Hak Allah dan Hak Hamba

October 10, 2014

Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dimana pun engkau berada, ikutilah kejelekan dengan kebaikan, sehingga kebaikan itu menghapus kejelekan tersebut, dan pergaulilah manusia dengan budi pekerti yang luhur!” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)

Hadits diatas adalah hadits yang agung, Rasulullah shallallahu alaih wa sallam mengumpulkan padanya hak Allah dan hak hamba. Hak Allah atas hamba adalah agar para hamba itu bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar takwa, yang mana mereka menjaga diri dari kemurkaan dan azab-Nya dengan menjauhi larangan-larangan dan menunaikan perintah-perintah Allah.

Wasiat ini adalah wasiat Allah kepada orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan, dan wasiat para rasul kepada kaumnya, dimana para rasul itu berkata kepada mereka, “(yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku.” (Nuh : 3)

Dan sungguh, Allah menyebutkan perangai ketakwaan dalam firman-Nya, “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah : 177)

dan “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (Ali Imraan : 133-134)

Pada ayat-ayat diatas Allah menyifatkan orang-orang bertakwa dengan keimanan terhadap dasar, aqidah dan amal keimanan, baik yang lahir maupun yang batin, serta dengan penunaian ibadah yang berkaitan dengan badan maupun dengan harta, bersabar ketika ditimpa kesulitan, bencana dan malapetaka, memaafkan manusia, menanggung gangguan mereka, berbuat baik kepada mereka, memohonkan ampun dan taubat untuk mereka ketika mereka berbuat keburukan atau menzalimi diri-diri mereka sendiri.

Maka Nabi shallallahu alaih wa sallam memerintahkan dan memberi wasiat kepada manusia untuk senantiasa bertakwa dimanapun mereka berada, disegenap waktu, disemua tempat, dan setiap keadaan. Sebab seorang hamba sangat membutuhkan ketakwaan dan tidak bisa merasa cukup darinya pada setiap keadaan dari keadaan-keadaannya.

Kemudian, ketika seseorang dipastikan terdapat padanya kekurangan dalam menunaikan hak dan kewajiban ketakwaan, Nabi shallallahu alaih wa sallam memerintahkan agar mereka melakukan perkara yang dapat menghapus dan menghilangka kekurangan itu, yaitu mengiringi perbuatan jelek dengan perbuatan baik.

‘Al-hasanah’ yang secara bahasa artinya kebaikan, yang disebutkan oleh Nabi shallallahu alaih wa sallam pada hadits diatas adalah istilah untuk semua perkara yang mendekatkan diri kepada Allah Taala. Dan seagung-agung kebaikan yang dapat menghilangkan kejelekan adalah taubat yang sungguh-sungguh, istighfar, kembali kepada Allah dengan berzikir mengingat-Nya, mencintai-Nya, takut dan harap kepada Allah, dan tamak terhadap keutamaan yang ada pada-Nya pada setiap waktu. Termasuk dalam hal ini juga, kaffarah dalam bentuk harta ataupun jiwa yang telah ditentukan oleh syariat.

Dan diantara kebaikan yang dapat menghapus kejelekan adalah memaafkan orang, berbuat baik kepada makhluk Allah, baik kepada manusia ataupun selainnya, mencarikan jalan keluar bagi yang tertimpa kesempitan, memudahkan mereka yang kesusahan, dan menyingkirkan perkara yang membahayakan dan menyulitkan bagi segenap makhluk.

Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Huud : 113) Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Shalat lima waktu, dari Jumat ke Jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan adalah penggugur dosa-dosa yang terjadi diantaranya selama dosa-dosa besar dijauhi.” Dan banyak sekali nas yang menunjukkan adanya pengampunan dengan amalan ketaatan.

Kemudian termasuk perkara yang dengannya Allah gugurkan dosa-dosa adalah musibah-musibah yang menimpa seorang hamba. Maka sungguh, seorang mukmin tidaklah ditimpa kegundahan, kegelisahan, gangguan, sampai-sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah gugurkan dosa-dosanya dengan sebab hal tersebut. Musibah itu bisa dalam bentuk luputnya perkara yang dicintai atau terkena perkara yang dibenci, baik yang berhubungan dengan badan, hati, harta, dari luar maupun dari dalam. Dan musibah-musibah yang dimaksud adalah musibah yang bukan dari perbuatan hamba tersebut. Maka dari itulah Nabi shallallahu alaih wa sallam memerintahkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang memang perbuatannya, yaitu mengiringi keburukan dengan kebaikan.

Setelah beliau menyebutkan hak Allah, yaitu wasiat untuk bertakwa yang mencakup seluruh aqidah agama dan amalannya, baik yang lahir maupun yang batin, beliau bersabda, “Dan pergaulilah manusia dengan budi pekerti yang luhur.”

Akhlak/budi pekerti yang pertama adalah tidak mengganggu mereka dari segala sisi, memaafkan kelakuan buruk dan gangguan mereka terhadapmu, kemudian bermuamalah dengan mereka dengan baik, dalam bentuk perkataan maupun perbuatan.

Dan yang lebih khusus lagi tentang bergaul dengan manusia dengan akhlak yang baik adalah banyak bersabar atas mereka, tidak jenuh dari mereka, berwajah ceria, bertutur kata halus, berkata dengan ucapan yang baik dan menyenangkan teman duduk, memasukkan rasa senang kepada mereka, menghilangkan kegelisahan dan kesulitannya, baik pula dengan sedikit canda jika terdapat maslahat padanya namun tidak sepatutnya untuk terlalu banyak dan sering bergurau. Karena sesungguhnya senda gurau dalam ucapan itu seperti garam dalam makanan, jika tidak ada sama sekali atau melewati batas justru akan menjadi tercela.

Diantara bentuk perangai yang baik adalah bermuamalah dengan pergaulan yang layak kepada setiap manusia sesuai dengan keadaan mereka. Apakah dengan melihat usianya, tingkat kecerdasannya atau pun keilmuannya.

Maka barangsiapa bertakwa kepada Allah dan merealisasikan ketakwaannya, bermuamalah dengan manusia dengan tingkah laku mereka yang berbeda-beda dengan budi pekerti yang luhur, maka ia telah memperoleh semua kebaikan. Sebab dengan demikian, ia berarti telah menunaikan hak Allah dan hak hamba-Nya. Dan ia termasuk orang-orang yang berbuat ihsan dalam peribadatan kepada Allah dan berbuat ihsan kepada hamba-hamba Allah.

 

Mengerti Tentang Agama

Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Barangsiapa diinginkan kebaikan oleh Allah, niscaya Allah akan membuatnya faqih dalam agama.” (Muttafaqun alaih)

Hadits diatas termasuk hadits yang menunjukkan fadhilah yang paling agung tentang ilmu agama, padanya terdapat keterangan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah tanda yang menunjukkan kebahagiaan seorang hamba dan ia adalah orang yang diingikan kebaikannya oleh Allah.

Mengerti tentang agama yang dimaksud pada hadits diatas mencakup mengerti tentang pokok-pokok keimanan, syariat-syariat Islam dan hukum-hukumnya, serta hakikat ihsan. Karena agama itu mencakup tiga perkara ini. Sebagaimana terdapat pada hadits Jibril ketika Nabi shallallahu alaih wa sallam ditanya tentang iman, islam dan ihsan, yang kemudian dijawab oleh beliau batasan-batasannya. Maka beliau menjelaskan iman dengan dasar yang enam, Islam dengan pondasi-pondasinya yang lima, dan Ihsan dengan perkataan beliau, “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, jika tidak melihat-Nya maka engkau meyakini bahwa Allah melihatmu.” Dengan demikian masuk dalam pengertian mengerti agama adalah mengerti dalam hal aqidah, mazhab salaf berkenaan dengannya kemudian merealisasikannya secara lahir dan batin,seta mengenal mazhab yang menyelisihi dan keterangan tentang penyelisihannya terhadap Al-Quran dan As-Sunnah.

Dan dapat dipahami dari hadits diatas, bahwa barangsiapa berpaling dari perkara-perkara diatas secara total, maka ia tidak diinginkan kebaikannya oleh Allah. Karena terhalangnya ia dari sebab-sebab yang dengannya diperoleh kebahagiaan dan kebaikan-kebaikan.

(diambil dari Kitab Bahjah Qulub al-Abrar wa Qurratu ‘Uyun al-Akhyaar Syarh Jawami al-Akhbaar, Syaikh as-Sa’di)

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *