Dakwah dengan Hikmah

February 13, 2016

Mengajak orang lain menuju Allah memiliki empat tingkatan. Pertama, dengan hikmah. Kedua, dengan nasihat yang baik. Ketiga, dengan adu argumen menurut cara yang paling baik, terhadap orang yang tidak berlaku zalim. Keempat: dengan cara yang dapat menghentikan perbuatan orang yang zalim.

Dalil tentang empat tingkatan ini adalah firman Allah Taala yang artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (an-Nahl: 125) “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka.” (an-‘Ankabuut: 46)

Hikmah adalah menyempurnakan segenap perkara dengan meletakkannya sesuai pada posisi dan kedudukannya. Bukanlah sikap yang hikmah, apabila seseorang tergesa-gesa dan ingin agar manusia berubah dalam waktu sehari, dari keadaan mereka sekarang menjadi seperti keadaan para sahabat Nabi. Barangsiapa yang berkeinginan seperti ini, ia adalah orang yang bodoh dan jauh dari hikmah. Sebab hikmah Allah Azza wa Jalla tidak menginginkan perkara ini. Buktinya adalah bahwa Allah menurunkan syari’at-Nya kepada Rasulullah Muhammad shallallahu alaih wa sallam secara bertahap, sampai akhirnya menjadi kokoh di dalam jiwa, dan sempurna.

Shalat diwajibkan dalam peristiwa Mi’raj, tiga tahun sebelum hijrah, atau satu setengah tahun sebelum hjrah, atau lima tahun sebelum hijrah. Ini diperselisihkan oleh para ulama. Bersamaan dengan itu, dahulu shalat tidak diwajibkan dengan aturan sebagaimana yang ada sekarang. Saat pertama kali diwajibkan, shalat hanya terdiri dari dua rakaat untuk zhuhur, ‘ashar, isya dan shubuh. Adapun shalat maghrib, maka ia terdiri dari tiga rakaat, agar menjadi witir siang hari. Kemudian setelah hijrah, yaitu setelah Rasulullah shallallahu alaih wa sallam melalui masa tiga belas tahun, ditambahlah rakaat shalat untuk orang yang tidak safar. Sehingga jumlah rakaatnya menjadi empat untuk shalat dzuhur, ashar dan isya. Sementara shalat shubuh tetap seperti semula, karena bacaan Al-Quran yang panjang pada shalat shubuh. Demikian pula shalat maghrib, tetap tiga rakaat, karena ia adalah witir untuk siang hari.

Syariat zakat diwajibkan pada tahun kedua setelah Hijrah, atau sudah di wajibkan di Mekah, namun belum ditentukan kadar nishabnya dan jumlah yang wajib dikeluarkan. Nabi shallallahu alaih wa sallam pun tidak mengirim utusan untuk mengambil zakat kecuali pada tahun kesembilan setelah hijrah. Kewajiban zakat ini melalui tiga tahapan. Tahap pertama di Mekah, “Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya.” (al-An’aam 141) Pada tahap ini tidak dijelaskan apa saja yang wajib dizakati dan kadar yang harus dikeluarkan. Keduanya diserahkan menurut kemampuan dan pertimbangan orang-orang ketika itu. Tahap kedua, pada tahun kedua setelah hijrah. Pada tahap ini sudah dijelaskan zakat dengan nishabnya. Tahap ketiga, pada tahun kesembilan setelah hijrah. Nabi shallallahu alaih wa sallam mengirim utusan kepada para pemilik hewan ternak dan pemilik buah-buahan untuk diambil zakatnya.

Tampak jelas bahwa Allah menetapkan syariat dengan memperhatikan keadaan manusia dan Dia adalah Yang Maha Bijaksana.

Demikian pula puasa. Telah kita ketahui bersama bahwa puasa ditetapkan secara bertahap. Awal mula diwajibkannya puasa, seseorang diberi pilihan antara berpuasa atau memberi makan orang miskin. Kemudian puasa menjadi kewajiban, dan memberi makan orang miskin diperuntukkan bagi orang yang tidak lagi mampu berpuasa.

Sesungguhnya sikap yang hikmah tidaklah menghendaki dunia ini berubah dalam waktu sehari. Oleh karena itu, diperlukan ketelatenan. Terimalah kebenaran yang ada pada saudara yang sedang engkau dakwahi, seraya setahap demi setahap engkau mengeluarkannya dari kebatilan. Jangan engkau anggap semua orang memiliki tingkat pemahaman yang sama. Ada perbedaan antara orang yang jahil dan orang yang menentang.

Ada beberapa contoh hikmah Rasulullah shallallahu alaih wa sallam dalam berdakwah yang perlu dikemukakan. Diantaranya adalah sebagai berikut:

– Sikap beliau shallallahu alaih wa sallam kepada seorang Arab pedalaman yang kencing di masjid.

Anas bin Malik radhiyallahu anhu mengatakan, “Ketika kami duduk di masjid bersama Rasulullah shallallahu alaih wa sallam, tiba-tiba datanglah seorang arab pedalaman. Lalu ia berdiri dan kencing di dalam masjid. Para sahabat pun menghardiknya. Maka Rasulullah shallallahu alaih wa sallam berkata, “Jangan kalian hardik dia, biarkan dahulu!” Maka mereka pun membiarkannya sampai selesai kencing. Kemudian Rasulullah shallallahu alaih wa sallam memanggilnya dan berkata, “Sesungguhnya masjid tidak boleh digunakan untuk buang air kecil ataupun buang air besar. Masjid hanya digunakan untuk zikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al-Quran.” Anas berkata, “Kemudian beliau menyuruh seseorang untuk mengambil air. Nabi shallallahu alaih wa sallam menuangkan air itu ke bekas kencing arab badui tadi.” (HR. Muslim 285)

Dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, “Ada seorang arab badui datang ke masjid, dalam keadaan Nabi shallallahu alaih wa sallam sedang duduk. Lalu ia pun shalat. Setelah selesai, ia berkata, ‘Ya Allah rahmatilah aku dan Muhammad, dan jangan Engkau rahmati seorang pun selain kami.’ Maka Nabi shallallahu alaih wa sallam pun menoleh ke arah orang itu dan berkata, “Sungguh, engkau telah menyempitkan perkara yang luas.” Kemudian tidak lama berselang, orang arab badui itupun kencing di dalam masjid. Orang-orang pun segera menujunya. Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Tuangkan seember air di bekas kencingnya!” Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan bukan untuk menyulitkan.” (HR. Ahmad 2/239) Dalam riwayat yang lain disebutkan, “Setelah mengerti tentang agama, orang arab badui itu berkata, “Nabi shallallahu alaih wa sallam bangun ke arahku. Dengan ayah dan ibuku sebagai tebusan untuk beliau, beliau tidak menghardik, memarahi ataupun memukul.” (Ahmad 2/503)

Setelah penjelasan tentang riwayat-riwayat di atas, apa yang kita katakan tentang hikmah yang diterapkan Rasulullah shallallahu alaih wa sallam terhadap orang arab badui tersebut?! Bisa jadi, seandainya ada orang yang kencing di suatu masjid, orang-orang akan bergerombol atau sendiri-sendiri mendatanginya sambil mengatakan, “Apakah Anda tidak punya malu! Bertakwalah kepada Allah. Takutlah kepada Allah.” Dan sebagainya. Ini adalah suatu kesalahan.

Kita tidak yakin ada orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan kencing di masjid kecuali karena kebodohan. Dan kebodohan itu memiliki hukum tersendiri. Orang arab badui di atas jelas orang yang bodoh. Sebab ia datang dari pedalaman, dan tidak mengerti kewajiban memuliakan masjid. Namun dengan sebab hikmah, ia pun belajar dan mengerti kewajibannya terhadap masjid. Seandainya ia segera menghentikan kencingnya karena hardikan para sahabat, apakah yang akan terjadi? Bisa jadi itu akan menyebabkan akibat buruk bagi kesehatannya karena menahan kencing. Pakaiannya pun akan menjadi kotor terkena kencing. Seandainya ia mengangkat pakaiannya, niscaya auratnya akan tersingkap. Dan masjid itu juga dapat menjadi lebih kotor oleh kencing yang berceceran.

– Sikap Nabi shallallahu alaih wa sallam kepada Muawiyah bin al-Hakam al-Aslami radhiyallahu anhu. Diriwayatkan dari Mu’awiyah bin al-Hakam al-Aslami radhiyallahu anhu, ia berkata, “Ketika aku shalat bersama Rasulullah shallallahu alaih wa sallam, tiba-tiba ada orang yang bersin. Maka aku katakan, “Yarhamukallah.” Lalu orang-orang pun memelototiku. Aku katakan, “Mengapa kalian memelototiku?” Maka mereka memukulkan tangan mereka ke paha mereka. Ketika aku melihat mereka, mereka ingin mendiamkanku. Aku pun diam. Ketika Rasulullah shallallahu alaih wa sallam selesai shalat, dengan ayah dan ibuku sebagai tebusan untuk beliau, aku tidak melihat seorang pengajar pun sebelum dan sesudah beliau yang lebih baik pengajarannya daripada beliau. Demi Allah, beliau tidak membentak, memukul atau mencelaku. Akan tetapi beliau bersabda, “Sesungguhnya shalat ini tidak boleh ada sedikitpun dari ucapan manusia. Yang ada hanyalah tasbih, takbir dan bacaan Al-Quran.” (HR. Muslim 537)

Ada faidah fiqih yang bisa kita ambil dari hadits di atas. Yaitu, apabila seseorang berbicara ketika shalat dalam keadaan tidak tahu atau lupa, maka shalatnya sah. Contohnya, seandainya ada orang shalat, kemudian datang orang lain yang bertanya kepadanya, “Di mana kunci rumah?” Karena lupa, orang yang shalat pun menjawab. Apakah shalatnya batal? Apabila ia memang lupa, maka shalatnya sah. Allah Taala berfirman artinya, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (QS. Al-Baqarah 286)

Dari contoh pertama dan kedua kita dapat mengambil dua faidah:

– Penggunaan sikap lembut terhadap orang yang jahil. Sebab orang yang jahil diberi udzur. Apabila diajari, ia akan menerimanya. Berbeda dengan orang yang menentang.

– Pakaian yang terkena najis, hendaknya segera dibersihkan. Karena Nabi shallallahu alaih wasallam segera memerintahkan agar bekas kencing orang arab badui itu disiram dengan seember air, tanpa menunggu lama. Maka jika pakaian, badan atau tempat shalat terkena najis, hendaknya ia segera dibersihkan. Sebab bisa jadi kita lupa, lalu kita shalat dengan pakaian, badan atau tempat yang terkena najis.

 

– Sikap Nabi shallallahu alaih wa sallam kepada seorang laki-laki yang memakai cincin emas

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu alaih wa sallam melihat ada seorang laki-laki memakai cincin emas, maka beliaupun mencopot dan melemparkannya, kemudian berkata, “Ada seorang dari kalian yang dengan sengaja menuju sebuah bara api dan menjadikan bara api itu di tangannya.” Setelah Rasulullah shallallahu alaih wa sallam pergi, ada yang berkata kepada laki-laki tersebut, “Ambil cincinmu, dan manfaatkan dengan cara lain!” Ia berkata, “Demi Allah, selamanya aku tidak akan mengambil apa yang sudah dicampakkan oleh Rasulullah shallallahu alaih wa sallam.” (HR. Muslim 2090)

Coba kita perhatikan bagaimana Nabi shallallahu alaih wa sallam menyikapi seorang yang berbuat dosa. Dibandingkan dengan kisah orang arab badui dan kisah Mu’awiyah bin al-Hakam sebelumnya, kita dapati bahwa dalam kisah ini, Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersikap tegas dengan mencopot sendiri cincin emas laki-laki tersebut. Beliau memperingatkan laki-laki itu bahwa apa yang ia pakai di jarinya tidak lain adalah bara api neraka. Tampak dengan jelas, bahwa setiap kondisi memiliki cara penanganannya sendiri-sendiri.

 

(Sumber: ash-Shahwah al-Islamiyyah, Dhowabith Wa Taujiihaat, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)
Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *