Telah diketahui bersama, tumbuhnya aktifitas-aktifitas dakwah yang penuh berkah, dan kesadaran di kalangan pemuda-pemuda muslim di negeri-negeri Islam, yang memiliki orientasi menerapkan syariat Allah dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaih wa sallam.

Tidak diragukan lagi bahwa tumbuhnya aktifitas dakwah seperti ini, sebagaimana aktifitas-aktifitas dakwah lainnya yang penuh berkah- akan dihadang oleh sekian banyak musuh. Sebab manakala cahaya kebenaran menyala, api kebatilan pun akan ikut menyala. Namun Allah berfirman, “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS. ash-Shaff: 8)

Sesungguhnya kesadaran keislaman yang kita lihat pada kaum muda di masa sekarang, di segenap penjuru dunia Islam, sangat membutuhkan beberapa arahan agar aktifitas dakwah yang mereka lakukan menjadi bermanfaat dan konstruktif, dengan izin Allah.

Bangkitnya aktifitas-aktifitas dakwah yang terjadi di seluruh negeri Islam, haruslah berada di atas dasar yang kokoh dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaih wa sallam. Sebab apabila aktifitas dakwah ini tidak berdiri di atas dasar Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya shallallahu alaih wa sallam, ia akan seperti badai yang lebih banyak merusak daripada membangun. Namun jika ia dibangun di atas dasar Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaih wa sallam, maka ia akan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap umat Islam dan umat yang lain.

Suatu ketika, Abu Sufyan datang ke Negeri Syam dan bertemu dengan Raja Romawi, Heraklius. Abu Sufyan ketika itu masih kafir. Dalam pertemuan itu, Abu Sufyan menyebutkan beberapa sifat yang ada pada Nabi shallallahu alaih wa sallam, seperti beribadah hanya kepada Allah, tidak menyembah berhala, memiliki akhlak yang luhur, jujur, menepati janji, dan perilaku-perilaku lain yang dituntunkan oleh syariat Islam. Maka Heraklius berkata kepada Abu Sufyan, “Jika benar apa yang kau katakan, maka ia akan menguasai apa yang ada di bawah kedua telapak kakiku.”

Dengan keadaan Nabi shallallahu alaih wa sallam yang pada waktu itu masih dalam keadaan berhijrah, sementara bangsa Arab juga belum tunduk kepada beliau, siapa yang membayangkan seorang raja seperti Heraklius akan berkata seperti itu di hadapan kaumnya. “Jika benar apa yang kau katakan, maka ia akan menguasai apa yang ada di bawah kedua telapak kakiku.”

Apa yang diprediksikan oleh Heraklius ini terjadi atau tidak? Apakah Nabi shallallahu alaih wa sallam mampu menguasai apa yang ada di bawah kedua telapak kaki Heraklius? Apakah Nabi shallallahu alaih wa sallam berhasil menguasai Syam padahal beliau wafat sebelum Syam ditaklukkan?!

Jawabnya, sesungguhnya Nabi shallallahu alaih wa sallam telah menguasai apa yang ada di bawah dua telapak kaki Heraklius dengan dakwah beliau, bukan dengan diri beliau. Sebab dakwah beliau telah merambah berbagai belahan dunia, menghilangkan berhala dan kesyirikan. Negeri Syam dikuasai oleh Khulafa Rasyidun sepeninggal Nabi shallallahu alaih wa sallam. Mereka menguasainya dengan dakwah Nabi shallallahu alaih wa sallam dan syariat beliau.

Seandainya umat Islam, dengan pemimpin dan rakyatnya, kembali kepada agama Allah dengan sebenarnya, dan bersikap loyal terhadap sesama orang beriman, serta memusuhi orang-orang kafir, niscaya mereka akan menguasai bagian timur dan barat dunia ini. Umat Islam tidaklah mendapatkan pertolongan dengan sebab ikatan kesukuan tertentu. Mereka mendapakan kemenangan karena menegakkan agama Allah Azza wa Jalla. Karena sungguh Allah Subhaanahu wa Taala telah menjamin kejayaan agama-Nya di atas segala agama. Allah Taala berfirman, “Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.” (QS. Ash-Shaff: 9) Konsekuensi dari kejayaan agama Allah adalah kejayaan orang-orang yang berpegang teguh dengannya.

Kembali Kepada Al-Quran

Apabila ada yang bertanya, “Bagaimana cara kembali kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam?”

Kembali kepada Kitabullah adalah dengan bersungguh-sungguh mentadabburi Kitabullah Azza wa Jalla, kemudian mengamalkannya. Sebab Allah berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran bisa mendapat pelajaran.” (QS. Shaad: 29) Mentadabburi ayat-ayat Quran akan membuat seseorang mengerti maknanya, dan maksud mendapat pelajaran adalah mengamalkan Al-Quran.

Demikianlah, Al-Quran diturunkan untuk tujuan ini. Maka marilah kita kembali kepada Al-Quran dengan mentadabburi dan mempelajari kandungannya, kemudian menerapkan kandungannya tersebut. Demi Allah, dengan cara demikianlah kita akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah Taala berfirman, “..barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaahaa: 123-124) Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang paling nikmat keadaannya, paling lapang dadanya dan paling tenang hatinya selain orang yang beriman, walaupun ia fakir. Seorang mukmin adalah orang yang paling lapang dadanya dan paling tenang. Bacalah firman Allah Taala, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. an-Nahl: 97) Apakah yang dimaksud dengan kehidupan yang baik? Apakah dengan banyak harta? Banyak anak? Atau keadaan negeri yang aman? Tidak. Sungguh, kehidupan yang baik adalah dengan lapangnya dada dan tentramnya hati. Sampai seandainya pun orang itu berada dalam kesengsaraan, hatinya tetap merasa tenteram, dan dadanya terasa lapang. Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Betapa mengagumkan keadaan orang beriman. Karena semua perkaranya merupakan kebaikan. Dan keadaan yang seperti itu tidaklah terjadi kecuali pada orang yang beriman. Apabila ia mendapat kebahagiaan, ia bersyukur, maka itu adalah kebaikan untuknya. Dan jika ia ditimpa kesulitan, ia bersabar, maka itu juga kebaikan untuknya.” (HR. Muslim 2999)

Adapun orang kafir, jika ditimpa kesengsaraan, apakah ia akan bersabar? Tidak. Ia akan menjadi sangat sedih. Baginya, dunia terasa sempit. Bisa jadi, ia akan membunuh dirinya sendiri. Sedangkan orang beriman akan bersabar, dan mendapati nikmat kesabaran itu berupa ketentraman dan kelapangan dada. Dengan begitu, kehidupannya menjadi baik. Maka firman Allah Taala ‘maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik’ adalah kehidupan di hati dan jiwanya.

 

Kembali Kepada as-Sunnah an-Nabawiyah

Adapun kembali kepada as-Sunnah an-Nabawiyah, maka Sunnah Nabi shallallahu alaih wa sallam ada di hadapan kita dalam keadaan terpelihara, walhamdulillah. Walaupun ada yang berdusta atas nama Rasulullah shallallahu alaih wa sallam, namun para ulama telah menjelaskan mana Sunnah yang shahih, dan mana yang tidak. Sehingga Sunnah Nabi shallallahu alaih wa sallam tetap ada dan terjaga. Siapapun bisa mengetahui Sunnah Rasulullah shallallahu alaih wa sallam dengan merujuk kepada kitab-kitab yang tersedia jika memang memungkinkan. Dan kalau tidak memungkinkan, maka bisa dengan bertanya kepada para ulama.

Apabila ada yang bertanya, “Bagaimana Anda mengkompromikan perkataan Anda tentang kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaih wa sallam, dengan kenyataan adanya para pengikut mazhab yang berkata, “Mazhab saya adalah begini dan begitu!” Sementara yang lain mengatakan, “Mazhab saya tidak seperti itu.” Dan ucapan-ucapan lain yang senada. Sampai-sampai, seandainya Anda berfatwa kepada seseorang dan mengatakan bahwa itu adalah sabda Nabi shallallahu alaih wa sallam, mereka akan berkata, “Mazhab saya Hanafi.” Atau, “Mazhab saya Maliki.” Dan ucapan-ucapan semisalnya.”

Kita katakan kepada mereka, “Bukankah kita semua bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah?” Apakah sesungguhnya makna persaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah? Para ulama mengatakan, maknanya adalah menaati apa yang beliau perintahkan, menjauhi apa yang beliau cela dan larang, membenarkan apa yang beliau kabarkan, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang beliau syariatkan. Inilah makna persaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Oleh karena itu, jika ada seseorang berkata, ‘Mazhab saya adalah demikian dan demikian’, kita katakan, ‘Ini adalah sabda Rasulullah shallallahu alaih wa sallam. Janganlah engkau mempertentangkannya dengan perkataan siapapun. Bahkan para imam mazhab melarang sikap bertaklid buta kepada mereka. Para imam mazhab berkata, “Ketika kebenaran telah nyata, maka siapapun wajib kembali kepadanya.”

Dengan demikian, kita katakan kepada saudara yang mempertentangkan kami dengan mazhab tertentu, “Kami dan Anda sama-sama bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Dan kandungan persaksian ini adalah kita tidak mengikuti siapapun kecuali Rasulullah shallallahu alaih wa sallam.

Sunnah Nabi shallallahu alaih wa sallam ada di hadapan kita dalam keadaan yang terang dan jelas. Dengan perkataan ini, saya tidak bermaksud mengecilkan arti penting kembali kepada kitab-kitab para fukaha dan ulama. Bahkan merujuk kepada kitab-kitab mereka untuk mengambil pelajaran dan mengetahui metode penyimpulan hukum dari dalil-dalil yang ada, termasuk perkara yang amat penting. Oleh karena itu, orang-orang yang tidak mengambil pemahaman dari tangan para ulama seringkali terjatuh di dalam kesalahan. Sebab mereka tidak menempuh cara yang benar dalam memahami. Misalnya, mereka mengambil kitab Shahih Bukhari, lalu berpendapat sesuai dengan hadits-hadits yang ada di dalamnya. Padahal, hadits-hadits itu ada yang memiliki pengertian umum, khusus, mutlak, muqayyad, dan ada pula yang mansukh. Karena mereka tidak memiliki pengetahuan yang benar tentang hal-hal ini, muncullah pemahaman-pemahaman yang keliru.

Poin pentingnya, marilah kita landaskan kebangkitan kita di atas dua pondasi, Al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaih wa sallam. Dan janganlah kita lebih mengedepankan pendapat siapapun daripada keduanya.

 

(ash-Shahwah al-Islamiyyah, Tawjihaat wa Dhawabith, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
«