Iman Kepada Allah

February 9, 2013

Pendahuluan

Setiap muslim tentu telah memahami pentingnya keimanan dan faedah-faedahnya. Keimanan adalah perkara yang paling mulia dan paling agung, karena semua kebaikan di dunia dan akhirat akan tercapai dengan merealisasikannya.

Keterangan-keterangan yang ada dalam al-Quran dan Hadits menunjukkan bahwa keimanan itu terdiri dari enam pokok; iman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir, dan Takdir.

Di antara dalil al-Quran yang menunjukkan pokok iman yang enam ini adalah firman Allah yang artinya: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi..” (QS. al-Baqarah: 177) dan “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan takdir.” (QS. al-Qamar: 49) Adapun dalil dari as-Sunah yang menunjukkan hal ini ialah hadits Jibril yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang iman, beliau bersabda: “Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat dan engkau beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk.

Inilah enam pokok yang merupakan dasar keimanan. Seseorang tidak akan dianggap beriman kecuali dengan memenuhinya. Keenam pokok ini tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain, karena semua saling berkaitan. Beriman dengan sebagian dari pokok-pokok ini mengandung konsekuensi untuk beriman kepada yang lainnya dan mengingkari sebagian dari pokok-pokok ini berarti mengingkari seluruhnya. Oleh karena, itu setiap muslim mesti memperhatikan pokok-pokok ini.

 

Pengertian Iman Kepada Allah

Iman kepada Allah yaitu meyakini dengan sungguh-sungguh tanpa ada keraguan sedikitpun bahwa Allah adalah Rabb dan penguasa alam semesta, yang berhak untuk disembah dan diesakan dalam segala bentuk peribadatan dengan penuh rasa cinta, penghinaan diri dan ketundukan, dan meyakini bahwa Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan yang tidak memiliki cacat atau kekurangan sedikitpun.

Iman kepada Allah mengandung empat perkara: iman dengan keberadaan-Nya, kerububiyahan-Nya, keuluhiyahan-Nya, dan nama-nama serta sifat-sifat-Nya.

 

Iman Dengan Keberadaan Allah

Yaitu meyakini bahwa Allah itu ada. Hal ini dapat diketahui dengan fitrah, akal, syariat dan panca indera. Secara fitrah, keberadaan Allah dapat diketahui karena semua makhluk telah tercipta dengan keimanan terhadap keberadaan penciptanya tanpa perlu berfikir dan belajar terlebih dahulu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, kemudian kedua orang tuanya lah yang menjadikannya yahudi, nashrani atau pun majusi.” (HR. Bukhari 1319)

Secara akal, keberadaan Allah dapat diketahui karena jika akal memikirkan keadaan alam raya ini, ia akan mendapati semuanya berjalan dengan penuh keteraturan dan keindahan. Dan mustahil sesuatu bisa  berjalan dengan teratur dan indah jika tidak ada yang mengaturnya. Akal sehat manusia juga tidak akan menerima jika ada yang mengatakan bahwa alam ini menciptakan dirinya sendiri, karena alam ini sebelumnya tidak ada. Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak ada bisa mengadakan dirinya sendiri?! Akal sehat manusia tentu akan mengatakan bahwa ada pihak lain yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini. Dan dia adalah Allah. Seperti yang dikatakan oleh Imam Abu Hanifah ketika ada orang yang ingin membahas hal ini dengan beliau, beliau mengatakan: “Sebelum kita membahasnya, aku ingin bertanya kepada kalian. Misalnya, ada perahu yang penuh dengan makanan sedang berlayar di sungai Dajlah. Apakah ia bisa berlayar ke sana kemari, berlabuh, dan pergi dengan sendirinya tanpa ada yang mengemudikannya?” Mereka menjawab: “Tidak. Itu adalah sesuatu yang mustahil.Maka beliau berkata,: “Jika hal itu mustahil terjadi pada perahu yang berisi penuh dengan makanan, lalu bagaimana dengan alam raya yang begitu teratur ini?” Maka dengan akalnya manusia bisa mengetahui bahwa disana ada Allah yang menciptakan alam raya ini.

Adapun dalil dari syariat yang menunjukkan keberadaan Allah ialah dari ucapan para Rasul yang mengatakan bahwa mereka diutus oleh Allah, dan dari kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah yang semuanya menyatakan tentang keberadaan Allah. Ajaran-ajaran para rasul yang terkandung di dalam kitab-kitab tersebut menunjukkan bahwa para Rasul dan kitab-kitab itu memang dari Allah yang menciptakan alam ini, karena ajaran-ajaran itu berisi hukum-hukum yang mengandung maslahat untuk kehidupan seluruh makhluk.

Panca indera manusia juga dapat menangkap bukti-bukti bahwa Allah itu ada, yaitu dengan seringnya kita mendengar dan menyaksikan terkabulnya permintaan dan permohonan orang-orang yang berdoa. Hal ini seperti sebuah riwayat yang disebutkan dalam shahih al-Bukhari, bahwa pernah seorang arab pedalaman datang pada hari jumat saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah. Kemudian dia berkata: “Wahai Rasulullah harta benda telah rusak dan banyak keluarga yang kelaparan, berdoalah untuk kami!” Maka Beliau mengangkat kedua tangan dan berdoa. Lalu datanglah awan menggumpal sebesar gunung, dan hujan pun turun sebelum beliau turun dari mimbar.” Dan kita masih terus mendengar dan menyaksikan terkabulnya doa-doa sampai hari ini dari mereka yang berdoa kepada Allah dan mengerjakan syarat-syarat terkabulnya doa.

Dan dalam perkara ini, Syaikh bin Baz berpandangan bahwa iman dengan keberadaan Allah masuk dalam kandungan iman dengan kerububiyahan-Nya.

 

Iman Dengan Kerububiyahan Allah

Yaitu meyakini bahwa Allah memiliki sifat rububiyah; mencipta, mengatur, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, dan sifat-sifat ketuhanan lainnya yang hanya dimiliki oleh Allah. Dalil tentang hal ini terdapat di dalam al-Quran dan as-Sunnah.

Dalil dari al-Quran di antaranya adalah firman Allah yang artinya: “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” (QS. al-Fatihah: 2) “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. al-A’raaf: 54) “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (QS. az-Zumar: 62) “Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia. maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (QS. Fathir: 3) “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Mulk: 1)

Dalil dari as-Sunnah di antaranya ialah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ketahuilah olehmu, seandainya ada satu umat berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu dengan satu kemanfaatan, mereka tidak akan mampu memberikan manfaat itu kepadamu, kecuali jika hal itu sudah ditakdirkan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu dengan satu perkara, mereka juga tidak akan mampu melakukan hal itu terhadapmu kecuali jika hal itu sudah ditakdirkan atasmu. Pena (yang mencatat takdir) telah diangkat, dan lembaran-lembaran (catatan takdirpun juga) telah kering.” (HR. at-Tirmidzi 2516)

 

Iman Dengan Keuluhiyahan Allah

Yaitu meyakini bahwa hanya Allah-lah sembahan yang benar dan pantas untuk diibadahi; karena hanya Allah yang memiliki sifat-sifat rububiyah. Banyak sekali dalil dari al-Quran dan as-Sunah menyebutkan hal ini.

Dalil dari al-Quran di antaranya ialah firman Allah yang artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun..” (QS. an-Nisaa: 36) “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia..” (QS. al-Israa: 23), “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 21-22)

Dalil dari as-Sunah di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz: “Wahai Mu’adz, apakah engkau mengetahui hak Allah yang harus ditunaikan oleh hamba-hamba-Nya?” Mu’adz berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.Maka Nabi bersabda,Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah disembah dan tidak disekutukan dengan apapun.” (HR. al-Bukhari 6938) Ketika mengutus Mu’adz untuk berdakwah ke negeri Yaman, Beliau bersabda: “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum yang mereka adalah ahli kitab. Maka hendaklah engkau dakwahi mereka pertama kali untuk mentauhidkan Allah …” (HR. al-Bukhari 4090)

 

Iman Dengan Nama-nama dan Sifat-sifat Allah

Yaitu yakin bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang mulia dengan cara menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang ada di dalam al-Quran dan as-Sunnah, tanpa mengubahnya, menyerupakannya dengan makhluk, mengosongkan maknanya dan mengilustrasikan atau mengkhayalkan bentuknya. Dalil tentang perkara ini ialah al-Quran dan as-Sunnah.

Dalil dari al-Quran di antaranya ialah firman Allah yang artinya: “Hanya milik Allah nama-nama yang terbaik, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama  itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-A’raaf: 180) “Dan hanya bagi-Nya lah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ruum: 27) dan “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. asy-Syuraa: 11)

Dalil dari as-Sunnah di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama. Barangsiapa menghafalnya, ia akan masuk surga.” (HR. at-Tirmidzi 3508) Dan “Aku meminta kepada-Mu dengan segenap nama-Mu, yang telah Kau namakan diri-Mu dengannya, atau Kau turunkan dalam kitab-Mu, atau Kau ajarkan kepada salah seorang hamba-Mu atau Kau simpan di dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu.” (HR. Ahmad 3712)

 

Penutup

Jika seseorang beriman kepada Allah dengan empat perkara di atas, maka insyaAllah telah terealisasi keimanannya kepada Allah dengan benar, dan ketauhidannya kepada Allah dengan benar; ia tidak akan beribadah kecuali hanya kepada Allah, tidak takut dan berharap kepada selain Allah, akan menjadi sempurna kecintaan dan pengagungannya kepada Allah.

Demikianlah pembahasan kita kali ini tentang keimanan kepada Allah yang merupakan pokok iman yang pertama. Semoga bermanfaat dan diberkahi oleh Allah.

 

Sumber

Ushul Iman fii Dhauil Kitab wa Sunnah, Nukhbatun minal ‘Ulama, Syarh Ushul ats-Tsalatsah, Ibnu ‘Utsaimin, Bayanu ‘Akidah Ahli Sunnah wal Jama’ah wa Luzumu Ittiba’iha, Sa’id bin Wahf al-Qahthani  

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post
»