Macam-Macam Syafaat

March 8, 2016

Fasal Keempat : Pembagian Syafaat Secara Umum

Syafaat secara umum terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Syafaat di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.
2. Syafaat di sisi mahluk

Yang pertama, insyaAllah kita akan merinci pembagian syafaat di sisi mahluk. Dalam perkara ini syafaat terbagai menjadi dua, yaitu :

Pertama : Syafaat Hasanah ( Baik )
Yaitu seseorang menjadi perantara terjadinya sesuatu yang baik, bermanfaat atau sesuatu yang sifatnya mubah. Sehingga dengan sebab perantaranya terjadi sesuatu yang baik dan bermanfa’at bagi kaum muslimin. Sebagai contoh, ada sekelompok kaum muslimin sedang mencari tempat untuk terselenggaranya majelis ta’lim, lalu ada seseorang yang menyediakan tempat di rumahnya atau selainnya sehingga majelis ta’lim bisa terselenggara dan akhirnya bermanfaat bagi kaum muslimin. Maka dalam hal ini seorang tersebut telah memberikan syafaat hasanah, menjadi perantara antara ilmu syar’i dan kaum muslimin, yang insyaAllah dia akan mendapatkan bagian pahala yang besar dari Allah‘Azza wa Jalla. Seperti dalam firman-Nya :
مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا
“Barangsiapa yang memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya” (An Nisa : 85)

Kedua : Syafaat Yang Buruk
Yaitu seorang menjadi perantara yang mengakibatkan terjadi suatu perkara-perkara yang haram. Misalkan seorang hakim menjadi perantara agar tidak terlaksananya hudud ( hukum Allah ‘Azza wa Jalla /qishas), yaitu dengan sebab dia menerima suap akhirnya membatalkan hukum qisas terhadap seseorang yang sebenarnya berhak untuk ditegakkan qisas terhadapnya. Maka dari itu orang tersebut termasuk memberi syafaat yang buruk yaitu menyebabkan tidak tegaknya hukum Allah ‘Azza wa Jalla. Jika demikian adanya maka dia akan menanggung beban dosanya. Seperti dalam firmanNya :

وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا
“Dan Barangsiapa memberi syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” ( An Nisa : 85 )

Kemudian pembahasan kedua, yaitu syafaat disisi Allah ‘Azza wa Jalla . Pembahasan ini sangat berbeda sekali dengan syafaat di sisi mahluk. Syafaat disisi Allah harus memenuhi dua syarat :
Pertama : Harus dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla. Jadi tidak ada seorangpun yang bisa memberikan syafaat kecuali dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla. Seperti dalam firmanNya :
مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
“Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.”(Al Baqarah : 255)

Kedua : Keadaan orang yang diberi syafaat itu harus dari ahli tauhid dan iman, juga termasuk dari orang-orang yang Allah ‘Azza wa Jalla ridhai ucapan dan amalannya. Sebagaimana dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla :
وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ
“Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah ‘Azza wa Jalla, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. (Al Anbiya’ : 28)
Maka dengan demikian, termasuk yang tidak bermanfaat dari syafaat tersebut adalah untuk orang-orang kafir dan musyrikin. Seperti dalam firmanNya :
فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ
“ Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat.” (Al Mudatstsir : 48)
Yaitu syafaat yang tidak bisa memberi manfaat. Syafaat yang dulunya mereka yakini dari sesembahan mereka yang dianggap bisa menyelamatkan mereka di sisi Allah ‘Azza wa Jalla , syafaat ini sama sekali tidak akan memberikan manfaat kepada mereka. Karena Allah ‘Azza wa Jalla tidak ridha terhadap kemusyrikan orang-orang musyrik tersebut dan tidak mungkin Allah mengizinkan kepada siapapun untuk memberikan syafaat kepada mereka, karena tiada syafaat kecuali bagi orang-orang yang diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Allah ‘Azza wa Jalla tidak ridha akan kekufuran bagi hamba-hambaNya dan tidak menyukai kerusakan.
Dan juga tidak berguna syafaat bagi orang-orang yang zalim, seperti dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla :
مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ
“ Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya.” (Al mukmin : 18)

Dan juga firman Allah ‘Azza wa Jalla :
وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَذَكِّرْ بِهِ أَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ وَإِنْ تَعْدِلْ كُلَّ عَدْلٍ لَا يُؤْخَذْ مِنْهَا
Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau sedangkan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Ingatkanlah mereka dengan Al Quran agar mereka tidak terjerumus ke dalam api neraka karena perbuatan mereka sendiri. Tidak ada pelindung dan pemberi syafaat baginya selain dari Allah. Dan jika mereka hendak menebus kesalahan dengan harga apa pun maka tebusan itu tidak akan diterima.” (Al An’am : 70)

1011810_836794033002980_4146645740392418733_n

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *