Seorang dai berkewajiban untuk selalu berpegang teguh dengan akhlak seorang dai. Di mana ilmu yang ia miliki tampak berpengaruh pada dirinya, baik dalam aqidah, ibadah, sikap dan segenap tingkah lakunya. Sehingga ia layak menjalankan peran sebagai seorang dai yang menyeru manusia menuju Allah Azza wa Jalla. Adapun, jika akhlaknya bertentangan dengan apa yang ia serukan, maka dakwahnya akan gagal. Jikapun berhasil, maka keberhasilannya sedikit sekali.

Bagaimanakah sekiranya ada orang yang memperingatkan keburukan riba dan berkata kepada orang yang makan riba, “Sesungguhnya engkau sedang memerangi Allah dan Rasul-Nya, karena Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Quran, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.” (QS. al-Baqarah 278-279) Ia terus menasihati orang banyak, mengingatkan mereka, menakut-nakuti mereka, tapi kemudian ia justru melakukan riba. Sungguh, ini bukanlah akhlak seorang dai.

Contoh yang lain, misalnya ada orang yang memperingatkan keburukan meninggalkan shalat jamaah. Ia senantiasa menyuruh orang untuk shalat berjamaah dan berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Sesungguhnya shalat yang paling berat atas orang munafiq adalah shalat Isya dan shalat Shubuh. Padahal seandainya mereka mengetahui apa yang ada pada keduanya, niscaya mereka akan datang untuk shalat Isya dan Shubuh walaupun dengan merangkak.” (HR. al-Bukhari 657 dan Muslim 651) Namun ternyata ia sendiri tidak shalat Isya dan Shubuh dengan berjamaah. Apakah ini akhlak seorang dai?

Contoh yang lain lagi, misalnya ada orang yang berkata, “Wahai hamba-hamba Allah, hati-hatilah kalian dari ghibah, karena ia termasuk dosa besar. Sungguh Allah Taala menyerupakan orang yang menggunjing orang lain seperti orang yang makan bangkai saudaranya yang telah mati.” Ia memperingatkan orang lain dari keburukan ghibah, akan tetapi di majelisnya ghibah sudah menjadi seperti makanan sehari-hari! Sungguh ini bukanlah akhlak seorang dai.

Contoh selanjutnya, misalnya ada orang yang memperingatkan orang lain dari keburukan perbuatan adu domba (namiimah, menukil ucapan dari satu orang kepada yang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara mereka). Ia berkata, “Sesungguhnya namimah termasuk penyebab siksa kubur. Dan terdapat riwayat yang sahih dari Nabi shallallahu alaih wa sallam bahwa ketika melewati dua kuburan, beliau berkata, “Sesungguhnya keduanya sedang disiksa. Dan mereka berdua tidaklah disiksa karena perkara yang besar. Yang pertama disiksa karena tidak menjaga diri dari air kencingnya. Sedangkan yang lain, biasa melakukan namimah.” (HR. al-Bukhari 216) Ia berkata demikian namun ia sendiri berusaha merusak hubungan manusia dengan namimah. Sungguh, ini bukanlah akhlak seorang dai!!

Maka seorang dai wajib berperilaku sesuai dengan apa yang ia serukan, baik dalam ibadah, hubungan kemasyarakatan, tingkah laku dan perangainya. Sehingga dakwahnya bisa diterima, dan ia tidak menjadi orang yang pertama kali dibakar dengan api neraka.

Sesungguhnya jika kita melihat keadaan diri kita sendiri, ternyata kita seringkali menyeru kepada suatu perkara, akan tetapi kita justru belum melakukannya! Jelas ini merupakan sebuah kesalahan besar. Kecuali jika yang menjadi penghalang adalah urusan yang lebih bermaslahat untuk didahulukan. Sebagaimana bila ada orang yang menyerukan jihad fii sabilillah, memberi orang lain motivasi untuk berjihad dengan jiwa dan harta sesuai dengan kemampuan, akan tetapi ia sibuk dengan perkara yang lebih penting. Maka dalam keadaan ini, tidak dikatakan bahwa ia belum mengamalkan apa yang ia serukan. Misalnya ada seorang yang menyerukan jihad fii sabilillah. Akan tetapi masyarakat di negeri tempat ia tinggal sangat membutuhkan ilmu agama. Maka dalam kondisi ini, berjihad dengan menyampaikan ilmu dan memberikan penjelasan itu lebih utama daripada berjihad dengan senjata. Setiap kondisi memiliki hukumnya sendiri-sendiri. Sesuatu yang utama kadang menjadi tidak utama karena adanya beberapa perkara yang menyebabkan sesuatu yang tadinya tidak utama menjadi lebih utama.

Oleh karena itu, kadang Rasulullah shallallahu alaih wa sallam menyeru kepada beberapa perkara, namun beliau sendiri disibukkan dengan perkara yang lebih penting. Kadang beliau berpuasa sampai dikatakan tidak pernah berbuka. Dan kadang beliau berbuka sampai dikatakan tidak pernah berpuasa.

 

Menghilangkan jarak pemisah antara dai dan manusia

Banyak saudara kita para dai yang jika melihat sekelompok orang berada di atas kemungkaran, mereka enggan memberikan nasehat, dikarenakan rasa benci terhadap kemungkaran tersebut. Ini adalah sebuah kesalahan dan bukan sikap yang bijaksana. Sikap yang penuh hikmah adalah dengan mengajak mereka kepada kebaikan, seraya memberikan motivasi dan peringatan kepada mereka. Jangan katakan bahwa mereka adalah orang-orang fasik, sehingga engkau tidak mau duduk bersama mereka!

Jika engkau tidak ingin duduk bersama mereka, berjalan bersama mereka, menemui mereka dalam rangka berdakwah menuju Allah, siapa lagi yang akan memperhatikan mereka dalam hal ini?! Apakah orang yang semisal dengan mereka yang akan melakukannya? Ataukah orang-orang yang tidak mengerti kebenaran?

Sudah semestinya seorang dai bersabar dan memaksa dirinya untuk berinteraksi langsung dengan orang banyak, serta menghilangkan jurang pemisah antara dirinya dan mereka. Agar ia bisa leluasa menyampaikan dakwahnya kepada orang yang membutuhkan. Adapun sikap menyombongkan diri dan angkuh, serta ucapan, “Jika ada yang datang kepadaku, aku akan sampaikan dakwah ini kepadanya. Kalau tidak ada, maka aku tidak wajib menyampaikannya.” Sungguh ini menyelisihi apa yang dijalani oleh Rasulullah shallallahu alaih wa sallam.

Nabi shallallahu alaih wa sallam, sebagaimana diketahui oleh mereka yang membaca sejarah, pergi kepada orang-orang musyrik untuk mendakwahi mereka pada hari-hari Mina di tempat-tempat mereka menginap. Diriwayatkan bahwa beliau shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Adakah orang yang mau membawaku kepada suatu kaum untuk aku sampaikan kepada mereka ucapan Rabbku? Karena orang-orang Quraisy menghalangiku untuk menyampaikan ucapan Rabbku Azza wa Jalla.” (HR. Ahmad 3/390)

Jika ini adalah jejak Nabi shallallahu alaih wa sallam, pemimpin dan suri teladan kita, maka kita wajib mencontoh beliau dalam berdakwah menuju Allah.

 

Mengontrol emosi dengan batasan-batasan syariat dan akal sehat

Sudah selayaknya bagi orang-orang yang terjun dalam dakwah untuk tidak sampai terbawa hanyut oleh perasaan sampai tidak dapat berpikir jernih dan tidak mampu berjalan sesuai dengan tuntunan syariat. Emosi dan perasaan yang tidak dikontrol dengan tuntunan syariat dan akal sehat, hanya akan menjadi badai yang kemudaratannya lebih banyak daripada kebaikannya. Oleh karena itu, kita wajib memandang jauh ke depan. Bukan berarti kita diam terhadap kebatilan, atau mendukungnya. Yang saya maksud, kita menangani sesuatu dengan cara yang benar, dan berusaha sekuat tenaga untuk menempuh jalan hikmah dalam menghilangkan kebatilan. Karena dengan menempuh jalan hikmah, walaupun lama, hasilnya akan diridhai oleh semua pihak.

Bisa jadi kecemburuan terhadap agama dapat memadamkan kobaran api kebatilan. Akan tetapi ia tidak bisa memadamkan bara yang dapat menyala di kemudian hari. Oleh karena itu, aku menganjurkan saudara-saudaraku, dan kaum muda yang terjun dalam dakwah dan gerakan kebangkitan ini untuk bersikap tidak tergesa-gesa, dan berpandangan jauh ke depan. Hendaknya mereka menjadikan semua sepak terjang mereka sesuai dengan tuntunan syariat. Dan melihat bagaimana hikmah Nabi shallallahu alaih wa sallam dalam berdakwah dan mengingkari kemungkaran untuk dijadikan teladan. Sesungguhnya sebaik-baik teladan adalah Rasulullah shallallahu alaih wa sallam.

Jika kita ingin membangunkan umat Islam dari tidur lelapnya, kita wajib berjalan sesuai dengan rencana yang matang dan dasar yang kokoh. Karena kita menginginkan hanya hukum Allah yang ditegakkan. Dan kita ingin mengokohkan agama Allah, di bumi Allah, terhadap hamba-hamba Allah. Ini adalah sebuah tujuan agung yang tidak akan tercapai hanya dengan mengandalkan perasaan. Kita wajib mengendalikan perasaan kita sesuai dengan tuntunan syariat dan akal sehat.

 

(Sumber: ash-Shahwah al-Islamiyyah, Dhawabith wa Taujihaat, Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin)

Silahkan Download File Pdf: Download

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
«