Dakwah dan Kesabaran

January 22, 2016

Para anak muda aktifis dakwah kadangkala mendapatkan kesulitan-kesulitan. Di pasar, sekolah, kampus, bahkan di rumah mereka sendiri. Banyak dari mereka yang mengeluhkan sikap orang tua mereka yang mempersulit. Sebagian dari mereka ada yang dicap dengan sebutan-sebutan buruk dan tercela. Lalu bagaimana sikap kita terhadap kesulitan-kesulitan seperti ini?

Kita wajib bersabar dan mengharapkan pahala. Jangan sampai keadaan ini menghalangi kita dari menyeru orang kepada Allah Azza wa Jalla. Ketika Allah Taala mengutus Nabi Muhammad shallallahu alaih wa sallam dengan petunjuk dan agama yang benar, apakah beliau dan ajarannya dibiarkan begitu saja, ataukah justru ditentang?! Demikian pula para rasul yang diutus sebelum beliau. Apakah mereka berdakwah dengan mulus, ataukah mendapatkan berbagai gangguan?! Allah Taala berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka.” (QS. al-An’aam: 34) “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar, dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka…” (QS. al-Ahqaaf: 35)

Berikut beberapa contoh kesabaran Nabi shallallahu alaih wa sallam untuk kita teladani:

  • Dahulu orang-orang musyrik melemparkan kotoran dan bangkai ke depan pintu rumah beliau shallallahu alaih wa sallam. Namun beliau tetap bersabar dan mengharap pahala. Beliau hanya berkata, “Tetangga macam apa yang berbuat seperti ini?” Maksudnya, bagaimana mereka bisa menggangguku seperti ini?!
  • Ketika beliau keluar menuju Bani Tsaqif di Thaif ditemani Zaid bin Haritsah untuk menyeru mereka kepada Allah, apa yang mereka lakukan? Mereka menyuruh orang-orang yang bodoh untuk berbaris di sisi jalan dan melempari beliau dengan batu. Maka beliau dilempari batu sampai tumit beliau berdarah. Akhirnya beliaupun keluar dari kampung itu dan berkata, “Aku tidak sadar kecuali setelah berada di Qarn Tsa’alib.” Jibril kemudian datang bersama dengan malaikat penjaga gunung. Jibril berkata kepada Nabi shallallahu alaih wa sallam, “Ini adalah malaikat penjaga gunung. Ia menyampaikan salam kepadamu.” Maka Nabi shallallahu alaih wa sallam membalas salamnya. Malaikat penjaga gunung itu kemudian berkata, “Apabila engkau menginginkan aku untuk menimpakan al-akhsyabain (gunung Abi Qabis dan Qu’ayqi’an) kepada mereka, niscaya akan aku lakukan.” Nabi shallallahu alaih wa sallam berkata, “Jangan, aku berharap Allah akan menjadikan dari keturunan mereka orang-orang yang hanya menyembah Allah.”
  • Ka’bah adalah tempat yang paling aman dalam pandangan orang-orang Quraisy. Sampai-sampai apabila seseorang mendapati pembunuh ayahnya di sana, ia tidak akan membunuhnya. Namun ketika mereka melihat beliau shallallahu alaih wa sallam sedang bersujud di dekat Ka’bah, apa yang mereka lakukan? Mereka menyuruh salah seorang di antara mereka untuk membawa bangkai sembelihan dan menaruhnya di punggung Rasul shallallahu alaih wa sallam. Lihatlah gangguan yang belum pernah terjadi semisalnya, walaupun di masa jahiliyyah, ini. Namun demikian, Rasulullah shallallahu alaih wa sallam tetap bersabar dan mengharap pahala di sisi Allah, dan beliau tetap sujud kepada Allah Azza wa Jalla sampai datang putri beliau yang masih kecil, Fathimah radhiyallahu anha. Disingkirkannyalah kotoran-kotoran itu dari punggung ayahnya. Kemudian setelah menyempurnakan shalatnya, beliau mengangkat kedua tangan mendoakan kecelakaan bagi kaum Quraisy.

Maka wahai para pemuda, bersabarlah. Kuatkan kesabaran, dan tekunlah di atas ketaatan. Ketahuilah, Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan berbuat baik.

Akan tetapi apakah seraya bersabar, kita tetap menyeru keluarga kita, ataukah kita marah dan diam?! Jawabnya, kita tetap menyeru keluarga kita dan tidak putus asa. Kita dakwahi mereka dengan hikmah dan kelembutan, tidak dengan kekerasan dan kekasaran. Sebab sebagian orang terkadang bersikap keras karena terlalu bersemangat dalam memegang agama Allah. Sehingga ia justru lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Maka setiap orang harus memiliki hikmah, mengukur segala perkara dengan baik, sehingga bisa menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya.

Ketahuilah, bahwa orang tidak bisa menerima petunjuk hanya dalam waktu satu hari, kecuali siapa yang Allah kehendaki. Sudah merupakan sunnatullah, bahwa segala sesuatu terwujud secara bertahap, sedikit demi sedikit. Nabi shallallahu alaih wa sallam berdakwah di Mekah selama sepuluh tahun, namun dakwah beliau tetap belum bisa diterima sempurna.

Maka jangan pernah mengira bahwa orang akan berubah dari kebiasaan mereka hanya dalam jangka waktu satu hari!! Dibutuhkan kesabaran dan ketekunan di atas kebaikan sampai Allah Taala memberikan ketetapan-Nya.

Banyak sekali yang bertanya tentang, “Apakah aku memutus hubungan dengan para pelaku maksiat? Apakah aku boleh menghancurkan radio, kaset, televisi, dan yang semisalnya?

Aku katakan, “Serulah manusia ke jalan Rabbmu dengan hikmah. Jika apa yang dituju tidak tercapai, maka engkau tidak boleh menyertai pelaku maksiat ketika ia melakukan kemaksiatannya. Aku tidak mengatakan bahwa engkau tidak boleh tinggal bersamanya di rumah. Engkau bisa keluar ke kamar yang lain, misalnya. Sebab orang yang menyertai pelaku maksiat ketika dia bermaksiat, sesungguhnya ia ikut serta dalam kemaksiatan itu. Allah Taala berfirman, “Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.” (QS. an-Nisa: 140)

Maka engkau wajib bersabar dan menguatkan kesabaran. Orang-orang yang tidak berubah hari ini, mudah-mudahan besok berubah. Mulailah dengan perkara yang paling ringan dalam mendidik akhlak dalam keluarga. Aku percaya dengan kekuatan Allah, apabila seseorang bersabar, menguatkan kesabaran dan tekun, maka akhirnya adalah keberuntungan. Allah Taala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali-Imraan: 200)

Oleh karena itu, secara pribadi aku menganjurkan para pemuda untuk bersabar dan menguatkan kesabaran. Selama keberadaanmu memberi manfaat, walaupun sedikit demi sedikit, maka itu adalah kebaikan. Kita tahu, membangun itu lebih lambat daripada menghancurkan. Seandainya di depan kita ada istana yang kuat, besar dan tinggi. Dan kita ingin menghancurkannya. Butuh waktu berapa lama jika kita gunakan sepuluh traktor? Istana itu akan hancur dalam sehari. Namun untuk membangun istana seperti itu, kadang makan waktu tiga tahun lebih.

Kita perlu mengukur perkara-perkara maknawi dengan sesuatu yang bisa diindra. Jika untuk membangun istana saja butuh waktu tiga tahun, sedangkan untuk menghancurkannya hanya butuh tiga hari, maka untuk membangun agama dan akhlak umat juga membutuhkan waktu yang panjang.

Para orang tua yang mendapati kecenderungan yang baik pada diri anak-anak mereka, juga tidak boleh menghalangi dakwah yang benar dari anak-anak mereka. Bahkan, seharusnya mereka bersyukur kepada Allah atas nikmat ini. Yaitu dengan adanya anak-anak dari keturunan mereka yang menunjukkan kepada kebaikan dan memerintahkannya, serta memberi peringatan dan mencegah mereka dari kejelekan. Sungguh, demi Allah, ini adalah nikmat yang lebih baik daripada nikmat harta, nikmat istana, kendaraan dan yang semisalnya.

Mereka wajib memuji Allah, dan mendukung putra-putri mereka, serta menerima apa yang mereka katakan. Walaupun, mereka bersikap agak keras dan kurang dapat meletakkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Seandainya anak-anak muda tersebut melihat dakwah mereka diterima oleh para orang tua, hal ini akan mengurangi sikap mereka yang agak keras dan berlebihan. Yang kadangkala menjadikan mereka mengeluh dan merasa jengkel adalah ketika sebagian dari mereka tidak mendapatkan respon positif sedikitpun dari keluarga. Maka para orang tua wajib menerima ajakan yang benar dari mereka dan berinteraksi dengan mereka secara baik, agar terwujud kebaikan yang diharapkan untuk kedua belah pihak.

 

(Sumber: ash-Shohwah al-Islamiyyah, Dhowabith Wa Taujihat, Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin)

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *