1011810_836794033002980_4146645740392418733_n I

Fasal Keenam : Hikmah Pemberian Izin Syafaat Dari Allah Ta’ala

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ? menjelaskan hal ini dalam ucapan beliau, “Hakikat (manfaat) dari syafaat adalah bahwa Allah I yang memberi karunia kepada orang-orang yang bertauhid dan mengikhlaskan (ibadah kepada-Nya semata) dengan Dia mengampuni (dosa-dosa) mereka dengan perantaraan doa dari orang yang Allah I izinkan untuk memberi syafaat. Agar Allah I memuliakan orang tersebut dengan syafaat itu dan agar dia mencapai kedudukan yang terpuji….” ) Majmuu’ul Fataawa (7/78).(
Dari penjelasan beliau di atas jelaslah bahwa maksud pemberian izin syafaat dari Allah I adalah :
1- Memuliakan orang yang Allah I izinkan untuk memberi syafaat.
2- Memberi manfaat kepada yang diberi syafaat, yaitu orang-orang yang bertauhid dan mengikhlaskan (ibadah kepada-Nya semata), dengan Allah I mengampuni (dosa-dosa) mereka dengan perantaraan syafaat tersebut. ) Lihat kitab Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/330).(
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin ? menjelaskan makna ucapan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah ? di atas, beliau berkata, “Faidah (manfaat) dari syafaat adalah bahwa Allah I ingin mengampuni (dosa-dosa) orang yang menerima syafaat, tetapi dengan perantaraan syafaat tersebut.
Dan hikmah dari perantaraan (dengan syafaat ini) dijelaskan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah ? dalam ucapannya (di atas). Seandainya Allah I menghendaki, maka Dia akan mengampuni (dosa-dosa) mereka tanpa (perantaraan) syafaat, akan tetapi Allah I ingin menampakkan keutamaan dan kemuliaan orang yang memberi syafaat tersebut di hadapan manusia (pada hari kiamat). Dan sudah diketahui bahwa orang yang Allah I terima syafaatnya maka (mestinya) dia mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi-Nya. Maka ini berarti pemuliaan terhadap orang yang (diizinkan Allah) memberi syafaat, dari dua segi:
Pertama: Tampaknya keutamaan pemberi syafaat tersebut terhadap yang diberi syafaat.
Kedua: Tampaknya kedudukannya (yang mulia) di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” ) Kitab Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/345-346)(

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *