Keutamaan Mukmin Yang Kuat

September 26, 2014

Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda,

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah daripada seorang mukmin yang lemah. Namun pada keduanya terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah atas perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan engkau merasa lemah. Kemudian jika ditimpa satu musibah, janganlah engkau mengatakan ‘seandainya saja aku melakukan hal ini dan itu niscaya akan begini dan begitu. Akan tetapi katakanlah, ‘semua sudah ditakdirkan oleh Allah, dan apa yang Allah kehendaki telah Dia kerjakan. Sebab perkataan ‘seandainya’ akan membuka pintu bagi setan.”(HR. Muslim)

Hadits diatas mengandung pokok-pokok yang agung dan kata-kata yang sarat makna. Diantara perkara yang terkandung padanya adalah keterangan bahwa cinta adalah salah satu sifat Allah, dan sifat cinta itu berkaitan dengan perkara-perkara yang dicintai-Nya dan orang-orang yang melakukan perkara-perkara tersebut. Demikian pula, ia menunjukkan bahwa sifat cinta Allah itu berkaitan dengan keinginan dan kehendak-Nya, dan disana terdapat perbedaan tingkat kecintaan Allah Taala. Cintanya Allah kepada seorang mukmin yang kuat lebih besar daripada kepada mukmin yang lemah.

Hadits diatas juga menunjukkan bahwa iman itu mencakup keyakinan, ucapan dan perbuatan, sebagaimana yang diyakini oleh Ahlussunnah wal Jamaah. Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Iman itu ada sekitar tujuh puluh tiga sampai tujuh puluh sembilan cabang; yang paling tinggi ialah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan.”

Cabang-cabang yang kembali kepada amalan lahir dan batin ini, semuanya termasuk keimanan. Maka barangsiapa menjalani amalan-amalan ini dengan sebenar-benarnya, dan menyempurnakan dirinya dengan ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih, serta menyempurnakan orang lain dengan saling menasehati tentang kebenaran dan kesabaran, maka ia adalah seorang mukmin yang kuat, yang mencapai derajat tertinggi dari keimanan. Dan barangsiapa yang belum sampai kepada kedudukan ini, ia adalah mukimin yang lemah.

Hadits diatas juga termasuk dalil para salaf yang menunujukkan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang, sesuai dengan ilmu dan pengetahuan tentang keimanan serta amalan-amalannya. Dasar ini banyak disebutkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah.

Ketika Nabi shallallahu alaih wa sallam mengatakan bahwa terdapat perbedaan keutamaan antara mukmin yang kuat dan mukmin yang lemah, beliau khawatir ada orang yang menyangka bahwa mukmin yang lemah adalah tercela. Maka beliau bersabda, “Namun pada keduanya terdapat kebaikan.”

Sungguh, pada sabda Nabi ini terdapat faedah yang sangat berharga, yaitu hendaknya orang yang mengungkapkan adanya perbedaan keutamaan antara manusia, jenis, atau amalan tertentu, agar menyebutkan sisi keutamaannya serta keutamaan yang sama, yang terdapat pada keduanya. Supaya tidak ada celah untuk mencela pihak/perkara yang keutamaannya lebih rendah. Demikian pula dalam hal keburukan, yaitu ketika engkau menyebutkan dua keburukan, dan menyebutkan perbedaan tingkatan keburukan tersebut. Maka sudah semestinya disebutkan kadar keburukan yang sama yang ada pada keduanya. Sungguh, contoh yang seperti ini banyak terdapat dalam Al-Quran dan As-Sunnah.

Dalam hadits diatas terdapat pula keterangan bahwa orang-orang mukmin itu berbeda-beda tingkatannya dalam hal kebaikan, kecintaan Allah kepadanya dan kehidupan beragamanya. Sungguh, mereka memiliki derajat yang berbeda-beda dalam perkara tersebut. Allah Taala berfirman, “Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.”(QS. al-Ahqaaf : 19)

Namun secara garis besar, mereka terbagi menjadi tiga jenis; Pertama, as-Saabiqun ila al-Khairaat, yaitu mereka yang menunaikan kewajiban dan perkara-perkara mustahab, meninggalkan keharaman, perkara-perkara makruh dan mubah yang tidak bermanfaat, serta memiliki segenap sifat-sifat kesempurnaan. Yang kedua, al-muqtashidun, yaitu mereka yang menunaikan kewajiban dan meninggalkan keharaman. Dan yang ketiga, zalim linafsihi, yaitu mereka yang mencampurkan antara amalan shalih dan amalan kejelekan.

Perkataan Nabi shallallahu alaih wa sallam, “Bersungguh-sungguhlah atas perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah..” adalah kalimat yang sarat makna, sangat berguna dan mengandung kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Perlu diketahui bahwa perkara yang bermanfaat ada dua macam; yaitu yang berkenaan dengan agama dan yang berkenaan dengan dunia. Dan seseorang membutuhkan perkara dunia sebagaimana membutuhkan perkara agama. Maka poros kebahagiaan dan taufiq Allah kepadanya sesuai dengan kesungguhan dan usahanya dalam memperoleh perkara yang bermanfaat dari dua perkara tersebut, disertai dengan permintaan tolongnya kepada Allah Taala.

Ketika seorang hamba bersungguh-sungguh dan berupaya untuk mendapatkan perkara yang bermanfaat dari dua perkara tersebut, kemudian menempuh sebab dan jalan-jalan untuk memperolehnya serta meminta pertolongan kepada Allah untuk mendapatkan dan menyempurnakannya, maka yang demikian adalah kesempurnaan dan tanda kebahagiaannya. Dan sebaliknya, ketika luput darinya salah satu saja dari tiga perkara ini, maka luput kebaikan darinya sesuai dengan perkara yang tidak ia upayakan tersebut.

Barangsiapa tidak bersungguh-sungguh berusaha mendapatkan perkara yang bermanfaat baginya, atau justru bermalas-malasan, maka ia tidak akan mendapatkan apapun. Karena kemalasan adalah asal kerugian dan cerai berainya urusan.Orang yang malas tidak akan mendapatkan kebaikan atau pun kemuliaan, dan tidak akan beruntung dalam hal agama maupun dunia. Demikian pula, jika seorang sungguh-sungguh berupaya, namun untuk perkara yang tidak bermanfaat, misalnya dalam perkara yang membawa kemudaratan atau menyebabkan luputnya segala kebaikan, maka hasil dari kesungguhannya itu adalah kerugian, keburukan, kemudaratan dan luputnya kebaikan. Sungguh, berapa banyak orang yang bersungguh-sungguh menempuh jalan dan keadaan untuk perkara yang tidak berguna dan ia tidak mendapat manfaat apapun dari kesungguhannya itu kecuali kelelahan, kecapekan dan kecelakaan saja.

Keadaan yang sama juga, ketika seorang hamba menempuh jalan yang membawa kemanfaatan dan ia berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mencapainya, maka tidak akan lengkap/sempurna kecuali dengan benar-benar kembali kepada Allah dan meminta pertolongan-Nya untuk dapat memperoleh dan menyempurnakannya. Janganlah ia bersandar pada dirinya, upaya atau daya/kekuatannya sendiri, akan tetapi jadikanlah sandarannya secara total baik lahir maupun batin kepada Rabbnya. Sehingga dengan demikian, segala musibah menjadi ringan, keadaan menjadi mudah, serta hasilny pun menjadi sempurna, baik dalam perkara agama maupun dunianya. Dengan demikian maka ia perlu sekali mengerti perkara-perkara apa saja yang harus ia upayakan dengan sungguh-sungguh dan serius mencarinya.

Perkara-perkara yang bermanfaat dalam masalah agama kembali pada dua hal; ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mensucikan hati dan jiwa, dan membuahkan kebahagiaan di dua negeri, yaitu ilmu yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaih wa sallam, baik ilmu hadits, tafsir, fiqih, dan ilmu-ilmu yang mendukung, seperti ilmu bahasa Arab, atau ilmu lain sesuai dengan waktu dan kondisi yang dijalani oleh seseorang. Dan untuk menentukan ilmu-ilmu tersebut, maka berbeda-beda sesuai dengan perbedaan keadaan.

Sebagai contoh, keadaan penuntut ilmu. Hendaknya ia bersungguh-sungguh berupaya menghafal rangkuman/ringkasan dari setiap cabang ilmu yang sedang ia pelajari. Jika ia kesulitan menghafalnya secara lafaz, maka hendaknya ia banyak mengulang dan mencoba memahami isinya dengan baik, sampai kandungan ilmu itu bisa terpatri dihatinya. Sehingga kitab-kitab berikutnya dari cabang-cabang ilmu tersebut, akan menjadi seperti tafsir, penjelasan atau pun cabang dari pokok yang telah ia mengerti dan pahami tadi.

Karena seseorang itu jika telah menghafal perkara-perkara pokok dan mendarah daging dalam pengetahuannya, maka akan mudah baginya memahami kitab-kitab dari cabang-cabang ilmu semuanya, baik yang besar maupun yang kecil. Dan barangsiapa terhalang dari perkara pokok, maka ia terhalang untuk mendapatkan hasil akhirnya.

Maka barangsiapa sungguh-sungguh berupaya atas perkara yang telah kami sebutkan diatas dan meminta pertolongan Allah, niscaya Allah akan menolongnya, memberkahi ilmunya dan jalan yang ia tempuh itu. Namun barangsiapa menempuh jalan dalam menuntut ilmu bukan jalan yang bermanfaat ini, maka ia akan buang-buang waktu saja, dan tidak akan mendapat apapun kecuali keletihan sebagaimana telah dimaklumi dalam pengalaman dan dibuktikan dengan fakta. Kemudian, jika Allah mudahkan seseorang untuk mendapatkan guru yang mengerti cara mengajar dan metode memahamkan, maka lengkaplah baginya sebab-sebab untuk sampai kepada ilmu.

Perkara bermanfaat kedua dalam hal agama adalah amal shalih; amal shalih adalah amalan yang terkumpul padanya keikhlasan kepada Allah dan pengikutan kepada Rasulullah shallallahu alaih wa sallam. Maka amal shalih adalah amalan taqarrub kepada Allah Taala dengan meyakini apa yang wajib diyakini terhadap Allah Taala, dalam hal sifat-sifat-Nya yang sempurna, hak-Nya untuk diibadahi oleh hamba, dan penyucian-Nya dari segala sifat yang tidak layak terhadap kemuliaan-Nya, dan membenarkan-Nya serta membenarkan setiap berita yang dikabarkan oleh Rasul-Nya.

Kemudian berusaha menunaikan apa yang Allah wajibkan atas hamba-Nya dari hak-hak Allah dan hak hamba, lalu menyempurnakan hal itu dengan amalan nafilah dan tambahan. Lebih-lebih lagi amalan nafilah yang ditekankan waktu-waktunya. Dengan selalu meminta pertolongan kepada Allah dalam menunaikan, merealisasikan dan menyempurnakannya. Mengerjakannya dengan penuh keikhlasan, tidak dicampuri dengan tujuan lain dari tujuan-tujuan yang sifatnya personal. Demikan pula, mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan perkara-perkara haram, lebih-lebih lagi perkara keharaman yang sangat digandrungi oleh nafsu manusia.

Maka seseorang itu mendekatkan diri kepada Allah dengan cara meninggalkannya perkara yang dilarang, sebagaimana mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengerjakan amalan yang diperintahkan. Jika seseorang diberi taufiq untuk menempuh metode ini dalam beramal dan selalu minta pertolongan kepada Allah atasnya, maka ia telah beruntung dan selamat. Maka kesempurnaannya sesuai dengan sejauh mana ia menunaikan perkara-perkara diatas, dan kekurangannya juga sesuai dengan sejauh mana ia luput dari perkara-perkara tadi.

(Diambil dari Kitab Bahjah Qulub al-Abraar wa Qurratu ‘Uyun al-Akhyaar Syarh Jawami’ al-Akhbaar, al-‘Allamah Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *