Bukhari 1253)

Jika air tersebut tercampur dengan benda suci sampai tidak lagi bisa disebut dengan ‘air’ saja, dan dinamakan dengan sebutan lain, seperti teh, maka ia tidak boleh digunakan untuk bersuci. Demikian pula air perasan dari sesuatu yang suci, seperti air dari bunga mawar dan semisalnya, tidak boleh digunakan untuk bersuci dari hadats sebab pada hakikatnya ia tidak disebut air. Ibnul Mundzir berkata, “Telah sepakat orang-orang yang kami hafal ucapannya dari kalangan ulama, bahwa berwudhu tidak boleh dengan air bunga mawar, air pohon, dan air ‘ashfar. Thaharah hanya boleh dilakukan dengan air mutlak yang sebutan ‘air’ melekat padanya.”

 

  1. Air Najis

Yaitu air yang tercampur dengan benda najis sampai berubah salah satu dari tiga sifatnya: baunya, warnanya atau rasanya. Sehingga si pengguna air akan meyakini bahwa dirinya sedang menggunakan benda najis. Air seperti ini tidak boleh digunakan untuk berwudhu karena ia adalah benda najis.

 

Berwudhu Dengan Air Yang Jatuh Dari Anggota Wudhu

Air yang menetes dari anggota badan orang yang berwudhu dan semisalnya disebut dengan air musta’mal (air yang telah digunakan). Terjadi perselisihan di kalangan ulama tentang air musta’mal ini: Apakah dengan sebab tersebut ia telah keluar dari sifat menyucikan atau tidak? Pendapat yang kuat adalah bahwa air ini tetap memiliki sifat menyucikan selama tidak keluar dari sebutan ‘air mutlak’ dan tidak bercampur dengan benda najis yang merubah salah satu dari tiga sifatnya. Ini adalah pendapat Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, Abu Umamah, dan sekelompok Salaf. Ia juga merupakan pendapat yang masyhur dari mazhab Imam Malik, salah satu dari dua pendapat Imam Syafii dan Ahmad, mazhabnya Ibnu Hazm, Ibnul Mundzir dan pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Alasan yang mendukung pendapat ini adalah sebagai berikut:

Pada asalnya air adalah suci dan tidak dinajiskan dengan sesuatu apapun. Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Air itu suci dan tidak menjadi najis dengan sesuatu apapun.” (HR. Abu Dawud 266) Kecuali jika berubah salah satu dari tiga sifatnya, atau keluar dari penyebutannya sebagai ‘air’ karena bercampur dengan sesuatu yang suci.

Terdapat riwayat shahih yang menerangkan bahwa para sahabat dahulu menggunakan sisa air wudhu Nabi shallallahu alaih wa sallam. Berikut ini adalah beberapa riwayat tersebut:

  1. Dari Abu Juhaifah, dia berkata, “Nabi shallallahu alaih wa sallam pernah keluar menemui kami pada tengah hari. Dibawakanlah air wudhu untuk beliau, lalu beliau pun berwudhu. Maka orang-orang segera mengambil sisa wudhu beliau dan membasuhkannya ke badan mereka.” (HR. al-Bukhari 187) Tentang riwayat ini, Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (1/353) mengatakan, “Ada kemungkinan bahwa yang mereka ambil adalah air yang menetes dari anggota wudhu Nabi shallallahu alaih wa sallam. Ini merupakan keterangan jelas yang menunjukkan sucinya air musta’mal.”
  2. Dalam hadits al-Miswar bin Makhramah, dia berkata, “Jika Nabi shallallahu alaih wa sallam berwudhu, para sahabat saling berebut untuk mendapatkan sisa wudhu beliau.” (HR. al-Bukhari 189)
  3. Dari Abu Musa al-Asy’ari, dia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaih wa sallam pernah meminta wadah berisi air. Kemudian beliau mencuci tangan dan wajah beliau di dalam wadah tersebut. Lalu beliau berkumur dan membuang air kumur beliau juga di wadah itu. Kemudian beliau berkata kepada Abu Musa dan Bilal, “Minumlah air itu dan basuhlah wajah dan leher-leher kalian dengannya.” (HR. al-Bukhari 188)

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata, “Dahulu di zaman Nabi shallallahu alaih wa salam laki-laki dan perempuan berwudhu bersama-sama.” (HR. al-Bukhari 193) Dalam riwayat lain ia berkata, “Kami dan para wanita di masa Nabi shallallahu alaih wa sallam berwudhu dari satu wadah. Kami menciduk air dengan tangan-tangan kami.”

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaih wa sallam biasa mandi dengan air sisa Maimunah.” (HR. Muslim 323)

Dari Rabi’ binti Mu’awwidz, ia berkata, “Nabi shallallahu alaih wa sallam membasuh kepala beliau dengan sisa air yang ada di tangan beliau.” (HR. Abu Dawud 130)

Ibnul Mundzir berkata dalam al-Awsath (1/288), “Ijma para ulama tentang sucinya air yang menempel pada anggota badan orang yang berwudhu atau mandi, lalu air itu menetes ke pakaiannya, menunjukkan sucinya air musta’mal. Jika demikian, tidak ada alasan untuk melarang orang berwudhu dengan air tersebut.”

Demikianlah beberapa keterangan tentang hukum air musta’amal. Namun ada sekelompok ulama yang berpendapat tidak boleh berwudhu dengan air musta’mal. Seperti Imam Malik, al-Auzai, asy-Syafi’i (salah satu dari dua pendapat yang diriwayatkan dari beliau) dan para pengguna ra`yu. Namun pendapat ini tidak memiliki dalil yang cukup menentramkan hati.

 

Bolehnya Seorang Laki-laki Mandi Dari Air Sisa Wanita

Terdapat dua pendapat tentang hukum bersuci bagi seorang laki-laki dengan sisa air yang digunakan berwudhu atau mandi oleh seorang wanita:

Pendapat pertama, tidak boleh seorang laki-laki bersuci dengan sisa air seorang wanita. Ini adalah mazhab Ibnu Umar, Abdullah bin Sarjis, Ummul Mukminin Juwairiyah binti al-Harits, al-Hasan, radhiyallahu anhum, Ahmad bin Hanbal, Ishaq, Imam Syafii dan Dawud azh-Zhahiri. Alasan mereka adalah sebagai berikut:

  1. Diriwayatkan dari al-Hakam bin Amr al-Aqra’, bahwa Nabi shallallahu alaih wa sallam melarang laki-laki berwudhu dengan air sisa bersucinya wanita. (HR. Abu Dawud 82)
  2. Diriwayatkan dari Humaid al-Himyari, ia berkata, “Aku bertemu dengan seorang laki-laki yang telah menyertai Nabi shallallahu alaih wa sallam selama empat tahun, sebagaimana Abu Hurairah menemani beliau, ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaih wa sallam melarang wanita mandi dengan air sisa laki-laki, atau laki-laki mandi dengan air sisa wanita. Hendaknya mereka menciduk air itu bersama-sama.” (HR. Abu Dawud)
  3. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, dia berkata, “Nabi shallallahu alaih wa sallam dan istri beliau mandi dari satu tempat air. Namun tidaklah salah satu dari mereka mandi dengan sisa air dari yang lain.” (HR. Ibnu Majah)

 

Pendapat kedua, seorang laki-laki boleh bersuci dengan sisa air wanita. Ini adalah pendapat Umar, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, Sa’ad bin Abi Waqqash dan sekelompok salaf; Abu Ubaid, Ibnul Mundzir, dan ini adalah pendapat mazhab Hanafi, Malik, Syafi’i dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Alasan mereka adalah sebagai berikut:

  1. Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, bahwa Nabi shallallahu alaih wa sallam biasa mandi dengan sisa air Maimunah. (HR. Muslim 323)
  2. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Salah seorang istri Nabi shallallahu alaih wa sallam pernah mandi dari sebuah wadah air kecil. Kemudian Nabi shallallahu alaih wa sallam datang. Istri beliau pun lantas berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tadi dalam keadaan junub.” Maka Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Sesungguhnya air tidak berjunub.” (HR. Abu Dawud 68)
  3. Dari Aisyah radhiyallahu anha, dia berkata, “Dahulu aku dan Nabi shallallahu alaih wa sallam mandi dari satu tempat air, dan kami berdua dalam keadaan junub.” (HR. al-Bukhari 299) Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Kami menciduk dari tempat air itu bersama-sama.”

Dalil yang cukup kuat dari mazhab pertama adalah hadits seorang laki-laki yang menyertai Nabi shallallahu alaih wa sallam selama empat tahun, bersamaan dengan semua dalil mazhab kedua. Dalil-dalil dari kedua mazhab ini dapat dikompromikan dengan dua cara:

  1. Membawa dalil larangan untuk air yang jatuh/menetes dari anggota-anggota badan, sedangkan dalil pembolehan untuk air yang masih tersisa di dalam wadah. Dengan cara inilah al-Khaththabi mengkompromikan dalil-dalil yang ada.
  2. Membawa dalil-dalil larangan kepada larangan yang bersifat tanzih/makruh.

 

(Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal)

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *