Shalat berjamaah mengandung banyak manfaat yang karenanya ia disyariatkan. Berikut ini adalah beberapa manfaat shalat berjamaah:

 

Allah menetapkan syariat agar umat ini berkumpul pada waktu-waktu tertentu

Di antaranya adalah lima kali berkumpul dalam sehari semalam dengan shalat lima waktu, sekali dalam sepekan dengan shalat jumat, sekali dalam setahun dengan shalat dua hari raya, sekali dalam seumur hidup untuk semua kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia dengan wuquf di Arafah. Semua perkumpulan ini disyariatkan dengan tujuan menjalin interaksi yang baik, dengan berbuat ihsan dan saling menyayangi, membersihkan hati, dan berdakwah menuju Allah dengan perkaatan dan perbuatan.

 

Menumbuhkan perasaan saling mencintai

Dengan shalat berjamaah, kaum muslimin akan saling bertemu dan mengetahui keadaan sesama mereka. Sehingga akan tumbuh perasaan saling mencintai dan rasa kebersamaan. Kemudian yang sakit dikunjungi, yang telah meninggal diiringi jenazahnya, dan yang membutuhkan uluran tangan dibantu.

 

Saling mengenal satu dengan yang lain

Dengan shalat berjamaah akan terjadi proses saling mengenal. Terkadang dengan saling mengenal akan diketahui hubungan kekerabatan, dan dengan sebab itu terjadilah penyambungan tali kekerabatan. Terkadang dengan shalat berjamaah, diketahui keadaan orang yang berada dalam perjalanan, sehingga orang-orang menunaikan kewajiban yang harus berikan kepada orang tersebut.

 

Menampakkan syiar Islam yang agung: shalat

Seandainya semua orang shalat di rumah masing-masing, tidak ada yang mengerti bahwa ada syiar Islam yang begitu mulia, yaitu shalat.

 

Menampakkan wibawa kaum muslimin

Ketika kaum muslimin masuk ke masjid-masjid, kemudian keluar bersama-sama, hal itu akan membuat jengkel orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Dan ia juga merupakan sikap menjauhkan diri dari tasyabbuh dengan mereka, dan dari jalan sesat yang mereka tempuh.

 

Membiasakan umat Islam untuk bersatu dan tidak berpecah belah

Umat Islam sepakat untuk menaati penguasa. Sementara di dalam shalat berjamaah terdapat suatu bentuk kepemimpinan kecil. Ketika shalat jamaah, mereka mengikuti satu imam dengan sempurna. Ini adalah salah satu gambaran umum tentang Islam.

 

Membiasakan orang untuk menahan/menekan hawa nafsunya

Seseorang yang terbiasa mengikuti imam dengan cermat; tidak bertakbir mendahului imam, atau terlambat terlalu lama, juga tidak berbarengan dengannya, akan terbiasa untuk menahan hawa nafsunya.

 

Menumbuhkan sikap disiplin

Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (ash-Shaff: 4) Apabila kaum muslimin telah terbiasa berdisiplin dalam shalat lima waktu, niscaya itu akan menjadi wasilah terbentuknya sikap disiplin terhadap pimpinan dalam jihad fii sabilillah. Mereka tidak akan mendahului atau berlambat-lambat dalam melaksanakan perintah-perintah pimpinan.

 

Menumbuhkan rasa persamaan dan menghilangkan jarak di antara mereka

Dalam shalat berjamaah, orang yang paling kaya akan berdampingan dengan orang yang paling fakir. Pemimpin/pejabat akan berdampingan dengan orang yang dipimpin. Hakim akan berdampingan dengan orang yang dihukumi. Yang muda akan berdampingan dengan orang tua, dan seterusnya. Dengan demikian, semua akan merasa bahwa mereka sama, sehingga terjadilah rasa kebersamaan dan keakraban. Oleh karena inilah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk meluruskan shaf, sampai-sampai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian  tidak rapi dalam bershaff, sehingga hati-hati kalian pun akan centang perentang.” (HR. Muslim 432)

 

Mengerti keadaan orang yang fakir, sakit, atau yang menganggap remeh shalat

Apabila seseorang melihat ada yang berpakaian lusuh, dan menampakkan tanda kelaparan, niscaya akan timbul rasa belas kasih, dan ia akan berbuat baik kepadanya. Demikian pula apabila ada sebagian orang yang tidak menghadiri shalat berjamaah, akan diketahui apakah ia sedang sakit, atau ia memang orang yang suka bermaksiat dan butuh nasehat. Dengan ini, terjadilah sikap saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan, dan saling menasehati dalam kebenaran, amar makruf dan nahi munkar.

 

Merasakan apa yang dijalani oleh pendahulu umat ini

Seorang imam akan merasakan bahwa ia sedang menempati posisi seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan makmum menempati posisi seperti para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Ini akan membangkitkan semangat kaum muslimin untuk bersungguh-sungguh meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat.

 

Mendapatkan ganjaran pahala berlipat ganda

Orang yang shalat berjamaah akan mendapatkan pahala 27 kali dari shalat sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan perbedaan 27 derajat.” Dalam lafaz Muslim, beliau bersabda, “Shalat berjamaah lebih afdhal 27 derajat dari shalat sendirian.” (Muttafaqun ‘alaih) Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat dalam satu jamaah lebih utama 25 derajat daripada shalat sendirian.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Berkenaan dengan dua hadits di atas dan yang semisalnya, Imam an-Nawawi mengatakan, “Bentuk penggabungan antara hadits-hadits tersebut ada tiga:

Hadits-hadits tersebut tidak saling menafikan. Jumlah yang sedikit tidak menafikan jumlah yang banyak.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pertama-tama mengabarkan jumlah yang sedikit, kemudian Allah Taala menambah keutamaan itu, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengabarkannya.

Perbedaan itu tergantung pada keadaan orang yang mengerjakan shalat. Sebagian mereka mendapat 25 derajat, sementara yang lain 27 derajat, sesuai dengan kesempurnaan shalat, kekhusyukannya, banyak sedikitnya jamaah, tata cara pelaksanaannya, dan yang semisalnya. Ini adalah beberapa jawaban yang memiliki sandaran.” (Syarh an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim 2/156-157)

Orang yang shalat sendirian, yang tidak mendapat pahala seperti pahala shalat berjamaah, adalah orang yang shalat sendirian tanpa uzur/alasan yang dibenarkan syariat, seperti sakit, safar atau terhalang oleh sesuatu yang membuatnya tidak bisa shalat berjamaah. Allah Maha mengetahui siapa yang berniat bahwa seandainya ia mampu untuk shalat berjamaah, ia tidak akan meninggalkannya. Yang seperti ini, pahalanya tetap akan disempurnakan oleh Allah. Sebab barangsiapa bertekad dengan sungguh-sungguh untuk melakukan sesuatu, kemudian melakukannya sesuai degan kemampuannya, maka ia seperti orang yang melakukan apa yang diniatkan itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang hamba sakit atau dalam perjalanan, maka akan ditulis baginya apa yang biasa ia lakukan ketika menetap dan sehat.” (HR. al-Bukhari 2996) (Shalatul Jama’ah, Mafhuum wa Fadhaail wa Ahkaam wa Fawaaidu wa Adaab fii Dhaui al-Kitab wa as-Sunnah, DR. Said bin ‘Ali bin Wahf al-Qhahthaniy)

Silahkan Download File Pdf: Download

 

 

 

3 Comments

  • Abu tamara says:

    1.Bismillah,,afwan ustadz,,ada pertanyaan,,tentang diwajibkannya melaksanakan shalat ketika terdengar adzan/ panggilan shalat,,mohon minta dalil dan penjelasanya,,
    2.Selanjutnya tentang apakah ada riwayat tentang perhitungan jarak orang diwajibkan shalat itu 40 rumah,,
    3.Lebih utama manakah berangkat ke masjid untuk shalat dng berjalan atau berkendaraan,,dan apakah yg berkendaraan langkahnya tdk dihitung sbg amalan baik/ shalaih,,seperti dihitungnya setiap langkah 1 kebaikan ketika berangkat ke masjid dng berjalan kaki,,
    Mohon penjelasan,,Jazakallahu khair

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, Di antara dalil-dalilnya adalah:
      1. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
      مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ
      “Barangsiapa yang mendengar azan lalu tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali bila ada udzur.” (Hr. Abu Daud dan Ibnu Majah. Hadits ini dinilai shahih oleh Syekh al-Albani dalam Misykat al-Mashabih: 1077 dan Irwa’ al-Ghalil no. 551)
      2. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan dalam shahih al-Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ
      “Demi Zat yang jiwaku ada ditangan-Nya, sungguh aku ingin memerintahkan untuk mengumpulkan kayu bakar lalu terkumpul, kemudian memerintahkan untuk shalat dan dikumandangkan azan. Kemudian aku perintah seseorang untuk mengimami shalat, lalu aku pergi melihat orang-orang dan membakar rumah-rumah mereka.” (Hr. Bukhari)
      3. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, yang berbunyi,
      أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ
      “Seorang lelaki buta menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak memiliki seorang penuntun yang bisa menuntunku berjalan ke mesjid.’ Kemudian ia memohon kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar diberikan keringanan sehingga dia boleh shalat di rumahnya, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkannya. Ketika orang tersebut berpaling pergi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya dan berkata, ‘Apakah kamu mendengar adzan shalat?’ Ia menjawab, ‘Iya.’ Beliau pun menyatakan, ‘Maka datangilah!’”
      Kedua : tentang riwayat 40 rumah kami belum mendapatkannya.
      Ketiga : tentunya berjalan kaki ke masjid untuk memenuhi panggilan sholat wajib lebih afdhol dari pada berkendara karena lebih mencocoki hadits-hadits Nabi shallallahu’alaihi wasallam diantaranya.
      Dari Abu Hurairah radhiallahua ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
      صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَفِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ فَإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلْ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ وَلَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلَاةَ

      “Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjama’ah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo’akannya selama dia masih berada di tempat shalatnya, ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia’. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 131 dan Muslim no. 649)
      Juga Dari Abu Musa berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
      إِنَّ أَعْظَمَ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلَاةِ أَبْعَدُهُمْ إِلَيْهَا مَمْشًى فَأَبْعَدُهُمْ وَالَّذِي يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الْإِمَامِ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ الَّذِي يُصَلِّيهَا ثُمَّ يَنَامُ
      “Manusia paling besar pahalanya dalam shalat adalah yang paling jauh perjalannya, lalu yang selanjutnya. Dan seseorang yang menunggu shalat hingga melakukannya bersama imam, lebih besar pahalanya daripada yang melakukannya (sendirian) kemudian tidur.”(HR. Muslim no. 662)
      Bahkan pahala berjalan ke masjid sama pahalanya seperti ribath (berjaga di daerah perbatasan musuh). Dari Abu Hurairah

      أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ, فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ

      “Maukah kalian aku tunjukkan atas sesuatu yang dengannya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudhu pada keadaan yang dibenci (seperti pada keadaan yang sangat dingin, pent.), banyak berjalan ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat. Maka itulah ribath, itulah ribath.” (HR. Muslim no. 251)
      Melihat semua keutamaan di atas, maka hendaknya orang yang sanggup untuk berjalan kaki ke masjid, hendaknya dia tidak menggunakan kendaraan karena pahalanya tidaklah sama. Ini ditunjukkan oleh hadits Ubay bin Ka’ab di atas. Tapi meski demikian mereka yang mendatangi masjid dengan berkendara juga mendapatkan pahala yan g besar berdasarkan dalil secara umum dari keutamaan mendatangi masjid secara secara muthlaq baik berjalan kaki maupun berkendara, Allahua’lam

  • Abu tamara says:

    Na’am,,syukran kastiran,,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *