Mendapat penjagaan Allah dari gangguan setan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan itu seperti serigala, yang memburu manusia seperti serigala memburu domba. Ia menerkam domba yang menjauh sendirian. Maka hati-hatilah kalian dari tempat-tempat yang terpencil (bersikap memisahkan diri dari jama’ah -pent.), dan kalian wajib berpegang dengan jamaah.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad 5/243) Beliau juga bersabda, “Tidak ada rombongan yang terdiri dari tiga orang dalam satu desa atau padang sahara, yang tidak ditegakkan pada mereka shalat, kecuali setan akan menguasainya. Maka kalian wajib berpegang dengan jamaah, karena serigala akan menerkam domba yang sendirian.” (HR. Abu Dawud 547) Makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “wajib atas kalian berpegang dengan jamaah” adalah berpegang teguhlah kalian dengan apa yang dijalani oleh jamaah ahlussunnah dalam segala sesuatu, yang antara lain shalat lima waktu berjamaah. (al-Fathu ar-Rabbaniy ma’ Bulugh al-Amaniy 5/176)

 

Keutamaan shalat berjamaah akan bertambah dengan bertambahnya jumlah orang yang shalat

Dari hadits Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seseorang yang shalat bersama satu orang, lebih banyak pahalanya daripada ia shalat sendirian. Shalatnya bersama dua orang, lebih banyak pahalanya daripada shalat bersama satu orang. Semakin banyak jumlah yang shalat, semakin banyak juga pahalanya.” (HR. Abu Dawud 554) Pada hadits ini terdapat anjuran untuk menghadiri shalat berjamaah yang banyak makmumnya apabila tidak menimbulkan mafsadah dan tidak kehilangan maslahat yang lebih besar.

 

Melepaskan diri dari api neraka dan sifat kemunafikan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa shalat untuk Allah, selama empat puluh hari dengan berjamaah, dalam keadaan mendapati takbir pertama imam, akan dicatat baginya dua perkara: selamat dari api neraka dan kemunafikan.” (HR. at-Tirmidzi 241) Terbebas dari kemunafikan maknanya adalah bahwa di dunia ia akan dilindungi dari beramal seperti orang munafik, dan diberi taufiq untuk melakukan amalan orang-orang yang ikhlas. Sedangkan di akhirat ia akan dihindarkan dari siksaan yang menimpa orang-orang munafik, dan dipersaksikan bahwa ia bukanlah orang munafik, karena orang munafik itu apabila berdiri mengerjakan shalat mereka mengerjakannya dengan bermalas-malasan. (Tuhfatul Ahwadzi 2/45)

 

Mendapat jaminan perlindungan dari Allah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa shalat shubuh maka ia berada dalam jaminan perlindungan Allah. Maka jangan sampai Allah menuntut kalian karena mengganggu orang yang berada dalam jaminan perlindngan-Nya, walaupun hanya sedikit. Karena barangsiapa yang dituntut oleh Allah dengan sebab telah mengganggu orang yang berada dalam jaminan perlindungannya, walaupun hanya sedikit, niscaya tuntutan itu mengenai dirinya sendiri kemudian ia akan disungkurkan ke dalam neraka Jahanam.” (HR. Muslim 657) Hadits ini menegaskan bahwa barangsiapa shalat shubuh, maka ia dalam jaminan perlindungan Allah. Sungguh dengan ini ia berarti telah meminta perlindungan kepada Allah Taala dan Allah melindunginya. Sehingga tidak pantas bagi siapapun untuk mengganggunya. Siapa yang melakukan hal itu, Allah akan menuntut dengan hak-Nya. Dan siapa yang dituntut oleh Allah, tidak akan mendapat tempat perlindungan. Ini adalah ancaman yang sangat keras bagi orang yang mengganggu orang-orang yang shalat shubuh. Hadits ini juga mengandung anjuran menghadiri shalat shubuh. (al-Mufhim lima Asykala min Talkhiish Kitab Muslim 2/282) Dalam sebagian riwayat diterangkan bahwa shalat shubuh yang dimaksud adalah shalat shubuh yang dilakukan secara berjamaah.

 

Besarnya pahala shalat Isya dan Shubuh berjamaah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa shalat Isya berjamaah, seakan ia shalat setengah dari malam. Dan siapa yang shalat shubuh berjamaah, seakan ia shalat sepanjang malam.” (Muslim 656) Yang dimaksud dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas adalah bahwa siapa yang shalat Shubuh berjamaah dan telah shalat Isya berjamaah, seakan ia shalat sepanjang malam. Yang menguatkan pengertian ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, “Barangsiapa shalat Isya berjamaah, seakan ia shalat setengah malam. Dan siapa yang shalat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, seakan ia shalat sepanjang malam.” (HR.Abu Dawud 555) Pendapat ini dipilih oleh Imam al-Mundziri. Namun ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah siapa yang shalat Isya berjamaah, maka ia seakan telah shalat setengah dari malam. Adapun yang shalat shubuh berjamaah maka ia seakan telah shalat sepanjang malam. Ini adalah karunia dari Allah. Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Khuzaimah. Beliau berkata, “Bab shalat Isya dan Shubuh berjamaah, keterangan bahwa shalat shubuh berjamaah lebih utama dari shalat Isya berjamaah.” Kemudian beliau membawakan hadits yang semisal dengan riwayat Imam Muslim di atas. Sungguh, karunia Allah amatlah luas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang shalat Shubuh dan Isya, “Seandainya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Mendapat doa para malaikat

Para malaikat akan mendoakan orang yang shalat berjamaah, sebelum dan setelah shalat, ketika ia berada di tempat shalatnya selama belum berhadats dan tidak mengganggu. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda, “Senantiasa seorang hamba di dalam shalat, selama ia berada di tempat shalatnya menunggu shalat. Para malaikat berdoa, “Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah rahmatilah dia.” Sampai ia pergi atau berhadats.” Dalam riwayat Muslim, “Para malaikat akan mendoakan salah seorang dari kalian selama ia berada di tempat ia mengerjakan shalat. Mereka berdoa, “Ya Allah rahmatilah dia, Ya Allah ampunilah dia,  Ya Allah terimalah taubatnya.” Selama ia tidak mengganggu ataupun berhadats.” (Muttafaqun ‘alaih) Syaikh Ibnu Baz mengatakan, “Para malaikat akan mendoakannya selama ia berada di tempat shalatnya. Baik  sebelum ia shalat maupun setelahnya. Selama ia tidak mengganggu dengan menggunjing orang, mengadu domba, ataupun ucapan batil lainnya. Dan selama ia belum berhadats.  

 

Menunggu shalat berjamaah mendapat pahala shalat

Orang yang menunggu shalat berjamaah, mendapat pahala shalat selama ia berada di tempat shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam, “Senantiasa seorang hamba dalam shalat selama ia berada di tempat shalatnya menunggu shalat. Para malaikat berdoa, “Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah rahmatilah dia.” Sampai ia pergi atau berhadats.” Dalam riwayat Muslim, “Para malaikat akan mendoakan salah seorang dari kalian selama ia berada di tempat ia mengerjakan shalat. Mereka berdoa, “Ya Allah rahmatilah dia, Ya Allah ampunilah dia,  Ya Allah terimalah taubatnya.” Selama ia tidak mengganggu ataupun berhadats.”(Muttafaqun ‘alaih) “Selama tidak mengganggu” maksudnya adalah selama tidak muncul darinya perkara yang membuat manusia dan malaikat terganggu. (al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim 2/290)

 

Mendapat ampunan Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang imam mengucapkan ‘amin’, maka hendaklah kalian mengucapkan ‘amin’. Karena barangsiapa yang ucapan aminnya berbarengan dengan ucapan amin para malaikat, niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘alaihi) Pada hadits yang lain, beliau bersabda, “Apabila imam mengucapkan ‘ghairil maghdhubi ‘alaihim wa la-dhdhaallin’ ucapkanlah, ‘aamiin’, karena siapa yang ucapannya berbarengan dengan ucapan malaikat, niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘alaihi)

 

(Shalatul Jama’ah, Mafhuum wa Fadhaail wa Ahkaam wa Fawaaidu wa Adaab fii Dhaui al-Kitab wa as-Sunnah, DR. Said bin ‘Ali bin Wahf al-Qhahthaniy)

Silahkan Download File Pdf: Download

5 Comments

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,afwan ustadz,,ada pertanyaan lagi,,1.”Mana yg harus didahulukan antara Melaksanakan ibadah qurban dahulu atau aqiqah,,
    2. Mengenai kilaf dikalangan ulama,,tentang boleh dan tidak bolehnya meniatkan ibadah qurban dng aqiqah,,bagainamana sarahnya ustadz,,
    3.Mengenai niat dlm berqurban dan aqiqah,,yg afdhal itu didalam hati saja,,apakah ada niat yg harus dilisankan,,
    Mohon penjelasan,,Barakallahufiikum

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, 1.Mayoritas ulama berpendapat bahwa aqiqah maupun qurban hukumnya sunah muakkad (yang sangat ditekankan). Disebutkan dalam riwayat Muslim dari sahabat Ummu Salamah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      إذا رأيتم هلال ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضحي فليمسك عن شعره وأظفاره
      “Apabila kalian melihat hilal bulan dzulhijah dan kalian hendak berqurban maka jangan menyentuh rambut dan kukunya.”
      Kalimat: ‘hendak berqurban’ menunjukkan bahwa qurban hukumnya sunah dan tidak wajib.
      Berdasarkan hal ini, yang terbaik adalah seseorang melaksanakan kedua sunnah tersebut semuanya. Karena keduanya dianjurkan untuk dilaksanakan. Jika tidak mampu melakukan keduanya, maka hendaknya mendahulukan yang lebih awal waktu pelaksanaannya, baik aqiqah dulu maupun qurban dulu. Allahua’lam
      2. masalah meniatkan qurban dengan aqiqah secara bersamaan, jika memang aqiqahnya bertepatan dengan hari raya qurban, dan tidak mampu untuk menyembelih dua ekor kambing untuk aqiqah dan satunya untuk qurban, pendapat yang lebih kuat, sebaiknya mengambil pendapat ulama yang membolehkan menggabungkan niat aqiqah dan qurban.
      Imam Al Bahuti rahimahullah –seorang ulama Hambali- mengatakan, “Jika waktu aqiqah dan penyembelihan qurban bertepatan dengan waktu pelaksanaan qurban, yaitu hari ketujuh kelahiran atau lainnya bertepatan dengan hari Idul Adha, maka boleh melakukan aqiqah sekaligus dengan niat qurban atau melakukan qurban sekaligus dengan niat aqiqah. Sebagaimana jika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, kita melaksanakan mandi jum’at sekaligus dengan niat mandi ‘ied atau sebaliknya.”[ Syarh Muntahal Irodaat, 4/146, Mawqi’ Al Islam.

      Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah pernah ditanya mengenai hukum menggabungkan niat udh-hiyah (qurban) dan ‘aqiqah, jika Idul Adha bertepatan dengan hari ketujuh kelahiran anak?
      Syaikh rahimahullah menjawab, “Sebagian ulama berpendapat, jika hari Idul Adha bertepatan dengan hari ketujuh kelahiran anak, kemudian dilaksanakan udh-hiyah (qurban), maka tidak perlu lagi melaksanakan aqiqah (artinya qurban sudah jadi satu dengan aqiqah, pen)., karena dua ibadah tersebut adalah ibadah sejenis dan keduanya bertemu dalam waktu yang sama. Maka satu ibadah sudah mencakup ibadah lainnya.
      Akan tetapi, saya sendiri ( Syeikh Al Utsaimin ) berpandangan bahwa jika Allah memberi kecukupan rizki, (ketika Idul Adha bertepatan dengan hari aqiqah), maka hendaklah ia berqurban dengan satu kambing, ditambah beraqiqah dengan satu kambing (jika anaknya perempuan) atau beraqiqah dengan dua kambing (jika anaknya laki-laki).” Allahua’lam [ Majmu’ Fatawa wa Rosail Al ‘Utsaimin, 25/287-288, Darul Wathon-Dar Ats Tsaroya, cetakan terakhir, tahun 1413 H.
      3. kalau niat cukup dalam hati saja,yang dilafadzkan hanya dalam penyembelihan saja.
      Disunnahkan saat menyembelih binatang untuk ‘aqiqoh dengan membaca:
      بِسْمِ اللهِ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ ، هَذِهِ عَقِيقَةُ فُلاَن
      Bismillah Allahu Akbar Allaahumma minka wa laka, haadzihi ‘aqiiqotu fulaan (Dengan Nama Allah, Allah adalah Yang Maha Besar, Ya Allah ini dariMu dan untukMu. Ini adalah aqiqah fulaan ( nama yang di aqiqahi)
      Hal ini sesuai hadits yang diriwayatkan al-Baihaqy dalam as-Sunan al-Kubro dan Abu Ya’la dalam Musnadnya:
      عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : يُعَقُّ عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ ، وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ ، قَالَتْ عَائِشَةُ : فَعَقَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ شَاتَيْنِ شَاتَيْنِ يَوْمَ السَّابِعِ ، وَأَمَرَ أَنْ يُمَاطَ عَنْ رَأْسِهِ الأَذَى وَقَالَ : اذْبَحُوا عَلَى اسْمِهِ وَقُولُوا بِسْمِ اللهِ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ ، هَذِهِ عَقِيقَةُ فُلاَنٍ
      Dari Aisyah –radhiyallahu anha- beliau berkata: Anak laki-laki diaqiqohi dengan dua kambing yang setara. Dan anak perempuan satu kambing. Aisyah berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mengaqiqohi al-Hasan dan al-Husain masing-masing dua kambing pada hari ketujuh (kelahiran). Beliau memerintahkan agar pada kepala anak itu dihilangkan kotoran. Dan beliau bersabda: Sembelihlah dengan (juga) menyebut nama (anak yang akan diaqiqahi). Ucapkan: Bismillah Allahu Akbar Allaahumma minka wa laka, haadzihi ‘aqiiqotu fulaan (Dengan Nama Allah, Allah adalah Yang Maha Besar, Ya Allah ini dariMu dan untukMu. Ini adalah aqiqoh fulaan).
      Hadits ini dishahihkan oleh Ibnus Sakan dan dinyatakan sanadnya hasan oleh anNawawiy dalam al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab. Diriwayatkan juga oleh Ibnul Mundzir dan dinyatakan hasan.

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,ada pertanyaan lg ustadz
    1.Tentang seorang manusia baik yg laki laki maupun perempuan,,bagaimana kalau meninggal dunia dlm keadaan belum diaqiqah,,bagaiman dng amalan ibadahnya,,sipenanya,,pernah mendengar jika orang blm diaqiqah maka amalanya masih digantung Oleh Allah,,,,mohon penjelasan ustadz,,Barakallahufiik,,

    • Al Lijazy says:

      bismillah, Allahua’lam, untuk urusan akhiratnya semua atas kehendak Allah Ta’ala,jika tidak aqiqah karena udzur semoga Allah Ta’ala mengampuninya. baarokallahu fiikum

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,Na’am syukran kastiran atas penjelasanya,,Barakallahufiik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *