Banyak Berdzikir, Banyak Beruntung

Di dalam Kitab-Nya, Allah Subhaanahu wa Taala memerintahkan hamba-Nya yang beriman untuk memperbanyak zikir mengingat-Nya, baik ketika berdiri, duduk maupun berbaring, di waktu siang maupun malam, di daratan maupun di lautan, dalam perjalanan maupun saat sedang menetap, ketika miskin maupun kaya, sakit maupun sehat, dengan lirih atau suara yang jelas. Dan di balik itu semua ada pahala yang besar, balasan yang banyak dan tempat kembali yang indah.

Allah Taala berfirman, Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: Salam. Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.” (al-Ahzaab: 41-44) “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (al-Baqarah: 151-152)

Orang yang banyak berzikir mengingat Allah akan mendapat shalawat yang lebih banyak dan sempurna, dari Allah dan para malaikat-Nya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, tentang makna ayat di atas, beliau berkata, “Apabila kalian melakukan hal itu (banyak berzikir mengingat Allah) niscaya Allah dan para malaikat juga akan bershalawat untuk kalian.”

Shalawat Allah kepada hamba-Nya yang berzikir adalah pujian Allah untuk mereka di hadapan para malaikat. Sedangkan shalawat malaikat maknanya adalah doa dan istighfar para malaikat untuk mereka. Hal ini sebagaimana Allah firmankan, “Malaikat-malaikat yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam Surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar.” (Ghafir 7-9)

Lalu dengan sebab rahmat dan pujian Allah serta doa para malaikat kepada orang-orang yang banyak berzikir, mereka dikeluarkan dari kegelapan menuju cahaya. Allah berfirman, “Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (al-Ahzaab: 43) Mereka dikeluarkan dari gelapnya kebodohan dan kesesatan menuju cahaya hidayah dan keyakinan. Kemudian Allah berfirman bahwa Dia merahmati orang-orang yang beriman. Rahmat Allah kepada orang beriman adalah di dunia dan akhirat. Allah merahmati mereka di dunia dengan memberi mereka hidayah kepada kebenaran, sementara orang-orang selain mereka tidak mengetahui kebenaran tersebut. Allah membuat mereka dapat melihat dengan jelas jalan kebenaran, sementara orang lain yang menyeru kepada kekufuran, kebid’ahan dan kebatilan justru telah tersesat dari jalan tersebut. Adapun rahmat Allah kepada orang beriman di akhirat, adalah dengan memberi mereka rasa aman dari ketakutan yang sangat dahsyat, memerintahkan kepada malaikat-Nya untuk menemui mereka dengan kabar gembira, keberuntungan, surga dan keselamatan dari neraka. Itu semua tidaklah Allah berikan kecuali karena kasih sayang-Nya kepada mereka.

Pada ayat yang lain, Allah Taala berfirman menjelaskan keutamaan laki-laki dan wanita yang banyak berzikir kepada Allah. “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzaab: 35) Allah telah menyiapkan ampunan dan pemaafan atas dosa-dosa mereka, pahala yang besar dan derajat yang tinggi di surga sebagai balasan untuk amal saleh mereka. Balasan yang tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar di telinga, dan tak pernah terbayangkan di hati setiap insan.

Sungguh, siapa yang memperhatikan nas-nas di atas dan nas lainnya yang masih banyak, yang menerangkan besarnya pahala dan balasan yang Allah sediakan bagi orang-orang yang banyak berzikir mengingat Allah, maka dirinya akan rindu dan berambisi untuk menjadi bagian dari orang-orang yang banyak berzikir, dan hatinya pun akan sangat ingin dan berharap menjadi orang-orang yang memiliki kedudukan mulia dan tinggi ini. Akan tetapi bagaimana caranya? Ini adalah pertanyaan penting yang seharusnya sudah diketahui jawabannya oleh setiap muslim. Sungguh, telah datang keterangan dari para salaf berkenaan dengan pengertian orang-orang yang banyak berzikir mengingat Allah. Berikut ini diantaranya:

  • Ibnu Abbas radhiyallahu ahuma berkata, “Yang dimaksud adalah mereka yang berzikir di akhir shalat, pagi dan petang, di tempat pembaringan, setiap kali bangun dari tidur, dan setiap pergi dan masuk ke rumah selalu berzikir kepada Allah Taala”.
  • Mujahid mengatakan, “Tidak termasuk orang yang banyak berzikir mengingat Allah, sampai ia berzikir mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring.”
  • Atha mengatakan, “Siapa yang shalat lima waktu dengan menunaikan hak-haknya maka ia masuk dalam firman Allah Taala, “Orang-orang yang banyak mengingat Allah baik laki-laki maupun wanita.” (al-Ahzaab: 35)

Kemudian di antara sifat orang-orang ini adalah mereka shalat malam. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, al-Hakim dan selain mereka dengan sanad yang shahih dari hadits Abu Said al-Khudriy radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Apabila seseorang membangunkan istrinya di malam hari kemudian mereka shalat dua rakaat bersama-sama maka keduanya akan dicatat termasuk laki-laki dan wanita yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan al-Hakim)

Dinukilkan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab beliau Al-Adzkaar, bahwa Abu Amr bin Shalah pernah ditanya tentang kadar yang membuat seorang hamba termasuk laki-laki dan wanita yang banyak berzikir kepada Allah. Maka beliau berkata, “Apabila seseorang merutinkan zikir-zikir yang diriwayatkan dengan riwayat yang shahih setiap pagi dan petang, dan pada waktu atau situasi yang berbeda-beda, baik siang ataupun malam, yang ada penjelasannya dalam kitab amal sehari semalam, maka ia termasuk laki-laki dan wanita yang banyak berzikir kepada Allah.” (al-Adzkaar hal. 10)

Al-Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di mengatakan, “Minimalnya seseorang membiasakan wirid-wirid pagi dan petang, zikir di akhir shalat lima waktu, dan zikir ketika ada kondisi atau sebab tertentu. Dan sudah sepantasnya ia membiasakan hal yang demikian di segenap waktu dan situasi, karena ia adalah ibadah yang dapat menjadikan seseorang lebih unggul dari yang lain, dalam keadaan ia beristirahat; amalan yang melahirkan pengenalan terhadap Allah dan mendatangkan kecintaan-Nya; amalan yang membantu untuk berbuat baik dan menjaga lisan dari ucapan yang jelek.” (Taisir al-Karim ar-Rahman 6/112)

 

(Sumber: Fiqh al-Ad’iyah wa al-Adzkaar, DR. Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Badr)

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *