Kalangan non muslim terbagi dua:

Pertama, al-Muharibuun, yaitu yang tidak memiliki jaminan atau perjanjian damai dengan kaum muslimin. Disyariatkan untuk memerangi mereka sesuai dengan kemampuan. Hukumnya bisa menjadi fardhu ain. Yaitu ketika mereka memerangi negeri muslim untuk menjajah dan menumpahkan darah penduduknya atau merampas kekayaannya. Maka setiap muslim yang mampu di negeri itu wajib memerangi mereka. Jika kaum muslimin di negeri itu membutuhkan bantuan dari kaum muslimin di negeri lain, segenap kaum muslimin wajib menolong mereka dengan mengirimkan orang, harta dan senjata sampai apa yang mereka butuhkan tercukupi.

Hal ini berdasarkan firman Allah Taala, “(Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka.” (al-Anfaal: 72)

Memerangi orang-orang kafir muharib hukumnya juga bisa menjadi fardhu kifayah. Jika sebagian kaum muslimin telah melakukannya, gugurlah kewajiban itu dari yang lain. Misalnya, ketika orang-orang kafir itu melarang/mencegah sampainya dakwah Islam ke negeri mereka, atau melarang penduduknya masuk Islam, sedangkan kaum muslimin adalah pihak yang kuat. Jika demikian keadaannya, harus ada sebagian kaum muslimin yang memerangi mereka. Hal ini berdasarkan firman Allah Taala, “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (al-Baqarah: 193)

Apabila telah ada kaum muslimin yang memerangi orang-orang kafir tersebut, maka mustahab bagi kaum muslimin yang lain untuk ikut berperang. Akan tetapi, tidak diperbolehkan menyerang orang-orang kafir secara langsung tanpa menyeru mereka kepada Islam terlebih dahulu. Jika orang-orang kafir itu menolak dakwah Islam, kaum muslimin wajib menyeru mereka untuk menyerahkan jizyah (upeti). Jika mereka menolak, barulah mereka boleh diperangi.

Kedua, bukan muharibuun. Mereka adalah orang-orang non muslim yang memiliki jaminan atau perjanjian keamanan dengan kaum muslimin, dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang membatalkan jaminan/perjanjian tersebut. Contoh perbuatan yang membatalkan jaminan/perjanjian ini adalah seperti memerangi kaum muslimin, atau memberi bantuan untuk memerangi kaum muslimin. Orang-orang non muslim seperti ini meliputi tiga golongan sebagai berikut:

  1. Ahli Dzimmah, yaitu rakyat yang ada di negara Islam dan ridha terhadap hukum Islam yang diberlakukan atas mereka, sehingga mereka menyerahkan jizyah dan senantiasa menaati hukum-hukum untuk ahli dzimmah. Kebanyakan ulama berpandangan bahwa memberikan jaminan untuk selain ahli kitab dan majusi itu tidak boleh. Sehingga orang-orang selain mereka yang hidup di negara Islam memiliki dua pilihan: masuk Islam atau dihukum mati. Namun sebagian ulama berpendapat boleh memberikan jaminan kepada selain ahli kitab dan majusi. Barangkali pendapat inilah yang lebih kuat, berdasarkan firman Allah Taala, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)..” (al-Baqarah: 256)
  2. Al-Mu’ahiduun, yaitu rakyat di negara kafir yang memiliki perjanjian/kesepakatan untuk tidak saling menyerang dengan negara Islam.
  3. Al-Musta`minuun, yaitu rakyat negara kafir yang sedang memerangi kaum muslimin, namun diberi jaminan keamanan oleh pemimpin atau salah seorang kaum muslimin, selama ia berada di negeri Islam.

Hukum ketiga golongan non muslim ini sama. Yaitu dilindungi darah dan hartanya. Tidak boleh dibunuh atau dirampas hartanya, berdasarkan firman Allah Taala, “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (at-Taubah: 29)

Allah juga berfirman, “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya.” (at-Taubah: 6)

Dianjurkan untuk berbuat baik dan adil kepada mereka agar mereka tertarik untuk masuk Islam. Kaum muslimin wajib melindungi darah, harta dan harga diri orang-orang non muslim dari pihak-pihak yang ingin menyerang mereka, selama mereka dalam jaminan dan ikatan perjanjian dengan kaum muslimin. Sama saja apakah yang menyerang itu dari golongan mereka sendiri, atau dari kalangan kaum muslimin, ataupun dari kalangan kafir muharib. Ali radhiyallahu anhu berkata, “Sesungguhnya mereka menyerahkan jizyah tidak lain agar harta mereka menjadi seperti harta kita, dan darah mereka menjadi seperti darah kita.” Dan kaum muslimin wajib menebus tawanan dari kalangan ahli dzimmah dengan harta, setelah menebus tawanan muslim. Sebab hal ini termasuk bentuk perlindungan kepada mereka.

Namun apabila kaum muslimin khawatir kalangan muahiduun atau musta`minun akan melanggar perjanjian, maka dibolehkan untuk mengembalikan perjanjian itu. Yakni memberitahukan kepada mereka bahwa perjanjian yang dibuat telah batal/gugur, dan selanjutnya boleh memerangi mereka. Dasarnya ialah firman Allah Taala, “Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (al-Anfaal: 58)

Adapun kalau mereka melanggar perjanjian, maka boleh memerangi mereka tanpa mengembalikan perjanjian itu kepada mereka terlebih dahulu. Sebab telah terjadi pengkhianatan dari pihak mereka. Sebagaimana Nabi shallallahu alaih wa sallam memerangi Kaum Quraisy tanpa terlebih dahulu memberitahukan perihal gugurnya perjanjian yang telah disepakati, ketika mereka berkhianat dan melanggar perjanjian. Peristiwa ini terjadi pada tahun penaklukan kota Mekah.

Sedangkan untuk ahli dzimmah, perjanjian dengan mereka tidak dikembalikan sampai mereka melakukan perbuatan yang membatalkannya. Sebab mereka berada di bawah kekuasaan kaum muslimin. Sehingga kekhawatiran bahwa mereka akan membatalkan perjanjian lebih kecil. Kemudian jika mereka atau sebagian dari mereka membatalkannya, hilanglah jaminan perlindungan atas orang-orang yang membatalkannya saja, dan dibolehkan bagi kaum muslimin untuk menumpahkan darah dan mengambil harta mereka. Hal ini sebagai balasan dari perbuatan mereka membatalkan perjanjian.

Dan perjanjian itu batal jika terjadi perbuatan yang menyelisihi syarat-syarat jaminan perlindungan, misalnya mencela Allah Azza wa Jalla, atau Rasul-Nya shallallahu alaih wa sallam, atau agama Islam, atau mengolok-olok sebagian ajarannya, atau berzina dengan perempuan muslimah, atau membantu orang-orang kafir dalam memerangi kaum muslimin, atau memata-matai kaum muslimin, dan yang semisalnya.

Adapun orang-orang yang murtad dari agama Islam, jika kemurtadannya telah nyata dan tidak lagi diragukan, maka mereka diminta untuk bertaubat dalam kurun waktu tiga hari. Jika mereka bertaubat, maka taubat mereka diterima. Namun jika tidak, maka mereka diberi hukuman untuk orang murtad, yaitu hukuman mati.

Sedangkan orang-orang munafik yang menyembunyikan kekufuran dalam batin mereka, diperlakukan sebagaimana orang-orang yang secara lahiriah muslim. Namun yang menampakkan kemunafikannya, termasuk orang yang murtad dan diperlakukan sebagaimana orang murtad.

 

Adab Peperangan

Jika kaum muslimin berperang melawan orang-orang kafir dengan sebab yang disyariatkan, ada adab-adab yang harus diperhatikan. Diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Tidak membunuh kaum wanita, anak-anak, orang tua dan para pendeta yang ada di tempat-tempat ibadah, selama mereka tidak ikut serta dalam peperangan tersebut. Jika mereka ikut dalam peperangan, mereka juga diperangi seperti yang lain.
  2. Tidak mencincang atau membakar orang-orang kafir yang terbunuh kecuali jika untuk membalas apa yang telah mereka lakukan terhadap kaum muslimin yang terbunuh. Allah berfirman, “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.” (asy-Syuura: 40)
  3. Menepati janji, tidak berkhianat dan tidak melanggar perjanjian.

 

Beberapa adab di atas ditunjukkan dalam hadits Buraidah, bahwa Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Berperanglah namun jangan melampaui batas. Jangan melanggar janji. Jangan mencincang dan jangan membunuh orang tua!” (HR. Muslim) Dan hadits Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu alaih wa sallam melihat ada seorang wanita terbunuh di sebagian peperangan. Lalu beliau mengingkari perbuatan membunuh wanita dan anak-anak. (Muttafaqun ‘alaih)

 

Hukum Non Muslim Dalam Perkara Zakat

Pertama, tidak boleh memberikan zakat harta dan zakat fithri kepada non muslim, karena Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda kepada Mu’adz, ketika beliau mengutusnya ke Yaman, “Lalu beritahukan kepada mereka, bahwa Allah mewajibkan mereka bersedekah –maksudnya berzakat-, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka, untuk diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” (Muttafaqun ‘alaih)

Yang dimaksud adalah orang kaya dan orang miskin dari kalangan muslimin. Dikecualikan dari ini, jika orang non muslim tersebut termasuk orang yang hendak dilunakkan hatinya, yang kaum muslimin akan mendapatkan maslahat atau terhindar dari mudarat, jika mereka diberi zakat tersebut.

Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (at-Taubah: 60)

Kedua, seorang muslim boleh bersedekah kepada non muslim, mewasiatkan harta, memberi hadiah, dan membalas perbuatan baiknya jika non muslim itu bukan termasuk orang kafir muharib. Sebab hal ini termasuk dalam kategori berbuat baik yang diperbolehkan berdasarkan firman Allah Taala, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama, dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (al-Mumtahanah: 8)

Juga berdasarkan keumuman sabda Nabi shallallahu alaih wa sallam, “Dalam (perbuatan baik kepada) setiap makhluk hidup terdapat pahala.” (Muttafaqun ‘alaih) Dalam sebuah hadits dari Asma binti Abu Bakar ash-Shiddiq diterangkan bahwa ibunya yang musyrik mendatanginya karena ingin bersilaturahim. Asma’ pun meminta izin kepada Rasulullah shallallahu alaih wa sallam untuk bersedekah kepadanya, lalu Nabi mengizinkan. Umar juga pernah menghadiahkan perhiasan dari sutra kepada saudaranya yang musyrik. Namun perlu diperhatikan bahwa tidak boleh menghadiahkan sesuatu kepada non muslim jika sebabnya tidak disyariatkan, seperti memberikan hadiah karena mereka sedang merayakan hari keagamaan mereka.

Seorang muslim juga diperbolehkan menerima hadiah dari non muslim jika hadiah tersebut adalah sesuatu yang mubah. Nabi shallallahu alaih wa sallam pernah menerima hadiah dari Muqauqis yang bukan muslim.

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *