Fasal Ketiga : Sikap Manusia Terhadap Syafaat

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafidzahullah berkata, “Dalam (menetapkan) perkara syafaat, manusia terbagi menjadi tiga golongan:
Golongan pertama: Orang-orang yang berlebihan dan melampaui batas dalam menetapkan syafaat. Mereka adalah orang-orang Nashrani, orang-orang musyrik, kelompok ahli Tasawuf yang ekstrim ( yang meyakini akidah “widatul wujud “ atau “manunggaling kawulo gusti” ), dan para pemuja/ penyembah kubur (yang dikeramatkan). Dimana mereka mengharapkan dengan penuh keyakinan adanya syafaat di sisi Allah I dari sesembahan atau orang-orang yang mereka agungkan di dunia, hingga mereka pun meminta syafaat kepada selain Allah I . Ini adalah perbuatan syirik besar, sebagaimana yang Allah I sebutkan (dalam al-Qur’an) tentang orang-orang musyrik. Allah I berfirman :
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada Kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” Maha suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu).( Yunus : 18 )
Golongan kedua: Kelompok yang berlebihan dan melampaui batas dalam menolak syafaat, seperti kaum Mu’tazilah dan Khawarij. Mereka mengingkari syafaat Nabi r dan syafaat selain Rasulullah r bagi para pelaku dosa besar.
Golongan ketiga: Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menetapkan syafaat (dari Allah I) sesuai dengan yang diterangkan dalam ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah r, maka mereka menetapkan syafaat sesuai dengan syarat-syaratnya yang telah ditetapkan syari’at dan mengimaninya tanpa ifrath wa tafrith ( berlebihan dan menyepelekan)” ( Kitab Syarhul Aqiidatil Waasithiyyah (hal. 143-144), juga lihat kitab At ta’liqaat al mukhtasharah ‘ala matnil ‘aqiidah ath thahawiyah.)
1011810_836794033002980_4146645740392418733_n

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *