Pengertian Non Muslim

Kalangan non muslim adalah mereka yang tidak beriman dengan Nabi Muhammad shallallahu alaih wa sallam, dan tidak meyakini ajaran-ajaran yang beliau bawa. Dalam terminologi syariat, mereka disebut sebagai kuffaar (orang-orang kafir).

 

Jenis-jenis Non Muslim

Non muslim ada dua jenis:

  1. Non muslim secara lahir dan batin. Kekafiran mereka jelas dan nyata. Orang-orang kafir jenis ini ada dua macam. Pertama, kafir asli. Yaitu mereka yang tidak pernah memeluk Islam sebelumnya. Mereka ada yang dari kalangan Ahli Kitab, Majusi, dan lain-lain. Hukum bagi mereka berbeda-beda sesuai dengan agama yang dianut. Kedua, kafir murtad. Yaitu orang yang pernah memeluk Islam namun kemudian keluar darinya, sama saja apakah ia memeluk Islam ketika baligh tapi kemudian murtad, atau sejak kecil ia diasuh oleh orang tua yang muslim, kemudian setelah baligh ia menjadi kafir.
  2. Non muslim yang secara lahir menampakkan keislaman, namun sebenarnya menyembunyikan kekufuran. Mereka disebut sebagai munaafiquun (orang-orang munafik).

 

Hukum Non Muslim Di Akhirat

Orang yang mati dalam keadaan tidak beragama Islam tidak lepas dari dua keadaan:

  1. Ia bukan seorang yang mukallaf (dibebani kewajiban syariat), karena tidak waras atau belum baligh. Hukum mereka di akhirat diperselisihkan oleh para ulama. Ada yang berpendapat bahwa Allah akan memperlakukan mereka sesuai dengan ilmu-Nya, karena Allah pasti mengetahui siapa yang akan masuk Islam dari mereka seandainya mereka itu baligh atau tidak gila. Ini pendapat yang lemah sebab Allah tidak akan menghisab seseorang kecuali atas perbuatan konkret mereka.

Ada juga yang berpendapat bahwa kedudukan mereka sama dengan kedudukan orang-orang muslim yang tidak waras, dan anak-anak muslim yang belum baligh, yaitu masuk surga. Kemudian ada yang berpendapat bahwa Allah akan menguji mereka di akhirat sebagaimana Allah akan menguji orang-orang yang ada di masa fatrah, yaitu masa ketika tidak ada nabi atau agama yang benar. Dua pendapat terakhir ini lebih kuat daripada pendapat pertama.

  1. Ia seorang yang mukallaf. Yaitu berakal dan baligh (dewasa). Untuk orang yang seperti ini ada dua keadaan:
  2. Ia sudah mendapatkan dakwah Islam secara benar. Hujjah telah ditegakkan terhadapnya. Ia telah memahami Islam dan mengerti dasar-dasar aqidah dan syariat Islam, namun menolak untuk memeluk Islam. Orang-orang yang semacam ini balasannya adalah neraka. Mereka kekal di dalamnya. Allah jalla wa ‘ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. al-Bayyinah: 6)

“Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir.” (QS. Fathir: 36)

  1. Ia belum mendapatkan dakwah Islam dan tidak pernah mendengar tentang Islam. Atau dakwah Islam sampai kepadanya namun tidak secara benar, sehingga hujjah belum ditegakkan terhadapnya, dan ia sendiri tidak memiliki kemungkinan untuk mengerti dan mencari tahu tentang kebenaran. Orang-orang semacam ini dinamakan sebagai ahlul fatrah.

Allah akan memberi ujian kepada mereka di akhirat dengan memerintahkan mereka masuk ke dalam api. Siapa yang menaati Allah, maka ia adalah muslim dan akan masuk surga, dan siapa yang durhaka kepada-Nya, maka ia adalah kafir dan akan masuk neraka. Allah berfirman, “Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. al-Israa: 15)

 

Meskipun orang-orang non muslim semuanya di neraka, namun kerasnya siksaan untuk mereka berbeda-beda sesuai dengan kadar kekufuran dan penentangan mereka terhadap kebenaran. Siapa yang sangat keras kekufurannya, keras pula siksaannya. Dan orang-orang munafiq adalah orang-orang yang paling keras siksanya di neraka. Sebab kadar kekafiran mereka sangat parah dan mereka sangat membahayakan kaum muslimin.

Allah jalla wa ‘alaa berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS. an-Nisaa: 145) Neraka itu berjenjang-jenjang, dan siksa neraka yang paling berat berada di neraka yang paling bawah.

 

Hukum Non Muslim di Dunia

Hukum Pertama

Setiap muslim wajib meyakini bahwa semua agama selain Islam adalah batil. Tidak ada agama yang diterima oleh Allah di akhirat selain Islam. Allah jalla wa ‘alaa berfirman, “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imraan: 85)

Kaum muslimin harus meyakini bahwa orang yang tidak beragama Islam adalah kafir dan berada dalam kesesatan yang nyata, walaupun tingkatan mereka berbeda-beda. Allah Taala berfirman, “Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. az-Zumar: 22)

Kaum muslimin wajib memberlakukan hukum-hukum kekafiran atas mereka sesuai dengan kemampuan, dan meyakini bahwa jika kalangan non muslim itu meninggal dunia di atas kekufuran, setelah dakwah Islam sampai kepada mereka, maka mereka termasuk penghuni neraka, walaupun dari kalangan Ahli Kitab.

Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada seorang pun yang mendengar tentang aku dari kalangan umat ini, baik orang Yahudi maupun Nasrani, kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman dengan ajaran yang aku bawa, kecuali ia akan menjadi penghuni neraka.” (HR Muslim)

 

Hukum Kedua

Kaum muslimin wajib bersikap antipati terhadap orang-orang kafir dan agama mereka, membenci mereka secara lahir dan batin, dan memusuhi mereka tanpa membeda-bedakan jenis. Yang demikian, karena mereka sesungguhnya menentang hak Allah sebagai satu-satunya sembahan, dan mendustakan risalah Nabi Muhammad shallallahu alaih wa sallam.

Allah Taala berfirman, menceritakan perkataan Nabi Ibrahim dan pengikutnya, “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. al-Mumtahanah: 4)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” (QS. al-Maaidah: 57)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. al-Maaidah: 51)

Kebencian dan permusuhan terhadap orang kafir bertingkat-tingkat sesuai dengan kadar kekufuran dan permusuhan mereka terhadap kaum muslimin. Yang dimaksud dengan sikap antipati adalah tidak meridhai mereka, agama mereka dan tetapnya mereka dalam agama itu. Sedangkan yang dimaksud dengan membenci mereka adalah tidak mencintai mereka dengan kecintaan yang dilandasi nilai keagamaan, atau dengan kecintaan secara mutlak tanpa sebab tertentu yang mengandung konsekuensi meridhai kekufuran mereka, atau mendahulukan keridhaan mereka daripada keridhaan Allah.

Adapun rasa cinta yang dilandasi oleh nilai-nilai keduniaan yang tidak mutlak, karena adanya sebab, seperti cinta ayah kepada anak, suami kepada istri, teman kepada teman yang lain, atau cinta kepada orang non muslim yang berperilaku baik, maka cinta seperti ini tidak apa-apa. Kemudian yang dimaksud dengan memusuhi mereka adalah tidak menyayangi mereka dan tidak loyal kepada mereka dengan memberi pertolongan berupa harta, jiwa, ucapan atau perbuatan untuk melawan kaum muslimin.

 

Hukum Ketiga

Diharamkan untuk ikut-ikutan melakukan suatu perkara yang merupakan ciri khas mereka. Entah itu dalam hal keagamaan atau adat kebiasaan. Allah azza wa jallaa berfirman, “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. al-Maaidah: 77)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu …” (QS. Ali Imraan: 156) Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka.” (HR. Abu Dawud)

 

(Sumber: Ahkam at-Ta’amul Ma’a Ghair al-Muslimin, Khalid bin Muhammad al-Majid)

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *