Hukum Meminta Syafaat

March 18, 2016

1011810_836794033002980_4146645740392418733_n

Fasal Ketujuh : Hukum Meminta Syafaat

Sebagaimana Allah I berfirman :
قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“ Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. kemudian kepada- Nyalah kamu dikembalikan” (Az Zumar : 44)
Karena Syafaat itu milik Allah I bahkan seluruh apa yang dilangit dan dibumi baik dzat, perbuatan dan sifatnya adalah milik Allah, maka wajib hukumnya meminta syafaat kepada yang memilikinya yaitu Allah I. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syeikh Nashir As Sa’diy ? dalam tafsirnya. ) Tafsir Alkariimir Rahman azzumar ayat 44)
Jadi seharusnya kita berdoa kepada Allah I agar Allah I mengizinkan para pemberi syafaat untuk memberikan syafaatnya di hari kiamat. Seperti ungkapan misalnya :” Yaa Allah, jadikan Rasulullah r sebagai pemberi syafaat bagiku di akhirat nanti”,” Jadikanlah diriku salah satu orang yang mendapatkan syafaat Rasulullah r di akhirat nanti.” Atau “Yaa Allah, janganlah Engkau haramkan atasku syafaat Rasulullah r di akhirat.” Dan semisalnya, yang intinya do’a tersebut ditujukan kepada Allah I semata.
Adapun meminta syafaat kepada Rasulullah r ini ada perincian, yaitu :
Pertama : Jika Rasulullah r masih hidup dan dihadapan beliau r, maka hukumnya boleh dan pernah terjadi. Disebutkan dalam riwayat Anas bin Malik t berkata:
سَأَلْتُ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَشْفَعَ لِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ قَالَ أَنَا فَاعِلٌ بِهِمْ قَالَ فَأَيْنَ أَطْلُبُكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَالَ اطْلُبْنِي أَوَّلَ مَا تَطْلُبُنِي عَلَى الصِّرَاطِ قَالَ قُلْتُ فَإِذَا لَمْ أَلْقَكَ عَلَى الصِّرَاطِ قَالَ فَأَنَا عِنْدَ الْمِيزَانِ قَالَ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ أَلْقَكَ عِنْدَ الْمِيزَانِ قَالَ فَأَنَا عِنْدَ الْحَوْضِ لَا أُخْطِئُ هَذِهِ الثَّلَاثَ مَوَاطِنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Aku meminta kepada Nabi r untuk memberiku syafaat pada hari Kiamat”. Maka beliau berkata, “Akan aku lakukan”. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, dimana aku akan mencarimu? “Beliau berkata, “Carilah aku saat pertama kali engkau mencari aku di saat shirat. Aku berkata :”Bagaimana kalau akau tidak menjumpaimu di shirat? Beliau berkata :” Maka aku di timbangan.” Aku berkata :”Dan bagaimana jika aku tidak menjumpaimu di timbangan?”, Beliau berkata :” Maka aku di telaga, aku tidak luput dari ketiga tempat itu.” (Sunan At Tirmidzi: 4/621, kitab hari kiamat. Dishahihkan Syeikh Al Albani)

Namun demikian, syafaat tidak pasti terwujud untuk orang yang memintanya dari Nabi r di saat beliau r masih hidup, tetapi harus tetap memenuhi syarat-syaratnya. Misalkan nash yang menerangkan ketika Rasulullah r memintakan ampunan untuk pamanya Abu Thalib, maka Allah I tidak mengabulkan permintaan beliau. Ketika Allah I berfirman :
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ , كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ
“ Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, Maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi Penyantun.”(At Taubah 113-114)
Juga Allah I berfirman :
اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Meskipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. yang demikian itu adalah Karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. At-Taubah: 80)
Kedua: Bila permintaan syafaat kepada Beliau setelah wafat, maka hal ini tidak boleh dilakukan. Justu ini termasuk bid’ah yang baru, karena tidak ada dalil yang membolehkanya. Telah dikeyahui bahwa seluruh ibadah bertumpu pada ittiba’ (meneladani Rasulullah r), tidak berdasarkan hawa nafsu ataupun perbuatan bid’ah. Perkara ini juga tidak dikenal di masa sahabat. Padahal mereka adalah orang yang paling semangat terhadap kebaikan, demikian juga generasi selanjutnya. Maka tidak boleh meminta syafaat setelah Beliau r meninggal sebelum hari kiamat, tidak di dekat kubur beliau atau dari tempat yang jauh.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Meminta syafaat, do’a dan ampunan kepada Beliau r setelah wafat dan di samping kuburnya, tidak disyariatkan sama sekali, baik menurut salah satu Imam yang empat. Demikian pula para murid senior mereka tidak pernah menyinggungnya. Adapun yang menyinggungnya adalah sebagian ulama muta’akhirin. (Majmu’ Fatawa: 1/148)
Jika meminta syafaat kepada Rasulullah r ketika sudah wafat demikian hukumnya terlebih meminta kepada mayit selain Rasulullah r.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *