Keunggulan Umat Islam

October 16, 2015

Dimaklumi bahwa dahulu Allah ‘Azza wa Jalla, dengan hikmah-Nya, telah memuliakan Bani Israil di dunia ini. Allah sebutkan hal ini dalam Al-Quran yang artinya, “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.” (al-Baqarah: 47) Allah juga telah menjadikan beberapa orang di antara mereka sebagai nabi dan raja, dan Allah memberikan kepada mereka apa yang tidak diberikan kepada umat lain pada saat itu.

Allah Taala berfirman yang artinya, “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain.” (al-Maaidah: 20) Akan tetapi mereka tidak mensyukuri nikmat-nikmat Allah itu. Mereka justru terlena dengan kedudukan yang diberikan. Mereka menjadi durhaka dan melampaui batas. Sehingga kemudian Allah menjadikan kenabian itu untuk orang selain mereka. Allah mengutus utusan-Nya, Muhammad shallallahu alaih wa sallam, dan menurunkan kepadanya kitab yang paling utama yang membimbing kepada jalan yang terbaik.

Allah Taala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (al-Israa: 9) Allah lebih mengutamakan utusan-Nya itu dari segenap rasul ‘alaihimush shalaatu was salaam. Allah Taala berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (al-Israa: 55) Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Aku adalah pemimpin anak manusia pada hari kiamat, orang yang pertama dibangkitkan dari kubur, yang pertama memberi syafaat dan diizinkan memberi syafaat.” (HR. Muslim)

Allah juga telah memuliakan umat Muhammad shallallahu alaih wa sallam, karena mereka tidak berkhianat seperti umat sebelumnya. Allah Taala berfirman yang artinya, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali Imraan: 110)

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Kita adalah yang paling akhir, namun yang paling dahulu pada hari kiamat, walaupun mereka diberi kitab sebelum kita. Kemudian hari mereka yang diwajibkan, tetapi mereka selisihi, maka Allah memberi hidayah-Nya kepada kita (untuk memilih hari tersebut). Sehingga orang-orang mengikuti kita dalam perkara ini. Orang-orang Yahudi esok hari, dan orang-orang Nashara esok lusa.”

Ibnu Hajar mengatakan, “Yang dimaksud adalah bahwa umat ini walaupun muncul belakangan daripada umat-umat yang telah berlalu, ia adalah umat yang mendahului mereka di akhirat. Lebih dahulu dihisab, diputuskan segala perkara yang ada di antara sesamanya, dan yang pertama masuk surga.” (Fathul Baari 2/354) Dasar dari perkataan Ibnu Hajar di atas adalah sabda Rasulullah shallallahu alaih wa sallam, “Kita adalah umat yang akhir dari penduduk dunia, namun lebih dahulu pada hari kiamat, yang akan diputuskan perkaranya sebelum yang lain.” (HR. Muslim 856)

Dan yang dimaksud dengan hari yang kaum muslimin diberi hidayah oleh Allah, sementara Ahli Kitab tidak, adalah hari jum’at. Karena orang-orang Yahudi menjadikan hari raya mereka adalah hari sabtu, sedangkan orang-orang Nashara menjadikannya hari ahad. Ibnu Hajar menyebutkan salah satu faidah dari hadits di atas, bahwa sesungguhnya selamatnya ijma’ (kesepakatan) suatu kaum dari kesalahan adalah khusus untuk umat Islam saja. Dengan ini, maka makna hadits di atas adalah bahwa umat-umat terdahulu telah bersepakat di atas kesalahan, berkenaan dengan penetapan hari raya mingguan mereka. Berbeda halnya dengan umat Islam. Sebagaimana umat Islam telah mengambil pilihan yang tepat berkenaan dengan hari raya mingguan tersebut (yaitu hari jum’at), maka umat Islam pun tidak akan pernah bersepakat di atas kesesatan.

Walaupun terjadi perselisihan di antara para fukaha umat ini, namun pasti di antara mereka ada yang mencocoki kebenaran; agar hujjah untuk semua manusia tetap ada. Diriwayatkan dari ‘Umair bin Hani, ia berkata, “Aku mendengar Mu’awiyah di atas mimbar berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Senantiasa akan ada dari umatku ini sekelompok orang yang kokoh terhadap perintah Allah. Tidak akan memberi mudarat kepada mereka orang-orang yang menghina atau menyelisihi mereka. Sampai datang hari kiamat dan mereka dalam keadaan tersebut.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Bahkan kebanyakan mereka tidak memerintahkan orang awam untuk bertaklid kepada person tertentu dalam setiap pendapatnya, selain kepada Nabi shallallahu alaih wa sallam. Allah Taala sungguh telah menjaga umat ini dari kesalahan. Di antara bentuk kesempurnaan penjagaan itu adalah bahwa Allah menjadikan ulama lebih dari satu. Apabila salah satu dari mereka keliru dalam satu perkara, maka ada ulama lain yang benar pada perkara tersebut. Sehingga kebenaran tidak akan hilang. Oleh karena itu, ketika dalam beberapa perkara ada sejumlah pendapat yang keliru, sebagaimana beberapa masalah yang telah dibicarakan sebelum ini, maka kebenaran ada pada pendapat ulama yang lain.

Maka Ahlussunnah tidak akan bersepakat di atas kesesatan sama sekali. Adapun kesalahan sebagian mereka pada beberapa perkara agama, telah sering kami jelaskan bahwa yang demikian tidaklah memberi mudarat, sebagaimana kesalahan sebagian kaum muslimin.” (Minhaj as-Sunnah 3/408-409)

Umat ini lebih utama daripada umat yang lain bukan atas dasar keturunan, warna kulit, wilayah, ataupun bahasa, akan tetapi berdasarkan ketakwaan kepada Allah. Karena Allah berfirman yang artinya, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.” (al-Hujuraat: 13)

Sesungguhnya umat Islam adalah umat yang paling lurus dan paling konsisten dalam menjalani agama Allah sepanjang zaman. Sampaipun di masa-masa kelemahan, mereka tetap yang paling utama. Dalil terbesar yang menunjukkan hal itu adalah bahwa ahli kitab telah mengubah-ubah kitab Rabb mereka, namun Al-Quran, sungguh Allah menjaganya dari yang demikian. Dan akan senantiasa ada dari kaum muslimin, sekelompok orang yang mengamalkan Islam walaupun jumlah mereka sedikit. Sebagaimana telah disebutkan di dalam hadits dari Mu’awiyah radhiyallahu anhu.

Maka apabila seorang muslim mengetahui bahwa umat ini telah dimuliakan oleh Allah, ia berkewajiban untuk memuliakannya dan tidak merendahkannya. Apalagi jika sikap merendahkan tersebut menyediakan celah bagi orang-orang kafir untuk menyerang umat ini dan membuat mereka gembira. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak meridhai kesetaraan antara orang-orang beriman dan orang-orang kafir. Allah berfirman yang artinya, “Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Atau adakah kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (al-Qolam: 35-36)

“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?” (Shad: 28) “Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 20) Kalau demikian keadaanya untuk sekadar penyetaraan, maka bagaimana dengan pengutamaan orang-orang kafir daripada orang beriman?!

Allah ‘Azza wa Jalla telah menekankan kepada kita bahwa sikap lebih mengutamakan budak yang beriman daripada orang merdeka yang kafir, itu bangkit dari loyalitas yang benar. Allah berfirman dalam surat al-Baqarah, yang artinya, “Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” Dan tentang budak laki-laki, “Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (al-Baqarah: 221)

Ahmad meriwayatkan dengan sanad yang shahih, dari Abu Dzar ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaih wa sallam telah berkata kepadaku, “Hai Abu Dzar coba perhatikan siapa orang yang paling kaya di masjid!” Abu Dzar berkata, “Aku pun memperhatikan, dan aku lihat seorang laki-laki yang memakai pakaian bagus. Maka aku katakan, “Orang ini.” Beliau kemudian berkata lagi, “Coba perhatikan siapa orang yang paling miskin di masjid?” Abu Dzar berkata, “Aku pun memperhatikan dan aku melihat seorang lelaki yang memakai pakaian usang. Maka aku katakan, “Orang ini.” Maka Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Sungguh, orang ini lebih baik sepenuh bumi pada hari kiamat daripada orang itu.” (HR. Ahmad 5/157) Ini adalah perbandingan keutamaan antara sesama muslim. Lalu bagaimana lagi dengan perbandingan kedudukan antara muslim dan kafir?!

 

Prinsip Bersikap Loyal Kepada Kaum Mukminin

Salah satu prinsip pokok dalam agama kita adalah mencintai orang-orang beriman dan bersikap loyal kepada mereka. Dan ini ditetapkan dalam pokok akidah dan akhlak secara bersamaan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman yang artinya, “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (al-Maaidah: 55-56)

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.” (at-Taubah: 71) Tidak mungkin bersatu di hati seorang mukmin, antara kecintaan kepada Allah dan kecintaan kepada orang-orang yang memusuhi Allah dan kaum mukminin. Karena Allah berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang.” (al-Mumtahanah: 1) Dari Mu’adz bin Anas al-Juhaniy, bahwa Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Siapa yang memberi karena Allah, menahan pemberian karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, menikahkan karena Allah, sungguh telah sempurna keimanannya.” (HR. at-Tirmidzi 2521) Dihasankan oleh al-Albani.

Pujian yang kita dengar dari sebagian kaum muslimin kepada orang-orang kafir, sebabnya adalah kelemahan iman secara umum, dan kelalaian dalam menjalankan prinsip ini secara khusus. Dan seringkali, kelemahan iman itu terjadi karena pengaruh keglamoran kehidupan duniawi orang-orang kafir. Dan pengaruh tersebut muncul akibat kecintaan akan dunia secara umum. Semoga Allah memberi petunjuk-Nya kepada kita semua.

 

(Raf’u adz-Dzul wa ash-Shoghoor ‘an al-Maftuniin bi Khuluq al-Kuffar, Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani)

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *