Dakwah dengan Lemah Lembut

January 1, 2016

Bersikap Lemah lembut

Sesungguhnya kita wajib untuk -sedapat mungkin- bersikap ramah dalam berdakwah mengajak orang lain kepada Allah Azza wa Jalla. Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu santun dan menyukai kesantunan. Dia memberi dengan jalan kesantunan apa yang tidak diberikan dengan jalan kekasaran dan yang selainnya.” (HR. Muslim 2597) Allah Subhaanahu wa Taala mengingatkan Nabi-Nya shallallahu alaih wa sallam dengan nikmat sifat lemah lembut ini dalam firman-Nya, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali Imraan 159)

Seandainya ada orang yang mengajak bicara dengan cara kasar, niscaya kita terdorong untuk membalasnya dengan tindakan yang sama, dan akan terdetik dalam benak kita bahwa orang tersebut tidak ingin menasihati, tapi ingin mengecam. Sebaliknya, jika orang itu bicara dengan lemah lembut, kemudian ketika menjelaskan suatu perkara yang diharamkan, ia memberi alternatif lain yang halal sehingga orang dapat dengan mudah melakukannya, niscaya dengan demikian akan tercapai kebaikan yang banyak.

Sikap seperti ini diajarkan oleh Allah Subhaaahu wa Taala dan Nabi-Nya shallallahu alaih wa sallam. Allah Taala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”.” (QS. al-Baqarah: 104) Pada ayat ini, ketika Allah melarang sebuah ucapan, Dia mengarahkan untuk mengucapkan perkataan lain sebagai gantinya. Maka jika engkau menutup satu pintu yang memang diharamkan oleh Allah untuk dimasuki, bukakanlah pintu lain yang halal.

Ketika dibawakan kurma yang bagus, Nabi shallallahu alaih wa sallam bertanya, “Apakah semua kurma Khaibar seperti ini?” Sahabat menjawab, “Tidak. Kami mengambil satu sha’ kurma seperti ini dengan dua sha’ kurma jenis lain, dan dua sha’ kurma seperti ini dengan tiga sha’ kurma jenis lain .” Maka Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Jangan lakukan yang demikian, jual semua kurma dengan dirham, kemudian belilah dengan dirham-dirham itu kurma-kurma yang bagus!” (HR. al-Bukhari 2201) Pada hadits ini, Nabi shallallahu alaih wa sallam membimbing mereka kepada jalan yang halal. Yaitu menjual kurma jelek dengan dirham, kemudian membeli kurma yang baik dengan dirham tersebut. Jadi, ketika beliau menutup pintu yang terlarang, beliau membukakan pintu yang dibolehkan.

Adapun bersikap lemah lembut, maka siapa yang mengikuti petunjuk Nabi shallallahu alaih wa sallam, niscaya akan mendapati bahwa beliau shallallahu alaih wa sallam adalah orang yang penuh kelembutan kepada umatnya. Contoh yang paling nyata ialah kisah seorang Arab pedalaman yang masuk masjid kemudian pergi ke sudut masjid dan kencing di sana. Ketika itu, orang-orang langsung bangun dan mencelanya, karena apa yang dilakukannya adalah kemungkaran yang sangat besar. Akan tetapi Nabi shallallahu alaih wa sallam melarang mereka dan mereka pun diam. Setelah orang Arab pedalaman itu selesai, Nabi shallallahu alaih wa sallam menyuruh orang untuk menyiramkan seember air pada bekas kencingnya, sehingga najisnya hilang. Beliau shallallahu alaih wa sallam memanggil orang Arab pedalaman itu dan berkata, “Sesungguhnya masjid tidak boleh ada padanya sedikit dari kotoran dan najis. Masjid hanyalah untuk shalat, dzikir, dan membaca Al-Quran.” Demikian riwayat yang ada dalam Shahih al-Bukhari. Dan dalam Musnad Imam Ahmad, orang Arab pedalaman itu berkata, “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan jangan Kau rahmati siapapun selain kami.” Mengapa sampai demikian? Karena Nabi Muhammad shallallahu alaih wa sallam bersikap lemah lembut ketika memberinya pengajaran.

Inilah jalan yang seharusnya ditempuh oleh para dai dan para pengingkar kemungkaran, agar tercapai dengan kelembutan apa yang tidak bisa dicapai dengan kekasaran.

 

Lapang dada terhadap perselisihan para Ulama

Sungguh merupakan kewajiban atas para pemuda dan orang-orang yang berpegang kuat dengan agama ini untuk bersikap lapang dada terhadap perselisihan yang terjadi di kalangan ulama dan selain mereka. Dan untuk menyikapi kondisi perselisihan tersebut dengan memberi udzur kepada ulama yang menempuh jalan yang keliru dalam keyakinan mereka. Ini adalah poin yang sangat penting. Sebab sebagian orang ada yang mencari-cari kesalahan orang lain untuk menjatuhkan kedudukan dan reputasi mereka di tengah-tengah masyarakat. Ini merupakan kesalahan yang sangat besar. Mengghibah orang biasa saja sudah merupakan dosa besar, apalagi mengghibah seorang alim. Tentu lebih besar lagi dosanya. Mengghibah seorang yang alim, kemudaratannya tidak berhenti pada orang alim itu saja, akan tetapi juga pada ilmu syariat yang dibawanya. Sementara itu, apabila masyarakat merasa tidak butuh kepada orang alim tersebut, atau kedudukannya jatuh di mata mereka, maka akan jatuh pula dakwah yang ia serukan. Tidak hanya itu, apabila ia menyerukan kebenaran dan membimbing orang banyak menuju syariat Allah, perbuatan mengghibahnya akan memunculkan penghalang antara orang banyak dengan ilmu syariat. Bahaya dari perbuatan ini sangat besar sekali.

Sesungguhnya para pemuda wajib memandang perselisihan yang terjadi di kalangan ulama atas dasar niat yang baik, ijtihad dan memberi udzur terhadap kekeliruan mereka. Ada baiknya apabila mereka berbicara kepada ulama-ulama itu berkenaan dengan pendapat mereka yang dianggap keliru. Agar kemudian para ulama itu menjelaskan, sehigga tampak apakah yang keliru adalah para ulama itu, ataukah justru yang menganggap ulama itu keliru. Karena terkadang seseorang menganggap pendapat ulama itu keliru, namun ketika terjadi diskusi, nampaklah baginya kebenaran pendapat tersebut. Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Setiap manusia/anak Adam sering berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah yang banyak bertaubat.” (HR. Ahmad 3/198)

Berapa banyak orang yang kembali kepada kebenaran setelah adanya diskusi, dan tidak sedikit pula orang yang ternyata pendapatnya benar setelah diadakan diskusi, padahal sebelumnya kita menyangka bahwa dia keliru. “Maka seorang mukmin terhadap mukmin yang lain seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya.” (HR. al-Bukhari 6026) Nabi shallallahu alaih wa sallam juga bersabda, “Barangsiapa ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, hendaknya ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hendaknya ia memperlakukan orang lain dengan cara yang ia senangi dari orang lain dalam memperlakukan dirinya.” (HR. Muslim 1844)

Adapun merasa gembira dengan ketergelinciran dan kekeliruan seorang ulama, kemudian menyebarkan kekeliruan tersebut sehingga terjadi perpecahan, maka ini bukanlah jalan para salaf. Demikian pula kesalahan yang terjadi dari para penguasa, tidak boleh kita jadikan sarana untuk mencela mereka pada setiap perkara, seraya menutup mata dari kebaikan mereka. Karena Allah berfirman dalam Al-Quran, “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. al-Maaidah : 8) Maknanya, janganlah kebencian kalian kepada suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Karena keadilan adalah wajib. Maka tidak boleh seseorang menjadikan ketergelinciran penguasa atau ulama, atau selain mereka, sebagai alat untuk menjatuhkan kedudukan mereka, lalu melupakan kebaikan yang mereka lakukan. Sebab sikap yang demikian ini tidaklah adil.

Bayangkanlah apabila hal itu terjadi pada diri Anda. Seandainya ada orang yang mengetahui hal ihwal diri Anda, kemudian menyebarkan kejelekan Anda, dan menyembunyikan kebaikan Anda, niscaya Anda akan menganggapnya sebagai seorang yang berkhianat. Jika demikian, maka pandanglah orang lain dengan cara yang sama.

 

(ash-Shahwah al-Islamiyyah, Dhawabith wa Taujihaat, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)

Silahkan Download File Pdf: Download

3 Comments

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,sy ada pertanyaan pak ustazd,,apakah ketika,,ada santri sebuah pondok pesantren,,yg sdh menjadi adat kebiasaan ketika bertemu kyainya mencium tangan,,atau mengambil tangan kananya trus ditempelkan ke pipi atau jidat,,sebagai bentuk penghormatan kpd kyainya,,atas jasanya itu diperbolehkan dlm islam,,karena scara dhahir masyarakat sendiri memandang sbgai kebaikan dlm rangka menghormati orang yg alim,,dan ketika santri itu pulang ke rumah dan menerapkan/memposisikan orang tuanya jg seperti kyainya,,dicium tanganya,,maka orang tuanya kadang menangis krn merasa anaknya berhasil dlm belajar dipompes,,mohon penjelasan pak ustazd,,,Barakallahufiik

    • Al Lijazy says:

      Urf (adat kebiasaan) jika tidak bertentangan dengan nash in syaa Allah di bolehkan. Apalagi jika didukung nash tentunya hal itu adalah perkara yang baik.
      Ada nash yang menunjukkan kebolehan mencium tangan orang lain sebagai satu tanda penghormatan baik dia seorang ‘alim maupun orang tua kita. Di antaranya :
      حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ الصُّوفِيُّ بِبَغْدَادَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو نَصْرٍ التَّمَّارُ قَالَ: حَدَّثَنَا عَطَّافُ بْنُ خَالِدٍ الْمَخْزُومِيُّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ رَزِينٍ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ، قَالَ: ” بَايَعْتُ بِيَدِي هَذِهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَاهَا، فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ ”
      Telah menceritakan Ahmad bin Al-Hasan bin ‘Abdil-Jabbaar Ash-Shuufiy di baghdaad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Nashr At-Tammaar, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Aththaaf bin Khaalid Al-Makhzuumiy, dari ‘Abdurrahmaan bin Raziin, dari Salamah bin Al-Akwaa’, ia berkata : “Aku berbaiat kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan tanganku ini, lalu kami menciumnya. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari hal itu” [Diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Al-Muqri’ dalam Ar-Rukhshah fii Taqbiilil-Yadd no. 12; hasan]

      حَدَّثَنَا أَحْمَدُ، نَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ النَّيْسَابُورِيُّ، نَا الْحَسَنُ بْنُ عِيسَى، عَنِ ابْنِ الْمُبَارَكِ، عَنْ دَاوُدَ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، قَالَ: ” رَكِبَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ، فَأَخَذَ ابْنَ عَبَّاسٍ بِرِكَابِهِ، فَقَالَ لَهُ: لا تَفْعَلْ يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: هَكَذَا أُمِرْنَا أَنْ نَفْعَلَ بِعُلَمَائِنَا، فَقَالَ زَيْدٌ: أَرِنِي يَدَكَ، فَأَخْرَجَ يَدَهُ، فَقَبَّلَهَا زَيْدٌ، وَقَالَ: هَكَذَا أُمِرْنَا أَنْ نَفْعَلَ بِأَهْلِ بَيْتِ نَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ
      Telah menceritakan kepada kami Ahmad : Telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin Muhammad An-Naisaabuuriy : Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Hasan bin ‘Iisaa, dari Ibnul-Mubaarak, dari Daawud, dari Asy-Sya’biy, ia berkata : Zaid bin Tsaabit pernah mengendarai hewan tunggangannya, lalu Ibnu ‘Abbaas mengambil tali kekangnya dan menuntunnya. Zaid berkata : “Jangan engkau lakukan wahai anak paman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”. Ibnu ‘Abbaas berkata : “Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan (menghormati) ulama kami”. Zaid berkata : “Kemarikanlah tanganmu”. Lalu Ibnu ‘Abbaas mengeluarkan tangannya, kemudian Zaid menciumnya dan berkata : “Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan (menghormati) ahli bait Nabi kami shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Diriwayatkan oleh Abu Bakr Ad-Diinawariy dalam Al-Mujaalasah wa Jawaahirul-‘Ilm 4/146-147 no. 1314; dihasankan oleh Masyhuur Hasan Salmaan dalam takhrij-nya atas kitab tersebut].
      Namun para Ulama’ mrnganggap hal itu makruh jika mencium tangannya jika hanya karena dunia(kedudukan dunianya/harta) semata
      Imam An-Nawawiy rahimahullah berkata :
      تَقْبِيل يَد الرَّجُل لِزُهْدِهِ وَصَلَاحه أَوْ عِلْمه أَوْ شَرَفه أَوْ صِيَانَته أَوْ نَحْو ذَلِكَ مِنْ الْأُمُور الدِّينِيَّة لَا يُكْرَه بَلْ يُسْتَحَبّ ، فَإِنْ كَانَ لِغِنَاهُ أَوْ شَوْكَته أَوْ جَاهه عِنْد أَهْل الدُّنْيَا فَمَكْرُوه شَدِيد الْكَرَاهَة وَقَالَ أَبُو سَعِيد الْمُتَوَلِّي : لَا يَجُوز
      “Mencium tangan seorang laki-laki dikarenakan kezuhudan, keshalihan, ilmu yang dimiliki, kemuliaannya, penjagaannya, atau yang lainnya dari perkara-perkara agama tidaklah dibenci, bahkan disukai. Namun apabila hal itu dilakukan karena faktor kekayaan, kekuasaan, atau kedudukannya di mata orang-orang, maka hal itu sangat dibenci. Dan berkata Abu Sa’iid Al-Mutawalliy : ‘Tidak diperbolehkan” [Fathul-Baariy, 11/57].
      عَنْ عَلِيِّ بْنِ ثَابِتٍ، قَالَ: سَمِعْتُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ، يَقُولُ: ” لا بَأْسَ بِهَا لِلْإِمَامِ الْعَادِلِ، وَأَكْرَهُهَا عَلَى دُنْيَا ”
      Dari ‘Aliy bin Tsaabit, ia berkata : Aku mendengar Sufyaan Ats-Tsauriy berkata : “Tidak mengapa dengannya (yaitu mencium tangan) terhadap imam yang adil, namun aku membencinya jika dilandasi alasan dunia” [Al-Wara’, no. 479; shahih].

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,syukran astiran atas penjelasanya Barakallahufiik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
«