Shahabah adalah bentuk jamak dari shahaabi. Sahabat Rasulullah adalah orang yang bertemu dengan Nabi shallallahu alaih wa sallam dan beriman kepada beliau, kemudian mati di atas keimanan tersebut. Kita wajib meyakini bahwa para sahabat adalah orang-orang yang paling utama di antara umat ini. Masa mereka adalah sebaik-baik masa, karena mereka lebih dahulu beriman, bersahabat dengan Nabi shallallahu alaih wa sallam, berjihad bersama beliau, mengemban syariat dari beliau dan menyampaikannya kepada generasi setelah mereka.

 

Dalil Al-Quran Tentang Keutamaan Para Sahabat

Allah Taala telah memuji para sahabat di dalam Kitab-Nya pada beberapa tempat. Di antaranya adalah:

  • Firman Allah Taala: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah: 100)
  • Firman Allah Taala: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar.” (QS. al-Fath: 29)
  • Firman Allah Taala: “(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. al-Hasyr: 8-9)

 

Pada ayat-ayat di atas, Allah Subhaanahu wa Taala memuji orang-orang Muhajirin dan Anshar. Allah menerangkan mereka sebagai orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam, orang-orang yang banyak bersujud dan rukuk, orang-orang yang saling berkasih sayang di antara sesama mereka, dan tegas terhadap orang-orang kafir.Allah mengabarkan bahwa Dia telah ridha atas mereka, menyiapkan surga untuk mereka dan menyifati mereka dengan kebaikan hati.

Mereka dapat dikenali dari raut wajah mereka yang memancarkan ketaatan dan keimanan. Mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk menyertai Nabi-Nya.

Allah menyifati orang-orang Muhajirin sebagai orang-orang yang meninggalkan harta dan tempat tinggal mereka karena Allah, demi membela agama-Nya, dan mengharap keutamaan serta keridhaan-Nya. Allah juga menyifati orang-orang Anshar sebagai orang-orang yang memberikan pertolongan, memiliki keimanan yang benar, mencintai saudara-saudara mereka dari kalangan Muhajirin, mendahulukan kalangan Muhajirin daripada diri-diri mereka sendiri, dan jauh dari sifat bakhil.

Ini adalah sebagian dari keutamaan para sahabat secara umum. Masih ada lagi keutamaan-keutamaan khusus yang menjadikan sebagian mereka lebih utama dari sebagian yang lain.

Sahabat yang paling utama adalah khalifah yang empat, yaitu: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Kemudian sepuluh orang yang telah diberi kabar gembira dengan masuk surga. Mereka adalah para khalifah yang empat ini, Thalhah bin ‘Ubaidillah, az-Zubair bin al-‘Awwam, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah, Sa’d bin Abi Waqqash dan Sa’id bin Zaid. Sahabat Muhajirin lebih utama daripada sahabat Anshar. Sahabat yang ikut perang Badr dan ikut dalam Bai’at ar-Ridhwan lebih utama dari yang selain mereka. Dan sahabat yang masuk Islam sebelum Fathu Makkah lebih utama daripada yang masuk Islam setelahnya.

 

Pandangan Ahlussunnah Wal Jamaah berkenaan dengan peperangan dan fitnah yang terjadi di kalangan sahabat

Sebab terjadinya fitnah adalah kesepakatan orang-orang Yahudi untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Abdullah bin Saba, seorang Yahudi dari Yaman, berpura-pura masuk Islam kemudian menghembuskan api kedengkian untuk melawan khalifah ketiga, Utsman bin ‘Affan. Abdullah bin Saba` membuat-buat tuduhan dusta terhadap Khalifah Utsman. Sehingga orang-orang yang berpikiran pendek, dan lemah iman, serta senang dengan fitnah, berkumpul mendukung Abdullah bin Saba`. Hal ini akhirnya berujung pada terbunuhnya ‘Utsman bin ‘Affan secara zalim. Setelah Utsman terbunuh, terjadilah perselisihan di antara kaum muslimin, dan berkobarlah api fitnah, hingga terjadi peperangan di antara mereka.

Pensyarah kitab ath-Thahawiyyah mengatakan, “Sesungguhnya agama Syiah Rafidhah tidak lain adalah buatan seorang munafik. Ia bermaksud menghancurkan Islam dan mencela Rasulullah shallallahu alaih wa sallam sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama. Upaya yang dilakukan oleh ‘Abdullah bin Saba untuk merusak agama Islam adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Paulus terhadap agama Nasrani. Abdullah bin Saba mengobarkan api fitnah dengan dalih amar makruf nahi munkar, sehingga menyebabkan Khalifah Utsman terbunuh. Kemudian ketika pergi ke Kufah, ia menebarkan sikap fanatisme yang berlebihan kepada ‘Ali bin Abi Thalib untuk mewujudkan rencana-rencananya. Berita itu pun sampai ke telinga ‘Ali bin Abi Thalib. Maka beliau memerintahkan agar Abdullah bin Saba dibunuh. Namun Abdullah bin Saba` berhasil melarikan diri. Kabar tentang Abdullah bin Saba adalah hal yang masyhur dalam sejarah.”

Sikap Ahlussunnah Wal Jamaah berkenaan dengan perselisihan dan fitnah yang terjadi di kalangan sahabat dapat disimpulkan menjadi dua perkara, yaitu:

  1. Ahlussunnah Wal Jamaah menahan diri dari membicarakan dan mendalami fitnah yang terjadi di kalangan sahabat. Sebab jalan yang selamat adalah menahan diri dari pembahasan seperti ini. Dan mereka mengatakan sebagaimana firman Allah, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr: 10)
  2. Menjawab riwayat-riwayat yang berisi hal-hal buruk tentang mereka dengan rincian sebagai berikut:
  • Riwayat-riwayat tersebut ada yang merupakan kedustaan yang dikarang oleh musuh-musuh Islam untuk menghancurkan kewibawaan mereka.
  • Riwayat-riwayat tersebut ada yang ditambah atau dikurangi, atau tidak diriwayatkan dengan benar, dan disisipi kedustaan. Riwayat seperti ini telah diubah dan tidak layak dijadikan dasar pijakan.
  • Untuk riwayat-riwayat yang shahih, yang jumlahnya sedikit sekali, maka dikatakan bahwa para sahabat itu memiliki uzur dalam tindakan yang mereka lakukan. Sebab mereka adalah mujtahid yang bisa benar dan bisa juga keliru. Sehingga perkara tersebut masuk dalam kategori permasalahan ijtihad yang jika seseorang benar mendapatkan dua pahala, dan jika keliru mendapatkan satu pahala sedangkan kesalahannya terampuni. Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Jika seorang hakim berijtihad dan benar, maka ia mendapat dua pahala. Dan jika keliru, maka ia mendapat satu pahala.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
  • Dikatakan bahwa para sahabat adalah manusia biasa yang bisa saja keliru. Masing-masing dari mereka bukanlah orang yang maksum dari dosa. Walaupun demikian, mereka memiliki sekian banyak penggugur kesalahan, di antaranya adalah:
  1. Mereka sudah bertaubat dari kesalahan-kesalahan itu, dan taubat adalah penghapus segala dosa, seberapapun besar dosa dan kesalahan yang dilakukan.
  2. Mereka memiliki keutamaan-keutamaan yang menyebabkan mereka mendapatkan ampunan Allah. Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Huud 114)
  3. Kebaikan mereka jauh lebih banyak daripada yang lain. Tidak ada seorang pun yang menyamai derajat dan keutamaan mereka. Diterangkan dalam sebuah riwayat yang sahih dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaih wa sallam bahwa mereka adalah sebaik-baik generasi, dan satu mud makanan yang mereka sedekahkan itu lebih utama daripada sedekah satu gunung Uhud dari selain mereka.

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Segenap Ahlussunnah dan para imam kaum muslimin tidak berkeyakinan bahwa para sahabat adalah orang-orang yang maksum. Demikian pula para kerabat Nabi, orang-orang terdahulu, dan selain mereka. Mereka semua bisa saja terjatuh ke dalam dosa. Namun Allah Taala mengampuni dosa mereka dan mengangkat derajat mereka dengan sebab taubat, kebaikan-kebaikan yang menghapus dosa, atau sebab-sebab yang lainnya.

Allah Taala berfirman, “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik agar Allah menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan upah yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. az-Zumar: 33-35)

Allah Taala juga berfirman, “Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (al-Ahqaaf: 15-16)

 

(Disadur dari Kitab Tauhid, Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan)
Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *